TANTANGAN TRADISI VS. MODERNITAS DALAM NOVEL KENANGA KARYA OKA RUSMINI: TINJAUAN ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Lisa Anggraini Universitas Negeri Medan (UNIMED). Medan. Indonesia anggrainilisa938@gmail. Rosa Putri Theresia Sinaga Universitas Negeri Medan (UNIMED). Medan. Indonesia rosaputrii555@gmail. Nurul Atikah Universitas Negeri Medan (UNIMED). Medan. Indonesia nurulatkh09@gmail. Hera Chairunisa Universitas Negeri Medan (UNIMED). Medan. Indonesia herawenas@unimed. ABSTRACT This research aims to resolve the conflict between tradition and modernity as well as gender injustice expressed in the novel Kenanga by Oka Rusmini. Using a discourse approach, this research describes how the characters struggle to maintain their identity and cultural values in the midst of modernization, as well as resistance to traditional norms that limit women's freedom in Balinese In the context of this novel, the conflict between tradition and modernity is reflected through character characterization, plot development, and use of language. This research also detects resistance and gender emancipation efforts made by the characters in the novel. It is hoped that the research results can provide a theoretical contribution in expanding understanding of the dynamics between the conflict between tradition and modernity in Bali as well as contribute to the study of Indonesian literature by providing an in-depth analysis of a contemporary literary work. Keywords: The Novel "Kenanga". Tradition-modernity Conflict. Gender Inequality. Balinese Society. 120 | P a g e Pendahuluan Karya sastra merupakan objek studi kultural yang kaya akan nilai-nilai budaya, kemanusiaan, moral, norma sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra pun digunakan sebagai sumber untuk menganalisis sistem masyarakat (Ummiyah. Semi mengungkapkan bahwa karya sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya yang menggunakan bahasa sebagai perantaranya. Karya sastra sebagai struktur bermakna yang mewakili pandangan dunia penulis, bukan sebagai individu, melainkan sebagai wakil Penulis memiliki peran yang sangat penting dalam mengangkat realita-realita sosial yang luput dari pengamatan orang kebanyakan (Sugiyanti Pratiwi Sari, 2. Jenis karya sastra yang menjadi hasil proses perenungan pengarang mengenai hakikat hidup dan kehidupan salah satunya adalah Novel merupakan salah satu jenis cerita fiksi yang berisi gambaran dari kehidupan manusia dan perilaku yang nyata, dan zaman sastra novel itu ditulis. Romansa yang ditulis dalam bahasa yang agung dan dipindah, menggambarkan apa yang pernah ditulis dari apa yang pernah terjadi (Budiyanto, 1982: . Novel berbeda dengan karya prosa fiksi lainnya. Novel adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk tulisan, novel . lebih panjang daripada cerpen. Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan semua secara bebas, menyajikan sesuatu lebih banyak, lebih rinci, lebih kompleks. Panjang novel lebih dari 10. 000 kata. Novel dikatakan lebih kompleks karena memiliki banyak peristiwa, setting, karakter, dan diambildalam waktu yang lama. Novel tidak bisa diselesaikan untuk diibaca dalam sekali duduk seperti cerita pendek yang dapat dibaca dalam waktu yang relatif pendek hanya sekali saja (Nurgiyantoro, 2005: . Dalam kancah sastra Indonesia, karya-karya perdebatan antara tradisi lokal dan modernitas sering kali menjadi objek minat yang signifikan. Salah satu karya yang menggambarkan dinamika konflik antara nilai-nilai tradisional dan arus modernitas adalah novel AuKenangaAy karya Oka Rusmini. Dalam novel ini. Rusmini mengangkat narasi yang kompleks tentang kehidupan masyarakat Bali, yang terjebak dalam pertarungan antara nilai-nilai adat yang kuat dan penetrasi budaya modern. Novel Kenanga karya Oka Rusmini merupakan novel yang mengisahkan tentang seorang perempuan Bali. Kenanga, yang hidup ditengah adat dan budaya yang mengatur segala aspek kehidupannya sebagai seorang perempuan. Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 yang dicetak ulang pada tahun 2023. Novel Kenanga ini mengisahkan tentang cinta, cita-cita, dan budaya. Cerita yang ada dalam novel ini juga mengisahkan tentang betapa perempuan Bali itu berkemauan tinggi, liar, munafik, sadis, disamping segala bentuk keindahan yang dimiliki. Novel Kenanga karya Oka Rusmini ini memiliki banyak nilai-nilai positif yang mampu membangkitkan semangat siswa. Unsur sosial, budaya, dan agama yang kuat dalam novel ini mampu memberikan wawasan dan motivasi kepada siswa terkait kehidupan. Sikap positif yang dijalani tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini baik dicontoh bagi siswa. Di sisi lain, novel ini bisa menjadi renungan bagi siswa untuk belajar tentang kehidupan yang keras. Pesan moral yang disampaikan pengarang seperti pantang menyerah, sabar, ikhlas, dan gigih meskipun banyak godaan lingkungan dan aturan adat yang 121 | P a g e mengikat bisa dijadikan semangat untuk kehidupan sehari-hari. Hal ini berkaitan erat dengan nilainilai tradisional dan budaya yang dikuasai oleh kaum lakilaki yang disebut dengan budaya patriarki. Salah satu daerah di Indonesia yang selalu menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya adalah Bali. Selain budaya patriarki, sistem kasta juga tumbuh dengan subur di Bali. Peraturan dalam sistem kasta cenderung menggambarkan bahwa semua hal harus berpusat pada lakilaki sehingga perempuan yang harus mengikuti keputusan laki-laki. Sistem kasta di Bali membuat kaum perempuan bangsawan maupun Sudra akan tetap menjadi pihak yang kalah dan tidak dapat berbuat apa pun bila berhadapan dengan Keberanian perempuan untuk keluar dari nasib yang digariskan oleh sistem kasta merupakan suatu kemajuan bagi perempuan. Namun, pada akhirnya mereka tetap harus tunduk kepada sistem kasta tersebut. Oka mengungkap dan memprotes ditimpakan kepada perempuan Bali. Ketidakadilan gender yang menimpa Telaga dan Kenanga lebih disebabkan oleh konstruksi sosial budaya Bali yang dibangun berdasarkan keturunan kasta dengan segala adat istiadat yang mengukuhkan sekaligus memanifestasikan sistem kasta. Bagi orang Bali, kasta adalah sebuah sistem yang erat kaitannya dengan Hinduisme beserta seluruh perangkatnya dan dianggap sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pemberian Tuhan oleh penganutnya, dipandang sebagai sesuatu yang terwariskan, kaku, mengikat serta sulit berubah (Eriksen, dalam Anwar. Sistem kasta yang disangga oleh sistem kepercayaan Hindulah yang menempatkan kaum perempuan Bali sebagai subordinasi kaum laki-laki, stereotip stigma negatif, termarginalkan perannya, tidak mendapatkan kesempatan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Hal ini senada dengan pendapat Rahmawati . 6: . bahwa semenjak masih kecil perempuan Bali sudah dipersiapkan untuk menjadi milik keluarga Bahkan dahulu apabila terjadi perkawinan campuran, maka wanita itu akan dianggap keluar dari golongannya (Koentjaraningrat. Ketidakadilan gender dengan segala dampak lanjutannya direaksi oleh tokoh Telaga dan Kenanga dengan melakukan resistensi gender termasuk emansipasi dengan segala bentuknya (Dermawana. Sholikhatib*. Watic. Widodod. Pamuktie, 2. Perempuan dalam konteks ini terikat oleh tradisi yang membatasi Mereka harus mematuhi aturan yang menuntut mereka untuk mengabaikan identitas dan masa lalu sepenuhnya pada suami, bahkan jika itu berarti meninggalkan keluarga, leluhur, adat, dan kebiasaan mereka sendiri. Sementara itu, dalam tradisi perkawinan di Bali, perempuan bangsawan hanya diizinkan untuk menikah dengan pria dari golongan yang sama, sementara pria memiliki kebebasan untuk memilih pasangan dari berbagai golongan. Keharusan bagi perempuan Brahmana untuk menjadi istri kedua atau ketiga bagi pria Brahmana menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi dalam memandu keputusan perkawinan mereka, bahkan jika itu bertentangan dengan keinginan pribadi atau modernitas yang lebih progresif (Dewi, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana novel AuKenangaAy oleh Oka Rusmini menggambarkan dan menghadapi tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Bali dalam menghadapi arus modernisasi, serta bagaimana hal tersebut 122 | P a g e tercermin dalam konflik, karakterisasi tokoh, dan perkembangan plot. Dengan menganalisis berbagai aspek naratif dan penggunaan bahasa dalam teks, kita dapat menggali makna yang lebih dalam tentang resistansi terhadap modernitas dan upaya pemeliharaan tradisi yang terwujud dalam karya sastra ini. Secara keseluruhan, novel Kenanga berkisah mengenai kondisi adat Bali, tentang cinta terlarang dalam adat Bali terutama kasta Brahmana yang terlalu banyak aturan. Oka Rusmini berani mengungkap kondisi Bali dan kasta Brahmana kecantikannya, tetapi melalui sisi lain yang dianggap tabu untuk diungkap. Oka Rusmini menceritakan secara natural karakter laki-laki dan perempuan Bali yang sebenarnya walaupun kebanyakan tokoh dalam novel ini berasal dari kasta tertinggi yaitu Brahmana. Permasalahan yang terjadi pada perempuan disebabkan karena anggapan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang nyaris diabaikan, dimana praktik tradisional selalu dan lebih dititikberatkan pada perempuan (Sri Y. Tripungkasingtyas. Dalam konteks novel AuKenangaAy, kita dapat melihat bagaimana konflik antara tradisi dan modernitas tercermin melalui perjuangan tokoh-tokoh dalam menjaga identitas dan nilai-nilai budaya Melalui karakter Kenanga, pembaca disuguhkan dengan gambaran seorang wanita muda yang berani dan tangguh, tetapi terjebak dalam dilema antara keterikatan pada tradisi dan keinginan untuk meraih kebebasan pribadi dalam dunia yang semakin modern. Tokoh-tokoh pendukung dalam novel ini juga memainkan peran penting dalam menggambarkan dinamika konflik antara tradisi dan modernitas. Melalui interaksi antara karakter-karakter ini, pembaca dapat melihat bagaimana nilai- nilai tradisional bertabrakan dengan pengaruh-pengaruh memasuki masyarakat Bali. Selain itu, analisis bahasa dan narasi dalam AuKenangaAy juga dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana perdebatan antara tradisi dan modernitas tercermin dalam penggunaan kata-kata dan penokohan. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang penggunaan bahasa dalam konteks ini, kita dapat mengidentifikasi bagaimana penulis menggunakan wacana untuk menyoroti pertarungan ideologis antara tradisi dan modernitas. Dengan demikian, penelitian ini akan menggali lebih dalam tentang AuKenangaAy menghadirkan tantangan antara tradisi dan modernitas dalam masyarakat Bali, serta implikasi sosial dan budaya dari pertarungan ini. Dengan menganalisis secara kritis teks sastra ini melalui pendekatan wacana, diharapkan kita dapat memahami lebih baik dinamika konflik antara tradisi dan modernitas dalam konteks novel tersebut, serta relevansinya dengan kondisi sosial dan budaya saat ini. Kajian Teori Penelitian ini mendeskripsikan konflik antara tradisi dan modernitas dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini, perempuan Bali melawan patriarki dan sistem kasta. Melalui karakterisasi tokoh, alur cerita, dan bahasa, novel ini menyoroti pergulatan antara mempertahankan identitas budaya dan mengejar kebebasan Untuk memahami lebih dalam, analisis wacana kritis digunakan sebagai pendekatan utama. Di bawah ini akan dibahas kajian teori yang relevan sebagai landasan analisis dalam penelitian ini. 123 | P a g e 1 Tradisi Vs. Modernitas Secara etimologi kata tradisi berasal dari bahasa Latin tradition yang berarti menyerahkan atau mengalihkan. Ini merujuk pada praktik, kepercayaan, atau nilai-nilai yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam suatu masyarakat atau kelompok. Sedangkan secara epistemologis, tradisi mencakup pengetahuan, kepercayaan, dan praktik-praktik yang ditransmisikan melalui proses pembelajaran sosial dan Ini masyarakat memahami dunia dan mengatasi tantangan yang dihadapi dalam konteks budaya dan sejarah tertentu. Tradisi juga seringkali menjadi kerangka kerja untuk identitas budaya dan interaksi sosial. Berbeda halnya dengan modernitas, secara etimologi modernitas berasal dari kata Latin modernus yang berarti baru atau sekarang. Ini mengacu pada keadaan atau kualitas menjadi baru, segar, atau aktual. Dalam konteks sosial dan intelektual, modernitas merujuk pada periode atau kondisi di mana perubahan cepat terjadi, terutama dalam hal pemikiran, teknologi, dan struktur sosial. Sedangkan secara epistemologis, modernitas melibatkan pemikiran dan rasionalitas, objektivitas, dan inovasi. Ini melibatkan penolakan terhadap otoritas penggunaan metode ilmiah dan rasional dalam memahami dunia. Modernitas diasosiasikan dengan individualisme, sekularisme, dan perkembangan teknologi yang cepat. Dalam dunia intelektual dan sosial, perbincangan mengenai tradisi dan modernitas telah menjadi fokus utama dalam mengeksplorasi evolusi masyarakat dan nilai-nilai budaya. Tradisi, berasal dari akar kata Latin traditum, merujuk pada warisan budaya yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini mencakup segala sesuatu mulai dari kepercayaan, praktik, hingga nilai-nilai yang terus dijunjung tinggi dalam suatu Tradisi sering kali menjadi penanda identitas budaya dan kerangka kerja untuk pemahaman diri dan tempat dalam masyarakat. Di sisi lain, modernitas merujuk pada fenomena perubahan yang cepat dan berkelanjutan yang membawa masyarakat menuju era baru di mana rasionalitas, objektivitas, dan inovasi teknologi menjadi Modernitas sering kali dilihat sebagai perlawanan terhadap tradisi, menekankan pemikiran progresif yang menantang konvensi yang sudah ada. Ini melibatkan transformasi budaya, ekonomi, politik, dan sosial yang mengubah lanskap sosial secara radikal. Menurut kajian teoretis, tradisi dan modernitas dijelaskan sebagai dua konsep yang saling melengkapi dan bertentangan secara bersamaan. Tradisi berfungsi sebagai fondasi dari mana modernitas berkembang, namun dalam prosesnya, modernitas sering kali menantang dan bahkan menggantikan tradisi tersebut. Konflik antara tradisi dan modernitas terkadang muncul sebagai akibat dari pergeseran nilai-nilai dan pandangan dunia yang mendasar. Sementara tradisi menekankan kestabilan, kontinuitas, dan kebenaran yang diterima, modernitas menekankan inovasi, perubahan, dan pencarian kebenaran yang objektif. Perbincangan tentang modernitas, terutama pada abad ke-19 dan ke-20, ilmu pengetahuan dan teknologi sering kali menjadi pendorong utama perubahan. Pemikiran menggantikan kepercayaan dan mitos, menciptakan paradigma baru dalam memahami dunia. Ini menghasilkan penolakan terhadap tradisi yang dianggap tidak lagi relevan atau tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. 124 | P a g e Tradisi tergantikan oleh modernitas. Meskipun banyak aspek tradisional yang tergeser oleh perkembangan modern, ada juga upaya untuk mempertahankan dan merevitalisasi tradisi sebagai bagian penting dari identitas budaya. Banyak mempertahankan tradisi mereka sambil tetap beradaptasi dengan perubahan modernitas yang terus berlangsung. 2 Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Pendekatan Fairclough terhadap analisis wacana kritis tidak hanya meneliti teks itu sendiri, tetapi juga menggali lebih dalam ke dalam struktur sosial yang Fairclough memahami bahwa bahasa tidak hanya merupakan alat komunikasi, tetapi juga sarana kekuasaan yang kuat dalam membentuk dan mempertahankan hierarki sosial serta memperjuangkan kepentingan tertentu dalam masyarakat. Padangan Fairclough memahami sebuah teks adalah dia menekankan pentingnya memahami konstruksi bahasa yang digunakan, baik secara formal maupun ideologis. Analisis bahasa formal melibatkan pemeriksaan kosakata, tata bahasa, dan struktur kalimat untuk mengungkapkan pola-pola linguistik yang mungkin mencerminkan kepentingan atau pandangan tertentu. Sementara itu, analisis ideologis menyoroti cara di mana bahasa digunakan untuk merepresentasikan realitas dan kepentingan tertentu, serta bagaimana hal pemahaman masyarakat terhadap dunia di sekitar mereka. Konteks praktik diskursif. Fairclough meneliti bagaimana teks diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi dalam masyarakat. Ini mencakup tidak pembuatan teks, tetapi juga analisis terhadap kekuatan sosial, politik, dan ekonomi yang memengaruhi cara teks tersebut didistribusikan dan diterima oleh Fairclough memahami bahwa produksi dan distribusi teks tidak bersifat sebaliknya, mereka mencerminkan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Pada tingkat yang lebih luas. Fairclough menempatkan diskursus dalam konteks struktur sosial yang lebih besar. Ini kekuasaan dan hierarki sosial yang mendasari produksi dan interpretasi teks. Fairclough memahami bahwa bahasa tidak hanya mencerminkan struktur sosial yang ada, tetapi juga memperkuatnya melalui proses reproduksi sosial. 3 Novel Kenanga Karya Oka Rusmini Novel Kenanga karya Oka Rusmini merupakan sebuah karya sastra yang menawarkan sebuah penggambaran masyarakat Bali serta perjuangan tokoh utamanya. Kenanga, dalam menghadapi kompleksitas tradisi, cinta, dan kebebasan Berlatar belakang di Bali, novel ini mengajak pembaca untuk menjelajahi beragam aspek budaya dan sosial yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bali. Dalam novel ini. Oka Rusmini secara eksplisit menggambarkan lanskap alam pulau Bali yang rimbun, serta mewariskan kekayaan budaya dan praktik spiritual yang khas. Penggambaran ini memberikan latar belakang yang kaya dan mendalam, memperkuat keautentikan Kenanga. Kenanga digambarkan sebagai seorang perempuan muda yang cerdas, ulet, dan berpendirian Meskipun tumbuh dalam lingkungan tradisional Bali yang kental. Kenanga pengetahuan dan pengalaman di luar 125 | P a g e norma-norma yang diberlakukan oleh Sebagai seorang dosen sastra. Kenanga menunjukkan kecakapan intelektualnya dan seringkali menjadi iri bagi rekan-rekannya. Namun. Kenanga tidaklah mudah. Konflik muncul ketika ia jatuh cinta pada Bhuana, seorang pria yang dipilih oleh adiknya sebagai suaminya. Meskipun cinta mereka sah secara hukum dan adat, hubungan mereka menimbulkan dilema moral bagi Kenanga. Namun demikian. Kenanga tetap berusaha mempertahankan nilai-nilai tradisional Bali seperti mematuhi hukum, agama, dan adat, meskipun dihadapkan pada godaan Penggambaran perjalanan Kenanga akan memperlihatkan pada pembaca suatau refleksi mendalam mengenai konflik antara tradisi dan modernitas, serta perjuangan individu dalam menemukan identitas dan tujuan hidupnya. Oka Rusmini dengan cermat menyajikan hubungan dialektis antara lokalitas dan globalitas, menyoroti dinamika sosial masyarakat Bali dalam menghadapi arus Karakterisasi yang kuat, latar yang kaya, dan konflik yang kompleks menjadikan Kenanga sebagai sebuah karya sastra yang menggugah dan mendalam. Novel ini tidak hanya menghibur, tetapi merenungkan nilai-nilai budaya, peran gender, dan kompleksitas manusia dalam menghadapi perubahan zaman. Dengan gaya bercerita yang puitis dan mendalam. Oka Rusmini berhasil menciptakan sebuah karya yang memikat dan menginspirasi. Metode Penelitian Penelitian metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. , yang bertujuan untuk menganalisis konflik tradisi dan modernitas dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini. Data utama dalam penelitian ini berupa teks naratif yang dianalisis melalui strategi interaktif dan fleksibel untuk memahami dinamika sosial dan budaya yang digambarkan dalam karya tersebut. Penelitian dilakukan di digital library Universitas Negeri Medan, dengan peneliti berperan sebagai pengumpulan dan analisis data. Waktu pelaksanaan direncanakan selama enam bulan, mulai Januari hingga Juni 2024, dengan fokus pada penggalian makna mendalam dari teks melalui kajian kata, kalimat, dan konteks yang relevan dengan konflik gender, tradisi, dan modernitas. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil . Perjuangan Tokoh Menjaga Identitas dan Nilai Budaya Dalam era globalisasi yang kian mendominasi, banyak individu dan kelompok berjuang untuk menjaga identitas dan nilai-nilai budaya mereka dari ancaman modernisasi yang mengikis Tokoh-tokoh adat, sesepuh masyarakat, dan pemimpin budaya sering kali menjadi garda terdepan dalam mempertahankan warisan leluhur. Mereka tidak hanya berusaha melestarikan bahasa, tarian, musik, dan ritual tradisional, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut. Misalnya, dalam masyarakat adat di Indonesia, banyak pemimpin adat yang bekerja keras untuk mempertahankan praktik-praktik tradisional seperti gotong royong, musyawarah, dan ritual adat. Mereka menyadari bahwa identitas budaya adalah salah satu fondasi yang menjaga keutuhan komunitas dan memberikan arah moral bagi generasi Namun, perjuangan ini sering kali dihadapkan pada tantangan besar dari arus modernisasi yang menawarkan kemudahan teknologi, gaya hidup 126 | P a g e konsumtif, dan pandangan hidup yang lebih materialistis. Pengaruh Arus Modernisasi Modernisasi membawa perubahan kehidupan, termasuk dalam cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi. Teknologi informasi yang berkembang pesat, urbanisasi, dan globalisasi budaya telah mengubah banyak pola hidup tradisional menjadi lebih modern. Arus modernisasi ini tidak dapat dihindari dan sering kali terbantahkan, seperti peningkatan kualitas hidup, akses pendidikan yang lebih luas, dan kemajuan ekonomi. Namun, dampak dari modernisasi tidak selalu positif. Dalam banyak kasus, modernisasi telah menyebabkan erosi nilai-nilai budaya dan identitas lokal. Generasi muda sering kali lebih tertarik pada budaya pop internasional dan teknologi modern dibandingkan dengan tradisi lokal mereka. Hal ini menyebabkan kekhawatiran bahwa nilai-nilai budaya yang telah diwariskan selama berabadabad akan hilang. Selain itu, modernisasi juga sering kali membawa konflik sosial, di mana kelompok yang mempertahankan tradisi sering kali dianggap ketinggalan zaman dan tidak relevan dalam konteks . Ketidakadilan Gender dalam Sistem Kasta Perempuan Terkungkung Dalam banyak masyarakat yang menganut sistem kasta, ketidakadilan gender merupakan isu yang sangat Perempuan sering kali berada dalam posisi yang sangat dirugikan, baik secara sosial, ekonomi, maupun politik. Mereka sering kali terkungkung dalam peran-peran tradisional yang membatasi kebebasan dan kesempatan mereka untuk Di banyak komunitas yang menganut sistem kasta, perempuan diharapkan untuk mematuhi norma-norma yang ketat dan menjalankan tugas-tugas rumah tangga tanpa banyak kesempatan untuk mendapatkan pendidikan atau pekerjaan yang layak. Mereka sering kali dipandang sebagai tanggungan keluarga dan masyarakat, dan hak-hak mereka untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan sering kali diabaikan. Peran Gender Termarginalkan Selain perempuan, sistem kasta juga sering kali memarginalkan peran gender lainnya. Lakilaki yang tidak sesuai dengan norma maskulinitas yang diharapkan juga dapat mengalami diskriminasi dan marginalisasi. Sistem kasta cenderung memperkuat stereotip gender yang kaku, yang tidak hanya membatasi perempuan tetapi juga mengikat laki-laki pada peran-peran Di banyak masyarakat, laki-laki diharapkan untuk menjadi pencari nafkah utama dan pemimpin keluarga, sementara perempuan diharapkan untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak. Ketika ada individu yang berusaha keluar dari peranperan ini, mereka sering kali menghadapi tekanan sosial yang besar dan dianggap menyimpang dari norma. Hal ini tidak hanya merugikan individu tersebut tetapi juga menghambat kemajuan sosial secara Perjuangan untuk keadilan gender dan pelestarian budaya menjadi dua sisi mata uang yang saling terkait dalam menghadapi tantangan modernisasi. Menjaga keseimbangan antara menghormati tradisi dan menerima perubahan adalah tugas yang kompleks namun sangat penting untuk memastikan perkembangan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. Berikut ini adalah tabel yang mencakup analisis praktik diskursif, praktik sosial budaya, dan analisis tekstual berdasarkan analisis novel Kenanga. 127 | P a g e Tabel 1. 1 Tabel Analisis Tekstual. Analisis Praktik Diskursif dan Analisis Praktik Sosial Budaya Aspek Analisis Praktik Diskursif Peran Gender Narasi yang kuat, patuh dan n lelaki. Konflik Kenanga dan ibunya condong ke Kencana. Rivalitas an antara Kenanga Kencana Kenanga Larangan haid untuk asi dalam Hubungan Keluarga Relasi Antara Saudara Peran Agama dan Adat Analisis Praktik Sosial Budaya Tradisi dan dalam ritus dan tunduk laki-laki. Norma n kepada . bu Analisis Tekstual Penggamb Kenanga Kencana batin dan n gender. Dialog dan dan tidak Kenanga Persepsi Ekspektas i Sosial Konflik Internal Ketidakad ilan Sosial Hubungan orang tua, yang dapat Deskripsi Kenanga Praktik dan adat Penggunaa AuhaidAy dan AucanangAy Peran Tradision Perempua an kontrol Perempuan Kencana. Kenanga a sendiri Ketidakadi lan yang Kenanga, yang selalu Kencana. Kencana lelaki yang ketat yang ritus agama dan adat sehari-hari. Tekanan aan sebagai yang setia Dialog Kencana dia merasa bebas dari ritual dan Norma n keluarga, sering kali Kesenjang an gender kan beban lebih berat Narasi f Kenanga nya antara pribadi dan Peran tangga dan dalam ritus Narasi dan Kenanga ya dengan Bhuana. Penggamb orang tua 128 | P a g e Respons Masalah a, terlepas Kenanga a sendiri n adiknya. Hubungan Figur Ayah Dukungan ayah yang an adanya dalam cara antara figur ayah dan Pengaruh Sosial Terhadap Keputusa Keputusan Kenanga Bhuana Kencana kuat norma Kekuatan asi dalam Figur ayah oleh anak Tekanan n keluarga sosial yang sering kali n pribadi. Narasi dan Kenanga oleh rasa jawab dan an pribadi. Dialog an adanya yang lebih an dengan Deskripsi Kenanga Bhuana Kencana kuat norma Tabel di atas menunjukkan menggambarkan berbagai aspek praktik diskursif, praktik sosial budaya, dan analisis tekstual yang mempengaruhi karakterkarakternya. Praktik-praktik mencerminkan dinamika kekuasaan, norma gender, dan harapan sosial yang kompleks dalam konteks budaya yang digambarkan, serta memberikan wawasan mengomunikasikan tema-tema ini melalui bahasa, dialog, dan narasi. Disamping itu analisis wacana kritis terhadap novel Kenanga karya Oka Rusmini mengungkapkan kompleksitas hubungan antara tradisi dan modernitas dalam konteks masyarakat Bali, serta menyoroti isu-isu ketidakadilan gender yang masih mengakar kuat. Melalui pendekatan Norman Fairclough, penelitian ini mengeksplorasi tiga dimensi analisis: tekstual, praktik diskursif, dan praktik sosial budaya. 2 Pembahasan . Analisis Tekstual Pada tingkat analisis tekstual, novel Kenanga bahasa yang kaya akan nuansa pertentangan antara nilai-nilai tradisional dan modern. Oka Rusmini dengan cermat memilih kosakata dan struktur kalimat yang mencerminkan hierarki sosial dalam masyarakat Bali. Misalnya, penggunaan istilah-istilah adat Bali yang berkaitan dengan sistem kasta diperhadapkan dengan terminologi modern, menciptakan kontras linguistik yang menggambarkan konflik internal tokoh-tokoh dalam menghadapi perubahan zaman. Metafora dan simbol yang digunakan dalam narasi sering kali merepresentasikan pergulatan batin para karakter, terutama tokoh identitas mereka di tengah tuntutan tradisi dan godaan modernitas, hal ini tercermin pada kalimat: AuMitos-mitos tentang ibu tak lekang dikumandangkan untuknya hanya kelebat yang tak pernah menyentuh dindingdinding wujud keperempuanannya. Ay Dalam kutipan tersebut. Norman Fairclough melihat teks dalam tiga dimensi utama: 129 | P a g e tekstual, diskursif, dan sosial. Pada dimensi tekstual, analisis difokuskan pada bagaimana struktur bahasa dan elemen linguistik digunakan dalam teks. Dalam kutipan ini, pilihan kata seperti Aumitos-mitosAy. AuibuAy. AukelebatAy. AumenyentuhAy, dan AukeperempuanannyaAy mengindikasikan bahwa fokus utama adalah pada isu-isu gender dan peran sosial yang dilekatkan pada wanita, terutama ibu. Struktur kalimat yang kompleks dengan dua klausa yang AuhanyaAy menunjukkan kontras antara Aumitos-mitos tentang ibuAy dan realitas yang dialami Gaya bahasa metaforis dengan frasa Aukelebat yang tak pernah menyentuh dinding-dinding keperempuanannyaAy bahwa mitos-mitos tersebut tidak benarbenar berhubungan atau mempengaruhi kehidupan perempuan secara mendalam. Lalu terdapat pula pada kalimat: AuIbu bukanlah figur impiannya. Bahkan sebaliknya, perempuan iru bagaikan makhluk entah apa yang entah kenapa harus tampil menjadi ibunya. Sejak dulu ibu selalu memihak Kencana. Ay Kutipan tersebut mengungkapkan perasaan kecewa dan keterasingan karakter terhadap sosok ibunya. Pilihan kata seperti Aubukanlah figur impiannyaAy dan Auperempuan itu bagaikan makhluk entah apaAy menunjukkan bahwa karakter harapannya dan bahkan terasa asing Kalimat-kalimat pendek dan tegas seperti AuSejak dulu ibu selalu memihak KencanaAy ketidakadilan dalam hubungan keluarga, di mana ibu dianggap lebih mendukung pihak Struktur kalimat yang digunakan memberikan kesan langsung dan tegas, memperkuat perasaan kecewa dan ketidakpuasan karakter. Penggunaan metafora dan simile menambah nuansa kebingungan dan keterasingan, sementara pengulangan kata AuibuAy menekankan fokus pada konflik ini. Pendekatan Norman Fairclough dalam analisis wacana kritis membantu mencerminkan dinamika kompleks dalam hubungan ibu-anak dan bagaimana harapan dan kenyataan bisa sangat berbeda dalam konteks tradisi dan Lalu terdapat pula pada penggalan kutipan: AuPerempuan tua itu lalu mengajak Kenanga ke kamar tidurnya di Bale Bandung dan menuturkan kisab siap selem maling taluh, ayam hitam mencuri telur. Segulung cerita yang barangkali sudah keseribu kalinya didengar Kenanga, tetapi tetap masih mampu memukaunya. Bertahun-tahun perasaan terluka itu harus dalam-dalam, ditanggungnya sendirian. Ay Kutipan tersebut mengungkapkan hubungan mendalam antara Kenanga dan perempuan tua tersebut melalui tradisi Kalimat pembuka menggambarkan tindakan fisik yang sederhana namun penuh makna emosional, menunjukkan keakraban dan nilai-nilai keluarga. Frasa yang digunakan mengandung elemen budaya dan tradisi lisan, menunjukkan mempertahankan identitas keluarga. Meskipun cerita ini sudah sering didengar. Kenanga tetap terpesona, menunjukkan kekuatan dan kenyamanan dari tradisi lisan. Namun, di balik kenikmatan mendengar cerita tersebut, ada perasaan terluka yang harus dipendamnya selama bertahun-tahun, menambah lapisan emosional yang kompleks pada karakter Kenanga. Pendekatan Norman Fairclough membantu mengungkap bagaimana teks ini menggabungkan elemen tradisional dan emosional untuk menunjukkan dinamika 130 | P a g e internal karakter dan bagaimana tradisi dan modernitas bisa bertabrakan dalam konteks pengalaman pribadi yang AuKalau kau memang laki-laki yang bertanggung jawab, kau harus megawini KencanaAy AuTapi peristiwa ini," pekik Bhuana setengah linglung "Kawini Kencana!" Kenanga membuang wajah, menghindari tatapan bingung le laki itu. Betapa dirinya amat takut Bhuana mampu memergok perasaannya yang sesungguhnya. "Adikku mencintaimu. Bhuana. Aku minta busukmu pada kuAy Kutipan dari novel tersebut menggambarkan dinamika emosional dan sosial yang kompleks yang terjalin di antara para karakter. Dalam analisis tekstual menurut Norman Fairclough, kutipan ini mengungkapkan ketegangan antara tradisi dan modernitas melalui dialog dan tindakan para karakter. Kalimat pertama. AuKalau kau memang laki-laki yang bertanggung jawab, kau harus mengawini Kencana,Ay imperatif yang kuat untuk menekankan tuntutan tanggung jawab berdasarkan norma-norma Penggunaan kata Aubertanggung jawabAy mengimplikasikan harapan sosial bahwa seorang pria harus menikahi seorang wanita untuk memperbaiki kehormatan yang telah tercemar. Pekikan Bhuana. AuTapi peristiwa ini,Ay menunjukkan kebingungan dan keterkejutan, yang diperkuat oleh Ausetengah linglungAy. Ini menandakan konflik internal Bhuana antara kewajiban sosial dan perasaannya Perintah langsung AuKawini Kencana!Ay yang diulang dua kali menekankan urgensi dan tekanan yang dihadapi Bhuana untuk mematuhi norma Kenanga yang Aumembuang wajah, menghindari tatapan bingung lelaki ituAy menggambarkan sebuah perjuangan Tindakan Kenanga untuk menghadapi situasi secara langsung, yang mencerminkan kerumitan emosional yang ia rasakan. Ketakutannya Bhuana Aumemergoki sesungguhnyaAy Kenanga menyembunyikan perasaan pribadinya, yang mungkin bertentangan dengan tuntutan sosial yang sedang terjadi. Kalimat terakhir, menambahkan lapisan lain pada dinamika ini. Pernyataan ini menegaskan bahwa permintaan untuk Kencana berdasarkan cinta adiknya tetapi juga sebagai bentuk penebusan atas kesalahan yang telah dilakukan terhadap Kenanga. Frase Auulah padakuAy memberikan konotasi negatif yang kuat terhadap tindakan Bhuana, memperkuat tekanan moral dan sosial yang harus ia Pilihan kata dan frasa yang digunakan Oka Rusmini juga secara ketidaksetaraan gender dalam budaya Bali. Deskripsi tentang peran dan ekspektasi terhadap perempuan Bali sering kali mencerminkan keterbatasan dan tekanan Contohnya, penggunaan kata-kata yang berkonotasi pasif dan submisif untuk menggambarkan karakter perempuan yang tunduk pada tradisi, sementara katakata yang lebih aktif dan asertif digunakan untuk menggambarkan tokoh-tokoh yang menentang norma sosial. Analisis Praktik Diskursif Dalam konteks praktik diskursif, novel Kenanga tidak dapat dipisahkan dari 131 | P a g e latar belakang Oka Rusmini sebagai penulis perempuan Bali yang memiliki kesadaran kritis terhadap budayanya sendiri. Pengalaman pribadinya sebagai bagian dari masyarakat Bali memberikan otentisitas dan kedalaman pada narasi yang dibangun. Konteks sosial dan politik pada saat novel ditulis dan diterbitkan, yaitu era reformasi Indonesia, juga turut memengaruhi tema-tema yang diangkat dalam novel. Periode ini ditandai dengan keterbukaan yang lebih besar terhadap kritik sosial dan eksplorasi identitas kultural, yang tercermin dalam keberanian Oka Rusmini mengangkat isu-isu sensitif seputar tradisi dan gender. Lalu pada kalimat lainnya terdapat pula praktik analisi diskursif yang terdapat pada "Kenanga selalu merasa kasih sayang ibunya hanya untuk Kencana seorang. Seolah adiknya itu adalah anak semata Praktik Fairclough melibatkan bagaimana bahasa digunakan dalam konteks sosial dan bagaimana penggunaan bahasa tersebut menantang struktur kekuasaan dan ideologi dalam masyarakat. Dalam kasus ini, bahasa yang digunakan Kenanga menggambarkan perasaan dan persepsi personalnya terhadap dinamika keluarga dan distribusi kasih sayang ibunya. Kenanga memberikan perhatian dan kasih sayang yang eksklusif kepada Kencana, seolaholah Kencana adalah anak satu-satunya. Diskursus ketidakadilan yang dirasakan oleh Kenanga dalam keluarga, di mana ada perbedaan perlakuan yang nyata antara dirinya dan Kalimat ini tidak hanya mengungkapkan perasaan terabaikan Kenanga tetapi juga menggambarkan struktur kekuasaan dalam keluarga di mana ada bias atau preferensi terhadap satu anak. "Mungkin Kencana bohong pada ibunya. Mungkin ibunya tahu itu. Entahlah. Dalam kutipan AuMungkin Kencana bohong pada ibunya. Mungkin ibunya tahu Entahlah,Ay kita dapat melihat praktik diskursif yang mencerminkan keraguan dan ketidakpastian dalam hubungan Analisis diskursif Fairclough akan melihat bagaimana bahasa yang digunakan kekuasaan dan ideologi yang berlaku dalam konteks sosial tertentu. Pertama, penggunaan kata AumungkinAy dua kali ketidakpastian yang dialami oleh narator mengenai kejujuran Kencana dan kesadaran ibunya. Ini menunjukkan adanya kecurigaan tetapi tanpa bukti yang pasti, sehingga mencerminkan keadaan di mana kebenaran dan kebohongan menjadi Praktik diskursif ini menunjukkan adanya ketidakpercayaan dan potensi manipulasi dalam hubungan antara Kencana dan ibunya. Selain itu, frasa AuEntahlahAy ketidakpastian total dan penerimaan terhadap ketidaktahuan tersebut. Ini mengimplikasikan bahwa narator merasa tidak memiliki kekuasaan atau akses terhadap informasi yang sebenarnya, memperkuat adanya hierarki pengetahuan dalam keluarga. Analisis Praktik Sosial Budaya Analisis pada tingkat praktik sosial Kenanga merepresentasikan dan sekaligus mengkritisi sistem kasta dalam masyarakat Bali. Novel ini menggambarkan dengan jelas bagaimana struktur sosial yang kaku dapat menjadi sumber konflik dan penderitaan, terutama bagi perempuan. Oka Rusmini dengan cermat menggambarkan tantangan yang dihadapi 132 | P a g e tokoh-tokohnya modernisasi dan perubahan sosial. Pergeseran nilai-nilai tradisional, benturan dengan gagasan-gagasan modern, serta dilema moral dan sosial yang dihadapi para karakter menjadi cerminan dari dinamika yang lebih luas dalam masyarakat Bali "Padahal, perempuan yang datang bulan dilarang keras terlibat ritus Kutipan tersebut mencerminkan praktik sosial budaya yang membatasi partisipasi perempuan dalam kegiatan keagamaan berdasarkan kondisi biologis alami. Dalam bahwa menstruasi adalah sesuatu yang tidak suci atau najis, yang berakar pada kepercayaan tradisional atau dogma Pembatasan mencerminkan norma-norma patriarkal yang sering kali menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi dan mengeksklusi mereka dari ruang-ruang penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Dampak dari praktik ini meluas ke aspek-aspek lain dalam kehidupan Ketika perempuan dilarang terlibat dalam ritus keagamaan selama menstruasi, hal ini dapat memperkuat stereotip gender dan menciptakan perasaan tidak berdaya atau kurang dihargai di kalangan perempuan. Selain itu, pembatasan ini bisa menghambat partisipasi aktif perempuan dalam komunitas religius dan sosial, yang pada gilirannya dapat membatasi kontribusi komunitas tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mendorong pendekatan yang lebih inklusif dan menghargai keagamaan dan sosial, guna membangun masyarakat yang lebih adil dan seimbang. "Kedua orangtuanya pun justru membuat keadaan semakin parah. Mereka berjanji akan menghadiahi sedan Starlet kalau Kencana diperistri oleh Bhuana. Kutipan tersebut mencerminkan praktik sosial budaya yang mengaitkan pernikahan dengan transaksi material. Dalam analisis sosial budaya, hal ini menunjukkan adanya komodifikasi pernikahan, di mana nilai materi seperti hadiah mobil menjadi alat Praktik ini mencerminkan normanorma masyarakat yang mungkin masih memandang pernikahan sebagai sarana untuk mencapai keuntungan material atau status sosial, daripada sebagai ikatan emosional dan komitmen pribadi antara dua individu. Dampak dari praktik ini dapat merugikan perempuan dan laki-laki yang didasarkan pada transaksi material bisa mengabaikan aspek-aspek penting lainnya seperti cinta, kesesuaian nilai-nilai, dan kebahagiaan jangka panjang. Selain itu, tekanan dari orang tua untuk menikah menciptakan ketegangan dan konflik dalam hubungan keluarga. Hal ini juga memperkuat pandangan patriarkal di mana perempuan diperlakukan sebagai objek yang bisa ditukar dengan barang atau uang. Oleh karena itu, penting untuk mendorong pandangan yang lebih sehat tentang pernikahan, yang menghargai aspek emosional dan kemitraan setara, serta mengurangi fokus pada keuntungan Kritik sosial yang disampaikan penulis melalui narasi dan dialog dalam novel bersifat tajam namun nuansanya. Oka Rusmini tidak sekadar menolak tradisi melainkan mengajak pembaca untuk merefleksikan kompleksitas hubungan antara keduanya. Ia menggambarkan bagaimana beberapa aspek tradisi dapat menjadi sumber kearifan dan identitas, sementara aspek lainnya perlu ditinjau 133 | P a g e ulang nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan modern. Representasi perempuan dalam novel Kenanga menjadi sorotan utama dalam analisis ini. Oka Rusmini perempuan yang menghadapi dilema antara kepatuhan pada tradisi dan hasrat untuk kebebasan pribadi. Melalui perjuangan para tokoh perempuannya, novel ini mengkritisi ketidakadilan gender yang berakar pada interpretasi sempit atas tradisi dan adat istiadat. Namun, penulis juga menunjukkan potensi perubahan dan tokoh-tokoh perempuan yang berani menentang norma dan mencari identitas mereka sendiri. Kesimpulan Penelitian ini menganalisis konflik tradisi dan modernitas serta ketidakadilan gender dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini menggunakan pendekatan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini menggambarkan ketegangan antara nilainilai tradisional dan tuntutan modernitas dalam masyarakat Bali, khususnya terkait sistem patriarki dan kasta. Melalui karakter-karakter perempuan yang kuat. Oka Rusmini mengeksplorasi perjuangan melawan norma-norma sosial yang membatasi kebebasan dan identitas Penggunaan bahasa dalam novel ini pertentangan antara nilai-nilai tradisional dan modern, sementara analisis diskursif menyoroti bagaimana novel menjadi medium untuk mengkritisi adat istiadat yang tidak adil. Pada tingkat sosial budaya, novel ini memaparkan dampak sistem kasta terhadap kehidupan perempuan Bali, sekaligus mengajak pembaca untuk mempertanyakan struktur sosial yang Referensi