Vol. 3 No. 2 Juni 2021 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review SIKAP BAHASA DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI PERGURUAN TINGGI GUSNAYETTI STISIP Imam Bonjol Padang gusnayetti0108@gmail. Abstract: A positive attitude is an attitude of enthusiasm towards the use of the language . he language used by the group / speech community where he i. Conversely, if these characteristics have disappeared or weakened from a person or from a group of members of the speech community, it means that a negative attitude towards a language has hit that person or group of people. Law Number 24 of 2009 Article 25 states that Indonesian is a national identity, national pride, a means of unifying various ethnic groups, as well as a means of communication between regions and regional cultures. Therefore, as a user of Indonesian, you should have a sense of pride in using Indonesian. However, in the scope of higher education, a positive attitude towards language is not fully owned by most students. Awareness of loyalty, pride in owning, and maintaining the Indonesian language seems to be lacking. This is because students tend to be more confident when using a foreign language compared to their own language. In the context of learning Indonesian, this task is only borne by Indonesian language teachers and lecturers. This paradigm should be changed because getting used to using Indonesian properly and correctly will reap maximum results in increasing student academic achievement. Understanding Indonesian in accordance with good and correct Indonesian language rules is needed for students to have a positive attitude in using Indonesian. A positive attitude in Indonesian can be shown in the form of language loyalty, language pride, and awareness of language keywords : language attitude. Indonesian language learning, higher education. Abstrak : Sikap positif yaitu sikap antusiasme terhadap penggunaan bahasanya . ahasa yang digunakan oleh kelompoknya/masyarakat tutur dimana dia berad. Sebaliknya jika ciri-ciri itu sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif terhadap suatu bahasa telah melanda diri atau kelompok orang itu. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 pasal 25 disebutkan Bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antardaerah dan antarbudaya daerah. Maka dari itu, sebagai pemakai bahasa Indonesia selayaknya memiliki rasa kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia. Namun di lingkup perguruan tinggi, sikap berbahasa yang positif belum sepenuhnya dimiliki oleh sebagian besar mahasiswa. Kesadaran rasa setia, bangga memiliki, dan memelihara bahasa Indonesia tampaknya masih kurang. Hal ini disebabkan mahasiswa cenderung bersikap lebih percaya diri ketika menggunakan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa negeri sendiri. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, tugas tersebut malah hanya dibebankan kepada para guru dan dosen Bahasa Indonesia. Paradigma seperti ini semestinya dapat diubah karena membiasakan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar akan menuai hasil yang maksimal dalam peningkatan prestasi akademik mahasiswa. Pemahaman bahasa Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Vol. 3 No. 2 Juni 2021 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review Indonesia sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar diperlukan bagi mahasiwa agar mempunyai sikap yang positif dalam menggunakan bahasa Indonesia. Sikap berbahasa Indonesia yang positif dapat ditunjukkan dalam bentuk kesetiaan berbahasa, kebanggaan berbahasa, dan kesadaran adanya norma bahasa. kata Kunci: Sikap bahasa, pembelajaran bahasa Indonesia,perguruan tinggi. Pendahuluan Bahasa adalah salah satu ciri khas manusiawi yang membedakannya dari makhluk-makhluk yang lain. Selain itu, bahasa mempunyai fungsi sosial, baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. Pandangan de Saussure . yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Namun, kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (Hudson, 2. Sikap bahasa pada umumnya dianggap sebagai prilaku pemakai bahasa terhadap Hubungan antara sikap bahasa dan pemertahanan dan pergeseran bahasa dapat dijelaskan dari segi pengenalan prilaku itu atau di antaranya yang memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung bagi pemertahanan bahasa. Jadi yang sangat penting adalah pertanyaan tentang bagaimana sikap bahasa atau ragam bahasa yang berbeda menggambarkan pandangan orang dalam ciri sosial yang berbeda. Penggambaran pandangan yang demikian memainkan peranan dalam komunikasi intra kelompok dan antar kelompok (Siregar, 2018: . Bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara harus terus dibinadan dikembangkan agar menjadi bahasa yang modern, yakni bahasa yang sanggup mengemban fungsinya sebagai sarana komunikasi dalam berbagai segi kehidupan. Dalam usaha membina dan mengembangkan bahasa Indonesia tersebut,pemerintah menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi wajib. Tujuan pembinaan bahasa Indonesia melalui pendidikan formal tersebut di samping bermaksud agar mahasiswamemiliki keterampilan berbahasa lisan maupuntulisandengan baik, juga diharapkan memiliki jati diri dan kepribadian yang yang luhur. Sebagai pemakai bahasa Indonesia selayaknya memiliki rasa kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Setiap warga negara Indonesia juga sepatutnya memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia dan berusaha agar selalu cermat dan teratur menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Paling tidak menanamkan budaya malu jika tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah bahasa Indonesia dicintai dan dijaga. Untuk dapat memahami apa yang disebut sikap bahasa (Language Attiud. terlebih dahulu haruslah dijelaskan apa itu sikap. Sikap dapat mengacu pada bentuk tubuh, posisi yang berdiri tegak, prilaku atau gerak-gerik, dan perbuatan atau tindakan yang di lakukan berdasarkan pandangan . endirian, keyakinan, atau pendapa. Sebagai reaksi atas adanya suatu hal atau kejadian. Sesungguhnya, sikap itu adalah fenomena kejiwaan, yang biasanya termanifestasi dalam bentuk tindakan atau prilaku. Namun dalam banyak penelitain tidak selalu yang dilakukan secara lahiriah merupakan cerminan dari sikap batiniah (Chaer dan Agustina, 2015: 197-. E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 3 No. 2 Juni 2021 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review Namun demikian, di lingkup perguruan tinggi misalnya, sikap berbahasa yang positif belum sepenuhnya dimiliki sebagian besar mahasiswa. Kesadaran rasa setia, bangga memiliki, dan memelihara bahasa Indonesia tampaknya masih kurang. Hal ini disebabkan mahasiswa cenderung bersikap lebih percaya diri ketika menggunakan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa negeri sendiri. Sikap seperti ini tercermin dalam kehidupannya sehari-hari, baik dalam situasi formal maupun nonformal. Jika merujuk pada pernyataan bahwa bahasa menunjukkan jati diri bangsa, maka menurut Hikmat & Solihati . hal ini menjadi sangat ironis karena di kalangan generasi muda saat ini,jati diri bangsanya mulai keropos dan kelak bisa saja tergerus oleh perkembangan zaman. Selain itu, pembelajara Bahasa Indonesia di perguruan tinggi terkadang dipandang remeh. Anggapan tersebut muncul karena bahasa Indonesia sudah digunakan sebagai bahasa sehari-hari dalam berinteraksi. Pun bahasa Indonesia juga telah diajarkan sejak berada di bangku sekolah dasar. Maka tak heran jikamata kuliah Bahasa Indonesia dianggap sudah tidak perlu lagi diajarkan. Padahal kedua hal tersebut konteksnya sangat berbeda. Paradigma di atas tentu saja tidak benar. Bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari berbeda dengan materi yang diberikan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Jika sehari-hari seseorang dapat berbicara dengan sangat lancar kepada lawan bicaranya, itu disebabkan ragam bahasa yang digunakan merupakan ragam bahasa Indonesia tidak resmi. Namun, akan jauh berbeda jika seseorang tersebut menggunakan ragam bahasa Indonesia resmi. Dalam penggunaan sehari-hari, bahasa Indonesia cenderung menggunakan ragam nonformal atau tidak resmi yang sudah mengalami percampuran dengan bahasa daerah pemakai bahasa. Sementara, dalam pembelajaran bahasa Indonesia, hal tersebut tidak dibenarkan karena pembelajaran diarahkan pada keterampilan berbahasa Indonesia secara formal atau resmi. Berbahasa Indonesia secara baik dan benar memiliki konsekuensi logis terkait terhadap pemakaiannya sesuai dengan situasi dan konteks pembicaraan. Pada situasi formal, menggunakan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama dan pemakaiannya sering menggunakan bahasa baku. Namun, terkadang yang menjadi permaalahan menurut Mansyur . adalah munculnya gejala bahasa, seperi interferensi bahasa gaul, yang tanpa disadari turut dipakai dalam berbahasa Indonesia ragam resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa Indonesia yang digunakan menjadi tidak Oleh karena itu, pemahaman bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benardiperlukan mahasiwa agar mempunyai sikap yangpositif terhadap bahasa Indonesia. Sikap berbahasa Indonesia yang positif dapat ditunjukkan dalam bentuk kesetiaan berbahasa, kebanggaan berbahasa, dan kesadaran adanya norma bahasayang berlaku. Metodologi Penelitian Tujuan metodologi penelitian ini akan melihat mata kuliah Bahasa Indonesia yang diajarkan di perguruan tinggi antara lain sebagai berikut: . Menumbuhkan kesetiaan terhadap bahasa Indonesia yang diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk senantiasa memelihara dan mencintai bahasa Indonesia. Menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia yang diharapkan mampu mendorong mahasiswa agar selalu mengutamakan bahasanya sebagailambang identitas bangsa. Menumbuhkan kesadaran adanyanorma bahasa Indonesia yang diharapkan Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Vol. 3 No. 2 Juni 2021 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review dapat mendorong mahasiswa agar menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. Hasil dan Pembahasan Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik, bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Sosiolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari bahasa dengan dimensi Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena sikap bahasa . anguage attitud. dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji, karena melalui sikap bahasa dapat menentukan keberlangsungan hidup suatu bahasa. Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang di gunakan manusia untuk mencapai tujuan. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi merupakan ciri manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Pada saat berkomunikasi pembicara lebih banyak menggunakan bahasa tertentu memperjelas makna yang sulit dimengerti atau diterima oleh lawan bicara. Oleh karena itu tidak dapat dipugkiri bahwa masyarkat yang bilingual dalam berkomunikasi akan membuat pemilihan bahasa dalam komunitas masyarakat tersebut. Sikap bahasa dalam kajian sosiolinguistik mengacu pada prilaku atau tindakan yang dilakukan berdasarkan pandangan sebagai reaksi atas adanya suatu fenomena terhadap penggunaan bahasa tertentu oleh penutur bahasa. Bahasa dalam suatu komunitas mungkin berbeda dengan komunitas yang lain bagaimana bahasa bisa dipengaruhi penggunaannya sesuai dengan ciri sosial yang berbeda. Sikap positif yaitu sikap antusiasme terhadap penggunaan bahasanya . ahasa yang digunakan oleh kelompoknya/masyarakat tutur dimana dia berad. Sebaliknya jika ciri-ciri itu sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif terhadap suatu bahasa telah melanda diri atau kelompok orang itu. Sikap positif tentu saja berhubungan dengan sikap-sikap atau tingkah laku yang tidak bertentangan dengan kaidah atau norma yang berlaku. Masalahnya sekarang adalah apakah prospek penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat Indonesia di era globalisasi ini masih sesuai dengan harapan sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya? Pertanyaan ini perlu dilontarkan, sebab dengan diberlakukanya perdagangan bebas antar negara, batas teritorial secara geografis menjadi tidak penting. Sekat-sekat teritorial tersebut selama ini mulai berangsurangsur hilang dengan masuknya informasi secara bebas ke seluruh sudut ruangan yang ada di seluruh penjuru dunia. Menghadapi permasalahan ini mampukah bangsa Indonesia mempertahankan dan mengembagkan bahasa Indonesia di tengah pesatnya teknologi informasi dewsa ini? Agar bahasa Indonesia tetap eksis dipergunakan oleh masyarakat Indonesia perlu adanya upaya yang serius dan kerja keras dari seluruh bangsa Indonesia termasuk generasi muda . Gairah tulis menulis bagi mahasiswa Indonesia masih tergolong rendah. Dan adapun tulisan-tulisan yang dikaryakannya pun masih mengalami kerancuan bahasa yang menyimpang dari kaidah EYD. Untuk itulah perlu adanya mata kuliah bahasa Indonesia bagi mahasiswa. Akan tetapi sudah tentunya mahasiswa yang telah melewati jenjang SD hingga SMA telah menerima pelajaran bahasa Indonesia dari A sampai Z. Dan apakah di perguruan tinggi ini hanya mengulangi materi yang teah disampaikan E-ISSN: 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN: 2657-0319 Vol. 3 No. 2 Juni 2021 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review layaknya di sekolah-sekolah? Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, pada umumnya dosen mengajarkan kembali materi mata kuliah sebagai mana yang telah disampaikan para guru bahasa Indonesia di SD hingga SMA. Para dosen kembali mengajarkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan, dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Tidak jarang mahasiswa diperlakukan seperti mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Fakultas Sastra dan Bahasa. Seolah-olah mereka dididik menjadi calon ahli bahasa atau calon sarjana Bahasa Indonesia. Oleh karena materi yang sama telah mereka peroleh sebelumnya, maka banyak mahasiswa baru yang mengikuti kuliah Bahasa Indonesia dengan setengah hati atau merasa sangat terpaksa, demi nilai atau indeks prestasi belaka. Sehingga tidak diherankan jika mahasiswa mengalami kejenuhan dalam belajar bahasa Indonesia. Akan tetapi apakah para mahasiswa telah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik yang berupa tuliasan maupun lisan? Banyak riset yang memaparkan sebagaimana yang disampaikan oleh S. Sahala Tua Saragih dalam tulisannya Aumahasiswa dan bahasai IndonesiaAy bahwa sebagian besar mahasiswa belum mampu menggunakan bahasa Indonesia secara lisan maupun tulisan dengan baik dan benar. Untuk itu, mahasiswa non bahasa perlu dilatih secara intensif berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan hal tersebut sudah menjadi konskwensi para dosen, baik dosen pengampu bahasa Indonesia maupun yang lain. Artinya, setiap dosen baik pengampu mata kuliah bahasa Indonesia maupun yang lain harus mampu mendidik para mahasiswa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam konteks ilmu atau program studi masing-masing. Dengan kata lain, setiap dosen harus mampu menjadi dosen Bahasa Indonesia. Selain itu para mahasiswa pun perlu mendapatkan pelatihan jurnalistik maupun berkarya ilmiah serta mendapatkan wadah untuk berkreasi mengeluarkan segala kreativitasnya. Sehingga nantinya dalam penulisan karya ilmiah, mahasiswa mampu membuat karya ilmiah dengan penuturan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa adanya copy paste maupun plagiasi. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional negara Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu. Bahasa Indonesia sudah diajarkan sejak tingkat SD. SMP, dan SMA. Oleh karena itu sebaiknya setelah jenjang SMA bahasa Indonesia sudah dikuasai atau setidaknya mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Bahasa Indonesia. Namun faktanya, masih sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara maksimal. Di perguruan tinggi, kita akan mempelajari Bahasa Indonesia dimana kita dituntut untuk mempertahankan Bahasa Indonesia. Ini dituntut supaya tidak luntur oleh kalangan banyak pemuda dan pengaruh budaya asing yang cenderung mempengaruhi pikiran generasi muda. Selain itu bahasa Indonesia itu penting untuk dipelajari diperguruan tinggi, dikarenakan di universitas setiap mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian, bahasa Indonesia sebagai panduan untuk penyusunan dan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi ilmiah . kripsi, tesis, disertasi, dl. , selain itu mempelajari bahasa Indonesia bagi mahasiswa di universitas sama halnya seperti mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA, namun pembahasan di universitas lebih spesifik dan mendalam, dan sebagian besar mahasiswa masih tetap ingin mempelajari bahasa Indonesia dikarenakan agar mereka mampu bertata bahasa dengan baik dan benar. Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Vol. 3 No. 2 Juni 2021 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review Alasan inilah yang membuat Dirjen depdiknas RI memutuskan memasukan Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata kuliah yang wajib diajarkan di seluruh perguruan tinggi dan seluruh jurusan. Tujuannya untuk mengasah kemampuan berbahasa dan mengembangkan kepribadian para mahasiswa. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita selaku Warga Negara Indonesia (WNI) untuk menguasai dan menerapkan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehariAehari dengan baik dan benar, sehingga bahasa Indonesia dapat terjaga keasliannya. Dalam perguruan tinggi, kita akan sering membuat karya ilmiah. Bukan hanya karya ilmiah yang akan kita buat melainkan laporan praktikum, skripsi, thesis dan karya tulis lainnya. Di perguruan tinggi, kita akan mempelajari Bahasa Indonesia dimana kita dituntut untuk mempertahankan Bahasa Indonesia. Ini dilakukan supaya tidak luntur oleh kalangan banyak pemuda dan pengaruh budaya asing yang cenderung mempengaruhi pikiran generasi muda. Dalam suatu karya ilmiah, penggunaan bahasa memiliki arti yang sangat penting. Bahasa adalah alat komunikasi lingual manusia, baik secara lisan maupun tertulis. Untuk penggunaan bahasa dalam suatu karya ilmiah berarti menitikberatkan suatu bahasa sebagai alat komunikasi berupa tulisan. Karena itu, penggunaan bahasa dalam karya ilmiah sangatlah penting. Pengertian dari karya ilmiah sendiri adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium , artikel jurnal, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Nah, untuk di tingkatan perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi . ugas akhi. Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakarpakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian. Selain itu karena alasan di atas, terdapat beberapa hal lain yang membuat bahasa indonesia harus dijadikan mata kuliah di perguruan tinggi. Dengan demikian, sangat penting untuk mengadakan mata kuliah Bahasa Indonesia di setiap perguruan tinggi selain karena bahasa indonesia merupakan bahasa negara kita sendiri dan sebagai bahasa pemersatu dengan cara ini juga kita secara tidak langsung telah melestarikan bahasa kita. siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia ini kalau bukan kita sebagai warga negara itu sendiri. Penutup Sikap bahasa merupakan hal yang penting dalam kaitanya dengan suatu bahasa karena sikap bahasa dapat melangsungkan hidup suatu bahasa. Pada dasarnya bahasa tidaklahbersifat statis, tetapi dinamis. Kedinamisan bahasa disebabkan oleh kedinamisan masyarakat pemakai bahasa. Masyarakat bersifat dinamis dalam arti selalu mengalami perubahan. Perubahan itu tampak dari sikap dan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat itu sendiri. Bahasa sebagai tingkah laku verbal merupakan salah satu aspek dari keseluruhan tingkah laku manusia yang sedang Pemahaman Indonesia berbahasaIndonesia yang baik dan benardiperlukan bagi mahasiwa agar mempunyai E-ISSN: 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN: 2657-0319 Vol. 3 No. 2 Juni 2021 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review sikap yangpositif dalam menggunakan bahasa Indonesia. Sikapberbahasa Indonesia yang positif dapatditunjukkan dalam bentuk kesetiaan berbahasa, kebanggaan berbahasa, dankesadaran adanya norma bahasayang berlaku. Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi tentunya bukan hanya menjadikan mahasiswa lulus dalam ujian mata kuliah Bahasa Indonesia, melainkan mereka harus mampu terampil berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Mereka dibimbing untuk menguasai aspek-aspek keterampilan berbahasa agar dapat menambah pengetahuan dan pengalamannya dalam berkomunikasi seharihari. Pembelajaran bahasa Indonesiadi perguruan tinggi diarahkan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan yang dikembangkan antara lain dari segi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia itu penting untuk dipelajari diperguruan tinggi, dikarenakan Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu, karena di universitas setiap mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian, bahasa Indonesia sebagai panduan untuk penyusunan dan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi ilmiah . kripsi, tesis, disertasi, dl. , selain itu mempelajari bahasa Indonesia bagi mahasiswa di universitas sama halnya seperti mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA, namun pembahasan di universitas lebih spesifik dan mendalam, dan sebagian besar mahasiswa masih tetap ingin mempelajari bahasa Indonesia dikarenakan agar mereka mampu bertata bahasa dengan baik dan benar, bahasa Indonesia-pun penting untuk dilestarikan oleh penutur Dalam maraknya era globalisasi masa kemajuan informatika dan komuniakasi setiap individu dituntut untuk menyumbangkan karya kreativitasnya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Terutama bagi kalangan mahasiswa yang dituntut untuk selalu berkarya baik berbentuk tulis maupun non tulisan. Akan tetapi dalam dunia tulis menulis di kalangan mahsasiswa, masih banyak kerancuankerancuan yang menyimpang dari kaidahnya dalam tulisan-tuliasan. Apa lagi budaya menulis yang sesuai kaidah EYD sudah mulai terlupakan akibat dari kemajuan tekhnologi dan informatika yang bersifat instan. Selain itu gairah tulis menulis telah mengalami penurunan, sehingga tidak heran dalam kalangan mahasiswa lebih menyukai copy paste dari karya orang ataupun membeli karya orang yang diakuI sebagai karyanya. Padahal dengan kemajuan tekhnologi dan informatika, membuka lahan yang seluas-luasnya bagi manusia untuk terus berkarya dan menuangkannya segala bentuk kreativitasnya, terutama dalam bentuk tulisan. Misalnya dalam dunia internet tersedia berbagai informasi yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta wadah yang siap menampung segala kreativitas dan unegAeuneg manusia yang berupa tulisan seperti situs blog maupun jejaring social. Akan tetapi kebanyakan mahasiswa Indonesia masih mengenyampingkannya dan belum dapat menggunakannya secara maksimal sebagai media mempublik karya. Daftar Pustaka