Jurnal JAPS Volume 5. Nomor 1 April 2024 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN: 2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Evektivitas Program Botting Paru UPT Puskesmas Rappang Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Elsya Magfirah, 2Mardhatillah, 3Khaeriyah Adri, 4Zulkarnain Sulaiman 1,2,3,4 Jurusan Administrasi Kesehatan (Universitas Muhammadiyah sidenreng Rappan. Email: magfirahelsya@gmail. Kata kunci Abstrak Calon Pengantin. Efektivitas, program. Stunting Stunting Stunting adalah kekurangan gizi yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai bentuk upaya pencegahan stunting. UPT Puskesmas Rappang memperkenalkan program Botting Paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi Crosectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk mengidentifikasi hubungan antara masing-masing indikator dan upaya pencegahan stunting. Hasil analisis menunjukkan bahwa efektifitas indikator tujuan program dengan P-Value 0,016 < 0,05 dan sosialisasi program dengan P-Value 0,00 < 0,05 yang berarti memiliki hubungan yang signifikan terhadap upaya pencegahan stunting sedangkan hasil analisis Ketepatan sasaran degan P-Value 0,138 > 0,05 dan Pemantauan Program dengan P- Value 0,108 > 0,05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas program Botting Paru dalam pencegahan stunting sangat dipengaruhi oleh keberhasilan sosialisasi program dan kejelasan tujuan program yang ditetapkan. Dari penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi pada peningkatan efektivitas program, khususnya dengan fokus pada memperkuat indikator pemantauan program dan ketepatan sasaran, sehingga program dapat lebih tepat sasaran dan diawasi dengan lebih baik untuk mencapai hasil yang optimal dalam pencegahan stunting. Abstract Stunting Stunting is malnutrition that results in impaired growth and development of children. As an effort to prevent stunting. UPT Puskesmas Rappang introduced the Botting Paru program. This study aims to evaluate the effectiveness of the program. The method used was a quantitative approach with a Cross-Sectional study Data were collected through questionnaires and analyzed using the Chi-Square test to identify the relationship between each indicator and stunting prevention efforts. The results of the analysis show that the effectiveness of the program objectives indicator with a P-Value of 0. 016 < 0. 05 and program socialization with a P-Value 00 < 0. 05 which means that it has a significant relationship with stunting prevention efforts while the results of the analysis of target Keywords Bridal Candidates. Effective. Stunting. Program accuracy with a P-Value of 0. 138 > 0. 05 and Program Monitoring with a P-Value of 0. 108 > 0. 05 which means there is no significant These findings indicate that the effectiveness of the Botting Paru program in preventing stunting is strongly influenced by the success of program socialization and the clarity of program objectives set. It is hoped that this study will contribute to improving program effectiveness, particularly by focusing on strengthening indicators of program monitoring and targeting accuracy, so that programs can be better targeted and better supervised to achieve optimal results in stunting prevention. Pendahuluan Stunting adalah kekurangan gizi yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. United Nations Children's Emergency Fund (UNICEF) mengungkapkan, stunting berdampak sekitar 22,3% anak di bawah 5 tahun, yang setara dengan 148,1 juta anak secara global pada tahun 2022, atau lebih dari separuh anak yaitu sebesar 52% anak di bawah usia 5 tahun yang terkena dampak stunting tinggal di Asia dan dua dari lima anak atau sebesar 43% tinggal di Afrika (UNICEF. WHO. World Bank Group Joint Malnutrition Estimates, 2. Indonesia yang merupakan negara bagian wilayah Asia Tenggara berdasarkan Hasil Survei Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6%, menurun dari 24,4% pada tahun 2021, namun angka tersebut belum sesuai dengan standar World Health Organization (WHO) yang menargetkan kurang dari 20%. Untuk itu pemerintah berusaha menurunan angka stunting menjadi 17% tahun 2023 dan 14% tahun 2024 (Rokom, 2. Data yang di peroleh, berdasarkan hasil Survai Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementrian Kesehatan, menyatakan bahwa, prevalensi balita stunting di Propinsi Sulawesi Selatan mencapai 27,2% pada tahun 2022, provensi ini menduduki peringkat ke 10 prevalensi balita stunting tertinggi di Indonesia (Kementrian Kesehatan RI. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021-2022 menunjukkan bahwa terdapat 12 kabupaten/kota dimana angka prevalensi stunting meningkat dan tidak sesuai dengan capaian target di tahaun 2022 yaitu Jeneponto 39,8%. Tana Toraja 35,4% pangkep 34,2%. Toraja Utara 34,1%. Kepulauan selayar 32,1% Luwu Utara 29,8%. Wajo 28,6%. Sidrap 27,3%, kota Pare-pare 27,1% Soppeng 26,9%. Luwu 26,7%. Luwu Timur 22,6%. Data tersebut menunjukkan Kabupaten Sidrap Berada di urutan ke 8 kabupaten dengan prevalensi balita stunting meningkat dan tidak sesuai dengan target tahun 2022 yaitu dengan target 21,68 %. (Laporan Semester I TIM Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Sulawesi Selatan, 2. Pemerintah Indonesia telah menetapkan stunting sebagai prioritas utama, seperti yang terlihat dari dimasukkannya isu ini dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, dengan target penurunan stunting dari 27,6% pada tahun 2019 menjadi 14% pada tahun 2024. Dalam Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2021 yang fokus pada percepatan penurunan stunting. Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI) mencakup berbagai kegiatan penting, termasuk dukungan untuk keluarga berisiko stunting, pendampingan bagi calon pengantin dan pasangan usia subur, serta pemantauan keluarga yang berisiko mengalami stunting (Dermawan dkk. , 2. Jika stunting tidak ditangani dengan baik, maka akan berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan. Salah satu dampak negatif dari stunting adalah dapat mempengaruhi aspek perkembangan kognitif anak, seperti keterbatasan kosakata, penurunan kecerdasan dan kemampuan belajar, penurunan konsentrasi, dan penurunan kepekaan terhadap lingkungan, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis anak. Efek ini semakin buruk seiring dengan berlanjutnya efek stunting hingga dewasa (Nazidah dkk. , 2. Penelitian oleh Nursyamsiah, 2022 mengungkapkan Faktor-faktor yang terkait dengan stunting antara lain tinggi badan ibu, tingkat pendidikan, pendapatan rumah tangga, dan riwayat imunisasi dasar yang lengkap. Faktor tersebut terutama disebabkan oleh faktor ibu dan keluarga. Selain itu, pelayanan kesehatan seperti pemberian imunisasi dasar juga menjadi faktor risiko terjadinya stunting (Nursyamsiah, 2. Penelitian Mardhatilla dkk . mengungkapkan bahwa praktik pemberian makanan. Berat Badan lahir rendah (BBLR) dan status ekonomi keluarga berhubungan dengan stunting dan di antara ketiganya, pendapatan keluarga mempunyai resiko lebih besar yaitu 2. 252 kali lipat kejadian stunting. Tingkat pendapatan yang tinggi mempengaruhi kualitas dan daya beli bahan pangan dalam keluarga (Mardhatillah , 2. Faktor penyebabkan terjadinya kasus stunting di sebutkan juga dalam penelitian Beal dkk . yang menyatakan bahwa anak yang lahir dari ibu yang pendek, perpendidikan rendah, berat badan lahir rendah dan hidup dalam kemiskinan merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting di Indonesia. (Beal , 2. Faktor stunting juga di sampaikan dalam Penelitian Adri, dkk. yang mengungkapkan bahwa pengolahan makanan dapat mempengaruhi nilai gizi Anak-anak yang mengonsumsi makanan yang diproses dengan tidak benar 2,45 kali lebih mungkin mengalami stunting dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi makanan yang diproses dengan benar mengonsumsi bahan pangan yang kaya protein seperti telur dengan cara pengolahan yang benar (Adri dkk. , 2. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga menjadi faktor resiko tertinggi terjadinya stunting, infeksi penyakit menular adalah salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan anak, kehadiran penyakit menular akan memperburuk keadaan asupan makanan yang tidak mencukupi dan hubungan antara penyakit menular dan pemenuhan gizi dari makanan tidak dapat terpisahkan karena apabila seorang anak kekurangan gizi mereka akan rentang terserang penyakit menular (Sulaiman dkk. , 2. Memahami gejala stunting sangat penting, karena gejala ini mencakup perkembangan otak yang tidak optimal pada anak, yang menyebabkan berkurangnya kemampuan kognitif, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme (Daracantika, 2. Selain itu, stunting juga meningkatkan risiko anak menjadi lebih mudah sakit dan kurang produktif saat Risiko ini semakin besar jika ibu mengalami kekurangan gizi, karena kondisi tersebut dapat menghambat perkembangan optimal bayi dan mempengaruhi pertumbuhan organ-organ penting (Rahmadhita, 2. Upaya pencegahan stunting UPT Puskesmas Rappang Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang, memperkenalkan sebuah program inovasi baru yakni Botting Paru (Bersama calon pengantin terhindar dari stunting tanpa rag. , program ini mulai di laksanakan pada tahun 2021. Program ini berupa kegiatan penyuluhan dan edukasi serta screening kesehatan khususnya gizi kepada seluruh wanita yang akan menikah . alon penganti. yang bertujuan untuk menurunkan angka stunting di Kecamatan Panca Rijang. Kabupaten Sidenreng Rappang. Hal ini mendesak karena mengingat cakupan pelayanan catin di Puskesmas Rappang tahun 2021 menunjukkan dari 374 catin yang terdaftar di KUA Panca Rijang hanya 63 yang datang memeriksakan diri ke puskesmas. Dari 63 catin tersebut yang mengalami anemia sebanyak 18 orang dimana hal ini dapat menambah angka kejadian ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di wilayah kerja UPT Puskesmas Rappang . -PPGBM dan pengelola KIA Puskesmas Rappang dalam Ridwan 2. Ibu hamil yang mengalami KEK mengalami gangguan kesehatan yang memengaruhi baik dirinya maupun bayinya. KEK merujuk pada kekurangan jangka panjang zat gizi makro, terutama protein dan energi, yang meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan berkontribusi pada masalah stunting pada anak di bawah lima tahun (Ismawati dkk. , 2. Pada penelitian ini penulis meneliti efektivitas program Botting Paru UPT Puskesmas Rappang sebagai upaya pencegahan stunting di Kecamatan Panca Rijang. Kabupaten Sidenreng Rappang. Metode Penelitian ini bersifat kuantitatif, memberikan informasi yang lebih terukur karena ketergantungannya pada data yang memungkinkan pengukuran yang tepat (Hardani dkk. , 2. Adapun metode yang digunakan adalah metode Cross-sectional studi atau penelitian potong lintang yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis data dari populasi atau sampel pada satu titik waktu tertentu. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan meliputi penyebaran kuesioner, dokumentasi dan studi literatur. Pengolahan data dilakukan melalui empat langkah yaitu, editing, cooding, entry data, dan tabulasi. Adapun Teknik analisis data yang digunaka untuk menguji hipotesis adalah Uji ChiSquare, juga disebut sebagai chi-kuadrat, adalah jenis uji komparatif non-parametrik yang digunakan untuk menganalisis dua variabel dengan skala nominal, analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan indikator pengukuran efektivitas program terhadap upaya pencegahan stunting. Hasil dan Pembahasan Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Mei tahun 2024, yang dilaksanakan di Puskesmas Rappang. Kabupaten Sidenreng Rappang. Puskesmas Rappang merupakan unit pelaksana pembangunan kesehatan di Kecamatan Panca Rijang yang luasnya A 48 kmA dan terletak 10 km sebelah utara Pangkajene, ibu kota Kabupaten Sidenreng Rappang. Puskesmas Rappang merupakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di Kecamatan Pancarijang. Kabupaten Sidenreng Rappang. Berdasarkan data dari Puskesmas Rappang. Karakteristik Responden Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, data demografi responden dikumpulkan dan dijelaskan pada tabel di bawah ini. Data terdiri dari 36 responden mengenai : Usia, dan Pekerjaan. Tabel 1. Karakteristik Responden berdasarkan usia dan pekerjaan Karakteristik Usia 20- 22 tahun 11,1% 23- 25 tahun 41,6% 26- 28 tahun 29- 31 tahun 22,2% Pekerjaan Guru 8,3% ASN 2,8% 2,8% Mahasiswa 5,5% Dosen 2,8% Honorer Asisten apoteker 2,8% Penari dan MUA 2,8% IRT 63,8% Perangkat desa 2,8% Sumber : Data primer, 2024 Berdasarkan tabel di atas, diketahui karakteristik responden menurut usia dan Dari tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa responden yang berusia antara 23 hingga 25 tahun merupakan kelompok terbanyak, yakni sebesar 41,6%. Usia 26 hingga 28 tahun merupakan kelompok kedua terbanyak dengan 25%, diikuti oleh kelompok usia 29 hingga 31 tahun . ,2%) dan 20 hingga 22 tahun . ,1%). Adapun Berdasarkan pekerjaan, mayoritas responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan persentase 63,8%. Kelompok pekerjaan lainnya termasuk guru . ,3%), mahasiswa . ,5%), honorer . ,5%), dan pekerjaan lainnya seperti ASN, wiraswasta, dosen, asisten apoteker, penari dan MUA, serta perangkat desa yang masing-masing memiliki persentase 2,8% dari keseluruhan total responden. Efektivitas Program Botting Paru UPT Puskesmas Rappang sebagai upaya pencegahan Stunnting. Analisis bivariat dilakukan untuk menilai hubungan antara dua variabel penelitian. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi alfa () sebesar 0,05. Hasil dari analisis bivariat antara variabel indikator efektivitas program dengan upaya pencegahan stunting adalah sebagai berikut. Tabel 2. Hasil Analisis Hubungan Indikator efektivitas program dengan upaua pecegahan stunting Indikator Ketepatan Keberhasilan Tujuan Keberhasilan Sosialisasi Pemantauan Program Efektif Tepat Tidak Tepat Berhasil Tidak Berhasil Berhasil Tidak Berhasil Terlaksana Tidak Efektif 4 80% Total Value 97,2% 0,139 0,0% 2,8% 94,4% 0,0% 5,6% 88,9% 0,0% 11,1% 61,3% 55,6% 0,016 0,000 0,108 Tidak 12 38,7% 4 80% 44,4% Terlaksana Sumber : Data Primer, 2024 Berdasarkan Tabel 10 di atas, dapat di ketahui bahwa indikator ketepatan sasaran dan indikator pemantauan program tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap upaya pencegahan stunting di tandai dengan hasil analisis data yang menunjukkan nilai P value pada kedua indikator tersebut berada di bawah 0,05 sedangkan pada indikator sosialisasi program dan keberhasilan tujuan program memiliki hubungan yang signifikan dengan upaya pencegahan stunting krena nilai P-value berada di bawah 0,05. Penelitian yang sama dilakukan oleh Rahayu dkk, 2023. Dalam penelitiannya, program percepatan penurunan stunting di Puskesmas Cikalapa. Kecamatan Subang. Kabupaten Subang, ditemukan tidak efektif. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa meskipun dimensi Ketepatan Sasaran Program dan Sosialisasi Program sudah efektif, namun dimensi Pencapaian Tujuan Program belum efektif. Hal ini dikarenakan intervensi yang bersifat spesifik dan sensitif belum memenuhi target yang ditetapkan untuk tahun 2024. Selain itu. Dimensi Pemantauan Program tidak efektif karena kurangnya keselarasan dalam menilai kegiatan dan target strategi penurunan stunting, serta tidak adanya umpan balik, apresiasi, dan dukungan, terutama bagi pelaksana program di Puskesmas Cikalapa di Kabupaten Subang (Rahayu dkk. , 2. Adapun berdasarkan penelitian oleh Muthmainna & Widiyarta, 2023 dengan mengukur efektivitas program berdasarkan teori yang sama, hasil penelitiannya menunjukkan efektivitas program jago ceting (Jagoan Cegah Stuntin. dari segi ketepatan sasaran sudah berjalan efektif elaksanaan sosialisasi program kurang efektif, karena hanya dilakukan sekali dalam setahun, bertepatan dengan evaluasi program. Namun demikian, keberhasilan tujuan program telah sesuai dengan hasil yang diharapkan, yang dibuktikan dengan hasil yang positif. Pemantauan program Jago Ceting dilakukan melalui kegiatan evaluasi yang dilakukan setiap tahun pada bulan November di akhir tahun (Muthmainna & Widiyarta, 2. Ketepatan Sasaran program dalam upaya pencegahan stunting Ketepatan sasaran program mengacu pada sejauh mana penerima manfaat dari program intervensi percepatan penurunan stunting sesuai dengan target yang telah ditetapkan, yaitu masyarakat atau keluarga yang berisiko mengalami stunting di Kecamatan Panca Rijang. Program awal dalam percepatan penurunan stunting di Puskesmas Rappang di tujukan kepada Ibu rumah tangga di desa Bulo dan telah di anggap berhasil mengatasi masalah anemia pada ibu hamil yang menjadi salah satu faktor resiko kejadian stunting. Sehingga pada tahun 2021 dibentuklah kembali serangkaian kegiatan/ Program yang kemudian diberi nama Botting Paru (Bersama calon pengantin terhindar dari stunting tanpaa rag. yang sasarannya adalah pasangan usia subur atau tepatnya catin yang terdaftar di KUA (Ridwan, 2. Sesuai dengan arahan pemerintah, upaya UPT Puskesmas Rappang untuk mengatasi Stunting melalui pendampingan catin adalah sesuai dengan salah satu cakupan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI) meliputi kegiatan seperti memberikan dukungan kepada keluarga yang berisiko stunting, membimbing calon pengantin, dan memantau keluarga yang berisiko stunting. Berdasarkan hasil analisis data penelitian, mengenai indikator ketepatan sasaran, secara statistik nilai p-value adalah 0,139 yang mana P-Value > 0,05 yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara efektivitas program ketika sasarannya tepat atau tidak tepat, karena pada program ini sasaran hanya ditujukan kepada catin-catin. Hampir sama dengan penelitian yang dilakuakn oleh Muhammad Rafei dkk. pada indikator ketepatan sasaran, di anggap masih belum tepat karena pelaksanaan program yang hanya di hadiri oleh ibu-ibu (Rafei dkk. , 2. Adapun dalam penelitian wardhani dkk 2024, indikator efektivitas program mengenai ketepatan sasaran juga di anggap belum tepat sasaran karena belum mencerminkan keseluruhan anak yang mengidap kasus stunting kriteria inklusi. Hal tersebut menyebabkan adanya bias pada sampel yang di audit (Wardhani dkk. , 2. Dalam kesimpulannya, melibatkan semua golongan masyarakat sebagai sasaran dalam upaya pencegahan stunting adalah strategi yang sangat penting untuk meningkatkan efektivitas program. Pendekatan yang inklusif ini tidak hanya memastikan bahwa intervensi yang dilakukan tepat sasaran, tetapi juga membangun dukungan kolektif yang esensial untuk keberhasilan dan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Keberhasilan tujuan program dalam upaya pencegahan stunting Tujuan dari program ini adalah untuk mengevaluasi pemahaman responden mengenai maksud pelaksanaan program. Ini menunjukkan bahwa sosialisasi tentang tujuan program telah dilakukan dengan baik kepada masyarakat. Menurut Anis dkk. , sebuah program dianggap efektif jika dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. sebaliknya, jika tidak, maka program tersebut dianggap tidak efektif (Anis dkk. , 2. Tujuan dilaksanakanya program ini adalah sebagai upaya pencegahan stunting melalui pendampingan pada calon pengantin, dengan upaya peningkatan pemahaman catin dalam mencegah, juga meningkatkan kunjungan pemeriksaan kesehatan catin ke Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator keberhasilan tujuan telah efektiv dalam upaya pencegahan stunting dan berdasarkan hasil analisis data penelitian, mengenai indikator tujuan program, secara statistik nilai p-value adalah 0,016 yang mana P-Value < 0,05 yang berarti ada hubungan signifikan antara efektivitas upaya pencegahan stunting dengan keberhasilan tujuan program. Didukung dengan data dari sistem elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat . -PPGBM) UPT Puskesmas Rappang, kasus stunting pada tahun 2021 mencapai 132 kasus dan telah mengalami penuruna di tahun 2022 yaitu sejumlah 128 kasus di Kecamatan Panca Rijang (Ridwan, 2. Penelitian Ari Putra dan Fitri, 2021 mengenai efektivitas pencegahan stunting melalui program literasi gizi yang menerapkan pendekatan pendidikan keluarga dengan tujuan meningkatkan pengetahuan orang tua dalam mencegah stunting terbukti efektiv karena Aktivitas pendidikan orang tua dapat mencapai hasil maksimal jika pembelajaran dilakukan secara sistematis dan sesuai sasaran antara input dan output, sehingga hasil akhirnya dapat diukur dan dievaluasi (Putra & Fitri, 2. Sedangkan dalam penelitian Husen dkk. 2022, mengenai efektivitsa Sosialisasi dan pemberian PMT sebagai upaya perbaikan gizi guna menurunkan angka resiko stunting, berdasarkan hasil surveinya tidak terdapat kasus stunting di Desan Kembangsri Kec. Ngoro pada tahun 2022 dikarenakan hampir seluruh ibu yang memiliki anak memiliki pengetahuan yang baik, sudah memahami pentingnya gizi yang tepat untuk anak. PMT, dan keterlibatan dalam semua kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan bayi (Husen dkk. , 2. Sosialisasi program terhadap upaya pencegahan stunting Sosialisasi program mengacu pada kemampuan penyelenggara untuk mengkomunikasikan informasi tentang pelaksanaan program secara efektif, untuk memastikan bahwa masyarakat memahami program tersebut. Islamy, dkk . menyatakan bahwa dalam berbagai situasi, pelaksanaan suatu program sering kali memerlukan dukungan dan koordinasi dengan lembaga lain untuk mencapai hasil yang diinginkan (Islamy dkk. , 2. , pelaksanaan program pendampingan calon pengantin . ini diintegrasikan dengan lintas sektor dalam hal ini KUA Kecamatan Panca Rijang, dimana KUA turut membantu sosialisasi mengenai kegiatan Botting paru kepada masyarakat terutama kepada para catin yang mendaftar akan menikah agar mengikuti rangkaian program Botting Paru (Ridwan, 2. Berdasarkan hasil penelitian, sosialisasi program memberikan hasil positif terhadap uapaya pencegahan stunting yang dilakukan UPT Puskesmas Rappang. Secara statistik nilai p-value adalah 0,000 yang mana P-Value < 0,05 yang berarti ada hubungan signifikan antara efektivitas keberhasilan sosialisasi program dengan upaya pencegahan Penelitian Dowling & Barry, 2020, menjelaskan program yang disosialisasikan secara efektif cenderung lebih berhasil dalam mencapai tujuannya karena peserta lebih Misalnya, dalam program kesehatan atau pendidikan, jika sosialisasi dilakukan dengan jelas dan menyeluruh, para peserta akan lebih mungkin untuk mengikuti langkah-langkah yang diperlukan, yang secara langsung meningkatkan efektivitas keseluruhan program. Sosialisasi yang buruk, di sisi lain, dapat menyebabkan miskomunikasi, partisipasi yang rendah, dan pada akhirnya mengurangi dampak positif dari program tersebut. memahami apa yang diharapkan dari mereka dan merasa lebih terlibat (Dowling & Barry, 2. Mengenai sosialisasi program, berdasarkan penelitian Muthmainna dkk. 2023, hasill penelitiannya menunjukkan sosialisasi program jago ceting belum berjalan efektiv karena hanya dilakukan sekali setiap akhir tahun pada bulan November bersamaan dengan pelaksanaan evaluasi program, selain itu partisipasi masyarakt juga kurang dilibatkan dalam program ini (Muthmainna & Widiyarta, 2. Pemantauan program terhadap upaya pencegahan stunting Pemantauan program adalah kegiatan yang dilakukan selama atau setelah pelaksanaan program untuk memastikan perhatian kepada peserta program. Berdasarkan dimensi pemantauan program, hal ini mencakup evaluasi keselarasan kegiatan, keluaran, dan target dalam strategi percepatan penurunan stunting. Pemantauan dan evalusi UPT Puskesmas Rappang dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan mengadakan rapat kordinasi yang dilakukan oleh tim program Botting Paru tingkat Puskesmas dan KUA. Menurut francis macharia dan Omondi Bowa keberhasilan pemantauan sangat memengaruhi efektivitas pelaksanaan program. Monitoring yang efektif memastikan bahwa program berjalan sesuai rencana, memungkinkan identifikasi masalah lebih dini dan penyesuaian tepat waktu, sehingga meningkatkan kualitas dan hasil program (Francis Macharia & Bowa, 2. Berdasarkan hasil penelitian, pemantauan program menggambarkan hasil yang kurang efektif terhadap uapaya pencegahan stunting yang dilakukan UPT Puskesmas Rappang. Secara statistik nilai p-value adalah 0,108 yang mana P-Value > 0,05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara efektivitas pemantauan program dengan upaya pencegahan stunting. PT Puskesmas Rappang harus memperhatikan pemantauan programnya agar dapat berjalan lebih efektif. Pemantauan yang sistematis dan berkelanjutan memastikan bahwa setiap tahapan program berjalan sesuai rencana, memungkinkan identifikasi masalah sejak dini, serta memberikan ruang untuk penyesuaian yang diperlukan, sehingga meningkatkan hasil dan dampak positif Seperti dalam penelitian yang dilakukan Sasmita 2021, dengan judul pencegahan masalah stunting balita dengan program MayangAeWati di Mayangrejo, menunjukkan bahwa pemantauan yang konsisten dan sosialisasi berbasis komunitas dapat menurunkan angka stunting secara signifikan (Sasmita, 2. Simpulan Berdasarkan analisis menggunakan empat indikator efektivitas program oleh Budiani . , yaitu ketepatan sasaran, tujuan program, sosialisasi program, dan pemantauan program, diperoleh hasil : Pertama, ketepatan sasaran program dalam upaya pencegahan stunting tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan upaya pencegahan stunting. Meskipun mayoritas responden menilai bahwa program sudah tepat sasaran, hasil statistik menunjukkan bahwa ketepatan sasaran ini tidak berdampak signifikan terhadap efektivitas program dalam upaya pencegahan stunting. Kedua, keberhasilan tujuan program memiliki hubungan yang signifikan dengan efektivitas upaya pencegahan stunting. Hal ini mengindikasikan bahwa pencapaian tujuan program yang jelas dan berhasil secara langsung berkontribusi terhadap keberhasilan program dalam mencegah stunting. Ketiga, keberhasilan Sosialisasi juga memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan upaya pencegahan. Sosialisasi yang berhasil terbukti menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas program pencegahan stunting, menunjukkan bahwa upaya komunikasi dan penyebaran informasi yang baik sangat berperan dalam keberhasilan program. Terakhir, pemantauan program tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan upaya pencegahan stunting. Meskipun pemantauan merupakan bagian penting dari pelaksanaan program, hasil analisis menunjukkan bahwa faktor ini tidak secara langsung mempengaruhi efektivitas dalam pencegahan stunting. Referensi