Jurnal Keislaman p-ISSN : 2089-7413 and e-ISSN : 2722-7804 Published by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya Jl. Kalirungkut Mejoyo I No. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur 60293 Email: jurnalkeislaman@staitaruna. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Islam Ihyaul Kholid1 Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya. Jawa Timur. Indonesia1 ihyaulkholid@gmail. Akhmad Fadli2 Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya. Jawa Timur. Indonesia2 fafifa05@gmail. https://doi. org/10. 54298/jk. Abstract Educational philosophy plays a crucial role in addressing complex and multidimensional educational Educational problems such as moral degradation, identity crises, and irrelevant learning systems require in-depth consideration of the values, goals, and direction of education. Educational philosophy serves as a normative and critical foundation for building a humanistic and transformative education system. This paper aims to explore the contribution of educational philosophy to analyzing and providing solutions to educational problems in Indonesia. The method used is a literature review with a reflective qualitative The results of this study indicate that the application of educational philosophy can strengthen the direction, values, and meaning of Islamic education policies and practices. Keywords: philosophy of education, educational issues, values, transformation. Islamic education Abstrak Filsafat pendidikan berperan penting dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan yang bersifat kompleks dan multidimensional. Berbagai masalah pendidikan seperti degradasi moral, krisis identitas, dan sistem pembelajaran yang tidak relevan menuntut pemikiran mendalam tentang nilai, tujuan, dan arah pendidikan. Filsafat pendidikan hadir sebagai landasan normatif dan kritis dalam membangun sistem pendidikan yang humanis dan transformatif. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontribusi filsafat pendidikan dalam menganalisis dan memberikan solusi terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan studi pustaka dengan menggunakan pendekatan kualitatif reflektif. Kajian ini berhasil menunjukkan bahwa penerapan filsafat pendidikan dapat memperkuat arah, nilai, dan makna dalam kebijakan serta praktik Pendidikan islam. Kata kunci: filsafat pendidikan, masalah pendidikan, nilai, transformasi, pendidikan islam Pendahuluan Kegiatan pendidikan tidak hanya sebatas proses transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada anak didik saja, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan yang harus ditanamkan. Tetapi demikian, sistem pendidikan di Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Islam Ihyaul Kholid. Akhmad Fadli Indonesia kerap menghadapi suatu tantangan besar, seperti kesenjangan mutu, kurikulum yang tidak relevan, keadilan hak dan kewajiban antara pendidik dan peserta didik serta lemahnya pendidikan karakter pada anak didik. Permasalahan tersebut tidak dapat diatasi hanya dengan pendekatan administratif dan teknis semata. 1 Dibutuhkan pendekatan filosofis yang mampu menggali akar persoalan serta memberikan arah dan dasar yang kuat bagi transformasi pendidikan. Pendidikan Islam seperti pesantren dan madrasah masih sering dianggap oleh Masyarakat Indonesia sebagai pilihan kedua setelah anak tidak masuk sekolah formal terlebih sekolah negeri. 2 Dengan ini membuat Lembaga Pendidikan Islam yang berbasis pesantren dan madrasah kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas dan professional. Kekurangan SDM tenaga pendidik ini menjadikan biaya operasional pendidikan di lembaga pendidikan islam sangatlah kurang karena peminat anak masuk ke kelembaga islam mengalami Terbaru ini lagi viral tragedi guru madin di daerah Demak yang melakukan sikap kurang baik maaf AumenamparAy muka anak didik. Hal ini menuai pro kontra oleh lapisan Masyarakat Indonesia. Ada yang manyalahkan pendidik karena dinilai menggunakan kekerasan fisik kepada anak didik, hal ini tidak sesuai dengan aturan undang-uang di Indonesia dalam kegiatan Pendidikan. Ada juga yang membenarkan pendidik dengan berbagai alasan seperti pengabdian besar yang diberikan tidak sebanding dengan yang didapatkan pendidik, adab anak zaman sekarang terhadap anak didik, kekurangan honor pendidik, sehingga banya yang membela pendidik dengan memberikan dukungan dan hadiah baik berupa uang Ganti 25juta hingga hadiah 3 paket umroh dan lain-lain. Filsafat pendidikan memiliki peranan sentral dalam proses ini. Ia tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk berpikir kritis dan reflektif, tetapi juga sebagai fondasi dalam menyusun tujuan, nilai, dan metode pendidikan. 3 Karena itu, kajian mengenai peran filsafat pendidikan dalam pemecahan masalah pendidikan sangatlah penting. Metode Penelitian Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan . ibrary researc. 4 Tujuannya adalah untuk menganalisis dan mensintesis informasi dari Indrawati. AuSistem Pendidikan Di Indonesia Antara Keinginan Dan Realita,Ay Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Alauddin Makassar 2, no. : 233Ae45. Rufaidah Salam. AuPendidikan Di Pesantren Dan Madrasah,Ay Jurnal Unimus 1, no. : 9, https://doi. org/10. 26618/iqra. Rianti Rahmadania et al. AuKajian Teoritis Tentang Filsafat Pendidikan Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran,Ay Syntax Idea 7, no. : 691Ae99, https://doi. org/10. 46799/syntaxidea. Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak. AuEksploitasi Seksual Komersial Anak Di Indonesia,Ay Medan. Restu Printing Indonesia. Hal. 33Ae54, https://doi. org/10. 21831/hum. Jurnal Keislaman. Volume 08. Number 02. September 2025 berbagai sumber literatur guna memahami peran filsafat pendidikan dalam mengatasi problematika pendidikan Islam. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang bersumber dari literatur. 5 Sumber-sumber data utama meliputi: Buku: Buku-buku yang relevan dengan filsafat pendidikan, pendidikan Islam, dan problematika Jurnal Ilmiah: Artikel dari jurnal nasional dan internasional yang berfokus pada topik terkait. Dokumen dan Laporan Penelitian: Tesis, disertasi, dan laporan penelitian yang membahas isu-isu pendidikan Islam dan filsafatnya. Pemilihan sumber-sumber ini dilakukan dengan cermat untuk memastikan kredibilitas dan relevansinya. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini dilakukan secara langsung di tempat penelitian pada hari Kamis 31 Juli 2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode penelaahan, analisis buku, jurnal, catatan, dokumen, database online dan literarur lainnya. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi yang sistematis, dengan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi dan Penelusuran Literatur: Peneliti melakukan pencarian ekstensif di berbagai database akademik . eperti Google Scholar. DOAJ. Scopu. menggunakan kata kunci seperti: "filsafat pendidikan", "problematika pendidikan Islam", "pendidikan Islam kontemporer", "epistemologi pendidikan Islam". Seleksi Sumber: Sumber-sumber yang ditemukan diseleksi berdasarkan relevansi topik, kredibilitas penulis, dan tahun publikasi. Peneliti memprioritaskan literatur yang diterbitkan dalam dekade terakhir untuk memastikan informasi yang mutakhir. Klasifikasi Data: Data yang telah terkumpul diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, seperti: Konsep dasar filsafat pendidikan. Definisi dan jenis-jenis problematika pendidikan Islam. Perspektif tokoh-tokoh filsafat pendidikan Islam terhadap masalah-masalah tersebut. Solusi yang ditawarkan dari sudut pandang Pencatatan dan Ringkasan: Informasi penting dari setiap sumber dicatat, diringkas, dan dibuat parafrasanya. Hal ini dilakukan untuk menghindari plagiarisme dan memudahkan proses analisis. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yang terdiri atas tiga Sofwatillah et al. AuTeknik Analisis Data Kuantitatif Dan Kualitatif Dalam Penelitian Ilmiah,Ay Journal Genta Mulia 15, no. : 79Ae91. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Islam Ihyaul Kholid. Akhmad Fadli data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau Analisis data dilakukan secara deskriptif dan interpretatif melalui tahapan berikut: Reduksi Data: Peneliti menyeleksi dan memfokuskan data yang relevan dengan pertanyaan Data yang tidak diperlukan disisihkan untuk menjaga konsistensi dan alur Penyajian Data: Data yang sudah direduksi disajikan dalam bentuk narasi logis yang mengalir, menghubungkan antara konsep-konsep filsafat dengan problematika yang ada. Analisis Tematik dan Interpretasi. Analisis Tematik: Peneliti mengidentifikasi tema-tema utama atau pola-pola yang muncul dari literatur. Misalnya, bagaimana filsafat pendidikan dapat mengatasi isu dualisme ilmu, krisis moral, atau pendekatan pembelajaran yang kurang relevan. Interpretasi: Peneliti memberikan interpretasi terhadap data yang ditemukan. Ini bukan sekadar deskripsi, tetapi juga pemberian makna dan pemahaman yang lebih dalam, yang pada akhirnya akan menjadi temuan penelitian. Penarikan Kesimpulan: Berdasarkan analisis yang mendalam, peneliti menarik kesimpulan mengenai peran filsafat pendidikan dalam memberikan solusi terhadap problematika pendidikan Islam. Kesimpulan ini didukung oleh bukti-bukti kuat dari literatur yang telah Pembahasan Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan adalah cabang dari filsafat yang membahas tentang hakikat, tujuan, proses, dan nilai dalam pendidikan. 7 Ia mengkaji pertanyaan fundamental seperti: Mengapa kita mendidik? Apa tujuan akhir pendidikan? Nilai apa yang harus ditanamkan dalam pendidikan? Menurut John Dewey, filsafat dan pendidikan saling melengkapi. filsafat memberikan arah, sedangkan pendidikan melaksanakan arah tersebut dalam praktik. Filsafat pendidikan melibatkan dimensi ontologi . akikat realitas pendidika. , epistemologi . umber dan validitas pengetahuan dalam pendidika. , dan aksiologi . ilai dan etika dalam pendidika. Masalah-Masalah dalam Pendidikan Beberapa permasalahan pendidikan yang terjadi di Indonesia, antara lain: Krisis Nilai dan Moral Peserta Didik Akhmad Fadli. AuPeran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah Pertama Dewantara Surabaya Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah Pertama Dewantara Surabaya-Akhmad Fadli Berkualitas . Dan Berakhlak Mulia . Sebagai Pendidik . Guru Memiliki Kontribusi Besar DalamAy 03, no. : 8Ae16. luthfiyah dan lhobir. AuFilsafat. Pendidikan. Filsafat Pendidikan,Ay Filsafat Pendidikan. Kajian Teoritis Tentang Konsep. Aliran. Dan Pengaruhnya Dalam Ilmu Pendidikan 3 . : 95Ae108. Jurnal Keislaman. Volume 08. Number 02. September 2025 Salah satu persoalan utama dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah krisis nilai dan moral di kalangan peserta didik. Hal ini tercermin dari meningkatnya kasuskasus seperti bullying, kekerasan di sekolah, ketidakjujuran dalam ujian, kurangnya rasa hormat kepada guru, hingga lunturnya semangat gotong royong dan toleransi antar Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup berhasil menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan etika sosial kepada generasi muda. Krisis ini bukan hanya akibat dari kegagalan individu semata, melainkan juga mencerminkan adanya kelemahan sistemik dalam pendekatan pendidikan yang terlalu menekankan aspek kognitif dan akademik, serta mengabaikan dimensi afektif dan Pendidikan yang hanya fokus pada capaian nilai dan kompetisi, tanpa menginternalisasi nilai-nilai moral, cenderung menghasilkan pribadi-pribadi yang cerdas secara intelektual tetapi miskin karakter. Dalam konteks ini, filsafat pendidikan berperan penting sebagai fondasi dalam merumuskan kembali orientasi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk hati dan perilaku. Aksiologi . eori tentang nila. dalam filsafat pendidikan memberikan panduan tentang nilai-nilai fundamental yang harus ditanamkan dalam proses pembelajaran, seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, empati, dan keadilan10. Melalui pendekatan filosofis, guru dan institusi pendidikan dapat lebih sadar terhadap pentingnya pembinaan moral yang terintegrasi dalam setiap aspek pengajaran. Ini bisa dilakukan melalui keteladanan, dialog nilai dalam kelas, serta penciptaan budaya sekolah yang berbasis etika dan humanisme. Ketimpangan Akses dan Kualitas Pendidikan Ketimpangan akses dan kualitas pendidikan merupakan salah satu tantangan besar yang dihadapi sistem pendidikan Indonesia. Ketimpangan ini mencakup perbedaan fasilitas, tenaga pengajar, kualitas kurikulum, dan kesempatan belajar antara daerah perkotaan dan pedesaan, antara wilayah barat dan timur Indonesia, bahkan antara kelompok ekonomi atas dan bawah. Secara nyata, banyak sekolah di daerah terpencil yang kekurangan tenaga pendidik berkualitas, minim fasilitas belajar seperti perpustakaan dan laboratorium, serta memiliki keterbatasan dalam hal teknologi dan infrastruktur dasar11. Akibatnya, peserta didik di daerah tertinggal mengalami keterbatasan dalam mengembangkan potensi dan kompetensi mereka secara optimal. Hal ini berkontribusi terhadap rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) di wilayah-wilayah tertentu. Arya Wiranda et al. AuNilai Kemanusiaan Dalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan : Implementasi Siswa Dalam Pembelajaran,Ay INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research Volume 4, no. 17244Ae54. Isti Faiyah and Mukh Nursikin. AuKonsep Dasar Pendekatan Dan Strategi Pendidikan Nilai,Ay Afeksi: Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan 6, no. : 977Ae85, https://doi. org/10. 59698/afeksi. Zuhairini, et al. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1997. Tilaar. Perubahan Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Grasindo, 2002 Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Islam Ihyaul Kholid. Akhmad Fadli Ketimpangan ini bukan hanya permasalahan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis keadilan pendidikan. Di sinilah peranan filsafat pendidikan, khususnya dalam cabang aksiologi dan filsafat keadilan, menjadi penting. Filsafat menekankan bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia tanpa diskriminasi apa pun. Prinsip egalitarian dalam pemikiran filsafat pendidikan menggarisbawahi bahwa sistem pendidikan harus menjamin keadilan distribusi sumber daya, kesempatan, dan perlakuan yang setara bagi seluruh warga negara12. Lebih jauh, pendekatan filosofis membantu pemerintah dan pembuat kebijakan untuk menyusun strategi yang tidak hanya teknokratik, tetapi juga berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Hal ini termasuk perencanaan afirmatif untuk wilayah tertinggal, program beasiswa bagi siswa kurang mampu, serta pelatihan intensif bagi guru-guru di daerah yang tertinggal. Tanpa pendekatan filosofis ini, kebijakan pendidikan berisiko bersifat parsial dan Sebaliknya, filsafat pendidikan menyediakan kerangka etis dan normatif untuk memastikan bahwa setiap anak, di mana pun mereka berada, berhak atas pendidikan yang berkualitas dan bermakna. Kurikulum yang Kaku dan Tidak Kontekstual Kurikulum merupakan inti dari proses pendidikan, karena melalui kurikulum ditentukan apa yang harus dipelajari, bagaimana cara mengajarkannya, dan nilai-nilai apa yang hendak dibentuk. 13 Namun dalam praktiknya, salah satu problematika yang mencuat dalam sistem pendidikan di Indonesia adalah kurikulum yang kaku dan tidak Kekakuan kurikulum tercermin dalam struktur dan isi yang terlalu padat, teoritis, dan seragam, tanpa mempertimbangkan keragaman kondisi lokal, kebutuhan peserta didik, serta perubahan sosial dan teknologi yang terjadi sangat cepat. Sering kali kurikulum menekankan hafalan dan penguasaan materi semata, tanpa memberi ruang bagi pengembangan kreativitas, pemikiran kritis, dan pemecahan masalah nyata dalam kehidupan peserta didik14. Kurikulum yang tidak kontekstual juga menyebabkan ketimpangan antara dunia sekolah dan dunia nyata. Peserta didik menjadi terasing dari realitas sosialnya, karena apa yang mereka pelajari tidak relevan dengan kebutuhan lokal maupun tantangan global. Dalam jangka panjang, hal ini berdampak pada rendahnya kemampuan adaptif lulusan terhadap dinamika zaman. Dalam konteks inilah, filsafat pendidikan memiliki kontribusi penting. Filsafat, melalui pendekatan epistemologis dan aksiologis, mempertanyakan: pengetahuan seperti apa yang Nata. Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 2001. Karima Nabila Fajri. AuProses Pengembangan Kurikulum,Ay Islamika 1, no. : 35Ae48, https://doi. org/10. 36088/islamika. Sutadji. Eddy. "Pembaruan Pendidikan dalam Perspektif Filsafat. " Jurnal Filsafat. Vol. No. 2, 2014 Jurnal Keislaman. Volume 08. Number 02. September 2025 penting untuk diajarkan? dan untuk siapa pengetahuan itu disusun?. 15 Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong perumusan kurikulum yang lebih reflektif, terbuka, dan adaptif terhadap perubahan serta kebutuhan sosial masyarakat. Para tokoh seperti Paulo Freire menekankan pentingnya kurikulum yang bersifat dialogis dan transformatif, yakni kurikulum yang dikembangkan melalui keterlibatan peserta didik dan sesuai dengan realitas hidup mereka16. Dengan kata lain, kurikulum seharusnya bukan dokumen yang diturunkan dari atas . op-dow. , melainkan hasil refleksi dan interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Lebih lanjut, penerapan filsafat pendidikan mendorong penyusunan kurikulum berbasis nilai, yang tidak hanya menargetkan output akademik, tetapi juga pembangunan karakter dan kecakapan hidup. Kurikulum seperti ini memungkinkan peserta didik untuk belajar secara lebih bermakna, kontekstual, dan berkesinambungan. Metode Pembelajaran yang Monoton dan Tidak Partisipatif Metode pembelajaran merupakan instrumen penting dalam menjembatani kurikulum dan proses belajar peserta didik. 17 Namun, dalam praktiknya, banyak lembaga pendidikan masih menerapkan metode pembelajaran yang monoton, satu arah, dan minim partisipasi aktif siswa. Guru menjadi satu-satunya pusat informasi, sementara peserta didik hanya berperan sebagai penerima pasif . assive receiver. Akibatnya, proses belajar menjadi tidak menarik, kering secara makna, dan tidak memberi ruang bagi pengembangan potensi diri peserta didik. Pendekatan seperti ini bertentangan dengan prinsip dasar pendidikan yang humanistik dan berpusat pada peserta didik. Dalam pandangan filsafat pendidikan, terutama pemikiran John Dewey dan Paulo Freire, pembelajaran seharusnya menjadi proses dialogis dan kolaboratif, di mana peserta didik diberi ruang untuk berpikir, bertanya, berdiskusi, dan bereksperimen dengan lingkungannya. Metode yang monoton juga berdampak pada rendahnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan problem solving siswa. Pendidikan tidak sekadar memindahkan pengetahuan, tetapi membentuk kepribadian dan kemampuan hidup secara aktif dalam masyarakat. Tanpa partisipasi aktif, nilai-nilai tersebut sulit tertanam. Dalam perspektif filsafat pendidikan, pendekatan pembelajaran yang kaku mencerminkan pandangan positivistik yang menganggap peserta didik sebagai objek. Sebaliknya, filsafat progresif dan eksistensialis menekankan bahwa setiap individu adalah Nata. Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 2001. Freire. Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder Maria Ulfa and Saifuddin. AuTerampil Memilih Dan Menggunakan Metode Pembelajaran,Ay Suhuf 30 . 35Ae56, https://r. com/_ylt=Awr1QbhxdwpkzDIAWfDLQwx. _ylu=Y29sbwNzMEcG9zAzEEdnRpZA MEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1678436337/RO=10/RU=https://journals. id/index. php/s uhuf/article/download/6721/4066/RK=2/RS=HZL9IIqfERa8J__i5dlmiKx0ieg-. Sari Wahyuni Siregar et al. AuHAKIKAT PENDIDIKAN : MENCARI MAKNA BELAJAR DALAMAy 3, no. A Noven Yovinda. AuKonsep Filsafat Pendidikan Dan Kaitannya Dengan Konsep Pendidikan Di Indonesia,Ay Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2, no. : 844Ae49, https://doi. org/10. 5281/zenodo. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Islam Ihyaul Kholid. Akhmad Fadli subjek yang memiliki kebebasan, potensi, dan tanggung jawab untuk berkembang secara Oleh karena itu, perubahan metode pembelajaran menjadi lebih partisipatif dan reflektif sangat penting. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu, tetapi sebagai fasilitator yang membimbing dan mendorong keterlibatan aktif siswa. Model pembelajaran seperti problem-based learning, project-based learning, atau pendekatan konstruktivistik sejalan dengan prinsip filsafat pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajarnya sendiri. Filsafat pendidikan mendorong transformasi pedagogis yang tidak hanya menyasar hasil akademik, tetapi juga kebermaknaan proses dan nilai-nilai kemanusiaan di Dengan demikian, metode pembelajaran yang reflektif, partisipatif, dan kontekstual adalah wujud konkret dari penerapan nilai-nilai filsafat dalam praktik Komersialisasi Pendidikan Islam Salah satu tantangan serius yang kini dihadapi oleh dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam, adalah komersialisasi. Komersialisasi pendidikan merujuk pada kecenderungan menjadikan pendidikan sebagai komoditas ekonomi, bukan lagi sebagai hak dasar atau proses pemanusiaan. Dalam konteks pendidikan Islam, hal ini terlihat dari menjamurnya lembaga pendidikan berbasis Islam yang lebih menekankan aspek bisnisAi biaya masuk yang tinggi, orientasi profit, dan layanan eksklusifAidibandingkan dengan misi dakwah, keadilan, dan pemberdayaan umat21. Pendidikan Islam seharusnya dilandasi oleh nilai-nilai tauhid, keadilan, dan Namun dalam praktiknya, banyak lembaga yang hanya menjual label AuIslamAy sebagai strategi pasar. Fenomena ini tidak hanya menciptakan kesenjangan sosial antara yang mampu dan tidak mampu, tetapi juga mereduksi pendidikan Islam menjadi simbol tanpa substansi nilai. Dari perspektif filsafat pendidikan Islam, pendidikan adalah jalan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan dan membentuk akhlak mulia22. Pendidikan seharusnya inklusif, terbuka bagi semua lapisan masyarakat, dan mendorong transformasi sosial. Ketika pendidikan dikomersialisasi, maka prinsip keadilan sosial dan ukhuwah Islamiyah dikorbankan demi keuntungan finansial. Komersialisasi juga berimplikasi pada penyusunan kurikulum dan budaya sekolah. Nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan pelayanan kepada masyarakat digantikan oleh budaya persaingan, citra merek . , dan status sosial. Hal ini menciptakan distorsi tujuan pendidikan Islam, dari tazkiyah al-nafs . enyucian jiw. menjadi sekadar pencapaian formal dan gengsi kelembagaan. Freire. Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2012. Zuhairini, et al. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2015. Jurnal Keislaman. Volume 08. Number 02. September 2025 Filsafat pendidikan menolak reduksi makna pendidikan menjadi semata transaksi 23 Dalam pandangan al-Ghazali, pendidikan adalah proses membentuk manusia paripurna . nsan kami. melalui penggabungan ilmu dan amal24. Oleh karena itu, upaya melawan komersialisasi pendidikan Islam perlu didasarkan pada kesadaran filosofis tentang hakikat pendidikan sebagai amanah dan ibadah, bukan alat akumulasi modal. Solusi filosofis terhadap komersialisasi ini meliputi: Membangun paradigma pendidikan berbasis nilai spiritual dan sosial. Memperluas akses pendidikan Islam bagi masyarakat marginal. Mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang berorientasi pada rahmatan lil Aoalamin, bukan eksklusivitas sosial. Permasalahan tersebut menunjukkan adanya krisis orientasi dalam sistem pendidikan, di mana pendidikan cenderung kehilangan arah dan makna. Hal ini mengindikasikan perlunya refleksi filosofis dalam praktik pendidikan. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pemecahan Masalah Pendidikan Memberikan Dasar dan Tujuan yang Jelas Filsafat pendidikan menjawab pertanyaan tentang mengapa dan untuk siapa pendidikan dilakukan. 25 Dengan menjadikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sebagai dasar, pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang utuhAicerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Mendorong Proses Reflektif dan Kritis Penerapan filsafat dalam pendidikan mengajak para pelaku pendidikan untuk tidak menerima kebijakan secara dogmatis, tetapi merenungkan apakah kebijakan tersebut selaras dengan tujuan hakiki pendidikan. Misalnya, dalam konteks kurikulum yang padat, filsafat pendidikan mempertanyakan relevansi isi kurikulum dengan kebutuhan peserta Membangun Etika Pendidikan Filsafat pendidikan membantu menanamkan nilai-nilai etika seperti kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi dalam proses pembelajaran. 26 Hal ini penting dalam menjawab krisis moral yang sering kali terjadi di lingkungan pendidikan. Mendukung Inovasi dan Pembaruan Pendidikan Dengan berpikir filosofis, pendidikan tidak akan terjebak pada rutinitas birokratik. Sebaliknya, akan muncul kesadaran untuk terus memperbaharui sistem agar sesuai dengan perkembangan zaman. Kesimpulan Siregar et al. AuHAKIKAT PENDIDIKAN : MENCARI MAKNA BELAJAR DALAM. Ay Al-Ghazali. IhyaAo Ulumuddin. Beirut: Dar al-Fikr, 2005. Rahmadania et al. AuKajian Teoritis Tentang Filsafat Pendidikan Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran. Ay Yovinda. AuKonsep Filsafat Pendidikan Dan Kaitannya Dengan Konsep Pendidikan Di Indonesia. Ay Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Islam Ihyaul Kholid. Akhmad Fadli Filsafat pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam memecahkan berbagai persoalan pendidikan. Ia memberikan dasar normatif, kritis, dan reflektif dalam menentukan arah dan kebijakan pendidikan. Dengan mengintegrasikan filsafat ke dalam praktik pendidikan, maka pendidikan tidak hanya menjadi proses teknis, tetapi juga proses pembentukan manusia yang utuh dan bermakna. Penerapan filsafat pendidikan diharapkan mampu menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan zaman serta nilai-nilai luhur Oleh karena itu, para pendidik, pembuat kebijakan, dan semua pemangku kepentingan pendidikan perlu memiliki kesadaran filosofis dalam setiap langkahnya. Daftar Pustaka