J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 KREATIVITAS MUSIK DALAM IBADAH REMAJA DI GEREJA SIDANG JEMAAT ALLAH ANUGRAH NGAREANAK Musa. Yunatan Krisno Utomo. Feritrio Harmony Mahasiswa Prodi S1 Musik Gereja Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega: musamelawi@gmail. Dosen STT Kristus Alfa Omega: utomo@gmail. perotha@gmail. Abstrak GSJA Anugerah Ngareanak terdapat ibadah remaja yang diikuti 15-25 anak dan hanya diiringi oleh gitar akustik, tanpa adanya variasi musikal yang dapat menghidupkan ibadah. Hal tersebut menyebabkan kurangnya kesempatan bagi remaja-remaja untuk menikmati lagu-lagu dalam ibadah tersebut. Dari fenomena tersebut muncullah minat peneliti untuk menggali bentuk kreativitas yang ada dalam ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak . Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam metode kualitatif peneliti berperan penting sebagai instrumen. Untuk memperoleh data peneliti melakukan wawancara kepada beberapa narasumber yang berkaitan dengan persoalan penelitian. Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa musik iringan yang dikembangkan secara kreatif pada remaja mampu memberikan semangat dan antusias kepada remaja dalam ibadah. Selain itu ditemukan fakta, bahwa regenerasi pemain musik sangat dibutuhkan oleh setiap gereja pada zaman sekarang. Ibadah perlu dipersiapkan dengan baik melalui latihan, pelatihan dan mentoring, sehingga pengembangan kreativitas musik dalam ibadah remaja dapat Kata Kunci: musik, kreativitas, musik ibadah, ibadah remaja Abstract GSJA Anugrah Ngareanak has a youth service attended by 15-25 children and is only accompanied by an acoustic guitar, without any musical variations that can enliven the service. This causes a lack of opportunities for teenagers to enjoy the songs in the service. From this phenomenon, the researcher's interest arose to explore the form of creativity in youth worship at GSJA Anugrah Ngareanak. This study uses a qualitative research method. In the qualitative method, the researcher plays an important role as an instrument. To obtain data, the researcher conducted interviews with several sources related to the research problem. Based on the results of the research conducted, it was found that the accompanying music that was developed creatively in teenagers was able to provide enthusiasm and enthusiasm to teenagers in worship. In addition, it was found that the regeneration of musicians is very much needed by every church today. Worship needs to be well prepared through practice, training and mentoring, so that the development of musical creativity in youth worship can be maximized. Key Word: musical, creativity, worship music, youth worship PENDAHULUAN Kreativitas musik adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan lagu, instrument ataupun mengaransemen musik baru yang belum pernah diciptakan orang lain dan hasil lagu dan musiknya dapat dinikmati orang lain. 1 Kreativitas musik merujuk pada kemampuan seseorang untuk menciptakan karya musik baru, baik itu dalam bentuk lagu, aransemen musik, maupun penciptaan alat musik yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini melibatkan proses penggabungan ide-ide baru dan Sri Hapsari. Bimbingan Dan Konseling SMA XI (Grasindo, 2. J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 inovatif untuk menghasilkan ekspresi musikal yang unik dan dapat dinikmati oleh orang lain. Kreativitas musik juga melibatkan unsur improvisasi, eksperimen, dan penerapan unsur-unsur musikal secara orisinal. Di Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak memiliki alat musik yang lengkap tetapi dalam ibadahnya sering kali hanya menggunakan instrumen gitar sebagai pengiring. Ibadah remaja seringkali berjalan dengan cara yang sama setiap minggunya, tanpa adanya variasi atau inovasi. Alat musik yang tersedia digunakan dengan cara yang monoton, sehingga menciptakan kebosanan di kalangan remaja. Diperkirakan kurangnya kreativitas dalam aransemen musik di ibadah remaja GSJA Anugrah Ngareanak disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam bidang musik dan aransemen. Mungkin banyak gereja yang tidak memiliki tim musik yang cukup terampil untuk mengembangkan aransemen yang kreatif dan dinamis. Kedua, kurangnya referensi musik sehingga musikalitas musiknya sangat kurang. Penelitian ini juga mengeksplorasi dampak dari kurangnya kreativitas musik terhadap pengalaman ibadah remaja serta mencari solusi praktis untuk mengatasi permasalahan ini. Meskipun memiliki alat musik yang lengkap, tanpa kreativitas dalam aransemen, musik dalam ibadah remaja dapat menjadi monoton dan kurang menggugah. Melalui pelatihan, kolaborasi, eksplorasi gaya musik baru, serta mendengarkan saran dari jemaat, gereja dapat menciptakan aransemen musik yang lebih kreatif dan dinamis, sehingga meningkatkan kualitas ibadah dan keterlibatan jemaat, terutama remaja kurangnya kreativitas dalam aransemen musik di ibadah remaja seringkali menjadi masalah yang signifikan. Musik dan kreativitas merupakan dua hal yang sangat berperan penting dalam ibadah, khususnya dalam ibadah remaja. Dengan adanya musik yang dikembangkan dengan baik, maka dapat membantu untuk memunculkan sebuah kreativitas. Menurut pengamatan peneliti, musik yang diolah secara kreatif dalam ibadah dapat membuat suasana ibadah menjadi lebih semangat dalam memuji dan menyembah Tuhan. Jadi musik yang kreatif sangat penting dalam ibadah, dan dapat menjadi alat yang efektif untuk menghubungkan remaja dengan Tuhan. Kreativitas musik adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan lagu, instrumen ataupun mengaransemen musik baru yang belum pernah diciptakan orang lain dan hasil lagu dan musiknya dapat dinikmati orang lain. 2 Kreativitas musik merujuk pada kemampuan seseorang untuk menciptakan karya musik baru, baik itu dalam bentuk lagu, aransemen musik, maupun penciptaan alat musik yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini melibatkan proses penggabungan ide-ide baru dan inovatif untuk menghasilkan ekspresi musikal yang unik dan dapat dinikmati oleh orang lain. Jadi diharapkan melalui penelitian diperoleh kontribusi yang berarti dalam meningkatkan kualitas musik dalam ibadah remaja di GSJA Ngareanak sehingga mampu menciptakan pengalaman ibadah yang lebih inspiratif, dinamis, dan relevan bagi remaja. Sri Hapsari. Bimbingan Dan Konseling SMA XI. J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 METODOLOGI Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat menemukan, mengembangkan dan membuktikan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. 3 Oleh sebab itu dalam metode dalam penelitian kualitatif ini peneliti memfungsikan diri sebagai instrumen untuk mendapatkan data yang berupa informasi secara detail dan lengkap melalui wawancara dan juga dokumentasi yang dilakukan kepada, . Pdt. Yohan Tumalang selaku Gembala Sidang GSJA Anugrah Ngareanak, untuk mendapatkan informasi mengenai sejarah singkat berdirinya GSJA Anugrah Ngareanak dan juga awal mula dimulainya Ibadah remaja di GSJA Anugerah Ngareanak, . Koordinator ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak, untuk mendapatkan informasi mengenai pengolahan ibadah remaja, dan apa saja yang menghambat terwujudnya kreativitas music iringan dalam ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak, . Ketua Pemuda GSJA Anugrah Ngareanak, untuk mendapatkan informasi mengenai kreativitas yang ada di ibadah remaja GSJA Anugrah Ngareanak, . Sekretaris Pemuda GSJA Anugrah Ngareanak, untuk mendapatkan informasi hal apa saja yang menghambat kreativitas dalam ibadah remaja GSJA Anugrah Ngareanak, . Ketua musik pemuda GSJA Anugrah Ngareanak, untuk mendapatkan informasi kreativitas apa yang sudah dilaksanakan di ibadah pemuda GSJA Anugrah Ngareanak, . Remaja-remaja yang aktif dalam ibadah remaja untuk mendapatkan informasi bagaimana bentuk kreativitas musik dalam ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Pdt. Yohan Tumalang selaku Gembala Sidang Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak, gereja ini merupakan gereja yang berawal dari sebuah perintisan jemaat yang dirintis oleh almarhum Pdt. Lazarus Suyatman pada Tahun 1982. Sebelumnya nama Gereja di Ngareanak bukanlah GSJA Anugrah Ngareanak, tetapi GBI Ngareanak. GBI Ngareanak itu sendiri didirikan pada tahun 1977 oleh pusat GBI di Semarang. Ibadah saat itu belum memiliki gedung Gereja, dan masih menggunakan rumah jemaat untuk beribadah kepada Tuhan yaitu dengan cara berpindah-pindah dari rumah satu ke rumah lainnya. Setelah 5 tahun berlalu yaitu pada tahun 1982 GBI Ngareanak berubah nama menjadi GSJA Anugrah Ngareanak. Nama AuAnugrahAy itu sendiri memiliki makna yang sangat mendalam karena pada saat itu di ngareanak mayoritasnya agama muslim dan sangat susah bagi almarhum Pdt. Lazarus Suyatman untuk membuat sebuah gedung Gereja di desa Ngareanak. Karena sangat susah untuk membuat gedung Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2. J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 Gereja secara utuh, almarhum Pdt. Lazarus Suyatman berinisiatif melakukan ibadah di tempat tinggal jemaat yaitu dengan cara berpindah Ae pindah dari rumah satu ke rumah lainnya. Melihat kerja keras dan semangat dari almarhum Pdt. Lazarus Suyatman, akhirnya beberapa penduduk yang beragama muslim mengijinkan beliau untuk membangun sebuah gedung Gereja yang berdiri kokoh sampai saat Oleh sebab itu almarhum Pdt. Lazarus Suyatman membuat sebuah nama Gereja yaitu GSJA Anugrah Ngareanak, yang memiliki arti bahwa gereja bisa berdiri di tengah-tengah mayoritas muslim merupakan kasih karunia yang berasal dari Tuhan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Gembala Sidang. Koordinator remaja, ketua Remaja, sekretaris, dan beberapa remaja dipilih karena yang aktif mengikuti ibadah remaja. Oleh sebab itu peneliti mendapatkan informasi mengenai keberlangsungan ibadah . Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak baik dalam bentuk kreativitas yang sudah berjalan dan juga yang menghambat terwujudnya perkembangan kreativitas musik dalam ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak. Kreativitas musik dalam ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak terbukti mampu meningkatkan partisipasi, semangat, dan kualitas ibadah. Melalui pengembangan kreativitas, remaja tidak hanya menjadi penikmat tetapi juga pelaku aktif dalam pelayanan gereja. Musik menjadi sarana efektif untuk mengekspresikan iman, mempererat kebersamaan, dan membangun generasi muda gereja yang kreatif dan berkarakter. Ibadah remaja sudah diadakan sejak tahun 1985 yang pada saat itu disebut AuIbadah RemajaAy. Pada saat itu jumlah remaja yang hadir untuk mengikuti ibadah remaja itu kira-kira 10-15 orang. Ibadah remaja pada masa itu berbeda dengan masa sekarang, yaitu mereka masih beribadah di rumah teman yaitu dengan cara berpindah-pindah untuk setiap minggunya dan merasakan sukacita serta tidak mengalami kebosanan meskipun ibadahnya hanya dilakukan di rumah. Kemudian ibadah remaja pada saat itu juga masih diiringi oleh instrumen gitar saja dan belum ada alat musik lainnya. Di samping karena keterbatasan pemain musik dan juga karena beberapa Pembina remaja hanya bisa memainkan alat musik gitar. Bapak Aang Kurnianto menjadi koordinator bagian ibadah remaja Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak sudah berjalan tiga tahun. Menurut Bapak Aang Kurnianto bentuk kreativitas musik dalam ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak masih sangat kurang, walaupun selama ini keberlangsungan ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak sudah cukup berjalan dengan baik, yaitu setiap hari Sabtu malam ibadah berlangsung dari pukul 18:00-19:30. Biasanya ibadah remaja yang hadir berjumlah 15 Ae 25 orang. Dalam kepengurusan ibadah remaja sendiri belum ada bidang pelayanan yang fokusnya memperhatikan konsep ibadah remaja sehingga belum ada konsep yang terencana dan terjadwal dengan baik. Berbeda halnya dengan ibadah umum yang permainan musik, pemimpin pujian, dan waktu latihannya sudah terjadwal setiap minggunya dan jadwal sudah ada satu bulan. Namun untuk ibadah remaja, belum ada bidang atau orang yang mengelola atau J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 mengatur bentuk kreativitasnya, sehingga dalam ibadah berjalan sebagaimana adanya dan iringan musik juga bahkan terkadang tidak ada musik pengiringnya. Situasi ini disebabkan kurangnya pemain musik, hasil dari penelitian kurangnya pemain musik dalam ibadah remaja bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: Kurangnya Pendidikan Musik. Gereja atau tempat ibadah remaja yang tidak memiliki program pendidikan musik yang memadai. Ini membuat remaja tidak memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan bakat musik mereka. Keterbatasan tenaga pengajar musik yang berkualitas. Jumlah pengajar musik yang memiliki latar belakang dan kompetensi di bidang musik gerejawi juga sangat minim, sehingga proses pembinaan dan pelatihan kurang optimal. Menurut Leo bentuk kreativitas yang ada dalam ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak masih sangat kurang, karena setiap ibadah remaja alat musik yang digunakan untuk beribadah hanya alat musik gitar saja dan tidak ada varian alat musik yang lainnya. Sebagai pemimpin pujian Leo sudah memiliki ide-ide untuk membuat sebuah nyanyian yang bagus dan kreatif. Tetapi disadari bahwa peran musik sangatlah penting dalam suatu persekutuan atau ibadah, karena tanpa musik nyanyian terasa sangat kosong dan tidak bersemangat. Jika nyanyian dalam suatu ibadah hanya menggunakan instrumen gitar saja, maka hasilnya juga tidak akan maksimal. Jadi selama ini belum ada bagian yang benar-benar fokus untuk memperhatikan ibadah remaja, sehingga belum ada konsep yang tertata rapi dan menarik, khusus untuk pemain musik. Adapun gagasan menurut Leo yaitu: Perlu membuat kreativitas baru yaitu dengan instrumen yang lengkap seperti adanya instrumen drum, keyboard, dan Dengan demikian pastinya ibadah akan terasa berbeda dan lebih untuk menarik remaja-remaja untuk bersemangat dalam memuji Tuhan. Jadi perlu adanya meningkatkan variasi alat musik dengan cara mengajak remaja yang bisa bermain keyboard, drum, atau alat musik tiup untuk berpartisipasi dalam ibadah, mengadakan pelatihan musik untuk meningkatkan keterampilan remaja. Kemudian, mengembangkan aransemen musik yang kreatif dan membuat aransemen baru dari lagu rohani agar terdengar lebih segar. Dari gagasan-gagasan ini membuat ibadah remaja di GSJA Anugrah Ngareanak lebih hidup dan menarik, serta meningkatkan semangat remaja dalam ibadah. Penggunaan musik dengan full band cenderung lebih menarik perhatian remaja. Ini karena musik dengan pengaturan seperti ini bisa lebih dinamis, energik, dan menghadirkan nuansa yang lebih modern, yang sesuai dengan preferensi dan gaya hidup remaja saat ini. Hans adalah ketua Remaja di Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak. Hans menjadi ketua remaja sudah 4 tahun. Menurut Hans bentuk kreativitas musik yang ada di GSJA Anugrah Ngareanak masih perlu dikembangkan lagi agar kreativitas musik di ibadah remaja semakin Selama ini ibadah remaja hanya diiringi oleh instrumen gitar saja, hanya sesekali dibantu J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 dengan alat musik cajon. Adapun contoh kreativitas gitar dan cajon dalam ibadah remaja yaitu dengan variasi penggunaan instrumen dengan mengembangkan gaya bermain gitar seperti fingerstyle, strumming, picking, atau tapping untuk variasi pengiringan musik. Menggunakan cajon dengan variasi ritme dan dinamika yang berbeda untuk menambahkan dimensi baru. Kemudian, aransemen musik yang inovatif yaitu dengan cara merancang aransemen musik yang harmonis antara gitar dan cajon, dengan pola ritme dan melodi yang menarik. Dengan penerapan ini, penggunaan gitar dan cajon dalam ibadah remaja dapat menjadi lebih dinamis, menarik, dan berkontribusi signifikan dalam membangun suasana ibadah yang semangat. Menurut Hans banyak remaja saat ini memiliki talenta yang luar biasa dalam bermain musik. Hanya saja belum ada yang membimbing dan mengarahkan untuk meningkatkan skill dalam bermain Dengan adanya melatih remaja-remaja tersebut, maka akan banyak regenerasi yang bisa melayani dalam suatu ibadah. Kreativitas musik sangat susah dikembangkan jika tidak ada tambahan instrumen dan orang yang memainkannya. Oleh sebab itu penting adanya regenerasi karena sangat dibutuhkan agar terciptanya bentuk-bentuk musik yang kreatif dan membuat remaja-remaja bersemangat untuk beribadah kepada Tuhan. Bentuk kreativitas ibadah remaja yang ada di Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak, hanya menggunakan satu instrumen tunggal yaitu gitar akustik. Sehingga tidak ada pengembangan kreativitas musik di dalamnya, pastinya hal ini sangat mempengaruhi semangat bagi remaja-remaja dalam mengikuti persekutuan ibadah remaja. "Keterbatasan kreativitas musik dalam ibadah remaja terjadi karena fokusnya hanya pada penggunaan gitar, yang menyebabkan kurangnya eksplorasi dan pengembangan kreatif di dalamnya. Berdasarkan hasil dari wawancara peneliti, bentuk kreativitas musik dalam ibadah remaja masih sangat kurang kreatif, dan perlu dikembangkan lagi agar tujuan menjadi lebih kreatif. Kreativitas musik yang terintegrasi dengan baik dalam ibadah remaja dapat membawa semangat yang Musik memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mempengaruhi suasana hati dan emosi Kreativitas musik memberikan ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri mereka secara unik. Hal ini dapat memberikan mereka rasa memiliki dalam ibadah dan memperkuat ikatan spiritual mereka. Penggunaan kreativitas dalam musik dapat menciptakan pengalaman ibadah yang berkesan dan berbeda setiap kali, yang dapat meningkatkan semangat dan antusiasme remaja untuk hadir dalam ibadah secara teratur. Jadi untuk menciptakan musik yang kreatif perlu yang namanya faktor internal individu, seperti motivasi, keterampilan dan ilmu pengetahuan dan juga faktor eksternal seperti lingkungan kerja dan keahlian. Untuk mencapai sesuatu hal yang kreatif perlu adanya kebiasaan untuk berlatih dan berpikir kritis untuk menemukan hal-hal yang baru untuk mengikuti perkembangan zaman. J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 Kreativitas musik adalah salah satu elemen penting yang dapat meningkatkan kualitas pengalaman ibadah, namun seringkali menghadapi berbagai hambatan yang mengakibatkan stagnasi dan monoton dalam pelaksanaannya. Untuk mencapai kreatif yang baik perlu yang memiliki proses untuk berkonsentrasi yang berfokus untuk bernalar untuk mencantumkan sebuah ide yang unik dan Jadi dalam kreativitas musik remaja ini sangat perlu yang namanya yang namanya konsentrasi memikirkan hal-hal yang belum ada dan yang menarik. Untuk mencapai kreativitas yang menarik perlu yang namanya dorongan dalam diri sendiri yaitu kemauan dan mau belajar, keluwesan berpikir dalam memproduksi sejumlah ide yang bervariasi, kemudiaan elaborasi, untuk mengembangkan suatu gagasan di dalam sebuah musik. Kreativitas musik dalam ibadah remaja sangat berperan penting, terkhususnya ibadah remaja yang ada di Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak. Besar harapan dari koordinator kaum remaja, ketua remaja, sekretaris dan remaja-remaja Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak untuk kedepannya akan ada kreativitas musik dalam ibadah remaja yang terlaksana di GSJA Anugrah Ngareanak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kreativitas musik dalam ibadah remaja yang kurang kreatif dalam ibadah yaitu, kurangnya pemahaman tentang makna musik dalam ibadah. Remaja yang kurang kreatif dalam ibadah umumnya memiliki pemahaman yang kurang mendalam tentang makna musik dalam ibadah. Mereka menganggap musik dalam ibadah hanya sebagai hiburan semata, dan tidak menyadari bahwa musik dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan rasa cinta dan syukur kepada Tuhan. Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan kreativitas musik. Remaja yang kurang kreatif dalam ibadah umumnya memiliki sedikit kesempatan untuk mengembangkan kreativitas musik Mereka tidak memiliki akses ke pendidikan musik yang memadai, dan tidak memiliki ruang untuk berkreasi dalam ibadah. Orang tua dan pemimpin gereja seringkali tidak memberikan dukungan yang cukup kepada remaja yang ingin mengembangkan kreativitas musik mereka. Orang tua dan pemimpin gereja tidak menyadari potensi musik sebagai sarana untuk meningkatkan partisipasi remaja dalam ibadah. KESIMPULAN Penelitian ini menyoroti pentingnya kreativitas musik sebagai elemen strategis dalam meningkatkan kualitas ibadah remaja di Gereja Sidang Jemaat Allah Anugrah Ngareanak. Temuan menunjukkan bahwa meskipun tersedia alat musik yang lengkap, minimnya inovasi dalam aransemen dan eksplorasi gaya musik menyebabkan ibadah terasa monoton dan kurang menggugah. Kebaruan penelitian ini terletak pada penekanan terhadap integrasi kreativitas musikal dengan konteks spiritual J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 remaja masa kini melalui pendekatan pelatihan, eksplorasi gaya musik populer, dan keterlibatan aktif jemaat muda. Kreativitas musik bukan hanya sekedar ekspresi artistik, tetapi menjadi media yang efektif untuk membangun kedekatan emosional dan spiritual antara remaja dengan Tuhan. Dengan menciptakan aransemen yang lebih segar dan relevan, ibadah remaja dapat menjadi wadah ekspresi iman yang lebih hidup dan partisipatif. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas tim musik dan eksplorasi gaya musik kontemporer menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan generasi muda. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam bidang musik gerejawi dan pendidikan rohani dengan menawarkan model pendekatan kreatif berbasis kontekstual. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menginspirasi gereja-gereja lain untuk terus berinovasi dalam pelayanan ibadah remaja. Novelty dari penelitian ini terletak pada pemetaan solusi kreatif berbasis potensi lokal dan kebutuhan spiritual remaja masa kini. DAFTAR PUSTAKA