PENELITIAN ASLI PENGARUH SELF EFFICACY DAN PROBLEM FOCUSED COPING TERHADAP RESILIENSI AKADEMIK PADA MAHASISWA Syifa Nurhaliza1. Vira Sandayanti1. Supriyati1 Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. Lampung 35152. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Resiliensi akademik merujuk pada kemampuan Tanggal Dikirim: 01 Agustus 2025 individu untuk mencapai keberhasilan akademik Tanggal Diterima: 04 Agustus 2025 meskipun menghadapi situasi yang menantang. Tanggal Dipublish: 01 Desember 2025 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh self-efficacy problem-focused terhadap resiliensi akademik pada mahasiswa. Kata kunci: Self Efficacy. Problem Penelitian Focused Coping. Resiliensi Akademik. kuantitatif dengan melibatkan 257 mahasiswa Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di Bandar Lampung. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Academic Resilience Scale (ARS-. General Self-Efficacy Scale, dan Skala ProblemFocused Coping dengan model skala Likert, serta Penulis Korespondensi: data demografi. Uji hipotesis dilakukan dengan Vira Sandayanti analisis regresi berganda. Hasil penelitian Email: virasanda@malahayati. menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari self-efficacy problem-focused terhadap resiliensi akademik. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan jumlah item kuesioner yang lebih ringkas dan Jurnal Psychomutiara e-ISSN: 2615-5281 Vol. 8 No. 2 Desember, 2025 (Hal 81-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/Psikologi DOI: https://doi. org/10. 51544/psikologi. How To Cite: Nurhaliza. Syifa. Vira Sandayanti, and Supriyati. AuPengaruh Self Efficacy Dan Problem Focused Coping Terhadap Resiliensi Akademik Pada Mahasiswa. Ay https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/psikologi. Jurnal Psychomutiara . 81Ae88. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Psikologi Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International Licens. Pendahuluan Mahasiswa merupakan generasi baru yang tengah menjalankan studi di tingkat perguruan tinggi. Tanggung jawab utama mahasiswa adalah belajar, termasuk belajar tentang ilmu pengetahuan, bersosialisasi, berorganisasi dan menjadi pemimpin (Fijannati, 2. Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia (KBI), mahasiswa diartikan sebagai individu yang tengah menjalankan pendidikan di suatu universitas. Sementara itu, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 30 tahun 1990, mahasiswa ialah individu yang resmi terdaftar serta tengah menempuh pendidikan di suatu perguruan tinggi. Kewajiban utama mahasiswa pada tahap akhir pendidikan mereka, yaitu menulis skripsi. Skripsi adalah tugas ilmiah yang diperlukan oleh mahasiswa Strata satu (S. di universitas, baik negeri maupun swasta, untuk mendapatkan gelar Meskipun mahasiswa berharap bisa menyelesaikan skripsinya dengan baik dan tepat waktu, akan tetapi hanya beberapa mahasiswa yang melakukannya. Banyak kegiatan yang harus dilakukan, ketentuan yang harus dipenuhi, manajemen waktu yang buruk, dan tugas kuliah yang banyak adalah beberapa masalah yang mungkin dihadapi mahasiswa saat melakukan tugas akademik (Fijannati, 2. Tidak semua mahasiswa di Indonesia mampu mengatasi dan menyelesaikan tantangan yang mereka hadapi selama proses belajar mereka, ditunjukkan oleh adanya mahasiswa yang belum berhasil menyelesaikan pendidikannya (Dwiastuti. Hendriani & Andriani 2. Berdasarkan data nasional yang dirilis oleh Kemenristekdikti, jumlah mahasiswa yang mengalami putus kuliah dari 2018 hingga 2019 meningkat menjadi 452. 451 mahasiswa atau sebesar 5%. (Kemenristekdikti, 2. Merujuk pada dokumen Statistik Pendidikan Tinggi 2022 yang dirilis oleh Ditjen Diktiristek, pada tahun 2020 terdapat 263 mahasiswa putus kuliah sebesar 7,10%. Di tahun 2021 terdapat 480. mahasiswa sebesar 5,34% mengalami putus kuliah dan pada tahun 2022 terdapat 134 mahasiswa sebesar 4. 02% mengalami putus kuliah. Penelitian yang dilakukan oleh Zulfa & Kusdiyati . menunjukkan sebanyak 76,43% memilki resiliensi yang Mahasiswa harus menentukan topik penelitian, variabel, teori pendukung, subjek, skala alat ukur, dan teknik analisa data. Mereka juga harus mampu membahas hasil Faktanya, banyak mahasiswa yang merasa terbebani dan menghadapi berbagai permasalahan ketika mengerjakan skripsinya. (Imandiri. Widyastuti & Jonosewojo 2. Menurut Cahyani & Akmal dalam Wijianti . bahwa mahasiswa saat menyusun skripsi sering menganggapnya tugas yang berat. Dampaknya, berbagai kesulitan yang dihadapi memicu perasaan negatif, seperti stress, cemas, rendahnya harga diri, frustasi, serta penurunan motivasi. Cassidy . mendefinisikan resiliensi akademik sebagai kemampuan mahasiswa dalam bertahan serta menyelesaikan berbagai tantangan akademik guna mencapai keberhasilan dalam Resiliensi akademik penting dimiliki oleh mahasiswa untuk mencapai prestasi akademik yang baik di setiap tingkatan, terlepas dari bagaimana siswa melakukannya (Hendriani, 2. Merujuk pada hasil prasurvei yang dilakukan oleh peneliti terhadap 25 mahasiswa Universitas Malahayati, ditemukan bahwa terdapat 5 mahasiswa memiliki tingkat resiliensi tinggi, 14 mahasiswa lainnya memiliki tingkat resiliensi sedang, sementara 6 mahasiswa memiliki tingkat resiliensi rendah. Pada prasurvei masih terdapat mahasiswa dengan tingkat resiliensi yang rendah dan ditemukan berbagai kesulitan yang dialami oleh mahasiswa yaitu, sulit mengumpulkan data, dosen pembimbing yang sulit ditemui, rasa malas, kurang yakin bisa menyelesaikan skripsi, mencari jurnal ilmiah dan sumber pertama yang berkaitan dengan teori dikarenakan kurangnya keterampilan dalam mencari jurnal ilmiah, penelitian yang gagal dilakukan oleh salah satu mahasiswa teknik berupa eksperimen yang hasilnya tidak sesuai dengan ketentuan, kesulitan mengatur waktu, sulit menentukan judul, sulit mencari referensi, dan sulit menentukan topik. Temuan ini sejalan dengan penelitian Imandiri. Widyastuti & Jonosewojo . , di mana mahasiswa menghadapi banyak masalah saat mengerjakan skripsi, seperti mencari judul, tema, subjek, penggunaan alat ukur, tenggat waktu penelitian, kendala dalam memperoleh referensi, serta revisi yang dilakukan berkalikali, kesibukan dan kesulitan bertemu dengan dosen pembimbing. , dan waktu yang lama untuk mendapatkan respon dari dosen pembimbing setelah skripsi selesai. Resiliensi akademik merujuk pada kemampuan individu untuk tetap berhasil secara akademik meskipun menghadapi tantangan atau situasi sulit. Menurut Jowkar. Kojuri. Kohoulat, dan Hayat . , faktor-faktor yang memengaruhi resiliensi akademik meliputi kerja sama, pemecahan masalah, self-efficacy, empati, tujuan dan aspirasi, serta kesadaran diri. Di antara faktor-faktor tersebut, self-efficacy menjadi salah satu elemen penting. Mahesti dan Rustika dalam Putri . mendefinisikan self-efficacy sebagai keyakinan seseorang terhadap kemampuan mereka untuk memotivasi diri, memanfaatkan kemampuan kognitif, dan mengambil tindakan guna memenuhi tuntutan situasi tertentu. Sementara itu. Bandura . menjelaskan self-efficacy sebagai kepercayaan individu terhadap kemampuan mereka untuk mencapai tingkat kinerja tertentu yang memengaruhi kehidupan mereka. Penelitian oleh Azizah dan Ifdil . menunjukkan bahwa self-efficacy dan resiliensi akademik mahasiswa yang sedang menyusun skripsi berada pada kategori tinggi, dengan hubungan signifikan yang memiliki kekuatan sedang. Hal ini diperkuat oleh penelitian Linggi. Hindiarto, dan Roswita . , yang menemukan korelasi positif dan signifikan antara self-efficacy dan resiliensi akademik. Penelitian Sakdullah . juga mendukung bahwa self-efficacy secara simultan memengaruhi resiliensi akademik. Namun. Triwahyuni dan Qodariah . menemukan bahwa 61% dari 31 responden memiliki self-efficacy rendah, yang menyebabkan kurangnya kepercayaan diri dalam menyelesaikan skripsi. Mahasiswa dengan self-efficacy rendah cenderung enggan memulai atau menyelesaikan skripsi, sedangkan mereka dengan self-efficacy tinggi lebih mampu menghadapi kendala akademik. Selain self-efficacy, strategi coping juga memengaruhi resiliensi akademik. Mahasiswa yang menerapkan problem-focused coping cenderung memiliki resiliensi akademik yang lebih tinggi (Ainurrohmah. Utami, & Ramadhani, 2. Penelitian Sari . menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan strategi coping berpengaruh signifikan terhadap resiliensi akademik. Pitaloka dan Mamahit . melaporkan bahwa 56,4% subjek memiliki problem-focused coping pada kategori tinggi. Namun, penelitian Roy dan Soetjiningsih . menemukan bahwa problem-focused coping berada pada tingkat sedang dengan persentase 50%, meskipun terdapat korelasi positif antara selfefficacy dan problem-focused coping terhadap resiliensi akademik selama pengerjaan Problem-focused coping adalah strategi kognitif untuk mengelola stres dengan fokus pada penyelesaian masalah dan peningkatan kemampuan individu dalam menghadapi situasi sulit, sehingga mahasiswa dapat tetap menyelesaikan skripsi meskipun menghadapi tekanan (Roy & Soetjiningsih, 2. Santrock . mendefinisikan problem-focused coping sebagai strategi kognitif untuk mengatasi stres dengan langsung menangani masalah dan mencari solusinya. Berdasarkan uraian di atas, resiliensi akademik dipengaruhi oleh self-efficacy dan problem-focused coping. Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya karena melibatkan subjek yang lebih beragam dan berfokus pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan membuktikan pengaruh self-efficacy dan problem-focused coping terhadap resiliensi akademik, dengan fokus pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Penelitian ini dianggap penting untuk memberikan wawasan lebih mendalam mengenai resiliensi akademik, yang dapat menjadi dasar untuk merancang intervensi guna membantu mahasiswa meningkatkan ketahanan akademik mereka. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan regresi untuk mengkaji seberapa besar hubungan dan pengaruh antara variabel self-efficacy, coping berfokus pada masalah, serta resiliensi akademik. Pendekatan yang diterapkan adalah kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari mahasiswa akhir di Bandar Lampung yang sedang mengerjakan skripsi, dengan rentang masa studi antara semester 6 hingga 14. Sampel penelitian diambil dari beberapa perguruan tinggi di Bandar Lampung, seperti Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Universitas Tulang Bawang. Universitas Lampung. Universitas Teknokrat Indonesia, dan Universitas Malahayati, dengan menggunakan teknik accidental sampling yang melibatkan 257 mahasiswa aktif yang sedang mengerjakan tugas akhir. Data diambil menggunakan instrumen skala untuk menilai resiliensi akademik sebagai variabel dependen, serta self-efficacy dan coping yang fokus pada masalah sebagai variabel independen. Resiliensi akademik diukur menggunakan Academic Resilience Scale (ARS-. yang diadaptasi oleh Kumalasari dan Grasiawati . berdasar teori Cassidy . , terdiri dari 24 item dengan skala Likert 6 poin, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai CronbachAos Alpha mencapai 0,859. Self-efficacy dinilai melalui General Self-Efficacy Scale yang diadaptasi oleh Novrianto. Marettih, dan Wahyudi . berdasar teori Bandura . , menggunakan 10 item dengan skala Likert 5 poin serta koefisien CronbachAos Alpha sebesar 0,865. Coping yang berfokus pada masalah diukur menggunakan skala yang dibuat oleh Pitaloka . berdasarkan teori dari Lazarus dan Folkman . , terdiri atas 16 item valid dengan skala Likert 4 poin dan koefisien CronbachAos Alpha sebesar 0,859. Analisis data dilaksanakan dengan teknik regresi linear berganda untuk menguji hipotesis seputar pengaruh variabel independen . elfefficacy dan problem-focused copin. terhadap variabel dependen . esiliensi Analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 26, meliputi uji asumsi klasik seperti uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov Tes. , uji multikolinearitas, serta uji heteroskedastisitas untuk memastikan bahwa model regresi yang digunakan memenuhi kriteria Hasil Uji Hipotesis Tabel 1. Uji Simultan (Uji F) Variabel Sig. Self-Efficacy & PFC 0,000 Uji F dilaksanakan untuk menguji dampak bersamaan dari self-efficacy dan problemfocused coping terhadap ketahanan akademik. Hasil tes memperlihatkan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. , yang menandakan bahwa kedua variabel independen secara kolektif memiliki dampak signifikan terhadap resiliensi akademik. Nilai R Square 0,572 . ,2%) dan Adjusted R Square 0,756 . ,6%) menunjukkan bahwa 57,2% variasi resiliensi akademik dapat dijelaskan oleh dua variabel independen, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Tabel 2. Uji Parsial (Uji . Variabel Beta t-hitung Sig. Sumbangan Efektif (%) Self-Efficacy 0,347 5,545 0,000 Problem-Focused Coping 0,459 7,341 0,000 Uji t dilakukan untuk menilai dampak setiap variabel independen terhadap ketahanan Hasil untuk self-efficacy menunjukkan nilai Beta 0,347, t-hitung 5,545, dan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. , yang menandakan adanya pengaruh signifikan dan Untuk penanganan yang berfokus pada masalah, diperoleh nilai Beta 0,459, thitung 7,341, dan signifikansi 0,000 . < 0,. , yang menunjukkan pengaruh positif dan signifikan dengan kontribusi yang lebih besar. Kontribusi efektif self-efficacy mencapai 24%, sementara problem-focused coping sebesar 31,8%. Pembahasan Penelitian ini mengungkapkan bahwa self-efficacy dan coping yang berfokus pada masalah secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap resiliensi akademik sebesar 57,2%. Dalam studi ini, coping yang berfokus pada masalah menunjukkan pengaruh yang lebih signifikan dengan koefisien regresi 0,459, khususnya pada aspek mencari dukungan informasi. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung mencari informasi guna menyelesaikan masalah, yang dapat memperkuat ketahanan akademis Sebaliknya, self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 0,347, dengan aspek yang paling dominan yaitu strength, yang menunjukkan bahwa mahasiswa percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas akademik dengan berbagai tingkat kesulitan, sehingga berkontribusi pada resiliensi akademik. Hasil pengujian hipotesis untuk self-efficacy menunjukkan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. dengan nilai t mencapai 5,545, yang mengindikasikan adanya pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi akademik. Koefisien regresi yang positif mengindikasikan bahwa meningkatnya tingkat selfefficacy berbanding lurus dengan peningkatan resiliensi akademik mahasiswa, sementara rendahnya self-efficacy berkaitan dengan menurunnya resiliensi akademik. Hasil ini sejalan dengan studi Prawitasari dan Antika . , yang menyatakan bahwa self-efficacy berdampak pada resiliensi akademik sebesar 0,549 dengan tingkat signifikansi 0,00 . < 0,. Di samping itu, penelitian Sakdullah . menemukan adanya hubungan signifikan antara self-efficacy dan resiliensi akademik dengan nilai koefisien sebesar 0,987 dan signifikansi 0,00 . < 0,. Salam . menyatakan bahwa mahasiswa yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung tetap tenang dan berpikir dengan jelas dalam keadaan tertekan, karena self-efficacy berfungsi sebagai alat kognitif untuk mengatasi stres. Sebaliknya, mahasiswa yang merasa tidak sanggup mengatasi stres cenderung mengalami kecemasan dan memiliki ketahanan akademik yang rendah. Pada variabel penanganan berfokus pada masalah, pengujian hipotesis menunjukkan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. dengan nilai t mencapai 7,341, yang mengindikasikan pengaruh signifikan terhadap ketahanan akademik. Semakin besar penggunaan strategi coping yang berfokus pada masalah, semakin tinggi pula resiliensi akademik Penelitian oleh Ainurrohmah. Utami, dan Ramadhani . mendukung temuan ini, menyatakan bahwa mahasiswa dengan coping yang fokus pada masalah lebih tinggi memiliki resiliensi akademik yang lebih baik. Penelitian Sari . juga menekankan bahwa strategi coping, terutama problem-focused coping, memiliki dampak signifikan terhadap resiliensi akademik. Sejalan dengan hal tersebut. Pitaloka . menemukan adanya hubungan positif antara coping yang berfokus pada masalah dan resiliensi akademik, di mana semakin tinggi coping yang berfokus pada masalah, semakin tinggi juga resiliensi akademik. Berdasarkan Hartika . , coping yang berfokus pada masalah memberikan kontribusi sebesar 3,6% terhadap resiliensi akademik mahasiswa yang sedang menulis skripsi, dengan hubungan positif: semakin tinggi coping yang berfokus pada masalah, semakin tinggi pula resiliensi akademik, dan sebaliknya. Studi Nasution . serta Pratiwi & Hirmaningsih . juga mendukung hasil ini, dengan kontribusi signifikan dari problem-focused coping terhadap resiliensi sebesar 24,7%. Berdasarkan analisis deskriptif, mayoritas resiliensi akademik mahasiswa di Bandar Lampung termasuk dalam kategori tinggi, yang menunjukkan ketahanan akademik yang baik. Aspek reflektif dan pencarian bantuan adaptif memiliki nilai rata-rata tertinggi . ,7. , yang ditunjukkan oleh pernyataan seperti AuSaya akan meminta bantuan dari dosen sayaAy . AuSaya akan mencari dukungan dari keluarga dan teman-teman sayaAy . , serta AuSaya akan berusaha memikirkan kekuatan dan kelemahan saya untuk dapat bekerja lebih baikAy . Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung mencari dukungan secara adaptif dan melakukan refleksi ketika mengalami tantangan akademik. Namun, aspek dampak negatif dan respons emosional memiliki nilai rata-rata terendah . ,4. , terlihat dari pernyataan seperti AuSaya mungkin akan merasa tertekanAy . AuSaya akan merasa sedihAy . , dan AuSaya akan merasa segalanya berantakan dan keliruAy . , yang menunjukkan tantangan dalam mengatasi emosi negatif saat menghadapi tekanan akademik, sehingga memerlukan perhatian lebih untuk mengembangkan aspek ini. Dalam hal self-efficacy, sebanyak 137 mahasiswa . ,3%) termasuk dalam kategori sangat tinggi, yang menandakan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki keyakinan diri yang kuat dalam menyelesaikan tugas akademis. Aspek kekuatan memiliki nilai rata-rata tertinggi . , ditunjukkan oleh pernyataan seperti AuSaya mudah tetap fokus pada tujuan dan mencapainyaAy . AuSaya bisa menyelesaikan berbagai tantangan jika saya serius melakukannyaAy . , dan AuApapun yang terjadi, saya akan mampu menghadapinya dengan baikAy . , yang mencerminkan optimisme dan percaya diri meskipun terdapat rintangan. Namun, aspek level menunjukkan nilai rata-rata terendah . , yang tercermin dalam pernyataan seperti AuSaya dapat mencari solusi untuk masalah jika ada halangan terhadap tujuan sayaAy . AuSaya mampu tetap tenang dalam situasi sulit karena saya percaya pada kemampuan sayaAy . , dan AuKetika menghadapi suatu masalah, saya memiliki banyak ide untuk menyelesaikannyaAy . Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak terlalu percaya diri ketika menghadapi tugas dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Untuk cara mengatasi yang berfokus pada masalah, sebanyak 114 mahasiswa . ,4%) termasuk dalam kategori tinggi. Aspek pencarian dukungan informasi memiliki nilai rata-rata tertinggi . ,1. , ditunjukkan oleh pernyataan seperti AuSaya akan berbicara dengan teman saat menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan tugasAy . AuSaya akan meminta bantuan dari dosen ketika saya kurang memahami suatu materiAy . , dan AuSaya akan menggunakan internet untuk membantu menyelesaikan tugas sayaAy . , yang mencerminkan kecenderungan mahasiswa untuk mencari informasi dalam mengatasi masalah. Sebaliknya, aspek confrontive coping memiliki rata-rata terendah . ,8. , terlihat dari pernyataan seperti AuSaya tidak yakin dapat menyelesaikan tugas sayaAy . AuSaya sering merasa ragu terhadap kemampuan sayaAy . , dan AuSaya cenderung menghindari tugas yang menantangAy . , yang menunjukkan kurangnya keberanian dan rasa percaya diri dalam menghadapi masalah secara langsung Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian dan analisis, dapat disimpulkan bahwa self-efficacy memberikan dampak positif terhadap resiliensi akademik dengan nilai koefisien beta sebesar 0,347. Kop ing yang berfokus pada masalah juga memiliki dampak positif pada ketahanan akademik dengan nilai koefisien beta sebesar 0,459. Self-efficacy dan coping yang terfokus pada masalah secara bersamaan berpengaruh pada resiliensi akademik dengan kontribusi sebesar 57,2%, sedangkan 42,8% sisanya dipengaruhi oleh faktorfaktor lain Referensi