Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 Dakwatul Islam E-ISSN: 2828-5484 Jurnal Ilmiah Prodi PMI Institut Agama Islam Diniyah Pekanbaru Volume 8 Nomor 2. Juni 2024 https://ojs. id/index. php/DakwatulIslam P-ISSN: 2581-0987 E-ISSN: 2828-5484 PROBLEM DAKWAH DI DAERAH MINORITAS MUSLIM Yeni Yasyah Sinaga Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru Email: yeni@diniyah. Abstrak Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui problem dakwah di daerah minoritas muslim khususnya di Porsea Kabupaten Toba Samosir dan solusi nya. Dengan harapan penelitian ini bisa memberikan Wawasan bagi para pelaku dakwah. Selain itu bermanfaat juga sebagai referensi dalam mengembangkan dakwah di lingkungan minoritas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi dan wawancara. Berdasarkan metode yang digunakan telah ditemukan bahwa problem dakwah di daerah minoritas muslim Kec. Porsea Kab. Toba Samosir yaitu masalah dari subjek dakwah minimnya daAoI, objek dakwah yaitu pada kegiatan ceramah agama yang tidak terlaksana baik Disebabkan warga sibuk dengan pekerjaan. Media dakwah yaitu pada hari besar Islam terhambat kerana masalah anggaran dana sehingga menghambat pelaksanaan tepat waktu, materi dakwah yang hanya membahas Tauhid dan Fiqih dasar, masyarakat menginginkan materi menerapkan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari contoh menjadi petani yang Islami, metode dakwah masih ada daAoI yang kurang menguasai sehingga seringnya terjadi ketidaksesuaian materi dakwah dengan metode yang digunakan. Kata kunci: Problem Dakwah. Minoritas Muslim Abstract The aim of this research is to find out the problem of da'wah in Muslim minority areas, especially in Porsea. Toba Samosir Regency and the solution. It is hoped that this research can provide insight for those who do da'wah. Apart from that, it is also useful as a reference in developing da'wah in minority environments. This research uses descriptive qualitative methods. The data collection techniques used were observation and interviews. Based on the method used, it was found that the Problem of Da'wah in Muslim Minority Areas. Porsea District. District. Toba Samosir, namely the problem of the subject of da'wah, the lack of da'I, the object of da'wah, namely religious lecture activities which are not carried out well, because people are busy with work, the medium of da'wah, namely on Islamic holidays, is hampered due to budget problems, which hinders timely implementation, the da'wah material is only discussing basic Tawhid and Fiqh, people want material to apply Islamic values in everyday life, for example being an Islamic farmer, there are still da'Is who don't master the da'wah method, so there is often a mismatch between the da'wah material and the method used. Keywords: Problem of Da'wah. Muslim Minority Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim Pendahuluan Dalam kehidupan ini, istilah mayoritas dan minoritas dikaitkan dengan jumlah agama, suku, suku dan ras. Hubungan mayoritas-minoritas seringkali menimbulkan konflik sosial yang bercirikan prasangka dan perilaku bermusuhan. Fenomena konflik agama antara mayoritas dan minoritas kerap terjadi di Indonesia. Disebabkan mayoritas penduduk Indonesia ini beragama Islam. Mengingat semangat kebangsaan Indonesia adalah menghargai keberagaman, maka fenomena ini tidak bisa kita abaikan oleh sebab itu diperlukan mencari solusinya. Fenomena keterlibatan mayoritas-minoritas ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Diantaranya yaitu Kecamatan Porsea Kab. Toba Samosir. Menunjukkan bahwa agama Kristen masih tetap bertahan menjadi kelompok Selain jumlah penduduk yang besar, keberadaan hal yang menunjukkan bahwa agama Kristen lebih dominan di wilayah ini adalah jumlah gereja di setiap desa dan jumlah organisasi Kristen yang banyak. Ada kesan rasa tidak aman saatbKetika umat Islam melakukan kegiatan keagamaan yang memperkuat masyarakat Muslim melakukan pelaksanan keagamaan Islam. Contohnya saja yang terjadi di TPA Al Hidayah, banyak anjing peliharaan masyarakat non-Muslim yang tidak memiliki kandang sehingga berkeliaran dilingkungan sekitar, sehingga menimbulkan kegelisahan dan ketakutan di kalangan pelajar, terutama anak-anak. Pernah juga terjadi siswa digigit anjing. Meskipun kelalaian ini tidak dimaksudkan untuk mengganggu aktivitas, hal ini dapat dianggap sebagai penghalang. Bagi umat Islam, anjing adalah hewan najis dan oleh karena itu harus dihindari. Selain itu, ketika adzan berkumandang melalui pengeras suara dianggap mengganggu. Khusus adzan juhur pada hari ahad. Adzan juhur ini yang bertepatan pada ibadah Kristen di gereja, yang menyebabkan pihak pengurus gereja memberikan peringatan pada pengurus Mesjid pada hati itu supaya tidak menggunaan pengeras suara diluar Mesjid. Ini terjadi dilingkungan wilayah Mesjid Al-hidayah Kecamatan Porsea. Kemudian banyak juga ditemukan umat sebahagian umat Islam yang ikut dengan budaya dan tradisi yang melenceng dari ajaran Islam seperti Berjudi dan minum tuak, tentu ini sangat menimbulkan keresahan bagi masyarakat Muslim itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Problem dakwah di daerah minoritas Muslim khusunya di Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir dan solusi nya. Dengan harapan penelitian ini bisa memberikan Wawasan bagi Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 para pelaku dakwah. Selain itu bermanfaat juga sebagai referensi dalam mengembangkan dakwah di lingkungan minoritas. Perlu kita ketahui bahwa semua umat beragama, termasuk Islam dan Kristen, perlu memperkuat religiusitas mereka secara radikal. Kelompok minoritas harus didorong untuk mengekspresikan identitas mereka ketika hidup dalam kelompok mayoritas. Maka bagi masyarakat minoritas harus mengakui perbedaan ini untuk bisa sama-sama Kegiatan dakwah ini tentunya tidak berjalan dengan lancar. Banyak terdapat problem yang dilalui selama dakwah ini berlangsung hingga saat sekarang ini. Dalam kehidupan masayarakat yang majemuk sangat penting untuk saling memahami antar pemeluk agama yang berbeda dalam masyarakat untuk menghindari terjadinya ketegangan dan konflik baik dalam organisasi maupun diluar masyarakat. Praktik umum kehidupan beragama dalam masyarakat majemuk dan multi agama menciptakan kehiduan beragama yang harmonis. Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya kerukunan antar umat beragama dalam kehidupan seluruh umat yang beriman (Aziz, 2. Dakwah adalah penyampaian pesan-pesan hasil pengolahan pemikiran para daAoi mengenai agama Islam yang terkandung dalam al-QurAoan dan hadis, untuk diinformasikan pada khalayak umum atau madAou dengan harapan dapat memberi informasi dan memanggil, mengajak dan memberi pengetahuan lebih. Tujuan dakwah sebagaimana halnya komunikasi adalah untuk mengisi waktu luang dan merubah sikap, tingkah laku dan sifat madAou. Dengan harapan agar Mad'u mengikuti ajaran Islam yang Kegiatan dakwah ini sengaja direncanakan untuk memberikan pengaruh bagi orang lain yang dilakukan secara individu ataupun kelompok. Baik dengan bentuk lisan, tulisan, tindakan dan perbuatan dengan harapan agar pemahaman, kesadaran dan sikap mereka terhadap agama menjadi stabil diadakan di Ajaran bermula dari pesan dan disampaikan kepada Tuhan tanpa adanya paksaan. Dakwah ini sudah ada dimulai darii lahirnya manusia, sebab manusia mempunyai peran dan tugas yang wajib dipenuhi dalam kehidupan dunia. Meskipun zaman telah berubah, namun semangat dan upaya berdakwah tidak pernah pudar (Hafidudin, 1. Segala makhluk didunia ini diciptakan untuk menunaikan kewajiban yang dibebankan kepada mereka dan menunaikan kewajibannya Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim di dunia, yang sama dengan perintah Allah swt beserta seluruh alam semesta. Mengenai kewajiban yang mengatur pelaksanaan dakwah, seluruh ulama menyetujui bahwa dakwah adalah kewajiban hukum. Namun keputusan mengenai hakikat kewajiban, baik yang berupa AoainAo yang wajib dipenuhi oleh setap Muslim sesuai dengan tingkat kemampuannya, atau wajibnya untuk kifayah, bebas untuk dipenuhi. Hal ini terjadi melalui banyak individu atau bebrapa kelompok dalam suatu masyarakat. Ketentuan hukum dakwah ada dua versi dan tida dapat disangkal. Sebab, seua ulama bersandar pada kekuatan dalil aqli maupun dalil naqli (Ilyas, 2. Mengenai letak kewajiban ini, hanya terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama, apakah itu fardhu Aoain atau fardhu Oleh karena itu jika belum ada yang berdakwah disuatu tempat, maka dakwah itu bisa menjdai fardhu Aoain dan jika sudah ada yang berdakwah ditempat itu dan orang tersebut mempunyai kemampuan dan keahlian, maka dakwah dalam khutbah yang dapat dijadikan fardhu kifayah. Ketika dalam suatu daerah memiliki jumlah daAoI yang sangat minim namun angka kriminal, kebodohan sangat tinggi makan dakwah ini menjaid wajib sesuai dengan kemampuan masing-masing individu (Ilyas, 2. Seluruh umat Islam wajib menyebarkan dakwah pada seluruh umat agar mereka bisa merasakan nikmat kedamaian serta ketentraman. Adapun landasan kewajiban melaksanakan dakwah itu tertera dalam Al-QurAoan Surat Ali-Imran Ayat 110. Artinya: AuKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maAruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasikAy. (Q. Ali-Imran: . Berdasarkan penjelasan ayat diatas terlihat bahwa Allah SWT memerintahkan pada seluruh umat Islam untuk beriteraksi melalui informasi yang dilandaskan melalui QurAoan yang merupakan sumber kebenaran tentang agama pemberian Tuhan (Isla. bagi umat manusia, para penganut Islam. Dalil di atas memberikan petunjuak bahwa dakwah wajib dilakukan umat Islam untuk mencegah Amar Maruf Nahi Munkar. Kata ini menyerukan agar melaksanakan dakwah pada seluruh umat Islam dengan cara yang ditentukan dan Dalam melaksakan dakwah dilakukan tanpa memaksa orang untuk mengajaknya ke jalan kebaikan dan meraih keridhaan Allah SWT. Problem dakwah merupakan masalah yang terjadi pada saat menyeru, memanggil, dan mengajak dengan proses yang dilakukan oleh daAoi. Dalam bukunya Ilmu Dakwah. Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 Tata Sukhayat mengatakan bahwa permasalahan Dakwah adalah segala sesuatu yang menghambat dan menantang Dakwah dan harus dihadapi dalam rangka melaksanakan kesukesan Dakwah. Problem dakwah dapat muncul dari daAoI ataupun madu(Haris, 2. Contohnya seperti daAoI yang bersifat pasif dalam menjalankan dakwah. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa adanya taAolim dan tabligh hanya dilakukan pada hari-hari besar keagamaan, dan seringkali para khatib hanya melakukan aktivitas pada hari-hari Mereka sangat jarang teribat aktif dalam menciptakan majelis-majelis baru yang berkelanjutan dan tepat sasaran. Sedangkan problem madAou sebaliknya, yaitu kurang adanya kemauan untuk mendengarkan dan mengamalkan kebajikan. Agama memiliki peranan yang sangat penting dalam menyadarkan seseorang akan perannya dan membentuk konsep tentang dirinya dan cita-cita hidupnya. Islam selalu bersentuhan dengan realitas sosial yang melingkupinya. Dakwah Islam dapat memberikan dampak terhadap lingkungan sosial dengan landasan kehidupan, membimbingan dan mendorong perbaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik untuk membentuk suatu tatanan sosial yang baru. Dakwah Islam dipengaruhi oleh perubahan gaya orientasi sosial. Artinya dakwah Islam ditentukan oleh sistem yang ada pada Meskipun dakwah saat ini telah mengalai kemajuan yang sangat besar dibandingkan dengan masa lampau. Namun perjalanan dakwah tersebut belum dapat berjalan sesuai dengan rencana karena sering terkjadinya kendala, baik secara langsung atauun tidak langsung. Partisipasi minoritas dan mayoritas, serta kelompok dominan di suatu daerah, merupakan kelompok yang merasa memiliki kontrol atau kekuasaan untuk menyelesaikan sesuai. Kelompok mayoritas merupakan sumber kekuasaan terbesar dalam berbagai organisasi. Kekuasan ini tentu saja penting karena dapat mempengaruhi masyarakat, termasuk penyelenggaraan pemerintahan, agama, pendidikan, dan lapangan pekerjaan . Di sisi lain, kelompok minoritas tidak mempunyai kesempatan yanng sama untuk memperoleh kekuasaan seperti kelompok mayoritas. Ketimpangan kekuasan ini kemudian dapat mendorong semankin banyaknya stereotip yang tidak menguntungkan antar komunitas dan minoritas. Hal ini tentu merupakan permasalahan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Persoalan yang dihadapi di Kecamatan Porsea ini adalah daAoI ketika mengembangkan dakwah Islam. Kendala yang ada dalam proses dakwah yang tidak hanya datang dari luar juga tetapi dari daAoI dan madAou. Untuk mencapai maksud dan Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim tujuan dakwah maka digunakan untuk pendukung yang sangat cocok. Intuk pendukung yang sangat penting adalah dakwah. Metode nya tepat, sistematis dan sesuai dengan kontes keadaan secara keseluruhan. Metode ini adalah suatu cara yang berurutan, dilakukan denganctepat dan hati-hati, untuk mencapai auatu tujuan maksud tertentu. Atau suatu cara yang sistematis dalam memperlancar pelaksanaan suatu kegiatan atau kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu cara mengamalkan dakwah diartikan sebagai cara yang ditempuh Dai dalam menjalankan tugasnya, yaitu perwujudan dakwah di tengah kehidupan seorang muslim agar dapat merasuk ke dalam setiap bidang kehidupan (Ilyas. Seorang daAoI ataupun subjek dakwah sangat membuthkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang metode. Dengan menguasai metode proses penyiaran dakwah langsung sampai tepat pada sasaran. Kemudian pesan dakwah itupun dapat dengan mudah diterima madAou. Seorang daAoI ketika mematokkan sebuah metode sangat memerlukan pendirian dan kemampuan di bidang metodologi. Kemudian pola pikir dalam penyusunan dakwah, dimana dakwah ini adalah suatu sistem dan metodologi adalah salah satu dimensi tunggal, maka metodologi memiliki peran serta kedudukan yang sama dengan unsur serta tujuan dakwah. Metode dakwah merupakan suatu cara untuk melewati jalan yang harus ditempuh untuk sampai pada satu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhakan metode yang mampu membantu keberhasilan dakwah. Ladasan umum tentang metode dakwah adalah QurAoan surat An-Nahl 125 yang menyajikan metode dakwah yang dapat dicapai adalah bil hikmah, mauAoizhah hasah, dan mujadallah. Metode dakwah adalah jalan untuk menacapai tujuan dakwah yang dilaksanakan secara efektif dan efesien (Helmy, 1. Metode dakwah disini berarti metode yang digunakan dalam Merujuk pada ayat 125 Surah an-Nahl, ada tiga jenis metode dakwah yaitu: Metode Al-Hikmah Kata hikmah diterjemahkan bagian dakam wujud pemhaman bijaksana. Yaitu suatu pendekatan sedemian rupa sehingga aspek sasaran dakwah mampu memadankan apa yang didakwahkan atas kemauannya sendiri, tidak menilik terdapat paksaan, perselisihan maupun sikap tertekan. (Tasmara, 1. Sebagian ahli mengartikan kata hikmah hanya sebatas berbicara baik, baik hati, tenggang rasa . , lemah lembut, sabar, dan Beberapa orang memahami kata hikmah berarti Aukebijaksanaan dan kearifanAy (Ilyas, 2. Al-hikmah merupakan syarat suksesnya dakwah. Berhasil atau Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 tidaknya dakwah yang dilakukan tidak diukur atau dtentukan sedikitpun oleh besar kecilnya madAou. akan tetapi sepenuhnta tergantung pada banyaknya madAou yang kembali pada jalan Allah swt untuk kegiatan dakwah. Oleh karena itu, setiap daAoI harus benarbenar Auqabla kullisyaiAy dan benar-benar memahami serta menerapkan dalam dakwahnya (Karim, 1. Metode al-himah merupakan cara berdakwah yang diakukan secara arif dan bijaksana serta persuasif. Karena dakwah beroroentasi pada kemanusiaan, konsekuansi loginya adalah mengakui dan menghormati hak-hak demokerasi sehingga fungsi informasi utama dakwah sampai sesuai target yang dicapai. Untuk itu madAou diharapkan dapat sadar untuk menangkap pesan dakwah dengan sukarela dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan karena dalam keadaan terpaksa. Berdasarkan penjelasan diatas, maka metode dakwah bil hikmah merupakan metode yang menyerukan orang beranjak pada Allah swt dengan bertambahnya suasana tidak terbendung ldepan kalimat lembut saja namun menambahkan semangat, dasar, ramah diawal, tetapi juga mengerjakan satu hal dengan porsinya sehingga madAou dapat menerima dakwah tanpa merasa bosan atau frustasi ketika daAoI menyampaikan dakwahnya. Oleh karena itu, hendaknya daAoI mengedepankan metode bil hikmah ketika menyampaikan dakwah. Metode Al-MauAoidzah Hasanah MauiAoz ah hasanah atau nasehat yang baik, maksudnya adalah menyampaikan nasihat kepada orang lain dengan cara yang baik, dapat diterima, berkenan di hati, menyentuh perasaan, menghindari sikap kasar, dan tidak mengejar atau melisankan kemungkaran madAou sehingga para daAoI menargetkan tugasnya dengan ikhlas yang disampaikan kepada seluruh subjek dakwah (Ilyas, 2. MauAoidzatul hasanah artinya ajaran baik atau kabar gembira yang diberikan sebagai nasehat. Sebagai pendidikan dan orientasi sejak dini. Dari Ali Ustha Yakub, bahwa mauiAozah hasaah atinya ucapan yang berisi nasehatnasehat baik dan berguna bagi orang yang mendengarkannya, atau argumen yang memuaskan sehingga pihak pendengar dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subjek dakwah (Yakub, 1. Seorang daAoI menjadi subjek dakwah harus mampu menyesuaikan dan mengarahkan pesan dakwahnya sesuai tarif daya pikir serta lingkup pengamalan asal objek dakwahnya, agar tujuan dakwah menjadi ikhtiar untuk mengaktualisasikan nilai97 Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim nilai Islam ke pada kehidupan pribadi atau warga bisa terwujud. Dalam berdakwah daAoI harus menggunakan pendekatan yang lemah lembut untuk membimbing madAou nya, agar madAou tersebut dapat memahami apa yang disampaikannya. Metode Mujadalah Mujadalah adalah berdiskusi dengan menggunakan cara-cara diskusi yang baik. Mujadalah adaah cara terakhir yang dipergunakan untuk berdakwah jika ke 2 cara terakhir yang dipergunakan bagi orang yang taraf berpikirnya maju, serta kritis selayaknya ahli kitab yang memang telah mempunyai bekal keagamaan dari para utusan Oleh karena itu di dalam QurAoan telah disampaikan larangan berdebat untuk para ahli kitab kecuali dilakukan dengan cara yang terbaik. Tentu saja ini melibatkan adanya suatu pembedaan topik yang hangat dibicarakan berdasarkan perasaan benci ataupun senang pada orang yang sedang dibicarakan. Contohnya seseorang yang belum beriman dan belum memahami ajaran Islam mengkritik Islam dengan alasan bodoh. Orang ini harus ditantang dengan jalan sebaik-baiknya serta didorong untuk berpikir benar agar dapat diterima. Namun jika hatinya lebih dulu terluka sebab kita harus membantah hal-hal yang keliru, karena itu dia menolak mendapatkan kebenaran, meskipun dalam hati kecilnya mengakui sebab hatinya sudah tersakiti. (Katsir, 1. Berdasarkan dengan pendapat di atas, dapat kita ketahui bagi seluruh umat Muslim khususnya para daAoI sangat dianjurkan supaya ketika berdebat dengan para ahli kitab dapat berdebat dengan cara yang baik, sopan santun, lemah lembut, kecuali apabila mereka telah memulai menunjukkan keangkuhan dan kezalimannya yang sangat diluar batas kewajaran, maka dalam Ayat QurAoan Allah swt telah meletakkan dasar-dasar dakwah yang akan menjadi pedoman umat Nabi Muhammad saw dimasa depan (Ramli. Oleh karena itu, metode Mujadalah adalah metode dakwah melalui berdebat atau bermusyawarah, namun tetap menjaga argumentasi, sopan santun, dna menghormati pihak lain. Tujuan diskusi ini adalah untuk membantu orang lain dan membimbingnta ke jalan yang benar sesuai dengan ajaran Allah swt, jadi diskusi ini bukan tentang merendahkan atau mengejek orang lain. Berdasrkan informasi diatas, dapat dipahami bahwa penginaan metode ini adalah hal yang terpenting dalam menjalankan dakwah. Metode ini mmeungkinkan daAoI menyampaikan materi dakwahnya sampai pada tujuan yang tepat. Hal ini agar madAou tidak bosan saat menerima materi yang disampaikan dan Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 madAou menjadi tertarik dengan metode para daAoI tersebut. Macam-macam metode dakwah dibedakan sebagai berikut: Dakwah fardiyah, yaitu sebuah metode dakwah yang sering dilakukan seorang daAoI kepada satu orang madAou atau beberapa orang madAou dengan jumlah yang terbatas. Dakwah ini biasanya dilaksanakan anpa adanya persiapan, sehingga materi yang nantinya disampaikan tidak tersusun dengan tertib. Dakwah Ammah, yaitu dakwah yang dilakukan oleh seorang daAoI dengan menggunakan media lisan yang disampiakn kepada madAou yang berjumlah banyak. Metode ini disampaikan melalui khutbah atapun dalam pidato yang dapat didengar oleh orang banyak. Dakwah bil lisan, yaitu sebuah metode dakwah yang disampaikan melalui lisan. Pesan yang diaampaikan bisa dalam bentuk ceramah ataupun komunikasi yang disampikan secara langsung antara daAoI dan madAou. Dakwah bil hal, yaitu sebuah metode dakwah yang diutamkan dengan perbuatan secara nyata. Dakwah ini dilaukan dengan menyampikan materi dakwah secra teori beserta pengalikasiannya dalam kehidupan sehari-hari dengan harapan orang yang mendengarkan dapat melaksankan nilai-nilai kebaikan yang telah dicontohkan oleh daAoi. Dakwah bit tadwin, yaitu dakwah yangdilaksanakan dengan tulisan yang diterbitkan dalam kitab-kitab, buku, majalah, koran dan media lainnya. Dakwah ini bersifat tahan lama dan dapat disampaikan dari genrasi ke generasi meskipun penulis nya sudah wafat. Dakwah bil hikmah, yaitu dakwah yang diampaikan melalui pendeketan komunikasi secara persuasif, sehingga madAou dapat tergerak hatinya untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan atas kemauannya sendiri (Jalil, 1. Dengan melihat dari beberapa metode yang dituliskan diatas bahwa daAoI di Kecamatan Porsea sangat sedikit yang menerapkan metode-metode dakwah tersebut. Hal itu terlihat dari sebagian masyarakat yang kurang antusias dengan berbagai alasan untuk tidak hadir mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah yang dilakukan. Sedangkan diketahui bahwa tujuan dari metode itu sendiri adalah untuk memberikan kenyamanan dan keharmonisan bagi para daAoI dalam menyampaikan isi dakwahnya serta memberi kenyamanan dan keharmonisan bagi penerimanya (MadAo. Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim Metode Penelitian ini berlokasi di Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara yang dilaksanakan pada Februari samapai Maret 2024. Dengan metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kulitatif, yaitu penelitian yang mengahasilkan prosedur analisisis yang tidak menggunakan analisis statistik (Moelong, 2. Intrumen penelitian ini adalah penulis sendiri yang terjun langsung kelapangan untuk mengumpulkan invormasi melalui teknik pengumpulan data yaitu observasi dan wawancara. Observasi ini dilakukan dengan cara mengamati secara langsung keseluruhan dan keadaan masalahmasalah dakwah yang terjadi di Kecamatan Porsea Kab. Toba Samosir. Sedangkan Wawancara yang dilakukan adalah wawancara yang sistematis dan bebas dengan mengambil informasi sebanyak-banyaknya. Wawancara ini dilakukan pada 1 orang Pengurus Mesjid besar di Porsea yaitu Mesjid Al Hidayah yang sering dibuat sebagai pusat tempat pelaksanaan hari besar Islam di Kecamatan Porsea, 3 orang masyarakat setempat, dan 3 orang tokoh masyarakat. Kemudian hasil penelitian ini penulis rangkum untuk mencapai tujuan penelitian yang diharapkan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu berusaha memusatkan diri pada proses pemecahan masalah yang nyata melaui pengumpulan data atau informasi, kemudian penyusunan data atau informasi yang akhirnya dapat dijelaskan serta dianalisis. Hasil Penelitian dan Pembahasan Kecamatan Porsea terletak pada koordinat 02A24Ao- 02A48Ao Lintang Utara dan 99A16Ao Bujur Timur, dengan luas wilayah 37,88 km2 atau sekitar 1,83% dari luas total Kabupaten Toba Samosir 2. 021,80 km2. Ibukota Kecamatan Porsea di lintasi oleh Sungai Asahan yang banyak dimanfaatkan penduduk untuk sarana transportasi dan memelihara ikan dengan sistem jaring terapung. Dari segi penggunaan tanah, mayoritas penduduk di Kecamatan Porsea bekerja sebagai petani padi sawah. Sedangkan tanah kering sekitar 381 Ha yang dipergunakan untuk bertanaman Palawija dan tanaman keras misalnya Kopi dan Jahe. Jumlah penduduk berdasarkan kelompok agama terbesar berada pada kelompok agama Kristen Protestan. Komunitas agama Islam merupakan kelompok yang minoritas atau kelompok yang paling kecil di Kecamatan Porsea. Jumlah penduduk agama Kristen Protestan sebanyak 12. 592 Jiwa atau 89 persen. Sedangkan jumlah penduduk agama Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 Islam berjumlah 1. 181 Jiwa atau 8,3 persen. Kelompok agama Katolik berjumlah 214 Jiwa dan Parmalin berjumlah 35 Jiwa Berdirinya pendidikan pra sekolah yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak yang ditujukan untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar belajar di sekolah. Pada tahun 2017 sudah ada sebanyak 18 unit sekolah PAUD yang terdiri dari 14 unit PAUD Negeri dan 4 unit PAUD Swasta dan 2 Taman Kanak-Kanak yang tersebar di hampir di seluruh desa/kelurahan di Kecamatan Porsea. Fasilitas pendidikan yg ada di Kecamatan Porsea mencakup Sekolah Dasar (Sekolah Dasa. sebesar 14 unit yang terdiri berasal 12 unit SD Negeri. 1 unit sekolah MIN dan 1 unit swasta. buat sekolah jenjang Sekolah Lanjutan taraf Pertama (SLTP) ada tiga unit yang terdiri asal 2 unit Sekolah Menengah Pertama Negeri dan 1 unit MTs Negeri yg ada pada Lumbang Gurning. sementara buat Sekolah Lanjutan tingkat Atas (SLTA) yg terdapat sebanyak 2 unit Sekolah Menengah kejuruan swasta yaitu SMK Pembaruan serta SMK Tri surya yg ada pada Desa Parparean II. Bila dipandang dari jumlah murid serta pengajar pada masing-masing sekolah, jumlah siswa buat unit SD/MIN sebanyak 1. dan jumlah tenaga guru termasuk kepada sekolahnya 135 orang. Rasio guru dan murid buat Sekolah Dasar/MIN sebesar 1. 370 artinya setiap pengajar Sekolah Dasar homogenrata mengajar 13-14 murid SD. Jumlah siswa Sekolah Menengah Pertama/MTs sebanyak 111 dan jumlah energi pengajarnya 68 orang maka rasio guru serta anak didik untuk SMP/MTs sebesar 1. 633 yang adalah setiap guru SMP rata-homogen mengajar 15-16 siswa Sekolah Menengah Pertama. Jumlah siswa Sekolah Menengah kejuruan sebesar 263 dan jumlah energi pengajarnya 10 orang maka rasio murid dan pengajar buat sekolah Sekolah Menengah kejuruan sebanyak 2. 630 yg ialah setiap guru SMK mengajar ratarata 26-27 siswa Sekolah Menengah kejuruan. Penduduk di Kecamatan Porsea seluruhnya mempunyai keyakinan pada dewa yg Maha Esa atau diklaim menjadi masyarakat beragama. Sedangkan agama merupakan sebuah koleksi terorganisis berasal agama, sistem budaya, serta pandangan global yg menghubungkan insan menggunakan tatanan/perintah dari kehidupan. Untuk melakukan ibadahnya masing-masing kelompok masyaraat yang beragama membangun rumah ibadah tempat mereka beribadah. Pada tahun 2017 di Kecamatan Porsea terdapat 40 sarana tempat ibadah yang terdiri dari 33 Gereja, 2 Masjid, 3 Musholah/Langgar yang tersebar di 13 Desa/Kelurahan dan 1 Rumah Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim Parsaktian. Selain agama Kristen dan Islam, di Kecamatan Porsea ada penuduk yang meyakini ajaran peredaran agama atau biasa diklaim Parmalim dan sudah memiliki tempat tinggal ibadah yg dianggap rumah Parsaktian. Penduduk yang beraliran kepercayaan Parmalim secara umum dikuasai ada di Desa Nalela. Masuknya agama Islam di Kecamatan Porsea dilatarbelakangi oleh keinginan seorang Tokoh Masyarakat yang berasal dari Porsea yaitu H. Tuan Musa Simangunsong yang merantau dari kampungnya di Lumban Juangga Sitorang Jae Kabupaten Asahan. Kabupaten Asahan mayoritas penduduknya beragama Islam yang memiliki banyak Tuan Syeikh serta ulama. Melalui para syeikh dan ulama. Tuan Musa Simangunsong bersyahadat Tahun 1920. Kemudian beliau memilih tinggal di Asahan selama 2 tahun. Pada taun 1924 H. Tuan Musa Simangunsong memutuskan untuk meninggalkan Asahan kembali pulang ke kampung halaman di Porsea. Tuan Musa mengislamkan keluarga dan kerabat nya di Lumban Juangga Sitorang Jae sejak setahun kepulangannya, penyebaran Islam dilakukan dari rumah ke rumah oleh H. Tuan Musa Simangunsong yang didampingi saudaranya yaitu Khalifah Jalil Simangunsong (Siregar, 2. Penyebaran dakwah Islam H. Tuan Musa Simangunsong dari individu ke individu sampai kemudian masuk Islamnya seorang tokoh karismatik di Porsea yaitu Guru Kitab Sibarani. Guru Kitab Sibarani Menjadi Jembatan dalam mengislamisasi masyarakat Batak Toba di Porsea (Siregar, 2. Proses kegiatan Islamisasi ini tentunya tidak berjalan dengan Banyak terdapat problem yang dilalui selama dakwah ini berlangsung hingga saat sekarang ini. Agama Kristen merupakan agama terbesar di Kecamatan Porsea, tentu sangat banyak problem dakwah yang dihadapi. Adapun Problem dakwah yang dihadapi di Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir ini adalah: Subjek dakwah . aAo. Di Kecamatan Porsea terdapat 3 mesjid diantaranya mesjid Al-hidayah Porsea, mesjid Al-muttaqin, serta mesjid Syuhada. Dalam ketiga mesjid yang terdapat ini ditemukan tidak adanya pelaksanaan kegiatan ceramah agama secara khus seain hanya da khutbah jumAoat. Tidak adanya ceramah harian disebabkan tidak ada masyarakat yang datang disebabkan masyarakat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan tidak ada yang bersedia untuk memulai dan tidak mau bertanggung jawab untuk diadakannya kegiatan ceramah agama rutin yang disebabkan minimnya masayarakat Muslim, pada Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 dasarnya Persoalan yang dialami di Kecamatan Porsea ini adalah kurangnya tenaga daAoI dan ustadz. Oleh karena itu, kegiatan pengajaran di mesjid hanya berlangsung pada hari jumAoat dan pada saat ada kegiatan wirid atau perayaan hari besar Islam. Komunikasi antar daAoI tidak terorganisir dengan baik, sehingga mengakibatkan penyebaran materi yang sama oleh daAoI yang berbeda oleh jemaah yang sama. Kemudian masi terdapat sebagian daAoi yang masih minim ilmu agama Islam, sehingga kredibilitas sebagian daAoI belum diakui oleh masyarakat. Rendahnya tingkat ekonomi para daAoI untuk menunjang kebutuhan sehari-hari menyebabkan sebgaian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah demi kebutuhan sehari-hari yang berarti mereka tidak fokus pada dakAoah Islam. Objek Dakwah Permasalahan yang dilihat dari khalayak dakwah adalah keberagaman khalayak dakwah memungkinkan para daAoI menggunakan bahasa yang diharapkan dapat dpahami oleh semua kalangan masyarakat. Selain itu. Problem objek dakwah juga ada terdapat perwiridan yang berkenaan dengan kehadiran anggota wirid tersebut, bahwa dalam pelaksanaan wirid Bapak-Bapak yang dilaksanakan malam hari banyak yang tidak datang menghadiri karena sudah lelah bekerja bertani pada siang harinya. Begitu juga dalam perwiridan Ibu-Ibu, mayoritas masyarakat di Kecamatan Porsea ini bekerja sebagai petani yang setiap harinya mereka selalu ada di sawah dan di kebun. Karena kesibukan masyarakat ini lah yang memicu ditiadakan ceramah agama di mesjid, sedangkan bagi golongan anak-anak dan remaja dipastikan juga tidak dapat mengikuti karena sedang bersekolah maka tidak dimungkinkan kegiatan ceramah agama ini dapat berjalan. Kecamatan Porsea terdapat Taman Pendidikan AlqurAoan atau yang sering disebut dengan TPA. Pelaksanaan kegiatan dakwah melalui TPA ini sementara berjalan dengan baik, hanya saja terkadang gangguan lingkungan seperti adanya anjing yg berkeliaran membuat anak-anak sedikit terganggu, dan dalam proses pelaksanaannya pula ada sedikit kendala. Kendala pelaksanaan TPA ialah berkenaan dengan kehadiran siswa pada belajar. Dari 60 siswa terdaftar yang hadir hanya 40 bahkan setengahnya. Hal ini sangat dikhawatirkan sekali mengingat minim nya umat Islam di Kecamatan Porsea. Dan ditemukannya anak-anak muda dan orangtua yang masih ikut budaya-budaya setempat meminum tuak dan berjudi yang sudah menjadi hal biasa di Kecamatan Porsea Hal ini terjadi disebabkan kurangnya pengawasan dan motivasi orangtua yang sibuk Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim bekerja seharian yang menyebabkan mereka tidak bisa memantau perkembangan anak dengan baik. Metode Dakwah Permasalahan yang dirasakan para daAoI terhadap metode dakwah adalah masih adanya daAoI yang kurang menguasai sehingga cenderung menggunakan metode pengajaran yang membuat masyarakat bosan dan pasif. Permasalahan yang sering muncul dalam metode dakwah ini adalah sering terjadinya ketidaksesuaian antara materi dakwah dengan metode dakwah yang digunakan. Materi Dakwah Problem yang dirasakan daAoI terhadap materi dakwah adalah kyrang sinkronnya antara kebutuhan masyarakat dengan materi dakwah yang disediskan daAoi. Selain itu materi yang disampaikan pun terkadang terlalu monoton sehingga masyarakat mesara bosan, hak ini terjadi disebabkan karena tidak terorganisirnya antara daAoI dalam memberikan materi pesan dakwah, hal ini mungkin juga disebabkan karena kurangnya kontrol daAoI terhadap materi yang diampaikan. Selain itu, sebagian daAoI sulit menghubungkan dakwah Islam dengan kehidupan nyata masyarakat. Media Dakwah Problem media dakwah ini sering terjadi karena media yang tersedia masih sangat Penyebab nya adalah kurangnya dana dalam melaksanakan kegiatan dengan Sebagai akibatnya aplikasi aktivitas untuk memeriahkan hari besar Isam tidak bisa dilaksanaan secra berkelanjutan, sebab dana yang dibutuhkan sangat besar. Adapun upaya yang harus dilakukan dalam pemecahan Problem dakwah Islam ini adalah: Subjek Dakwah Upaya untuk mengatasi permasalahan yangdirakan daAoI antara lain dengan membentuk lembaga internal persahabatan daAoI daerah, yang dapat saling melengkapi antar para daAoi. Permasalahan dari monotonnya materi yang disampaikan para daAoI adalah mereka harus berusaha memeprbanyak membaca buku keagamaan. Untuk mengatsi masalah kekurangan daAoI, dapat dilakukan uapaya untuk menarik daAoI profesinal dari luar daerah. Dakwah adalah upaya untuk menghimbau atau menyampaikan kepada seluruh umat Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia, termasuk amar maAoruf nahi munkar dengan berbagai cara untuk memajukan semua orang berbuat baik. Mengikuti petunjuk dari Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 QurAoan dan Hadist. Oleh karena itu, dakwah merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam, yang hakikatnya terletak pada memberi semangat atau dorongan, dan membimbing orang lain agar dapat menerima ajaran Islam dengan rasa kesadaran untuk kemaslahatannta sendiri dan bukan untuk kepentingan Tapi dengan kurangnya tenaga daAoI dikhawatirkan pelsanaan dakwah ini akan tergesre karena kurangnya rasa sadar umat Islam itu sendiri untuk banyak belajar dan mengamalkan akibat kurangnya doronga dan motivasi dari daAoi. Mengingat kondisi umat Islam yang berada di tengah-tengah mayoritas non-Musim yang sewaktu-waktu dapat merusak aqidah karena terikut dengan budaya yang ada didaerah tersebut. Oleh karena itu pelaksanaan dakwah bagi umat Musim di Kecamatan Porsea bukan hanya dimanfaatkan hanya untuk mengingatkan hal-ha yang baik saja, namun dengan demikian, daAoI harus mampu memberikan sugesti dakwah kepada uat Islam di wilayah Porsea, tidak hanya dengan mengingatkan mereka akan hal-ha yang baik namun juga mengajak mereka dan menyemangati umat untuk memilih kehidupan yang lebih bermanfaat dan menghasilkan akhlaq yang baik yang bisa memberikan manfaat untuk umat Islam lainnya di Kecamatan Porsea. DaAoI mungkin mencoba memperkuat monotisme Muslim di Kecamatan Porsea melalui kegiatan keagamaan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui konferensi keagamaan, perwiridan, kemudian dalam aktivitas penanaman agama di TPA, dan memriahkan hari besar Islam. Kegiatan ini dapat dilakukan dan ditengah-tengah non-Muslim menguatkan aqidah para umat Islam di Kecamatan Porsea. Mengingat begitu besarnya pengaruh positif ceramah agama maka pemerintah sudah sepatutnya menambah para penyuluh agama di Kecamatan Porsea terkhusus diperbanyaknya daAoi-daAoI yang bisa didatangkan dari luar. Agar pelaksanaan ceramah agama ini dapat diperbanyak dengan kajian-kajian rutin selain dalam perwiridan ataupun khutbah jumAoat saja. Maka sebelum pemerintah bertindak diharapkan para daAoI yang telah tersedia agar mampu membuat dan merancang kegiatan dakwah ini lebih dalam lagi sehingga semangkin kuatnya keimanan dan aqidah umat Islam di Kecamatn Porsea, mengingat perkembangan zaman yang sudah semangkin canggih ini dikhawatirkan semangkin banyak umat Islam yang terpengaruh pada lingkungan Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim mayoritas non-Muslim supaya angka pemurtadan berkurang dari proses . Objek Dakwah Upaya untuk mentasi permasalahan terkait objek dakwah anatara lain menghimbau masayrakat Muslim untuk tidak melupakan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengatsi keberagaman kelompok dalam masyarakat, para daAoI harus berupaya menggunakan menggunakan bahasa yang dapat diterima dan dipahami oleh semua kelompok masyarakat Muslim. Dan bagi masyarakat, hendaknya anggota wirid dapat hadir secara sistematis dengan mengurangi aktivitas kerja pada siang hari untuk mengindari kelelahan pada malam hari agar dapat mengikuti kegiatan perwiridan yang akan dilaksanakan. Selain itu anggota perwiridan juga bisa saling mengingatkan antar satu sama lain anggota saling memberi kabar melalui handphone walaupun tidak bisa bertemu secara langsung. Kemudian dengan adanya problem yang berkenaan dengan proses pembelajaran di TPA diharapkan hendaknya orangtua dapat meluangkan waktu kepada anaknya untuk bisa memberikan motivasi lebih dan memantau tumbuh kembang anaknya mengawasi perkembangan anaknya. Guru dan orangtua harus membangun komunikasi yang baik, baik secara angsung ataupun melalui media sosial untuk berinteraksi jarak jauh. Begitu pula dengan anak yang kurang serius dalam belajar dan menghafal. Oleh karena itu, tujuan daya ingat setiap anak tidak tercapai. Oleh sebab itu, cara mengajar guru dirubah untuk lebih menarik lagi agar bisa menarik perhatian dan antusias anak dalam belajar serta membuat metode-metode baru yang bervariasi yang disenangi anank-anak sehingga mereka semangat dan tidak bermalas-malasan. Begitupula dengan budaya-budaya minum tuak dan berjudi yang terjadi, adalah bukti bahwa dakwah dan agama dipersembahkan sesuai dengan tuntunan yang diajarkan pada umat manusia yang bertujuan untuk menghasilkan umat yang memiliki iman yang kuat serta berserah diri pada Allah Swt. Tujuan dakwah adalah mendidik umat Islam agar memahami, menghayati dan mengamalkan Islam. Namun ada kekhawatiran praktik dakwah akan terpinggirkan karena umat Islam sendiri kurang memiliki kesadaran untuk belajar dan mengamalkan dakwah. Hal ini terutama berlaku bagi komunitas Muslim yang berada dilingkungan mayoritas beragama Kristen seperti di Kecamatan Porsea. Upaya penguatan ilmu keislaman di Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 kalangan umat Islam di Porsea tidak hanya untuk menyadarkan umat akan kebaikan, namun juga membantu umat Islam menjadi lebih baik dengan menghasilkan kebaikan dan keutamaan yang lebih bermanfaat bagi umat Islam lainnya. Metode Dakwah Kebayankan daAoI hanya menggunakan metode dakwah untuk menyampaikan risalah dakwah sehingga menimbulkan kebosanan pada jamaah. Ketika mengetahui metode atau petunjuk dasar suatu metode, maka daAoI juga harus memperhatikan faktr-faktor yang mungkin terjadi yaitu mempengaruhi pemilihan atau penggunaan suatu metode agar metode yang dipilih dan diguanakan benar-benar efektif Oleh karena itu, jika seorang daAoI ingin berdakwah, dia harus terlebih dahulu memilih metode yang pas untuk disampaikan sesaui dengan kondisi madAou dengan cara terlebih dahulu mengetahui apa tujuan dan fungsinya dakwah itu dilakukan, selanjutnya mengetahui sasaran dakwah nya apakah disampaikan kepada individual, masyarakat, dengan segala kebiajakn baik itu politik pemerintah, tingkat usia, penduidikan, budaya dan sebagainya. Selanjutnya melihat situasi dan kondisi lingkungan yang beraneka ragama, seperti di Kecamatan Porsea ini yang penduduk Islam nya minoritas diharapkan para daAoI jangan sampai keyika dalam berdakwah terdengar keras menyingung agama lain diluar Islam guna untuk menghindari konflik persaudaraan. Kemudian dalam memilih metode dakwah hendaknya daAoi memnafaatkan fasilitas yang telah tersedia disesuaikan dengan kuantitas serta kualitasnya. Terakhir dalam menentukan metode dakwah hendaknya daAoI harus paham atas kepribadian atau kemampuan nya dalam menyampaikan . Materi Dakwah Materi dakwah merupakan pesan-pesan dakwah Islam yang wajib disampaikan oleh para dakwah kepada madAou. Khususnya semua ajaran Islam yang terkandung dalam QurAoan dan Hadist. Mengatssi kesulitan materi dakwah dengan situasi dan kondisi masyarakat. Kegiatan yang dilakukan pada masa ekstensif tersebut antar lain membaca kafiAoat, takhtim. Surat yasin, tahlil dan doAoa. Setelah semua beres, kegiatan selanjutnya adalah ceramah agama oleh para daAoi. Semua ini adalah bagian dari metode untuk menguatakan pemahaman agama. Aplikasi pelaksanaan tausiah agama yang dilakanakan di perwiridan ini adalah Problem Dakwah Di Daerah Minoritas Muslim menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan harapan dapat memberikan efek positif bagi anggota wirid yaitu bertambahnya pengetahuan tentang agama. Adapun tema dari materi yang disampaikan yaitu masalah tentang akhlaq sebab materi ini dianggap begitu penting untuk memumpuk akhlaq terpuji umat Islam ditengahtengah mayoritas Non-Muslim. Selain materi tentang akhlaq daAoI juga menyampaikan materi tentang tauhid dan ilmu fiqih. Maka ditekankan untuk para daAoI agar selalu mengupdate ilmu-ilmu baru dengan cara perbanyak membaca literatur keislaman. Karena, selain pengetahuan perihal Akhlaq. Tauhid, serta Fiqih, ternyata masyarakat pun menginginkan isi materi dakwah yang membahas bagaimana menerapkan nilai Islam dalam aktivitas mereka sehari-hari misalnya tentang bagaiamana menjadi petani yang Islami. Media Dakwah Saat ini kegiatan dakwah tidak lagi cukup menggunakan sarana komunukasi tradisional seperti khutbah dan pengajian yang masih menggunakan sarana komunikasi secara langsung. Pemanfaatan media modern, sesuai dengan perkembangan daya pikir manusia, harus dimanfaatkan sedemikan rupa agar dakwah bisa lebih diutamakan. Mengatasi Problem dari segi media dakwah di Kecamatan Porse ini adalah melengkapi media yang kurang dengan cara mencari donatur-donatur tetap. Begitu pula pada perayaan hari besar IIslam yang membutuhkan biaya yang sangat besar, maka diperlukan panitia bekerja keras untuk memperbanyak donatur, selain itu juga bisa memanfaatkan anggran khusu dari dana mesjid yang sudah disediakan untuk memeriahkan hari besar Islam di Kecamatan Porsea. Selain itu juga bisa panitia bisa memberdayakan sumbangan dari masyarakat apakah dalam bentuk materi keuangan ataupun makanan Selanjutnya, para daAoI harus mampu memanfaatkan media yang ada. Media yang tersedia di mesjid AL-Hidayah Porsea agara kegiatan mereka tersampaikan dengan sedemikian rupa sehingga dapat berlangsung secara optimal. Simpulan Permasalahan dakwah yang dihadapi minoritas Muslim di Kecamatan Porsea Kab. Toba Samosir adalah subjek dakwah khusunya minimnya daAoI dan ustadz, begitu pula dalam hal berkomunikasi antara para daAoI belum terorganisir sehingga sering terjadi Jurnal Dakwatul Islam Vol. 8 No. 2 Juni 2024 E-ISSN: 2828-5484 penyampaian materi yang sama. Problem objek dakwah yaitu pada kegiatan ceramah agama yang tidak terlaksana baik Disebabkan warga Porsea sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, tidak ada masyarakat yang bersedia memimpin pelaksanaan kegiatan Terkadang pelaksanaan perwiridan tidak berjalan lancar karena masyarakat sudah kelelahan bekerja di siang hari sehingga sulit untuk mengikuti acara wirid di malam Kemudian terkait pelaksanaan pembelajaran di TPA, kurangnya kesadaran orangtua untuk mengingatkan anaknya membaca AL-qurAoan sehingga menyebabkan sangat sedikit yang hadir mengikuti TPA, selain itu anak-anak juga ada yang kurang nyaman karena banyaknya anjing milik warga yang berkeliaran di dekat sekolah. Dan pelaksanaan pada forum tahfidz QurAoan adalah forum yang mirip degan TPA, khususnya anak-anak, bersekolah setiap hari dan banyak yang bolos sehingga tidak mencapai target menghafal. Kemudian problem Media dakwah yaitu pada hari besar Islam terhambat kerana masalah anggaran dana yang diharapkan tidak maksimal sehingga menghambat pelaksanaan yang tepat waktu dan efektif dalam jangka panjang. Problem materi dakwah yang hanya membahas Tauhid dan Fiqih dasar, selain ilmu etika, tauhid dan fiqih, masyarakat juga menginginkan materi pelajaran bagaimana menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tentang bagaiamana menjadi petani yang Islami. Problem metode dakwah masih ada daAoI yang kurang menguasai sehingga seringkali cendrung mengunakan metode dakwah yang menimbulkan kebosanan dan kepasifan bagi Permasalahan yang muncul dalam metode dakwah ini adalah seringnya terjadi ketidaksesuaian antara materi dakwah dengan metode yang digunakan. References