E-ISSN: 2809-8544 IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT IMPLEMENTATION OF TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP TOWARDS THE IMPLEMENTATION OF THE 7 HABITS OF GREAT INDONESIAN CHILDREN MOVEMENT Maman Suherman1*. Muhammad Subandi2. Fitria Sukmawati Kusnadi3. Saofanita4. Nikmatul Khoiriyah5 Universitas Islam Nusantara. Indonesia *Email Correspondence: maman. suherman0604@gmail. Abstract The degradation of student character in today's era of globalization poses a significant challenge for the education sector. Students are not only expected to be academically competent but also to possess strong character, responsibility, independence, and positive social behavior. In this context, transformational leadership is seen as an effective strategic approach to foster a school culture that supports character education. One such program used as a tool for character development is the Au7 Habits of Great Indonesian Children Movement,Ay which contextualizes universal values into Indonesian cultural and religious frameworks. This study aims to explore the implementation of transformational leadership in supporting the 7 Habits program at SMP Negeri 1 Bojongsoang. Employing a qualitative approach with a case study method, data were collected through interviews, observations, and document analysis involving the school principal, teachers, and students. The research focuses on the forms of transformational leadership implementation, its impact on the program, and the supporting and inhibiting factors affecting its execution. The findings reveal that the school principalAos transformational leadership was effective in fostering a positive shift in school Through exemplary behavior, inspirational motivation, teacher empowerment, and systematic supervision, the principal successfully facilitated the internalization of positive habits in studentsAo daily lives. Keywords: Transformational Leadership. Character Education, 7 Habits of Great Indonesian Children. Abstrak Fenomena degradasi karakter siswa di era globalisasi saat ini menjadi tantangan besar bagi dunia Peserta didik tak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat, bertanggung jawab, mandiri, dan mampu bersosialisasi secara positif. Dalam konteks ini, kepemimpinan transformasional dipandang sebagai pendekatan strategis yang efektif untuk membangun budaya sekolah yang mendukung pendidikan karakter. Salah satu program yang digunakan sebagai instrumen pembentukan karakter adalah AuGerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat,Ay yang mengadopsi nilai-nilai universal ke dalam konteks lokal dan religius Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam implementasi kepemimpinan transformasional dalam mendukung penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di SMP Negeri 1 Bojongsoang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap kepala sekolah, guru, dan siswa. Fokus utama penelitian adalah pada bentuk implementasi kepemimpinan transformasional, pengaruhnya terhadap program gerakan, serta faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi pelaksanaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah terbukti efektif dalam menciptakan perubahan budaya sekolah ke arah yang lebih positif. Melalui keteladanan, motivasi inspiratif, pemberdayaan guru, dan pemantauan yang sistematis, kepala sekolah berhasil mendorong internalisasi nilai-nilai kebiasaan positif dalam kehidupan siswa. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Kata kunci: Kepemimpinan Transformasional. Pendidikan Karakter, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. PENDAHULUAN Pendidikan di era globalisasi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat, mandiri, dan mampu bersikap positif dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Permasalahan degradasi moral, kurangnya tanggung jawab sosial, serta rendahnya disiplin dan integritas peserta didik menjadi urgensi bagi lembaga pendidikan untuk secara sistematis menanamkan nilai-nilai karakter. Salah satu pendekatan strategis dalam penguatan karakter tersebut adalah melalui penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, sebuah program yang mengadaptasi konsep AuThe 7 Habits of Highly Effective PeopleAy karya Stephen R. Covey . , yang kemudian dikontekstualisasikan ke dalam nilai-nilai budaya dan spiritual Indonesia. Gerakan ini menanamkan tujuh kebiasaan positif yang meliputi . bangun pagi. makan sehat dan bergizi. gemar belajar. tidur cepat. Pelaksanaan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak lndonesia Hebat harus dilakukan dengan pendekatan pembiasaan yang penuh kesadaran, bermakna, dan Ketujuh kebiasaan tersebut dipadukan dengan nilai-nilai karakter utama bangsa Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Surat Edaran Bersama Tiga Menteri Nomor 1 Tahun 2025, yang menekankan pembentukan karakter religius, sehat, disiplin, dan bermanfaat melalui pendekatan pembiasaan yang menyenangkan dan berkelanjutan. Untuk mencapai hasil yang optimal, gerakan ini memerlukan dukungan lingkungan sekolah yang kuat, serta kepemimpinan yang mampu menciptakan budaya transformatif dan inspiratif. Dalam konteks ini, kepemimpinan transformasional menjadi landasan penting dalam pelaksanaan gerakan karakter tersebut. Bass dalam (Lahiya, 2. menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional ditandai oleh kemampuan pemimpin untuk menginspirasi, memotivasi, dan mentransformasi nilai serta perilaku pengikutnya guna mencapai tujuan yang lebih tinggi. Bass dan Avolio dalam (Rismawati, 2. kemudian merumuskan empat dimensi utama dari kepemimpinan ini, yakni: . Idealized Influence-pemimpin sebagai panutan dan sumber inspirasi moral. Inspirational Motivation-pemimpin membangun optimisme dan komitmen terhadap visi kolektif. Intellectual Stimulation-pemimpin mendorong kreativitas dan inovasi. Individualized Consideration-pemimpin menunjukkan empati dan perhatian personal terhadap setiap individu. Keempat dimensi ini memungkinkan pemimpin, khususnya kepala sekolah, menciptakan perubahan budaya sekolah yang kondusif terhadap pembentukan karakter siswa. Sejalan dengan itu, pendidikan karakter sendiri merupakan proses sadar dan terencana untuk menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan peserta didik. Lickona dalam (Mukarom, 2. menekankan bahwa pendidikan karakter mencakup tiga komponen utama yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Komponen-komponen ini menyatu dalam proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran nilai, sikap empatik, dan tindakan nyata. Dalam praktiknya, pendidikan karakter juga berperan sebagai benteng moral SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. yang mampu melindungi siswa dari pengaruh negatif seperti kekerasan, penyalahgunaan teknologi, dan perilaku menyimpang lainnya (Sanusi et al, 2. Dengan demikian, kolaborasi antara kepemimpinan transformasional dan sistem pembiasaan karakter seperti Gerakan 7 Kebiasaan menjadi sangat relevan dalam konteks pengembangan generasi muda yang utuh dan siap menghadapi tantangan zaman. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Bojongsoang, sebuah sekolah yang telah menerapkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat secara terstruktur di bawah kepemimpinan kepala sekolah yang mengedepankan gaya transformasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam implementasi kepemimpinan transformasional dalam mendukung gerakan tersebut, mengeksplorasi bentuk kepemimpinan yang dijalankan, dampaknya terhadap budaya karakter sekolah, serta faktor-faktor pendukung dan Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi kontribusi teoritis dan praktis dalam mengembangkan model kepemimpinan sekolah berbasis karakter yang berkelanjutan. TINJAUAN PUSTAKA Kepemimpinan Transformasional Gaya kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang merangasang dan menginspirasi . pengikutnya untuk hal yang luar biasa menurut Robbins dalam (As-Shidqi, 2. Dengan kepemimpinan transformasional, para pengikut merasakan kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan penghormatan terhadap pemimpin, serta mereka termotivasi untuk melaksanakan lebih daripada yang diharapkan mereka menurut Yukl dalam (Supriani, 2. Gaya kepemimpinan transformasional adalah tipe pemimpin yang menginspirasi para pengikutnya untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi mereka dan memiliki kemampuan mempengaruhi yang luar biasa menurut Indra Kharis dalam (Kurniawan, 2. Kepemimpinan transformasional menginspirasi pengikut mereka tidak hanya untuk mempercayai dirinya sendiri secara pribadi, tetapi juga mempercayai potensi mereka sendiri untuk mebayangkan dan menciptakan masa depan organisasi yanh lebih baik. Pemimpin transformasional mencipkan perubahan besar, baik dalam diri maupun organisasi mereka menurut Emron Edison dkk dalam (Abduloh et al, 2. Berdasarkan berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional mengubah kesadaran para pengikut akan persoalan-persoalan dengan membantu mereka memandang masalah lama dengan cara-cara baru, dan mereka mampu menggairahkan, membangkitkan, dan mengilhami para pengikut untuk mengeluarkan upaya ekstra dalam diri pengikut demi mencapai sasaran organisasi. Pendidikan Karakter Pendidikan Karakter menurut Albertus dikutip (Kartika, 2. adalah diberikannya tempat bagi kebebasan individu dalam mennghayati nilai-nilai yang dianggap sebagai baik, luhur, dan layak diperjuangkan sebagai pedoman bertingkah laku bagi kehidupan pribadi SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. berhadapan dengan dirinya, sesama dan Tuhan. Menurut Khan dalam (Judijanto, 2. bahwa pendidikan karakter adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik. Pendidikan karakter juga merupakan proses kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan budi harmoni yang selalu mengajarkan, membimbing, dan membina setiap menusiauntuk memiliki kompetensi intelektual, karakter, dan keterampilan menarik. Menurut Ramli dalam (Waluyo, 2. , pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga Negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik , dan warga Negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentuyang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Menurut Samani dan Hariyanto dalam (Arifudin, 2. menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga serta rasa dan karsa. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan karakter adalah proses menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalankan kehidupan. Dengan kata lain, peserta didik tidak hanya memahami pendidikan sebagai bentuk pengetahuan, namun juga menjadikan sebagai bagian dari hidup dan secara sadar hidup berdasarkan pada nilai METODE Menurut Rahardjo dikutip (Arifudin, 2. bahwa metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencari kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Oleh karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat untuk tujuan tertentu sesuai fenomena yang ada. Budiharto dikutip (Noviana, 2. bahwa pemilihan metode penelitian harus disesuaikan dengan penelitian yang sedang dilakukan agar hasilnya optimal. Penelitian ini terkait dengan Implementasi Kepemimpinan Transformasional Terhadap Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa metode studi kasus. Studi kasus menurut Nursalam dalam (Arifudin, 2. adalah merupakan penelitian yang mencakup pengkajian bertujuan memberikan gambaran secara mendetail mengenai latar belakang, sifat maupun karakter yang ada dari suatu kasus, dengan kata lain bahwa studi kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Penelitian dalam metode dilakukan secara mendalam terhadap suatu keadaan atau kondisi dengan cara sistematis mulai dari melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis informasi dan pelaporan hasil. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam (Arifudin, 2. menyatakan pendekatan kualitatif SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut (Tanjung, 2. bahwa caranya dengan mentranskripsikan data, kemudian pengkodean pada catatan-catatan yang ada di lapangan dan diinterpretasikan data tersebut untuk memperoleh kesimpulan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian lapangan . ield researc. Menurut (Suryana, 2. bahwa pendekatan ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis mengenai Implementasi Kepemimpinan Transformasional Terhadap Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Sehingga dengan metode tersebut akan mampu menjelaskan permasalahan dari penelitian (Wahrudin, 2. Bungin dikutip (Zaelani, 2. menjelaskan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan situasi, kondisi, atau fenomena sosial yang terdapat di masyarakat kemudian dijadikan sebagai objek penelitian, dan berusaha menarik realitas ke permukaan sebagai suatu mode atau gambaran mengenai kondisi atau situasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran Implementasi Kepemimpinan Transformasional Terhadap Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Penentuan teknik pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi. Wawancara dan Dokumentasi. Teknik dapat dilihat sebagai sarana untuk melakukan pekerjaan teknis dengan hatihati menggunakan pikiran untuk mencapai tujuan. Walaupun kajian sebenarnya merupakan upaya dalam lingkup ilmu pengetahuan, namun dilakukan untuk mengumpulkan data secara realistik secara sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Metodologi penelitian adalah sarana untuk menemukan obat untuk masalah apa pun. Dalam hal ini, penulis mengumpulkan informasi tentang analisis Implementasi Kepemimpinan Transformasional Terhadap Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, artikel, jurnal, skripsi, tesis, ebook, dan lain-lain (Iskandar, 2. Karena membutuhkan bahan dari perpustakaan untuk sumber datanya, maka penelitian ini memanfaatkan penelitian kepustakaan. Peneliti membutuhkan buku, artikel ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan topik dan masalah yang mereka jelajahi, baik cetak maupun online (Nuryana, 2. Mencari informasi dari sumber data memerlukan penggunaan teknik pengumpulan Amir Hamzah dalam (Rusmana, 2. mengklaim bahwa pendataan merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diteliti. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk mengumpulkan data. Secara khusus, penulis memulai dengan perpustakaan untuk mengumpulkan informasi dari buku, kamus, jurnal, ensiklopedi, makalah, terbitan berkala, dan sumber lainnya yang membagikan pandangan Implementasi Kepemimpinan Transformasional Terhadap Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Lebih lanjut Amir Hamzah mengatakan bahwa pengumpulan data diartikan berbagai usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berkaitan dengan topik atau pembahasan yang SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. sedang atau akan digali (Sofyan, 2. Rincian tersebut dapat ditemukan dalam literatur ilmiah, penelitian, dan tulisan-tulisan ilmiah, disertasi, tesis, dan sumber tertulis lainnya. Menurut (Supriani, 2. bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, menggunakan sumber yang berbeda, dan menggunakan teknik yang berbeda. Observasi adalah bagian dari proses penelitian secara langsung terhadap fenomenafenomena yang hendak diteliti (Syofiyanti, 2. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat dan merasakan secara langsung suasana dan kondisi subyek penelitian (Afifah, 2. Halhal yang diamati dalam penelitian ini adalah tentang analisis Implementasi Kepemimpinan Transformasional Terhadap Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Teknik wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan berbagai pedoman baku yang telah ditetapkan, pertanyaan disusun sesuai dengan kebutuhan informasi dan setiap pertanyaan yang diperlukan dalam mengungkap setiap data-data empiris (As-Shidqi, 2. Dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui dokumen atau catatan-catatan tertulis yang ada (Supriani, 2. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, notula rapat, dan catatan Menurut Moleong dalam (Zulfa, 2. bahwa metode dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi atau data-data melalui pengujian arsip dan dokumen-dokumen. Lebih lanjut menurut (Aidah, 2. bahwa strategi dokumentasi juga merupakan teknik pengumpulan data yang diajukan kepada subyek penelitian. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang keadaan lembaga . byek penelitia. yaitu analisis Implementasi Kepemimpinan Transformasional Terhadap Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Moleong dikutip (Delvina, 2. menjelaskan bahwa data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun Syarifah et al dalam (Nasril, 2. menjelaskan reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi yang relevan, penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi yang sistematis, dan kesimpulan ditarik berdasarkan temuan penelitian. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yakni membandingkan informasi dari para narasumber. Menurut Moleong dalam (Romdoniyah, 2. , triangulasi sumber membantu meningkatkan validitas hasil penelitian dengan membandingkan berbagai perspektif terhadap fenomena yang diteliti. Menurut Muhadjir dalam (Nita, 2. menyatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan melakukan, mencari dan menyusun catatan temuan secara sistematis melalui pengamatan dan wawancara sehingga peneliti fokus terhadap penelitian yang dikajinya. Setelah itu, menjadikan sebuah bahan temuan untuk orang lain, mengedit, mengklasifikasi, dan menyajikannya. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi meliputi teknik dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dalam (Kartika, 2. terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional dalam empat tahap manajerial: Perencanaan: Kepala sekolah menyusun program bersama tim dengan mengintegrasikan nilai-nilai 7 kebiasaan ke dalam visi sekolah dan kurikulum. Pengorganisasian: Dibentuk tim pelaksana yang terdiri dari guru dan siswa sebagai duta 7KAIH, dengan distribusi peran yang jelas. Pelaksanaan: Pembiasaan dilakukan melalui kegiatan seperti sapa pagi, sholat duha, senam sehat, makan bergizi, dan literasi Al-QurAoan. Pengawasan: Monitoring dilakukan melalui jurnal kebiasaan, observasi kelas, dan evaluasi reflektif, meskipun sistem penghargaan masih perlu diperkuat. Berikut merupakan kegiatan pembiasaan yang sudah berjalan di SMP Negeri 1 Bojongsoang: SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Kepemimpinan transformasional kepala sekolah terbukti efektif dalam membangun budaya karakter melalui pembiasaan. Idealized Influence tercermin dari keteladanan kepala sekolah dan guru. Inspirational Motivation terlihat dari upaya pemberian visi dan semangat kolektif kepada warga sekolah. Intellectual Stimulation diwujudkan melalui pelatihan dan forum reflektif guru, sementara Individualized Consideration terlihat dalam pemantauan pribadi siswa melalui jurnal dan umpan balik wali kelas. Dalam dunia pendidikan, kepemimpinan transformasional harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional kepala sekolah. Nur Efendi dikutip (Kartika, 2. menjelaskan tujuh prinsip tersebut, sebagai berikut: Simplifikasi, yaitu keberhasilan dan kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan menjadi cermin dan tujuan bersama. Kemampuan dan keterampilan dalam mengungkapkan visi secara jelas, praktis dan tentu saja transformasional yang dapat menjawab Aukemana kita akan melangkah?Ay menjadi hal utama yang penting untuk kita Motivasi, yaitu kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi. Pada saat pemimpin transformasional dapat menciptakan suatu sinergis di dalam organisasi, berarti seharusnya ia dapat pula mengoptimalkan, memotivasi dan memberi energi kepada setiap bawahannya. Fasilitas, yaitu kemampuan untuk secara efektif memfasilitasi AupembelajaranAy yang terjadi di dalam organisasi secara kelembagaan, kelompok maupun individu. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual dari setiap orang yang terlibat di dalamnya. Inovasi, yaitu kemampuan untuk berani dan bertanggungjawab melakukan perubahan bilamana diperlukan dan menjadi suatu tuntutan dengan perubahan yang terjadi. Dalam suatu organisasi pendidikan yang efektif dan efisien, setiap orang yang terlibat perlu mengantisipasi perubahan dan seharusnya pula mereka tidak takut akan perubahan Dalam kasus tertentu pemimpin transformasional perlu sigap untuk merespons perubahan tanpa mengorbankan rasa kepercayaan dan tim kerja yang sudah dibangun. Mobilitas, yaitu pengerahan semua sumber daya yang ada untuk melengkapi dan memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya untuk mencapai visi dan tujuan. Pemimpin transformasional akan selalu mengupayakan pengikut yang penuh dengan Siap siaga, yaitu kemampuan untuk selalu siap belajar tentang diri mereka sendiri dan menyambut perubahan dengan paradigma baru yang positif. Tekad, yaitu tekad bulat untuk selalu sampai pada akhir, tekad bulat untuk menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas. Untuk itu perlu pula didukung oleh pengembangkan disiplin spiritualitas, emosi dan fisik, serta komitmen. Dengan memperhatikan ketujuh prinsip kepemimpinan transformasional dan memiliki ketiga keterampilan tersebut, pemimpin transformasional di lembaga pendidikan akan mampu menggiring komponen lembaga pendidikan yang dipimpinannya ke arah stage pertumbuhan sensitivitas pembinaan dan pengembangan organisasi pendidikan. Oleh karena SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Baharuddin dalam (Farid, 2. menjelaskan bahwa aspek-aspek yang dilakukan oleh kepemimpinan transformasional akan memunculkan kepercayaan dari bawahan, sehingga menumbuhkan sikap kepatuhan, kesetiaan dan rasa hormat bawahan terhadap pimpinan. Penelitian lain dari (Komariah et al, 2. bahwa pendidikan karakter harus diintegrasikan secara eksplisit ke dalam kurikulum dan dilaksanakan secara kolaboratif. Strategi kepala sekolah yang menekankan nilai gotong royong dan penghargaan terhadap keberagaman sejalan dengan rekomendasi yaitu pentingnya pendidikan karakter untuk membentuk identitas kolektif bangsa. Gerakan ini juga melibatkan keluarga dan masyarakat. Keterlibatan orang tua dalam jurnal harian menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga rumah. Kolaborasi ini memperkuat keberhasilan transformasi budaya Namun demikian, sistem penghargaan terhadap siswa yang berhasil menunjukkan konsistensi dalam kebiasaan positif masih minim, sehingga menjadi area pengembangan Seperti yang dijelaskan oleh Wursanto dalam (Arifudin, 2. , pendidikan karakter secara mental dan spiritual berakar dari lingkungan keluarga, sementara sekolah mengembangkannya secara akademis dan konseptual agar arah perkembangan anak menjadi lebih terarah. Ketiga lingkungan pendidikan ini perlu bekerja sama secara terpadu untuk mencapai tujuan bersama, yaitu membentuk pribadi yang unggul dan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Oleh karena itu, pendidikan karakter memiliki urgensi tinggi untuk segera dilaksanakan demi menyelamatkan generasi muda dari degradasi moral. PENUTUP Kesimpulan Implementasi kepemimpinan transformasional oleh kepala sekolah di SMP Negeri 1 Bojongsoang terbukti efektif dalam mendorong penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kepala sekolah mampu menginisiasi, mengorganisasi, melaksanakan, dan mengawasi program secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Melalui pendekatan kolaboratif, keteladanan, pemberdayaan, serta monitoring yang konsisten, gerakan ini telah memberikan dampak positif terhadap perubahan karakter dan perilaku siswa di lingkungan sekolah dan rumah. Saran Sekolah perlu mengembangkan sistem penghargaan untuk memperkuat motivasi Guru diharapkan terus menjadi teladan dan mengintegrasikan nilai karakter dalam Orang tua dan masyarakat perlu melanjutkan pembiasaan karakter di rumah dan lingkungan sekitar. Peneliti lanjutan disarankan mengembangkan instrumen kuantitatif untuk mengukur pengaruh jangka panjang kepemimpinan transformasional terhadap karakter siswa. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP PENERAPAN GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT Maman Suherman et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. DAFTAR PUSTAKA