Struktur Tanda Pembentuk Sakralitas Sumur 7 Objek Wisata Cibulan Eko Budi Prasetyo1. Yanti Heriyawati2. Sukmawati Saleh3 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 ekobpwork@gmail. com, 2yheriya@gmail. com, sukmawatisaleh. isbi@gmail. ABSTRACT Sumur 7 Cibulan Kuningan. West Java, is a religious tourism object which is rarely deserted by One of the factors is that Sumur 7 is believed as the remains of King Siliwangi. The focus of the study is on identifying the signs at Sumur 7 area as a form of sacredness believed by the community. Ferdinand de SaussureAos semiotics is used to analyze the structure of the sacred formation signs at Sumur 7. The concept of SaussureAos semiotics is a system of sign dichotomy, namely signifier and Signifier is the material aspect while signified is the mental aspect. The finding shows that the naming of Sumur 7 and positioning of the serial numbers of the visits are signs which are related to the myth of Prabu Siliwangi and the concept of Tritangtu Sunda. The relationship of these signs forms the communityAos belief system towards the sacredness of Sumur 7 Cibulan. Keyword: Sumur 7. Prabu Siliwangi, semiotics, sacred. Tritangtu ABSTRAK Sumur 7 Cibulan Kuningan Jawa Barat adalah objek wisata religi yang tidak pernah sepi dikunjungi masyarakat. Salah satu faktornya. Sumur 7 ini lekat dengan mitos yang diyakini masyarakat sebagai salah satu petilasan Prabu Siliwangi. Fokus kajian ini pada identifikasi tanda-tanda yang terdapat di area Sumur 7 sebagai pembentuk sakralitas yang diyakini oleh masyarakatnya. Semiotika Ferdinand de Saussure digunakan untuk menganalisis struktur pembentukan tanda sakralitas pada Sumur 7. Konsep dasar dari semiotika Saussure adalah sistem dikotomi tanda yakni penanda dan petanda. Penanda merupakan aspek material sedangkan petanda merupakan aspek mental. Ditemukan bahwa, penamaan ketujuh sumur dan pemetaan atau penempatan nomor urut tahapan kunjungan merupakan tanda-tanda yang memiliki relasi dengan mitos Prabu Siliwangi dan konsep Tritangtu Sunda. Relasi tanda-tanda inilah yang membentuk sistem keyakinan masyarakat terhadap sakralitas Sumur 7 Cibulan. Kata Kunci: Sumur 7. Prabu Siliwangi. Semiotika. Sakralitas. Tritangtu. PENDAHULUAN Latar Belakang Yoety . 7: . menjelaskan terdapat pembagian jenis pariwisata berdasarkan objeknya, yakni cultural tourism, recuparational tourism, commercial tourism, sport tourism, religion tourism. Sumur 7 dapat dikategorikan sebagai wisata religi yang tidak hanya terkenal di Kabupaten Kuningan tetapi juga terkenal sampai luar daerah Objek Wisata Cibulan merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Kabupaten Kuningan. Selain menyajikan wisata kolam pemandian yang dihuni oleh ikan Dewa, objek Wisata Cibulan juga memiliki Sumur 7 yang tidak pernah berhenti dikunjungi Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 Sumur 7 wisata religi karena diyakini sebagai tempat yang sakral dan suci. Kepercayaan penduduk setempat terhadap keberkahan air dari mata air Sumur 7 dan kepercayaan terhadap mitos petilasan Prabu Siliwangi, menguatkan niat para pengunjung untuk sering datang Sumur 7 juga dianggap sakral dan suci. Kepercayaan ini menjadikan Sumur 7 sering didatangi para wisatawan untuk berziarah. Terdapat dua tipe dalam ziarah yang dilakukan para wisatawan ke tempat-tempat suci. Pertama yaitu ziarah atau wisata religi yang murni karena alasan emotif dan sentimental. Biasanya tipe ziarah seperti ini berwujud pengayaan spiritual seperti mengikuti upacara keagamaan, mendengarkan ceramah, atau mendatangi tempat atau makam dari tokoh agama. Kedua yaitu ziarah atau wisata religi yang berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari. Tipe ziarah ini biasanya digunakan untuk mendapatkan kemudahan atau keuntungan seperti kesehatan, penyembuhan penyakit bahkan meminta kesuburan. Pada pelaksanaan tipe ziarah ini, biasanya ada peleburan tata cara dengan tradisi lokal sehingga ada sebagian masyarakat yang menganggap kegiatan ini sesat atau berbau syirik (Timothy dan Iverson dalam Fawaid, 2010: . Kunjungan warga terhadap sumur 7 sebagai wisata religi berdasarkan kuatnya kepercayaan terhadap tempat yang dianggap sakral dan memberikan keberkahan. Menurut Eliade . 2: . bagi manusia religius, ruang tidaklah homogen, ia mengalami interupsi, perubahan di dalamnya dan ada beberapa bagian ruang yang berbeda secara kualitatif dari yang lain. Ini menunjukan bahwa ada sebuah tempat atau area yang memiliki nilai lebih secara kualitasnya . yang membedakan dengan tempat lain yang ada dalam kehidupan sehari-hari . Eliade menjelaskan . 1: . pengertian sakral merupakan lawan dari profan. Eliade . 2: 3-. juga menjelaskan bahwasanya yang sakral manifestasikan dirinya sebagai sesuatu yang berbeda dari hal-hal yang ada di kehidupan seharihari . Manifestasi dari kesakralan disebut sebagai hirofani. Hirofani merupakan sebuah konsep bahwa sesuatu yang sakral menunjukan dirinya kepada Hirofani bisa dilihat dari objekobjek yang ada di dunia alami manusia seperti batu, pohon dan lainnya. Mata air sumur 7 dapat dikategorikan sebagai sebuah hirofani. Ini didasari atas keyakinan masyarakat akan keberkahan yang bisa didapat setelah membasuh atau membawa air dari mata air Sumur 7. Keberkahan tidak bisa datang dengan sendirinya. Keberkahan didatangkan oleh Sang Pencipta sebagai bentuk kuasa-Nya. Oleh sebab itu mata air Sumur 7 merupakan bentuk manifestasi atau sarana dari kekuatan Sang Pencipta. Dalam menentukan tempat yang sakral, dibutuhkan tanda-tanda yang bisa dijadikan sebuah manifestasi dari suatu kekuatan yang bukan dari dunia alami kita. Ketika tanda tersebut tidak ditemukan, maka tanda itu harus dicari atau dihadirkan. Dengan kata lain manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih lokasi sakral, mereka hanya mencarinya dan menemukannya dengan bantuan tandatanda misterius (Eliade, 2002: . Tanda inilah yang dicari dalam pembentukan sakralitas Sumur 7. Fenomena objek wisata sumur 7 menarik dikaji trutama bagaimana tandatanda pembentuk makna berdasarkan relasi objek wisata dan pengunjungnya. Kajian ini dilakukan dengan pendekatan Prasetyo. Heriyawati. Saleh: Struktur Tanda Pembentuk Sakralitas Sumur 7 Objek Wisata Cibulan penanda dan petanda dari Ferdinand de Saussure. Ferdinand de Saussure disebut sebagai pendiri linguistik modern. Dia merupakan sarjana dan tokoh besar asal Swiss. Saussure banyak dikenal tentang teorinya mengenai tanda. Sistem dikotomi tanda merupakan konsep yang mendasari semiotika Saussure. Sistem dikotomi tersebut yaitu penanda dan Penanda dan petanda selalu ada secara bersama-sama. Hubungan antara penanda dan petanda disebut pemaknaan atau makna yang diinginkan, dengan demikian, telah jelas bahwa Saussure dalam bidang linguistiknya memakai dikotomi penanda dan petanda (Pradopo, 2009: . Tanda-tanda pada Sumur 7 dicari , dan dibaca unsur penanda dan petandanya. Tanda tersebut tidak hanya dalam bentuk fisik saja, tetapi sebuah tanda juga bisa dilihat dari penamaan, urutan, bahkan cerita rakyat atau mitos. Setelah menemukan tanda-tanda yang bisa dibaca, kita bisa melihat maksud dan tujuan dari sebuah tanda tersebut dan relasinya dalam pembentukan sakralitas Sumur 7. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono . , metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Studi Pustaka untuk mencari data dari penelitian-penelitian terdahulu yang mempunyai relevansi data yang sesuai dengan topik kajian yang Observasi untuk melihat langsung objek yang akan dikaji guna mendapatkan data berdasarkan pengalaman yang didapat di tempat objek kajian itu berada. Data tersebut seperti tanda-tanda yang memiliki makna yang bisa dijadikan faktor pembentuk sakralitas. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data langsung dari narasumber. Dokumentasi berguna untuk mendapatkan data-data berupa tulisan dan gambar yang berkaitan dengan objek kajian. Data ini dikumpulkan dan dikaji guna mendapatkan informasi yang diperlukan dalam kajian. Ada beberapa kajian terdahulu yang membahas mengenai sumur 7. Di antaranya yaitu Jurnal Biologi Indonesia yang berjudul AuPeran Adat dan Penyakralan Mata Air Terhadap Konservasi Air di Lereng CiremaiAy. Jurnal ini ditulis oleh Mas Noerdjito. Mohammad Fathi Royyani , dan Hawal Widodo yang membahas mengenai pentingnya upacara adat untuk kelestarian sumber daya air di Kuningan. Ada juga kajian berupa skripsi berjudul AuTafsir Simbolik Dan Makna Terhadap Upacara Adat Kawin Cai Di Desa Babakanmulya. Kecamatan Jalaksana. Kabupaten KuninganAy yang ditulis oleh Prega Panji Buana. Skripsi ini lebih membahas tafsir simbolik pada upacara Kawin Cai yang mana sumur 7 terlibat di dalamnya. Kajian-kajian terdahulu belum ada secara spesifik membahas mengenai kesakralan Sumur 7. Meskipun ada pembahasan mengenai sumur 7, tetapi elaborasi mengenai sakralitasnya sangat sedikit. Maka dari itu kajian ini akan difokuskan pada struktur tanda pembentuk sakralitas HASIL DAN PEMBAHASAN Sumur 7 Sebagai Wisata Religi Sumur 7 ini merupakan salah satu objek wisata religi yang berada di dalam objek wisata Cibulan Desa Manis Kidul Kecamatan Jalaksana Kabupaten Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 Kuningan. Sumur 7 sering dikunjungi oleh para wisatawan baik dari daerah Kuningan maupun luar daerah Kuningan. Objek Wisata Cibulan khususnya Sumur 7 ramai dikunjungi pada hari libur dan akhir pekan. Hari-hari tersebut biasanya dikunjungi oleh para peziarah yang datang dengan rombongan. Ada hari selain hari libur dan akhir pekan yang ramai dikunjungi oleh para peziarah yaitu hari yang bertepatan dengan hari kliwon. Menurut Bapak Mumuh selaku pengurus Sumur 7, bahwa setiap hari kliwon diadakan syukuran dan memanjatkan doa yang di pimpin oleh kuncen Sumur 7. Dinamakan Sumur 7 karena jumlah mata air yang terdapat di dalamnya berjumlah 7 dan berbentuk kolam kecil menyerupai dengan sumur. Sumur 7 memiliki nama pada masingmasing sumurnya. Nama-nama tersebut yaitu . Sumur Kejayaan. Sumur Keselamatan. Sumur Pengabulan. Sumur Kemuliaan. Sumur Cisadane. Sumur Cirancana. Sumur Kemudahan. Nama-nama ini bisa dilihat pada tugu yang ada di area Sumur 7. Luas dari sumur-sumur tersebut relatif sama sekitar 1x1 m sampai 1. 5 m dan sumur yang paling luas yaitu sumur ke-7 atau sumur kemudahan memiliki luas 3x5 m. Selain mata air Sumur 7 ada juga sebuah Petilasan di area tersebut. Petilasan tersebut diyakini merupakan petilasan dari Prabu Siliwangi yang merupakan raja dari kerajaan Pajajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata petilasan adalah bekas peninggalan . mumnya yang bersejara. , istana, pekuburan, dan Petilasan tersebut berupa susunan batu yang dikelilingi oleh mata air Sumur 7. Ada sebuah bangunan khusus untuk melindungi area petilasan. Bangunan tersebut selain bertujuan untuk melindungi petilasan, juga digunakan oleh para peziarah untuk memanjatkan doa. Pengunjung yang datang ke Sumur 7 bertujuan untuk mencari keberkahan dengan melakukan beberapa ritual. Ritual tersebut yaitu dengan mengunjungi setiap sumur dan membasuh bagian badan dengan mengucapakan basmallah atau sholawat. Air dari setiap sumur juga dimasukan kesebuah jerigen berukuran 2 liter yang jerigennya bisa dibeli di area Sumur 7. Air yang berada di dalam jerigen lalu dibawa kedalam bangunan yang didalamnya terdapat petilasan Prabu Siliwangi. Di area petilasan dilakukanlah doa kepada Tuhan yang maha kuasa dipimpin oleh kuncen Sumur 7. Setipa pengunjung bergantian memanjatkan doa dengan dibantu oleh Gambar 1. Tugu Sumur 7 (Dokumentasi: Eko Budi Prasetyo, 2. Prasetyo. Heriyawati. Saleh: Struktur Tanda Pembentuk Sakralitas Sumur 7 Objek Wisata Cibulan kuncen didalam bangunan petilasan. Bangunan tersebut bisa menampung 6-8 orang didalamnya dan terus bergantian dengan pengunjung yang menunggu giliran di area luar bangunan. Setelah ritual selesai pengunjung bisa membawa pulang air dari Sumur 7 yang sudah diberi doa oleh Jubaenah salah satu pengunjung Sumur 7 mengatakan bahwa dengan dirinya berziarah ke sumur 7 dan memanjatkan doa disana, jubaenah berharapa bisa mendapatkan keberkahan, kesehatan dan kelancaran dalam menjalani hidup. Air dari sumur 7 yang dibawa pulang bisa dipakai untuk mandi atau diminum dengan berharap adanya keberkahan yang didapat. Mitos-mitos tersebut hampir tidak terlepas dari hal-hal yang berbau supranatural. Begitu juga mitos yang berkembang di masyarakat Kabupaten Kuningan. Ada satu mitos diceritakan oleh Eyang Suhada selaku kuncen Sumur 7 mengenai petilasan Prabu Siliwangi yang berada di area Sumur Diceritakan Prabu Siliwangi menikah dengan gadis Manis dan bertapa karena memerlukan air untuk hidup. Selama 40 hari 40 malam. Prabu Siliwangi bertapa untuk meminta air. JumAoat pertama yang disebut JumAoat kliwon dan diberikanlah sumber mata air pertama yang disebut Kemudian di JumAoat yang kedua diberikan sumber mata air kedua yang disebut keselamatan. JumAoat ketiga pengabulan. JumAoat keempat kemuliaan. JumAoat kelima pengasihan. JumAoat keenam kesaktian atau cirencana, dan JumAoat ketujuh keagungan atau kemudahan. Menurut buku Babad Pakuan atau Babad Pajajaran . yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Prabu Siliwangi mempunyai 151 Dilihat dari mitos yang diceritakan bahwa Prabu Siliwangi bertapa untuk meminta air kepada sesuatu yang mempunyai kekuatan di luar bagian dunia kita. Hasil dari bertapa selama 40 hari yaitu munculnya sumber mata air di area tersebut. Tempat tersebut dikenal sebagai Sumur 7. Munculnya mata air merupakan sebuah tanda yang diberikan oleh suatu kekuatan di luar dunia manusia. Tanda ini dijadikan sebuah penanda akan pertanda adanya sebuah hirofani. Dengan adanya sebuah hirofani, maka area pertapaan yang kini dikenal sebagai Sumur 7 bisa dikatakan mempunyai nilai lebih secara kualitatif atau menjadi ruang sakral. Kejadian ini juga dimaknai secara religius sebagai sesuatu yang bukan bagian dari dunia ini telah Tanda-tanda Pembentuk Sakralitas Sumur 7 Penyakralan sebuah tempat, tentu saja tidak terlepas dari tanda-tanda pembentuknya. Sama halnya dengan penyakralan Sumur 7 yang dilakukan oleh masyarakat Kuningan. Penyakralan ini bisa dilihat dari kepercayaan akan mitos yang beredar di masyarakat serta tanda-tanda yang berkaitan dengan pembentuk sakralitas. Mitos Prabu Siliwangi Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja merupakan raja yang memerintah Pakuan Pajajaran selama 39 tahun . Seperti yang dijelaskan dalam prasasti bahwa Sri Baduga mengalami dua kali penobatan. Awalnya Sri Baduga dinobatkan dengan memakai nama Prabu Guru Dewataprana. Ketika dinobatkan untuk yang kedua kalinya namanya pun berubah menjadi Siliwangi. Nama raja yang resmi dalam bahasa sunda sering disebut Wawangi (Danasamita, 2015: . Sebagai seorang tokoh yang sangat dihormati ditanah Pasundan sampai sekarang, banyak mitos yang berkembang di beberapa daerah mengenai Prabu Siliwangi. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 memanifestasikan dirinya dengan penuh kepastian dan juga telah mengindikasikan sebuah orientasi atau menentukan aturan tingkah laku (Eliade, 2002: . Unsur Tritangtu Pada Sakralitas Sumur 7 Dasar filosofis dari masyarakat Sunda sering disebut dengan Tritangtu atau hubungan pola tiga. Akar dari Tritangtu menghasilkan kenyataan-kenyataan yang tumbuh pada masyarakat Sunda. Tritangtu atau pola tiga yaitu mengawinkan dua hal yang berbeda dan menghasilkan satu harmoni dari keduanya. Istilah tritangtu disebutkan dalam naskah Sunda lama. Sang Hyang Siksakandang Karesian . pada lempir 26 Auini tri tangtu di bumi. Bayu Pinahka Prebu, sabda pinahka rama, hedap pinahka reiAy . nilah tiga ketentuan Kesentosaan kita ibarat raja, ucap kita ibarat rama, budi kita ibarat res. (Sumardjo, 2019: . Naskah tersebut memperlihatkan bahwa Tritangtu memiliki unsur bayu, sabda, hedap atau istilah Sunda sekarang lebih dikenal dengan lampah, ucap, dan tekad. Lampah, ucap, tekad bisa diartikan sebagai sesuatu yang hidup atau Sang Hyang Hurip. Inilah alasan mengapa dalam budaya Sunda segala sesuatu dibagi menjadi tiga ketentuan agar segala sesuatu bisa hurip atau dalam artian selamat, sehat, sejahtera, sempurna, baik dan benar. Sebuah tempat disebut keramat atau sakral karena adanya kehadiran Sang Hyang Hurip di tempat tersebut. Sang Hyang Hurip berdasarkan mitologi Baduy terdiri dari Batara Kersa . ekad, kehenda. Batara Kawasa . ampah, tenaga, energ. , dan Batara Bima Mahakarna . cap dan pikira. Ketiga entitas tersebut menjadi satu kesatuan yang disebut sebagai Batara Tunggal atau disebut juga sebagai Sang Hyang Hurip dalam kitab Sawaka Darma. Ada syarat tertentu agar Sang Hyang Hurip bisa hadir di suatu tempat atau Syarat yang harus ada adalah tempat tersebut harus memiliki simbol Tekad. Ucap, dan Lampah. Simbol tekad atau langit adalah sumber mata air, simbol Lampah atau bumi diwakilkan dengan adanya hutan atau pohon-pohon besar di sekelilingnya, sedangkan untuk simbol Ucap sebagai dunia manusia harus lah ada susunan batu-batu besarnya (Sumardjo, 2019: . Tanda/Simbol Tekad Sumber Mata Air Sumur 7 Ucap Batu Petilasan Lampah Hutan atau Pohon Besar Tabel 1. Simbol Tekad Ucap Lampah Area Sumur 7 Dilihat dari tanda yang harus dimiliki sebuah tempat yang sakral. Sumur 7 memiliki tanda atau simbol dari Tekad. Ucap, dan Lampah tersebut di dalamnya. Tekad. Ucap. Lampah juga merupakan unsur dari Tritangtu. Gambar 2. Mata Air Sumur 7 (Dokumentasi: Eko Budi Prasetyo, 2. Prasetyo. Heriyawati. Saleh: Struktur Tanda Pembentuk Sakralitas Sumur 7 Objek Wisata Cibulan Sumber mata air merupakan simbol dari Tekad. Sumber mata air disebut juga merupakan simbol yang mewakili langit. Ini karena air yang menguap menjadi awan yang nantinya akan menurunkan hujan. Sesuai dengan namanya sumur 7, terdapat 7 sumber mata air di area tersebut. Setiap mata air memiliki nama tersendiri. Nama-nama sumur 7 tersebut adalah . Sumur Kejayaan. Sumur Keselamatan. Sumur Pengabulan. Sumur Kemuliaan. Sumur Cisadane. Sumur Cirancana. sumur kemudahan. Nama-nama tersebut juga mewakili keinginan atau Tekad. Terakhir merupakan simbol dari Ucap yang merupakan simbol dari manusia. area sumur 7 terdapat susunan batu yang diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi. Susunan batu tersebut berupa batu tegak dan batu pipih yang sekarang ditutupi oleh kain putih. Susunan batu tersebut berada di dalam sebuah bangunan yang di bangun khusus untuk melindungi susunan batu Peta Sumur 7 Gambar 5. Peta Sumur 7 (Dokumentasi: Eko Budi Prasetyo, 2. Jika dilihat dari gambar peta Sumur 7 diatas, susunan batu atau petilasan dikelilingi oleh sumber mata air sumur 7 dan dekat dengan hutan atau pepohonan besar di sekitarnya. Susunan batu tersebut merupakan pancer atau harmoni dari perkawinan simbol langit yang berupa sumber mata air dan bumi yang berupa pohon besar atau hutan. Gambar 3. Pohon Bunut Sektiran Area Sumur 7 (Dokumentasi: Eko Budi Prasetyo, 2. Simbol lampah yang berupa hutan atau pohon-pohon besar juga terdapat di area Pohon-pohon besar berada di sekitaran area dari sumur 7. Jenis pohon tersebut merupakan jenis Pohon Bunut yang berumur lebih dari 50 tahun. Gambar 4. Batu Petilasan Prabu Siliwangi (Dokumentasi: Eko Budi Prasetyo, 2. Bagan 1. Tritangtu Area Sumur 7 Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 Mitos Prabu Siliwangi yang di ceritakan Eyang Suhada juga memiliki relasi dengan unsur Tritangtu. Dilihat dari mitos yang diceritakan keluarnya mata air, batu tempat bertapa, dan area pepohonan yang ada di area pertapaan memperlihatkan simbol dari Tekad. Ucap Lampah pembentuk Tritangtu. Berdasarkan dari simbol-simbol yang ada, maka Sumur 7 memiliki unsur Tritangtu dan merupakan tempat yang sakral karena Sang Hyang Hurip bisa hadir di sana. naan dibalik setiap nama sumur mewakili doa-doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta. Sumur Kejayaan Sumur kejayaan dimaknai sebagai sumur yang bisa memberikan atau membantu manusia mendapatkan kesuksesan. Manusia selalu berusaha mencapai apa yang mereka inginkan. Dengan mendatangi sumur kejayaan diharapkan akan diberikan keberhasilan dalam setiap usaha mereka. Sumur Keselamatan Sumur keselamatan bisa dimaknai sebagai sumur yang bisa menjaga dan menjauhkan manusia dari marabahaya. Dalam hidup pasti tidak selamanya dalam keadaan tenang ataupun damai. Ada saat dimana manusia mengalami hal-hal buruk dalam menjalani hidupnya. Sumur Pengabulan Setiap manusia pasti mempunyai sesuatu yang mereka harapkan. Harapan ini menjadi doa yang dipanjatkan kepada tuhan yang maha Esa. Sumur Pengabulan bisa dimaknai sebagai sumur yang menjadi salah satu jembatan antara doa yang dipanjatkan oleh manusia kepada tuhan yang maha Esa. Tetapi hal yang tidak boleh dilupakan adalah pengabulan bukan datang dari sumur tersebut, tetapi sebagai media dalam memanjatkan doa dikarenakan kepercayaan akan kesakralan tempat Sumur Kemuliaan Sumur Kemuliaan bisa dimaknai sebagai sumur yang bisa membantu manusia menjadi manusia yang lebih baik atau menjadi manusia yang Mulia disini tidak hanya sebatas posisi atau keberadaan di lingkungan Makna dibalik Penamaan Sumur 7 Nama merupakan sesuatu yang dipahami dan disebut oleh seseorang berupa kata, istilah, atau ungkapan yang bisa digunakan untuk mengenali seseorang atau sesuatu dari yang lainnya (Hofmann, 1993: Pemberian sebuah nama memiliki makna di baliknya. Penamaan tidak terbatas hanya untuk manusia saja tetapi juga untuk objek-objek lainnya. Pemberian nama untuk sebuah objek dapat dilihat dari sifat objek tersebut. Selain itu nama bisa dijadikan sebagai sebuah penanda terhadap sesuatu makna atau pertanda yang ditujukan untuk objek tersebut. Inilah mengapa pemberian sebuah nama bisa merujuk terhadap ide-ide yang abstrak, seperti budaya, masyarakat, nilai, cita-cita, harapan, dan doa (Cavallaro, 2. Penamaan pada setiap mata air atau sumur yang ada di area Sumur 7 dapat dijelaskan maksud dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nama merupakan sebuah tanda yang terdapat makna yang ingin disampaikan. Makna ini yang membuat sebuah nama begitu penting dan dihargai. Nama dari masing-masing sumur 7 menurut Bapak Mumuh Selaku pengurus Sumur 7 merupakan sebuah doa. Pemak- Prasetyo. Heriyawati. Saleh: Struktur Tanda Pembentuk Sakralitas Sumur 7 Objek Wisata Cibulan masyarakat saja, tetapi secara spiritual bisa menjadi manusia yang lebih baik di mata yang maha kuasa. Sumur Cisadane Sumur Cisadane bisa diartikan juga sebagai Sumur Pengasihan. Sumur ini bisa dimaknai sebagai sumur yang penuh welas asih terhadap sesama mahluk hidup. Dengan mengunjungi sumur ini diharapkan bisa menjadi manusia yang penuh dengan kasih sayang kepada sesama manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini. Sumur Cirancana Sumur Cirancana atau bisa disebut juga sebagai Sumur Kesaktian merupakan sumur yang dipercayai dapat memberikan kemampuan kepada yang Kemampuan tersebut bisa dalam hal kemampuan secara kebatinan atau kemampuan untuk menyelesaikan urusan-urusan duniawi mereka. Sumur Kemudahan. Dalam menjalani hidup pastilah melewati banyak rintangan dan Akan selalu ada kendala ketika kita berbicara mengenai urusan yang ada di dunia. Sumur kemudahan mempunyai makna sebagai sumur yang bisa mempermudah manusia dengan urusan-urusannya di dunia. Masyarakat Sumur Kemudahan bisa membantu mereka dalam menjalani hidup dan membantu melancarkan segala urusan di dunia maupun di akhirat. Gambar 6. Peta Arah Urutan Sumur 7 (Dokumentasi: Eko Budi Prasetyo, 2. Urutan dan posisi penomoran Sumur 7 mengarah dari sebelah kiri menuju kanan atau berlawanan arah jarum jam. Arah ini merupakan sebuah penanda. Menurut Jakob Sumardjo urutan yang berlawanan dengan arah jarum jam merupakan sebuah pertanda mengenai hubungan dari atas ke Hubungan dari atas ke bawah ini bisa di artikan sebagai hubungan dari Sang Pencipta kepada manusia. sebaliknya jika urutan searah dengan jarum jam itu bisa diartikan sebagai hubungan dari bawah ke atas atau dari manusia kepada Sang Pencipta. Makna dari arah urutan sumur 7 memiliki relasi dengan mitos Prabu Siliwangi dan penamaan Sumur 7. Hubungan dari Sang Pencipta kepada manusia dapat diartikan bahwa Sang Pencipta telah menurunkan rahmat-Nya kepada Makna ini selaras dengan mitos yang diceritakan bahwa Prabu Siliwangi bertapa di area sumur 7 dan Sang Pencipta memberikan rahmat-Nya berupa sumber mata air kepada Prabu Siliwangi. Oleh sebab itu jika kita melihat nama-nama dari Sumur 7, nama-nama tersebut sangat erat Selain dari penamaan, posisi dan urutan dari Sumur 7 juga mempunyai sebuah makna di dalamnya. Urutan tersebut bisa jadi sebuah penanda akan suatu pertanda yang bisa dibaca. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 Simbol Lampah atau bumi diwakili oleh kaitannya dengan rahmat dan keberkahan untuk memperlancar urusan manusia di adanya pohon besar berjenis Bunut di area sumur 7. Simbol Ucap atau manusia diwakilkan oleh adanya batu petilasan SIMPULAN yang ada dalam bangunan khusus di area Sesuatu yang sakral tidak semata-mata Simbol tekad dikawinkan dengan bisa menjadi sakral jika tidak ada tanda- simbol lampah yang menghadirkan sebuah tanda yang mendukungnya. Sesuatu yang harmoni yaitu simbol ucap yang nantinya sakral bisa menjadi sakral jika ada suatu menjadi pancer dari area Sumur 7. Melihat kekuatan diluar dunia dan kekuatan tanda atau simbol yang ada pada Sumur 7, manusia hadir di tempat tersebut. Entitas maka syarat-syarat agar Sang Hyang Hurip tersebut memanifestasikan dirinya kepada hadir di sumur 7 bisa terpenuhi. manusia melalui objek yang ada di dunia Penamaan Sumur 7 memiliki makna Manifestasi ini bisa dilihat dan Penamaan tersebut bertujuan dijadikan tanda-tanda dalam menentukan sebagai penanda dari makna atau petanda sebuah tempat yang dianggap sakral. yang terkandung dalam nama itu sendiri. Sumur 7 dipercaya oleh masyarakat Keberkahan atau khasiat dari Sumur 7 Kabupaten Kuningan bahkan masyarakat bisa diketahui dari masing-masing nama di luar daerah sebagai tempat yang sakral. Jika dilihat dari tanda-tanda yang terdapat Urutan penomoran juga merupakan pada sumur 7 maka penyakralan yang sebuah penanda yang memiliki makna dilakukan bukan tanpa alasan. Mitos di baliknya . Penomoran sumur Prabu 7 yang berlawanan dengan arah jarum Siliwangi menghadirkan sebuah tanda jam memiliki makna mengenai hubungan yang bisa dibaca. Menurut mitos tersebut Sang Pencipta kepada manusia. Dilihat munculnya mata air sumur 7 dikarenakan dari mitos Prabu Siliwangi dan arti nama Prabu Siliwangi meminta air kepada dari setiap Sumur 7 bisa diartikan bahwa kekuatan di luar kuasa manusia. Keluarnya Sang Pencipta menurunkan rahmat dan mata air ini bisa dijadikan sebuah penanda berkahnya kepada manusia. Penyakralan terhadap Sumur 7 tidak telah menurunkan rahmat-Nya kepada bisa dipungkiri menjadi salah satu daya Prabu Siliwangi. Munculnya mata air ini merupakan manifestasi dari sesuatu yang Hurip Kabupaten beredar menjadikan area Sumur 7 menjadi Sebuah tempat bisa menjadi sakral Hyang dan Sumur 7. Mitos dan kepercayaan yang Prabu Siliwangi. Sang Kuningan khususnya Objek Wisata Cibulan sakral yang menampakkan dirinya kepada Sang Hyang Hurip bisa hadir jika Meskipun memberikan keberkahan, bukan berarti tempat tersebut memiliki simbol Tekad, semata-mata kesakralan dari Sumur 7 yang Ucap, dan Lampah. Simbol-simbol ini memberikan keberkahan tersebut. Sumur merupakan konsep pola tiga Sunda atau 7 hanya sebagai sarana dan tempat berdoa bisa disebut Tritangtu. Simbol Tekad atau agar bisa diberikan keberkahan oleh yang langit diwakili oleh mata air yang berjumlah maha kuasa. Prasetyo. Heriyawati. Saleh: Struktur Tanda Pembentuk Sakralitas Sumur 7 Objek Wisata Cibulan Daftar Pustaka