Room of Civil Society Development DOI: https://doi. org/10. 59110/rcsd. Volume 4 Issue 3. Year 2025 Revitalisasi Perpustakaan untuk Meningkatkan Budaya Literasi Siswa di MAS BPII Pamboang Riswandi Rahman1. Sariana1*. Jelita1. Mukrimaturrezqi1. Nur Rahmi1. Syaphira1. Nihla Afdaliah1 1Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene. Majene. Indonesia *Correspondence: sariana162024@gmail. ABSTRACT Low reading interest among students in schools located in peripheral areas is often caused by limited supporting facilities, particularly the absence of a well-functioning library. At MAS BPII Pamboang. Majene Regency, the school library had previously been underutilized despite having an adequate collection of books. Through the Integrated PPL-KKN program, this study initiated a library revitalization program aimed at strengthening studentsAo reading literacy culture. This research employed a qualitative approach with data collected through interviews, observations, and documentation. The revitalization process was conducted in three stages: planning, implementation, and evaluation, involving the active participation of PPL-KKN students and the school The results indicate a significant increase in studentsAo reading interest, as evidenced by the rising number of daily library visits and greater student engagement in literacy activities. This initiative not only reinforced the libraryAos role as an attractive learning center but also transformed it into a dynamic and adaptive learning space aligned with studentsAo needs. The findings offer practical insights into a replicable model of library revitalization for schools in similar contexts, while underscoring the importance of optimizing educational facilities to support the development of studentsAo literacy culture in the digital era. Keywords: Literacy Culture. Library Revitalization. Reading Literacy. School Library. Student Community Service. ABSTRAK Rendahnya minat baca siswa di sekolah-sekolah pinggiran kerap disebabkan oleh keterbatasan fasilitas pendukung, terutama keberadaan perpustakaan yang berfungsi optimal. Di MAS BPII Pamboang. Kabupaten Majene, perpustakaan sekolah sebelumnya kurang dimanfaatkan meskipun tersedia koleksi buku yang memadai. Melalui program PPL-KKN Terpadu, penelitian ini menginisiasi program revitalisasi perpustakaan guna memperkuat budaya literasi baca siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proses revitalisasi dilaksanakan dalam tiga tahap: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan melibatkan partisipasi aktif mahasiswa PPL-KKN dan komunitas sekolah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam minat baca siswa, tercermin dari peningkatan jumlah kunjungan harian ke perpustakaan serta keterlibatan siswa dalam aktivitas Inisiatif ini tidak hanya memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menarik, tetapi juga mendorong transformasi fungsi perpustakaan menjadi ruang pembelajaran yang dinamis dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Temuan ini memberikan kontribusi praktis berupa model revitalisasi perpustakaan yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah dengan kondisi serupa, sekaligus menegaskan pentingnya optimalisasi fasilitas pendidikan dalam mendukung penguatan budaya literasi siswa di era digital. Kata Kunci: Budaya Literasi. Kegiatan KKN. Literasi Baca. Perpustakaan Sekolah. Revitalisasi Perpustakaan. Copyright A 2025 The Author. : This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development Pendahuluan Perpustakaan merupakan pusat sumber belajar yang berperan penting dalam mendukung proses pendidikan di sekolah. Pengelolaan perpustakaan yang baik dapat meningkatkan akses siswa terhadap berbagai bahan bacaan berkualitas, sekaligus memperkuat mutu pembelajaran (Salubi & Majavu, 2. Dalam konteks pendidikan modern, penguatan peran perpustakaan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi literasi siswa (Mahendra et al. , 2. Secara etimologis, kata "perpustakaan" berasal dari pustaka yang berarti kitab atau buku, sementara dalam bahasa asing dikenal dengan istilah library (Inggri. , bibliothyque (Pranci. , dan biblioteca (Spanyo. (Iswanto et al. , 2. Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, cetak, dan/atau rekam secara profesional guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi pemustaka (Kepala Perpustakaan Nasional RI, 2. Perpustakaan dan literasi merupakan dua entitas yang tak terpisahkan. Literasi mencakup kemampuan individu mengakses, memahami, serta memanfaatkan informasi melalui berbagai media, termasuk teks tertulis, visual, dan digital (Kardika et al. , 2. Literasi membaca, secara khusus, adalah proses memahami makna teks untuk memperkaya pengetahuan dan membangun wawasan baru (Lolotandung & Trivena, 2. Di era informasi saat ini, literasi menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan individu dalam berbagai aspek kehidupan (Oh & Mon, 2. , dengan perpustakaan sebagai salah satu pilar pendukung utama . u et al. , 2. Namun, budaya literasi di Indonesia masih menghadapi tantangan. Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA) 2023, kemampuan membaca siswa Indonesia menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2018 (OECD, 2. Selain itu, banyak sekolah belum mengelola perpustakaan sesuai Standar Nasional Perpustakaan (SNP), sehingga fungsi perpustakaan belum optimal (Nurhasanah et al. , 2. Hal ini turut memengaruhi rendahnya literasi baca siswa. Hasil observasi awal di MAS BPII Pamboang menunjukkan situasi serupa. Fasilitas pendukung pembelajaran terbatas, dan perpustakaan sekolah tidak berfungsi. Koleksi buku yang ada disimpan di ruang guru, sehingga siswa tidak memiliki akses memadai ke bahan Kondisi ini menghambat pengembangan literasi siswa dan berpotensi memengaruhi capaian akademik mereka. Penelitian ini mengusulkan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan studistudi sebelumnya di bidang revitalisasi perpustakaan, yang umumnya berfokus pada aspek teknis seperti penambahan koleksi bahan bacaan atau penyediaan fasilitas fisik. Sintasari et . menekankan strategi pengembangan koleksi perpustakaan sebagai upaya meningkatkan minat baca siswa, sementara Mawaryanto et al. dan Rodin et al. lebih banyak mengeksplorasi aspek revitalisasi struktural dan pengadaan sarana prasarana. Namun, studi-studi tersebut belum secara mendalam mengevaluasi pengaruh revitalisasi terhadap perubahan perilaku literasi siswa maupun keterlibatan komunitas sekolah dalam proses transformasi. Berdasarkan kajian literatur dan temuan observasi lapangan, masih terdapat kesenjangan penelitian dalam mengintegrasikan pendekatan partisipatif berbasis program KKN pada konteks revitalisasi perpustakaan di wilayah pinggiran, khususnya dalam menilai dampak langsungnya terhadap perubahan perilaku literasi siswa. Selain itu, hanya sedikit penelitian yang secara komprehensif mendokumentasikan proses revitalisasi sebagai upaya penyusunan model yang dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan dengan keterbatasan sumber daya. Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan gagasan strategis berupa revitalisasi perpustakaan sekolah berbasis KKN sebagai solusi atas permasalahan yang ada di lokasi Revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, melainkan juga bertujuan menghidupkan kembali fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang efektif, dengan harapan dapat mendorong siswa agar lebih aktif dan antusias dalam memanfaatkan perpustakaan (Munawarah, 2. Revitalisasi perpustakaan diyakini dapat meningkatkan tingkat literasi siswa (Ayu Safitri et al. , 2. Upaya ini mencakup pengembangan fasilitas, penyediaan lingkungan belajar yang nyaman, serta integrasi kegiatan literasi ke dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, melainkan juga ruang interaktif yang mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif. Keberhasilan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan penggunanya mencerminkan kualitas layanan yang diberikan (Anawati, 2. Di MAS BPII Pamboang, revitalisasi perpustakaan dirancang sebagai bagian dari program kerja utama PPL-KKN. Kegiatan meliputi pemilihan ruang, penyediaan sarana pendukung, penataan koleksi, serta penguatan peran perpustakaan dalam mendukung literasi siswa. Dengan adanya revitalisasi ini, perpustakaan diharapkan mampu berfungsi optimal sebagai pusat pembelajaran yang mendukung peningkatan prestasi akademik Sejalan dengan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh revitalisasi perpustakaan berbasis KKN terhadap peningkatan budaya literasi baca siswa di MAS BPII Pamboang. Metode Pelaksanaan Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan kualitatif. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti menerapkan teknik triangulasi. Jenis triangulasi yang digunakan meliputi triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik dilakukan melalui tiga metode pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan Sementara itu, triangulasi sumber melibatkan pihak-pihak terkait, yakni Kepala Madrasah. Wakil Kepala Madrasah, dan Pustakawan. Wawancara bertujuan untuk menggali informasi terkait permasalahan yang dihadapi sekolah dalam pengelolaan perpustakaan. Observasi dilakukan untuk menilai secara langsung kondisi perpustakaan, meliputi jumlah buku, jenis koleksi, serta keadaan fisik ruang perpustakaan. Sementara itu, dokumentasi dikumpulkan melalui foto dan video selama proses revitalisasi, serta melalui daftar inventaris sarana dan prasarana yang tersedia di perpustakaan. Penelitian ini dilaksanakan di MAS BPII Pamboang. Wawancara dengan Kepala Madrasah. Wakil Kepala Madrasah, dan Pustakawan diawali dengan proses koordinasi untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai kondisi perpustakaan yang ada. Selanjutnya, dilakukan observasi lapangan untuk mengidentifikasi situasi aktual perpustakaan, serta menentukan aspek-aspek yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan dalam proses revitalisasi. Selain itu, peneliti juga meninjau ulang daftar inventaris koleksi dan peralatan yang tersedia sebagai dasar perencanaan Kegiatan revitalisasi meliputi pemilihan ruang yang potensial untuk dijadikan perpustakaan baru, pembuatan meja baca, penataan dan pembersihan rak buku, serta pengelompokan buku berdasarkan jenis. Ruangan perpustakaan juga direnovasi, dibersihkan, dan dihias agar tampil lebih atraktif, nyaman, dan ramah bagi siswa. Upaya ini Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development dilakukan mengingat di MAS BPII Pamboang sebelumnya belum tersedia fasilitas perpustakaan yang memadai dan representatif. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 11 hari, terdiri atas proses wawancara dan observasi selama 2 hari, diikuti oleh pelaksanaan kegiatan revitalisasi selama 9 hari, tepatnya pada tanggal 10 hingga 19 November 2024. Seluruh tahapan direncanakan dan dilaksanakan secara terstruktur untuk memastikan tercapainya hasil yang optimal, dengan melibatkan seluruh pihak terkait dalam setiap prosesnya. Pemilihan periode pelaksanaan juga disesuaikan dengan jadwal akademik sekolah, agar kegiatan ini tidak mengganggu proses pembelajaran siswa. Untuk memberikan gambaran yang lebih sistematis mengenai tahapan penelitian, berikut disajikan diagram alur metode pelaksanaan revitalisasi perpustakaan di MAS BPII Pamboang. Gambar 1. Flowchart Metode Pelaksanaan Revitalisasi Perpustakaan Berbasis KKN di MAS BPII Pamboang Hasil dan Pembahasan Hasil observasi awal di MAS BPII Pamboang menunjukkan bahwa perpustakaan madrasah belum berfungsi secara optimal, dengan minimnya aktivitas literasi dan ketiadaan ruang perpustakaan yang representatif. Kondisi ini mendorong peneliti untuk menginisiasi program revitalisasi perpustakaan sebagai salah satu fokus utama kegiatan KKN. Proses revitalisasi ini dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, yang dijelaskan pada bagian berikut. Tahap Perencanaan Pada tahap awal, peneliti melaksanakan wawancara dengan Kepala Madrasah Aliyah guna memperoleh gambaran mengenai kondisi awal fasilitas perpustakaan di madrasah. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa meskipun madrasah telah memiliki sejumlah koleksi buku, hingga saat ini belum tersedia ruang perpustakaan yang baru sejak dialih fungsikannya ruang perpustakaan menjadi laboratorium komputer beberapa tahun yang lalu. Akibatnya, koleksi buku, rak, serta fasilitas pendukung perpustakaan disimpan sementara di ruang guru selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut menghambat pemanfaatan optimal koleksi buku yang ada. Perpustakaan, yang idealnya berfungsi sebagai sarana akses sumber belajar bagi siswa, belum dapat menjalankan peran tersebut secara Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development maksimal karena ketiadaan ruang yang memadai untuk penyimpanan, perawatan, dan pemanfaatan bahan pustaka secara efisien. Gambar 1. Wawancara dengan Kepala Madrasah dan Wakil Kepala Madrasah Wawancara lanjutan dilakukan dengan beberapa guru dan pustakawan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh responden sepakat bahwa pengaktifan kembali perpustakaan merupakan langkah yang mendesak, mengingat pentingnya aktivitas literasi baca bagi siswa dalam mendukung pencapaian akademik mereka. Penguasaan literasi dipandang memiliki peran krusial dalam memperkuat berbagai kompetensi yang dimiliki oleh individu (Oktariani & Ekadiansyah, 2. Setelah proses wawancara, kegiatan dilanjutkan dengan observasi langsung terhadap kondisi fasilitas perpustakaan serta identifikasi ruangan yang berpotensi untuk dijadikan ruang perpustakaan yang baru. Berdasarkan hasil observasi, diperoleh temuan sebagai berikut: . kondisi buku secara umum masih sangat baik, dengan jumlah yang memadai dan variasi jenis yang cukup beragam, sehingga peneliti menilai bahwa pengadaan buku baru belum menjadi prioritas utama. kondisi rak buku masih layak pakai dan dapat dimanfaatkan kembali. belum tersedia meja dan kursi baca, sehingga diperlukan pengadaan fasilitas tersebut. terdapat ruangan di lingkungan sekolah yang potensial untuk dikembangkan sebagai ruang perpustakaan baru. Gambar 2. Observasi fasilitas perpustakaan Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development Selanjutnya, peneliti melaksanakan kegiatan dokumentasi dengan menyusun daftar inventaris buku yang tersedia di perpustakaan. Penyusunan inventaris ini bertujuan untuk mempermudah proses pengorganisasian koleksi buku berdasarkan jenis di perpustakaan yang telah direvitalisasi. Selain itu, langkah ini juga berfungsi sebagai upaya preventif guna mencegah potensi kerusakan atau kehilangan bahan pustaka (Sulastri et al. , 2. Proses inventarisasi meliputi pencatatan judul buku, nama pengarang, kategori, serta kondisi fisik masing-masing buku. Di samping itu, seluruh tahapan revitalisasi, mulai dari pembuatan meja baca, pembersihan rak buku, hingga proses pengelompokan buku, didokumentasikan secara lengkap dalam bentuk foto dan video. Dokumentasi ini berperan sebagai bukti pelaksanaan kegiatan sekaligus menjadi bahan laporan serta bahan evaluasi keberhasilan program pengabdian yang dijalankan oleh peneliti bersama mahasiswa KKN. Tahap Pelaksanaan Revitalisasi perpustakaan dilaksanakan pada tanggal 10 November hingga 19 November 2024. Adapun kegiatan pada tahap ini meliputi: Pemilihan dan Pembersihan Ruangan Kegiatan revitalisasi diawali dengan pemilihan ruangan yang akan difungsikan sebagai perpustakaan. Pada tahap ini, peneliti menetapkan sebuah ruangan yang sebelumnya digunakan untuk penyimpanan peralatan tenis meja dan mesin jahit sebagai ruang perpustakaan yang baru. Setelah penetapan ruangan, mahasiswa PPL-KKN Terpadu melaksanakan proses pembersihan secara menyeluruh guna memastikan ruangan dalam kondisi bersih dan nyaman. Kebersihan lingkungan perpustakaan menjadi faktor krusial dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung kenyamanan dan kepuasan pengguna (Ardiansyah et al. , 2. Selain itu, para siswa turut berpartisipasi secara antusias dalam kegiatan pembersihan tersebut. Seluruh proses pembersihan ini diselesaikan dalam waktu satu hari. Gambar 3. Pembersihan Ruangan Perpustakaan Baru Pengadaan meja baca Pengadaan meja baca dilaksanakan oleh mahasiswa KKN sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat di bidang pendidikan. Meja baca tersebut dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana, seperti triplek bekas, paku, dan cat Seluruh proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong dan berlangsung selama dua hari, di mana hari pertama difokuskan pada perakitan meja, sementara hari kedua Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development digunakan untuk proses pengecatan dan pengeringan. Meja-meja baca yang telah selesai diproduksi kemudian ditempatkan di ruang perpustakaan untuk mendorong minat siswa dalam membaca serta menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyediakan fasilitas baca, melainkan juga berfungsi sebagai sarana pengembangan karakter bagi mahasiswa, khususnya dalam aspek kerja sama, kepedulian sosial, dan tanggung jawab. Selain itu, keberadaan meja baca yang baru diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung perpustakaan serta memperkuat efektivitas pemanfaatan ruang baca oleh siswa maupun guru di lingkungan Mengingat bahwa pemustaka yang menghabiskan waktu cukup lama di perpustakaan rentan mengalami ketidaknyamanan akibat posisi duduk yang tidak ergonomis, maka penyediaan area baca yang mendukung kenyamanan fisik menjadi penting, agar pengunjung tetap merasa nyaman selama beraktivitas di dalam perpustakaan (Juventa et al. , 2. Gambar 4. Pengadaan Meja Baca Penataan dan Pembersihan Rak Buku Setelah proses pembuatan meja baca selesai dilaksanakan, kegiatan selanjutnya yang dilakukan oleh mahasiswa KKN adalah penataan dan pembersihan rak buku di ruang Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan baca yang bersih, nyaman, dan tertata rapi, sehingga dapat meningkatkan daya tarik pengunjung, khususnya siswa jenjang anak-anak dan remaja, untuk lebih aktif mengakses koleksi buku yang Perpustakaan yang tertata dengan baik, didukung oleh penataan ruang yang sesuai dengan prinsip tata letak serta pemeliharaan kebersihan rak buku yang optimal, diyakini mampu meningkatkan tingkat kepuasan pengunjung. Lingkungan perpustakaan yang demikian menciptakan suasana belajar yang nyaman, menyenangkan, dan kondusif untuk mendukung produktivitas pengunjung selama beraktivitas di dalamnya (Zhafiraha & Ade. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN berkolaborasi dengan para siswa dari Madrasah Aliyah Swasta (MAS) BPII Pamboang. Para siswa turut membantu dalam proses pembersihan rak buku serta penyusunan ulang koleksi buku berdasarkan kategori dan jenis Kegiatan ini dilaksanakan secara gotong royong dengan semangat kebersamaan yang tinggi, sehingga seluruh proses dapat diselesaikan dalam satu hari. Selain melakukan penataan ulang koleksi, rak-rak buku juga dibersihkan dari debu dan kotoran yang menumpuk, serta dilakukan pengecekan terhadap kondisi fisik buku untuk memastikan kelayakan koleksi yang akan disajikan kepada pemustaka. Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development Gambar 5. Proses Pembuatan Meja Baca Setelah proses penataan dan pembersihan rak buku selesai dilakukan, mahasiswa KKN melanjutkan kegiatan dengan mengelompokkan buku berdasarkan jenis atau Kegiatan ini bertujuan untuk mempermudah proses pencarian dan akses buku oleh para pemustaka. Pengelompokan dilakukan secara sistematis dengan mengklasifikasikan koleksi buku ke dalam beberapa kategori, antara lain buku sejarah, pendidikan agama, novel, bahasa Inggris, pendidikan kewarganegaraan, serta seni dan Setiap kategori buku ditempatkan pada rak atau bagian tertentu guna menciptakan tampilan perpustakaan yang lebih teratur dan rapi. Selain itu, proses pengelompokan ini dilengkapi dengan penandaan kategori menggunakan label sederhana yang dirancang untuk memudahkan proses identifikasi bagi pengguna. Dengan demikian, penyusunan koleksi buku secara sistematis akan mendukung fungsi perpustakaan sebagai penyedia informasi yang efektif dan mudah diakses oleh seluruh penggunanya (Fauzi, 2. Seluruh rangkaian kegiatan pengelompokan buku ini dilaksanakan dalam kurun waktu satu hari dengan melibatkan seluruh anggota kelompok KKN secara aktif. Diharapkan, kegiatan ini dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung serta efektivitas pemanfaatan fasilitas perpustakaan oleh seluruh warga sekolah dan masyarakat. Mendesain Ruang Perpustakaan Kegiatan penutup dalam proses revitalisasi adalah mendesain ulang ruang perpustakaan agar tampil lebih menarik dan nyaman bagi para pengunjung. Mahasiswa KKN melaksanakan kegiatan ini melalui berbagai upaya, seperti pengecatan ulang dinding ruangan, penambahan poster edukatif, serta pemasangan elemen dekoratif lainnya. Adapun bahan dan peralatan yang digunakan dalam proses desain ruangan meliputi cat tembok, pylox, kuas, selotip, gunting, lem, cutter, dan double tape. Selain itu, dilakukan pula pembuatan papan nama perpustakaan sebagai identitas visual yang memperkuat daya tarik ruang tersebut. Seluruh proses desain ruang perpustakaan dilaksanakan selama satu Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan ruang perpustakaan yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat belajar, tetapi juga menghadirkan suasana yang menyenangkan dan inspiratif bagi siswa. Setelah proses penataan selesai, mahasiswa bersama pustakawan melanjutkan dengan penyusunan administrasi perpustakaan sebagai bagian dari penataan manajemen layanan perpustakaan. Upaya ini sejalan dengan pandangan Viyanti et al. yang menyatakan bahwa revitalisasi perpustakaan hendaknya juga diarahkan untuk mengubah persepsi negatif siswa yang selama ini menganggap perpustakaan sebagai tempat yang membosankan, menjadi ruang belajar yang lebih menarik dan interaktif. Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development Gambar 6. Proses desain ruangan Tahap Evaluasi Setelah seluruh proses revitalisasi selesai dilaksanakan, mahasiswa KKN melanjutkan dengan kegiatan sosialisasi di setiap kelas, memperkenalkan keberadaan perpustakaan yang telah direvitalisasi dan kini siap untuk diakses oleh siswa. Pada hari pertama pembukaan, perpustakaan langsung menarik minat sejumlah pengunjung. Dalam beberapa hari berikutnya, perpustakaan terus menunjukkan tingkat kunjungan yang stabil, bahkan tidak pernah sepi dari pengunjung. Setiap hari, siswa secara rutin datang ke perpustakaan baik untuk membaca buku maupun untuk mencari referensi guna menyelesaikan tugas-tugas Fenomena ini menunjukkan bahwa minat dan semangat literasi baca siswa mulai mengalami peningkatan secara bertahap. Peningkatan ini turut diperkuat oleh strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan mahasiswa KKN, yang secara aktif mendorong siswa untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber rujukan dalam mengerjakan tugas. Di samping itu, perpustakaan juga mulai berperan sebagai alternatif ruang belajar yang menawarkan suasana berbeda, sehingga dapat merangsang pemikiran kritis dan memperluas wawasan siswa (Parli & Angraini, 2. Dampak revitalisasi perpustakaan bagi siswa meliputi peningkatan motivasi dan semangat dalam kegiatan literasi baca, pemulihan fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, serta peningkatan optimalisasi pemanfaatan fasilitas perpustakaan oleh Melalui revitalisasi ini, perpustakaan kembali menjalankan perannya sebagai pusat kehidupan sekolah yang berkontribusi terhadap pengembangan daya pikir dan kemampuan intelektual peserta didik (Laha et al. , 2. Selain itu, suasana perpustakaan yang kini lebih ramah anak, ditambah dengan ketersediaan koleksi bacaan yang relevan, semakin mampu menarik minat siswa untuk belajar dan membaca secara lebih intensif. Peningkatan signifikan dalam jumlah pengunjung, yang didominasi oleh siswa usia sekolah, menjadi indikator positif dari perubahan ini (Karyanto & Ekasari, 2. Temuan ini merefleksikan meningkatnya ketertarikan siswa terhadap lingkungan belajar yang lebih nyaman, inspiratif, dan mendukung penguatan budaya literasi di sekolah. Kesimpulan Revitalisasi perpustakaan sebagai bagian dari program kerja mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyat. STAIN Majene di MAS BPII Pamboang terbukti memberikan dampak positif terhadap penguatan budaya literasi di lingkungan madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasca-revitalisasi, tingkat kunjungan siswa ke perpustakaan mengalami peningkatan Volume 4 No 3: 436-447 Room of Civil Society Development yang signifikan, minat baca siswa mulai tumbuh, dan pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar semakin optimal. Selain itu, keterlibatan aktif guru dan siswa dalam kegiatan literasi turut memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran yang mendukung proses akademik. Temuan ini menegaskan bahwa perbaikan fasilitas dan pengelolaan perpustakaan tidak hanya berkontribusi pada aspek fisik, tetapi juga mendorong transformasi fungsi perpustakaan menjadi ruang belajar yang dinamis, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya wacana pengembangan literasi berbasis lingkungan sekolah melalui pendekatan pengelolaan perpustakaan yang Sementara itu, secara praktis, penelitian ini menawarkan model revitalisasi yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah dengan kondisi serupa, dengan penyesuaian kontekstual yang sesuai. Penting pula untuk dilakukan pengawasan dan pemeliharaan berkelanjutan agar fungsi perpustakaan dapat terus berkembang dan tidak stagnan, seiring dengan dinamika kebutuhan siswa. Berdasarkan temuan ini, disarankan bagi pihak-pihak yang melakukan revitalisasi perpustakaan untuk menerapkan sistem monitoring secara berkala, guna memastikan bahwa fungsi perpustakaan berjalan sesuai dengan tujuan pengembangannya. Selain itu, penelitian lanjutan diharapkan dapat mengukur secara lebih sistematis dampak revitalisasi terhadap peningkatan kemampuan literasi siswa, baik melalui pengembangan instrumen pengukuran yang terstandar maupun melalui studi longitudinal yang mendalam. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Pemerintah Desa Tinambung. Pemerintah Kecamatan Pamboang, pihak MAS BPII Pamboang, serta STAIN Majene atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan selama pelaksanaan program revitalisasi perpustakaan melalui kegiatan PPL-KKN. Penghargaan juga disampaikan kepada seluruh tim mahasiswa PPL-KKN atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam menyukseskan kegiatan ini. Daftar Pustaka Anawati. Peran perpustakaan dalam membangun citra perpustakaan di era Jurnal Pustaka