Dinamika: Volume 9 . 2026 Jurnal Bahasa. Sastra. Pembelajarannya e-issn 2715-8381 Senja dalam Intertekstualitas Riffaterre pada Naskah Drama Janji Senja dan Puisi Senja di Pelabuhan Kecil Dinda Listiana Awali. Moh. Badrus Solichin UIN Syekh Wasil Kediri listianadinda5@gmail. badrusmoh@uinkediri. Dikirim:20 Desember 2025 Direvisi:22 Desember 2025 Diterima: 5 Januari 2026 Diterbitkan: 28 Februari 2026 How to Cite: Awali. Dinda Listiana. AuSenja dalam Intertekstualitas Riffaterre pada Naskah Drama Janji Senja dan Puisi Senja di Pelabuhan KecilAy Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya. Vol. 9, no. 1, 2026, pp. 104Ae113. Published by Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Suryakancana Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT This study aims to examine the intertextual relationship between the drama Janji Senja by Taofan Nalisaputra and the poem Senja di Pelabuhan Kecil by Chairil Anwar through symbolic analysis based on RiffaterreAos semiotic The urgency of this research lies in the limited studies that specifically explore the transformation of the symbol AuduskAy across genres within a heuristic and hermeneutic reading, where symbols serve as the core of textual meaning. This research employs a qualitative-descriptive method using primary texts and supporting theoretical literature. The findings reveal that both texts share the same matrix of meaning, positioning dusk as a representation of loss and absence. However, the drama develops a new model by framing dusk as a space of prolonged waiting and introduces a symbolic variant through its personification as a father figure. This transformation demonstrates that Janji Senja does not merely reproduce the symbol found in ChairilAos poem but expands its meaning, enriching the tradition of dusk symbolism in Indonesian literature. Keywords: heuristicAehermeneutics. Riffaterre. Artikel ini akan mengungkap hubungan intertekstual antara naskah drama AuJanji SenjaAy karya Taofan Nalisaputra dan puisi AuSenja di Pelabuhan KecilAy karya Chairil Anwarmelalui analisis simbolik dengan pendekatan semiotik Riffaterre. Urgensi penelitian terletak pada minimnya kajian yang secara khusus menelaah transformasi simbol AusenjaAy lintas-genre, terutama dalam kerangka pembacaan heuristik dan hermeneutik yang menempatkan simbol sebagai pusat struktur makna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan sumber data berupa teks primer dan literatur teoritis pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua teks memiliki matriks makna yang sama, yaitu senja sebagai representasi kehilangan dan ketiadaan, namun drama mengembangkan model baru berupa senja sebagai ruang penantian dan menghasilkan varian simbolik melalui personifikasi senja sebagai figur ayah. Transformasi makna ini menegaskan bahwa Janji Senja tidak hanya mereproduksi simbol dari puisi Chairil, tetapi menciptakan perluasan makna yang memperkaya tradisi simbol senja dalam sastra Indonesia Kata kunci: heuristikAehermeneutik. Riffaterre. Dinda Listiana Awali: Senja dalam Intertekstualitas Riffaterre pada A PENDAHULUAN Simbol AusenjaAy dalam sastra Indonesia sering digunakan untuk menggambarkan perubahan emosional, kehilangan, dan ruang transisi batin. Dalam drama Janji Senja karya Taofan Nalisaputra, senja menjadi pusat konflik dan penanda penantian tokoh, sedangkan dalam puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar, senja membentuk suasana kepergian dan keterputusan relasi. Meskipun memunculkan nuansa emosional yang berbeda, keduanya samasama menempatkan senja sebagai elemen simbolik yang menentukan suasana dan struktur Tradisi penggunaan simbol senja dalam sastra Indonesia turut memperkuat resonansi makna dalam kedua teks. Puisi Chairil menghadirkan senja sebagai lanskap kehilangan, sementara drama Taofan mengolahnya menjadi ruang penantian yang menegaskan ketabahan dan harapan. Perbedaan orientasi makna ini menunjukkan adanya transformasi simbolik yang menarik untuk dikaji, terutama karena belum banyak penelitian yang secara khusus menelaah hubungan intertekstual simbol senja pada kedua karya tersebut. Penelitian ini menggunakan konsep pembacaan heuristik dan hermeneutik sebagaimana dirumuskan oleh Riffaterre (Candra & Angreni, 2. Pembacaan heuristik beroperasi pada tingkat literal, yakni pada tataran struktur bahasa, peristiwa, dan makna permukaan yang ditawarkan teks. Melalui pembacaan heuristik, senja dalam kedua karya dapat dipahami sebagai fenomena alam yang hadir sebagai penanda waktu dan setting naratif. Namun, sebagaimana ditekankan Riffaterre, makna sastra tidak berhenti pada tataran heuristik. Pembaca harus melanjutkan ke tahap hermeneutik, yakni pembacaan yang mengungkap lapisan makna simbolik, penyimpangan, dan ketidaksesuaian yang justru memproduksi makna sastra. Pada tahap inilah senja terbaca sebagai simbol batin, sebagai metafora kepergian yang tidak terselesaikan pada puisi Chairil atau janji yang terus ditunda dalam naskah drama Toufan. Melalui dua tahap pembacaan inilah transformasi makna senja dapat diungkap secara lebih komprehensif. Kajian mengenai Janji Senja telah dilakukan beberapa peneliti, namun belum memberikan fokus analitis pada dimensi simbolik senja dalam kerangka intertekstual dengan pembacaan heuristikAehermeneutik. Penelitian oleh (Desti. Salsabila. Sangadah. Suryaningsih, & Purwanto, 2. membahas intertekstualitas antara Janji Senja dan Ayahku Pulang karya Umar Ismail dengan menitikberatkan pada konflik keluarga dan dinamika tokoh, tanpa menyentuh aspek simbolisme senja sebagai pusat struktur makna. Penelitian (Septia. Fadhilah. Rahmawati. Hidayah, & Purwanto, 2. yang membandingkan Janji Senja dengan naskah Tak Ada Lagi Laut di Matamu karya Raihan Robby menunjukkan adanya irisan tematik mengenai kehilangan dan relasi emosional, tetapi belum mengkaji transformasi simbol kunci yang membangun jejaring makna antar-teks . Sementara itu, kajian (Octafiona et al. , 2. lebih menekankan aspek hubungan tema dan alur dalam intertekstualitas drama, sehingga belum memberikan ruang bagi analisis simbol sebagai perangkat struktural dalam pembentukan makna lintas teks . Ketiga penelitian tersebut menunjukkan adanya kekosongan penelitian, yaitu belum adanya kajian yang secara khusus menelaah transformasi simbol AusenjaAy dalam relasi antara teks Chairil dan Taofan. Selain relevansi estetik, simbol senja juga berhubungan dengan konstruksi budaya Indonesia yang sering memaknai senja sebagai metafora ketabahan, kesunyian, dan penantian. Representasi tokoh perempuan dalam Janji Senja yang mempertahankan penantian menunjukkan bagaimana simbol ini beresonansi dengan nilai-nilai sosial tentang kesetiaan dan Sementara itu, puisi Chairil Anwartelah membentuk tradisi estetika di mana senja 106 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 104-113 identik dengan kehilangan yang tak terpulihkan. Dengan demikian, analisis terhadap transformasi simbol senja dalam dua teks ini tidak hanya mengungkap dinamika estetik, tetapi juga mencerminkan perubahan cara budaya memandang peristiwa emosional lintas generasi. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini akan mendeskripsikan hubungan intertekstual antara naskah drama Janji Senja dan puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar, serta mengungkap bentuk transformasi simbol senja dari puisi ke drama. Analisis ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai fungsi simbol dalam konstruksi makna sastra dan memberikan kontribusi terhadap perluasan kajian intertekstual dalam sastra Indonesia METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif untuk mengkaji struktur makna dan hubungan antar-teks melalui analisis simbolik. Metode kualitatif dipilih karena objek kajian berupa teks sastra yang menuntut penafsiran mendalam terhadap unsur bahasa, citraan, dan relasi makna, sedangkan sifat deskriptif digunakan untuk menyajikan hasil analisis secara sistematis dan faktual. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer mencakup naskah drama Janji Senja karya Taofan Nalisaputra dan puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar. Data sekunder meliputi literatur teoretis intertekstual, khususnya yang membahas konsep pembacaan heuristik dan hermeneutik menurut Riffaterre, serta publikasi ilmiah dan penelitian terdahulu yang relevan. Prosedur analisis dilakukan melalui lima tahap. Pertama, pembacaan heuristik untuk memperoleh pemahaman literal terhadap unsur tekstual, termasuk diksi, citraan, dan struktur dramatik maupun liris. Kedua, identifikasi simbol dan pola repetisi terkait representasi AusenjaAy sebagai dasar pemetaan struktur makna. Ketiga, analisis hubungan makna antara kedua teks melalui perbandingan konstruksi simbolik dan suasana emosional untuk mengungkap korespondensi atau transformasi makna. Keempat, penelusuran hipogram aktual dan potensial untuk menentukan bentuk keterkaitan tekstual maupun estetik yang melandasi makna. Kelima, pembacaan hermeneutik dengan menerapkan konsep matrixAemodelAevarian Riffaterre untuk menafsirkan transformasi makna simbol senja dari tingkat literal ke simbolik. Seluruh tahap analisis tersebut digunakan untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif dan objektif mengenai representasi simbol AusenjaAy serta dinamika hubungan intertekstual antara naskah drama Janji Senja dan puisi Senja di Pelabuhan Kecil. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian disajikan berdasarkan rangkaian analisis yaitu pembacaan heuristik, identifikasi simbol, hubungan antar teks, hipogram, serta pembacaan hermeneutik dengan konsep matrix-model-varian seperti pada teori Referette (Khasanah, 2. Objek kajian terdiri atas naskah drama Janji Senja karya Taofan Nalisaputra dan puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar. Hasil Pembacaan Heuristik Pembacaan heuristik digunakan untuk memperoleh makna secara umum dari teks, termasuk struktur bahasa, citraan, dan konteks dramatik atau liris. Pembacaan heuristik dalam naskah drama Janji Senja, menunjukkan bahwa kata senja muncul sebagai : Dinda Listiana Awali: Senja dalam Intertekstualitas Riffaterre pada A Latar waktu tetap Pada naskah drama latar waktu dimulai dengan keterangan panggung: AuKALA SENJA ITU IBU DAN ANAK GADISNYA SEPERTI BIASA DUDUK DI BANGKU PANJANG DEPAN RUMAHNYA. Ay Dapat dilihat bahwa senja menjadi latar temporal atau latr waktu yag tidak berbah dari awal hingga akhir drama. Ruang penantian Senja di dalam naskah drama tidak hanya sebagai latar waktu, melainkan memiliki keterkaitan dengan sosok tokoh yang hilang dan dinantikan. Hal ini tergambar dari dialog tokoh ANAK: AuSudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita lalui . namun Ayah tak jua Ay Keyakinan dan ketidakpercayaan terhadap sebuah janji Latar senja dalam naskah drama selalu merujuk pada ibu yang terus menanti janji Ini tergambar dari dialog ibu dengan anaknya, yaitu: IBU: AuAyahmu berjanji akan datang saat senja. Ay Namun, hal ini bertolak belakang dengan sang anak yang mulai kecewa terhadap janji yag diberikan ayahnya. Sehingga dalam hal ini nak mengaitkan senja denga kekecewaan. Penggambaran sang anak terhadap senja muncul dalam dialog di dalam naskah yaitu: ANAK: AuKarena aku tak lagi menganggap Senja sebagai AyahkuAAy Representasi senja sebagai figur ayah Pada adegan terakhir, ibu memerintahkan anak untuk berpamitan kepada senja yang diibaratkan sebagai sosok ayah. Narasi yang ada dalam naskah drama yaitu: AuKau harus meminta restu pada senjaA Ayahmu. Ay Hal ini menunjukkan terjadinya elevasi simbol senja sama dengan ayah. Pembacaan heuristik dalam puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar menunjukkan bahwa senja memiliki makna atau peran, yaitu: Citraan visual dan lingkungan pelabuhan Puisi Chairil dibuka oleh larik : AuIni kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang. rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Ay Secara umum,pembaca dapat melihat suasana sepi yang ditandai dengan objek seperti gudang, rumah tua, tiang, dan temali. Benda fisik disini digunakan untuk membangun suasanan pelabuhan kecil yang ideal. Hal ini ditambah dengan gambaran visual kapal dan perahu yang semakin memperkuat nuansa pelabuhan. 108 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 104-113 AuKapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut. Ay Secara heuristik, larik tersebut menunjukkan kapal-perahu sebagai benda yang tidak sedang berlayar, seolah Autak berlautAy. Ini menandai keterhentian aktivitas, situasi yang tidak bergerak, dan potensi perpisahan yang tidak tertuntaskan. Suasana kepergian Larik pada puisi menunjukkan sebuah suasana kepergian, yaitu: AuGerimis mempercepat kelam. Ay Gerimis secara umum sekadar fenomena alam. Namun secara fisik ia mempercepat turunnya kegelapan, sehingga memunculkan suasana transisi dari sore menuju malam, yakni momen AusenjaAy yang redup dan rentan. Secara heuristik atmosfer ini membangun nada kesunyian dan awal dari keterputusan. Penegasan suasana kepergian muncul secara literal pada bagian akhir puisi: Ausekalian selamat jalanA sedu penghabisan bisa terdekap. Ay Ungkapan selamat jalan menunjukkan adanya pihak yang berangkat atau meninggalkan Sementara itu sedu penghabisan mencirikan kesedihan yang berada pada batas akhir, tanpa perlu interpretasi simbolik yang lebih dalam. Dengan demikian, secara literal puisi menunjukkan bahwa senja merupakan momen pelepasan dan kepergian. Kesendirian AuTiada lagi. Aku sendiri. Ay Larik ini mewakili pernyataan eksplisit tentang keadaan tokoh yaitu dia seorang diri, tidak ditemani siapa pun, dan berada dalam ruang yang telah kehilangan denyut kehidupan. Kalimat pendek dan bersifat deklaratif tersebut semakin menonjolkan intensitas kesunyian yang dialami Pada bagian lain, terdapat larik: AuBerjalan menyisir semenanjungAAy Secara heuristik, tindakan berjalan menyisir menunjukkan tidak adanya interaksi sosial, dialog, dan tokoh lain yang hadir. Semua ini menguatkan kesan bahwa puisi menempatkan tokoh yang sednag melakukan sebuah perjalanan emosional yang sepenuhnya individual. Senja sebagai Latar Waktu yang Menentukan Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit dalam setiap larik, seluruh unsur cuaca, gerak waktu, dan perubahan alam dalam puisi menandai pergeseran menuju kelam. Hal ini menegaskan bahwa senja hadir sebagai latar temporal, bukan simbol metaforis . ada tahap heuristi. Kesan ini diperkuat oleh struktur suasana yang berubah dari terang menuju malam. Dinda Listiana Awali: Senja dalam Intertekstualitas Riffaterre pada A Pola Repetisi Simbol Senja Dalam teks drama, kata senja muncul sekitar 27 kali dan selalu dimaknai sebagai penanda waktu dan muatan emosional. Sedangkan dalam puisi Chairil Anwar, kata senja tidak disebutkan secara eksplisit, akan tetapi seluruh penggambaran senja ditunjukkan melalui citraan gerimis, kelam, dan kepergian. Hubungan Intertekstual: Hipogram aktual dan potensial Hipogram Aktual Hipogram aktual yang merupakan keterkaitan langsung unsur tekstual yaitu kata AusenjaAy pada kedua teks. Senja pada kedua teks memiliki kesamaan makna dasar yaitu kehilangan dan Pada puisi Chairil Anwar, senja disajikan sebagai lanskap kehilangan melalui gambaran sebuah kesunyian dan perpisahan. Ini tergambar dari larik dalam puisinya: AuTiada lagi. Aku sendiri. Ay Ausekalian selamat jalanA sedu penghabisan bisa terdekap. Ay Larik tersebut secara eksplisit menampilkan senja sebagai ruang kepergian, momen ketika cinta, harapan, atau kehadiran telah meninggalkan. Senja berfungsi sebagai penanda ketiadaan yang menyakitkan. Drama Janji Senja menunjukkan makna serupa melalui dialog dan latar drama. Tokoh Ibu terus menunggu seseorang yang tak kunjung datang: AuAyahmu berjanji akan datang saat senja. Ay AuSudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita laluiA namun Ayah tak jua datang. Ay Secara heuristik, naskah drama mengulang struktur makna yang sama yakni senja sebagai gambaran ketiadaan figur yang ditunggu, ruang antara datang dan tidak datang, hadir dan tidak Kesamaan struktur ini menunjukkan bahwa naskah drama Taofan Nalisaputra menghidupkan kembali hipogram aktual dari puisi Chairil Anwar, yaitu gagasan bahwa senja merupakan tanda hilangnya seseorang yang dicintai. Sehingga dapat disumpulkan bahwa kedua teks menggambarkan matrix makna yang sama yaitu senja sebagai bentuk kehilangan, ketiadaan, jeda emosional antara harapan dan kehampaan. Hipogram potensial Hipogram potensial mengacu pada pola pemaknaan yang tidak berasal langsung dari teks Chairil, tetapi hidup dalam pola sastra Indonesia dan menjadi bagian dari pemaknaan suatu simbol yang telah mengakar. Hipogram potensial ini terefleksi dalam naskah drama melalui AuKarena senja bukan akhir, ia adalah permulaan sebuah hari. Ay Ungkapan ini jelas memanfaatkan pola pemaknaan senja sebagai ambang perubahan, tetapi Taofan mengolahnya menjadi varian baru: bukan hanya akhir, tetapi awal harapan sebuah penguatan bahwa senja juga dapat menjadi simbol penegasan komitmen dan kesetiaan, bukan semata-mata kehilangan. 110 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 104-113 Pembacaan Hermeneutik (Matrix-Model-Varia. Hasil analisis intertekstual menunjukkan bahwa puisi AuSenja di Pelabuhan KecilAy karya Chairil Anwarberfungsi sebagai hipogram utama bagi drama Janji Senja karya Taofan Nalisaputra, baik dalam bentuk hipogram aktual maupun potensial. Secara heuristik, kedua teks menampilkan senja sebagai lanskap kehilangan melalui citraan keheningan dan ketiadaan. Chairil menyajikan pelabuhan yang redup dan kosong yang tergambar pada larik : AuTiada lagi. Aku sendiri. Ay Sedangkan Taofan menghadirkan senja sebagai ruang penantian yang tidak pernah berujung yang tergambar pada narasi : AuSudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita laluiA namun Ayah tak jua datang. Ay Keterkaitan ini memperlihatkan bahwa keduanya berbagi matrix makna yang sama, yakni kehilangan, ketiadaan, dan keterputusan relasi. Namun, proses transformasi muncul ketika naskah drama mengubah struktur makna tersebut melalui model baru. Jika model Chairil menempatkan senja sebagai finalitas kepergian, yang dipertegas oleh larik: Ausekalian selamat jalanA sedu penghabisan bisa terdekap,Ay Maka model Taofan menampilkan senja sebagai ruang penantian berulang, terwujud dalam keyakinan Ibu bahwa ayah akan datang: AuAyahmu berjanji akan datang saat senja. Ia pasti datang. Ay Transformasi semakin terlihat pada varian makna yang diciptakan pada naskah drama, yaitu personifikasi senja sebagai figur ayah, sebuah inovasi simbolik yang tidak ditemukan dalam puisi. Hal ini tampak pada ungkapan Anak: AuAku tak lagi menganggap Senja sebagai Ayahku,Ay yang menunjukkan bahwa senja bukan hanya latar temporal, tetapi telah berubah menjadi entitas personal yang membentuk konflik emosional. Selain itu, hipogram potensial dari tradisi sastra Indonesia yang memaknai senja sebagai zona liminal antara terang dan gelap, antara harapan dan kepedihan juga diaktifkan dalam naskah drama melalui dialog: AuKarena senja bukan akhir, ia adalah permulaan sebuah hari,Ay yang memperluas makna simbol ke arah afirmasi ketabahan dan kesetiaan. Dengan demikian, hasil pembacaan hermeneutik melalui konsep matrixAemodelAevarian Riffaterre membuktikan bahwa drama Taofan tidak sekadar meniru struktur makna puisi Chairil, tetapi justru melakukan reinterpretasi melalui transformasi simbol, perpindahan perspektif emosional, serta inovasi bentuk personifikasi, sehingga menghasilkan varian baru yang memperkaya tradisi simbol AusenjaAy dalam sastra Indonesia. Pembacaan hermeneutik dari kedua teks menunjukkan bahwa naskah drama Janji Senja dan puisi senja di pelabuhan kecil memiliki hubungan intertekstual melalui simbol senja sebagai matriks makna. Dalam puisi Chairil Anwarsenja disajikan sebagai ruang kehilangan yang ditandai dengan larik Autiada lagi, aku sendiriAy dan sebuah penegasan final pada frasa Ausekalian selamat sedu penghabisan bisa terdekap. Ay Secara hermeneutik, puisi Chairil Anwar membangun latar kesendirian, keterputusan, dan hilangnya harapan. Struktur ini menjadi hipogram aktual Dinda Listiana Awali: Senja dalam Intertekstualitas Riffaterre pada A yang dapat ditelusuri dalam naskah drama Janji Senja (Syamsurya. Asia. Daerah, & Makassar. Pada naskah drama Toufan Nalisaputra, senja dihadirkan sebagai latar waktu yang sarat Pada dialog ibu: AuAyahmu berjanji akan datang saat senja,Ay yang mengindikasikan bahwa senja bukan hanya penanda waktu, melainkan ruang penantian yang dibebani harapan. Repetisi kata senja dalam naskah drama memperlihatkan bahwa simbol senja mengikat keseluruhan konflik dramatik. Namun, berbeda dengan puisi yang menempatkan senja sebagai latar umum, drama mengembangkan senja menjadi ruang obsesif bahkan sampai tahap Hal ini tampak dalam pernyataan Ibu: AuAyahmu terlalu bersih. Ibu tidak mungkin bisa menggantikannya dengan orang lainA Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja. Ay Hal ini menunjukkan bahwa intertextuality dapat memperkaya pemahaman kita tentang karya sastra dengan mengidentifikasi hubungan antara teks dan konteks budaya yang lebih luas. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Nurmila & Pamulang, 2. yang menegaskan bahwa pembacaan heuristik dan hermeneutik membuka dua tingkat makna berbeda, di mana pada teks puisi menghadirkan makna senja secara tidak langsung melalui simbol yang ada di Dalam naskah drama Janji Senja, bentuk adopsi ketidaklangsungan tersebut tergambar dalam tokoh ibu yang tidak pernah menyebut alasan faktual kepergian ayah, tetapi senantiasa menyandarkan seluruh makna hidupnya pada simbol AusenjaAy sebagai janji yang harus (Nurmila & Pamulang, 2. juga menegaskan bahwa makna tersirat biasanya Audiaktifkan melalui pola kultural yang telah mapan,Ay yang dalam penelitian ini tampak melalui tradisi simbolik senja sebagai ruang liminal dalam sastra Indonesia. Selain itu, penelitian (Khasanah, 2. tentang intertekstualitas menunjukkan bahwa hipogram potensial seringkali hadir melalui Aupola budaya yang berulang dalam tradisi sastra, bahkan ketika tidak disebutkan secara eksplisit dalam teksAy. Hal tersebut tampak pada drama Janji Senja, terutama dalam pernyataan Ibu: AuKarena senja bukan akhir, ia adalah permulaan sebuah hari. Ay Dialog ini mengaktifkan pola sastra Indonesia yang memposisikan senja sebagai ambang harapan dan peralihan psikologis (Situmorang, 2. Dengan demikian, drama Taofan tidak hanya merespons puisi Chairil secara tekstual, tetapi turut menghidupkan hipogram potensial berupa konvensi simbolik yang mengakar dalam tradisi sastra Indonesia. Penelitian (Nurmila & Pamulang, 2. mencerminkan pemahaman yang lebih dalam mengenai peran senja dalam narasi, yang sering kali berfungsi sebagai simbol transisi dan harapan dalam sastra Indonesia. Mereka menunjukkan bahwa suatu teks dapat mengembangkan model baru tanpa menghapus matriks yang berasal dari hipogramnya. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian ini: drama Janji Senja mempertahankan matriks universal Ausenja sebagai kehilanganAy, tetapi mengembangkan model berupa Ausenja sebagai penantianAy dan menghasilkan varian baru berupa Ausenja sebagai figur ayahAy. Frasa Anak AuAku tak lagi menganggap Senja sebagai AyahkuAy menjadi bukti paling signifikan bahwa drama menciptakan inovasi simbolik yang tidak ditemukan dalam puisi Chairil. Dengan mengintegrasikan teori Riffaterre, penelitian terdahulu, serta hasil analisis hermeneutik, dapat disimpulkan bahwa drama Janji Senja mereproduksi makna dari puisi Senja di Pelabuhan Kecil melalui mekanisme intertekstual yang kompleks: meminjam matriks, memodifikasi model, dan memperluas varian. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang dinamika simbol AusenjaAy lintas-genre dalam sastra Indonesia, sekaligus memperkuat validitas 112 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 104-113 teori hipogram yang menjelaskan bagaimana teks baru tumbuh dari jejak makna teks PENUTUP Penelitian menunjukkan bahwa naskah drama Janji Senja karya Taofan Nalisaputra dan puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwarmemiliki hubungan intertekstual yang kuat melalui simbol AusenjaAy sebagai pusat makna. Melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik, ditemukan bahwa kedua teks berbagi matriks yang sama, yakni senja sebagai representasi kehilangan, ketiadaan, dan keterputusan emosional. Namun, transformasi makna terjadi ketika drama memodifikasi model yang hadir dalam puisi. Jika pada puisi Chairil senja dimaknai sebagai titik final kepergian, maka dalam drama senja berubah menjadi ruang penantian yang terus berulang, bahkan dipersonifikasikan menjadi figur ayah. Perubahan ini menunjukkan adanya perpindahan makna dari lanskap kesendirian menuju simbol yang memuat harapan, keyakinan, dan keteguhan batin. Temuan penelitian tidak hanya memperlihatkan mekanisme intertekstual dalam kerangka teori RiffaterreAimeliputi matrix, model, dan varianAitetapi juga menegaskan bahwa simbol senja dalam sastra Indonesia terus mengalami perluasan makna sesuai konteks kultural dan kreatif pengarang. Dengan demikian, kajian ini menegaskan bahwa karya baru tidak sekadar mengulang makna dari teks sebelumnya, tetapi menciptakan varian simbolik yang memperkaya tradisi estetika sastra Indonesia. DAFTAR PUSTAKA