KONSEP TAUHID PERSPEKTIF NASHIR AL-UMAR: IMPLEMENTASI DALAM DAKWAH DAN PENDIDIKAN DI ERA MODERN https://doi. org/10. 38214/jurnalbinaummatstidnatsir. Submitted: 02-04-2025 Reviewed: 15-05-2025 Published: 04-06-2025 Agusman agusmancz@stidnatsir. STID Muhammad Natsir Ae Indonesia Samsuddin samsuddin@staiabogor. STAIA Bogor- Indonesia Iskandar iskandarkato@stiba. Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ABSTRACT This study explores the concept of tawhid from the perspective of Nashir al-Umar and its implementation in contemporary da'wah and Islamic education. The research employs a library research method with a descriptiveanalytical approach to examine the works of Nashir al-Umar. The findings indicate that tawhid-based da'wah and education must be prioritized as a response to the ongoing crisis of faith and global challenges faced by the Muslim Key strategies include strengthening digital da'wah platforms, integrating tawhid-centered curricula in Islamic educational institutions, and optimizing the role of the family as the foundational environment for nurturing Furthermore, the effective and moderate use of information technology is essential for disseminating tawhid messages in a relevant and widespread manner. This study contributes theoretically to the enrichment of Islamic discourse, particularly in the fields of da'wah and education, and offers practical implications for preachers, educators, and policymakers in designing tawhid-oriented programs to shape a generation of Muslims who are firm in their faith and resilient in facing the challenges of the modern era. Keywords : Tawhid. Contemporary Da'wah. Islamic Education ABSTRAK Penelitian ini mengkaji konsep tauhid dalam perspektif Nashir al-Umar serta implementasinya dalam dakwah dan pendidikan pada era kontemporer. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap karya-karya Nashir al-Umar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah dan pendidikan berbasis tauhid perlu diarusutamakan sebagai respons terhadap krisis akidah dan tantangan global yang dihadapi umat Islam saat ini. Penguatan dakwah digital, integrasi kurikulum tauhid di lembaga pendidikan Islam, serta peran strategis keluarga sebagai fondasi awal pembinaan akidah menjadi langkah-langkah utama yang disarankan. Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi secara moderat dan efektif dinilai penting untuk menyampaikan pesan tauhid secara luas dan kontekstual. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam memperkaya wacana keislaman, khususnya dalam studi dakwah dan pendidikan Islam, serta implikasi praktis bagi para daAoi, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam merancang strategi pembinaan umat yang berlandaskan tauhid demi membentuk generasi Muslim yang kuat dalam akidah dan siap menghadapi tantangan zaman. Kata Kunci: Tauhid. Dakwah Kontemporer. Pendidikan Islam PENDAHULUAN Tauhid merupakan inti dari ajaran Islam yang menjadi landasan utama bagi seluruh dimensi kehidupan seorang Muslim. Sebagai konsep fundamental, tauhid mencakup keyakinan mutlak terhadap kemahaesaan Allah SWT, yang menjadi pondasi keimanan. Jurnal Bina Ummat: Membina dan Membentengi Ummat is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License 145 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 1 | 2025 ibadah, dan akhlak seorang hamba. Ia tidak hanya berfungsi sebagai pengakuan teologis, tetapi juga membimbing seorang Muslim dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai ketuhanan. Oleh karena itu, tauhid menjadi fondasi utama dalam dakwah dan pendidikanAidua pilar penting dalam pembentukan peradaban Islam. Tauhid juga merupakan pokok Dinul Islam dan syarat utama diterimanya amal ibadah serta ketaatan kepada Allah SWT (Al-Jibrin, 1. Al-Qur'an menegaskan bahwa tauhid merupakan misi utama seluruh Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah, sebagaimana tercermin dalam Surat Al-AAoraf ayat 59, 65, dan 73 serta Al-Anbiya ayat 25. Seluruh ajaran para nabi berpangkal pada prinsip pengesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah (Husaini, 2011: 15. Samsuddin, 2024: . Hal ini menunjukkan bahwa tauhid bukan hanya fondasi spiritual individu, melainkan juga basis peradaban yang adil, bermoral, dan berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan. Namun, keyakinan terhadap tauhid tidak boleh berhenti pada tataran teoretis. Tauhid yang benar harus termanifestasi dalam kehidupan nyata: melalui ibadah yang benar, akhlak yang luhur, serta interaksi sosial yang mencerminkan nilai-nilai ketuhanan (Indiartiko, 2023. Samsuddin. Rahendra Maya, & Agusman, 2. Pengamalan tauhid yang menyeluruh menjadi benteng utama dari berbagai bentuk penyimpangan akidah dan moral. Oleh sebab itu, pemahaman mendalam dan implementasi yang konsisten atas ajaran tauhid sangatlah penting dalam membimbing umat menuju kehidupan yang berorientasi pada pengabdian total kepada Allah SWT. Dalam sejarah Islam, para ulama memiliki peran sentral dalam menjaga dan menyebarkan kemurnian tauhid, termasuk melalui jalur pendidikan dan dakwah. Di era kontemporer, salah satu ulama yang dikenal konsisten menyerukan urgensi tauhid adalah Syaikh Nashir al-Umar. Melalui karya-karya, ceramah, dan pemikirannya, beliau menegaskan bahwa tauhid bukan sekadar warisan dogmatis, tetapi harus menjadi motor penggerak peradaban dalam menghadapi tantangan zaman modern. Menurut Nashir al-Umar, dakwah di era kontemporer harus menjadikan tauhid sebagai prioritas utama dan pilar penting. Dakwah yang berlandaskan tauhid harus komunikatif, kontekstual, dan relevan dalam menjawab tantangan seperti sekularisme, materialisme, relativisme moral, dan krisis spiritual. Dalam bidang pendidikan. Nashir alUmar juga menekankan pentingnya pendidikan tauhid sejak dini. Ia mendorong lahirnya generasi Muslim yang kokoh secara akidah melalui sistem pendidikan yang terstruktur dan berbasis tauhid. Pendidikan seperti ini sangat dibutuhkan di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang kerap kali mengikis nilai-nilai spiritual dan identitas keislaman generasi muda (Al-Umar, 2. Lebih jauh, beliau juga melihat potensi besar dari teknologi digital sebagai media Akan tetapi, ia mengingatkan agar penggunaan teknologi tetap dibarengi dengan komitmen menjaga kemurnian ajaran Islam serta integritas para daAoi. Dalam konteks ini, tauhid menjadi kunci untuk menjaga arah hidup umat di tengah derasnya arus perubahan Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji urgensi tauhid dalam perspektif Nashir al-Umar serta mengeksplorasi implementasinya dalam dakwah dan pendidikan di era kontemporer. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah sekaligus praktis dalam menjawab tantangan ideologis dan spiritual umat PENGEMBANGAN WEBSITE AuSAMAWAAy | 146 Islam masa kini. Dengan menjadikan tauhid sebagai landasan berpikir dan bertindak, umat Islam akan mampu membangun masyarakat yang beriman, berilmu, dan berintegritas dalam berbagai aspek kehidupan. Penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi dengan penelitian ini antara lain Patahuddin, et. yang mengkaji konsep pendidikan tauhid M. Natsir dan relevansinya dengan kurikulum Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M. Natsir. Selanjutnuya penelitian Fathurrohim . yang berjudul Konsep Tauhid dalam Kitab Syarh Ad-Durusi AlMuhimmati Li-AoAmmatil Ummati dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Materi Ajar PAI di SLTA. Kemudian penelitain Shafwan dan Yaqin . yang berjudul Konsep Pendidikan Tauhid menurut Syeikh Abdurrahman Bin Nashir Al-SaAodi. Demikian pula penelitian Samsuddin, et. yang mengkaji konsep tauhid menurut Syekh Bin Baz dan implementasinya dalam dakwah dan Pendidikan di era global. Penelitian ini mengisi kekosongan . dari penelitian-penelitian sebelumnya yang meskipun sama-sama membahas konsep tauhid dan relevansinya dalam dakwah maupun pendidikan, namun belum secara spesifik mengkaji pemikiran Nashir al-Umar secara komprehensif, terutama dalam konteks implementasinya di era kontemporer. Misalnya, penelitian Patahuddin, et. fokus pada konsep pendidikan tauhid M. Natsir dan hubungannya dengan kurikulum lembaga tertentu, sedangkan Fathurrohim . lebih menitikberatkan pada analisis kitab tauhid klasik dan pengembangan materi ajar PAI di tingkat SLTA. Penelitian Shafwan dan Yaqin . membahas pendidikan tauhid dari perspektif ulama klasik seperti Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-SaAodi, dan penelitian Samsuddin, et. mengkaji pemikiran Syaikh Bin Baz dalam konteks globalisasi, tetapi belum menjangkau aspek manhaj dakwah dan strategi pendidikan berbasis tauhid secara terpadu seperti dalam penelitian ini. Kebaruan . dari penelitian ini terletak pada analisis integratif terhadap pemikiran Nashir al-Umar tentang tauhid, tidak hanya sebagai konsep teologis tetapi juga sebagai landasan praktis dalam dakwah dan pendidikan Islam di era kontemporer. Penelitian ini mengkaji tauhid dari tiga dimensi utamaAiteori dakwah, teori pendidikan Islam, dan implementasi strategisAisekaligus menyoroti urgensinya sebagai solusi atas problematika umat modern. Pendekatan ini memberikan kontribusi baru dalam pengembangan studi dakwah dan pendidikan Islam berbasis tauhid dengan menekankan pentingnya manhaj wasathi dan integrasi antara nilai, media, serta strategi pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur . ibrary researc. , yang berfokus pada analisis mendalam terhadap konsep tauhid perspektif Nashir Al-Umar dan implementasinya dalam dakwah dan pendidikan di era modern. Data penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah Kitab Al-Tauhid Awwalan karya Nashir Al-Umar sedangkan data sekunder berupa literatur pendukung seperti karya Al-Umar lainnya karya penulis lain yang relevan berupa buku, artikel jurnal, dan artikel akademik yang berkaitan dengan konsep tauhid. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumen dan kajian literatur. Studi dokumen melibatkan analisis mendalam terhadap kitab Al-Tauhid Awwalan. Sementara itu, kajian literatur dilakukan dengan mengumpulkan dan menelaah sumber-sumber pendukung untuk memperkuat argumen penelitian. 147 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 1 | 2025 HASIL DAN DISKUSI Nashir al-Umar memandang bahwa tauhid memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Tauhid merupakan landasan utama agama Islam (Al-Umar, 2. , sekaligus menjadi maksud penciptaan manusia dan tujuan utama pengutusan para rasul. Pandangan ini didasarkan pada QS adz-Dzariyat ayat 56 dan QS al-Anbiya ayat 25 (Al-Umar. Jika dicermati esensi QS adz-Dzariyat: 56 adalah tauhid (Syekh, 2. Oleh karena itu. Al-Umar menekankan bahwa tauhid harus menjadi prioritas utama dalam dakwah dan Pandangan ini sejalan dengan sunnah para rasul yang seluruhnya menyerukan manusia kepada tauhid (Al-Ghunaiman, 2. Al-Umar . 5, hlm. juga menjelaskan bahwa tauhid merupakan jalan utama menuju surga, dengan mengutip dua hadis sahih muttafaq 'alaihAihadis Ubadah bin Shamit dan hadis UtbanAiyang menunjukkan bahwa siapa saja yang bersyahadat dengan tulus akan dijamin masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Urgensi tauhid juga ditegaskan dalam firman Allah dalam QS an-Nisa: 48: ca acEEa aE Oa e aA a aI Oa e aEa a aN aOOa e aA a aI aOIa aaEaEa aE aII Oaa a o aO aII Oa e a eE A ca Aua acIA AacEEa AaCa a eA aa aO uae UIA A aO UIA AuSesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari . itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. Ay (QS. an-Nisa: . Ayat ini menegaskan bahwa tauhid murni merupakan sebab ampunan sempurna, sedangkan syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni jika seseorang meninggal dalam keadaan belum bertaubat dari perbuatan tersebut. Penegasan ini juga sejalan dengan hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, di mana Allah berfirman: "Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh itu pula. " (HR. Musli. Dengan demikian, baik dalil dari Al-QurAoan maupun dari hadits menunjukkan posisi tauhid sebagai inti keselamatan dan ampunan, yang menjadikannya sangat urgen untuk terus ditegakkan dan disebarluaskan, terutama dalam menghadapi tantangan akidah umat di era Selanjutnya. Al-Umar menegaskan bahwa tauhid adalah misi utama dakwah seluruh Mengutip pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ia menyatakan bahwa semua nabi menyeru pada esensi "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in"Aimemurnikan ibadah hanya kepada Allah. Oleh karena itu. Rasulullah A Amemulai dakwah kepada masyarakat Quraisy dengan seruan, "Ucapkanlah La Ilaha Illallah, niscaya kalian akan beruntung" (Al-Umar, 2. Dakwah tauhid terus menjadi agenda utama Rasulullah AA, bahkan setelah hijrah ke Madinah dan berdirinya Daulah Islamiyah. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, sebagai khalifah pertama, juga menegaskan prioritas tauhid dengan memerangi orang-orang murtad dan penolak zakat, karena penolakan tersebut dianggap sebagai pengingkaran terhadap esensi Dalam sejarah Islam, pengarusutamaan dakwah tauhid terus dilanjutkan selama PENGEMBANGAN WEBSITE AuSAMAWAAy | 148 kejayaan daulah dan khilafah Islamiyah. Namun, seiring dengan melemahnya institusi pemerintahan Islam, dakwah tauhid pun turut melemah. Definisi dan Klasifikasi Tauhid Al-Umar . 5, hlm. 31Ae. mendefinisikan tauhid secara etimologis dan Secara etimologis, tauhid berasal dari kata "wahhada" yang berarti mengesakan. Pengesaan ini tidak dapat terwujud kecuali dengan dua hal: afirmasi sempurna . tsbat tam. dan negasi umum . afyu 'am. Secara terminologis, tauhid adalah mengesakan Allah dalam hak-hak-Nya, yang mencakup rububiyah, uluhiyah, serta nama dan sifat-Nya. Berdasarkan definisi ini. Al-Umar membagi tauhid menjadi tiga kategori. Pertama. Tauhid Rububiyah, yakni Mengesakan Allah dalam penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan alam semesta. Artinya, meyakini kemahesaan Allah sebagai penciptakan dan pengatur alam semesta ini. Kedua. Tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dengan mengimani bahwa hanya Allah yang berhak disembah atau diibadahi. Ketiga. Tauhid Asma wa Sifat: Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam QS al-AAoraf: 80. Pembagian ini bersumber dari istinbat dan istiqra terhadap nash-nash Al-QurAoan dan Sunnah. Beberapa ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim membagi tauhid ke dalam dua: tauhid al-maAorifah wal-itsbat . auhid rububiyah dan asma wa sifa. dan tauhid al-qashd wa althalab . auhid uluhiya. Implementasi Tauhid dalam Dakwah dan Pendidikan di Era Kontemporer Menurut Al-Umar, tauhid memiliki urgensi yang sangat besar dalam konteks dakwah dan pendidikan kontemporer. Umat Islam hari ini menghadapi tantangan serius dalam bidang akidah, seperti syiAoah rafidhah, kristenisasi, bid'ah, khurafat, dan lemahnya pemahaman terhadap konsep al-walaAo wal baraAo. Tantangan ini diperparah oleh gelombang sekularisasi yang mengikis nilai-nilai Islam dari berbagai aspek kehidupan. Al-Umar menyatakan bahwa sekularisme merupakan tantangan besar yang melemahkan eksistensi umat Islam. Ia merujuk pada QS al-MaAoidah: 44 dan 50 serta QS anNisa: 65 sebagai dalil larangan berhukum dengan selain hukum Allah. Menurutnya, berhukum kepada selain syariat Allah termasuk pembatal tauhid dan bentuk kekufuran yang nyata, sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Hasan dalam Fathul Majid. Lebih lanjut. Al-Umar menyoroti masih banyaknya kesalahan dalam memahami tauhid secara parsial. Padahal, tauhid adalah konsep yang menyeluruh . , sehingga diperlukan pendekatan yang holistik dalam pengajaran dan dakwah. Al-Umar menawarkan empat langkah implementasi dakwah tauhid, yaitu . mempelajari, memahami, dan mengamalkan tauhid, . Mengajarkan dan mendakwahkan tauhid, . Mengaitkan realitas kekinian dengan prinsip tauhid. , dan . membangun persatuan umat atas dasar tauhid. Pengajaran Tauhid Tahap pertama dalam pengarusutamaan tauhid adalah dengan mempelajarinya secara Al-Umar mengutip hadis dan ayat yang menekankan pentingnya ilmu sebelum amal, 149 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 1 | 2025 seperti QS Muhammad: 19 dan hadis riwayat Bukhari-Muslim tentang keutamaan memahami Tauhid harus dipelajari dengan benar karena ia merupakan landasan agama. Imam Abu Hanifah, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Taimiyah dalam MajmuAo Fatawa, menegaskan bahwa fiqh akbar adalah tauhid, sementara fiqh yang berkaitan dengan hukum furuAoiyyah disebut fiqh asghar. Namun, mempelajari tauhid saja tidak cukup. Ilmu harus diamalkan dan diajarkan. Rasulullah A Adan seluruh nabi memulai dakwah mereka dengan mengajarkan tauhid, sebagaimana disebutkan dalam QS al-AAoraf: 59. QS an-Nahl: 36, dan QS al-Anbiya: 25. Hal ini juga tercermin dalam wasiat beliau kepada MuAodz bin Jabal ketika diutus ke Yaman: AuAjaklah mereka untuk bersyahadat La Ilaha IllallahAy (HR. Bukhari-Musli. Ayat QS Yusuf: 108 menunjukkan bahwa dakwah kepada tauhid adalah jalan hidup Rasulullah A Adan para pengikutnya (Al-Qasimi, dalam Samsuddin, 2. Al-Umar . 5 ) merumuskan beberapa langkah strategis dakwah tauhid, antara lain. kajian berkelanjutan di masjid dan rumah, kurikulum tauhid di semua jenjang pendidikan. Seminar dan kuliah umum tentang tauhid, pendidikan keluarga berbasis tauhid, penyebaran kitab tauhid. Pemanfaatan media dan teknologi untuk mengajarkan tauhid. Poin penting yang pertama dari strategi tersebut adalah intensifikasi kajian tauhid yang dilaksanakan secara berkelanjutan, baik di masjid maupun di lingkungan keluarga. Kajian di masjid selaras dengan upaya revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam yang berperan strategis dalam membina, memajukan, dan memberdayakan masyarakat. Sejak masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, masjid telah berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial, pendidikan, ekonomi, dan pembentukan karakter umat, termasuk pengajaran Al-QurAoan, hadits, serta ilmu keislaman (Yunus, 2. Dalam perspektif Natsir . , masjid juga merupakan tempat pembinaan umat secara lahir dan batin, sehingga menjadikannya sebagai elemen sentral dalam transformasi sosial dan spiritual (Kohar, et. al, 2. Selain itu, penguatan tauhid dalam lingkup keluarga menjadi aspek krusial dalam pendidikan informal, yang merupakan salah satu dari tiga pusat pendidikan dalam konsep tri pusat pendidikan. Dalam hal ini, keluarga berperan sebagai institusi pendidikan pertama dan utama yang menentukan arah pembentukan kepribadian anak. Sebagaimana ditegaskan oleh Husaini . , dengan merujuk pada Surat Luqman ayat 13, tugas utama orang tua adalah menanamkan akidah yang kokoh kepada anak-anak mereka agar terhindar dari kemusyrikan sejak dini. Mengaitkan Realitas Kontemporer dengan Tauhid Implementasi selanjutnya adalah mengaitkan realitas kekinian ummat dengan konsep Para dai dan pendidik diharapkan dapat menjelaskan fenomena sosial melalui perspektif tauhid, termasuk penyimpangan akidah, aliran sesat, ekstremisme, sekularisasi, dan Upaya ini penting agar umat dapat memahami tantangan kontemporer dalam kerangka tauhid (Al-Turki, 1992. Al-Umar, 2. Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa Masyarakat Islam saat ini dihadapkan pada berbagai problematika dan tantangan internal maupun eksternal (Samsuddin, 2. Diantara tantangan tersebut terdapat pemikiran- PENGEMBANGAN WEBSITE AuSAMAWAAy | 150 pemikiran kontemporer yang bersifat desktruktif terhadap Aqidah . dan akhlak Islam. Yang paling banyak memakan korban adalah paham sekualirsme. Pluralisme Agama, paham relativisme, materialism, konsep kesetaraan gender. Hak Asasi Manusia secular, dan sebagainya (Husaini, 2. Hal ini sejalan dengan studi Syafri, et. yang menyatakan bahwa sekularisme, pluralisme, liberalisme(Sepili. , dan materialisme merupakan ancaman serius terhadap pemahaman tauhid di era kontemporer sebagai tantangan kontemporer pemikiran yang bersifat eksternal. Sekularisme berusaha memisahkan agama dari urusan public dan kenegaraan, mengabaikan peran dan aturanAllah dalam kehidupan sehari-hari (AlUmar, 2. dimana aturan Allah yang bersumber dari wahyu (Kitab Suc. hanya berlaku di ruang privat . engatur kehidupan pribad. dan tidak berlaku di ruang publik (Samsuddin. Rahendra Maya, & Agusman, 2. Hal ini tentu saja bertentangan dengan konsep tauhid. Demikian pula paham pluralisme agama adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama memiliki kebenaran yang relatif dan sama-sama sah sebagai jalan menuju Tuhan. Pandangan ini juga meyakini bahwa semua pemeluk agama akan memperoleh keselamatan di akhirat. Namun, konsep tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam, yang menegaskan bahwa hanya IslamAidalam arti tunduk dan berserah diri kepada Allah melalui tauhid serta mengikuti ajaran para Nabi dan RasulAimerupakan satu-satunya jalan yang benar menuju Allah (Samsuddin. Rahendra Maya, & Agusman, 2. Membangun Persatuan di atas Prinsip Tauhid Langkah terakhir adalah membangun persatuan umat Islam berdasarkan prinsip Hal ini merujuk pada perintah Allah dalam QS Ali Imran: 103. Al-Umar menafsirkan "tali Allah" dalam ayat tersebut sebagai tauhid. Maka, persatuan yang dimaksud adalah persatuan di atas kalimat tauhid. Persatuan adalah perintah syariat, dan menjadi ciri khas Ahlussunnah wal JamaAoah yang menyeru kepada persatuan dan menjauhi perpecahan. Kekuatan umat hanya dapat terwujud melalui persatuan yang berlandaskan tauhid. Diskusi Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, terlihat bahwa pemikiran Nashir al-Umar mengenai urgensi tauhid memiliki relevansi yang kuat dengan berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam bidang dakwah dan pendidikan di era kontemporer. Untuk memahami lebih dalam kontribusi pemikiran tersebut, bagian pembahasan ini akan menguraikan hasil penelitian dengan mengaitkannya pada kerangka teori yang relevan. Pembahasan akan disusun secara tematik berdasarkan temuan utama, dimulai dari urgensi tauhid dalam teori dakwah dan pendidikan Islam, implementasinya dalam konteks kekinian, serta relevansinya sebagai solusi atas problematika umat modern. Pendekatan ini bertujuan agar pembahasan lebih sistematis, integratif, dan kontekstual, sekaligus menegaskan posisi tauhid sebagai pondasi utama perubahan individu dan masyarakat menurut Nashir al-Umar. Urgensi Tauhid dalam Perspektif Teori Dakwah Dalam teori dakwah Islam, tauhid adalah inti dan pondasi dakwah yang tidak boleh Hal ini selaras dengan pendapat Nashir al-Umar bahwa tauhid adalah misi utama para rasul dan menjadi prioritas dalam dakwah Islam. Menurut teori dakwah taAoarifiyah . akwah sebagai aktivitas mengenalkan kebenara. , tugas utama seorang daAoi adalah menyampaikan esensi tauhid dengan pendekatan yang edukatif, berkelanjutan, dan berbasis hikmah (QS. An-Nahl: . 151 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 1 | 2025 Model dakwah nabawiyah yang ditegaskan oleh al-Umar, yakni menyeru kepada tauhid terlebih dahulu sebelum hal lainnya, sejalan dengan teori dakwah yang menempatkan tauhid sebagai al-mabdaAo al-awwal . rinsip dasar pertam. yang menjadi fondasi perubahan individu dan masyarakat. Hal ini diperkuat oleh pendekatan dakwah bil hal, yakni bagaimana Rasulullah tidak hanya menyeru tauhid secara verbal, tetapi juga membuktikannya dalam perilaku dan kebijakan kenegaraan. Nashir al-Umar juga menekankan pentingnya dakwah tauhid dalam menghadapi berbagai tantangan kontemporer seperti sekularisasi, bid'ah, dan takfirisme. Dalam perspektif dakwah modern, tantangan-tantangan ini menuntut penguatan manhaj wasathi . endekatan modera. , yang menjadi karakter dakwah yang rahmatan lil Aoalamin, sekaligus menghindari ekstrimisme dalam memahami dan menyebarkan ajaran tauhid. Kedudukan Tauhid dalam Teori Pendidikan Islam Dalam teori pendidikan Islam, tauhid merupakan tujuan akhir pendidikan . hayah altarbiya. Pendidikan tidak sekadar transfer pengetahuan . aAoli. , tetapi juga pembentukan kepribadian tauhidi . yakhsiyyah tauhdiyya. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang menempatkan tauhid sebagai asas nilai dan acuan moral (QS. Luqman: 13 dan QS. Al-Baqarah: . Konsep Al-Umar tentang pentingnya mengajarkan tauhid melalui kurikulum, pengajaran keluarga, dan kegiatan dakwah sesuai dengan prinsip integrasi iman, ilmu, dan amal dalam pendidikan Islam. Teori pendidikan holistik dalam Islam menekankan bahwa aspek kognitif . lmu tauhi. , afektif . man kepada tauhi. , dan psikomotorik . engamalan tauhi. harus diintegrasikan dalam semua jenjang pembelajaran. Oleh karena itu, strategi penguatan kurikulum tauhid yang diajukan al-Umar menjadi sangat relevan dengan pendekatan tarbiyah Pentingnya memulai pendidikan dengan tauhid juga ditegaskan oleh Imam Zarnuji . dalam TaAolim MutaAoallim yang menegaskan bahwa hendaknya seorang pelajar mendahulukan ilmu tauhid, maAorifat, dan mengenal Allah dengan dalil (Abdurrahman, et. Hal ini sejalan pula dengan pandangan Al-Utsaimin . yang menekankan bahwa ilmu tauhid merupakan ilmu paling mulia dan paling agung kedudukannya sehingga setiap Muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahaminya. Karena ilmu tauhid merupakan ilmu tentang Allah. Implementasi Tauhid dalam Dakwah dan Pendidikan Era Kontemporer Poin-poin implementasi yang disampaikan Nashir al-Umar, seperti kajian masjid, kurikulum tauhid, media dakwah, dan penguatan aqidah al-walaAo wal baraAo, merupakan pendekatan multidimensional yang cocok dikaji dalam teori manajemen dakwah dan perencanaan pendidikan Islam. Kajian tauhid berbasis masjid menjadi sangat relevan karena posisi dan kedudun masjid sebagai salah satu pusat peradaban Islam yang memiliki peranan yang sangat strategis dalam dakwah dan Pendidikan. Sejak masa Rasulullah shallallahu Aoalaihi wa sallam masjid telah menjadi pusat Pendidikan tempat mempelajari Al-QurAoan, hadis, serta pembentukan karakter mulia (Yunus, 2. ( Ningsih, et. al, 2. Dalam konteks ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai institusi yang mendukung pengembangan intelektual dan sosial masyarakat. Salah satu implementasi peran sosial dan PENGEMBANGAN WEBSITE AuSAMAWAAy | 152 intelektual masjid adalah melalui program pendidikan dan dakwah berbasis masjid (Agusman. Samsuddin, dan Rahendra Maya, 2. Sementara penggunaan media dan teknologi informasi untuk menyebarkan tauhid mencerminkan adaptasi terhadap wasail al-daAowah wa al-tarbiyah . edia dakwah dan pendidika. yang dinamis dan adaptif dengan perkembangan zaman. Apalagi di era digital dunia dakwah dan Pendidikan dituntut menyesuaikan sarana dan media dengan preferensi belajar gen-Z yang identic dengan dunia digital dan media online. Generasi Z, yang dikenal sebagai "digital natives" atau generasi asli digital, tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan teknologi modern seperti internet, smartphone, komputer, dan media sosial. Kebiasaan ini membentuk preferensi mereka dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan belajar, yang cenderung bersifat visual, instan, dan interaktif (Dedi Supriadi. Taufiqurrahman, dan Samsuddin, 2. Dalam konteks dakwah, kondisi ini menuntut adanya penyesuaian metode dan media dakwah agar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan generasi ini. Dakwah yang efektif tidak hanya bergantung pada substansi pesan, tetapi juga pada medium yang Oleh karena itu, pendekatan dakwah kepada Gen Z harus memanfaatkan platform digital, media sosial, konten audio-visual, serta strategi komunikasi yang interaktif dan partisipatif. Dengan demikian, pesan dakwah dapat lebih mudah diterima, dipahami, dan diinternalisasi oleh generasi yang tumbuh di tengah era digital ini. Sementara itu, penekanan pada dakwah keluarga dan pendidikan anak menunjukkan penerapan teori internalisasi nilai . alue internalizatio. , yang merupakan pendekatan penting dalam pendidikan karakter Islam. Karena keluraga sebagai organisasi terkecil dalam masyarakat memiliki peran strategis dalam membentuk dasar-dasar Pendidikan dan nilai-nilai yang ditanamkan pada anak sejak dini (Hajras, 2. Dengan demikian Sebagai unit dasar masyarakat, keluarga memiliki peran sentral dalam mendukung proses pendidikan anak, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-QurAoan surat At-Tahrim ayat 6. Para mufassir menyatakan bahwa salah satu maksud ayat ini menegaskan peran orangtua dalam menyelamatkan diri dan keluarganya dari neraka melalui pendidikan dan pengajaran ilmu (Samsuddin, et. al, 2. Al-Umar juga menekankan urgensi persatuan ummat di atas prinsip tauhid, yang dalam teori dakwah disebut sebagai dakwah ilal ittihad . akwah menuju persatua. Ini menegaskan bahwa dakwah tauhid bukan hanya bersifat individual, tetapi juga sosial-politik dalam membangun masyarakat Islam yang kuat secara spiritual dan ukhuwah. Nilai-nilai persatuan kesetiakawanan, dan soliditas sosial merupakan aspek fundamental dalam ajaran Islam, yang berpijak pada prinsip tauhid sebagai kekuatan pemersatu umat. Islam menekankan pentingnya ukhuwah . , kerja sama, dan solidaritas di antara sesama Muslim sebagai fondasi bagi terbentuknya masyarakat yang harmonis dan Dalam konteks ini, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial sejak dini, baik pada tingkat individu maupun Melalui pendekatan pedagogis yang sesuai, pendidikan Islam diharapkan mampu membentuk peserta didik yang memiliki kesadaran akan pentingnya saling mendukung, bekerja sama, dan mengutamakan kemaslahatan bersama di atas kepentingan pribadi (Samsuddin, et. al, 2. Dengan menjadikan tauhid sebagai landasan utama persatuan, pendidikan Islam berbasis tauhid tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang peduli, berempati, dan aktif menjaga persatuan umat dalam bingkai nilai-nilai ilahiah. 153 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 1 | 2025 Relevansi Tauhid sebagai Basis Solusi Problematika Umat Dalam konteks krisis identitas, melemahnya spiritualitas, dan maraknya ideologi sekuler serta liberal, dakwah tauhid yang digagas Nashir al-Umar menjadi tawaran solutif yang sangat relevan. Teori transformasi sosial dalam dakwah menegaskan bahwa perbaikan masyarakat harus dimulai dari perbaikan iman dan worldview-nya, yakni tauhid. Hal ini sejalan dengan janji Allah dalam Al-QurAoan surat An-Nur ayat 55 yang menyatakan bahwa. AuDan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar . mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan AkuAy. Ayat ini menegaskan bahwa transformasi social berupa istikhlaf dan tamkin akan direalisasikan oleh Allah kepada orang beriman dan beramal shaleh jika mereka merealisasikan secara totalitas peribadatan kepada Allah dengan berbasis tauhid yang murni sebagai prioritas primer . ahqyq al-Aoibydah al-khylishah al-qyAoimah Aoaly al-tauhyd awwala. (Al-Husainy. , 1419 H). (Maya, 2. Dalam pendidikan, konsep tauhid tidak hanya dipahami sebagai pelajaran akidah, tetapi harus menjadi paradigma dasar dalam berpikir dan bersikap. Dengan demikian, pendekatan tauhid tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada sistem sosial dan budaya secara lebih luas. Hal ini sejalan dengan gagasan tauhid sosial yang dikemukakan oleh Amien Rais . , di mana tauhid tidak hanya dimaknai secara teologis semata, tetapi juga memiliki dimensi sosial-politik. Tauhid sosial menuntut umat Islam untuk tidak bersikap pasif dalam menghadapi ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan. Sebaliknya, keimanan kepada Allah harus mendorong keterlibatan aktif dalam memperjuangkan keadilan sosial, membela hak-hak kaum lemah, dan membangun masyarakat yang beradab berdasarkan nilainilai ilahiah. Dalam konteks pendidikan, paradigma ini menuntut kurikulum yang tidak hanya menanamkan doktrin tauhid secara normatif, tetapi juga membentuk kesadaran kritis peserta didik terhadap realitas sosial di sekitarnya, serta mendorong aksi nyata dalam perbaikan Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai tauhid sosial dalam proses pendidikan menjadi penting guna membentuk generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga memiliki komitmen pada perubahan sosial yang konstruktif. KESIMPULAN Nashir al-Umar menegaskan bahwa tauhid merupakan fondasi utama yang sangat urgen dalam menghadapi tantangan kontemporer, seperti arus sekularisasi, krisis identitas keislaman, serta derasnya pengaruh pemikiran liberal dan materialistik yang mengikis akidah Dalam konteks inilah, penguatan tauhid menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kemurnian aqidah dan membangun ketahanan spiritual umat Islam. Oleh karena itu, disarankan agar dakwah tauhid digiatkan melalui berbagai media, sistem pendidikan, serta penguatan kurikulum berbasis tauhid di sekolah-sekolah Islam dan dalam lingkungan Penggunaan teknologi informasi juga perlu dimaksimalkan secara bijak untuk menyebarkan pesan tauhid yang moderat, kontekstual, dan relevan dengan kondisi zaman. Penelitian ini memberikan implikasi teoritis dalam memperkaya khazanah kajian dakwah dan pendidikan Islam, serta implikasi praktis bagi para praktisi dakwah dan pendidik untuk merancang program-program berbasis tauhid yang lebih sistematis dan efektif. Selain PENGEMBANGAN WEBSITE AuSAMAWAAy | 154 itu, penelitian ini juga memberikan masukan penting bagi para pembuat kebijakan untuk memperkuat integrasi nilai-nilai tauhid dalam sistem pendidikan dan strategi dakwah sebagai respons terhadap permasalahan sosial yang terus berkembang. DAFTAR PUSTAKA