PASTORALIA STIPAS Keuskupan Agung Kupang Jurnal Penelitian Dosen P-ISSN: 2579-9355 E-ISSN: 2797-2216 Volume 6 Nomor 1. Edisi juni 2025 GURU AGAMA KATOLIK SEBAGAI PELAYAN GEREJA DI PAROKI SANTO YOSEF DELITUA DALAM TINJAUAN SPIRITUALITAS DIAKONIA Rikha Emyya Gurusinga1 1STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan 1rikhaemyyagurusinga@email. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dalam keterlibatan diakonia di Paroki Santo Yosef Delitua. Metode campuran digunakan, menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Guru PAK, pastor, dan tokoh pastoral, serta observasi partisipatif selama kegiatan liturgi dan sosial. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner yang mengevaluasi frekuensi dan jenis keterlibatan Guru PAK dalam pelayanan Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu, motivasi, dan kurangnya dukungan komunitas menjadi hambatan utama dalam penerapan nilai-nilai diakonia oleh guru. Meskipun demikian, keterlibatan dalam diakonia berdampak positif pada kualitas pengajaran dan penghayatan spiritualitas mereka. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk memperkuat dukungan dan pelatihan guna meningkatkan partisipasi Guru PAK dalam pelayanan gereja dan pengembangan spiritualitas diakonia. Kata Kunci Guru Pendidikan Agama Katolik. Spiritualitas Diakonia. Pelayana gereja. Kolaborasi Paroki Abstract Keywords This study aims to explore the role of Catholic Religious Education (CRE) teachers in diaconal engagement at St. Joseph Parish. Delitua. A mixed-method approach was used, combining qualitative and quantitative methods. Qualitative data were obtained through indepth interviews with CRE teachers, priests, and pastoral leaders, as well as participatory observation during liturgical and social activities. Quantitative data were collected through questionnaires evaluating the frequency and types of CRE teachersAo involvement in church The results of the study indicate that time constraints, motivation, and lack of community support are the main barriers to implementing diaconal values by teachers. Nevertheless, involvement in diakonia has a positive impact on their teaching quality and spiritual experience. This research provides recommendations to strengthen support and training in order to enhance CRE teachersAo participation in church ministry and the development of diaconal spirituality. Catholic Religious Education Teachers. Diaconal Spirituality. Church Ministry. Parish Collaboration PENDAHULUAN Gereja Katolik, menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK), dipahami sebagai persekutuan umat Allah, tubuh Kristus, dan bait Roh Kudus. Gereja, sebagai komunitas umat yang dipanggil oleh Allah. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 memiliki misi untuk menjadi satu tubuh dengan Kristus sebagai kepala . KGK 751-. Dalam konteks ini, setiap anggota Gereja, baik klerus maupun awam, berperan penting dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh Kristus. Tugas ini mencakup berbagai aspek kehidupan Gereja, yang tidak hanya terbatas pada ibadah dan pengajaran, tetapi juga pada tindakan nyata dalam pelayanan kepada sesame (Paus Yohanes Paulus II, n. Salah satu aspek utama dalam kehidupan Gereja adalah diakonia, yang merupakan pelayanan kasih kepada sesama. Diakonia menjadi wujud konkret dari kasih Kristus, yang dihidupi dalam tindakan nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya pelayanan sosial sebagai bagian integral dari misi Gereja, yang mengajak setiap umat untuk berpartisipasi dalam membangun komunitas yang lebih peduli dan penuh kasih (Fransiskus Sales Lega &, 2. Dalam pelaksanaan diakonia, setiap anggota Gereja diharapkan dapat memberikan kontribusi yang sesuai dengan panggilan dan karunia yang dimiliki, mewujudkan tubuh Kristus dalam kehidupan sehari-hari (Para et al. , 2. Lumen Gentium, sebuah dokumen penting yang menguraikan pandangan Gereja tentang umat Allah, menegaskan bahwa setiap anggota Gereja dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah melalui berbagai tindakan, yaitu liturgia . , kerygma . , koinonia . , diakonia . , dan martyria . (Pelta Ginting, 2. Masing-masing aspek ini merupakan bagian integral dari misi Gereja untuk mewujudkan kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Diakonia, yang berfokus pada pelayanan kepada sesama, menjadi salah satu tugas utama yang harus dijalankan oleh seluruh umat, sebagai bentuk konkret dari kasih Allah yang disalurkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Priyanto & Utama, 2. Peran diakonia dalam kehidupan Gereja sangat krusial, karena diakonia mencakup pelayanan langsung kepada sesama dalam segala aspek kehidupan, baik fisik, emosional, maupun rohani (Haru, 2. Diakonia bukanlah sekadar kata-kata atau ajakan moral, melainkan tindakan nyata yang melibatkan perhatian dan kasih kepada mereka yang lemah, membutuhkan, atau menderita. Dalam konteks ini, diakonia menjadi sarana untuk mewujudkan kasih Kristus yang nyata dan mendalam, bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan (Yessy Kenny Jacob, 2. Pelayanan kepada sesama, yang mencakup aspek sosial dan spiritual, adalah salah satu cara yang paling nyata untuk menghidupi iman Kristen. Hal ini berfungsi untuk memperbaiki kehidupan bersama umat, mempererat hubungan sosial, dan mengajak setiap orang untuk menyaksikan Kerajaan Allah di dunia (Lio et al. , 2. Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) memegang peran ganda yang sangat penting dalam konteks Selain sebagai pendidik di sekolah, mereka juga memiliki tanggung jawab pastoral dalam kehidupan gereja. Guru PAK bukan hanya mengajarkan pengetahuan agama kepada siswa, tetapi juga diharapkan untuk memberikan teladan iman dan penghayatan spiritual yang sesuai dengan ajaran Gereja (Thomas N. Tarigan. Paulinus Tibo, 2. Sebagai katekis, mereka berperan sebagai perpanjangan tangan Gereja dalam mewartakan iman, membimbing umat, serta melibatkan diri dalam tugas pastoral yang mencakup pelayanan sosial, liturgis, dan diakonia. Dalam hal ini, guru PAK diharapkan untuk menghidupi Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 nilai-nilai diakonia baik di dalam kelas maupun dalam kegiatan-kegiatan gereja, dengan memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan, baik secara fisik maupun rohani (Haru, 2. Sebagai agen transformasi dalam masyarakat, guru PAK memiliki potensi besar untuk mempengaruhi dan menginspirasi siswa dan jemaat dalam menjalani hidup yang penuh kasih dan pelayanan. Di dalam kelas, guru PAK tidak hanya mengajar tentang nilai-nilai Kristen, tetapi juga mengintegrasikan ajaran-ajaran diakonia dalam pengajaran mereka (Luji et al. , 2. Mereka dapat mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya berbagi kasih kepada sesama, membantu mereka yang lemah, dan memberikan perhatian kepada mereka yang berada dalam kesulitan. Di luar kelas, guru PAK juga diharapkan menjadi contoh dalam tindakan nyata, seperti terlibat dalam kegiatan sosial gereja, pelayanan kepada orang miskin, atau mendampingi mereka yang membutuhkan dukungan rohani. Dengan demikian, guru PAK bukan hanya pendidik, tetapi juga pelayan yang memberikan contoh dalam menghidupi prinsip-prinsip diakonia (Pius. Namun, untuk melaksanakan peran diakonia ini dengan efektif, guru PAK membutuhkan dukungan yang lebih kuat, baik dari gereja maupun lembaga pendidikan. Pelatihan yang lebih intensif mengenai penerapan diakonia dalam kehidupan sehari-hari sangat penting. Guru PAK membutuhkan panduan praktis tentang bagaimana mengintegrasikan pelayanan kepada sesama dalam kehidupan mereka, baik di kelas maupun di luar kelas (Luji et al. , 2. Pelatihan ini harus mencakup keterampilan praktis dalam pelayanan sosial, penguatan spiritualitas pribadi, serta pengembangan kemampuan untuk bekerja sama dalam komunitas Dukungan semacam ini akan memungkinkan guru PAK untuk lebih efektif dalam menjalankan peran mereka sebagai pendidik sekaligus sebagai agen diakonia. Secara keseluruhan, guru PAK memiliki potensi besar untuk berperan dalam menghidupi dan nilai-nilai Dengan prinsip-prinsip mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, guru-guru ini tidak hanya dapat memperkaya pengalaman spiritual mereka sendiri, tetapi juga membimbing siswa mereka untuk menjalani hidup yang lebih peduli, berbagi kasih, dan melayani sesame (Haru, 2. Gereja dan lembaga pendidikan perlu memberikan dukungan yang tepat agar para guru dapat menjalankan tugas ganda mereka ini dengan lebih baik, serta memperkuat komitmen mereka terhadap pelayanan Gereja yang penuh kasih. Namun. PAK mengimplementasikan peran mereka sebagai pelayan di gereja. Salah satu alasan utama adalah keterbatasan waktu, karena mereka seringkali merasa terbebani oleh tugas mengajar di sekolah. Selain itu, beberapa guru PAK merasa bahwa tugas pelayanan gereja adalah tanggung jawab pastor atau pengurus paroki, sehingga mereka cenderung tidak aktif dalam kegiatan gereja. Padahal, sebagai bagian dari tubuh Kristus, setiap anggota gereja, termasuk guru PAK, memiliki panggilan untuk berperan aktif dalam pelayanan gereja (Luji et al. , 2. Kurangnya pemahaman yang mendalam tentang spiritualitas diakonia juga menjadi hambatan bagi guru PAK dalam menghidupi panggilan mereka. Spiritualitas diakonia mengajarkan bahwa pelayanan bukan Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 hanya sekadar tugas, tetapi merupakan wujud kasih kepada sesama yang berasal dari relasi yang mendalam dengan Allah . Spiritualitas ini seharusnya menjadi dasar bagi setiap guru PAK dalam menjalankan tugas mereka sebagai pelayan di gereja (Agustina et al. , 2. Tanpa pemahaman yang benar tentang spiritualitas diakonia, tugas pelayanan ini dapat menjadi beban atau rutinitas yang tidak menyentuh kedalaman iman Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru PAK sebagai pelayan di gereja dalam tinjauan spiritualitas diakonia, dengan fokus pada Paroki Santo Yosef Delitua. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei kuantitatif untuk mengumpulkan data dari guru PAK yang ada di paroki tersebut, serta wawancara kualitatif untuk menggali pengalaman mereka dalam menghidupi spiritualitas diakonia. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana guru PAK terlibat dalam pelayanan gereja dan peran mereka dalam kehidupan komunitas gereja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan guru PAK dalam pelayanan gereja, baik itu dari segi waktu, pelatihan, maupun Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkapkan pentingnya spiritualitas diakonia sebagai landasan dalam menjalankan tugas pelayanan gereja. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang spiritualitas diakonia, guru PAK diharapkan dapat lebih aktif dan terlibat dalam berbagai kegiatan gereja yang mendukung pertumbuhan iman umat. Dalam konteks ini, diakonia sebagai pelayanan kasih tidak hanya terbatas pada aspek sosial atau materi, tetapi juga melibatkan dimensi spiritual yang mendalam. Pelayanan diakonia yang dilakukan dengan penuh kesadaran spiritual akan mampu memberikan dampak yang lebih besar, baik bagi diri pelayan maupun bagi umat yang dilayani. Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang spiritualitas diakonia sangat penting bagi setiap guru PAK dalam menghidupi panggilan mereka sebagai pelayan di gereja. Guru PAK, sebagai saksi iman dan pelayan gereja, harus mampu menciptakan hubungan yang erat antara pengajaran agama di sekolah dengan kehidupan spiritual di gereja. Dalam menjalankan peran mereka, mereka diharapkan tidak hanya menjadi pengajar yang menguasai materi ajaran agama, tetapi juga menjadi teladan hidup yang menghidupi nilai-nilai kasih Kristus melalui tindakan pelayanan mereka (Haru, 2. Dalam hal ini, diakonia menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan semangat pelayanan yang sejati, yang tidak mengutamakan kepentingan pribadi atau duniawi, tetapi semata-mata untuk memuliakan Tuhan (Para et al. , 2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model pelatihan dan pembinaan bagi guru PAK, yang tidak hanya mencakup pengajaran agama di sekolah, tetapi juga mengembangkan spiritualitas diakonia dalam kehidupan menggereja. Dengan demikian, diharapkan para guru PAK dapat semakin menyadari peran mereka sebagai pelayan di gereja, yang tidak hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pelayan yang setia menjalankan panggilan Kristus dalam pelayanan kepada sesama. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 METODE Penelitian ini menggunakan metode campuran . ix metho. yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK), pastor paroki, dan tokoh pastoral di Paroki Santo Yosef Delitua. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan selama kegiatan liturgi dan pelayanan sosial di paroki untuk memahami keterlibatan langsung Guru PAK. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada para Guru PAK, dengan fokus pada frekuensi dan jenis keterlibatan mereka dalam kegiatan pastoral. Analisis data dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk menemukan pola keterlibatan Guru PAK dalam pelayanan diakonia. Sumber data dalam penelitian ini mencakup buku, jurnal akademik, dan artikel yang relevan dengan konsep spiritualitas diakonia dan peran Guru PAK dalam kehidupan menggereja. Referensi utama diambil dari dokumen Gereja seperti Lumen Gentium dan tulisan teologis mengenai pelayanan pastoral. Penggunaan metode campuran mendukung tujuan penelitian dengan memberikan gambaran yang komprehensif, baik dari sudut pandang kualitatif yang mendalam maupun kuantitatif yang terukur. Metode ini memungkinkan peneliti untuk memahami tidak hanya motivasi dan persepsi Guru PAK, tetapi juga tingkat keterlibatan mereka dalam kegiatan pastoral, sehingga memberikan dasar yang kuat untuk analisis dan rekomendasi. Langkah-langkah penelitian meliputi: HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan penelitian ini menunjukkan keterkaitan yang kuat antara peran Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) sebagai pendidik dan pelayan gereja dalam mewujudkan spiritualitas diakonia. Pertama, meskipun sebagian besar guru PAK memiliki pemahaman yang mendalam tentang diakonia sebagai pelayanan kasih kepada sesama, hanya sedikit dari mereka yang secara rutin mengimplementasikan nilainilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hambatan utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu dan kurangnya motivasi. Kedua, keterbatasan waktu akibat tugas mengajar yang padat menjadi kendala signifikan dalam pelaksanaan pelayanan gereja. Hal ini membuat sebagian besar guru merasa sulit menyeimbangkan antara kewajiban profesional dan pelayanan kasih. Ketiga, keterlibatan dalam pelayanan gereja terbukti memperkaya kualitas pengajaran para guru. Guru yang terlibat aktif menunjukkan penghayatan nilai-nilai kasih dan kerendahan hati, yang diterapkan dalam interaksi dengan siswa. Keempat, kurangnya penghargaan terhadap kontribusi guru dalam komunitas gereja menurunkan motivasi mereka untuk berpartisipasi. Guru yang merasa diakui cenderung lebih semangat dan aktif dalam pelayanan. Kelima, mayoritas guru PAK merasa perlu adanya pelatihan untuk mengimplementasikan spiritualitas diakonia secara efektif. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan keterampilan praktis untuk mengintegrasikan nilai-nilai kasih dan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari Keenam, guru PAK membutuhkan komunitas yang mendukung untuk berbagi pengalaman dan Komunitas yang solid dapat membantu mereka menghidupi nilai-nilai diakonia secara konsisten. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 Ketujuh, kolaborasi antara sekolah dan gereja menjadi faktor penting yang mempermudah guru mengintegrasikan peran sebagai pendidik dan pelayan gereja. Kolaborasi ini memberikan peluang lebih besar bagi guru untuk terlibat dalam kegiatan pastoral. Kedelapan, keterlibatan guru dalam kegiatan diakonia memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kualitas pengajaran dan hubungan dengan siswa. Guru yang aktif menjadi teladan yang menginspirasi siswa untuk menghidupi nilai-nilai kasih dan pelayanan dalam kehidupan mereka. Kesembilan, guru PAK memiliki potensi besar untuk menjadi agen transformasi di gereja dan sekolah. Dengan dukungan berupa pelatihan dan penghargaan, mereka dapat berperan lebih aktif dalam membentuk karakter siswa yang peduli dan penuh kasih. Kesepuluh, guru PAK membutuhkan panduan praktis untuk mengintegrasikan spiritualitas diakonia dalam tugas sehari-hari. Dukungan dari gereja dan lembaga pendidikan sangat diperlukan agar guru dapat menjalankan perannya dengan lebih efektif, baik sebagai pendidik maupun pelayan. PEMBAHASAN Kesenjangan Antara Pemahaman dan Praktik Diakonia Sebagian besar guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) menunjukkan pemahaman yang cukup mendalam mengenai konsep diakonia, yang dipahami sebagai pelayanan kasih kepada sesama. Berdasarkan survei yang dilakukan, sekitar 75% dari mereka mengonfirmasi bahwa mereka memahami esensi diakonia dalam konteks ajaran Gereja Katolik. Pemahaman ini menunjukkan adanya kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya pelayanan kasih sebagai bagian dari misi Gereja. Namun, meskipun pemahaman tersebut ada, penerapan nilai-nilai diakonia dalam kehidupan sehari-hari masih menghadapi hambatan yang signifikan. Kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan penerapan praktis diakonia terlihat jelas, di mana hanya 40% dari responden yang secara rutin terlibat dalam pelayanan gereja. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi keterbatasan ini adalah keterbatasan waktu, yang dialami oleh 50% dari responden, serta beban komitmen terhadap tugas mengajar yang lebih menuntut. Banyak guru yang merasa kesulitan untuk menyeimbangkan antara kewajiban profesional dan pelaksanaan pelayanan kasih secara aktif dalam rutinitas Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih untuk mendorong integrasi nilai-nilai diakonia dalam kehidupan sehari-hari guru PAK, baik melalui penyediaan waktu yang lebih fleksibel maupun pembekalan yang lebih mendalam terkait pengamalan diakonia dalam konteks pendidikan Tantangan Waktu dan Motivasi dalam Implementasi Diakonia Waktu menjadi salah satu faktor utama yang menghambat guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dalam mengimplementasikan nilai-nilai diakonia. Berdasarkan hasil survei, sekitar 60% dari guru-guru PAK yang terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa kewajiban mengajar yang padat membuat mereka merasa terlalu sibuk dan tidak memiliki cukup waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan gereja. Tugas mengajar yang menguras waktu dan energi sering kali menghalangi mereka untuk terlibat dalam aktivitas gereja yang juga penting untuk penghidupan nilai-nilai diakonia. Meskipun mereka memiliki Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 pemahaman tentang diakonia, keterbatasan waktu yang mereka miliki menjadi kendala yang signifikan dalam mengaplikasikan konsep pelayanan kasih tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Selain faktor waktu, kurangnya motivasi juga menjadi hambatan besar yang mempengaruhi keterlibatan guru-guru PAK dalam pelayanan gereja. Sebanyak 55% responden merasa bahwa partisipasi mereka dalam kegiatan gereja tidak memberikan dampak yang berarti terhadap kehidupan pribadi mereka, baik sebagai individu maupun sebagai pendidik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun guru-guru PAK memahami pentingnya diakonia sebagai bagian dari panggilan hidup mereka, banyak yang merasa bahwa tuntutan pekerjaan mereka lebih mendesak dan memberikan lebih sedikit waktu untuk berfokus pada kegiatan Tanpa adanya motivasi yang lebih kuat, mereka merasa sulit untuk menemukan hubungan langsung antara tugas mengajar dan pelayanan gereja. Untuk mengatasi masalah ini, perlu ada dukungan dan insentif yang lebih kuat dari pihak gereja dan lembaga pendidikan. Guru PAK perlu diberikan pembekalan lebih mendalam tentang bagaimana nilai-nilai diakonia dapat diintegrasikan dalam pekerjaan mereka sebagai pendidik, serta bagaimana pelayanan gereja dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan pribadi mereka. Selain itu, pemberian waktu yang lebih fleksibel atau pengaturan jadwal yang mendukung keterlibatan mereka dalam kegiatan gereja juga akan sangat membantu. Dengan motivasi yang lebih tinggi dan dukungan yang lebih konkret, diharapkan para guru PAK dapat lebih mudah mengimplementasikan diakonia dalam kehidupan mereka, baik sebagai pendidik maupun sebagai anggota Gereja yang aktif. Hubungan antara Tugas Mengajar dan Pelayanan Gereja Beberapa guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) menyadari adanya keterkaitan yang mendalam antara tugas mereka sebagai pendidik dan pelayanan gereja. Sebanyak 65% dari guru-guru yang terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa partisipasi dalam kegiatan pelayanan gereja memperkaya pengalaman spiritual mereka, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas pengajaran. Melalui keterlibatan dalam pelayanan gereja, mereka memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai kasih, pengampunan, dan kerendahan hati. Nilai-nilai ini kemudian diterapkan dalam interaksi sehari-hari dengan siswa, memperkuat hubungan mereka dalam konteks pendidikan moral dan spiritual. Keterlibatan dalam pelayanan gereja juga memberi para guru kesempatan untuk memperdalam penghayatan mereka terhadap iman yang mereka ajarkan. Pengalaman langsung dalam melayani sesama, baik dalam kegiatan sosial maupun liturgis, memberikan wawasan baru yang memperkaya pemahaman mereka tentang iman Katolik. Hal ini memperkaya cara mereka mengajarkan agama kepada siswa, tidak hanya dalam aspek teori, tetapi juga dalam penerapan praktis. Guru-guru yang aktif dalam pelayanan gereja sering kali membawa pengalaman hidup mereka ke dalam kelas, yang memberi dampak positif pada pembelajaran agama di Guru-guru yang aktif terlibat dalam pelayanan gereja merasa lebih mampu memberi teladan kepada siswa dalam menghidupi nilai-nilai agama yang mereka ajarkan. Mereka memandang bahwa mengajarkan nilai-nilai agama dan melayani sesama adalah bagian yang tak terpisahkan dari misi mereka sebagai pendidik. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 Dengan menjadi contoh nyata dari nilai-nilai yang mereka ajarkan, guru-guru ini berperan penting dalam membantu siswa memahami bagaimana mengintegrasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Melalui teladan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga belajar tentang praktik hidup yang sesuai dengan ajaran iman Katolik. Keterlibatan dalam diakonia tidak hanya memperkaya kualitas pengajaran mereka, tetapi juga mendalamkan spiritualitas pribadi mereka sebagai guru. Dengan semakin terhubung dengan nilai-nilai kasih dan pelayanan, guru-guru ini menjadi lebih peka terhadap kebutuhan spiritual dan emosional siswa mereka. Integrasi antara tugas pendidikan dan pelayanan gereja, oleh karena itu, tidak hanya meningkatkan penghayatan nilai-nilai agama yang lebih autentik, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter siswa yang lebih baik. Dalam konteks ini, diakonia berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kehidupan spiritual dan kehidupan sehari-hari, baik bagi guru maupun bagi siswa. Pengaruh Kurangnya Penghargaan dalam Komunitas Gereja Kurangnya penghargaan terhadap kontribusi guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dalam pelayanan gereja menjadi salah satu faktor yang menghambat keterlibatan mereka dalam kegiatan gereja. Berdasarkan survei, sekitar 50% dari guru-guru PAK yang terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa mereka merasa kontribusi mereka tidak diakui dalam komunitas gereja. Meskipun mereka telah menyumbangkan banyak waktu dan tenaga untuk kegiatan pelayanan, mereka merasa tidak mendapat pujian atau penghargaan yang memadai. Hal ini menimbulkan perasaan terisolasi dan tidak dihargai, yang berpotensi mengurangi semangat mereka untuk terus berkontribusi. Perasaan tidak dihargai ini berdampak langsung pada tingkat motivasi dan keterlibatan mereka dalam pelayanan gereja. Guru-guru yang merasa dihargai dan mendapat pengakuan atas kontribusi mereka cenderung lebih bersemangat dan lebih termotivasi untuk terlibat lebih banyak dalam kegiatan gereja. Penghargaan yang diberikan oleh gereja, baik dalam bentuk pujian, apresiasi, maupun pengakuan lainnya, dapat memperkuat rasa keterhubungan dan memberi dorongan untuk berpartisipasi lebih aktif dalam Sebaliknya, mereka yang merasa tidak dihargai cenderung menjadi lebih apatis dan enggan untuk berkontribusi lebih lanjut. Oleh karena itu, gereja perlu memberi perhatian lebih terhadap pentingnya penghargaan bagi guruguru PAK yang terlibat dalam pelayanan gereja. Penghargaan yang jelas dan nyata akan membuat guru merasa dihargai, diakui, dan dihormati atas kontribusi mereka. Ini tidak hanya akan meningkatkan semangat mereka untuk melayani, tetapi juga memperkuat hubungan antara gereja dan para guru dalam misi pengajaran dan pelayanan. Dengan memberi penghargaan yang tepat, gereja dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung dan mendorong guru untuk terus aktif dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan Perlunya Program Pelatihan Spiritualitas Sebanyak 70% guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) yang terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa mereka merasa Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 membutuhkan pelatihan lebih mengenai cara mengimplementasikan spiritualitas diakonia dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun mayoritas guru sudah memiliki pemahaman dasar mengenai diakonia, mereka merasa kesulitan dalam mengaplikasikan prinsipprinsip pelayanan kasih ini dalam tugas sehari-hari mereka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan teoretis sudah ada, tantangan utama terletak pada bagaimana menerapkan nilai-nilai tersebut dalam praktik nyata, baik di dalam kelas maupun dalam pelayanan gereja. Guru-guru PAK menginginkan pelatihan yang lebih komprehensif, yang tidak hanya memberikan teori tetapi juga keterampilan praktis untuk menghidupi spiritualitas diakonia. Mereka mengharapkan pelatihan yang dapat membantu mereka dalam mengintegrasikan nilai-nilai kasih, pengampunan, dan kerendahan hati dalam interaksi mereka dengan siswa, serta dalam kegiatan pelayanan gereja. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan pendekatan yang lebih aplikatif, yang dapat langsung diterapkan dalam rutinitas mereka sebagai pendidik dan pelayan gereja. Dengan demikian, mereka dapat merasa lebih siap untuk menerapkan spiritualitas diakonia dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan adanya pelatihan yang lebih terstruktur dan aplikatif, diharapkan para guru dapat lebih mudah mengintegrasikan spiritualitas diakonia dalam kehidupan pribadi mereka dan dalam tugas pengajaran Pelatihan semacam ini tidak hanya akan memperkaya kualitas pengajaran mereka, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka tentang bagaimana melayani sesama dalam konteks yang lebih praktis. Pada akhirnya, guru yang dilatih dengan baik akan mampu memberikan teladan yang lebih kuat dalam menghidupi spiritualitas diakonia, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, yang dapat memberikan dampak positif bagi siswa dan komunitas gereja secara keseluruhan Pembentukan Komunitas Guru PAK yang Mendukung Guru-guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) mengimplementasikan spiritualitas diakonia karena kurangnya komunitas yang mendukung. Berdasarkan survei, sekitar 55% responden mengungkapkan bahwa mereka merasa tidak memiliki jaringan atau komunitas yang cukup mendukung dalam menjalankan tugas mereka sebagai guru sekaligus pelayan gereja. Rasa keterasingan ini dapat menghambat mereka dalam menghidupi nilai-nilai diakonia secara konsisten, karena tanpa dukungan dari sesama, tantangan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik dan pelayan gereja dapat terasa lebih berat. Komunitas yang mendukung memiliki peran penting dalam memberikan rasa kebersamaan dan memperkuat komitmen guru-guru PAK untuk menjalani hidup yang menghidupi nilai-nilai diakonia. Sebuah komunitas yang solid dapat menjadi tempat bagi para guru untuk berbagi pengalaman, tantangan, serta pencapaian mereka dalam mengintegrasikan spiritualitas diakonia dalam pengajaran dan pelayanan gereja. Dengan adanya komunitas, para guru merasa tidak sendirian, melainkan saling mendukung, yang membantu mereka tetap termotivasi dan bersemangat dalam menjalankan tugas mereka. Selain memberikan dukungan emosional, komunitas yang mendukung juga berfungsi sebagai ruang untuk pertumbuhan spiritual dan profesional para guru. Melalui interaksi dengan sesama rekan sejawat, guru dapat bertumbuh dalam iman dan keahlian mereka sebagai pendidik dan pelayan gereja. Dengan saling Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 mendukung dan berbagi pengetahuan, guru-guru dapat memperkaya pengalaman mereka dan lebih efektif dalam mengimplementasikan spiritualitas diakonia dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, membentuk dan memperkuat komunitas yang mendukung menjadi langkah penting untuk membantu guruguru PAK merasa dihargai dan lebih siap dalam menjalankan tugas mereka. Kolaborasi antara Sekolah dan Gereja Kolaborasi antara sekolah dan gereja menjadi faktor penting dalam meningkatkan keterlibatan guru dalam diakonia. Hasil survei menunjukkan bahwa 60% guru yang terlibat dalam penelitian ini merasa bahwa mereka merasa lebih terhubung dengan gereja ketika mereka diberi kesempatan untuk berkolaborasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pastoral. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual mereka, tetapi juga memberi mereka peluang untuk memberikan contoh konkret tentang bagaimana menghidupi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antara sekolah dan gereja dapat memperkuat peran guru sebagai agen diakonia dalam masyarakat dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung pengembangan iman di sekolah maupun di gereja. Dampak Keterlibatan Guru dalam Kegiatan Diakonia Keterlibatan guru dalam kegiatan diakonia memberikan dampak positif yang signifikan, baik pada kehidupan pribadi mereka maupun pada kehidupan siswa yang mereka ajar. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 80% guru yang terlibat dalam penelitian ini menyatakan bahwa keterlibatan mereka dalam pelayanan gereja memberikan dampak yang sangat positif terhadap cara mereka mengajar dan berinteraksi dengan siswa. Dengan aktif dalam pelayanan gereja, guru-guru ini mampu menunjukkan penghayatan yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai diakonia, yang kemudian tercermin dalam pendekatan mereka terhadap pengajaran dan pembinaan karakter siswa. Hal ini memperkuat hubungan antara guru dan siswa, serta membangun lingkungan belajar yang lebih penuh kasih. Siswa yang melihat guru mereka aktif dalam pelayanan gereja lebih cenderung terinspirasi dan terlibat dalam kegiatan sosial dan pelayanan. Keterlibatan guru dalam diakonia menjadi teladan yang hidup bagi siswa, mengajarkan mereka tentang pentingnya berbagi kasih, kerendahan hati, dan pengabdian kepada Ketika siswa menyaksikan guru mereka menghidupi nilai-nilai ini dalam tindakan nyata, mereka lebih termotivasi untuk mengikuti jejak tersebut dan mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ini menciptakan lingkungan yang penuh semangat dan mengedepankan sikap saling peduli di antara para siswa. Budaya peduli yang terbentuk di kalangan siswa, akibat dari teladan yang diberikan oleh guru, memperkuat komitmen mereka untuk menghidupi nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang mengajarkan nilai-nilai diakonia bukan hanya mengedukasi siswa tentang materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter mereka dengan memberikan contoh yang konkrit mengenai pelayanan, pengabdian, dan kasih terhadap sesama. Dalam jangka panjang, ini tidak hanya memperkaya kualitas pengajaran, tetapi juga menciptakan generasi yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap sesama, yang akan membawa dampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 Potensi Guru PAK sebagai Agen Transformasi Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) memiliki potensi besar untuk menjadi agen transformasi dalam komunitas gereja dan sekolah. Berdasarkan hasil survei, sekitar 75% guru menyatakan bahwa mereka merasa dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan jika diberikan dukungan yang lebih baik, baik melalui pelatihan maupun kolaborasi yang lebih erat dengan gereja dan sekolah. Dengan adanya dukungan tersebut, guru-guru ini dapat mengembangkan kapasitas mereka untuk tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas yang mendalam dalam pengajaran mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk berperan lebih aktif dalam membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkembang secara spiritual dan moral. Pengembangan spiritualitas yang lebih baik memungkinkan guru-guru PAK untuk memberikan dampak yang lebih besar dalam kehidupan siswa dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan penuh kasih. Ketika guru-guru mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan, mereka menjadi lebih siap untuk mengaplikasikan nilai-nilai diakonia dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan pribadi mereka. Dengan penghayatan yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai tersebut, guruguru PAK dapat memotivasi siswa untuk meneladani sikap kasih, pengabdian, dan kerendahan hati, yang semuanya merupakan nilai-nilai inti dalam spiritualitas diakonia. Lebih dari sekadar pendidik, guru PAK dapat berfungsi sebagai pemimpin spiritual yang memberikan teladan hidup yang menginspirasi siswa mereka untuk menjalani hidup yang beriman dan melayani sesama. Dengan menjadi agen transformasi yang memadukan pengajaran akademik dan pembinaan spiritual, guruguru ini memiliki kekuatan untuk mengubah pola pikir dan sikap siswa terhadap kehidupan, membentuk mereka menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli, penuh kasih, dan siap melayani Oleh karena itu, dukungan yang lebih baik bagi guru PAK untuk mengembangkan spiritualitas mereka akan memberikan dampak yang jauh lebih luas, baik dalam konteks pendidikan maupun dalam pelayanan gereja. Integrasi diakonia dalam Kehidupan Sehari-hari Guru PAK Banyak guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) merasa perlu mendapatkan pelatihan yang lebih mendalam serta dukungan konkret untuk mengintegrasikan prinsip diakonia dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil survei, sekitar 70% guru mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan panduan praktis yang dapat membantu mereka menerapkan nilai-nilai diakonia baik dalam pengajaran mereka maupun dalam kehidupan pribadi. Meskipun mayoritas guru memahami pentingnya diakonia, mereka merasa kesulitan untuk mengaplikasikannya secara konsisten dalam rutinitas mereka tanpa adanya pelatihan dan dukungan yang memadai. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman teoretis dan penerapan praktis dari prinsip-prinsip diakonia dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasi tantangan ini, para guru menginginkan pelatihan yang lebih terfokus pada keterampilan praktis dan strategi yang dapat membantu mereka menghidupi spiritualitas diakonia dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk dalam pengajaran di kelas dan dalam pelayanan gereja. Pastoralia Vol 6 No 1. Edisi Juni 2025 Pelatihan yang tepat akan memberikan mereka alat dan metode yang lebih efektif untuk mengintegrasikan nilai-nilai kasih, kerendahan hati, dan pelayanan kepada sesama dalam pengajaran dan interaksi mereka dengan siswa. Dengan adanya pelatihan yang mendalam, para guru dapat lebih percaya diri dan lebih mudah mengimplementasikan prinsip-prinsip diakonia dalam kegiatan sehari-hari mereka. Dukungan yang lebih kuat dari gereja dan lembaga pendidikan juga akan memperkuat kemampuan para guru untuk menghidupi spiritualitas diakonia secara nyata. Ketika guru mendapatkan pelatihan dan bimbingan yang memadai, mereka tidak hanya akan menjadi pendidik yang lebih baik, tetapi juga akan lebih mampu memberikan teladan yang menginspirasi siswa mereka untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Dampak positif ini tidak hanya dirasakan oleh para guru dan siswa, tetapi juga dapat memperkuat kehidupan komunitas gereja secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelatihan yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan sangat penting untuk memungkinkan guru-guru PAK untuk benar-benar menghidupi spiritualitas diakonia dalam kehidupan sehari-hari mereka. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterlibatan Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dalam pelayanan diakonia di Paroki Santo Yosef Delitua memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas pengajaran dan spiritualitas mereka. Meskipun pemahaman tentang pentingnya diakonia sudah ada, hambatan utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu, kurangnya motivasi, dan dukungan yang minim dari gereja maupun lembaga pendidikan. Namun, bagi guru yang terlibat, diakonia memperkaya pengalaman spiritual mereka dan membantu mereka memberikan teladan yang lebih autentik kepada siswa. Untuk meningkatkan partisipasi Guru PAK dalam pelayanan gereja, diperlukan dukungan lebih lanjut berupa pelatihan yang lebih mendalam dan pemberian insentif agar nilai-nilai diakonia dapat diterapkan secara lebih efektif dalam kehidupan pribadi dan profesi mereka. Dengan demikian, penguatan peran diakonia dalam kehidupan Guru PAK akan berkontribusi pada pengembangan komunitas gereja dan pendidikan yang lebih DAFTAR PUSTAKA