Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 PASTA GIGI BERBAHAN DASAR FLAVONOID DARI EKSTRAK MENTIMUN (Cucumis Sativus L) GUNA MENGHILANGKAN BAU MULUT Faisal Damsi1. Aan Sugiyanto2. Riki Zakaria3. Dwi Sandi Fatra4 Politeknik Negeri Sriwijaya. Ir. faisal30@yahoo. Politeknik Negeri Sriwijaya, aansugiyanto071@gmail. Politeknik Negeri Sriwijaya, zakariariki262gmail. Politeknik Negeri Sriwijaya, sandifatra@gmail. ABSTRACT Halitosis is a problem that often experienced by everyone due to the buildup of bacteria that thrives in oxygen-poor areas. In oral and dental health product the majority contain antioxidants and antibacterials. Cucumber has potential as a natural antioxidant because in the phytochemical test cucumber has flavonoid compounds. In the process, extraction using a fixed variable in the form of cucumber powder weight is 100 g . , 95% ethanol extractor. Where the variable is the amount of solvent with variations of 600 ml, 700 ml, 800 ml, 900 ml, 1000 ml. In the extraction process. Maceration was carried out for 3 days with stirring. The obtained filtrate was evaporated with a rotary evaporator to obtain a thick extract. The maceration results were tested with a UV-Vis spectrophotometer to determine the results of flavonoid levels. And it is known that the value of flavonoid ppm dissolving for solution 600ml is 10. 21, solution 700ml is 23. solution 800ml is 162. 58, solution 900ml is 69,59 , solution 1000ml as much as 28. So that the best treatment is the third solution. After being made into a toothpaste preparation, itAos a preparation that has the same texture, smell and color as toothpaste in general. Keywords: Halitosis. Flavanoid. Cucumber. ABSTRAK Halitosis merupakan adalah problem yang sering dialami oleh setiap orang yang diakibat oleh penumpukan bakteri yang berkembang pesat di area minim oksigen. Dalam setiap produk kesehatan mulut dan gigi mayoritas mengandung antioksidan dan antibakteri. Mentimun memiliki potensi sebagai antioksidan alami karena pada uji fitokimia mentimun memiliki senyawa flavonoid. Pada proses ektraksi kadar flavanoid mentimun, ekstraksi menggunakan variabel tetap berupa berat serbuk mentimun yaitu 100 g . , penyari etanol 95%. Dimana variabel tidak tetapnya adalah jumlah pelarut dengan variasi 600 ml,700 ml,800 ml,900 ml,1000 ml. Pada proses ekstraksi. Maserasi dilakukan selama 3 hari dengan dilakukan pengadukan. Filtrat yang didapat diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Hasil maserasi diuji dengan spektrofotometer Uv-Vis untuk mengetahui hasil kadar flavanoid. Dan diketahui nilai kadar flavanoid ppm perlarutannya untuk larutan 1 . adalah 10,21, larutan 2 . sebanyak 23,26 , larutan 3 . sebanyak 162,58, larutan 4 . sebanyak 69,59 , larutan 5 . sebanyak 28,42. Sehingga perlakuan terbaik adalah larutan ke Dimana setelah dijadikan sediaan pasta gigi, menghasilkan sediaan yang bertektur, berbau dan berwarna sama dengan pasta gigi pada umumnya. Kata kunci: Halitosis. Flavanoid. Mentimun. Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 PENDAHULUAN Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka mengalami permasalahan bau mulut . Bau mulut adalah problem yang sering dialami oleh setiap orang yang diakibat oleh penimbunan bakteri berkembang biak secara pesat di area minim oksigen. Bau mulut sendiri sering menurunkan percaya diri untuk berinteraksi dengan orang lain, apalagi hingga menjadikan oranglain dijauhi karena halitu (Herawati, 2. Dari data Riskesdas tahun 2018 memberikan data bahwa permasalahan gigi yang sering ditemui di Indonesia adalah gigi rusak dan menyumbang angka 45,3%. Mayoritas permasalahan gigi dan mulut yang dialami penduduk yang ada di Indonesia adalah masalah priodontal serta karies pada gigi, yang mana masalah ini diakibatkan karena terabaikannya kebersihan rongga mulut, sehingga membentuk lapisan tipis berisi kumpulan bakteri yang merekat erat di permukaan gigi. Lapisan ini sering disebut dengan plak gigi. Ada beberapa faktor yang memicu bau mulut seperti makanan yang berbau tajam, bakteri dalam mulut, dan juga kelainan sistemik. Bakteri pada lidah seperti Porphyromonas gingivalis. Fusobacterium, dan lain-lain menghasilkan senyawa yang beraroma busuk dan asam lemak yang merupakan 80-90% penyebab utama bau mulut. Berkaitan dengan bau mulut . , masyarakat pada umumnya melakukan penanganan bau mulut dengan menggunakan beberapa produk seperti obat kumur pembersih mulut dan pasta gigi untuk memelihara email gigi. Dalam setiap produk tersebut mayoritas mengandung antioksidan dan antibakteri. Berbicara mengenai antioksidan, mentimun sendiri mempunyai peluang besar sebagai antioksidan alami. Berdasarkan uji fitokimia buah mentimun, buah ini memiliki beberapa senyawa aktif seperti: saponin, dan flavanoid. Menurut riset flavonoid dan fenolik berperan penting sebagai bahan antioksidan alami. Senyawa flavonoid sendiri merupakan salah satu polifenol yang memiliki struktur kimia 15 atom karbon (Tiang-Yang dkk, 2. Selain itu Flavonoid sering ditemukan terkandung pada tanaman dan makanan yang mempunyai berbagai efek sebagai anti inflamasi dan virus (Qinghu Wang et al, 2. , pencegah diabetes dan kanker dan kardioprotektif (M. Marzouk, 2. serta antioksidan dan pencegah penuaan (Vanessa et al, 2. Kandungan Flavanoid dapat kita olah menjadi bahan dasar pembuatan pasta gigi untuk masyarakat sekitar kita. Selain ramah lingkungan, pasta gigi ini diharap mampu menangani masalah kesehatan gigi kedepannya dengan bahan yang murah meriah dan gampang di jumpai. LANDASAN TEORI Bau Mulut (Halitosi. Bau mulut atau halitosis merupakan aroma nafas yang kurang menyenangkan dan mengganggu yang sering menjadi keluhan umum pada banyak orang. Halitosis dapat disebabkan oleh kondisi sistemik maupun oral. Selain itu penyebab klinis halitosis sendiri terjadi karena periodontitis, kebersihan mulut yang buruk, debris lidah, karies, dan juga aliran saliva yang rendah. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan jumlah sel bakteri meningkat dan menghasilkan bau tidak sedap. Halitosis dapat terjadi karena mulut memproduksi senyawa-senyawa Volatile Sulphur Compounds (VSC. Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 Mentimun Mentimun merupakan sayuran/buah semusim yang menjalar. Mentimun bisa dibudidayakan di tanah ringan, baik di daerah panas maupun di daerah pegunungan berhawa dingin. Tanaman timun dapat tumbuh hingga panjang 0,5 m-1,5 m dengan disekitar batang dan daunnya dilindungi oleh bulu halus. Meskipun memiliki bulu halus seperti duri, namun duri ini tidak pula terlalu tajam. Mentimun mengandung vitamin A. B, dan C banyak dijadikan bahan konsumsi oleh masyarakat. Mentimun sendiri mempunyai peluang besar sebagai antioksidan alami. sendiri mempunyai peluang besar sebagai antioksidan alami. Berdasarkan uji fitokimia buah mentimun, buah ini memiliki beberapa senyawa aktif seperti: saponin, dan Menurut riset flavonoid dan fenolik berperan penting sebagai bahan antioksidan alami. Adapun beberapa jenis mentimun yang dikenal masyarakat yaitu mentimun biasa, mentimun krai, mentimun bonteng suri, mentimun watang. Flavonoid Senyawa ini merupakan salah satu polifenol yang memiliki struktur kimia 15 atom karbon (Tiang-Yang dkk, 2. Selain itu Flavonoid sering ditemukan terkandung pada tanaman dan makanan yang mempunyai berbagai efek sebagai anti inflamasi dan virus (Qinghu Wang et al, 2. , pencegah diabetes dan kanker dan kardioprotektif (M. Marzouk, 2. serta antioksidan dan pencegah penuaan (Vanessa et al, 2. Senyawa ini biasanya terdapat pada mayoritas tumbuhan hijau dan ekstrak tumbuhan serta menjadi salah satu senyawa yang banyak dijumpai di alam. Berdasarkan data, terdapat lebih dari 9000 flavonoid telah ditemukan, dengan konsentrasi flavonoid yang bervariasi mulai 20 hingga 500 mg. Senyawa ini pada tumbuhan berperan memproduksi pigmen warna. Flavonoid juga masuk kedalam keluarga polifenol yang larut dalam air. Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 METODE PENELITIAN Kerangka Penelitian Gambar 1. Kerangka Penelitian Proses Ekstraksi Flavanoid dalam mentimun 1 Pembuatan Bahan Uji Mentimun dibersihkan kemudian dibuat menjadi bagian-bagian kecil setipis Mentimun yang sudah dipotong selanjutnya dilakukan pengeringan menggunakan oven. Hasil pengeringan ini kemudian dihaluskan atau dijadikan menjadi serbuk halus dengan menggunakan blender. Dari proses ini didapatkan serbuk mentimun Ekstraksi menggunakan penyari etanol 95% 600 ml,700 ml,800 ml,900 ml,1000 bagian berat serbuk mentimun yaitu 100 gr serbuk. perendaman dilakukan selama 3 hari dengan dilakukan pengadukan. Hasil perendaman yang didapat diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Cara Pengujian Penentuan Kadar Kandungan Flavonoid dengan Metode Kolorimetri Ae AlCl3 Pada tahap awal dibuat Kurva Standar Quersetin, saat proses pembuatan kurva. Quersetin terlebih dahulu ditimbang sebanyak 25 mg. setelah dilakukan penimbangan, quersetin dimasukkan pada labu ukur 25 ml. Labu ukur yang berisi quersetin selanjutnya diberikan etanol 80% hingga 25 ml . arutan induk 1000 g/m. Selanjutnya dibuatkan beberapa larutan standar dengan kosentrasi 20, 40, 60, 80 dan 100 . alam g/m. larutanlarutan tersebut dipipet sebanyak 0,5 ml. Kemudian ditambahkan larutan 1,5 ml etanol Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 berkosentrasi 95%, 0,1 ml larutan AlCl3 berkosentrasi 10%, dan 0,1 ml larutan CH3CO2K berkonsentrasi 1 M serta akuades sebanyak 2,8 ml. Kemudian dilakukan pengeraman selama A jam disuhu 25oC. Hasil Serapannya diukur pada 434,2 nm dengan alat spektrofotometer Uv-Vis. Selanjutnya dibuatkan kurva kalibrasi dengan memperhadapkan konsentrasi larutan standar sebagai absis (X) dan nilai serapan sebagai koordinat (Y). Penghitungan Kadar Flavonoid pada Sampel Penentuan kadar ini dilakukan dengan membuat larutan blanko, larutan ini dibuat dengan mengganti larutan standar dengan menggunakan etanol 0,5 ml. Larutan ini kemudian ditambahkan dengan 1,5 ml larutan etanol berkosentrasi 95%, 0,1 ml larutan AlCl3 berkosentrasi 10%, 0,1 ml larutan KCH3COO berkonsentrasi 1 M dan diberikan akuades sebanyak 2,8 ml. kemudian larutan tersebut diperam selama A jam disuhu 25oC. Pada pengukuran sampel serapan, sampel akan dibandingkan terhadap larutan blanko. Selanjutnya larutan pengujian yang berisi sebanyak 1 ml ekstraksi mentimun diambil dan diberikan etanol hingga 10 ml kedalam labu ukur. Sebanyak A ml larutan selanjutnya ditambahkan dengan 1,5 ml larutan etanol berkonsentrasi 95%, 0,1 ml larutan AlCl3 berkonstrasi 10%, 0,1 ml larutan KCH3COO berkonsentrasi 1 M dan diberikan akuades sebanyak 2,8 ml. kemudian larutan tersebut diperam selama A jam disuhu 25oC . Serapannya kemuadian diukur pada 434,2 nm dengan memanfaatkan spektrofotometer Uv-Vis. Jumlah persentase flavonoidnya bisa dihitung dengan rumus : yaI = yau ya yai ya ya ya yaya Oe yi y yayaya% ya Keterangan : F : jumlah flavonoid metode AlCl3 c : kesetaraan Quersetin . /m. V : volume total ekstrak f : faktor pengenceran m : berat sampel . Pembuatan sediaan pasta gigi Proses pembuatan produk pasta gigi bisa kita lihat pada tabel dibawah ini (Zulfa dkk, 2. Tabel 1 Formula sediaan pasta gigi Pembuatan sediaan dilakukan dengan menimbang CMC Na dan Karbomer, kemudian kedua bahan ini ditambahkan dan dikembangkan dengan akuades. Tahap berikutnya senyawa CaCO3 ditimbang dan ditambahkan ke dalam pengikat sedikit demi sedikit sambil terus diaduk sampai merata dan selanjutnya ditambahkan gliserin kedalam Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 campuran tersebut dan dilakukan pengadukan hingga campuran menjadi homogen. Selajutnya C7H5NO3S. Natrium lauril eter sulfat, dan C8H8O3 masing-masing dilarutkan menggunakan Akuades yang selanjutnya dicampurkan sampai homogen. Ekstrak etanol mentimun yang telah didapatkan sebelumnya ditimbang dan dilarutkan kedalam Etanol 70%. Kemudian larutan ini diencerkan dengan Akuades. Larutan yang sudah diencerkan kemudian dimasukkan bersamaan dengan triklosan kedalam campuran, yang kemudian diaduk hingga homogen. Bahan senyawa Oleum Menthae Piperitae ditimbang, dan kemudian dimasukan kedalam campuran sebelumnya dengan dilanjutkan pengadukan hingga campuran menjadi homogen. Sisa Aquades ditambahkan lagi kecampuran dan dilakukan pengadukkan mengunakan stamper sampai campuran berbentuk pasta. Sediaan yang dibuat dimasukkan ke dalam wadah yang terlindung cahaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengekstrakan Mentimun Pada proses ekstraksi yang mengguakan variabel tetap penelitian berupa kosentrasi pelarut 95% dan kadar berat bahan terlarut 100 gr bubuk mentimun, pada saat dilakukan pencampuran 2 bahan dimana variabel tidak tetapnya adalah jumlah pelarut yang ditambahkan dengan variasi 600 ml, 700 ml, 800 ml, 900 ml dan 1000 ml pelarut, dengan dilakukan pengadukan antara 2 bahan tersebut terjadi reaksi perubahan warna pada pelarutnya. Hal tersebut dapat diamati pada tabel dibawah ini: Tabel 2. Pengamatan perubahan larutan hasil pengadukan . Variabel tidak tetap Pelarut 600 ml Pelarut 700 ml Pelarut 800 ml Pelarut 900 ml Pelarut 1000 ml Kadar Pelarut Etanol 95% Kadar Berat Bubuk 100 mg Bubuk Mentimun yang Hasil Pencampuran . arna pelaru. Coklat Kehijauan Hijau Muda . gak keru. Hijau gelap Hijau Hijau muda . Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 Gambar 2. Larutan ektraksi mentimun Dari proses pencampuran ini diketahui bahwa pada setiap jumlah pelarut yang ditambahkan menghasilkan warna larutan yang berbeda-beda, dimana semakin besar jumlah pelarut yang ditambahkan akan menghasilkan larutan yang semakin jernih . , namun untuk warna larutan yang dihasilkan yang memiliki warna hijau yang Larutan dengan pelarut 800 ml memiliki warna yang paling gelap diantara yang lain, lain halnya dengan larutan 600 ml yang memiliki warna yang paling pucat dan keruh. Pengujian Kadar Flavanoid Larutan Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Spektrofometeri Uv-Vis, sehingga didapatkan hasil data pengamatan kadar flavanoid sebagai berikut : Tabel 3. Data Kadar Flavanoid Larutan Menggunakan Spektrofometeri Uv-Vis Jenis sampel Ekstraksi mentimuun 600 ml Ekstraksi mentimuun 700 ml Ekstraksi mentimuun 800 ml Ekstraksi mentimuun 900 ml Ekstraksi mentimuun 1000 ml Parameter uji Metode uji Hasil uji 10,21 23,26 Flavanoid Spektrofometeri Uv-Vis 162,58 69,59 28,42 Pada data tabel di atas didapatkan kadar flavanoid yang terkandung disetiap larutan dengan konsentrasi berat bubuk mentimun 100 gr dan variasi jumlah pelarut etanol 95%. Disetiap sampel data yang dianalisa kandungan flavanoidnya, diketahui bahwa untuk mendapatkan kadar ekstraksi flavanoid tertinggi adalah dengan melarutkan Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 100 gr bubuk mentimun dengan etanol 95% sebanyak 800 ml. Kandungan flavanoid tertinggi pada sampel larutan adalah 162,68 ppm. Sebagai perbandingan data dapat ilihat pada grafik berikut : Konsentrasi Flavanoid 162,58 Konsentrasi Flavanoid 69,59 28,42 23,26 10,21 Larutan 600 ml Larutan 700 ml Larutan 800 ml Larutan 900 ml Larutan 1000 ml Gambar 3. Grafik kadar flavanoid yang terkandung disetiap larutan dengan konsentrasi berat bubuk Berdasarkan data tabel dan grafik diatas, dapat dianalisa bahwa untuk mendapatkan kandungan flavanoid tertinggi kita harus melakukan perlakuan terbaik dengan menambhakan 100 gr bubuk mentimun dengan pelarut etanol 95% 800 ml, serta dapat diketahui semakin pekat . ijau tua laruta. yang dihasilkan maka laurtan tersebut menghasilkan kadar flavanoid tertinggi. Sediaan pasta gigi Pembuatan sediaan dilakukan dengan menimbang CMC Na dan Karbomer, kemudian kedua bahan ini ditambahkan dan dikembangkan dengan akuades. Tahap berikutnya senyawa CaCO3 ditimbang dan ditambahkan ke dalam pengikat sedikit demi sedikit sambil terus diaduk sampai merata dan selanjutnya ditambahkan gliserin kedalam campuran tersebut dan dilakukan pengadukan hingga campuran menjadi homogen. Selajutnya C7H5NO3S. Natrium lauril eter sulfat, dan C8H8O3 masing-masing dilarutkan menggunakan Akuades yang selanjutnya dicampurkan sampai homogen. Ekstrak etanol mentimun yang telah didapatkan sebelumnya ditimbang dan dilarutkan kedalam Etanol 70%. Kemudian larutan ini diencerkan dengan Akuades. Larutan yang sudah diencerkan kemudian dimasukkan bersamaan dengan triklosan kedalam campuran, yang kemudian diaduk hingga homogen. Bahan senyawa Oleum Menthae Piperitae ditimbang, dan kemudian dimasukan kedalam campuran sebelumnya dengan dilanjutkan pengadukan hingga campuran menjadi homogen. Sisa Aquades ditambahkan lagi kecampuran dan dilakukan pengadukkan mengunakan stamper sampai Volume 1 Nomor 2 Tahun 2023 pp 19-29 campuran berbentuk pasta. Sediaan yang dibuat dimasukkan ke dalam wadah yang terlindung cahaya. Menghasilkan sediaan pasta gigi yang memiliki tekture, warna, dan bau yang sama dengan produk pasta gigi yang ada dipasaran. Berikut ini tampilan pasta gigi yang telah dibuat dengan menambahkan ekstrak flavanoid yang sudah didapatkan pada percobaan Gambar 4. Produk penelitian sediaan pasta gigi berbahan dasar flavanoid dari ekstrak mentimun KESIMPULAN Pada proses ekstraksi mentimun dapat dikathui bahwa dengan menambahkan pelarut etanol 95% 800 ml pada 100gr bubuk mentimun yang sudah dikeringkan akan menghasilkan ekstrak kandungan flavanoid tertinggi dibandingan dengan perlakuan lain . enambahan jumlah larutan pelaru. dengan kandungan yang diperoleh sebesar 162,58 Pada larutan ini juga menghasilkan warna larutan yang paling gelap diantara larutan ekstraksi yang lain. Dan dari pegamatan penulis, dapat diketahui bahwa besar nilai kandungan flavanoid pada setiap larutan ekstraksi yang dibuat akan berbanding lurus dengan kepekatan warna larutan yang diciptakan pada saat pencampuran zat terlarut dengan pelarutnya. Semakin terang warna larutan maka nilai kadar flavanoid juga semakin kecil, begitupun sebaliknya. Selain itu pada proses pembuatan sediaan pasta gigi juga diperoleh produk dengan tekture, warna dan bau seperti pada umumnya pasta gigi DAFTAR PUSTAKA