OPEN ACCESS Indonesian Journal of Spatial Planning P-ISSN: and E-ISSN: 2723-0619 http://journals. id/index. php/ijsp Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 POLA AKTIVITAS PENGUNJUNG DALAM PEMANFAATAN RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN KOTA WELERI Kamdan Untiyartoa. Ratna Ayu Permatasari Arief Rahmanb a bUniversitas Semarang. Jl. Soekarno Hatta. Kota Semarang Email: ratnapermatasari@usm. Info Artikel: a Artikel Masuk: 2025-10-25 a Artikel diterima: 2025-10-30 a Tersedia Online: 2025-10-31 ABSTRAK Taman Kota Weleri di Kecamatan Weleri. Kabupaten Kendal merupakan taman yang letaknya strategis di pusat kota serta kelengkapan fasilitas, seperti lapangan serbaguna, taman bermain anak, jalur lari, dan halte transportasi umum. Keberadaan fasilitas tersebut mendorong masyarakat untuk datang ke taman tersebut untuk melakukan berbagai aktivitas. Tujuan penelitian adalah memetakan bagaimana ruang digunakan sesuai kebutuhan dan preferensi pengunjung. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif melalui observasi dan pemetaan perilaku, dengan pembagian taman ke dalam lima zona: parkir, jual beli, bermain, olahraga, dan Hasil menunjukkan ragam aktivitas yang menonjol, terutama bersosialisasi dalam lingkup keluarga dan pertemanan, diikuti kegiatan olahraga yang memuncak pada pagi dan sore hari, serta permainan anak yang didukung fasilitas yang tersedia. Hasil dari peneltian ini ditemukan bahwa taman memberi manfaat fisik, sosial, dan psikologis sebagai ruang relaksasi, interaksi, dan penguatan komunitas. Namun, keterbatasan fasilitas dan isu kebersihan masih menjadi tantangan, sehingga diperlukan peningkatan pengelolaan oleh pemangku kepentingan setempat. Kata Kunci : ruang terbuka publik. pola aktivitas pengunjung. pemetaan perilaku. Taman Kota Weleri ABSTRACT Weleri City Park in Weleri District. Kendal Regency, is strategically located in the city center and equipped with facilities such as a multipurpose court, a childrenAos playground, a jogging track, and a public transport stop. These facilities encourage the public to visit the park for a variety of activities. The study aims to map how space is used in line with visitorsAo needs and preferences. A descriptive qualitative method was employed through observation and behavioral mapping, dividing the park into five zones: parking, trading, play, sports, and leisure. The findings indicate a wide range of activities, with socializing among family and friends as the most prominent, followed by sports activities that peak in the morning and late afternoon, as well as childrenAos play supported by the available facilities. The study concludes that the park provides physical, social, and psychological benefits as a space for relaxation, interaction, and community strengthening. However, limited facilities and cleanliness issues remain challenges, underscoring the need for improved management by local Keyword: public open space. visitor activity patterns. behavioral mapping. Weleri City Park PENDAHULUAN Dalam pandangan Habermas . , ruang publik adalah arena tempat warga berkumpul sebagai individu privat untuk berdiskusi secara rasional, membentuk opini, dan mengawasi kebijakan pemerintah. Scruton . melihat ruang publik sebagai lokasi yang dirancang sederhana, mudah diakses, dan menjadi titik temu antarwarga. Carr . menekankan bahwa ruang terbuka publik merupakan milik bersama yang mewadahi aktivitas sehari-hari maupun acara berkala, baik secara individu maupun kelompok. Agar berfungsi baik, ruang ini harus: . responsif, dapat dipakai untuk beragam kegiatan. demokratis, terbuka bagi semua orang. bermakna, memiliki keterhubungan dengan manusia, lingkungan, dan konteks sosialnya. Untiyarto. Rahman Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 Sejalan dengan itu. Budihardjo . menyatakan ruang terbuka direncanakan untuk memenuhi kebutuhan tempat pertemuan dan aktivitas bersama di ruang luar. pada dasarnya ia adalah wadah yang menampung berbagai aktivitas masyarakat, dengan akses yang luas dan penggunaan yang mengikuti norma Ruang terbuka publik adalah tempat umum yang menampung pola perilaku manusia Dalam kajian perilaku ruang . ehavior settin. , cara orang bertindak tidak lepas dari bagaimana ruang itu diatur: akses, jalur sirkulasi, tempat duduk, hingga aturan Karena pengaturan ruang terbuka publik akan memengaruhi jenis, waktu, dan sebaran aktivitas yang muncul di dalamnya. Ruang terbuka publik berfungsi sebagai tempat interaksi warga sekaligus memberi nilai tambah bagi kota, seperti meningkatkan estetika, menjaga kualitas udara dan iklim mikro, serta membentuk citra kawasan (Soenarno, 2002 dalam Widyawati et al. , 2. Secara ekologis dan tata ruang, ruang terbuka menjaga resapan air, menyeimbangkan lingkungan alamAebinaan, serta meningkatkan kenyamanan dan kebersihan kota (Desti Rahmiati, 2. Di tingkat sosial-budaya dan ekonomi, ruang ini menjadi wadah pertemuan, kegiatan komunitas, apresiasi budaya, dan aktivitas ekonomi rakyat seperti PKL. berperan sebagai pengikat struktur kota, ruang transit. Auparu-paruAy kota, dan tempat rekreasi (Darmawan. Tujuan warga, peningkatan kualitas visual, perbaikan pembentukan citra kota (Carr, 1992 dalam M. Nurhamsyah, 2. Fungsi dari ruang terbuka hijau diantaranya dari segi sosial: tempat masyarakat berkomunikasi, bermain/olahraga, sirkulasi, pendidikan, dan dari segi pembentuk kualitas lingkungan serta fungsi ekologis diantaranya Adalah penyegar udara, perbaikan iklim mikro, serapan air, pengendali banjir/tata air, pelestarian ekosistem, dan memperindah tampilan kawasan (Rustam Hakim, 2. Keberhasilan ruang publik tercermin dari intensitas dan durasi penggunaan, variasi aktivitas dan pengguna, serta kekayaan interaksi sosial (Mehta, 2007. Zhang & Lawson, 2009 dalam Anugrah Amin et al. , 2. Identitasnya dibentuk oleh tiga unsur: fisik . truktur, vegetasi, estetik. , aktivitas/fungsi . ola interaksi dan kebiasaan loka. , dan makna . engalaman (Granham, 1985 dalam Eka Adhitya Hari & Parfi Khadiyanto, 2. Dalam konteks kota, ruang terbuka hijau (RTH) memegang peran penting sebagai penyeimbang lingkungan. Ketentuan nasional (UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruan. merekomendasikan porsi RTH sebesar 30% dari luas wilayah kota, terdiri atas 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Selain RTH, pemerintah juga perlu menyediakan ruang terbuka publik non-hijau untuk mengakomodasi aktivitas warga. Intinya, ruang publikAihijau maupun non-hijauAiadalah prasarana dasar yang wajib tersedia agar kebutuhan aktivitas masyarakat dapat terpenuhi. Masyarakat individualistis perlu ruang bersama agar tetap ruang terbuka publik menjadi tempat warga bertemu, berinteraksi, bersantai, bermain, dan berolahraga (Ahmad, 2002 dalam Eka Adhitya Hari & Parfi Khadiyanto, 2. Agar berfungsi baik, ruang ini idealnya bermakna . engandung nilai dan tradisi kegiata. , responsif . ewadahi beragam aktivita. , dan demokratis . erbuka bagi semu. (Carr, 1992 dalam Karya Widyawati et al. Susi Laraswati S. , 2. Taman Kota Weleri (TKW) adalah salah satu contoh RTH publik di perkotaan. Taman ini berada di Desa Penaruban. Kecamatan Weleri. Kabupaten Kendal, dengan lokasi strategis di pusat kota sehingga mudah dikunjungi kapan Luasnya sekitar 1. 918 mA dan dilengkapi lapangan serbaguna, area bermain anak, jalur lari, serta halte Trans Jateng. Fasilitas tersebut memungkinkan berbagai kegiatan sosial seperti olahraga, rekreasi, berkumpul, hingga aktivitas pedagang kaki lima. Akses masuk mudah dan tanpa tiket. pengunjung hanya membayar parkir sesuai jenis kendaraan. Meski demikian, penggunaan ruang kadang saling bertabrakan. Misalnya, lapangan olahraga yang dipakai bermain basket bersamaan dengan anak-anak yang bermain sepatu roda, atau jalur pejalan kaki yang Untiyarto. Rahman Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 berubah fungsi menjadi tempat lesehan Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kualitas dan penataan fasilitas Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola aktivitas pengunjung dalam memanfaatkan ruang di Taman Kota Weleri. Pemetaan pola penggunaan ruang akan membantu perbaikan tata kelola dan penentuan fasilitas yang paling sesuai dengan kebiasaan pengunjung. Secara fokus, penelitian meninjau dua hal utama: . karakter ruang terbuka publik sebagai objek pengamatan, dan . pola aktivitas pengunjung merumuskan langkah peningkatan agar pemanfaatan ruang di Taman Kota Weleri menjadi lebih tertib, inklusif, dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fakta di lapangan melalui observasi dan telaah Data yang dihimpun berbentuk narasi dan visual . atatan lapangan, foto, dan Analisis perilaku dilakukan dengan behavioral mapping, yaitu memetakan aktivitas pengunjung pada sketsa area guna melihat jenis, frekuensi, serta kaitannya dengan elemen fisik taman. Prosedur pemetaan mengikuti langkah pokok: menyiapkan sketsa lokasi, merumuskan kategori perilaku yang diamati, menentukan jadwal pengamatan, dan mencatat temuan secara sistematis. Teknik yang dipakai adalah place-centered mapping untuk menilai bagaimana pengunjung mengatur dan menggunakan ruang pada waktu tertentu. Praktiknya, menggambar denah area beserta unsur yang memengaruhi perilaku . isalnya jalur sirkulasi, tempat duduk, atau lapanga. , lalu selama interval waktu yang ditetapkan, setiap perilaku dicatat pada peta dasar menggunakan simbolsimbol agar pola penggunaan ruang dapat terbaca dengan jelas. DATA DAN METODE Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Taman Kota Weleri. Desa Penaruban. Kecamatan Weleri. Kabupaten Kendal, dengan luas sekitar 1. Batas lokasi: Timur Tugu Sukun. Barat Masjid Al-Huda Muhammadiyah. Utara Jl. Bahari. Selatan Jl. Raya Utama Barat. Area ini dahulu terminal bus lama yang terbengkalai, kemudian direvitalisasi menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) agar bermanfaat bagi warga. Secara akses, taman berada di titik strategis: dekat pom bensin dan masjid, tidak jauh dari Pasar Weleri . usat keramaia. , berjarak A1 km dari gerbang Tol Weleri, berada di koridor Jl. Bahari yang mengarah ke Pantai Cahaya, serta telah dilayani halte BRT Trans Jateng. Taman gratis untuk dikunjungi. pengunjung hanya membayar parkir (ARp2. Rp5. 000 mobi. Aktivitas umum meliputi berolahraga, bermain, membeli jajanan, dan bercengkerama bersama keluarga atau teman. Metode Penelitian Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fakta di lapangan melalui observasi non-partisipan dan telaah dokumen. Analisis perilaku dilakukan dengan behavioral mapping . : peneliti menyiapkan sketsa area, menetapkan kategori perilaku, menentukan jadwal pengamatan, lalu mencatat aktivitas pada peta dasar dengan simbol agar terlihat jenis, frekuensi, lokasi, dan kaitannya dengan elemen fisik taman. Waktu & Lokasi Pengamatan Observasi dilakukan di Taman Kota Weleri pada hari kerja. Jumat . Sabtu, dan Minggu pada tiga sesi: pagi 06. 00Ae 00, sore 16. 00Ae18. 00, dan malam 19. 00Ae 00 . ipilih karena mewakili puncak Pemilihan hari dan jam observasi didasarkan pada kebutuhan melihat variasi pola kunjungan yang muncul pada hari kerja, hari peralihan, dan akhir pekan. Kamis mewakili hari kerja biasa ketika arus pengguna rutin Jumat dipilih sebagai hari peralihan karena intensitas kunjungan dan aktivitas pedagang mulai meningkat menjelang akhir pekan. Sabtu dan Minggu mewakili akhir pekan ketika taman cenderung paling ramai. Rentang waktu pagi pukul 06. 00 sampai 08. digunakan untuk merekam aktivitas awal hari seperti olahraga ringan, sarapan, dan transit. Rentang sore pukul 16. 00 sampai 18. 00 dipilih karena suhu lebih nyaman dan menjadi puncak aktivitas bermain, olahraga, dan bersosialisasi. Untiyarto. Rahman Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 Rentang malam pukul 19. 00 sampai 21. menangkap pola rekreasi malam hari seperti makan dan minum, berkumpul, serta kegiatan Jam siang tidak dipilih karena suhu lebih panas dan tingkat kunjungan cenderung menurun, sehingga tiga rentang waktu tersebut sudah merepresentasikan puncak penggunaan taman sepanjang hari. Tahap Penelitian: Persiapan: meninjau lokasi, menyusun kebutuhan dan jadwal data, serta perizinan/instrumen. Pelaksanaan: observasi tempat yang tetap . , pemetaan perilaku pada tiap zona, serta dokumentasi . oto/catata. sebagai bukti dan pelengkap temuan. Pengumpulan Data: A Primer: hasil observasi awal . ambaran aktivitas dan kelompok penggun. dan pemetaan perilaku terstruktur pada tiap sesi waktu. A Sekunder: literatur teori . ola aktivitas, ruang publik, behavior regulasi (UU/Perme. , dan penelitian Analisis Data Data diolah untuk: . analisis zona . ondisi fisik dan fungs. , . profil pengunjung . sia/jenis kelami. , . jenis aktivitas . ermain, mengobrol, duduk, berdiri, olahrag. , dan . pola aktivitas per zona dan waktu. Hasil pemetaan per segmen disusun dalam tabel diidentifikasi dan dibandingkan antarhari/sesi. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Zona Taman Kota Weleri Pada penelitian ini area Taman Kota Weleri dibagi menjadi lima zona yang terdiri dari, zona parkir, zona jual/beli, zona bermain, zona olahraga, dan zona bersantai. Taman Kota Weleri memiliki atribut ruang yang berbeda-beda dari jenis, bentuk, ukuran, tata letak serta hubungan atribut ruang yang satu dan yang lainnya. Berikut zona-zona yang ada di Taman Kota Weleri: Gambar 1. Peta Pembagian Zona Taman Kota Weleri . nalisis pribadi, 2. Berikut penjelasan pembagian zona di Taman Kota Weleri: Zona Parkir: Lahan terbuka berpohon di akses selatan, menampung motor dan Kadang dimanfaatkan PKL di bawah Terdapat halte BRT yang masih berfungsi, namun tulisan penanda sebagian huruf lepas sehingga mengurangi A Zona Jual/Beli: Deretan ruko permanen yang rapi, menjual aksesori, perlengkapan rias, jajanan, serta warung makanan dan A Zona Olahraga: Lapangan multifungsi untuk basket, skateboard, sepatu roda, dan jogging di sekitarnya. Dilengkapi bangku keliling, pepohonan peneduh, tribun di sisi timur, serta lampu sorot untuk kegiatan malam hari. Zona Bermain: Wahana anak . yunan, tangga, perosota. untuk usia sekitar 5Ae15 tahun, berada di dekat lapangan dan Area teduh. sesekali ada wahana tambahan sementara seperti memancing, bermain kelinci, atau melukis. Zona Bersantai: Area terluas dengan banyak pepohonan, tempat duduk, jalur pejalan/jogging, dan hamparan rumput. Terdapat tugu AuTaman WeleriAy berbentuk segitiga setinggi A2 meter. Analisis Pengunjung Taman Kota Weleri Pengunjung Taman Kota Weleri dikategorikan berdasarkan jenis kelamin dan usia untuk melihat gambaran pemanfaatan ruang secara lebih jelas. A Berdasarkan jenis kelamin: Laki-laki lebih banyak terlihat di area olahraga . apangan basket, jalur lar. dan Untiyarto. Rahman Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 cenderung aktif pada soreAemalam hari serta akhir pekan, baik untuk berolahraga maupun bersosialisasi. Perempuan lebih sering tampak pada aktivitas sosial dan keluargaAiberkumpul, makan/minum, atau menemani anak bermainAidengan kunjungan relatif lebih pagi dan sore, terutama akhir pekan. Kecenderungan interaksi laki-laki banyak terjadi melalui kegiatan fisik, sedangkan perempuan dominan pada kegiatan sosial, meski keduanya juga saling tumpangtindih. Berdasarkan usia: Anak-anak . Ae15 tahu. : aktif di area bermain . yunan, perosota. , berlari, bersepeda, atau sepatu roda. memanfaatkan wahana tambahan . elukis, memancing kecil, trampoli. Dewasa . Ae49 tahu. : aktivitas yang . ogging, skateboar. , bersantai, mengobrol, atau menikmati kuliner. ramai soreAemalam saat suhu lebih Lansia (Ou50 tahu. : memilih kegiatan santai seperti berjalan ringan, duduk bercengkerama, menemani anak/cucu, kunjungan cenderung pagi dan sebagian sore. Secara ketersediaan fasilitas, dan kebutuhan tiap kelompok pengguna. Zona Bersantai: banyak duduk dan makan/minum. cukup sering terlihat . , kadang ada pengamen. Secara keseluruhan, empat kelompok aktivitas utama yang konsisten adalah jualAebeli, olahraga, bermain, dan bersantai, dengan makan/minum hadir lintas zona. Aktivitas dominan per waktu: A Pagi: relatif tidak padat, mayoritas dewasa. dominan makan/minum . erutama di area lapangan/tribu. juga ada duduk, jualAebeli. A Sore: lebih ramai. ada anak-anak yang bermain di wahana. pengunjung dominan duduk dan bermain. juga ada yang melakukan kegiatan olahraga, jualAebeli, makan/minum. A Malam: banyak pengunjung berusia remaja/dewasa berpasangan . dan makan/minum. ada pengunjung berusia anak-anak yang bermain, duduk santai, jualAebeli, serta orang tua yang menemani anak. Analisis Pola Aktivitas Taman Kota Weleri Observasi KamisAeMinggu pada tiga sesi . 00Ae08. 00, sore 16. 00Ae18. 00, malam 00Ae21. konsisten di tiap lokasi. Kamis Analisis Aktivitas Taman Kota Weleri Observasi dilakukan KamisAeMinggu pada tiga sesi waktu . 00Ae08. 00, sore 16. 00Ae 00, malam 19. 00Ae21. Pola aktivitas antar hari relatif serupa di tiap zona: A Zona Parkir & Jual/Beli: didominasi jualAe beli, makan/minum, dan parkir. A Zona Olahraga: olahraga paling menonjol. pada akhir pekan muncul tambahan bermain di sekitar lapangan. A Zona Bermain: bermain menjadi aktivitas duduk/makan-minum, pengamen/wahana Gambar 2. Peta Pola Aktivitas Kamis Pagi . nalisis pribadi, 2. A Pagi: aktivitas ringan . uduk, bermain, jualAebel. banyak pengguna BRT dominan makan/minum . A Sore: jumlah kunjungan naik. toko mulai olahraga dan bermain. A Malam: pedagang PKL mulai ramai. didominasi oleh aktivitas duduk Untiyarto. Rahman Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 bersantai dan makan/minum. pacaran dan pengamen. Jumat Pagi: jumlah pengunjung dan aktivitas hampir mirip dengan hari Kamis, ditambah dengan aktivitas senam ibu-ibu. parkir lebih padat. Sore: didominasi oleh aktivitas olahraga . erutama baske. aktivitas jual-beli mulai meningkat. Gambar 3. Peta Pola Aktivitas Jumat Malam . nalisis pribadi, 2. A Malam: pengunjung dewasa yang melakukan aktivitas makan/minum dan duduk . ermasuk di halt. pengamen dan pedagang bertambah. Sabtu Gambar 5. Peta Pola Aktivitas Sabtu Sore . nalisis pribadi, 2. A Sore: jumlah pengunjung paling didominasi oleh aktivitas . asket, makan/minum. BRT Malam: pengunjung remaja/dewasa muda. asket, skateboard, sepatu rod. , makan/minum, dan pacaran. ada juga pengunjung yang berupa keluarga yang beraktivitas menemani anak bermain. Minggu Pagi: didominasi oleh aktivitas olahraga . ogging, basket, skateboard, skipping, senam ibu-ib. dan sarapan. anak-anak aktif bermain. Sore: lebih tenang dari Sabtu, namun tetap ramai oleh pengunjung didominasi oleh aktivitas olahraga dan jual-beli. banyak yang menunggu BRT. orang tua mengawasi anak bermain. Gambar 4. Peta Pola Aktivitas Sabtu Pagi . nalisis pribadi, 2. A Pagi: didominasi oleh aktivitas makan/minum dan olahraga . ari kecil, mahasiswa yang berkegiatan KKN). Gambar 6. Peta Pola Aktivitas Minggu Malam . nalisis pribadi, 2. A Malam: lampu lapangan mati sehingga tidak ada yang berolahraga. makan/minum dan pacaran. Untiyarto. Rahman Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 aktivitas bermain anak, duduk santai, dan jualAebeli. Aktivitas utama taman adalah jualAebeli, makan/minum. Puncak keramaian terjadi soreAe malam dan akhir pekan, dengan konsentrasi kegiatan mengikuti ketersediaan fasilitas . apangan, wahana, ruko/warung, halte BRT). Pola aktivitas di Taman Kota Weleri bervariasi menurut zona. Zona parkir berfungsi sebagai pintu masuk dan area penampung ramai pada pagi hari kerja lalu menjadi penunjang mobilitas pengunjung menuju zona lain. Zona jual beli menjadi pusat membeli makanan dan minuman, serta aktivitas meningkat pada akhir Zona olahraga banyak dipakai anak muda untuk basket, lari kecil, skateboard, dan memungkinkan kegiatan berlanjut hingga malam dan tribun menyediakan tempat Zona bermain ditujukan bagi anak dengan wahana ayunan, perosotan, dan suasana lebih ramai pada akhir pekan ketika keluarga datang dan orang tua mengawasi dari area duduk yang teduh. Zona bersantai adalah area terluas dengan tempat duduk, jalur pejalan, dan hamparan rumput. pada hari kerja cenderung tenang, sedangkan pada akhir pekan menjadi lokasi favorit untuk piknik, makan dan minum, berbincang, serta berkumpul bersama pasangan atau teman. Secara keseluruhan, kelima zona saling melengkapi: parkir mendukung akses, jual beli menggerakkan kegiatan ekonomi, olahraga dan bermain memfasilitasi aktivitas fisik, sedangkan bersantai menyediakan ruang interaksi dan rekreasi bagi semua usia. Secara umum, pola aktivitas di Taman Kota Weleri berubah menurut waktu kunjungan dan fungsi tiap zona. Pagi hari cenderung tenang, didominasi dewasa dan lanjut usia yang duduk, sarapan, serta berbelanja ringan. Sore hari menjadi puncak keramaian. anakanak dan orang dewasa muda aktif bermain dan berolahraga, sementara interaksi sosial meningkat karena banyak pengunjung datang untuk bersantai setelah beraktivitas. Malam hari didominasi aktivitas makan dan minum serta berkumpul berpasangan di area bersantai. Sabtu adalah hari tersibuk, dengan rangkaian kegiatan dari olahraga dan sarapan di pagi hari, bermain dan olahraga di sore hari, hingga makan dan minum serta berkumpul pada malam hari. Per zona, pola dominan selaras menempatkan kendaraan, zona jual beli untuk berbelanja dan menyantap makanan, zona olahraga untuk kegiatan fisik terutama basket, zona bermain untuk aktivitas anak, dan zona bersantai untuk duduk, makan dan minum, serta berinteraksi bersama keluarga atau Temuan di Taman Kota Weleri konsisten dengan konsep bahwa pola aktivitas dibentuk oleh pelaku, ruang, dan waktu (Marhendra et , 2014 dalam Nizar dan Setyowati, 2. Pada pagi hari terlihat aktivitas perlu seperti sarapan, menunggu BRT, dan parkir. sore hari didominasi aktivitas pilihan dan sosial seperti bermain, olahraga, dan berkumpul. malam hari bergeser pada makan dan minum serta berpasangan, sejalan dengan tipologi aktivitas utama, pilihan, dan sosial (Gehl, 1. Keterpaduan antara tatanan fisik taman dan pola aktivitas tersebut memperjelas komposisi ruang, hubungan antarbagiannya, serta kesesuaian rancangan dengan kebutuhan pengguna, sebagaimana ditegaskan Trancik, . Aktivitas pengunjung yang meningkat pada sore hingga malam juga menunjukkan peran kenyamanan, aksesibilitas, keterbacaan, menggambarkan adanya hubungan antara aktivitas manusia dengan setting fisik ruang SIMPULAN Dari hasil penelitian mengenai pola aktivitas pengunjung dalam pemanfaatan ruang terbuka publik di Taman Kota Weleri dengan metode behavior mapping maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: A Analisis Zona. Taman Kota Weleri dibagi menjadi lima zona yang berbeda: zona parkir, zona jual/beli, zona bermain, zona olahraga, dan zona bersantai. Pembagian zona ini membantu dalam mengorganisir aktivitas pengunjung dan memaksimalkan penggunaan ruang terbuka publik. Setiap zona memiliki fungsi sendiri-sendiri yang mendukung aktivitas dan interaksi, sehingga Untiyarto. Rahman Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 67 Ae 75 menciptakan lingkungan yang nyaman bagi A Analisis Pengunjung. Pengunjung Taman Kota Weleri terdiri dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak, dewasa, dan lanjut usia. Aktivitas yang dilakukan oleh pengunjung bervariasi tergantung pada waktu kunjungan, dengan pengunjung dewasa yang lebih tua dan lanjut usia lebih mendominasi pada pagi hari, sementara dewasa yang lebih muda dan anakanak lebih aktif pada sore dan malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa taman ini berfungsi sebagai ruang publik yang inklusif, memenuhi kebutuhan berbagai kelompok A Analisis Aktivitas. Aktivitas yang dilakukan di Taman Kota Weleri bervariasi berdasarkan waktu dan zona. Pada pagi hari, aktivitas didominasi oleh duduk, jual/beli, dan sarapan, sedangkan sore hari lebih banyak diisi dengan bermain, olahraga dan Pada malam hari, aktivitas seperti makan/minum Ini menunjukkan bahwa taman berfungsi sebagai tempat berkumpul yang dinamis, dengan aktivitas yang berubah sesuai dengan waktu dan suasana. A Analisis Pola Aktivitas. Pola aktivitas perbedaan dalam jenis aktivitas yang dilakukan sepanjang hari. Pagi hari cenderung lebih tenang dengan aktivitas yang lebih santai, sedangkan sore dan malam hari menjadi lebih ramai dengan interaksi sosial yang lebih aktif. Aktivitas dominan seperti pacaran dan makan/minum pada malam hari mencerminkan fungsi sosial taman sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi. Hal ini menegaskan pentingnya desain ruang terbuka publik yang mendukung berbagai jenis aktivitas. Berdasarkan temuan di Taman Kota Weleri, beberapa langkah perbaikan yang dapat disarankan adalah menambah lampu di area parkir, halte, dan titik yang ramai pada malam hari untuk meningkatkan rasa aman dan menambah fasilitas yang menarik bagi anak dan keluarga seperti wahana permainan, area melukis, atau memancing agar aktivitas lebih beragam. memperkuat pengelolaan tiap zona, terutama olahraga dan bermain, supaya penggunaan ruang tertib dan tidak saling menyelenggarakan kegiatan komunitas seperti festival atau olahraga bersama untuk menghidupkan suasana. memperbaiki aksesibilitas melalui jalur pejalan kaki yang aman dan ramah pengguna, termasuk penyediaan fasilitas bagi penyandang Dengan langkah tersebut, taman diharapkan menjadi ruang terbuka publik yang lebih baik, aman, inklusif, dan menarik bagi semua kalangan. REFERENSI