At-TaAodib Vol 5. No. Jurnal At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Agama islam https://ejurnal. id/index. php/at-tadib/index Membangun Karakter Religius Berbasis Tasawuf: Refleksi Pemikiran Ibnu AoArabi dalam Pendidikan Agama Islam Kontemporer Sandi Sastrawan 1. Fitriyadi Bajuri 2. Ansori 3 Universitas PTIQ Jakarta 1 Institut Agama Islam Qomarul Huda Lombok Tengah NTB 2 Institut Agama Islam Qomarul Huda Lombok Tengah NTB 3 sastrawanaz49@gmail. com1, fitriyadibajuri@gmail. com2, ansorifaisal97@gmail. ABSTRAK Artikel ini mengkaji relevansi dan potensi transformatif pemikiran tasawuf Ibnu AoArabi dalam pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk membentuk karakter religius yang utuh. Berlandaskan konsep Insan Kamil sebagai manusia ideal yang memantulkan atribut Ilahi, penelitian ini menekankan bahwa integrasi nilai-nilai tasawuf ibnu Aoarabi dapat menjembatani kesenjangan yang selama ini muncul antara nilai spiritual Islam dan kebutuhan zaman modern. Dengan metode analisis kualitatif berbasis studi literatur, artikel ini menawarkan model integrasi kurikulum dan pedagogis yang menyinergikan dimensi spiritual, moral, intelektual, dan sosial, guna menghasilkan generasi yang tidak hanya cakap secara akademik tetapi juga matang secara spiritual dan luhur secara moral. Hasil penelitian ini menekankan urgensi transformasi sistemik dan holistik dalam PAI agar dapat menjawab tantangan zaman dan membentuk pribadi yang siap berkontribusi bagi umat dan peradaban. Kata kunci: Karakter Religious. Ibnu Arabi. PAI Kontemporer ABSTRACT This article examines the relevance and transformative potential of Ibn 'Arabi's Sufism thought in the development of Islamic Religious Education (PAI) to form a complete religious character. Based on the concept of Insan Kamil as an ideal human being who reflects divine attributes, this study emphasizes that the integration of Ibn 'Arabi's Sufism values can bridge the gap that has emerged between Islamic spiritual values and the needs of modern times. Using a qualitative analysis method based on a literature study, this article offers a model of curriculum and pedagogical integration that synergizes the spiritual, moral, intellectual, and social dimensions, in order to produce a generation that is not only academically proficient but also spiritually mature and morally noble. The results of this study emphasize the urgency of systemic and holistic transformation in PAI in order to answer the challenges of the times and form individuals who are ready to contribute to the people and civilization. Keywords: Religious Character. Ibn Arabi. Contemporary PAI Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori Pendahuluan Era kontemporer ditandai oleh kemerosotan nilai moral dan spiritual, terlihat dari maraknya kekerasan, pornografi, tawuran, hingga korupsi dan kriminalisasi politik. Fenomena ini menekankan kebutuhan mendesak akan pembenahan sistem pendidikan agar tidak hanya mengutamakan aspek akademik, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai moral dan spiritual (Miftahul Jannah, 2. Pendidikan agama Islam memiliki peran strategis untuk menjembatani kesenjangan ini, dengan tujuannya membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cakap, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Namun, pola pendidikan yang terlalu menekankan aspek kognitif belum sepenuhnya menjawab kebutuhan tersebut, sehingga diperlukan evaluasi menyeluruh agar pembentukan nilai dan karakter mendapat prioritas yang setara dengan penguasaan akademik (Riinawati & Ngalimun, 2. Dalam konteks ini, tasawuf menawarkan pendekatan holistik yang relevan untuk mengatasi krisis nilai dan moralitas, khususnya melalui proses penyucian batin dan transformasi spiritual. Puncak dari ajaran ini ialah tercapainya Insan Kamil, manusia paripurna dengan kesadaran spiritual, intelektual, moral, dan sosial yang menyeluruh (Waskito, 2. Pemikiran Ibnu AoArabi . Ae638 H) sebagai tokoh sufi-filsuf terkemuka, memberikan landasan bagi integrasi nilai-nilai tasawuf ke dalam sistem pendidikan Islam modern. Dengan memadukan pengalaman mistik dan rasionalitas filosofis, ia menjadikan tasawuf dapat diaplikasikan dalam konteks akademik dan kebutuhan zaman, melampaui spiritualitas emosional semata. Insan Kamil, sebagai titik akhir dari proses ini, bukan hanya teladan kesalehan pribadi, tetapi juga wakil Allah yang membawa transformasi positif bagi masyarakat dan pelestarian alam (Wiwaha, 2. Karakter religius yang dikembangkan dari nilai-nilai AlAcQurAoan dan Hadits bukan semata soal perilaku lahiriah, tetapi nilai batin yang tumbuh dari kesadaran dan pembiasaan, selaras dengan nilai-nilai profetik seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian. Tasawuf memperkaya proses ini dengan disiplin spiritual seperti zikir, meditasi, puasa, khalwat, dan khidmat, yang menjadikan peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan kuat secara spiritual. Hal ini memungkinkan lahirnya pribadi dengan kemampuan menginternalisasi nilai-nilai agama, memperluas maknanya dari penguasaan pengetahuan semata menjadi transformasi batin dan perubahan nyata dalam perilaku sehariAchari (Waskito, 2. Tujuan artikel ini ialah menawarkan sebuah kerangka kerja bagi pengembangan sistem pendidikan Islam yang dapat menjawab tantangan zaman, dengan mengintegrasikan nilai-nilai At-TaAodib Vol 5. No. 2 Oktober 2025 Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori tasawuf dan konsep Insan Kamil dalam proses pembentukan karakter. Dan tentunya inti dari artikel ini terletak pada upayanya memberi landasan konseptual bagi pola edukasi yang tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual, berakhlak mulia, dan siap memberi kontribusi positif bagi bangsa dan negara. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif deskriptifAcanalitis (John W. Creswell, 2. Sumber data terdiri dari karya primer Ibn AoArabi, khususnya Futuhat alAcMakkiyah dan Fusus alAcHikam, serta literatur akademik terkait tasawuf dan pendidikan Islam. Pengumpulan data dilakukan dengan telaah pustaka, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis untuk mengungkap konsep Insan Kamil dan relevansinya bagi pengembangan karakter dalam pendidikan Islam. Hasil dan pembahasan Reformulasi Tujuan Pendidikan Islam Berbasis Konsep Insan Kamil Konsep Insan Kamil mendorong reformulasi tujuan pendidikan Islam agar lebih holistik, dengan fokus tidak hanya pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pengembangan daya pikir kritis, kreatif, dan kesadaran sosial. Hal ini menjadikan lulusan bukan hanya saleh secara spiritual, tetapi juga siap berkontribusi bagi perubahan dan kemajuan masyarakat. Seperti dijelaskan Muhammad Iqbal . 7Ae1. seorang filsuf dan penyair Muslim dari anak benua India menjelaskan Insan Kamil ialah pribadi aktif, kreatif, dan peka sosial yang menjembatani kesalehan agama dengan kebutuhan zaman modern. Dengan begitu, pendidikan Islam dapat menjawab tantangan kontemporer dan menghasilkan generasi yang utuh, kritis, serta berdampak positif bagi umat dan peradaban (Arsil & Aprison, 2. Untuk mewujudkan citaAccita Insan Kamil, kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual, dan sosial, memadukan nilaiAcnilai agama dengan keterampilan abad keAc21. Integrasi ini mencakup pengembangan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, dengan menekankan pembentukan akhlak mulia, kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan sosial. Kurikulum berbasis tasawuf menjadi kunci untuk menghidupkan dimensi spiritual peserta didik, mengimbangi dominasi rasionalitas semata, dan menghasilkan generasi ulul albab yang matang secara spiritual, cerdas, dan siap menjawab tantangan zaman (Ciputri. Safitri, & Panotogama, 2. Pendekatan holistik ini juga menjembatani dikotomi klasik antara ilmu agama dan ilmu umum, memandang keduanya sebagai wujud kesatuan hikmah Ilahi . ahdat alAcwuju. At-TaAodib Vol 5. No. 2 Oktober 2025 Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori Dengan pola ini, proses belajar tidak hanya menghasilkan pemahaman agama yang mendalam, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, berkreasi, dan berkontribusi aktif bagi masyarakat. Inilah landasan bagi lahirnya Insan Kamil, manusia seutuhnya yang dapat memaknai dan memanfaatkan pengetahuan untuk kemajuan spiritual dan sosial umat (Alfian Khairani, 2. Metode Pedagogis Pembentukan Karakter Religius Berbasis Tasawuf Ibnu AoArabi Metode pedagogis ini bertujuan mengimplementasikan konsep Insan Kamil dan nilai-nilai tasawuf Ibnu AoArabi ke dalam pembentukan karakter peserta didik. Ada lima metode pokok: Adaptasi Metode Tradisional Pesantren: Metode sorogan, bandongan, halaqah, dan taAolim digunakan untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral. Berbasis kedekatan emosional guruAemurid . , metode ini membekali peserta didik dengan disiplin spiritual dan internalisasi nilai-nilai tasawuf. Optimalisasi Tahfidz AlAcQurAoan: Program ini bukan sekadar hafalan, tetapi juga latihan disiplin, kesabaran, dan kesalehan yang selaras dengan nilai mujahadah dan istiqamah dalam tasawuf, menjadikan hafalan sebagai bentuk kontemplasi spiritual dan pembentukan karakter. Pembelajaran Aktif dan Partisipatif: Pembelajaran yang memadukan pengalaman praktis dengan nilai teoretis, seperti bermain peran, diskusi, dan pemecahan masalah, menjembatani kesenjangan antara pengetahuan agama dan penerapan moral dalam konteks nyata. Keteladanan dan Pembiasaan (Uswatun Hasana. : Guru berfungsi sebagai teladan nilai dan pembiasaan spiritual, menjadikan sekolah dan pesantren sebagai lingkungan tumbuh yang memungkinkan peserta didik mengamati dan meniru nilai-nilai Islam dalam praktik sehariAchari. Integrasi Pembelajaran Berbasis Pengalaman Spiritual: Dzikir, meditasi, dan kontemplasi digunakan sebagai metode untuk menyucikan hati dan membentuk kesadaran spiritual, memungkinkan peserta didik menginternalisasi nilai-nilai tasawuf hingga menjadikannya karakter yang hidup dan mendalam. Kelima metode ini bersamaAcsama menggabungkan dimensi kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual untuk membentuk pribadi yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menjelmakan nilaiAcnilainya dalam sikap dan tindakan, sesuai dengan citaAccita Insan Kamil. At-TaAodib Vol 5. No. 2 Oktober 2025 Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori Berikut adalah tabel yang mengintegrasikan konsep tasawuf Ibnu AoArabi dengan metode pedagogis PAI dan hasil karakter yang diharapkan: Table 1. eIntegrasi Konsep Tasawuf Ibnu AoArabi dalam Metode Pedagogis PAI Konsep Tasawuf (Ibnu Metode Pedagogis PAI Hasil Karakter yang Diharapkan AoArab. yang Relevan . erkait atribut Insan Kami. Wahdat al-Wujud Adaptasi Metode Kesetaraan. Toleransi. Saling (Kesatuan Eksistens. Tradisional Pesantren Menghormati. Solidaritas Kosmis, (Halaqah. Ta'li. Empati. Kesadaran Spiritual. Pembelajaran Aktif & Penghargaan terhadap Keberagaman Partisipatif Maqamat (Tahapan Adaptasi Metode Pengendalian Diri. Kesabaran. Spiritua. Tradisional Pesantren Keikhlasan. Tawakkal. Disiplin, (Sorogan. Istiqamah. Tanggung Jawab. Kejujuran. Bandonga. Kerendahan Hati. Wara'. Zuhud. Optimalisasi Program Qanaah. Syukur. Yaqin. Shidq. Haya'. Tahfidzul Qur'an. Hurriyah. Ghirah. Faqr. Sa'adah Peran Keteladanan & Pembiasaan Ahwal (Pengalaman Integrasi Pembelajaran Kesadaran Spiritual. Kedamaian Batin Spiritua. Berbasis Pengalaman (Thuma'nina. Cinta Ilahi Spiritual (Dzikir, (Mahabba. Rasa Takut (Khau. dan Kontemplasi. Musik. Harap (Raja'). Kerinduan (Syau. Cerit. Pembelajaran Keintiman (Un. Penyaksian Aktif & Partisipatif (Musyahada. Keyakinan (Yaqi. Optimisme. Kreativitas. Jiwa Seimbang Atribut Insan Kamil Peran Keteladanan Akhlak Mulia. Berjiwa Seimbang, . (Uswatun Hasana. Berfungsi Akal & Intuisi Optimal, dan Pembiasaan. Mampu Menciptakan Budaya. Pengembangan Bertanggung Jawab Sosial & Ekologis. Kurikulum Integratif. Memiliki Sifat-sifat Tuhan. Meneladani Nabi Muhammad SAW At-TaAodib Vol 5. No. 2 Oktober 2025 Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori Reformulasi Tujuan Pendidikan Peran Kritis Pendidik dalam Mengaktualisasikan Insan Kamil Pendidik memegang peranan sentral dalam proses aktualisasi Insan Kamil bagi peserta Fungsi pendidik tidak terbatas pada sekadar transmisi pengetahuan semata, tetapi juga mencakup peran sebagai pembimbing spiritual dan teladan yang dapat dicontoh dalam sikap, nilai, dan perilaku sehariAchari. Agar dapat memenuhi peran ini, pendidik perlu dibekali dengan pemahaman yang mendalam mengenai pemikiran Ibn AoArabi, khususnya terkait perkembangan spiritual peserta didik, dan bagaimana menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam proses Mereka juga dituntut untuk memahami tahapan perkembangan peserta didik dari sudut pandang spiritual, sehingga dapat secara aktif memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya potensi ilahi dalam setiap individu yang mereka bimbing (Hadi. Anim, & Yasin, 2. Selain itu, pelatihan berkelanjutan bagi tenaga pendidik juga memegang peranan sangat Pelatihan ini tidak hanya terkait dengan penguasaan aspek akademik, tetapi juga harus menyentuh pengembangan pribadi dan spiritual pendidik itu sendiri. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian dari Jurnal Hold IAIQH Bagu menyatakan bahwa melalui pelatihan yang terstruktur dan dukungan yang berkelanjutan, santri dapat mengembangkan pontensi mereka secara maksimal yang menunjukkan pentingnya kesinambungan pendekatan dalam pengembangan kompetensi spiritual dan pribadi tenaga pendidik agar dapat menjadikan nilaiAcnilai yang diajarkan sebagai bagian dari karakter dan kepribadian pendidik (Darmawan & Nurdin, 2. Dukungan dari pihak orang tua juga sangat diperlukan dan perlu dijaga melalui komunikasi intensif dan kerja sama yang erat dengan sekolah, guna memastikan nilaiAcnilai yang diajarkan dapat terus tumbuh dan terpelihara di luar lingkungan sekolah. Dalam konteks ini temuan serupa dalam jurnal HOLD menegaskan bahwa pelatihan berkelanjutan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan spiritual, tetapi juga kemampuan mandiri lembaga itu sendiri: Hal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pribadi, tetapi juga memperkuat kemandirian pesantren secara ekonomi(Nurdiono & Harisman, 2. At-TaAodib Vol 5. No. 2 Oktober 2025 Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori Transformasi peran pendidik ini membawa implikasi bahwa guru bukan hanya instruktur, tetapi juga seorang mentor spiritual yang menjadikan nilaiAcnilai Insan Kamil nyata dalam perilaku dan teladan pribadi. Hal ini menekankan bahwa peserta didik tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari siapa yang mengajarkannya. Dengan pembekalan pemahaman yang mendalam, pelatihan berkelanjutan, dan komitmen pribadi untuk mengamalkan nilaiAcnilai Insan Kamil, pendidik dapat menjadi contoh hidup yang autentik. Inilah landasan bagi implementasi pendidikan karakter berbasis tasawuf yang tidak hanya efektif, tetapi juga membawa perubahan signifikan dalam membentuk pribadi peserta didik yang utuh, matang, dan berakhlak mulia (Arsil & Aprison, 2. Tantangan dan Rekomendasi Strategis Implementasi pendidikan karakter berbasis tasawuf di era kontemporer Implementasi pendidikan karakter berbasis tasawuf menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan saling terkait. Salah satu hambatan utamanya adalah kurangnya konsistensi nilai dan pembiasaan antara sekolah dan rumah. Sekolah memang dapat mengajarkan nilai-nilai karakter dan spiritualitas, tetapi nilai tersebut belum tentu diterapkan dan dijunjung tinggi di Kondisi ini dapat melemahkan efek dari internalisasi nilai-nilai tersebut bagi peserta didik (Aisyah & M. Ali, 2. Selain itu, tenaga pendidik juga kerap belum dibekali dengan pelatihan dan sumber daya yang memadai terkait penerapan nilai-nilai tasawuf dalam pembentukan karakter. Hal ini diperparah dengan keterbatasan infrastruktur dan sarana pendukung, yang membuat pelaksanaan nilai-nilai ini sulit diwujudkan secara menyeluruh. Faktor lain yang juga signifikan ialah resistensi dari pihak-pihak tertentu dalam sistem pendidikan tradisional, yang belum sepenuhnya siap menerima perubahan paradigma dari pola belajar yang cenderung kognitif dan formal menuju pola holistik yang juga menekankan nilai spiritual dan moral. Pengaruh teknologi yang masif serta keragaman latar belakang peserta didik juga memberi warna tersendiri bagi kompleksitas tantangan ini. Model pengajaran tradisional yang terlalu menekankan hafalan dan pemahaman teoretis sering kali belum dapat menyentuh aspek batin dan pengalaman spiritual peserta didik. Berbagai masalah sosial yang lebih luas, seperti maraknya korupsi akademik dan menurunnya nilai-nilai disiplin, juga turut memperumit proses pembentukan karakter peserta didik (Wirayanti. Erna. Cherawati, & S, 2. At-TaAodib Vol 5. No. 2 Oktober 2025 Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori Rangkaian hambatan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi nilai-nilai tasawuf dalam konteks pendidikan tidak dapat dicapai melalui intervensi yang terpisah atau parsial. Justru diperlukan suatu pendekatan yang menyeluruh, sistemik, dan adaptif, yang menjadikan sekolah, rumah, dan komunitas sebagai satu kesatuan yang saling mendukung. Tantangan yang dihadapi menyentuh berbagai dimensi: dari soal konsistensi nilai di sekolah dan rumah, kualitas dan kapasitas tenaga pendidik, keterbatasan infrastruktur, hingga hambatan dari pola pikir institusional dan pengaruh sosial yang lebih luas. Oleh sebab itu, langkah perubahan yang efektif memerlukan kerja kolektif yang memungkinkan nilai-nilai tasawuf tumbuh dan mengakar secara harmonis di berbagai lingkungan peserta didik. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan sebuah strategi implementasi yang terstruktur, holistik, dan berkesinambungan. Hal ini dapat diwujudkan melalui reformulasi tujuan pendidikan yang menjadikan nilai-nilai spiritual dan moral sebagai titik tolak, serta pengembangan kurikulum integratif yang memadukan nilai-nilai agama, pengetahuan akademik, dan kebutuhan zaman. Inovasi metode pengajaran juga diperlukan, khususnya metode yang aktif dan partisipatif, guna memungkinkan peserta didik tidak hanya memahami nilai-nilai tersebut secara teoretis, tetapi juga merasakan dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari (Sri Minarti, 2. Selain itu, penguatan kapasitas tenaga pendidik harus menjadi prioritas. Guru perlu mendapat pelatihan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pengembangan pribadi dan spiritualitas agar dapat menginternalisasi nilai-nilai yang diajarkan dan menjadi teladan bagi peserta didik. Dukungan dari pihak orang tua juga sangat vital dan dapat dicapai melalui komunikasi intensif dan kerja sama erat dengan sekolah. Langkah lain yang perlu diperhatikan ialah penyediaan fasilitas memadai, pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif bagi pengamalan nilai-nilai tasawuf, serta pemberian apresiasi bagi tenaga pendidik dan peserta didik yang berhasil mewujudkan nilai-nilai tersebut. Integrasi layanan bimbingan dan konseling juga dapat memberikan ruang bagi peserta didik untuk tumbuh secara holistik, dengan perhatian tidak hanya pada aspek akademik tetapi juga perkembangan spiritual dan emosional (Asrofi. Hamilaturroyya, & Purwoko, 2. Pada tingkat yang lebih mendasar, implementasi pendidikan karakter berbasis tasawuf yang berkelanjutan menuntut terbentuknya sebuah ekosistem edukasi yang holistik dan integratif, di mana semua pemangku kepentingan Ai sekolah, guru, peserta didik, orang tua. At-TaAodib Vol 5. No. 2 Oktober 2025 Sandi Sastrawan. Fitriadi Bajuri. Ansori dan komunitas Ai dapat saling mendukung dan bekerja sama. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Wahdat alAcWujud, yang menekankan bahwa semua unsur saling terkait dan saling Dengan memandang sekolah sebagai ekosistem nilai yang menyeluruh, dan dengan memelihara kerja sama yang erat antar semua pihak, pembentukan Insan Kamil dapat tumbuh sebagai usaha kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Hal ini tidak hanya menjamin internalisasi nilai-nilai Islam yang mendalam dan konsisten, tetapi juga mempersiapkan generasi yang matang secara spiritual, kuat secara moral, dan siap membawa perubahan positif bagi umat dan bangsa. Kesimpulan Integrasi pemikiran tasawuf Ibnu AoArabi ke dalam Pendidikan Agama Islam menawarkan landasan kuat untuk membentuk karakter religius yang holistik, menjadikan peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral. Melalui konsep Insan Kamil. Wahdat al-Wujud. Maqamat, dan Ahwal, tasawuf dapat menjembatani kesenjangan antara nilai-nilai Islam dan kebutuhan zaman modern. Dengan reformulasi kurikulum, metode pedagogis inovatif, teladan pendidik yang kuat, serta dukungan dari sekolah, keluarga, dan komunitas, pendidikan dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul dari sisi akademik, tetapi juga membawa transformasi batin dan berdampak positif bagi umat dan semesta. Daftar Pustaka