Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 Pembentukan Karakter Politik Anak Usia Dini Dalam Merespons Kampanye Politik 2024 Yusuf Teja Farihul Azid1* dan Refti Handini Listyani2 Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISIPOL-Unesa 17040564081@mhs. Abstract The family has an important role in the process of socialization and education development of a child. Political education is important today, because efforts to build and develop political awareness. The involvement of mothers' roles in socializing early childhood in the 2024 political campaign in Labuhan Village. Brondong District. Lamongan Regency. is something that needs to be considered. The purpose of this study is to Identifying the Objective Conditions of the Role of Mothers in the Formation of Early Childhood Political Character in Responding to the 2024 Campaign in Labuhan Village Analyzing the Role of Mothers in the Socialization Process. Analyzing the Influence of Political Values in Socialization. Identifying Environmental Influences and Family Social Status. The research method used in this study is a qualitative research method, theory from George Herbert Mead and supported by Max Weber theory. The results of this study show that there is a significant role of mothers in children's political socialization, mothers have a very important role in shaping the understanding and political attitudes of early childhood. Through daily interactions, political discussions, and participation in political activities, mothers play a key role in shaping the political consciousness of the younger generation. There are variations in children's responses to politics that are influenced by the mother's level of involvement, the family's economic environment, and other factors. Role of Community Leaders: In addition to mothers, community leaders also have a significant influence in shaping political understanding in Labuan Village. Keluarga mempunyai peranan penting dalam proses perkembangan sosialisasi dan pendidikan seorang anak. Pendidikan politik menjadi penting saat ini, karena upaya untuk membangun dan mengembangkan kesadaran Keterlibatan peran ibu dalam menyosialisasikan anak usia dini pada kampanye politik tahun 2024 di Desa Labuhan. menjadi hal yang perlu diperhatikan. Tujuan penelitian ini adalah Mengidentifikasi Kondisi Objektif pembentukan karakter politik anak usia dini dalam merespons kampanye politik 2024 di Desa Labuhan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan. Menganalisis Peran Ibu dalam Proses Sosialisasi. Menganalisis Pengaruh Nilai-nilai Politik dalam Sosialisasi. Mengidentifikasi Pengaruh Lingkungan dan Status Sosial Keluarga. Metode Penelitian yang diggunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan memakai prespektif teori sosialisasi dari George Herbert Mead serta di dukung teori max weber. penelitian ini menunjukan adanya Peran Signifikan Ibu dalam Sosialisasi Politik Anak, ibu memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pemahaman dan sikap politik anak usia dini. Melalui interaksi seharihari, diskusi politik, dan partisipasi dalam kegiatan politik, ibu memainkan peran kunci dalam membentuk kesadaran politik generasi muda. Terdapat variasi dalam respons anak terhadap politik yang dipengaruhi oleh tingkat keterlibatan ibu, lingkungan ekonomi keluarga, dan faktor-faktor lainnya. Peran Tokoh Masyarakat: memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk pemahaman politik di Desa Labuhan. Keywords: Culture Motherhood. Socialization. Early Childhood. Political Education Pendahuluan Keluarga merupakan wadah yang penting bagi individu maupun dalam kelompok, dan keluarga ialah kelompok sosial pertama, anak sebagai anggotanya. Sosialisasi pertama juga terjadi di dalam keluarga bagi anak, ibu maupun ayah . Keluarga mempunyai peranan penting dalam proses perkembangan sosialisasi dan pendidikan seorang anak. Terlaksananya hak dan kewajiban dalam rumah tangga merupakan bagian dari Peran keluarga, karena keluarga tempat pertama bagi anak, anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di masa perkembangan awal yang mana di masa ini anak lebih aktif dan rasa keingitahua mereka tinggi, sehingga secara tidak langsung peran keluarga akan membentuk karakter pribadi maupun kehidupan sosial utuk kedepannya. Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 Anak usia dini merupakan fase kritis dalam pembentukan identitas sosial, nilai-nilai, dan pemahaman terhadap dunia sekitar. Keluarga, sebagai unit pertama dalam sosialisasi, memiliki peran utama dalam membentuk landasan perkembangan anak-anak, di mana peran ibu secara tradisional memegang peran signifikan dalam proses ini . Seiring dengan pertumbuhan anak, lingkungan keluarga dapat memberikan fondasi penting dalam memahami isu-isu sosial dan politik. Anak usia dini mengalami proses pembelajaran yang sangat sensitif dan rentan terhadap pengaruh lingkungan sekitar. Keluarga, sebagai entitas pertama di mana sosialisasi dimulai, memainkan peran penting dalam membentuk pola pikir, nilai-nilai, dan pemahaman anak tentang dunia di sekitarnya . Peran ibu dalam keluarga memiliki dampak yang signifikan dalam proses ini, karena peran ibu sering kali menjadi aspek dominan dalam pengasuhan anak . Pada masa ini, lingkungan keluarga, khususnya peran ibu, memainkan peran krusial dalam membentuk sikap, pemikiran, dan respons anak-anak terhadap isu-isu politik yang tersebar di masyarakat . Pengaruh yang ditransmisikan oleh peran ibu dalam keluarga dapat memainkan peran penting dalam membentuk landasan pemahaman anak tentang politik, yang pada gilirannya dapat memengaruhi partisipasi politik mereka di masa depan . Pada tahun 2024. Indonesia mengalami momen penting dengan adanya kampanye politik yang intens terkait pemilihan umum. Seluruh warga negara, yang tunduk pada aturan konstitusi, memiliki peluang yang setara untuk meraih kekuasaan, tanpa memandang latar belakang budaya, suku, agama, ras, atau jenis kelamin. Oleh karena itu, setiap warga negara yang sah berhak ikut serta dalam pemilihan umum . sebagai mekanisme untuk menggantikan kekuasaan. Situasi ini mencerminkan bagaimana sistem demokrasi beroperasi. Namun, perlu diperhatikan dengan lebih mendalam bahwa demokrasi tidak hanya melibatkan aspek cara, alat, dan proses, melainkan juga harus mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma yang mewarnai dan mencerminkan seluruh proses kehidupan kita sebagai masyarakat, bangsa, dan negara . Di tengah dinamika politik ini, pengaruh lingkungan keluarga, khususnya peran ibu, dalam sosialisasi anak usia dini terkait respons terhadap kampanye politik menjadi semakin penting untuk Anak-anak pada usia ini memperoleh banyak informasi dan nilai-nilai dari lingkungan mereka, yang mencakup pola perilaku, nilai-nilai etika, dan pandangan terhadap politik . Keterlibatan peran ibu dalam menyosialisasikan anak usia dini terkait respons terhadap kampanye politik tahun 2024 di Indonesia khususnya di Desa Labuhan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan menghadirkan pertanyaan yang mendalam. Bagaimana ibu secara konkret memfasilitasi pemahaman anak-anak terhadap isu-isu politik? Apa saja nilai-nilai yang mereka sampaikan dan bagaimana pengaruhnya pada respons anak-anak terhadap kampanye politik yang sedang berlangsung? Penjelasan ini mencerminkan pentingnya Pembentukan Karakter Politik Anak Usia Dini terkait isu-isu politik, namun masih ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut untuk memahami secara lebih spesifik bagaimana peran ibu memengaruhi anak-anak dalam merespons kampanye politik pada tahun 2024 di desa labuhan. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti merumuskan rumusan masalah sebagai berikut : AuBagaimana Pembentukan Karakter Politik Anak Usia Dini Dalam Merespons Kampanye Politik 2024?Ay Kajian Pustaka Kajian Teori Teori George Herbert Mead tentang sosialisasi menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembentukan identitas individu . Menurutnya, anak-anak belajar dan mengembangkan konsep diri mereka melalui proses interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Teori George Herbert Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 Mead sangat relevan dalam konteks pembentukan karakter politik anak usia dini. Mead dikenal dengan konsepnya tentang "self" atau "diri". Teori "self" Mead terdiri dari dua komponen utama: "me" . aya sosia. dan "I" . aya individua. "Me" . aya sosia. : Bagian dari diri kita yang tercermin dari perspektif sosial, norma, dan harapan yang dipelajari dari lingkungan sosial, termasuk pengaruh dari orang tua, keluarga, dan "I" . aya individua. : Bagian dari diri kita yang bersifat kreatif, spontan, dan reflektif. Ini adalah aspek diri yang lebih pribadi dan individual. Dalam konteks penelitian ini tentang peran ibu dalam sosialisasi anak usia dini, teori Mead bisa digunakan untuk memahami bagaimana peran ibu . tau figur otoritas lainny. membantu membentuk "me" anak melalui interaksi, instruksi, dan penanaman nilai-nilai sosial. Mead mengemukakan bahwa proses sosialisasi adalah kunci dalam pembentukan konsep diri dan pemahaman individu tentang peran mereka dalam masyarakat . Perkembangan diri manusia menurut George Herbert Mead ada beberapa tahap, sebagai berikut: Tahap Persiapan (Preparatory Stag. Tahap Bermain (Play Stag. Tahap Permainan (Game Stag. Teori pendukung Penelitian ini menggunakan teori Max Weber yang dapat menganalisis lebih dalam bagaimana peran ibu dalam sosialisasi anak usia dini tercermin dari perspektif struktural, kekuasaan, dan pemahaman tentang tindakan sosial serta nilai-nilai yang mereka perjuangkan . Teori Max Weber dapat memberikan perspektif yang lebih luas mengenai struktur kekuasaan, kelas sosial, dan bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi interaksi sosial, termasuk dalam konteks sosialisasi keluarga. Penelitian menggunakan teori Weber untuk melihat bagaimana peran ibu dapat dipahami dalam konteks struktural dan kekuasaan dalam keluarga serta bagaimana hal ini memengaruhi proses sosialisasi anak. Penelitian Terdahulu Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Mulkanur Rohim. Amika Wardana pada tahun 2019 Dengan Judul AuAnalisis Politik Milenial : Persepsi Siswa SMA Terhadap Dinamika Politik Pada PEMILU 2019 di IndonesiaAy. hasilnya pembahasan isu politik dilakukan melalui diskusi, perdebatan, dan akses terhadap informasi. Dari isu politik tersebut, muncul persepsi pada individu yang melewati tahapan seleksi, interpretasi, dan akhirnya mencapai pembulatan . Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Elon Paul Wabiser pada tahun 2020 yang berjudul AuPeranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak di era digital pada kelurahan karang mulia distrik samofa kabupaten biak numforAy. Temuan penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak, yang meliputi peran sebagai pendidik, pendorong, pendukung, panutan, dan pengawas, telah dijalankan dengan baik oleh orang tua . Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Joni Firmansyah. Leni Nurul Kariyani pada tahun 2021 yang berjudul AuPendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula Di Tengah Pandemi Covid-19 Di Kabupaten Sumbawa Tahun 2020Ay. Hasil temuan dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa penguatan pemilih sosiologis berdampak pada kecenderungan pemilih pemula dalam proses pemilu. Faktor ini semakin diperkuat oleh pengaruh pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan, menjadikan lingkungan sebagai faktor utama dalam menyediakan informasi dan pendidikan politik. Media sosial menjadi kanal terkemuka dalam menyampaikan edukasi politik . Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Robi Ulzikri. Robi Cahyadi Kurniawan. Himawan Indrajat pada tahun 2021 yang berjudul AuBudaya Politik Warga Nahdlatul Ulama Kota Bandar Lampung: Belajar dari Pencalonan MaAoruf Amin dalam Pemilihan Umum 2019Ay. Temuan penelitian Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 menunjukkan hal berikut: pertama, budaya politik warga struktural NU tergolong dalam budaya politik partisipan. Mereka memiliki pemahaman, perasaan, dan evaluasi terhadap berbagai aspek, termasuk sistem secara umum, objek-objek input dan output, serta pribadi sebagai objek dalam konteks Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 . Metode Penelitian Metode Penelitian yang diggunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan memakai prespektif teori sosialisasi dari George Herbert Mead serta di dukung teori max Pendekatan ini dipilih untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang peran ibu dalam sosialisasi anak usia dini terkait respons terhadap kampanye politik 2024. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi pengalaman, persepsi, dan makna yang terkandung dalam interaksi sosial subjek penelitian (Creswell, 2. Peneliti secara langsung terjun dan fokus melihat suatu interaksi ataupun suatu proses yang ada pada fenomena ataupun sumber yang dilihat. bagi Jane Richie penelitian kualitatif merupakan cara dalam menyuguhkan persoalan dunia sosial, serta cara pandang dalam dunia, dari segi perilaku, konsep serta cara melihat seseorang yang diamati. Mengkombinasikan kedua teori George Herbert Mead dan Max Weber, bisa menjadi pendekatan yang sangat kuat dalam penelitian tentang peran ibu dalam sosialisasi anak usia dini terkait respons terhadap kampanye 2024. Pertama-tama, teori Mead akan membantu peneliti dalam memahami bagaimana anak-anak membangun identitas sosial mereka melalui interaksi dengan ibu dan lingkungan sekitar. Sementara itu, teori Weber akan membawa pemahaman yang lebih luas tentang struktur kekuasaan, kelas sosial, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi interaksi sosial. peneliti dapat melihat bagaimana peran ibu tercermin dalam konteks struktural, bagaimana kekuasaan dan struktur sosial dalam keluarga memengaruhi proses sosialisasi anak. Dengan menggunakan kedua teori ini, peneliti dapat menggabungkan sudut pandang mikro . okus pada interaksi individu dalam keluarg. dari Mead dengan sudut pandang makro . truktur sosial, kekuasaa. dari Weber. Kombinasi ini akan memberikan pemahaman yang lebih kaya dan komprehensif tentang bagaimana peran ibu memengaruhi sosialisasi anak usia dini dalam respons terhadap kampanye politik pada tahun 2024 Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ibu-ibu dalam pembentukan karakter politik anak usia dini dalam merespons kampanye politik 2024. Dalam konteks sosial dan politik yang terus berubah, pemahaman anak-anak tentang proses politik menjadi semakin penting. Sebagai agen sosialisasi utama dalam keluarga, ibu memiliki peran yang signifikan dalam membentuk sikap dan perilaku anak-anak terhadap politik. Namun, sedikit penelitian yang telah dilakukan secara khusus mengenai peran ibu dalam merespons kampanye politik dalam konteks anak usia dini. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi relevan dan penting untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan Tabel 4. 2 Informsi Umum Subjek No. Informan Usia Pendidikan Anak Pekerjaan Suami Pendapatan Lilik Wiraswasta >10 juta Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 Muntafiah Wiraswasta >10 juta Iyut Wiraswasta 5 juta Windah Pengepul Ikan 4 juta Dewi SMA Nelayan 2 juta Ririn SMA Pekerja Tambak 2 juta Pak Muklisin Pak Fiyan Ketua PPS Labuhan 4 juta Ketua PKD Labuhan 4 juta Dalam rangka memahami peran ibu-ibu dalam pembentukan karakter politik anak usia dini dalam merespons kampanye politik 2024, observasi intensif dilakukan terhadap interaksi sehari-hari antara ibu dan anak. Melalui observasi ini, berbagai pola perilaku dan dinamika komunikasi antara ibu dan anak dapat terdokumentasi secara langsung, memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana pesan politik diterima dan diproses oleh anak-anak dalam konteks keluarga mereka. Tabel 4. 1 Hasil Observasi Informan Interaksi Sehari-hari Lilik Peran Ibu Respons Anak Lingkungan Ekonomi Keterangan Terlibat dalam obrolan Aktif ringan politik dengan anak setiap hari, membahas berita politik di televisi dan internet. Aktif Tinggi Lilik aktif memberikan pengetahuan politik dan anak menunjukkan minat yang tinggi. Muntafiah Jarang membahas politik di rumah, fokus pada pekerjaannya sebagai notaris. Pasif Pasif Tinggi Muntafiah kurang aktif dalam memberikan pengetahuan politik dan anak kurang Iyut Sering membicarakan politik saat makan malam bersama Aktif Aktif Sedang Iyut aktif memberikan pengetahuan politik dan anak menunjukkan minat yang tinggi. Windah Jarang membahas politik, fokus pada kegiatan belajar anak dan fokus sebagai guru. Pasif Pasif Sedang Windah kurang aktif dalam memberikan pengetahuan politik, anak kurang tertarik. Dewi Sering membicarakan politik saat bersantai di rumah, menggunakan bahasa yang mudah Aktif Aktif Rendah Dewi aktif memberikan pengetahuan politik dan anak menunjukkan minat yang tinggi. Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 dimengerti anak. Ririn Sering membicarakan politik dengan anak, menggunakan bahasa yang sederhana dan cerita yang menarik. Analisis Penelitian Aktif Aktif Rendah Ririn aktif memberikan pengetahuan politik dan anak menunjukkan minat yang tinggi. Dari hasil observasi dan wawancara tersebut, dapat diperoleh bahwa peran ibu dan tokoh masyarakat memiliki pengaruh yang besar dalam sosialisasi politik kepada anak usia dini. Melalui interaksi sehari-hari, obrolan ringan, dan keterlibatan dalam kegiatan politik, mereka membantu membentuk pemahaman dan sikap politik anak-anak sejak dini. Hal ini merupakan aspek penting dalam membangun kesadaran politik yang kuat dan partisipatif di tingkat lokal, yang pada gilirannya dapat membentuk masa depan politik yang lebih baik bagi Desa Labuhan. Bagan 4. 1 konsep self george herbert mead Peran Ibu pada Pembentukan Karakter Politik Anak Usia Dini Dalam Merespons Kampanye Politik Tahap Persiapan (Preparatory Stag. - anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat di sekitar terutama dari orang tua tanpa tahu makna. - Interaksi ibu dengan anak pada tahap persiapan juga dapat membentuk minat awal anak terhadap politik. Tahap Bermain (Play Stag. - anak mulai bermain peran dan memahami peran orang lain dalam lingkungan sosial mereka. - mereka memainkan peranperan politik seperti mengikuti kegiatan politik ringan yang mereka lihat ibu lakukan. - Melalui bermain, ibu dapat memperkenalkan anak-anak pada pemahaman politik yang lebih baik pada anak-anak di usia dini. Tahap Permainan (Game Stag. - anak pada tahap ini mulai memahami peran dan perilaku politik yang lebih kompleks. - anak dapat melihat dan memahami lebih banyak aspek dari keterlibatan politik ibu. -- Melalui interaksi dengan ibu yang terlibat dalam politik, anak dapat merasa didorong untuk berpartisipasi dalam proses - Dengan demikian, dapat membentuk pemahaman politik yang mendalam. Analisis diatas. George Herbert Mead mengembangkan teori tentang perkembangan diri melalui tiga tahap utama: tahap persiapan . reparatory stag. , tahap bermain . lay stag. , dan tahap permainan . ame stag. Berikut adalah analisis pengaruh nilai-nilai politik dalam sosialisasi anak usia dini di Desa Labuhan, dikaitkan dengan tahap-tahap perkembangan diri menurut Mead. Kaitan Pembahasan dengan Teori Herbert Penjelasan kaitan pembahasan dengan teori Herbert Mead . eori interaksionisme simboli. adalah sebagai berikut: Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 Konsep "Self" (Dir. : Menurut Mead, "self" terbentuk melalui interaksi sosial dan pengambilan peran . ole-takin. Dalam pembahasan, terlihat bahwa ibu-ibu seperti Lilik. Iyut. Dewi, dan Ririn aktif melibatkan anak-anak mereka dalam obrolan ringan politik. Melalui interaksi ini, anak-anak belajar mengambil peran sebagai anggota masyarakat yang sadar politik. Misalnya, ketika Lilik dan Iyut melibatkan anak-anak mereka dalam obrolan ringan politik di meja makan, anak-anak mulai memahami peran mereka sebagai warga negara yang akan memiliki hak suara di masa depan. "Significant Others": Mead menekankan peran "significant others" . rang-orang terdeka. dalam pembentukan "self". Dalam konteks ini, ibu-ibu bertindak sebagai "significant others" yang paling berpengaruh bagi anak-anak usia dini. Ketika Dewi dan Ririn menggunakan bahasa yang sederhana dan cerita menarik untuk menjelaskan politik, mereka membantu anak-anak mereka memahami konsep politik melalui perspektif orang-orang terdekat mereka. "Generalized Other": Konsep "generalized other" Mead merujuk pada sikap komunitas secara Dalam pembahasan, peran tokoh masyarakat seperti Pak Muklisin dan Pak Fiyan mencerminkan "generalized other". Keterlibatan mereka dalam kampanye politik dan pengaruhnya terhadap masyarakat membentuk sikap umum masyarakat Desa Labuhan terhadap politik, yang kemudian mempengaruhi bagaimana anak-anak memahami dan merespons politik. Simbol dan Makna: Interaksionisme simbolik menekankan pentingnya simbol dan makna dalam interaksi sosial. Dalam konteks politik, simbol-simbol seperti partai politik, kampanye, dan pemilu memiliki makna tertentu. Ketika ibu-ibu seperti Lilik dan Iyut berpartisipasi dalam kampanye politik lokal, mereka membantu anak-anak mereka memahami makna simbolik dari kegiatan Proses Sosial: Mead melihat pembentukan "self" sebagai proses sosial yang terus-menerus. Dalam pembahasan, terlihat bahwa sosialisasi politik adalah proses yang berkelanjutan. Meskipun beberapa ibu seperti Muntafiah dan Windah kurang aktif dalam sosialisasi politik, anak-anak mereka tetap menunjukkan minat terhadap politik, menunjukkan bahwa pembentukan kesadaran politik adalah proses sosial yang melibatkan berbagai faktor, termasuk sekolah dan lingkungan sosial. pembahasan ini menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip interaksionisme simbolik Mead, terutama konsep "self", "significant others", "generalized other", simbol dan makna, serta proses sosial, teraplikasi dalam konteks pembentukan karakter politk oleh ibu-ibu kepada anak-anak usia dini di Desa Labuhan. Interaksi sosial dan pengambilan peran dalam konteks politik membantu anak-anak membangun identitas dan peran mereka sebagai warga negara yang sadar politik. Kaitan Pemabahasan dengan Teori Max Weber Tindakan Sosial: Weber mengklasifikasikan tindakan sosial menjadi empat tipe: rasional instrumental, rasional berorientasi nilai, afektif, dan tradisional. Dalam pembahasan, terlihat beberapa tipe tindakan sosial ini: a. Rasional Instrumental: Lilik dan Iyut, yang aktif dalam obrolan ringan politik dan kampanye lokal, mungkin memandang keterlibatan mereka sebagai cara untuk mempengaruhi kebijakan yang akan berdampak pada kesejahteraan keluarga mereka. Misalnya, sebagai wiraswasta, mereka mungkin berharap kebijakan yang pro-bisnis. Rasional Berorientasi Nilai: Dewi dan Ririn, meskipun sebagai ibu rumah tangga, aktif dalam sosialisasi politik. Ini mungkin didorong oleh nilai-nilai kewarganegaraan, nilai budaya serta nilai agama, bukan sematamata kepentingan pribadi. afeksi: tindakan ini dipengaruhi oleh dorongan kasih sayang orang tua terutama dalam hal ini ibu pada anaknya agar memiliki pengetahuan dan pendidikan politik sejak dini Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 karena pada tahun 2024 ini pula tahun dimana negara indonesia menjalani proses pesta demokrasi atau bisa disebut tahun politik oleh sebab itu para ibu di desa labuhan secara tidak langsung sedikit banyak mengajarkan pendidikan politik pada anak karena dirasa saat inilah waktu yang tepat, agar kedepannya anak tidak buta politik Tradisional: Beberapa respons anak-anak, seperti anak Windah yang menunjukkan minat politik meskipun ibunya kurang aktif, mencerminkan tindakan tradisional yang dipengaruhi oleh norma-norma sosial di Desa Labuhan yang memandang partisipasi politik sebagai norma yang sudah dilakukan secara turun temurun. Otoritas: Weber membagi otoritas menjadi tiga tipe: legal-rasional, tradisional, dan karismatik. Dalam konteks Desa Labuhan: a. Legal-Rasional: Pak Muklisin sebagai Ketua PPS (Panitia Pemungutan Suar. memiliki otoritas legal-rasional. Posisinya dalam struktur pemilu memberikannya wewenang yang diakui secara legal. Tradisional: Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, dalam masyarakat desa, tokoh-tokoh seperti kepala desa atau tetua adat mungkin memiliki otoritas tradisional yang dapat mempengaruhi sikap politik warga. Karismatik: Pak Fiyan sebagai Ketua PKD (Panitia pengawas pemilihan umum kelurahan /Des. juga memiliki elemen otoritas karismatik, dia dianggap sebagai pemimpin yang muda dan inspiratif oleh warga desa. Stratifikasi Sosial: Weber melihat stratifikasi sosial tidak hanya dari dimensi ekonomi . , tapi juga status dan partai . Dalam pembahasan: a. Kelas: Terlihat perbedaan pendapatan antara informan. Lilik dan Muntafiah dengan pendapatan >10 juta mungkin memiliki akses lebih besar ke sumber informasi politik. Sebaliknya. Dewi dan Ririn dengan pendapatan 2 juta mungkin lebih fokus pada isu-isu yang langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Status: Latar belakang pendidikan juga mencerminkan status. Muntafiah (S. dan Lilik (S. mungkin dianggap memiliki status lebih tinggi, yang bisa mempengaruhi bagaimana pendapat politik mereka diterima. Partai (Politi. : Meskipun tidak disebutkan afiliasi partai, keterlibatan dalam kampanye politik . eperti Lilik dan Iyu. atau peran dalam struktur pemilu (Pak Muklisin dan Pak Fiya. menunjukkan dimensi politik dalam stratifikasi sosial di Desa Labuhan. Pembahasan ini mencerminkan konsep-konsep Weber tentang tindakan sosial . agaimana ibuibu dan tokoh masyarakat terlibat dalam politi. , otoritas . eran Pak Muklisin dan Pak Fiya. , dan stratifikasi sosial . erbedaan kelas, status, dan keterlibatan politi. Teori Weber membantu kita memahami kompleksitas sosialisasi politik di Desa Labuhan, di mana faktor-faktor ekonomi, sosial, dan politik saling berinteraksi dalam membentuk sikap politik anak-anak dan masyarakat. Sikap Politik dan Pola Sosialisasi Dalam Pembentukan Karakter Politik Anak Usia Dini Sikap politik : Sikap politik mengacu pada pandangan, keyakinan, dan perasaan individu terhadap isu-isu politik, aktor politik, dan sistem politik secara keseluruhan. Sikap politik dibentuk melalui proses sosialisasi politik, yang terjadi dalam berbagai konteks sosial termasuk keluarga, sekolah, media, dan lingkungan sosial lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana ibu di Desa Labuhan. Kecamatan Brondong. Kabupaten Lamongan, berperan dalam membentuk sikap politik anak usia dini selama kampanye politik 2024. Desa Labuhan merupakan wilayah pesisir dengan beragam aktivitas ekonomi seperti nelayan, budidaya ikan kerapu, ikan bandeng, dan udang. Selain itu, kegiatan keagamaan sangat aktif dengan keberadaan organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 Peran Ibu dalam Pembentukan Sikap Politik Anak: Ibu Lilik. Ibu Iyut. Ibu Dewi. Ibu Ririn, mereka mendapatkan banyak pengaruh dari keluarganya, yang sering mendiskusikan isu-isu politik di Hal ini membentuk pemahaman awalnya tentang pentingnya politik. Aktif dalam organisasi desa. Ibu Lilik sering berinteraksi dengan tokoh masyarakat dan pemimpin lokal yang memberikan pemahaman mendalam tentang proses politik. Sedangkan Ibu Muntafiah. Ibu Windah Berinteraksi dengan tetangga dan mengikuti kegiatan desa meskipun tidak terlalu aktif. Pola Sosialisasi : Dalam konteks sosialisasi politik, pola persuasif dan partisipatif adalah dua pendekatan yang digunakan untuk mempengaruhi dan melibatkan individu dalam proses pembelajaran politik. Pola Persuasif Pendekatan di mana agen sosialisasi, seperti orang tua, guru, media, atau politisi, berusaha meyakinkan individu tentang pentingnya nilai-nilai, norma, dan sikap politik Pola ini melibatkan penggunaan argumen, retorika, dan teknik komunikasi lainnya untuk mempengaruhi pemikiran dan perilaku individu. Ibu Iyut. Ibu Dewi. Ibu Ririn, menggunakan Pola Persuasif. Keluarga: sering mendapatkan pengaruh politik dari keluarga yang cenderung memaksa. Lingkungan Sosial: Tokoh masyarakat yang memiliki pandangan politik tertentu juga memberikan pengaruh yang signifikan. Media: Ibu Lilik aktif mengikuti berita politik melalui televisi dan media sosial. Media ini sering kali memberikan informasi dengan cara yang persuasif. Pola Partisipatif Pendekatan di mana individu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran dan pengambilan keputusan politik. Pola ini menekankan pentingnya partisipasi langsung, diskusi, dan kolaborasi untuk membentuk sikap dan perilaku politik. Ibu Lilik. Ibu Muntafiah. Ibu Windah menggunakan Pola Partisipatif. Keluarga: Interaksi terbuka dengan keluarga yang lebih terlibat dalam politik membantu memahami isu-isu politik. Media: Ibu Muntafiah mendapatkan banyak informasi dari televisi dan media sosial, namun memilih dan meninja ulang agar terhindar dari penggiringan opini dan hoax. Organisasi Desa: Keterlibatan dalam organisasi desa memungkinkan untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan keputusan politik. Misalnya, menghadiri rapat desa di mana kebijakan lokal didiskusikan dan diputuskan. Kegiatan Sosial: Aktif dalam kegiatan sosial desa, seperti gotong royong dan pertemuan warga, yang sering kali disertai dengan diskusi tentang isu-isu politik lokal. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Labuhan, beberapa kesimpulan penting dapat diambil: Peran Signifikan Ibu dalam Sosialisasi Politik Anak: Penelitian ini menegaskan bahwa ibu memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pemahaman dan sikap politik anak usia Melalui interaksi sehari-hari, obrolan ringan politik, dan partisipasi dalam kegiatan politik, ibu memainkan peran kunci dalam membentuk kesadaran politik generasi muda. Dinamika Variasi dalam Respons Anak: Terdapat variasi dalam respons anak terhadap politik yang dipengaruhi oleh tingkat keterlibatan ibu, lingkungan ekonomi keluarga, dan faktor-faktor lainnya. Namun, keterlibatan ibu dalam obrolan ringan politik secara langsung cenderung memberikan dampak positif terhadap minat dan pengetahuan politik anak-anak. Pengaruh Konteks Lingkungan: Lingkungan ekonomi keluarga juga mempengaruhi peran ibu dalam sosialisasi politik anak. Ibu yang berada dalam lingkungan ekonomi yang lebih stabil cenderung lebih aktif dalam memberikan pengetahuan politik kepada anak-anak mereka. Peran Tokoh Masyarakat: Selain ibu, tokoh masyarakat juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024 membentuk pemahaman politik di Desa Labuhan. Keterlibatan aktif tokoh masyarakat dalam berbagai kegiatan politik lokal dapat menjadi model dan inspirasi bagi anak-anak di desa tersebut. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa peran ibu dan tokoh masyarakat memiliki dampak yang signifikan dalam membentuk pemahaman dan sikap politik anak usia dini di tingkat lokal. Hal ini menunjukkan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam membangun kesadaran politik yang kuat di kalangan generasi muda untuk masa depan politik yang lebih baik. Daftar Pustaka