Dewan Redaksi SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Editor in Chief Yeni Asmara. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Section Editor Ira Miyarni Sustianingsih. Hum (Universitas PGRI Silampar. Reviewer/Mitra Bestari Prof. Dr. Sariyatun. Pd. Hum. (Universitas Sebelas Mare. Prof. Kunto Sofianto. Hum. Ph. (Universitas Padjadjara. Dr. Umasih. Hum. (Universitas Negeri Jakart. Administrasi Viktor Pandra. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dr. Doni Pestalozi. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dewi Angraini. Si. (Universitas PGRI Silampar. Alamat: Jl. Mayor Toha Kel Air Kuti Kec. Lubuklinggau Timur 1 Kota Lubuklinggau 31626 Website: http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index Email: jurnalsindang@gmail. SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH Vol. 5 No. 1 (Januari-Juni 2. Halaman Dewan Redaksi . Daftar Isi . Kehidupan Masyarakat Etnis Tionghoa Dan Arab Dalam Perspektif Sejarah Perdagangan di Kota Palembang Agus Susilo. Yeni Asmara. Fitriyan Della Widya Ningrum . Tradisi Upacara Adat Mandi Kasai (Kajian Etnografi di Kota Lubuklingga. Isbandiyah. Supriyanto . Degredasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas Safariza Setyowati. Ira Miyarni Sustianingsih. Agus Susilo . Perkembangan Perkebunan di Aceh Abad ke Xi - XIX Dewi Setyawati . Persepsi Masyarakat Batu Urip Terhadap Tradisi Mandi Kasai Artiani Manullang. Sarkowi. Ira Miyarni Sustianingsih . Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 9-16 ISSN-P: 2684-8872 ISSN-E: 2623-2065 TRADISI UPACARA ADAT MANDI KASAI (Kajian Etnografi di Kota Lubuklingga. Isbandiyah1. Supriyanto2 Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Silampari Alamat korespondensi: isbandiyahpris@gmail. Diterima: 30 Agustus 2022. Direvisi: 30 November 2022. Disetujui: 30 Desember 2022 Abstract This reseach uses qualitative method with etnography approach is to: . describing tradition of mandi kasai ceremony in Lubuklinggau. describing the use of mandi kasai ceremony in Lubuklinggau. constructing citizen perception about mandi kasai in Lubuklinggau. The results showed that is tradition of mandi kasai ceremony is a part of wedding ceremony for citizen in Lubuklinggau. The ceremony is held by bridegroom after doing ceremony by using tool and infrastructure of ceremony. Tradition of mandi kasai ceremony two meanings: . bridegroom go out from singgle status. After merried, that have to know that they must obey the rule as spouse. before merried, the bridegroom is clean and holy. Citizen in Lubuklinggau have different perception about mandi kasai ceremony, some of them support this tradition, but some of them dare it, all of them have strong reason that can be accepted. Keywords: Tradition, mandi kasai ceremony Abstrak Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi yang bertujuan untuk: . mendeskripsikan pelaksanaan tradisi upacara adat mandi kasai di Kota Lubuklinggau. mendeskripsikan makna yang terkandung dalam tradisi upacara adat mandi kasai di Kota Lubuklinggau. mengkonstruk persepsi masyarakat tentang upacara adat mandi kasai di Kota Lubuklinggau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi upacara adat mandi kasai merupakan bagian dari upacara adat perkawaninan pada masyarakat Kota Lubuklinggau. Upacara ini dijalankan oleh kedua mempelai setelah dilaksanakannya persedekahan dengan sarana dan prasarana perlengkapan upacara. Tradisi upacara adat mandi kasai mempunyai dua makna: . kedua pengantin melepaskan masa remaja dalam arti kebebasan bergaul di antara bujang-dere . uda-mud. sebelum memasuki kehidupan berumah tangga, kedua pengantin harus bersih dan suci. Persepsi masyarakat kota Lubuklinggau tentang tradisi upacara adat mandi kasai berbeda-beda, ada yang mendukung dan ada juga yang kurang mendukung, semuanya memiliki alasan yang kuat dan perlu Kata Kunci: Tradisi. Upacara Adat. Mandi Kasai Pendahuluan Indonesia kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat-istiadat atau yang sering disebut kebudayaan. Menurut Soekanto . kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan Mengacu pada pendapat tersebut, tentunya kebudayaan di Indonesia beranekaragam dan memiliki http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index ciri khas yang bebeda-beda yang melambangkan kepribadian suatu bangsa atau daerah. Keanekaragaman budaya tersebut merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara, dan kewajiban dari setiap individu. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, kebudayaan mulai meluntur disebabkan pola kehidupan masyarakat yang modern, sehingga mengakibatkan masyarakat dibandingkan kebudayaan lama. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 9-16. Salah satu kebudayaan yang sudah mulai memudar pada masyarakat yaitu pelaksanaan upacara adat. Salah satu contoh dalam upacara adat yang kurang mendapatkan perhatian lebih yaitu upacara adat mandi kasai di Kota Lubuklinggau. Syam mengungkapkan bahwa upacara mandi kasai mempunyai makna melepaskan masa bebas masa lajang sebagaimana biasanya kebebasan bergaul diantara muda-mudi, kemudian memasuki masa berumah tangga yang penuh dengan keterbatasan dan penuh tanggungjawab. Sementara Tim Kesenian Kota Lubklinggau . dalam Festifal Sriwijaya Xi menuliskan bahwa upacara adat mandi kasai dilaksanakan setelah persedekahan selesai dilaksanakan, di mana kedua mempelai berganti pakaian untuk melaksanakan upacara adat mandi kasai, kedua mempelai diarak menuju tempat pemandian di sungai untuk didoakan dan dimandikan air kembang setaman, lalu kedua mempelai oleh tetua adat ditepung-tawar serta dijampai supaya mereka menjadi keluarga yang rukun dan damai serta sakinah mawaddah warohmah. Upacara adat mandi kasai, ini selakyaknya dapat terus dilaksanakan pelaksanaannya banyak mengandung nilai-nilai kehidupan berumah tangga. Namun, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, ditambah lagi masuknya era globalisasi membuat upacara adat mandi kasai menjadi luntur dan sedikit sekali yang masih melaksanakannya. Hal ini dari keterangan Bapak Suwandi . Januari 2. yang menyatakan bahwa tradisi mandi kasai merupakan bagian dari upacara adat perkawinan yang artinya melepaskan masa lajang memasuki tanggung jawab Namun pelaksanaannya, tradisi mandi kasai sudah tidak lagi dijalankan dalam Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengadakan penelitian dengan judul AuTradisi Upacara Adat Mandi Kasai di Lubuklinggau (Kajian Etnografi di Kota Lubuklingga. Penelitian ini akan mengkaji lebih mendalam, makna yang terkandung dalam tradisi upacara adat mandi kasai, sehingga masyarakat Tujuan dari penelitian ini pelaksanaan tradisi upacara adat mandi mendeskripsikan makna yang terkandung dalam tradisi upacara adat mandi kasai. dan mengkonstruk persepsi masyarakat tentang upacara adat mandi kasai di Kota Lubuklinggau. Metode Penelitian Sistematika metode penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Tahap-tahap dalam penelitian ini mencakup tiga tahap: . tahap persiapan lapangan. Persiapan yang dilakukan peneliti sebelum memasuki lapangan penelitian, adalah mengidentifikasi permasalahan yang akan mencari teori yang relevan/mencari berbagai sumber teori yang terkait dengan rancangan penelitian yaitu penentuan lokasi penelitian, alat pengumpul data, menentukan informan, serta menentukan teknik analisis data yang tepat. tahap penelitian lapangan, meliputi: teknik pengumpulan data, menentukan subjek dan objek penelitian, dan klarifikasi data. Pada tahap penelitian lapangan, peneliti datang ke lokasi penelitian untuk mendapatkan data penelitian, yaitu dengan melakukan observasi, melalui observasi peneliti dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan terkait dengan ruang, waktu, pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, dan kejadian. masyarakat di lingkungan lokasi penelitian yang memahami tentang tradisi upacara adat mandi kasai. dan mencari bukti-bukti dalam bentuk catatan secara tertulis maupun dalam bentuk gambar, photo yang terkait dengan tradisi upacara adat mandi kasai atau arsip yang ada hubungannya dengan objek yang diteliti. tahap analisis data dan pelaporan penelitian. Pada tahap analisis data, peneliti menggunakan teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang mencakup tiga alur kegiatan secara bersamaan maupun berurutan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Pada tahap pelaporan, peneliti akan menuliskan hasil dari pengumpulan data dalam bentuk laporan atau karya ilmiah. Pembahasan Kehidupan Sosial Masyarakat Tionghoa dan Arab di Palembang Setelah upacara adat perkawinan dilaksanakan secara berturut-turut, yang meliputi acara sedekah, mapag, dan duduk pengantin, kemudian sore harinya sekitar bakda sholat asar dilaksanakan upacara adat mandi kasai. Sebagai mana yang telah diungkapkan Bapak Suwandi (Wakil Ketua Ada. Isbandiyah. Supriyanto. TRADISI UPACARA ADAT MANDI KASAI: Kajian Etnografi di Kota Lubuklinggau AuMandi kasai merupakan salah satu fase dari rangkaian upacara adat Rangkaian itu dimulai dari pergaulan muda-mudi yang ingin berumah tangga, orang tua laki-laki meletakkan tanda mau melamar, yang namaya nudukgan. selanjutnya ngulang rasan . eminta jawaban lamarannya diterima atau tidak, dilanjutkan menyanyakan apa saja permintaan pihak perempua. , kemudian nunggu tunang . eresmikan pertunangan pengantin laki-laki tinggal di tempat calon isteri selama beberapa bulan untuk dilihat memasuki kegiatan persiapan acara akad nikah, yaitu penyerahan bahanbahan oleh pihak laki-laki ke rumah rangkaian acara selanjutnya adalah sedekah/syukuran. Sore harinya baru dilaksanakan mandi kasai. Mandi kasai bermaksud untuk melepas masa lajang, dan sebagai tanda melepas hubungan dengan masa muda-muda/masa lajang masuk pada masa rumah tangga (Wawancara tanggal 2 Agustus 2. Ay Mandi dilaksanakan di sungai. Seperti yang Ibu Rusmana Dewi . engamat tradisi upacara ada. bahwa AuSetelah akad nikah, sore harinya turun ke sungai untuk melaksanakan mandi kasai, sebelum turun ke sungai di dalam rumah dibacakan mantra. Dari rumah ke sungai harus berjalan menggunakan tikar, tidak boleh menyentuh tanah . awancara 31 Agustus 2. Ay Namun, jika jauh dari sungai atau tidak ada tempat dangkal dan tidak ada tempat yang kering untuk meletakkan tikar tempat duduk pengantin, tikar yang seharusnya dibentangkan ketika upacara melanger dan melaksanakan ritual di tepi Maka boleh melaksanakan mandi kasai di darat dan memilih tempat yang cocok, dengan terpaksa menyediakan derum tempat menampung air setidaknya tiga atau empat buah. Airnya diangkut dari sungai dan dimasukkan ke dalam Persiapan peralatan dan barangbarang yang harus tersedia untuk acara mandi kasai, antara lain: . tikar sembuhak dua lembar terbuat dari kulit batang puar. Gunanya untuk tempat berpijak pengantin ketika berjalan dari rumah sampai ke tepi sungai atau sebaliknya dari tepi sungai kembali ke . mangkung langer berisi jeruk tipis, kayu baling angin, tiang lepas dan setawar sedingin. Mangkung langer, bahan langer dan prosesi melanger dilakukan oleh dukun bnoyan. sarung songket, selendang rebang dua lembar, bedong . , deda . kat kepal. , keris pusaka dalam dusun. Semua bahan ini dibawa oleh bujang-bujang, dipimpin oleh ketue bujang. asahan mand. , pakaian pengantin setelah mandi, bedak seri gayu . iga warn. , benang tiga warna, wangiwangian, kacam sisir, dan sabun mandi. Bahan-bahan ini dibawa oleh gadis-gadis dipimpin oleh ketue gadis. Bnoyan laki-laki bertugas memandikan pengantin laki-laki dan bnoyan perempuan Orang yang dijadikan petugas memandikan itu adalah orang yang ada sependuaian atau periparan. Selanjutnya ketika berangkat ke sungai, pengantin lakilaki memakai kain songket hingga dada, deda . kat pinggan. dan lamak . dilingkarkan di leher, dan ujungnya teruntai kedada. Pengantin perempuan memakai kain sarung, baju kebayak, selendang rebang diselemparkan dari bahu kanan, kedua ujungnya disimpul silang pada pinggul sebelah kiri. Kedua pengantin berjalan beriringiringan. Perempuan berjalan di depan, didampingi oleh bnoyan dan ketue gadis. Pengantin laki-laki jalan mengiringi di belakang didampingi bnoyan dan ketue Pengantin tetabuhan gendang, tetawak, gong dan Semuanya dibunyikan dan suara ramai terdengar karena sorak sorai bujang dan gadis yang ikut mengiringi menuju tepi Tiker puar . isisipkan dua lemba. , dibentangkan, pengantin dan empat orang pengiringnya berjalan di atas tikar, dibentangkan menyambung di depannya. Demikian seterusnya, tikar yang di belakang diambil dan dipindahkan untuk menyambung di depan. Betapa uniknya atraksi prosesi adat mandi kasai ini, begitulah kenyataan aturan adat yang Secara logika orang di zaman sekarang menganggap seperti suatu cara yang kurang praktis. Jika jarak dari rumah menuju sungai sejauh 60 meter, dan panjang tikar puar hanya 1,5 meter, berarti pergantian atau memindahkan tikar sebanyak 90 kali. Hal seperti itu bisa dikatakan pekerjaan yang merepotkan dan memakan waktu lama. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 9-16. bayan memulai lagi mencelupkan daun setawar sedingin dan mencacapkannya di ubun-ubun kedua pengantin. AuHu. ! bersi, sucila ati ngen pikiran ponga bedue, sebersi loyabg dibesu ngen ayo limau nipisAy. Dukun bayan mengulangi lagi mencelupkan daun setawar sedingin ke mencacapkannya ke ubun-ubun kedua Memandikan Pengantin Setelah upacara melanger selesai. Masing-masing bnoyan sebelum menarik pengantin sampai turun ke dalam sungai, terlebih dahulu dibantu oleh ketue bujang, ketue gadis mengganti pakaian dan memakaikan telesan mandi. Pengantin perempuan, telesannya tinggi hingga pengantin laki-laki cukup hingga di atas Kedua bnoyan lalu menarik pengantin masuk ke sungai, di tempat yang agak dalam sehingga tubuh mereka terendam hingga di Bnoyan pengantin laki-laki dan bnoyan pendamping masing-masing membenamkan pengantin sehingga kepala mereka terbenam seluruhnya. Memang susah untuk melakukan tugas memandikan Biasanya mereka enggan mandi diatur-atur seperti itu, lagi pula ditonton oleh orang banyak. Akhirnya dengan cara setengah memaksa bnoyan menekan mulai dari kepalanya sehingga seluruhnya Tampaknya, kepala sudah basah, masing-masing berulang-ulang. Mandi simburan, mulai terjadi. Ketika kedua pengantin tidak segan-segan lagi mencelupkan tubuhnya, kepala mereka tampak basah kuyub. Saat itulah yang dinanti-nantikan oleh para bnoyan lainnya. Mereka menyimburkan air, diarahkan ke darat, di mana orang-orang yang menonton paling dekat dari situ, sambil meneriakkan: Auhoi. ,mandi. terdengarlah sorak-sorai penonton yang hadir di tepi sungai itu. Orang yang terkena simburan pertama, lalu serta merta turun ke sungai dan menyimburkan air ke arah penonton yang belum basah. Di antara mereka ada pula yang sengaja didorong terjun ke sungai sehingga basah kuyub. Sambil bersorak riang gembira, saling menyimburkan air, sorak-sorai, kegembiraan, karena mandi simburan memang sudah menjadi kebiasaan dan hanya terjadi dalam acara adat mandi kasai. Menurut bapak Suwandi . akil Ketua Ada. AuTradisi mandi kasai intinya adalah untuk menyakinkan pada orang banyak bahwa sudah mandi kasai, sudah masuk masa kehidupan rumah tangga, sehingga Di Tepi Sungai Setelah sampai di tepi sungai atau di tempat yang telah ditentukan. Tikar puar dibentangkan hanya selembar. Kedua pengantin didudukkan berdekatan, dengan sedikit paksaan, karena dulu sukar sekali untuk meminta mereka mau duduk berdekatan sebab tampaknya masih malumalu, apa lagi ditonton banyak orang, tapi kejadian seperti itu memang sudah biasa Namun, dukun bayan dan para bnoyan dengan gigihnya mengatakan bahwa mau tidak mau sudah menjadi keharusan dalam aturan adat, akhirnya keduanya menurut saja duduk berdekatan, sedekat yang ditunjukkan oleh dukun Ibu Rusmana Dewi . engamat tradisi upacara ada. mengungkapkan AuKegembiraan dalam melepas masa lajang akan terlihat ketika berada di air, para bujang-gadis akan berbaur dengan pengantin, sehingga terlihat Dari kebersamaan ini akan terlihat nilai sakralnya, yaitu bersanding lalu dibacakan mantra agar pengantin tidak ragu lagi dalam melepaskan masa remajanya dan berumah tangga . awancara 31 Agustus 2. Ay Selanjutnya acara melanger dimulai, dukun bayan membacakan mantramantra yang isinya bertujuan supaya hati kedua pengantin baru itu tidak ada rasa ragu-ragu untuk melepaskan masa remajanya dan bertekad memasuki jenjang kehidupan berumah tangga. Dukun bayan mengangkat mangkuk langer yang sudah diisi ramuan jeruk tipis yang sudah diiris-iris, kayu balik angin dan potongan kayu tiang lepas, diaduk menggunakan daun setawar sedingin. Semetara menyebutkan kata-kata mantra, di AuHu. ! Jadilah ponga due beseman pacak makai sipat tegu deleam ati, deleam pekeran setegu kayu balek angin menaling segele cubaan we tu ndak merusak ruma pongaAy. Dukun menggenggam tangkai daun setawar sedingin, mencelupkannya ke dalam mangkung langer berisi ramuan, dan mencacapkannya di atas ubun-ubun pengantin laki-laki, mencelupkan lagi dan ubun-ubun pengantin perempuan. Hu. ! buanglah segele tebiat, gelegeat, segele upe adat kebiasaan anak mude halame kak. Usah diingat, usah Itula sipat tiang lepasAy. Dukun Isbandiyah. Supriyanto. TRADISI UPACARA ADAT MANDI KASAI: Kajian Etnografi di Kota Lubuklinggau harus bertanggung jawab, paham hak dan kewajiban, kebersamaan dengan anggota masyarakat, keberanian, jaga nama baik, dan gotong royong . awancara 2 Agustus 2. Ay Naik ke Darat Selesai mandi, keduanya mengeringkan badan dengan handuk, tue bujang membantu pengantin laki-laki, tue gadis membantu pengantin perempuan. Setelah itu, dipakaikan lagi pakaian yang sudah Laki-laki memakai songket, bedong . ending kuninga. , selendang rebang yang disemperkan di dada. pinggang diselipkan keris pusaka, kepala dipasang deda yang dihiasi benang tiga Pengantin perempuan, memakai kain . ain gantun. , lalu selendang rebang dipakaiakan menutup dada, kedua ujung selendang diikatkan di belakang atau diberi peniti supaya tidak mudah lepas. Rambut ditata membentuk sanggul lipat, di dahi dipakaikan gandik. Di telinga dipasangkan sumping diberi jumbaijumbai jalinan benang tiga warna. Tangge Mendung Sesudah kedua pengantin selesai berpakaian, maka dilakukan pemasangan bedak sari gayu . edak tiga warn. Acara membedaki pengantin dengan bedak sari gayu itu disebut acara tangge mendung. Ketue gadis membedaki pengantin perempuan, ketue bujang membedaki laki-laki. Ketika memasangkan bedak sari gayu sambil memandang wajah pengantin, baik ketue bujang, maupun ketue gadis, berkata kepada pengantin: Aujadi, ikakla care adat tangge mendung, bedu kak, tue balik ngen kamu, mude nge akuAy, kedua pengantin mengangguk tanda setuju. Suasana ramai oleh gelak tawa, selalu terjadi ketika acara tangge mendung. Sebab, di antara bujang-bujang dan gadisgadis sebelumnya sudah menyediakan arang lebut dibungkus dan diselipkan di dalam baju atau celana. Ketika kedua pengantin hampir selesai dibedaki, bujang gadis yang membawa arang lalu mencoletkan arang itu ke bagian muka orang yang ada di dekatnya. Maka ramailah gelak tawa, sebab orang yang kena cletan arang, lalu mencoletkan pula ke muka yang lain sehingga wajah banyak orang yang hadir di situ tampak lucu. Tangge Lawu Acara tangge mendung selesai, tikar puar mulai dibentang sebagai pertanda kedua pengantin akan kembali ke rumah. Pengantin berjalan, berpijak di atas tikar puar, masing-masing didampingi bnoyan dan tue bujang gadis. Mereka juga diiringi oleh tetabuhan musik terbangan, dan susasana riang gembira juga terjadi seperti ketika berangkat ke sungai, bahkan lebih seru lagi. Setibanya kedua pengantin di pangkal tangga rumah, maka dilaksanakan acara tangge lawu. Kedua pengantin disambut oleh ibu pengantin perempuan dan ibu pengantin laki-laki. Mereka diberi minum air syarat . ir yang sudah dijamp. Air syarat itu sudah disediakan di dalam tabung Kedua pengantin kepalanya agak meruduk, ibu-ibu mertua membacakan doadoa diarahkan ke ubun-ubun pengantin. Doa-doa itu, antara lain supaya anak-anak menyayangi dan seia-sekata. Selesai acara tangge lawu, kedua pengantin dibimbing sampai di muka pintu kamar, pengantin perempuan berjalan di depan, diiringi pengantin laki-laki. Di muka pintu kamar, kedua pengantin bersujud masing-masing Pengantin perempuan masuk kamar, pengantin laki-laki cepat-cepat, menukar baju pengantinnya dengan pakaian biasa dan keluar, melihat-lihat keadaan. Jika ada yang patut dikerjakan, atau bercakap-cakap dengan tetangga. Menurut bapak Santoso . epala bidang upacara ada. AuMandi kasai dilaksanakan setelah selesai akad nikah, dimana untuk panduan pelaksanaan mandi kasai belum bisa dipublikasikan karena masih diproses diperdakan di DPRD Kota Lubuklinggau. Dalam hal ini bapak Santoso juga mengatakan peran serta pemerintah sangat dibutuhkan dalam mandi kasai, mulai dari RT hingga pemerintah kota . awancara tanggal 11 Agustus 2. Ay Makna yang Terkandung dalam Tradisi Upacara Adat Mandi Kasai di Kota Lubuklinggau Mandi Kasai mengandung makna agar kedua mempelai harus disucikan atau dibebaskan dari sifat-sifat atau perasaan bahwa mereka masih bujang atau masih gadis . elepas masa lajang/remaj. Sifat atau kebiasaan ketika masih bujang dan gadis, antara lain boleh bebas memilih, bergaul, bersindo, atau pergi kemana-mana, andun pesta perkawinan dan lain-lain yang sudah biasa dilakukan oleh muda-mudi atau oarang yang belum berumah tangga. Bapak Suwandi . akil Ketua Ada. menyampaikan AuMakna mandi kasai adalah kedua mempelai dimandikan di sungai sebagai tanda melepaskan masa lajang, dan masuk ke dalam kehidupan rumah Manfaat dan tujuannya adalah menjaga kebersamaan dari masa lajang hingga melepaskan masa lajang dan menjunjung tinggi adat . awancara 2 Agustus 2. Ay SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 9-16. Mandi kasai, juga mengandung makna mensucikan diri untuk siap penuh kesadaran bahwa mereka telah memulai masuk ke dalam kelompok reman dan bayan muda atau masyarakat yang mempunyain tugas menjalani hidup berumah tangga. Misalnya, mempunyai tugas dan kewajiban menjaga keutuhan rumah tangga . uami istr. Sang suami bertanggungjawab memberi nafkah kepada isteri baik lahir, maupun batin, demikian pula steri mempunyai tugas dan tanggungjawab melayani suami, mengurus anak keturunan bila kelak diberi anugrah keturunan oleh Yang Maha Kuasa. Hutang suami, menjadi hutang istri, perkawinan, ternyata orang tua mereka terbeban hutang akibat masih ada hal-hal yang belum selesai dibayar. Selain itu harus sumbangan . embayar uan. yang telah diterima ketika malam acara sumbangan, dan lain-lain sebaganya prihal yang timbul setelah hidup berumah tangga. Banyak di antara pengantin muda yang baru saja selesai merasakan meriahnya pesta perkawinan, terpaksa harus bulan madu di talang atau di ume karena ingin mengumpulkan uang untuk membayar Secara ilmu, makna dan nilai-nilai yang terkandung di balik upacara adat perkawinan yang unik itu, bahwa dalam adat perkawinan ini, meskipun kedua mempelai sudah melaksanakan ijab kobul pada malam ngetan agung, walaupun secara Islam mereka sudah sah dan boleh bergaul sebagai mana layaknya suami istri. Namun menurut aturan adat, mereka belum dipertemukan, suami belum boleh menggauli isterinya. Sebab masih ada acara ritual yang harus dilalui, yaitu setelah dilaksanakan upacara adat mandi kasai, barulah sampai saatnya melaksanakan upacara sakral terakhir yang disebut kawin adam . ebagai malam pertama kedua mempelai tidur sekama. Makna berhubungan rasa antara kedua mempelai dan bujang gadis bahwa kedua mempelai sampai dengan waktu acara mandi kasai masih bujang dan gadis. Jadi, aura bujang gadis kedua pengantin masih terasa oleh bujang-bujang dan gadis-gadis yang mengurusi acara itu. Mereka merasa masih sama-sama satu golongan remaja, masih ada rasa untuk saling setia kawan, sama-sama menolong teman sebaya yang sedang sibuk dalam menghadapi pekerjaan. Pertolongan mereka, diberikan dengan penuh rasa kebersamaan. Nilai yang terkandung di dalam acara yang tampak unik itu, yaitu bahwa kedua mempelai sudah berhasil menjadi sepasang suami isteri, merupakan salah satu bukti cita-cita mereka telah tercapai. Bujang gadis sebayanya, pada saat acara itu, merasa senang dan bangga melayani rajanya bersama permaisuri berjalan menuju tempat terakhir mengarungi masa lajang dan melepaskan masa pergaulan muda-mudi, lalu pergi berlayar bersama dalam bahtera hidup Berdasarkan keyakinan, arti nilai-nilai adat perkawinan mandi kasai adalah akan memberi dorongan semangat muda-mudi, agar mereka juga suatu waktu nanti dialami oleh kedua mempelai yang sedang mereka layani ini. Itulah sebabnya pekerjaan memindahkan tikar puar ke depan secara berulang-ulang, diiringi bunyi tetabuan dan diselingi sorak sorai, gelak tawa, serta yelyel: Auayo. !, pindahkan lagi. !, sambung. !, stop. !, jalan lagi. !, setiap ada keterlambatan atau jalannya pengantin hampir terlanjur melangkah, sedangkan tikar belum terpasang, kala itu suara sorak dan gelak tawa terdengar sangat ramai. Tradisi mandi kasai dilakukan dengan memandikan pengantin di sungai yang disaksikan oleh teman dan kerabat mereka. Tradisi ini mempunyai dua makna, pertama adalah sebagai pertanda sepasang kekasih akan meninggalkan masa remaja dan memasuki kehidupan berumah tangga. Makna membersihkan jiwa dan raga sepasang kekasih yang menikah. Demikianlah makna mandi kasai itu, menjadi salah satu rangkaian acara adat perkawinan, sangatlah mendalam artinya bila dicermati kenapa dijadikan keharusan di dalam adat istiadat yang berlaku di tengah kehidupan masyarakat Lubuklinggau sejak dahulu hingga sekarang. Persepsi Masyarakat tentang Upacara Adat Mandi Kasai di Kota Lubuklinggau Upacara adat mandi kasai merupakan salah satu tradisi yang telah berkembang sejak dulu di kalangan masyarakat Kota Lubuklinggau. Tradisi ini dilaksanakan pada saat pernikahan antara Bujang dan Gadis. Upacara adat ini sebagai gambaran betapa tingginya penghargaan yang diberikan masyarakat terhadap suatu pernikahan. Pernikahan dalam pandangan tua-tua adat, tokoh masyarakat dan masyarakat pada umumnya sebagai suatu yang sangat sakral (Disbudpar Lubuklinggau 2. Jika pandangan tua-tua adat dan tokoh masyarakat, tradisi upacara adat mandi kasai sebagai suatu yang sangat sakral, maka pandangan masyarakat pada umumnya sangat bervariasi. Persepsi masyarakat kota Lubuklinggau tentang upacara adat mandi kasai, dilihat dari pengetahuannya sebagian besar masyarakat kurang mengetahui Isbandiyah. Supriyanto. TRADISI UPACARA ADAT MANDI KASAI: Kajian Etnografi di Kota Lubuklinggau upacara adat mandi kasai, bahkan sedikit sekali masyarakat mengetahuinya. Dilihat dari pemahamannya masyarakat juga kurang paham tentang upacara adat mandi Rata-rata masyarakat tahu tentang tradisi upacara adat mandi kasai, pertama kali dari media sosial. Masyarakat juga berpandangan bahwa pelaksanaan tradisi berpengaruh terhadap kehidupan seharihari dan juga tidak mempengaruhi status sosial dalam masyarakat. Rata-rata masyarakat berpandangan bahwa pelaksanaan tradisi upacara adat mandi kasai kurang sesuai jika masih dilaksanakan pada zaman sekarang ini. Oleh sebab itu, masyarakat kurang terlibat dalam pelaksanaan tradisi upacara adat mandi kasai, bahkan banyak yang tidak pernah mengikuti proses pelaksanaan tradisi upacara adat mandi kasai, mereka lebih banyak menyibukkan diri dalam urusan untuk memenuhi kebutuhan Selain itu juga, memang hingga saat ini masih sedikit masyarakat yang melaksanakan upacara adat mandi kasai, terakhir dilaksanakan di Lubuklinggau bulan Februari 2017 salah satu tokoh adat melaksanakan upacara adat mandi kasai. Namun bagi masyarakat yang pernah mengalami mandi kasai, berpandangan bahwa pelaksanaan mandi kasai cukup menyenangkan dan sangat bermanfaat bagi keluarga, walau ada sebagian masyarakat yang mengeluh terhadap pelaksanaan tradisi upacara adat mandi kasai. Jika dikaitkan dengan agama, masyarakat berpandangan tradisi upacara adat mandi kasai sedikit sekali kesesuaiannya dengan syariat agama. Sebagian Lubuklinggau setuju dan mendukung apabila tradisi upacara adat mandi kasai dilestarikan dan mewajibkan seluruh melaksanakannya setelah dimuat dalam peraturan pemerintah kota . Seperti yang diungkapkan seorang warga Taba Pingin yang enggan menyebutkan namanya menyatakan bahwa AuPerlu diadakan lagi mandi kasai, agar pernikahan yang dilaksanakan langgeng. Ay Namun sebagian lagi masyarakat menyatakan kurang setuju dengan pelaksanaan upacara adat mandi kasai, mengingat biaya yang harus dikeluarkan cukup besar. Analisis Tradisi upacara adat pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Lubuklinggau adalah mandi kasai. Mandi kasai adalah mandi pengantin yang dilaksanakan setelah acara persedekahan atau duduk pengantin dan para tamu undangan sebagian besar sudah pulang ke rumah masing-masing, atau tepatnya dilaksanakan pada sore hari setelah sholat asar. Pada saat pelaksanaan mandi kasai, masyarakat baik tua maupun muda-mudi menyaksikan acara adat mandi kasai. Menjelang acara mandi kasai kedua Mereka hanya mengenakan pakaian biasa dikarenakan dalam acara ini orang-orang yang ikut menyaksikan akan ikut basah kuyup. Dalam rangkaian acara ini akan berlangsung mandi simburan, yaitu di antara yang hadir akan menyimburkan air ke arah masyarakat yang hadir setelah kedua pengantin mandi dan terjadilah simbur-menyimbur air. Saat mandi kasai, kedua pengantin diberikan nasihat dan diperkenalkan dengan keluarga besar Harapan orang tua kepada mereka diungkapkan. Tentunya harapan agar kedua pengantin akan menjadi warohmah serta diberikan keturunan yang Upacara adat mandi kasai mempunyai . melepaskan masa remaja dalam arti kebebasan bergaul di antara bujang-dere . uda-mud. Setelah menikah mereka harus sadar bahwa mereka telah memasuki kehidupan rumah tangga dengan segala . pengantin harus bersih dan suci. Mandi kasai juga bermakna sebagai pelindung pernikahan atau tameng penjagaan untuk pernikahan sebab sebelum dilakukannya proses mandi, pengantin diberikan berbagai macam nasihat dengan bahasa daerah melalui rejungan, pantun dan lain-lain. Persepsi masyarakat kota Lubuklinggau tentang tradisi upacara adat mandi kasai sangat berbeda-beda. Bagi yang pernah melaksanakan uapacara adat mandi kasai, tentu berpandangan bahwa pelaksanaan mandi kasai cukup menyenangkan dan sangat bermanfaat bagi keluarga. Selain itu, pasti juga sangat setuju dan mendukung apabila tradisi upacara adat mandi kasai dilestarikan dan diwajibkan seluruh lapisan Lubuklinggau melaksanakan mandi kasai, apa lagi sampai dimuat dalam peraturan pemerintah kota . , pasti sangat mendukung. Berkaitan dengan pelestarian upacara adat mandi kasai Febrianti. Syah, dan Wakidi . perkawinan adalah termasuk upacara adat yang harus dijaga dan dilestarikan, karena dari situlah akan tercermin jati diri bangsa. Ini berarti menandakan bahwa upacara adat perkawinan perlu diwariskan secara turuntemurun agar tetap terjaga kelestariannya SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 9-16. sehingga generasi selanjutnya dapat nilai-nilai perkawinan ini. Namun, berpandangan modern tentu menyatakan pelaksanaan tradisi upacara adat mandi dilaksanakan pada zaman sekarang ini. Selain itu, masyarakat yang kurang mampu dari sisi keuangan menyatakan kurang setuju dengan pelaksanaan upacara adat mandi kasai, dan mengeluh mengingat biaya yang harus dikeluarkan cukup besar. Untuk menyikapi berbagai persepsi pihak-pihak pemerintah kota harus mengambil langkah yang tepat, serta mengambil keputusan secara bijak dalam menanggapi persepsi masyarakat yang berbeda-beda tentang tradisi upacara adat mandi kasai. Pemerintah dalam usaha melestarikan tradisi upacara adat mandi kasai harus lebih inten melakukan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama berkaitan dengan makna dan manfaat pelaksanaan tradisi upacara adat mandi kasai bagi kehidupan keluarga. Dalam hal ini tentu pemerintah harus lebih memfungsikan lembaga adat, karena lembaga adat lebih dekat dengan Kesimpulan Tradisi upacara adat mandi kasai merupakan bagian dari upacara adat perkawaninan pada masyarakat Kota Lubuklinggau yang dilaksanakan setelah akad nikah. Upacara ini dijalankan oleh kedua mempelai setelah dilaksanakannya persedekahan/resepsi dengan sarana dan prasarana perlengkapan upacara. Tradisi upacara adat mandi kasai mempunyai dua makna: . kedua pengantin melepaskan masa remaja dalam arti kebebasan bergaul di antara bujang-dere . Setelah menikah mereka harus sadar bahwa mereka telah memasuki kehidupan rumah tangga dengan segala . sebelum memasuki kehidupan berumah tangga, kedua pengantin harus bersih dan suci. Persepsi masyarakat kota Lubuklinggau tentang tradisi upacara adat mandi kasai berbedabeda, ada yang mendukung dan ada juga yang kurang mendukung, semuanya memiliki alasan yang kuat dan perlu Dengan demikian, upacara adat mandai kasai sangat perlu Sehingga peran pihak-pihak yang berkepentingan, tokoh adat, dan pemerintah kota sangat diharapkan dalam mengambil kebijakan yang tepat untuk melestarikan tradisi upacara adat mandi kasai di kota Lubuklinggau. Daftar Referensi Febrianti. Aurora Nandia. Iskandar Syah, dan Wakidi. Kembar Mayang dalam Upacara Adat Perkawinan Jawa di Desa Nambahrejo Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah. PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejara. :1-12. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Lubuklinggau 2011 Miles. Matthew B. dan A. Michael Huberman. An Expanded Source Book: Qualitative Data Analysis. London: Sage Publications. Soekanto. Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo. Syam. Suwandi. Kehidupan Masyarakat. Upacara Adat Tradisional. Sejarah Legenda Daerah Kabupaten Musirawas. Musirawas Lembaga Studi Sejarah dan Budaya Daerah Musirawas. Suwandi. Adat Perkawinan Khas Tradisional Lubuklinggau. Wilayah Pemerintahan Kota Lubuklinggau. Lubuklinggau: Laboratorium Sejarah STKIP-PGRI Lubuklinggau. Tim Kesenian Kota Lubuklinggau. Festifal Sriwijaya Xi. Lubuklinggau.