KAFFAH: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan Vol. 3 No. Page 108-124 ISSN: 2985-9662 http://jurnal. id/index. php/kaffah/article/view/1344 INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER ISLAMI MELALUI PROGRAM MENTORING DI SEKOLAH SD SAINS AL-BIRUNI Adhistria Rahma Anjani1. Hilwa Ulwiyyah2. Sifa Ur Rohmah3. Serli Marselina4. Miftahul Huda5 1,2,3,4,5 Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Bandung waeealfath@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program mentoring dalam menginternalisasi nilai-nilai karakter Islami di SD Sains Al-Biruni. Menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Program mentoring dirancang untuk membentuk karakter islami siswa melalui pendekatan personal yang melibatkan interaksi antara mentor dan mentee. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ini efektif dalam memperkuat pemahaman nilai-nilai keislaman dan membangun keterikatan emosional yang positif. Evaluasi program dilakukan setiap tiga bulan untuk memantau perkembangan siswa. Kendala yang dihadapi meliputi kesiapan mentor dalam penguasaan materi, namun diatasi melalui pembinaan rutin. Program ini diharapkan dapat membekali siswa dengan ketahanan moral dan spiritual dalam menghadapi tantangan di masa depan. Kata Kunci: Mentoring. Karakter Islami. Nilai Keislaman. Pendidikan Karakter. SD Sains Al-Biruni. Abstract This study aims to analyze the effectiveness of a mentoring program in internalizing Islamic character values at SD Sains Al-Biruni. Using a qualitative approach, data were collected through observations, interviews, and documentation. The mentoring program is designed to develop students' islamic character through personalized approaches involving interactions between mentors and mentees. The results indicate that this program effectively strengthens students' understanding of Islamic values and fosters positive emotional bonds. Program evaluations are conducted quarterly to monitor students' progress. Challenges such as mentorsAo readiness in mastering materials are addressed through regular training sessions. This program is expected to equip students with moral and spiritual resilience to face future challenges. Keywords: Mentoring. Islamic Character. Religious Values. Character Education. SD Sains Al-Biruni. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 108 PENDAHULUAN Internalisasi adalah proses di mana nilai-nilai tertentu teresap sepenuhnya ke dalam hati seseorang, sehingga jiwa dan rohnya bergerak sesuai dengan ajaran Ciri-ciri nilai yang telah terinternalisasi dapat dikenali melalui perilaku Dalam konteks agama Islam, proses internalisasi nilai-nilai tersebut berlangsung melalui pemahaman yang menyeluruh terhadap ajaran agama, diikuti oleh kesadaran akan pentingnya Islam, serta pencarian kemungkinan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Sidarman et al. , 2. Pendidikan dalam perspektif Islam, atau sistem pendidikan yang Islami, merujuk pada proses yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Pendidikan ke-Islaman bertujuan untuk mentransfer pengetahuan tentang agama dan prinsip-prinsip Islam kepada individu, sehingga nilai-nilai tersebut dapat menjadi panduan hidup atau way of life Di era modern ini, terdapat banyak institusi pendidikan yang dilengkapi dengan fasilitas canggih dan teknologi mutakhir. Namun, sering kali lembagalembaga mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam kehidupan seharihari. Masih terdapat banyak perilaku yang tidak pantas dan bertentangan dengan norma-norma agama yang berlaku. Para siswa kerap kali menunjukkan penyimpangan perilaku, seperti berbohong kepada guru, mengabaikan tugas, dan berbicara tidak sopan. Dalam satu dekade terakhir, fenomena karakter siswa yang tidak sesuai dengan norma agama semakin mencolok, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Tindakan seperti melawan guru, tawuran, pelecehan, hubungan seksual bebas, pemerkosaan, serta kekerasan antar kelompok yang terdidik menjadi semakin umum. Perkembangan di dunia pendidikan saat ini berlangsung dengan sangat cepat, sejalan dengan kemajuan teknologi dan arus Dalam menghadapi berbagai perubahan yang diperlukan masyarakat serta tantangan untuk mengatasi masalah lokal dan global, dunia pendidikan dituntut untuk beradaptasi dan memberikan solusi yang relevan. (Sidarman et al. , 2. Menurut Suwardoyo dalam penelitian yang dilakukan oleh Sidarman dan rekannya, saat ini banyak institusi pendidikan yang telah mengadopsi pendekatan Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 109 modern dengan dukungan fasilitas yang lengkap dan teknologi canggih. Namun, ironisnya, upaya ini belum mampu menciptakan individu yang dapat menerapkan prinsip-prinsip pendidikan agama Islam dengan baik. Fenomena yang terlihat menunjukkan bahwa banyak generasi muda terlibat dalam perilaku yang tidak selaras dengan nilai-nilai agama, seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, intimidasi, dan bahkan kekerasan fisik hingga pembunuhan. Keseluruhan perilaku ini erat kaitannya dengan aspek kepribadian dan keyakinan agama individu. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa materi pendidikan agama Islam, meskipun menjadi bagian dari kurikulum, belum sepenuhnya terinternalisasi oleh peserta didik, yang pada akhirnya menyebabkan kemunduran moral yang sulit untuk dihindari (Zahroh & Asyhari, 2. Kenyataan penyimpangan yang banyak terjadi di kalangan generasi muda Indonesia telah menunjukkan bahwa kondisi karakter mereka berada dalam keadaan Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan upaya serius dalam menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan agama Islam kepada para peserta Hal ini bertujuan agar mereka memiliki bekal pengetahuan agama yang dapat menjadi panduan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Internalisasi nilainilai pendidikan agama Islam bukanlah sekadar penyampaian informasi, tetapi lebih sebagai proses pendalaman aqidah, syariah, dan akhlak yang harus ditanamkan dalam jiwa individu. Nilai-nilai ini seharusnya tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari, dengan pedoman utama yang bersumber dari Al-Quran dan hadis. Dalam upaya membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh, pendidikan karakter menjadi komponen esensial yang tak terpisahkan dari kehidupan siswa. (Zahroh & Asyhari, 2. Menurut Mulyasa, pendidikan karakter memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan pendidikan moral. Hal ini dikarenakan pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada perbedaan antara benar dan salah, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utamanya adalah untuk membangun kesadaran, pemahaman, kepedulian, dan komitmen individu terhadap penerapan nilai-nilai kebajikan dalam aktivitas mereka seharihari. Di tingkat satuan pendidikan, pendidikan karakter bertujuan untuk menciptakan Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 110 budaya sekolah yang menjadi ciri khas, karakteristik, dan citra sekolah di kalangan (Zahroh & Asyhari, 2. Sedangkan. Karakter Islami merujuk pada watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk melalui proses internalisasi ajaran Islam. Proses ini berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, membentuk karakter yang tertanam kuat dalam hati. Selanjutnya, karakter tersebut diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. (Romansah, 2. Dalam agama Islam, pendidikan karakter memiliki kesamaan yang erat dengan pendidikan akhlak. Istilah "akhlak" sendiri telah diakui dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang mengartikan akhlak sebagai budi pekerti dan Pendidikan karakter, atau akhlak, memerlukan proses peneladanan dan pembiasaan, karena karakter tidak terbentuk secara instan. ia harus dilatih secara serius, berkesinambungan, dan seimbang agar mencapai bentuk yang optimal. Dalam konteks pendidikan di Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia, melalui rumusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. tahun 2010, menetapkan 18 nilai karakter yang perlu dikembangkan pada setiap peserta didik di semua tingkatan pendidikan. Di antara nilai-nilai tersebut adalah tanggung jawab dan disiplin. Tanggung jawab, dalam hal ini, berarti bahwa setiap peserta didik harus mampu menjalankan kewajibannya dengan sepenuh hati, baik sebagai seorang muslim maupun sebagai pelajar. Sementara itu, disiplin mengacu pada kepatuhan terhadap aturan yang berlaku dengan tepat dan konsisten. (Alimah & Hakim, 2. Dengan demikian, pembentukan karakter Islami adalah suatu usaha yang terencana dan sistematis untuk membantu individu mengenal, peduli, dan menginternalisasikan nilai-nilai Islam, sehingga mereka dapat berperilaku sebagai insan kamil. Pendidikan karakter memiliki makna yang lebih mendalam dibandingkan dengan pendidikan moral, karena tidak hanya mengajarkan perbedaan antara yang benar dan yang salah. Lebih jauh dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan baik, sehingga anak tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan dan termotivasi untuk melakukan kebaikan. (Yuliharti, 2. Anak-anak masa kini adalah penerus generasi di masa depan. Nasib bangsa ini di masa yang akan datang sangat tergantung pada mereka. Karakter yang dimiliki Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 111 anak-anak saat ini akan membentuk karakter masa depan. Mengingat betapa pentingnya pendidikan, terutama pendidikan Islam, yang harus diberikan kepada anak-anak sedini mungkin, lembaga pendidikan formal harus segera merumuskan strategi yang efektif untuk mengintegrasikan pendidikan Islam. Hal ini bertujuan untuk menciptakan atmosfer keagamaan dan membentuk akhlak mulia melalui program pembelajaran mentoring. Diharapkan program ini dapat menumbuhkan iman dan ketakwaan yang berkualitas dalam diri para siswa, dengan menanamkan nilai-nilai Islam sebagai langkah utama. (Hanifah et al. , 2. Program mentoring merupakan salah satu strategi pengembangan ke-Islaman bagi siswa, yang dilaksanakan melalui halaqah-halaqah atau kelompok kecil. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mendampingi dan mengarahkan para siswa dalam memahami serta mengaplikasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan (Nurlaila & Rohayati, 2. Berdasarkan penelitian program mentoring di SD Sains Al-Biruni merupakan salah satu upaya strategis dalam pembinaan karakter siswa, dilaksanakan dalam kelompok kecil untuk menciptakan interaksi yang lebih mendalam. Melalui program ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan sikap, nilai, dan perilaku yang mencerminkan proses penanaman karakter. Program mentoring ini juga untuk mendampingi dan mengarahkan siswa dalam menganalisis serta menerapkan nilainilai keislaman dalam diri mereka. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat mengembangkan budi pekerti dan karakter mulia, didukung oleh penguasaan ilmu yang baik, serta mampu mengamalkan ilmu tersebut dengan landasan iman yang METODE Jenis penelitian yang dipilih penulis adalah penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang memiliki karakter deskriptif dan analitis. Dalam konteks ini, deskriptif merujuk pada kemampuan untuk menggambarkan dan menjelaskan peristiwa, fenomena, serta situasi sosial yang sedang diteliti. Analisis juga merupakan bagian penting dari penelitian ini. (Waruwu, 2. Tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan secara naratif Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 112 tindakan yang dilakukan orang dan bagaimana perilaku tersebut mempengaruhi kehidupan mereka. (Fadli, 2. Hasil penelitian ini berfokus pada internalisasi nilai-nilai karakter Islami melalui program mentoring. Subjek penelitian adalah siswa di SD Sains Al-Biruni. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Mentoring Mentoring adalah proses umpan balik yang terus menerus dan dinamis antara dua individu untuk membangun hubungan antara individu yang memiliki pengetahuan, keterampilan, informasi dan dengan fokus pada pengembangan profesional dan pribadi. Mentoring merupakan sarana yang di dalamnya terdapat kegiatan pembelajaran. Mentoring bertujuan memberikan dukungan kepada individu sehingga mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan cara menguatkan dan mengembangkan mekanisme baru yang lebih baik untuk mempertahankan kontrol diri dan mengembalikan keseimbangan yang adaptif, sehingga mampu mencari tingkat kemandirian yang lebih tinggi serta mampu mengambil keputusan secara otonom. (Rifaid, 2. Menurut Yulastri AuMentoring is one of an effective learning method in character buildingAy. Mentoring tidak hanya berfungsi sebagai alat edukasi, tetapi juga sebagai salah satu cara yang signifikan dalam mengembangkan karakter peserta Ruswandi dan Adeyasa menambahkan bahwa mentoring merupakan sarana tarbiyah Islamiyah, di mana pembelajaran tentang nilai-nilai Islam dilakukan. Fokus utama dari kegiatan mentoring ini adalah membentuk karakter dan kepribadian Islami bagi para peserta. Dengan mengacu pada pendapat Kitner, seorang mentor berperan sebagai fasilitator yang harus mampu mendampingi peserta didik secara efektif, sehingga tujuan kegiatan mentoring dapat tercapai dengan baik. (Iqbal et al. , 2. Unsur-unsur Mentoring Program mentoring adalah sebuah kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh individu berpengalaman . kepada individu yang kurang berpengalaman Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 113 . dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan kemandirian mentee. Adapun penjelasan mentor dan mentee adalah sebagai berikut (DuBois & Karcher, 2. Mentor Mentor merupakan seorang yang bijak dan seorang konselor atau guru yang dapat dipercaya. Mentor adalah seorang dewasa, yang lebih berpengalaman yang mengetahui lebih jauh perkembangan karakter dan kompetensi remaja dengan membimbing remaja untuk dapat menguasai bakat dan tugas dimana mentor sudah menguasainya terlebih dahulu. Mentoring dapat dicapai melalui demonstrasi, instruksi, tantangan, dan dorongan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Seorang mentor tidak hanya berperan sebagai seorang pembimbing saja tetapi ia memiliki multi fungsi yaitu selain sebagai seorang guru . bagi mentee-nya, juga . , . , . , dan sahabat . e frien. Untuk itu seorang mentor harus memiliki kriteria tertentu guna mencapai tujuan dari pelaksanaan mentoring. Mentee Mentoree atau mentee adalah sebutan untuk seseorang yang mengikuti kegiatan mentoring. Suksesnya pelaksanaan mentoring tidak hanya bergantung pada karakteristik mentor saja, tetapi juga karakteristik mentee. Adapun karakteristik yang seharusnya dimiliki oleh seorang mentee adalah mempunyai keinginan untuk belajar, mempunyai keinginan untuk bekerja sebagai tim, sabar, mampu mengambil resiko dan bersikap positif. Tahapan dan Langkah-langkah Program Mentoring Kegiatan mentoring terdiri dari empat tahapan, yaitu tahap persiapan . , negosiasi . , kemungkinan . dan penutupan . Adapun penjelasan ke empat tahapan mentoring tersebut adalah sebagai Tahap persiapan . Tahap persiapan dalam proses mentoring adalah tahap yang bersifat kritis untuk membangun dan mensukseskan kegiatan mentoring. Fase ini meliputi situasi awal kerja untuk mencapai Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 114 hubungan baik antara mentor dan mentee dan focus pada persiapan mentor untuk peran barunya dan persiapan memulai hubungan dengan mentee. Tahap negosiasi . Dalam tahap ini terjadi dialog antara mentor dan mentee untuk menentukan waktu pelaksanaan mentoring. Tahap kemungkinan . Selama tahap ini mentor harus mengatur hubungan ini dan belajar aktif mendukung, memelihara semangat dalam proses pembelajaran dengan monitoring dan proses evaluasi, dan mendorong dilanjutkannya perkembangan dan bergerak dengan menggambarkan Penutup . oming to closur. Penutup adalah bagian yang tak dapat dihindarkan dalam setiap hubungan mentoring karena mentoring adalah sebuah tujuan yang berorientasi pada proses, yang mana didorong oleh tentunya pencapaian kompetensi yang profesional. Implementasi Program Mentoring Kegiatan Mentoring ini dilaksanakan di SD Sains Al-Biruni yang terletak di Komp. Bumi Panyileukan Jl. Raya Panyileukan No. Cipadung Kidul. Kec. Panyileukan. Kota Bandung. Jawa Barat 40614. Kegiatan Mentoring ini sudah paruh kedua diterapkan di SD Sains Al-Biruni. Tujuan utama dilaksanakannya kegiatan Mentoring ini adalah agar peserta didik memahami nilai-nilai keagamaan dan menumbuhkan sikap spiritualisme melalui ajaran agama islam secara mendalam selain pada mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Isla. , atau kegiatan lainnya seperti tilawah dan keputrian. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 115 Gambar 1. Kegiatan Mentoring Bersama Guru dan Peserta Didik Gambar 2. Kegiatan Mentoring Guru PLP dan Peserta Didik Kedua gambar di atas menunjukkan suasana kegiatan mentoring yang dilaksanakan di SD Sains Al-Biruni. Di dalam kegiatan mentoring ini terbagi kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 6-8 peserta didik sebagai mentee dan juga bersama guru sebagai mentor di dalam kelompok masing-masing untuk memberikan materi yang ingin dibahas. Tujuan dari kegiatan mentoring ini adalah untuk mendidik dan membina akhlak serta ilmu pengetahuan para peserta didik, dengan materi yang disampaikan harapannya terus senantiasa teringatkan, membekali pemahaman terkait keislaman lebih dalam lagi. Walaupun sudah ada di setiap kurikulum yakni pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Hifzhil Al-QurAoan (HAQ) tetapi itu sudah ada kurikulumnya secara khusus. Kepala sekolah yakni ibu Elis Nurhayati. Pd. Gr. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 116 Mengatakan bahwa para guru di sekolah melihat kebutuhan anak-anak, jika hanya dibekali ilmu pengetahuan di keputrian atau PAI saja dirasa masih kurang dari sisi pendalaman pemahamannya, terutama dari sisi interaksi sosial seperti dari mata ke mata . ye to ey. maupun wajah ke wajah . ace to fac. Program mentoring ini memang sengaja dirancang menjadi kelompok kecil supaya bisa lebih terikat emosional yang terjalin dengan baik antara mentor/guru maupun peserta didik/mentee yang bisa disebut juga dengan bonding. Karena dengan program mentoring ini diyakini dapat membantu tumbuh kembang peserta didik secara optimal dan dapat membuat peserta didik merasa aman, nyaman, mendapat dukungan, dan terlihat secara tatap muka. Program mentoring ini dirancang oleh kepala sekolah SD Sains Al-Biruni, posisi guru hanya bersifat sebagai pelaksana saja atau sebagai penanggung jawab (PJ) di setiap level rombongan belajar (Rombe. Penanggung jawab (PJ) di setiap level dipilih secara pemahaman keislaman dan merancang tentang materi yang akan diberikan ke peserta didik. Berikut ini adalah susunan nama penanggung jawab di level 4 dipegang oleh Bapak Haidar, penanggung jawab di level 5 dipegang oleh Ibu Holisoh dan penanggung jawab level 6 dipegang oleh Ibu Rani. Jadi penanggung jawab yang disebutkan diatas inilah yang merancang materi untuk setiap level/kelasnya menggunakan buku sumber seri adab, akidah dan akhlak yang sudah sesuai dengan visi misi SD Sains Al-Biruni. Adapun kendala perencanaan yang ada di program mentoring yakni pengelola atau pelaksana pun belum tahu bentuk seperti apa yang akan menjadi penyebab dampak dari program mentoring ini. Dengan adanya sumber yang sama dengan visi misi sekolah ternyata alhamdulilah sarana dan prasarana untuk program mentoring ini cukup memadai. Kemudian disiapkannya Sumber Daya Manusia (SDM) yang bisa memahami tentang keislaman lebih dalam, tetapi ada kendala ketika dilapangan ternyata belum semua pemahaman pendidik/mentornya dapat menguasai materinya karena itulah menjadi kendala besar di dalam program mentoring ini. Karena menyampaikan materi kepada peserta didik pun akan dipengaruhi oleh pemahaman mentor, maka dari itu ini juga menjadi proses juga selain memberi pemahaman Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 117 kepada peserta didik maka ini pun memberikan makna pembelajaran juga bagi mentor nya. Di program mentoring ini juga ada evaluasi terhadap masing-masing peserta Evaluasi ini diadakan pertiga bulan sekali, sistemnya adalah berisi tentang laporan hasil program mentoring ke orang tua terkait perkembangan peserta didik dari pencapaian program mentoringnya dan cara mengevaluasinya adalah secara tertulis dan dirapatkan. Instrumennya secara umum deskripsinya saja, jadi selama peserta didik mengikuti program mentoring itu seperti apa, bagaimana, dan ada apa saja yang diketahuinya. Selama program mentoring yang baru dijalankan selama 2 tahun ini yang terukur baru dari sisi kehadiran dan pemahamannya saja, belum sampai pada dampak lebih atau jangka panjangnya, apalagi anak se-usia Sekolah Dasar (SD) belum bisa terlihat apa yang dipahami oleh mereka selama program mentoring, intinya adalah mereka baru menanamkan konsep-konsep yang mereka pahami dulu. Selain meningkatkan pemahaman kepada peserta didik, di dalam program mentoring ini juga akan meningkatkan pemahaman kepada mentor/pendidik. Cara meningkatkan pemahaman mentor/pendidik yakni mengadakan pembinaan rutin supaya mempunyai giroh yang sama, jadi peserta didik belajar guru pun juga belajar. Program mentoring ini pun mempunyai garis besar yakni Auharapannya bisa menjadi media untuk anak-anak di masa akhir balig nya mereka sudah bisa menilai mana yang hak mana yang batil, semoga mereka terpelihara fitrahnya ketika nanti mereka melanjutkan ke sekolah yang lainnya dihadapkan kondisi dan tantangan, harapannya mereka punya benteng dan pendirianAy seperti yang dikatakan oleh Kepala sekolah yakni ibu Elis Nurhayati. Pd. Gr. Dampak Program Mentoring Terhadap Karakter Nilai-Nilai Islami Mentoring merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk membentuk karakter islami seseorang. Dalam pelaksanaannya, mentoring melibatkan dua pelaku utama yaitu mentor dan mentee. Mentor bertindak sebagai penasehat utama dan membimbing mentee untuk dapat menguasai bakat dan tugas yang diperlukan untuk membentuk karakter islami. Selain sebagai pembimbing. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 118 mentor juga berperan sebagai pendukung, pendorong, konselor, dan sahabat bagi Menurut Prayitno (Batubara, 2. karakter adalah sifat pribadi yang relatif stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi. Adapun yang dimaksud dengan sifat pribadi yang relatif stabil adalah ciri yang ada di dalam pribadi seseorang yang terwujud dalam tingkah laku tidak akan mudah diubah. Hal ini dapat terbentuk karena adanya landasan yang kuat pengaruhnya berkaitan dengan agama, ilmu, hukum, adat dan kebiasaan yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan pelaksanaan mentoring dalam pembentukan karakter islami, seorang mentor harus memiliki kriteria tertentu. Mentor harus bijaksana, dapat dipercaya, dan memiliki pengalaman serta pemahaman yang mendalam tentang agama dan nilai-nilai religius. Sedangkan mentee harus memiliki keinginan tinggi untuk belajar, bekerja sebagai tim, bersabar, mampu mengambil resiko, dan bersikap positif. Dalam pembentukan karakter islami, mentoring dapat dilakukan dengan cara memberikan demonstrasi, instruksi, tantangan, dan dorongan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Mentor juga dapat memberikan contoh dan nasihat yang relevan dengan nilai-nilai islami agar mentee dapat mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Wangi dan Lutfiani (Wangi, n. ) AuMoral knowing atau pengetahuan tentang moral adalah pandangan yang berkaitan tentan kesadaran moral dalam menentukan cara berpikir atau mengambil keputusan dalam berbuat kebaikan dan pengetahuan yang dimiliki tentang kebaikan. Hal yang sama pentingya yang menjadi tujuan dari pelaksanaan kegiatan mentoring Kelompok Tumbuh Bersama yaitu peserta didik memilik motivasi belajar. Peserta didik dikatakan memiliki motivasi belajar apabila peserta didik telah memperlihatka perilakuperilaku sebagai berikut, semangat dan tekun menyelesaikan tugas, tetap teguh saat mengalami problem, memperlihatkan sikap optimis dalam menyelesaikan berbagai masalah, tidak mudah bosan terhadap tugas yang sama, mampu bertahan pada pendirian apabila sudah Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 119 meyakini suatu hal suatu hal. Seseorang yang dikatakan memiliki motivasi belajar berkaitan erat apabila orang tersebut memiliki motivasi untuk terus berprestasi. Dengan adanya kegiatan mentoring yang dilakukan dengan baik, diharapkan karakter islami seseorang dapat terbentuk dengan lebih baik dan konsisten. Selain itu, kegiatan mentoring juga dapat membantu mentee dalam memahami dan mempraktikkan nilai-nilai religius secara lebih baik dan menyeluruh (Khoiriyah. Dalam program mentoring yang sudah dilaksanakan 2 tahun di SD Sains AlBiruni, mengalami banyak perubahan baik terhadap peserta didik sebagai mentee maupun pendidik sebagai mentor. Program mentoring ini juga membawa banyak ilmu pengetahuan baik secara materialisme maupun spiritualisme. PEMBAHASAN Temuan penelitian tentang program mentoring di SD Sains Al-Biruni menunjukkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membina akhlak dan memperdalam pemahaman keislaman peserta didik melalui pendekatan yang lebih personal dan interaktif. Program ini diimplementasikan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 6Ae8 peserta didik . dan seorang guru . sebagai fasilitator utama. Sejalan dengan (Arbaiatin, 2. , menyatakan bahwa kegiatan mentoring berupaya meningkatkan pendidikan karakter melalui kelompok kecil di sekolah. Program mentoring bertujuan untuk . Membina karakter IsIami peserta didik sejak dini. Memperkuat pemahaman nilai-nilai keislaman yang tidak hanya diajarkan secara teori tetapi juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menanamkan konsep dan prinsip moral serta sosial melalui pendekatan emosional yang erat antara mentor dan mentee. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode mentoring yang digunakan efektif dalam membangun keterikatan emosional . antara guru dan peserta didik. Sejalan dengan (Novitasari, et al. kegiatan mentoring adalah proses pendampingan untuk meningkatkan hubungan antara anak dan orangtua, teman sebaya dan guru/instruktur multidimensi untuk membantu anak menghadapi tantangan dan permasalahan dalam kehidupan sehari- Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 120 hari. Hal ini membantu menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman, di mana peserta didik merasa didukung dan termotivasi untuk belajar. Program ini dirancang oleh kepala sekolah dan dilaksanakan oleh guru yang bertindak sebagai penanggung jawab di setiap tingkat kelas. Sejalan dengan pendapat (Ria Andriani, 2. mengenai pelaksanaan program mentoring mengemukakan bahwa untuk teknis pelaksanaan mentoring dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah dengan menggunakan bermacam-macam media yang dapat menarik perhatian siswa saat dilaksanakannya program mentoring. Materi yang diberikan disesuaikan dengan visi dan misi sekolah, menggunakan buku sumber terkait adab, akidah, dan akhlak. Materi ini disusun oleh penanggung jawab berdasarkan pemahaman keislaman yang mendalam. Namun, kendala dalam pelaksanaan program ini adalah belum semua mentor memiliki penguasaan materi yang memadai, sehingga mempengaruhi efektivitas penyampaian kepada peserta Untuk mengatasi kendala ini, diadakan pembinaan rutin bagi mentor agar memiliki pemahaman yang selaras dengan visi program mentoring. Selain itu, program ini juga memberikan kesempatan bagi mentor untuk terus belajar dan Evaluasi program dilakukan setiap tiga bulan melalui laporan tertulis kepada orang tua mengenai perkembangan anak. Evaluasi ini lebih menitikberatkan pada kehadiran dan pemahaman anak selama mengikuti kegiatan mentoring. Sejalan dengan pendapat (Sandana, 2. mengemukakan bahwa evaluasi ialah suatu upaya untuk mengadakan peninjauan kembali pada sesuatu yang sudah dikerjakan sejak awal hingga proses pelaksanaan suatu kegiatan telah berjalan dan sudah selesai. Karena program ini baru berjalan selama dua tahun, dampak jangka panjangnya masih dalam proses pengamatan, dan fokus saat ini adalah menanamkan konsep dasar nilai-nilai Islami kepada peserta didik. Program mentoring memberikan dampak positif, bagi peserta didik maupun mentor, sejalan dengan (Kaswan, 2. menyatakan bahwa program kegiatan mentoring ada banyak manfaat bagi mentee dalam proses pembelajaran. Kegiatan pendampingan tidak hanya memberikan manfaat bagi mentee, tetapi mentor juga merasakan manfaatnya. Dampak atau manfaat pada Peserta didik . Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 121 mengalami peningkatan pemahaman keislaman, pembentukan karakter islami, dan keterampilan sosial yang lebih baik melalui interaksi langsung dengan mentor. Sedangkan pada Guru . memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membina karakter peserta didik serta memperdalam pemahaman agama melalui pembinaan rutin. Pada program ini diharapkan mampu membekali peserta didik dengan nilai-nilai Islami yang kokoh sehingga mereka memiliki ketahanan moral saat menghadapi tantangan di lingkungan sekolah selanjutnya. Beberapa tantangan yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi: . Kesiapan mentor dalam penguasaan materi yang masih beragam. Pengukuran dampak jangka panjang program yang belum terlihat secara nyata karena peserta didik masih berada pada tahap dasar pembelajaran nilai-nilai Islami. Sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan: . Peningkatan kapasitas mentor melalui pelatihan rutin. Pengembangan metode evaluasi yang lebih komprehensif untuk mengukur dampak program secara lebih jelas di masa depan. Penguatan kurikulum mentoring agar lebih terstruktur dan efektif dalam membentuk karakter islami peserta didik. SIMPULAN Program mentoring di SD Sains Al-Biruni merupakan upaya yang terstruktur dan terencana untuk membina karakter islami peserta didik melalui pendekatan personal dan emosional. Meskipun menghadapi beberapa kendala dalam pelaksanaannya, program ini telah menunjukkan hasil positif dalam membangun pemahaman dan karakter Islami pada peserta didik serta memperkuat peran mentor sebagai pembimbing yang aktif dan kompeten. Dengan terus mengembangkan program ini, baik dari sisi kualitas mentor maupun evaluasi dampak jangka panjangnya, diharapkan mentoring dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk generasi muda yang berakhlak mulia dan memiliki ketahanan moral yang kuat. DAFTAR PUSTAKA