Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3167-3174 Kinerja Agribisnis Kelapa Sawit Rakyat di Provinsi Sumatera Utara Performance of Smallholder Palm Oil Agribusiness in North Sumatra Province Tennisya Febriyanti Suardi*. Zahraturrahmi Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Medan Area *Email: tennisyafebriyantisuardi@staff. (Diterima 13-05-2025. Disetujui 26-07-2. ABSTRAK Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara pada kenyataan kurang didukung oleh produktivitas yang dihasilkan. Perkebunan kelapa sawit rakyat di Provinsi Sumatera Utara memiliki produktivitas yang cenderung rendah sehingga diperlukan pengelolaan agribisnis yang tepat guna bagi perkembangan komoditas kelapa sawit untuk meminimalisir kesenjangan produksi dan produktivitas yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja sistem agribisnis kelapa sawit rakyat berdasarkan lima subsistem agribisnis. Pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif. Responden dalam penelitian ini merupakan petani kelapa sawit rakyat yang ditentukan melalui teknik stratified random sampling, yang mencakup 33 kota/kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 124 orang responden petani kelapa sawit rakyat menjadi sampel penelitian. Data penelitian dikumpulkan melalui penelusuran data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan Method of Successive Interval (MSI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja sistem agribisnis kelapa sawit rakyat termasuk dalam kategori baik. Subsistem penanganan hasil dipersepsikan petani lebih penting dan lebih diutamakan dari pada subsistem input, subsistem produksi, subsistem pemasaran, dan subsistem penunjang. Subsistem penanganan hasil akan mempengaruhi kualitas tandan buah segar dan rendemen minyak sawit yang dihasilkan. Perlunya penguatan peran kelembagaan tingkat petani dalam pengolahan dan pemasaran kelapa sawit agar dapat meningkatkan posisi tawar menawar petani melalui upaya peningkatan kemampuan petani dan peningkatan kerjasama yang baik. Kata kunci: kinerja, sistem agribisnis, kelapa sawit ABSTRACT The development of palm oil plantation area in North Sumatra has not been matched by corresponding productivity Smallholder palm oil plantations in North Sumatra Province have productivity that tends to be low so that appropriate agribusiness management is needed for the development of palm oil commodities to minimize the production and productivity gap that occurs. This study aims to analyze the performance of smallholder palm oil agribusiness systems based on five agribusiness subsystems. A quantitative research method was employed. The determination of smallholder palm oil farmer respondents was based on stratified random sampling techniques from 33 cities/districts in North Sumatra. A total of 124 smallholder palm oil farmer respondents were sampled. The research data were collected through primary and secondary sources. The data analysis design used was descriptive analysis using the Method of Successive Interval (MSI). The results showed that the performance of the smallholder palm oil agribusiness system was in the good category. The result handling subsystem is perceived by farmers as more important and more prioritized than the input subsystem, production subsystem, marketing subsystem, and supporting subsystem. The yield handling subsystem will affect the quality of fresh fruit bunches and the yield of palm oil produced. It is necessary to strengthen the role of farmer-level institutions in palm oil processing and marketing in order to improve the bargaining position of farmers through efforts to improve the ability of farmers and increase good cooperation. Keywords: performance, agribusiness systems, palm oil PENDAHULUAN Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu sentra penghasil kelapa sawit di Indonesia. Dalam sejarahnya, perkebunan kelapa sawit pertama di Indonesia berlokasi di Provinsi Sumatera Utara tepatnya di Pantai Timur Sumatera dengan luas areal perkebunan sebesar 5. 123 hektar (Affandi, 2. Oleh karena itu. Provinsi Sumatera Utara termasuk ke dalam sentra penghasil kelapa sawit di Indonesia. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara pada kenyataan kurang didukung oleh Kinerja Agribisnis Kelapa Sawit Rakyat di Provinsi Sumatera Utara Tennisya Febriyanti Suardi*. Zahraturrahmi produktivitas kelapa sawit yang dihasilkan. Berdasarkan tiga jenis penguasaan lahan kelapa sawit, perkebunan rakyat memiliki produktivitas yang paling rendah dibandingkan dengan perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta yang ada di Sumatera Utara. Hal ini didukung oleh pendapat Suroso et al. , . , yang mengemukakan bahwa perkebunan kelapa sawit rakyat di Sumatera Utara memiliki produktivitas yang rendah karena petani cenderung menggunakan bibit non sertifikat yang dilatarbelakangi oleh keterbatasan modal sehingga diperlukan berbagai kebijakan untuk Selain itu. Hasibuan et al. , . , mengungkapkan bahwa perkebunan kelapa sawit rakyat di Provinsi Sumatera Utara memiliki produktivitas yang cenderung rendah sehingga diperlukan pengelolaan agribisnis yang tepat guna bagi perkembangan komoditas kelapa sawit guna meminimalisir permasalahan dari hulu sampai hilir khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat agar dapat meminimalisir kesenjangan produksi dan produktivitas yang terjadi. Kinerja sistem agribisnis adalah performance . sebuah sistem yang merupakan resultan dari kinerja seluruh sistem secara bersama-sama meskipun setiap komponen memerlukan fungsi yang berbeda-beda. Dengan kata lain, apabila kinerja salah satu komponen sistem agribisnis tidak optimal, maka kinerja seluruh sistem tidak akan maksimal (Afrizal et al. , . Prohatina & Suryani, 2. Karakteristik agribisnis menuntut pengolahan agribisnis yang terintegrasi secara vertikal, mulai dari hulu sampai ke hilir. Pengembangan dan pengusahaan agribisnis tidak dilakukan secara terpisah melainkan dilakukan secara utuh. Keutuhan yang dimaksud bukan hanya sekedar melihat subsistem-subsistem agribisnis yang terpisah sebagai sistem, tetapi pengolahannya, pengusahaannya yang harus menjadi satu Kinerja akhir dari suatu agribisnis ditentukan oleh pengelolaan yang harmonis dari hulu sampai ke hilir. Agribisnis diartikan sebagai kegiatan pertanian yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan usaha, tenaga kerja, rencana penggunaan tanah, biaya penggunaan tanah, sarana dan kebutuhan lain yang Dengan demikian, agribisnis merupakan konsep yang utuh mulai dari pemenuhan input, proses produksi, pengolahan hasil, aktivitas pemasaran, dan peran subsistem penunjang yang berkaitan dengan kegiatan pertanian (Feni et al. , 2. Sistem agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsub sistem atau komponen yang saling terkait satu sama lainnya. Sebagai suatu sistem agribisnis terdiri atas lima komponen subsistem (Davis dan Goldberg, 1957. Downey dan Erikcson, 1. Subsistem input adalah subsistem penyediaan input atau ketersediaan sarana produksi. Kebutuhan petani terhadap elemen-elemen atau faktor-faktor dari subsistem input adalah bibit . umlah bibit, keseragaman/umur, kualita. , obat-obatan, dan peralatan. Subsistem produksi adalah subsistem yang mengubah input menjadi produk primer. Dalam subsistem produksi yang dibutuhkan petani adalah lokasi usaha . , ketersediaan tenaga kerja, komoditas . , teknologi . enguasaan teknolog. , skala/luasan usaha, usaha secara individu, kelompok, manajemen, peralatan. Subsistem penanganan hasil merupakan subsistem yang bertanggung jawab atas penanganan hasil panen dan pengubahan bentuk bahan baku yang dihasilkan oleh usahatani menjadi produk akhir. Subsistem pemasaran berfungsi untuk memindahkan barang antara komponen dari sistem agribisnis ke konsumen. Subsistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani. Subsistem penunjang mencakup ketersediaan transportasi, penyuluhan dan pendidikan, penelitian dan pengembangan, perkreditan/perbankan, kebijakan pemerintah . nggaran pembangunan, harga input dan output, pemasaran dan perdagangan, dan peningkatan sumber daya manusi. (Ginder, 1992. Suh & Moss, 2. Sistem agribisnis kelapa sawit yang dikembangkan bukan hanya harus berdaya saing dan memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat, tetapi juga harus berkelanjutan. Pengertian agribisnis sudah seharusnya terkandung sistem berkelanjutan. Seiring dengan terjadinya perkembangan trend terbaru yang menimbulkan berbagai isu dan kecaman terhadap keberlanjutan sehingga sistem agribisnis berkelanjutan muncul sebagai sebuah kekuatan baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja sistem agribisnis kelapa sawit rakyat berdasarkan lima subsistem agribisnis. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Penentuan responden petani kelapa sawit rakyat ditentukan berdasarkan teknik stratified random sampling dari 33 kota/kabupaten di Sumatera Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3167-3174 Utara yang kemudian terpilih satu sampel Kecamatan Pangkatan di Kabupaten Labuhanbatu. Sebanyak 124 orang responden petani kelapa sawit rakyat menjadi sampel penelitian. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan wawancara mendalam. Informasi tambahan diperoleh dari pemerintah, dinas pertanian, balai penyuluh pertanian, kelompok tani, koperasi, tokoh masyarakat, toke sawit . engepul/tengkula. , dan perusahaan swasta. Data yang diperoleh dari lapangan melalui kuesioner merupakan data berskala ordinal dengan simbol 1, 2, 3, 4, dan 5, mulai dari sangat tidak setuju . sampai dengan sangat setuju . Data tersebut kemudian ditransformasikan menjadi data kuantitatif ke dalam skala interval dengan menggunakan Method of Successive Interval (MSI). Method of Successive Interval (MSI) adalah proses mengubah data ordinal menjadi data interval sehingga diperoleh nilai median . dan standar deviasi () untuk masing-masing Berdasarkan keduanya, interval kelas ditentukan sebagai berikut: Sangat Rendah (Omedian - ) Rendah (median ) Sebagai syarat dalam analisis statistik . tatistik parametri. , dilakukan transformasi data ordinal . kor terendah 1 dan tertinggi 5 yang disesuaikan dengan perhitungan data variabel dan sub variabe. ke data Dalam transformasi indeks indikator, setiap indikator memiliki nilai yang berbeda dengan rentang 1,00 - 5,00. Nilai indeks terkecil 1,00 diberikan untuk jumlah skor terendah dan nilai indeks 5,00 diberikan untuk jumlah skor tertinggi untuk setiap indikator. Skor respons minimum per item Skor respons maksimum per item Rentang (R) = (Max-Mi. /5 Dengan menghitung rumus tersebut, distribusi data berubah menjadi skala rasio dengan skor berkisar antara 1,00 - 5,00. Dalam interpretasi berdasarkan data tersebut, dihitung rata-rata dari setiap sub variabel dan indikator. Selanjutnya, skor dikelompokkan dalam lima tingkatan: . Tidak Baik. (Sangat Renda. , . Kurang Baik (Renda. , . (Sedan. , . Baik (Tingg. , dan . Sangat Baik (Sangat Tingg. Guna memahami lebih lanjut mengenai variabel-variabel yang digunakan, tabel berikut ini merangkum indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 1. bertujuan untuk memudahkan dalam menginterpretasikan hasil penelitian secara lebih mendalam dan akurat. Tabel 1. Variabel dan Pengukuran Model Penelitian Variabel Indikator Akses terhadap bibit Akses terhadap pupuk Subsistem Input Akses terhadap pestisida Akses terhadap irigasi Akses terhadap alsintan Tenaga kerja Subsistem Produksi Persentase tanaman menghasilkan Penerapan teknologi Kinerja Sstem Agribisnis Kelapa Sawit Rakyat Teknik pemanenan Subsistem Penanganam Hasil Teknik pengangkutan ke TPH Teknik muat ke truk Menjual ke toke . Subsistem Pemasaran Menjual ke RAM Menjual ke koperasi Peran lembaga pemerintah Subsistem Penunjang Peran lembaga keuangan Kinerja Agribisnis Kelapa Sawit Rakyat di Provinsi Sumatera Utara Tennisya Febriyanti Suardi*. Zahraturrahmi Variabel Indikator Peran lembaga penyuluhan Peran lembaga penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Wilayah Penelitian Kecamatan Pangkatan menempati area seluas 355,47 km2 yang terdiri dari 7 desa. Wilayah Kecamatan Pangkatan di sebalah utara berbatasan dengan Kecamatan Bilah Hilir dan Kabupaten Labuhanbatu Utara, di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bilah Hilir, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bilah Hulu, dan disebelah barat berbatasan dengan kecaatan Bilah Barat (BPS Kabupaten Labuhanbatu, 2. Gambar 1. Peta Kecamatan Pangkatan Jumlah pendudul Kecamatan Pangkatan tahun 2024 sebanyak 39. 031 jiwa, dimana persentase penduduk menurut lapangan pekerjaan didominasi oleh sektor pertanian sebanyak 82,71%. Sub sektor perlebunan dengan komoditas kelapa sawit memegang luas tanaman perkebunan rakyat tertinggi dibanding komoditas perkebunan . ainnya, seperti karet, kopi, dan kakao di Kecamatan Pangkatan sebesar 259 hektar dam produksi sebanyak 376 ton (BPS Kabupaten Labuhanbatu, 2. Kinerja Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Rakyat Kinerja sistem agribisnis kelapa sawit dijelaskan dengan menggunakan analisis deskriptif dan diolah dengan cara dikelompokkan dan kemudian digambarkan melalui penjelasan naratif guna memberikan gambaran empiris atau data primer yang dikumpulkan dari responden . etani kelapa sawit rakya. Status kinerja sistem agribisnis kelapa sawit dibahas dengan menggunakan pendekatan sistem agribisnis yang terdiri dari subsistem input, subsistem produksi, subsistem penanganan dan pengolahan hasil, subsistem pemasaran, dan subsistem penunjang Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3167-3174 SISTEM AGRIBISNIS 3,27 SUBSISTEM INPUT 3,30 3,16 SUBSISTEM PRODUKSI 3,44 SUBSISTEM PENANGANAN HASIL SUBSISTEM PEMASARAN 3,20 SUBSISTEM PENUNJANG 3,26 0,00 Keterangan: 1,00 2,00 3,00 4,00 O1,68 (Tidak Bai. , 1,69-2,37 (Kurang Bai. , 2,38-3,05 (Cukup Bai. , 3,06-3,74 (Bai. , >3,74 (Sangat Bai. Gambar 2. Kinerja Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Berdasarkan hasil analisis kinerja sistem agribisnis kelapa sawit pada Gambar 2 termasuk dalam kategori baik . Dengan demikian, petani kelapa sawit rakyat menyatukan sistem agribisnis kelapa sawit yang berjalan dengan baik. Hal ini memiliki makna bahwa dengan kinerja agribisnis yang baik, maka pengembangan agribisnis kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara berpotensi untuk terus dikembangkan agar tercapainya program pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan seperti yang dicanangkan oleh pemerintah. Menurut Saleh et al. , . , mengemukakan bahwa kinerja sistem agribisnis berhubungan erat dengan produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai produktivitas yang tinggi dalam suatu usahatani. Sehubungan dengan hal tersebut, maka upaya untuk mengadakan penilaian terhadap kinerja sistem agribisnis dalam pengembangan usahatani khususnya kelapa sawit merupakan hal yang penting. Lebih lanjut, analisis kinerja sistem agribisnis kelapa sawit dibahas secara rinci dari masing-masing subsistem disajikan pada Gambar 3. dibawah ini. Keterangan: O1,68 (Tidak Bai. , 1,69-2,37 (Kurang Bai. , 2,38-3,05 (Cukup Bai. , 3,06-3,74 (Bai. , >3,74 (Sangat Bai. Gambar 3. Kinerja Subsistem Agribisnis Kelapa Sawit Kinerja Subsistem Input Rosmiati et al. , . , mengungkapkan bahwa subsistem input . nput factor subsyste. disebut juga dengan subsistem agribisnis hulu atau dalam pengertian secara umum subsistem ini dikenal dengan subsistem pengadaan sarana produksi pertanian yang memiliki arti bahwa kegiatan yang berhubungan Kinerja Agribisnis Kelapa Sawit Rakyat di Provinsi Sumatera Utara Tennisya Febriyanti Suardi*. Zahraturrahmi dengan pengadaan sarana produksi pertanian yaitu, memproduksi dan mendistribusikan bahan, alat, dan mesin yang dibutuhkan usahatani atau budidaya pertanian . n farm agribusines. Oleh karena itu, maka dalam penelitian ini kinerja agribisnis dalam subsistem input dilihat dari akses dan ketersediaan input dalam hal bibit, pupuk, pestisida, alsintan, dan irigasi. Berdasarkan Gambar 3. diketahui bahwa subsistem input dalam pengembangan agribisnis kelapa sawit termasuk dalam kategori baik . Ketersediaan dan akses untuk mendapatkan input sarana produksi usahatani kelapa sawit dapat dikatakan tersedia dan mudah didapatkan. Namun, akses terhadap bibit memiliki nilai yang paling rendah dibandingkan dengan indikator lainnya dalam subsistem input. Hal tersebut dikarenakan dalam komoditas kelapa sawit, bibit termasuk dalam subsistem input yang terbilang mahal dan sulit untuk mendapatkan bibit bersertifikat karena harganya terbilang mahal bagi petani kelapa sawit rakyat. Pentingnya akses terhadap subsistem input bagi kelangsungan usahatani kelapa sawit juga dikemukakan oleh Judijanto . , yang mengemukakan bahwa penggunaan subsistem input yang diukur dari penggunaan bibit, penggunaan pupuk, penggunaan pestisida, serta peralatan pertanian yang digunakan juga perlu diseimbangkan dengan sumber daya manusia yang tersedia karena sumber daya manusia merupakan komponen penting dalam peningkatan produksi kelapa sawit karena keberhasilan kinerja subsistem input turut dipengaruhi oleh hasil kerja petani kelapa sawit yang baik. Kinerja Subsistem Produksi Kinerja subsistem produksi . n Ae far. yang dibahas adalah terdiri dari tenaga kerja, persentase tanaman menghasilkan, dan penerapan teknologi. Berdasarkan Gambar 3. diketahui bahwa secara umum rata-rata kinerja subsistem produksi . n Ae far. berada pada tingkatan kinerja yang termasuk dalam kategori baik . Hasil persentase tanaman menghasilkan merupakan nilai tertinggi pada subsistem produksi. Hal ini didukung oleh mayoritas tanaman kelapa sawit yang ada di lokasi penelitian merupakan jenis tanaman menghasilkan (TM) . mur tanaman >7 tahu. dan produktif. Kinerja Subsistem Penanganan Hasil Kinerja subsistem penanganan hasil kelapa sawit yang dibahas dalam penelitian ini terdiri dari variabel teknik pemanenan, teknik pengangkutan tandan buah segar ke tempat pengolahan hasil, dan teknik pengangkutan dari tempat pengolahan hasil ke truk. Berdasarkan Gambar 3. diketahui bahwa secara umum kinerja subsistem penanganan hasil memperoleh rata-rata nilai dalam kategori baik . Perolehan nilai tertinggi adalah pada variabel teknik pemanenan, dimana petani berpendapat bahwa teknik pemanenan yang diterapkan sudah sesuai dengan kebiasaan tanpa mengurangi kuantitas dan kualitas hasil panen. Menurut Rumbiati . , manajemen panen yang baik akan meningkatkan kuantitas dan kualitas kelapa sawit lebih baik. Keberhasilan pemanenan dapat menunjang pencapaian produktivitas tanaman kelapa sawit, sebaliknya kegagalan pemanenan dapat menghambat pencapaian produktivitas. Kinerja Subsistem Pemasaran Aktivitas pemasaran merupakan hal yang paling penting dalam sistem agribisnis. Tujuan dari pemasaran yaitu menjembatani apa yang diinginkan produsen dan konsumen dalam melengkapi proses produksi. Hampir seluruh aktivitas pemasaran membantu produsen dalam memahami keinginan konsumen (Iwasa. Kinerja subsistem pemasaran dibahas melalui indikator tujuan pemasaran petani kelapa sawit rakyat, yakni menjual ke tengkulak, menjual ke tempat penjualan tandan buah segar kelapa sawit dalam lingkup kecil dibandingkan dengan pabrik kelapa sawit (RAM), dan menjual ke koperasi. Berdasarkan Gambar diketahui bahwa secara umum kinerja subsistem pemasaran kelapa sawit memiliki kinerja yang baik . Kondisi penjualan tandan buah segar kelapa sawit secara umum menjual hasil produksi ke tengkulak . oke sawi. dibandingkan menjual ke RAM maupun koperasi. Kinerja Subsistem Penunjang Sistem agribisnis kelapa sawit yang sudah berjalan pada dasarnya perlu didukung oleh lembaga yang sudah ada. Namun, pada kenyataannya lembaga-lembaga penunjang tersebut masih kurang optimal Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3167-3174 Menurut Syarbiah et al. , . , keberadaan lembaga penunjang dalam mendukung pengembangan agribisnis sangat penting untuk menciptakan agribisnis yang tangguh dan kompetitif. Lembaga-lembaga penunjang tersebut sangat menentukan dalam upaya menjamin terciptanya integrasi agribisnis guna mewujudkan tujuan pengembangan agribisnis. Lembaga penunjang dalam penelitian ini, yaitu lembaga pemerintah, lembaga keuangan, lembaga penyuluhan, dam lembaga penelitian. Berdasarkan Gambar 3. diketahui bahwa kinerja subsistem penunjang pada agribisnis kelapa sawit berdasarkan rata-rata termasuk dalam kategori baik . Artinya, komponen-komponen dari subsistem penunjang yang meliputi peran dan akses terhadap lembaga pemerintah, peran dan akses terhadap lembaga keuangan, peran dan akses terhadap lembaga penyuluhan, serta peran dan akses terhadap lembaga penelitian termasuk dalam kategori baik. Akan tetapi, terdapat beberapa lembaga yang masih kurang optimal, namun penilaian kinerja tergolong cukup, yaitu lembaga penelitian dan lembaga KESIMPULAN Kinerja sistem agribisnis kelapa sawit termasuk dalam kategori baik . Kinerja sistem agribisnis dalam penelitian ini dianalisis melalui subsistem input, subsistem produksi, subsistem penanganan hasil, subsistem pemasaran, dan subsistem penunjang. Subsistem penanganan hasil . dipersepsikan petani lebih penting dan lebih diutamakan dari pada subsistem input . , subsistem produksi . , subsistem pemasaran . , dan subsistem penunjang . Subsistem penanganan hasil akan mempengaruhi kualitas tandan buah segar dan rendemen minyak sawit yang dihasilkan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada kinerja sistem agribisnis kelapa sawit, adapun saran yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu . pemasaran TBS dapat dilakukan dengan cara berkelompok sehingga kuantitas yang dibutuhkan oleh pabrik terpenuhi dan harga dijual lebih tinggi dibandingkan dengan harga tengkulak/bandar. peningkatan modal usahatani bisa dengan cara mengakses ke lembaga keuangan formal dan informal serta memahami mengenai prosedur akses begitu juga halnya dengan persyaratan yang perlu disediakan. sangat diharapkan adanya intervensi pemerintah dalam meningkatkan akses petani terhadap informasi pasar melalui perbaikan pusat informasi harga dan mencari pasar baru melalui kegiatan promosi atau peningkatan nilai tambah kelapa sawit serta perlunya penguatan peran kelembagaan tingkat petani dalam pengolahan dan pemasaran kelapa sawit agar dapat meningkatkan posisi tawar menawar petani melalui upaya peningkatan kemampuan petani dan peningkatan kerjasama yang baik. DAFTAR PUSTAKA