CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal KERATON YOGYAKARTA SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN DAN PELESTARIAN SENI TRADISIONAL Asep Anggi Dikarsa1. Tantri Monica 2. Rina Destiana3. Sani Yulianti4. Sofia Rosi5 1,2,3,4,5 Institut Pendidikan Indonesia Corresponding e-mail: adikarsa@institutpendidikan. Copyright A 2025 The Author This is an open access article Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4. 0 International License DOI: 10. 53866/jimi. Abstract The Yogyakarta Palace, as the center of Javanese culture, plays a crucial role in the education and preservation of traditional arts amidst the challenges of globalization. This study aims to examine the role of the Yogyakarta Palace as a center for traditional cultural education and arts preservation, focusing on traditional arts, community beliefs, and its appeal as a cultural tourism destination for students and tourists. Using a qualitative approach, this study combines literature studies and interviews with a courtier of the Yogyakarta Palace. The results show that the Yogyakarta Palace is not only a symbol of Javanese culture, but also carries out educational functions through training in traditional arts such as dance, karawitan, and Javanese script. Although globalization poses threats to local culture, the Yogyakarta Palace remains consistent in preserving traditions through arts and culture-based education. This study confirms that the Yogyakarta Palace maintains its Javanese cultural identity as part of its status as a student and privileged Keywords: Yogyakarta Palace, cultural education, traditional arts, student city, globalization Abstrak Keraton Yogyakarta, sebagai pusat kebudayaan Jawa, memiliki peran penting dalam pendidikan dan pelestarian seni tradisional di tengah tantangan globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Keraton Yogyakarta sebagai pusat pendidikan kebudayaan tradisional dan pelestarian seni, dengan fokus pada kesenian tradisional, kepercayaan masyarakat, dan daya tariknya sebagai destinasi wisata budaya bagi pelajar dan turis. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggabungkan studi literatur dan wawancara dengan seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keraton Yogyakarta tidak hanya menjadi simbol budaya Jawa, tetapi juga menjalankan fungsi pendidikan melalui pelatihan seni tradisional seperti tari, karawitan, dan aksara Jawa. Meskipun globalisasi membawa ancaman terhadap budaya lokal. Keraton Yogyakarta tetap konsisten melestarikan tradisi melalui pagelaran seni dan pendidikan berbasis budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa Keraton Yogyakarta mempertahankan identitas budaya Jawa sebagai bagian dari statusnya sebagai kota pelajar dan istimewa. Kata Kunci: Keraton Yogyakarta, pendidikan kebudayaan, seni tradisional, kota pelajar, globalisasi Hlm | 1237 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Pendahuluan Yogyakarta, yang dikenal sebagai Kota Pelajar, memiliki sejarah panjang sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Keberadaan Keraton Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menjadikannya simbol budaya Jawa yang kaya akan nilai tradisional. Keraton tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sultan, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pelestarian seni tradisional seperti tari, musik karawitan, dan aksara Jawa (Setyawati, 2. Julukan Kota Pelajar melekat pada Yogyakarta karena banyaknya lembaga pendidikan, baik modern maupun tradisional, yang berkembang sejak masa kolonial Belanda. Menurut Sugiyanto . Keraton Yogyakarta memiliki peran besar dalam membentuk kesadaran pendidikan masyarakat melalui pendidikan di tratag dan padepokan pada masa lampau (Sugiyanto, 2. Selain itu. Keraton Yogyakarta juga menjadi pusat pelestarian budaya Jawa melalui pagelaran seni tradisional dan upacara adat seperti Sekaten dan Grebeg, yang menarik perhatian pelajar, mahasiswa, dan turis dari dalam dan luar negeri. Di era globalisasi, budaya lokal menghadapi tantangan serius akibat masuknya budaya asing. Namun. Keraton Yogyakarta tetap mempertahankan tradisi dan kepercayaan Jawa melalui pendidikan budaya dan seni tradisional (Wibawa, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Keraton Yogyakarta sebagai pusat pendidikan kebudayaan tradisional dan pelestarian seni, dengan mengintegrasikan wawancara dengan abdi dalem untuk memahami bagaimana Keraton menghadapi tantangan globalisasi sambil tetap melestarikan identitas budaya Jawa. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dua metode utama: studi literatur dan Studi literatur dilakukan dengan mengkaji jurnal-jurnal ilmiah yang berfokus pada artikel-artikel yang membahas Keraton Yogyakarta, pendidikan kebudayaan, dan seni tradisional. Pencarian dilakukan dengan kata kunci seperti "Keraton Yogyakarta", "pendidikan kebudayaan tradisional", "seni tradisional Jawa", dan "kota pelajar". Literatur yang digunakan dipilih berdasarkan relevansi. Wawancara dilakukan dengan seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Ibu Siti, yang memiliki pengalaman dalam pelatihan budaya dan seni tradisional di Keraton. Wawancara dilakukan pada 15 Juli 2025 di Keraton Yogyakarta. Pertanyaan wawancara mencakup peran Keraton sebagai pusat pendidikan, jenis kesenian yang dilestarikan, kepercayaan masyarakat Yogyakarta, dan tantangan globalisasi terhadap pelestarian budaya. Data dari wawancara dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema utama, yang kemudian diintegrasikan dengan hasil studi literatur untuk membentuk pembahasan yang komprehensif. Hasil dan Pembahasan Peran Keraton Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan Kebudayaan Peran Keraton Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan Kebudayaan Berdasarkan wawancara dengan seorang abdi dalem. Keraton Yogyakarta memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan kebudayaan Sejak abad ke-18. Keraton telah menyelenggarakan pendidikan di tratag, yang mencakup pembelajaran tata cara, etika, dan budaya Jawa untuk anak-anak kerajaan dan masyarakat sekitar. Saat ini. Keraton menyelenggarakan pelatihan aksara Jawa, tari tradisional, dan musik karawitan untuk abdi dalem dan masyarakat umum. Pelatihan ini diadakan secara rutin, misalnya wayang orang setiap Sabtu, karawitan setiap Selasa, pagelaran wayang golek setiap Rabu, pagelaran wayang kulit setiap Kamis, tembang Jawa atau aksara Jawa setiap JumAoat dan latihan beksan setiap Minggu . Menurut Sugiyanto . , aura Keraton menciptakan kesadaran belajar di kalangan masyarakat, yang menjadi salah satu alasan Yogyakarta disebut sebagai Kota Pelajar. Pendidikan di Keraton tidak hanya berfokus pada aspek teknis seni, tetapi juga pada nilai-nilai filosofis Jawa seperti keselarasan, etika, dan kepekaan sosial (Sugiyanto, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Wibawa . , yang menyatakan Hlm | 1238 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal bahwa budaya lokal dapat menjadi sarana pendidikan karakter dan moral, terutama di tengah modernisasi (Wibawa, 2. Kesenian Tradisional di Keraton Yogyakarta Keraton Yogyakarta dikenal sebagai pusat pelestarian seni tradisional Jawa, termasuk tari, karawitan, wayang, dan teater. Setiap hari. Keraton menggelar pertunjukan seni yang berbeda. Pagelaran ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan seni, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat dan wisatawan tentang kekayaan budaya Jawa. Misalnya, tari Bedhaya mengandung nilai-nilai spiritual dan filosofis yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan (Setyawati, 2. Abdi dalem menjelaskan bahwa seni tradisional di Keraton tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan. AuSetiap gerakan tari atau nada karawitan mengandung makna filosofis yang mengajarkan kesabaran, kepekaan, dan harmoni,Ay ujarnya. Pagelaran seperti Sekaten dan Grebeg juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan kepada masyarakat. Kepercayaan Masyarakat Yogyakarta Kepercayaan masyarakat Yogyakarta, khususnya yang terkait dengan Keraton, merupakan perpaduan antara Islam, budaya Jawa, dan elemen Hindu-Buddha. Menurut abdi dalem, kepercayaan ini tercermin dalam upacara adat seperti Labuhan Merapi dan Grebeg, yang mengandung nilai spiritual tentang hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Penelitian Iswanto . menunjukkan bahwa Keraton Yogyakarta berhasil mengintegrasikan nilai-nilai Islam Jawa dengan tradisi lokal melalui media digital, seperti situs web dan media sosial, untuk menjangkau generasi muda (Iswanto, 2. Kepercayaan ini juga tercermin dalam arsitektur bangunan Keraton, seperti Masjid Gedhe Kauman, yang menggabungkan elemen Jawa dan Eropa (Akbar, 2. Bangunan-bangunan ini tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga simbolis, mencerminkan filosofi Jawa tentang harmoni dan keseimbangan. Daya Tarik Yogyakarta sebagai Kota Istimewa Yogyakarta sebagai Kota Istimewa menarik banyak pelajar, mahasiswa, dan turis untuk mengobservasi dan mempelajari budaya Jawa. Abdi dalem menyatakan. AuBanyak pelajar dan turis datang ke Keraton untuk melihat langsung pagelaran seni dan upacara adat. Ini menjadi daya tarik utama karena Yogyakarta menawarkan pengalaman budaya yang autentik. Ay Menurut data dari Dinas Kebudayaan DIY, ribuan wisatawan mengunjungi Keraton setiap tahun untuk menyaksikan pertunjukan seni dan museum budaya (Dinas Kebudayaan DIY, 2. Penelitian Kurniawati . menegaskan bahwa citra Yogyakarta sebagai Kota Pelajar tidak hanya berasal dari institusi pendidikan modern, tetapi juga dari warisan budaya Keraton yang mendukung iklim akademis (Kurniawati, 2. Keberadaan lebih dari 100 lembaga pendidikan di Yogyakarta semakin memperkuat status ini. Tantangan Globalisasi dan Upaya Pelestarian Globalisasi membawa tantangan besar terhadap pelestarian budaya lokal, termasuk di Yogyakarta. Abdi dalem menegaskan. AuTidak semua budaya bergeser. Di Keraton, kami sangat mempertahankan kesenian tradisional dan kepercayaan Jawa. Setiap pagelaran dan pelatihan adalah upaya untuk menjaga identitas Ay Keraton menggunakan pendekatan modern, seperti digitalisasi aksara Jawa dan promosi budaya melalui media sosial, untuk menjangkau generasi muda. Penelitian Wibawa . menunjukkan bahwa globalisasi mendorong budaya lokal menghadapi ancaman serius, tetapi Keraton Yogyakarta berhasil menjaga eksistensi budaya Jawa melalui pendidikan berbasis budaya lokal (Wibawa, 2. Misalnya, pelatihan aksara Jawa oleh komunitas Geberjawa Semesta Mahardhika menggunakan metode kreatif seperti Prahana untuk menarik minat anak-anak. Hlm | 1239 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Kesimpulan Keraton Yogyakarta memiliki peran sentral sebagai pusat pendidikan kebudayaan tradisional dan pelestarian seni di Yogyakarta. Melalui pelatihan seni tradisional, pagelaran budaya, dan upacara adat. Keraton tidak hanya melestarikan warisan budaya Jawa, tetapi juga memperkuat identitas Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Istimewa. Kesenian seperti tari Bedhaya, karawitan, dan jemparingan menjadi media pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai filosofis dan moral. Kepercayaan masyarakat Yogyakarta, yang merupakan perpaduan Islam Jawa dan tradisi lokal, tercermin dalam arsitektur dan upacara adat. Meskipun globalisasi membawa tantangan. Keraton Yogyakarta berhasil mempertahankan budaya melalui pendekatan tradisional dan modern, seperti digitalisasi dan promosi budaya. Saran