Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 251-258 Development of a Nanoparticle Solution from the Ethyl Acetate Fraction of Sungkai Leaves (Peronema canescens Jac. Sediaan Larutan Nanopartikel Dari Fraksi Etil Asetat Daun Sungkai (Peronema Canescens Jac. Barmi Hartesi a. Hestiary Ratih a*. Sabina Azahra Nugraha a a Departemen Teknologi Farmamsi. Fakultas Farmasi. Universitas Jenderal Achmad Yani. Cimahi. Jawa Barat Indonesia. *Corresponding Authors: hestiary. ratih@lecture. Abstract Sungkai leaves (Peronema canescens Jac. are known to contain secondary metabolite compounds such as alkaloids, polyphenols, flavonoids, quinones, and steroid-triterpenoids, which have potential as This study aims to determine the effect of the ratio of chitosan and NaTPP on the stability of nanoparticle solutions from the ethyl acetate fraction of sungkai leaves. Sungkai leaves were extracted using the maceration method with 70% ethanol, then fractionated using the liquid-liquid estraction method using n-hexane, ethyl acetate, and n-butanol solvents. The ethyl acetate fraction selected to be made into nanoparticle solutions used the ionic gelation method with variations in the ratio of chitosan:NaTPP consisting of 3 formulas, namely F1 . F2 . F3 . Characterization of the nanoparticle solution was carried out by organoleptic testing, measuring % transmittance, particle size with a Particle Size Analyzer (PSA), and measuring the zeta potential value. The results showed that F3 (Chitosan:NaTPP 20:. produced an average particle size of 953. 6 nm, a polydispersity index of 0,338, and a zeta potential of 43. mV, indicating relatively better stability compared to the other formulas. However, the percent transmittance obtained was still below the optimum . -100%), which was 68. In conclusion, increasing the chitosan:NaTPP ratio affected the environmental stability of the nanoparticles, and formula. F3 was the most stable formula in this study. Keywords: Sungkai Leaves. Ethyl Acetate Fraction. Ionic Gelation. Nanoparticles. Abstrak Daun sungkai (Peronema canescens Jac. diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, polifenolat, flavonoid, kuinon, dan steroid-triterpenoid, yang memiliki potensi sebagai imunostimulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan kitosan dan NaTPP terhadap stabilitas larutan nanopartikel dari fraksi etil asetat daun sungkai. Daun sungkai diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70%, kemudian difraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan n-butanol. Fraksi etil asetat dipilih untuk dibuat menjadi larutan nanopartikel menggunakan metode gelasi ionik dengan variasi perbandingan kitosan:NaTPP yang terdiri dari 3 formula yaitu F1 . F2 . , dan F3 . Karakterisasi larutan nanopartikel dilakukan dengan pengujian organoleptis, pengukuran % transmittan, ukuran partikel dengan Particle Size Analyzer (PSA), dan pengukuran terhadap nilai zeta potensial. Hal penelitian menunjukkan bahwa F3 (Kitosan:NaTPP 20:. menghasilkan ukuran partikel dengan rata-rata 953,6 nm, indeks polidispersitas 0. 338, serta zeta potensial 2 mV, yang menunjukkan stabilitas relatif lebih baik dibandingkan formula lain. Namun nilai % transmittan yang diperoleh masih dibawah standar optimum . -100%, yaitu sebesar 68,88%. Kesimpulannya, penambahan perbandingan kitosan:NaTPP berpengaruh terhadap stabilitas larutan nanopartikel, dan formula F3 menjadi formula yang paling stabil pada penelitian ini. Kata Kunci: Daun Sungkai. Fraksi Etil Asetat. Gelasi Ionik. Nanopartikel. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received: 30/10/2026. Revised: 12/01/2026 Accepted:13/01/2026. Available Online :31/01/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Keanekaragaman flora dan fauna Indonesia sangat luar biasa. Masyarakat memperoleh manfaat besar dari keanekaragaman hayati ini, terutama dalam hal masalah kesehatan. Tanaman sungkai (Peronema canescen. merupakan salah satu tanaman yang paling populer selama pandemi Covid-19 . Sungkai adalah tanaman asli Indonesia yang dapat ditemukan di berbagai wilayah Sumatra dan Kalimantan, termasuk Sumatra Barat. Riau. Jambi. Bengkulu. Lampung. Sumatra Selatan. Kalimantan Barat. Kalimantan Tengah. Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Studi etnobotani tentang sungkai menunjukkan bahwa bagian tanaman yang sering digunakan adalah daunnya . Daun sungkai (Peronema canescens Jac. secara tradisional dikenal sebagai obat untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengobati berbagai penyakit seperti malaria, cacar air, dan penyakit kulit . Kandungan metabolit sekunder dapat diperoleh melalui proses ekstraksi dan fraksinasi, di mana fraksinasi menghasilkan komponen yang lebih murni. Ekstrak daun sungkai diketahui mengandung metabolit sekunder Flavonoid, fenolik, alkaloid, steroid dan triterpenoid. Sementara fraksi etil asetat mengandung flavonoid, alkaloid, steroid, dan triterpenoid . Alasan pemilihan fraksi etil asetat adalah karena kandungan metabolit sekundernya. Fraksi etil asetat daun sungkai dipilih karena fraksi etil asetat memiliki kandungan senyawa flavonoid. Berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa senyawa flavonoid dalam daun sungkai dapat digunakan sebagai obat, meningkatkan radikal oksigen dan produksi antibodi . Untuk meningkatkan efektivitas dan stabilitas senyawa aktif dalam daun sungkai, teknologi nanopartikel dikembangkan menggunakan metode gelasi ionik dengan kitosan dan natrium tripolifosfat (NaTPP) . Kitosan berfungsi sebagai pembentuk matriks dan pengatur pelepasan, sedangkan NaTPP berfungsi sebagai agen pengikat silang. Kombinasi kedua bahan ini menghasilkan nanopartikel yang stabil, biokompatibel, dan mudah diproduksi . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perbandingan kitosan dan NaTPP terhadap stabilitas larutan nanopartikel fraksi etil asetat daun Metode Penelitian Rancangan Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Studi ini dimulai dengan pengumpulan bahan, ekstraksi daun sungkai, dan formulasi larutan nanopartikel dari fraksi etil asetat dan fraksi air ekstrak daun sungkai dengan tiga variasi rasio kitosan dan natrium tripolifosfat (NaTPP). Uji stabilitas meliputi uji organoleptik, uji % transmittan, uji ukuran partikel menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), dan uji potensial zeta pada ketiga formulasi. Peralatan dan Bahan Penelitian Peralatan yang digunakan meliputi botol macerasi, rotary evaporator (HeidolpA), waterbath, alumunium foil, plastik pembungkus, hot plate stirrer (Thermo SP88857105A), stopwatch, timbangan digital (ShimadzuA), magnetic stirrer, mikropipet (DragonlabA), ultrasonik (KrisbowA), spektrofotometer UV-Vis (ShimadzuA), cuvette. Particle Size Analyzer (HoribaA), dan peralatan kaca lainnya yang umum digunakan di laboratorium Teknologi Farmasi di UNJANI. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Bahan-bahan yang digunakan meliputi daun sungkai (Peronema canescens Jac. , etanol 70% dan 96%, n-heksana, asetat etil, n-butanol, kitosan, larutan asam asetat, dan natrium tripolifosfat (NaTPP). Pemeriksaan Karakteristik Sampel Pengamatan Makroskopis, karakterisasi fisik seperti warna, bau, dan rasa simplisia daun sungkai diamati makroskopis dengan organoleptis. Pembuatan Ekstrak Daun Sungkai Sebanyak 500 g simplisia dimaserasi menggunakan etanol 70%. Etanol 70% dipilih karena polaritasnya, yang memungkinkan ekstraksi berbagai metabolit sekunder. Sampel direndam selama 6 jam dengan pengadukan berkala, dibiarkan selama 18 jam, disaring, dan proses diulang hingga diperoleh filtrat yang jernih. Ekstrak etanol yang kental diperoleh dengan menguapkan campuran macerat menggunakan rotary evaporator . Ae50 AC). Ekstrak kental daun sungkai dihitung rendemennya . Proses Fraksinasi Pelarut dengan kepolaran bertingkat seperti n-heksan, etil asetat, dan n-butanol digunakan dalam penelitian ini . Ekstrak etanol daun sungkai kental dilarutkan dengan air panas, diaduk hingga encer dan homogen dan dimasukkan ke dalam corong pisah. Ekstraksi cair-cair dilakukan hingga mendapatkan hasil yang jernih pada tiap pelarut dengan tujuan metabolit sekunder yang terkandung benar-benar terpisah satu sama lain. Setelah ekstrak dimasukkan ke dalam corong pisah ditambahkan pelarut n-heksan . , hasil fraksinasi lapisan bawah berupa pelarut air di fraksinasi kembali dengan pelarut etil asetat . , hasil fraksinasi lapisan bawah berupa pelarut air difraksinasi kembali dengan pelarut n-butanol . Fraksinasi menghasilkan fraksi n-heksan, etil asetat, n-butanol dan pelarut sisa yaitu air dipekatkan menjadi fraksi Sebagian hasil dari fraksi kental etil asetat dilakukan pengujian penapisan fitokimia . Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Sungkai Analisis fitokimia kualitatif dilakukan untuk alkaloid, flavonoid, tanin, polifenol, kuinon, saponin, steroid, triterpenoid, monoterpen, dan seskuiterpen . Formulasi Nanopartikel Pada tahap awal pembuatan larutan nanopartikel, disiapkan beberapa larutan pendukung, yaitu larutan kitosan 0,1%, larutan natrium tripolifosfat (NaTPP) 0,2%, larutan Tween 80 0,5%, serta larutan fraksi etil asetat. Larutan kitosan 0,1% dibuat dengan melarutkan 0,1 g kitosan dalam 100 mL larutan asam asetat 1% menggunakan magnetic stirrer hingga diperoleh larutan homogen . Selanjutnya, larutan NaTPP 0,2% disiapkan dengan menimbang 2 g natrium tripolifosfat dan melarutkannya dalam 100 mL aqua bidestilata menggunakan magnetic stirrer . Larutan Tween 80 0,5% dibuat dengan memipet 0,5 mL Tween 80, kemudian dilarutkan dalam 100 mL aqua bidestilata hingga tercampur sempurna . Sementara itu, larutan fraksi etil asetat disiapkan dengan menimbang 0,5 g fraksi etil asetat, kemudian dilarutkan dalam 50 mL etanol 96% dan diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 1 jam hingga larutan homogen. Larutan nanopartikel dibuat menjadi 3 formula dengan perbedaan tiap formula yaitu terletak pada perbandingan kitosan dengan NaTPP. Perbandingan kitosan : NaTPP dapat dilihat pada tabel 1. Jumlah kitosan lebih banyak dibandingkan NaTPP dikerenakan kitosan merupakan polimer pembentuk matriks, sementara NaTPP berfungsi sebagai crosslinker. Formula larutan nanopartikel dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 1. Perbandingan Kitosan dengan NaTPP Formula Perbandingan Kitosan : NaTPP 10 : 1 20 : 1 Formulasi Larutan Nanopartikel Larutan fraksi etil asetat dicampurkan dengan larutan kitosan 0,1% secara tetes demi tetes dengan buret menggunakan magnetic stirrer pada kecepatan 1500 rpm selama 2 jam, selanjutnya dimasukkan larutan NaTPP 0,2% secara tetes demi tetes dengan buret menggunakan magnetic stirrer pada kecepatan 1500 rpm Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. selama 20 jam. Kemudian campuran larutan di ultrasonic selama 5 menit dengan suhu 45Ac menggunakan ultrasonic system hingga terbentuk larutan nanopartikel. Tabel 2. Formula Larutan Nanopartikel Bahan Larutan Fraksi Etil Asetat Kitosan 0,1% NaTPP 0. F1 . L) F2 . L) F3 . L) Karakterisasi Nanopartikel Organoleptis Pengujian ini dilakukan untuk melihat warna dan bentuk larutan nanopartikel dari fraksi etil asetat daun sungkai Pengujian % Transmittan Pengujian % transmittan menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk mengukur kejernihan sediaan larutan nanopartikel fraksi etil asetat daun sungkai. Diukur pada 650 nm panjang gelombang . Menentukan Ukuran dan Distribusi Nanopartikel Menentukan ukuran dan distribusi nanopartikel fraksi etil asetat daun sungkai menggunakan Particle Size Analyzer (PSA). 1 mL sediaan nanopartikel fraksi etil asetat daun sungkai dimasukkan ke dalam kuvet. Selanjutnya kuvet sampel dimasukkan ke dalam holder sampel dan diukur . Hasil yang diperoleh berupa kurva distribusi ukuran partikel . Pengukuran Zeta Potensial Pengukuran zeta potensial menggunakan zeta sizer, pengukuran dilakukan terhadap nilai potensial Pengujian Stabilitas Untuk menguji stabilitas nanopartikel, sampel disimpan pada suhu ruang selama 28 hari. Setelah itu sampe diuji % transmittan, ukuran larutan nanopartikel dan zeta potensial secara berkala setiap 7 hari untuk mengetahui apakah terdapat perubahan ukuran nanopartikel dan terjadi pengendapan. Hasil dan Pembahasan Hasil pengujian Makroskopis Simplisia Daun Sungkai (Peronema canescens Jac. Hasil identifikasi secara makroskopis simplisia daun sungkai meliputi warna, bau dan rasa dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Pengujian Makroskopis Simplisia Daun Sungkai (Peronema canescens Jac. Parameter Pemeriksaan Warna Bau Rasa Hasil Hijau kecoklatan Berbau khas Pahit Hasil % Rendemen Ekstrak Daun Sungkai Ekstrak daun sungkai dibuat dengan metode maserasi. Pemilihan metode maserasi dikarenakan pengujian dan alat yang dibutuhkan sederhana, dan tidak menggunakan pemanasan untuk mencegah penguraian senyawa yang terkandung. Selanjutnya pelarut diuapkan menggunakan rotary evaporation dan diuapkan kembali pada water bath hingga diperoleh ekstrak kental. Hasil dan jumlah rendemen ekstrak daun sungkai dapat dilihat pada tabel 4. Ekstrak etanol daun sungkai menghasilkan nilai rendemen 11,938%. Nilai rendemen dinyatakan baik apabila nilainya >10% Nilai rendemen berhubungan dengan jumlah kandungan bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan. Semakin tinggi nilai rendemen, semakin banyak senyawa bioaktif yang berhasil tersari . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 4. Hasil % Rendemen Ekstrak Daun Sungkai Ekstrak Ekstrak etanol daun sungkai Bobot Ekstrak . % Rendemen Hasil Fraksinasi Ekstrak Daun Sungkai Ekstrak yang diperoleh dilakukan fraksinasi, fraksinasi menghasilkan fraksi n-heksan, etil asetat, nbutanol, serta fraksi air sebagai fraksi sisa. Fraksi etil asetat daun sungkai dipilih karena fraksi etil asetat memiliki kandungan senyawa flavonoid. Berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa senyawa flavonoid dalam daun sungkai dapat digunakan sebagai obat, meningkatkan radikal oksigen dan produksi antibodi . Tabel 5 menunjukkan hasil Fraksinasi Tabel 5. Hasil Fraksinasi Ekstrak Daun Sungkai Nama Fraksi Fraksi n-heyksan Fraksi eytil aseytat Fraksi n-buytanol Fraksi air Bobot fraksi . 2,06 9,70 4,63 29,52 % Rendemen 3,45 16,25 7,75 49,45 Hasil Penapisan Fitokimia Fraksi Etil Asetat Daun Sungkai Fraksi etil ase tat dilaku kan penapisan fitokimia. Tabel 6 menunjukkan hasil penapisan fitokimia fraksi etil asetat daun sungkai. Hal ini sesuai dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya menyatakan bahwa fraksi etil asetat daun sungkai mengandung senyawa Alkaloid. Tannin. Polifenolat. Flavonoid. Kuinon, dan Steroid-Triterpenoid . Akan tetapi pada penelitian ini tidak terdapat senyawa tannin, faktor kemungkinan yang mempengaruhi adalah kepekaan pereaksi dan interferensi senyawa lain serta terdegradasinya tanin selama proses fraksinasi. Tabel 6. Hasil Penapisan Fitokimia Fraksi Etil Asetat Daun Sungkai Senyawa Alkaloid Tanin Polifenolat Flavonoid Kuinon Saponin Monoterpenoid-Seskuiterpenoid Steroid-Triterpenoid Hasil Ke terangan : ( ) Menunjuk kan senyawa yang terkandung (-) Me nunjukkan senyawa yang tidak terkandung Sifat Organoleptis Formula Nanopartikel Berdasarkan hasil uji organoleptis, formula larutan nanopartikel (F1. F2. memiliki karakteristik fisik yang berbeda. F1 bewarna keruh. F2 agak jernih, dan F3 Jernih. Penigkatan kejernihan ini sejalan dengan peningkatan jumlah kitosan pada tiap formula. Hasil ini juga didukung dari nilai %Transmitan yang Uji Stabilitas Jangka Pendek Pada Suhu Ruang Uji stabilitas larutan nanopartikel yang terdiri dari pengujian % transmittan, pengukuran ukuran partikel dan pengukuran terhadap zeta potensial. Berdasarkan hasil penelitian bahwa formula 1 (F. hanya dilakukan uji stabilitas hingga hari ke-7, dikarenakan pada hari ke-7 larutan terdapat endapan atau mengalami flokulasi yang kemudian menyebabkan stabilitas fisik yang buruk. Endapan terjadi karena larutan nanoaprtikel yang tidak stabil dan fraksi yang sudah pecah. Hasil pengujian % transmittan larutan nanopartikel yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 7% - 69%. Berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa % transmittan yang baik adalah 80-100% . Gambar 1 menunjukkan hasil pengujian % transmittan larutan nanopartikel. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Uji Transmittan (%) Formula Gambar 1. Diagram Batang % Transmittan Larutan Nanopartikel Ukuran partikel yang termasuk kedalam kategori nanopartikel adalah 10-1000 nanometer . Berdasarkan hasil penelitian bahwa larutan yang memiliki ukuran nanopartikel adalah larutan F3. Gambar 2 menunjukkan hasil ukuran partikel larutan nanopartikel. Perbandingan kitosan dan NaTPP yang digunakan sangat berpengaruh terhadap ukuran partikel yang dihasilkan. Ukuran partikel yang paling kecil adalah dengan penggunaan kitosan yang lebih banyak dengan perbandingan kitosan dan NaTPP yaitu 20:1. Ukuran Partikel . Formula Gambar 2. Diagram Batang Ukuran Partikel Larutan Nanopartikel Larutan nanopartikel yang didapatkan dengan kata lain sudah memenuhi syarat ukuran nanopartikel memiliki indeks polidispersitas sebesar 0. Indeks polidispersitas menggambarkan distribusi ukuran partikel. Rentang ukuran indeks polidispersitas yaitu antara 0 hingga 1. Nilai indeks polidispersitas yang mendekati nol menunjukkan distribusi ukuran partikel yang homogen atau seragam, sedangkan nilai yang melebihi 0,5 mengindikasikan tingkat heterogenitas partikel yang tinggi . Gambar 3 menunjukkan diagram batang Indeks Polidispersitas. Indeks Polidispersitas Formula Gambar 3. Diagram Batang Indeks Polidispersitas Zeta potensial merupakan salah satu parameter yang dapat mempengaruhi stabilitas partikel. Idealnya zeta potensial memiliki ukuran standar /- 30 mV . Jika nilai zeta tinggi secara elektrik akan bersifat stabil. Jika nilai zeta rendah akan cenderung menggumpal atau mengalami flokulasi yang kemudian menyebabkan stabilitas fisik buruk. Dari hasil pengujian yang sudah dilakukan bahwa hasil zeta potensial yang didapat adalah -0. 2 mV. Gambar 4 menunjukkan hasil pengukuran zeta potensial. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Zeta Potensial . V) Formula Gambar 4. Diagram Batang Zeta Potential Larutan Nanopartikel Berdasarkan nilai zeta potensial yang dihasilkan selama 28 hari penyimpanan, setiap formula memiliki nilai zeta potensial yang berbeda. Perbedaan nilai zeta potensial ini dipengaruhi oleh stabilitas Formula 3 memiliki stabilitas yang lebih baik dibandingkan formula lainya hal ini kemungkinan disebabkan oleh jumlah kitosan yang banyak terdapat dalam formula 3. Jumlah kitosan yang berlebih ini menyebakan muatan amino positf sehingga meningkatkan tolakan elektrostatik antar partikel dan meningkatkan stabilitas. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, perbandingan kitosan dan Natrium Tripolifosfat (NaTPP) mempengaruhi dari hasil stabilitas formula. Formula yang paling stabil adalah F3 dengan perbandingan Kitosan dan Natrium Tripolifosfat (NaTPP) 20:1. Meskipun F3 menunjukkan stabilitas elektrokinetik tertinggi . itunjukkan oleh zeta potential 43. 2 mV), ukuran partikel yang dihasilkan masih berada di batas atas skala nano . 6 n. dan kejernihan sediaan belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan optimasi lebih lanjut, misalnya dengan variasi kecepatan pengadukan, waktu sonikasi, atau penambahan surfaktan, untuk mendapatkan nanopartikel yang lebih kecil, homogen, dan Konflik Kepentingan Penelitian ini dilakukan secara independent dan objektid berdasarkan metode ilmiah standar, dengan analisis data yang dilakukan secara empiris tanpa intervensi eksternal atau konflik kepentingan. Integritas ilmiah dijaga melalui dokumentasi menyeluruh dan analisis transparan, dengan seluruh temuan didasarkan pada bukti yang valid. Ucapan Terimkasih Penulis menyampaikan terimakasih kepada Universitas Jenderal Achmad Yani atas dukungan fasilitas, serta semua pihak yang berkontribusi dalam penelitian ini. References