KEPRIBADIAN TOKOH THEO DALAM NASKAH DRAMA PILU KARYA ENNY ASRINAWATI: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA *Nurhaliza Amanda1. Oky Akbar2. Ade Bayu Saputra3 Universitas Jambi123 *Corresponding author Email: nurhalizamanda25@gmail. Abstrak Naskah drama Pilu karya Enny Asrinawati menghadirkan konten psikologis yang kuat pada tokoh Theo sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepribadian tokoh Theo dengan menerapkan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yakni struktur dan dinamika kepribadian. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan jenis kualitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa tokoh Theo dipengaruhi oleh struktur kepribadian dan dinamika kepribadian yang dilihat dari dialog, narasi, dan respons Theo terhadap dialog tokoh lain. Struktur kepribadian id, ego, dan superego muncul dari dalam diri Theo. Theo dikendalikan oleh kepribadian id dalam bentuk keinginan untuk mendapat kenikmatan salah satunya ingin dibanggakan oleh orang tuanya. Namun, kepribadian ego dalam wujud prinsip realitas hadir dalam diri Theo yang membuatnya menahan segala keinginan tersebut. Nilai moral yang merupakan konten kepribadian superego diwujudkan dalam upaya Theo mengesampingkan kepentingan pribadi dengan menjadi orang yang pertama membela adiknya dan melakukan segala perintah orang tuanya. Pada aspek dinamika kepribadian. Theo berusaha untuk mempertahankan kehidupannya dengan memenuhi hasrat yang diistilahkan dengan insting Tetapi, tokoh Theo juga memiliki kecemasan yang tinggi karena mengalami hidup yang penuh kesengsaraan sehingga menghadirkan insting kematian dalam dirinya. Kata kunci:kepribadian tokoh, naskah drama Abstract The Pilu drama script by Enny Asrinawati presents strong psychological content to Theo's character, so this study aims to describe Theo's personality by applying Sigmund Freud's psychoanalysis theory, namely the structure and dynamics of personality. The research method used is descriptive with a qualitative type. The results of the study prove that Theo's character is influenced by personality structure and personality dynamics as seen from the dialogues, narrative, and Theo's responses to the dialogues of other characters. The structure of the id, ego, and superego emerges from within Theo. Theo is controlled by id's personality in the form of the desire to get pleasure, one of which is to be proud of by his parents. However, the personality of the Ego in the form of the principle of reality is present in Theo which makes him resist all these desires. Moral values which are the content of the Superego personality are manifested in Theo's efforts to put aside personal interests by being the first to defend his younger sibling and do everything his parents order. In the aspect of personality dynamics. Theo tries to maintain his life by fulfilling desires which are termed life instincts. However. Theo's character also has high anxiety because he has experienced a life full of misery, so that he has a death instinct. Keywords:character personality, drama script PENDAHULUAN Kepribadian tokoh dalam karya sastra menjadi hal yang sangat menarik untuk Menariknya karena unsur-unsur dalam karya sastra salah satunya kepribadian tokoh dibentuk dari pemikiran, imajinasi, dan ekspresi pengarang. Hal ini berkaitan dengan konsep karya sastra yang tidak hanya menggambarkan realitas kehidupan secara objektif, tetapi berfungsi sebagai tempat pengungkapan gagasan, pemikiran, kreasi, dan imajinasi pengarang (Novitasari & Anggraini, 2. Bahkan, kehadiran karya sastra dijadikan sebagai alternatif berekspresi (Tawaqal et al. , 2. Karya sastra yang ditulis oleh pengarang banyak mengangkat tema yang isinya memuat nilai feminis dan psikologis (Nugroho, 2. Sebagai alternatif berekspresi, karya sastra memiliki tema dengan konten yang memuat nilai-nilai kehidupan termasuk nilai psikologis. Oleh sebab itu, diperlukan tinjauan psikologi terhadap karya sastra yang berfokus pada kepribadian Secara psikologis, kepribadian individu merupakan prediksi dari kondisi jiwa yang dialaminya, yaitu rasa senang, sedih, khawatir, dan cemas. Ada banyak karya sastra yang menceritakan psikologis tokoh yang terganggu baik itu dari sudut pandang sosial, mental, dan Hal ini karena tokoh memiliki nafsu, perasaan, dan hidup di lingkungan manusia yang didalamnya terdapat cerita yang digunakan pengarang untuk mengembangkan watak tokoh tersebut (Matulessy, 2. Tokoh utama menjadi sasaran pengarang untuk memperlihatkan kondisi kejiwaan yang terganggu. Peristiwa yang dialami tokoh utama mengarah pada suatu persoalan yang memengaruhi perasaannya sehingga menyertakan psikologi tokoh (Nurkamila et , 2. Salah satu karya sastra yang berfokus pada kepribadian dari psikologis tokoh adalah naskah drama. Naskah drama lahir dari gagasan pengarang yang memiliki empiris terkait kehidupan manusia di dunia nyata (Devi et al. , 2. Naskah drama adalah salah satu karya sastra yang penting untuk dijadikan pementasan sebagai acuan untuk memerankan tokoh dalam drama (NisaAo & QurAoani, 2. Naskah drama harus diproduksi dengan baik agar bisa dipentaskan dan dinikmati penonton (Mikaresti & D. , 2. Hal ini karena naskah drama merupakan karya sastra yang populer dan dapat dijadikan pertunjukan teater serta dialog antar tokoh saling terhubung untuk menciptakan plot yang dapat dinikmati oleh penonton dan pembaca (Wisudawati & Faznur, 2. Dengan demikian, naskah drama menjadi salah satu karya sastra yang dibuat untuk dipentaskan dan harus diproduksi dengan baik. Naskah drama yang memiliki penyajian cerita dengan tokoh yang terhubung dengan alur dapat menarik banyak pembaca. Berhubungan dengan maraknya kerusakan kondisi kejiwaan yang dialami remaja saat ini, dibuktikan dengan hasil survei I-NAMHS yang menyatakan bahwa terdapat hampir 35% atau setara 15,5 juta remaja Indonesia berusia 10-17 tahun terdiagnosis masalah kesehatan jiwa (Wahdi, 2. Oleh sebab itu, naskah drama yang menceritakan tokoh dengan masalah kondisi kejiwaan yang sama akan menarik banyak pembaca dan dapat dikaji dengan pendekatan psikologi sastra. Psikologi sastra adalah refleksi psikologis yang terangkum dalam bentuk karya sastra (Silviandari et al. , 2. Psikologi sastra menjadi interdisipliner dari psikologi yang berfokus pada kejiwaan dan sastra yang berupa imajinasi pengarang sehingga membentuk satu kesatuan (Jannah & Devi, 2. Psikologi sastra memandang karya sastra sebagai kegiatan yang berhubungan dengan kejiwaan (Setiaji, 2. Psikologi dalam karya sastra berperan sangat penting karena hal utama yang menjadi konten dari karya sastra adalah manusia dengan seluruh kegiatannya (Arianto, 2. Dengan demikian, karya sastra dapat dikaitkan dengan sudut pandang kejiwaan yang dialami oleh tokoh. Latar belakang penelitian psikologi sastra disebabkan oleh adanya asumsi bahwa karya sastra menjadi produk kejiwaan dari gagasan yang berasal dari imajinasi pengarang (Wandira et , 2. Asumsi tersebut menjadi sebuah realitas dalam karya sastra sehingga banyak karya sastra yang dapat diteliti dengan menggunakan tinjauan psikologi sastra. Analisis kepribadian dalam karya sastra dapat dilakukan dengan menerapkan teori psikoanalisis oleh Sigmund Freud. Dalam teorinya. Freud menggolongkan kepribadian menjadi tiga topik, yakni struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian. Struktur kepribadian sesuai dengan pemahaman Freud terdiri dari tiga sistem utama, yaitu id, ego, dan superego (Hall, 2. Sedangkan dinamika kepribadian terbagi menjadi naluri dan kecemasan. Freud melakukan psikoanalisis terhadap seseorang secara langsung dengan menggunakan tiga struktur kepribadian. Namun, teori Freud digunakan oleh peneliti untuk menganalisis data yang berupa teks, yakni dialog dalam naskah drama. Setiap tokoh memiliki dialog yang menjadi salah satu unsur untuk melihat kepribadian tokoh yang akan dianalisis. Indikator yang peneliti gunakan adalah struktur kepribadian dan dinamika kepribadian tokoh dalam naskah drama sesuai dengan teori Freud. Penelitian ini akan melihat struktur id, ego, dan superego serta insting dan kecemasan dari dialog tokoh, respons tokoh terhadap dialog tokoh lain, dan narasi yang disampaikan oleh pengarang. Id merupakan struktur kepribadian yang pertama dan melekat dalam diri individu sejak Kepribadian id bertujuan untuk memperoleh energi psikis yang merupakan dasar untuk menggerakkan sistem ego dan superego(Rachman & Wahyuniarti, 2. Posisi id terletak pada bagian yang tak sadar dalam istilah insting, implus, dan drives. Freud menjelaskan bahwa id sebagai bentuk nyata dari psikis sejati. Maksudnya, bukan hanya insting-insting dan refleks saja yang dibawa sejak lahir, tetapi citra-citra yang disebabkan oleh ketegangan-ketegangan juga melekat sejak lahir (Hall, 2. Dalam prosesnya, id menerapkan prinsip kenikmatan atau kepribadian yang cenderung berupaya untuk menghindari rasa sakit dan mendapatkan kepuasan. Ego merupakan hasil perkembangan dari id. Posisi ego menengahi bagian tak sadar dan bagian sadar. Ego menerapkan prinsip realitas atau kepribadian yang merupakan tuntutan struktur id untuk menunda upaya dalam memperoleh kenikmatan karena ditegur oleh kenyataan. Proses ego membuat seseorang berpikir secara realistis dengan pengujian-pengujian realita terhadap sesuatu apa yang sudah direncanakan. Ego bertugas untuk merespons antara suatu kenikmatan atau kebutuhan utama (Warnita et al. , 2. Freud mengatakan bahwa prinsip realitas menuntun pada kenikmatan, meski individu harus mengalami rasa ketidaknyamanan ketika mencari realitas (Hall, 2. Prinsip realitas berjalan berdasarkan proses sekunder. Proses sekunder berfokus pada merancang suatu rencana dari pemikiran untuk menemukan realitas di dalamnya. Superego adalah struktur kepribadian yang memiliki prinsip idealistik (Rachman & Wahyuniarti, 2. Analogi dari superego adalah hati nurani. Hati nurani dapat menilai baik atau buruk dari suatu hal. Berbanding terbalik dengan id, superego berhubungan dengan moral yang mematuhi perintah dan larangan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa superego menerapkan konsep idealis yang berhubungan dengan moral untuk mematuhi aturan, perintah, dan larangan. Insting dan kecemasan termasuk bagian dari dinamika dalam kepribadian. Insting adalah bentuk kejiwaan yang mengolah hasrat dan keinginan memuaskan diri dalam kebutuhan tubuh. Insting bertugas untuk memudarkan rangsangan jasmani sehingga menghilangkan rasa tidak Insting dalam diri manusia terbagi menjadi dua bagian, yakni insting hidup dan insting mati (Lairabu, 2. Insting hidup berhubungan dengan insting seksual setiap individu, sedangkan insting mati ditimbulkan karena memiliki suatu keinginan lepas dari kehidupan sehingga individu meninggal dunia. Berbeda dengan kecemasan. Freud menyimpulkan kecemasan menjadi tiga bagian yakni kecemasan realitas, kecemasan neurotis, dan kecemasan Kecemasan realitas disebabkan oleh ancaman dan bahaya dari luar. Kecemasan neurotis disebabkan adanya insting yang mendorong individu untuk bersifat agresif. Kecemasan moral merupakan kecemasan hati nurani (Ardiansyah et al. , 2. Selain itu, kecemasan dapat membuat penderita kesulitan untuk mengerjakan sesuatu karena kehilangan konsentrasi (Nugraha, 2. Kecemasan akan terjadi jika beberapa faktor seperti bahaya dari luar, sifat agresif, dan moralitas terjadi secara berlebihan serta membuat kekhawatiran yang tidak biasa. Terdapat tiga penelitian terdahulu yang mengkaji kepribadian tokoh utama dalam karya sastra, penelitian pertama ditulis oleh Rachman dan Wahyuniarti . dengan judul AuStruktur Kepribadian Tokoh Lilian dalam Novel Pink Cupcake Karya Ramya Hayasrestha Sukardi (Sastra Anak dalam Perspektif Psikoanalisis Sigmund Freu. Hasil dari penelitian tersebut mendeskripsikan keadaan psikologis tokoh Lilian dipengaruhi oleh struktur kepribadian id, ego, dan superego yang bekerja dengan baik sesuai perkembangannya sehingga tokoh Lilian dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan bertumbuh dengan sikap positif. Penelitian kedua ditulis oleh Nurkamila. Suntoko, dan Pratiwi . dengan judul Analisis Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Gemaya Karya Risma Ridha Anissa (Tinjauan Psikologi Sastr. Hasil penelitian mendeskripsikan tokoh Gemaya memiliki naluri hidup dan mati serta kecemasan moral yang dialami cukup besar karena memiliki rasa iri terhadap orang lain. Penelitian ketiga ditulis oleh Arianto . dengan judul Tinjauan Psikologi Tokoh pada Naskah Drama Bulan Bujur Sangkar Karya Iwan Simatupang. Penelitian ini berfokus pada setiap tokoh yang ada dalam naskah drama dengan meninjau struktur id, ego, dan superego yang kemudian memberikan pengaruh kepada peserta didik. Ketiga penelitian tersebut sama-sama menggunakan kajian psikologi sastra untuk meneliti objek yang berupa karya sastra dengan berfokus pada kepribadian tokoh yang dilihat dari struktur kepribadian yang berupa id, ego, dan superego. Tiga penelitian tersebut memberi dorongan kepada peneliti untuk meneliti naskah drama menggunakan kajian psikologi sastra pada karya sastra yang dalam hal ini adalah naskah drama berjudul Pilu karya Enny Asrinawati dengan harapan dapat mengungkapkan dan mendeskripsikan secara detail terkait kepribadian tokoh utama dari aspek struktur dan dinamika. Salah satu karya sastra yang berupa refleksi psikologis atau aktivitas kejiwaan adalah naskah drama yang berjudul Pilu karya Enny Asrinawati. Diambil dari buku antologi naskah drama dengan judul Bayang. an yang diterbitkan oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (Putra et , 2. Naskah drama Pilu merupakan salah satu karya sastra yang dibuat untuk dipentaskan. Cerita dalam naskah drama tersebut berfokus pada kondisi psikologi tokoh. Menceritakan kehidupan malang yang dialami oleh anak sekolah karena hidup dalam keluarga yang berbeda dengan keluarga lainnya dalam hal kasih sayang orang tua. Theo yang sudah lama tertekan karena ayah dan ibu yang tidak memperlakukannya sebagai seorang anak. Oleh karena itu, naskah drama berjudul Pilu layak untuk diteliti terkait kepribadian tokoh Theo dengan menggunakan teori psikoanalisis oleh Freud. Naskah drama Pilu karya Enny Asrinawati dianalisis dengan tinjauan psikologis yang berfokus pada kepribadian tokoh Theo. Kemampuan peneliti sangat dibutuhkan untuk menganalisis psikologi tokoh dalam karya sastra sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepribadian tokoh naskah drama Pilu dengan tinjauan psikologi sastra. Untuk itu, penelitian ini berfokus untuk mengetahui AuBagaimana kepribadian tokoh Theo dalam naskah drama Pilu karya Enny Asrinawati?Ay Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mendalam atas analisis kepribadian tokoh dalam naskah drama tersebut. Sesuai uraian tersebut, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul AuKepribadian Tokoh Theo dalam Naskah Drama Pilu Karya Enny Asrinawati: Tinjauan Psikologi Sastra. METODE Jenis penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah jenis kualitatif. Penelitian kualitatif bertumpu pada makna yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan nilai variabel dengan mengesampingkan perbandingan dengan variabel lainnya (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini, peneliti menjadi instrumen kunci penelitian dengan menggunakan metode Metode deskriptif dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan prosedur mendeskripsikan kenyataan yang ada dan dianalisis (Fitri et al. , 2. Metode deskriptif yang peneliti gunakan berperan penting untuk mencapai tujuan penelitian karena hasil dari penelitian ini adalah deskripsi kepribadian tokoh dalam naskah drama. Proses pengumpulan data dalam jenis kualitatif deskriptif harus menggunakan prosedur yang sudah ditentukan sehingga mencapai tujuan penelitian. Teknik studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan data dan mengkaji teori-teori dari berbagai sumber (Adlini et al. , 2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang memusatkan peneliti untuk menghimpun informasi dari dokumen-dokumen. Objek utama penelitian ini adalah naskah drama Pilu karya Enny Asrinawati, sedangkan objek formal yang peneliti gunakan adalah kepribadian tokoh Theo. Oleh karena itu, jenis penelitian yang digunakan dapat memberikan kontribusi kepada peneliti untuk mendeskripsikan kepribadian tokoh Theo dalam tinjauan psikologi. Peneliti menerapkan tinjauan psikologi sastra untuk mengidentifikasi struktur dan dinamika kepribadian tokoh seperti yang diuraikan oleh teori Freud. Teori Freud membantu peneliti menganalisis kepribadian tokoh theo secara detail dari aspek struktur kepribadian dan dinamika kepribadian. Langkah-langkah yang diterapkan dalam penelitian adalah literasi naskah drama Pilu dengan saksama, melakukan identifikasi dan analisis data dengan menggolongkan kepribadian tokoh berdasarkan aspek struktur dan dinamika kepribadian, menulis laporan hasil penelitian secara deskriptif dan kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Kepribadian tokoh Theo dalam Naskah Drama Pilu berdasarkan Teori Sigmund Freud Id tokoh Theo Id menjadi salah satu struktur kepribadian yang dapat mengolah rasa ingin terhadap sesuatu, nafsu, dan segala yang berhubungan dengan kenikmatan. Dalam mengolah keinginan tersebut, individu yang digerakkan oleh id akan menghindari rasa sakit dan berupaya untuk merasakan kenyamanan. Hal ini dapat dilihat pada data berikut. Theo: AuAku enggak minta dilahirkan untuk disengsarakan. Ay (Pilu, 2022: . Dari data tersebut diketahui bahwa Theo merasa tidak pantas disengsarakan sejak lahir karena perlakuan orang tuanya yang tidak menghargai usaha Theo saat menjalankan perintah. Theo selalu melakukan perintah ayah dan ibunya. Namun, ayahnya malah menghina apa yang sudah dilakukan Theo sehingga Theo menyatakan bahwa dia tidak ingin hidup di dunia untuk Pernyataan Theo termasuk dalam struktur kepribadian id, yaitu mengungkapkan keinginan dan ketidaksukaannya terhadap apa yang diterimanya selama dilahirkan ke dunia. Data tersebut menggambarkan bahwa tokoh Theo tidak ingin sengsara dalam hidup. Berdasarkan teori Freud terkait struktur kepribadian id, hal ini merupakan bentuk dari kepribadian yang menginginkan kenyamanan. Theo: AuPuluhan medali kukumpulkan dari prestasi sekolah, kuharap bisa buat Bapak bungkam, membuat Bapak dan Mamak bangga sama aku. Ay Theo: AuAku gantung semua medali di dinding kamarku supaya kalian lihat. Ay (Pilu, 2022: . Berdasarkan data tersebut. Theo berusaha meraih banyak prestasi di sekolah yang kemudian dikumpulkan hingga puluhan medali dengan harapan orang tuanya bangga padanya. Selain itu. Theo juga menggantungkan semua medali tersebut di dinding kamar dengan harapan bisa dilihat oleh orang tuanya. Berdasarkan teori Freud, struktur kepribadian id beroperasi dalam prinsip kenikmatan salah satunya dengan menyatakan keinginan (Hall, 2. Pertanyaan Theo termasuk dalam struktur kepribadian id, yaitu menyatakan keinginan dalam hal ini Theo ingin orang tuanya melihat medali yang sudah digantung di dinding dan ingin dibanggakan atas prestasi Theo: AuHahaha. Mak, kau selalu meragukan anakmu ini. Dan Theo enggak pernah berhenti untuk terus buktikan. Ay (Pilu, 2022: . Data tersebut menunjukkan bahwa Theo selalu membuat pembuktian kepada ibunya dengan meraih prestasi-prestasi di sekolah. Hal ini merupakan bentuk dari kepribadian id, yaitu mencari cara untuk melengkapi kebutuhan. Theo berusaha untuk membuktikan diri kepada ibunya agar tidak diragukan. Kebutuhan dalam hal ini berupa pembuktian yang harus dilakukan oleh Theo untuk mengurangi keraguan ibunya. Theo: AuBapak harusnya bisa lebih menghargai Mey dengan pilihannya. Ay (Pilu, 2022: . Konteks dari data tersebut adalah Mey yang merupakan adik kandung Theo telah dimarahi oleh ayahnya karena masih memakai jilbab ketika di dalam rumah. Theo mengajak Mey untuk menemui ayah. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa Theo menyatakan keinginannya agar ayahnya bisa menghargai Mey dengan pilihan Mey, yaitu memakai jilbab di dalam Rumah. Struktur kepribadian id pada data tersebut berupa mengutarakan keinginan dengan tujuan untuk mendapatkan kenyamanan. Theo: AuWah, iya Bang. Aku suka buat puisi untuk dia. Bang. AuWahai. Nona. Ay (Pilu, 2022: . Data tersebut berupa pernyataan Theo yang suka membuat puisi untuk kekasihnya. Struktur kepribadian id tokoh theo berdasarkan data tersebut adalah menyatakan kesenangan. Berhubungan dengan prinsip id yang beroperasi pada prinsip kesenangan. Kepribadian Theo juga menunjukkan prinsip kesenangan, yakni dia suka dan senang membuat puisi untuk kekasihnya. Ego tokoh Theo Freud menguraikan bahwa ego merupakan struktur kepribadian yang bergerak dalam prinsip Prinsip tersebut menuntun seseorang pada kenikmatan setelah membuat rencana dari pemikiran yang realistis. Hal ini menyebabkan ego mengolah penundaan terhadap sesuatu dengan menciptakan rasa ketidaknyamanan. ego tokoh Theo dapat dilihat dari data berikut. Theo: (Berteria. Aua!Ay (Pilu, 2022: . Berdasarkan data tersebut, tokoh Theo sedang berteriak setelah meratapi kepedihan atas kesengsaraan yang dia terima. Kepribadian Theo dipengaruhi oleh ego. Hal ini karena struktur kepribadian ego membuat individu beraktivitas berdasarkan kenyataan atauprinsip realitas (Aritonang & Heriyati, 2. Contohnya, aktivitas meredam amarah dan mengontrol emosi. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa Theo sedang meredam amarah atau ketegangan dengan Theo: AuKembalikan saja aku ke dalam perut Mamak kalau kau bisa!Ay (Pilu, 2022: . Data tersebut menunjukkan bahwa Theo sedang meminta untuk dikembalikan ke perut ibunya dalam artian dia sebenarnya tidak mampu menghadapi kesengsaraan hidup di dunia. Prinsip realitas yang terjadi pada pernyataan Theo adalah mencari jalan keluar dari Kepribadian ego memengaruhi Theo untuk mencari cara agar tidak merasakan kesengsaraan lagi salah satunya menyatakan perumpamaan untuk dikembalikan ke dalam perut Theo: AuPernah enggak Mamak lihat Theo nangis? Enggak pernah, kan. Mak? Theo tegar? Enggak. Mak. Theo nahan. Ay (Pilu, 2022: . Konteks dari data tersebut terjadi ketika Theo sedang mengutarakan perasaannya dan teringat saat ibunya memukul kepala Theo dengan alat penggorengan hingga berdarah. Theo menyatakan bahwa dia tidak menangis, bukan berarti dia tegar, tetapi Theo berusaha untuk Hal ketidaknyamanan dalam diri individu dengan penundaan. Theo merasa tidak nyaman terhadap perlakuan ibunya sehingga menunda untuk menjadi sosok yang tegar. Prinsip ego juga membuat individu mampu mengontrol emosi. Tindakan yang dilakukan Theo berdasarkan pernyataannya adalah mengontrol emosinya dengan menahan diri agar tidak menangis. AuTheo melihat sekilah wajah adiknya. Lalu, dilemparkannya celengan itu. Seketika beranjak pergi. Ay (Pilu, 2022: . Berdasarkan data tersebut. Theo melempar celengannya karena uang dalam celengan sudah diambil oleh ayahnya tanpa sepengetahuan Theo. Hal ini merupakan tindakan yang mencerminkan kepribadian ego, yaitu mengontrol emosi dan meredam ketegangan. Theo berusaha mengontrol emosi dengan melempar celengan dan beranjak pergi daripada menemui Theo berharap setelah beranjak pergi, dia dapat meredam ketegangan yang dirasakan. Superego tokoh Theo Struktur kepribadian superego bersumber dari hati nurani yang berhubungan dengan moral. Nilai moral yang dibentuk oleh superego membuat seseorang mampu menaati perintah dan membedakan antara perkara yang baik dan buruk serta mengesampingkan kepuasan pribadi. Superego tokoh Theo dapat dilihat dari kutipan berikut. Theo: Au. Aku sudah berusaha menjadi anak yang baik. Aku turuti apa kemauan Mamak, kemauan Bapak. Semua! Pernahkah aku menolak segala apa yang kalian perintahkan? Meski sedang sakit sekalipun, kalian minta aku jalan. Aku jalan! Meski sibuk dengan tugas sekolah, kalian minta aku kerjakan pekerjaan rumah, aku kerjakan!. Ay (Pilu, 2022: 252-. Berdasarkan data tersebut. Theo menyatakan bahwa dia selalu menuruti kemauan orang tuanya meski dalam keadaan sakit sekalipun. Theo mendahulukan perintah ayah dan ibunya dibandingkan kepentingan sekolah. Struktur kepribadian superego berfokus pada hati nurani yang menaati perintah dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa tokoh Theo dipengaruhi superego. Theo: AuSakit batinku. Pak! Tak pernah sedikit pun aku minta apa pun dari Bapak. Ay (Pilu, 2022: . Dari data tersebut diketahui bahwa Theo menyatakan bahwa dia tidak pernah meminta apa pun dari ayahnya. Pernyataan Theo berhubungan dengan superego, yakni tidak mendahulukan perasaan pribadi. Theo dipengaruhi oleh struktur kepribadian superego denganmengesampingkan perasaannya untuk meminta sesuatu dari ayahnya. Theo: AuDan Theo mesti kuat dengerin Mey, meski Theo sendiri hancur sebenernya Mak. Ay (Pilu, 2022: . Dari data tersebut diketahui bahwa Mey selalu menceritakan keluh kesahnya kepada Theo. Theo selaku kakak laki-laki Mey berkewajiban untuk kuat mendengarkan keluh kesah adiknya. Meskipun Theo merasa ikut hancur mendengarkan perasaan adiknya tersebut. Berdasarkan kepribadiannya, dapat diketahui bahwa Theo lebih mengutamakan perasaan Mey dengan menjadi pendengar yang baik, meskipun hati Theo ikut hancur. Hal ini berkaitan dengan superego yang berfokus pada nurani individu yang lebih mengutamakan atau mementingkan orang lain dibanding diri sendiri. Oleh karena itu. Theo dipengaruhi superego karena mengutamakan perasaan Theo: AuApa Bang? Enggak. Bang, aku enggak macem-macem. Sumpah demi Allah. Ay Theo: AuBener. Bang, kami itu pacaran baik-baik, bah. Dia itu kayak support system buat Enggak berani aku macam-macam. Ada adik perempuanku. Bang. Aku ingat dia terus tuh. Ay (Pilu, 2022: . Data tersebut menggambarkan bahwa Theo sedang menjelaskan bahwa dia menjalani hubungan dengan kekasihnya secara baik-baik dan tidak macam-macam dalam artian melanggar Theo akan merasa bersalah kepada adik perempuannya jika melakukan hal yang merugikan kekasihnya. Hal ini berhubungan dengan superego yaitu nurani individu yang selalu menaati atau tidak melanggar aturan. Theo dipengaruhi oleh struktur kepribadian superego, yakni menaati aturan dalam menjalin hubungan. Dinamika Kepribadian tokoh Theo dalam Naskah Drama Pilu berdasarkan Teori Sigmund Freud Naluri (Instin. Naluri berfokus pada proses memenuhi kebutuhan hidup dalam bentuk memuaskan diri. Naluri dapat diistilahkan dengan insting. Insting merupakan wujud dari dorongan dalam melangsungkan kehidupan. Insting menjadi pola tingkah laku individu untuk memenuhi hasrat dan keinginannya. Insting manusia terbagi menjadi dua macam, yakni insting hidup dan insting Insting Hidup Insting hidup berupa dorongan dari dalam dan luar diri manusia yang bertujuan untuk tetap hidup. Contoh insting hidup adalah keinginan memuaskan diri baik dari segi nafsu, makan, dan minum. Dorongan-dorongan tersebut membuat individu untuk tetap bertahan dan menjalani Insting hidup yang dialami oleh tokoh Theo dalam naskah drama Pilu dapat dilihat dari data berikut. Bang Jul: AuBisa kau enggak capek, ya. Pagi sekolah, malam kerja. Enggak punya pacar kau?Ay Theo: Au(Tersip. Bang, hehehe. Ay (Pilu, 2022: . Data tersebut menggambarkan bahwa Theo menjalankan aktivitas kesehariannya dengan bersekolah di pagi hari dan bekerja di malam hari. Selain itu Theo juga menyatakan bahwa dia memiliki seorang kekasih. Insting hidup adalah upaya seseorang dalam bertahan hidup. Hal ini membuktikan bahwa Theo masih bersekolah dan bekerja untuk bertahan hidup. Insting hidup juga berupa mendorong nafsu dan seksual individu. Data tersebut menunjukkan bahwa Theo dikendalikan oleh nafsu karena memiliki kekasih. Untuk itu. Theo masih dikendalikan oleh insting hidup. Insting Mati Insting mati diistilahkan sebagai naluri yang dapat merusak individu. Insting mati berupa dorongan dari dalam atau luar diri yang bertujuan untuk membunuh diri sendiri dan orang lain. Insting mati sangat berbahaya jika dimiliki oleh individu. Hal ini dikarenakan insting mati dapat membuat individu atau targetnya kehilangan nyawa. Selain itu, insting mati beroperasi dalam diri individu tanpa membutuhkan tempo yang lama. Insting mati yang dialami oleh tokoh Theo dalam naskah drama Pilu dapat dilihat dari data berikut. AuTheo Mencabik-cabik Menghantamkan tubuhnya ke pasir. Melesakkan kepalanya ke pasir. Ditarik lagi, dilesakkan lagi. Berguling-guling ia. Menendang-nendang udara. Diambilnya silet dari saku celananya. Dicabik-cabiknya kulit pergelangan tangannya. Sambil berulang tak henti Ay (Pilu, 2022: . Data tersebut menggambarkan bahwa Theo sedang melukai diri dengan mencabik-cabik dirinya sendiri, menghentamkan tubuhnya ke pasir, melesakkan kepalanya ke pasir, dan mencabik-cabik kulit pergelangan tangannya. Hal ini membuktikan bahwa Theo sedang menyakiti dirinya sendiri. Selain membunuh diri sendiri, insting mati juga membuat individu merusak dan melukai tubuhnya sendiri. Oleh karena itu. Theo dipengaruhi insting mati dengan menyakiti diri sendiri. Kecemasan . Kecemasan adalah rasa yang dikendalikan oleh hati yang berwujud ketidaktentraman dengan berbagai level (Nurkamila et al. , 2. Kecemasan terjadi pada individu yang kehilangan konsentrasi sehingga membuat hatinya menjadi tidak tentram dan tidak tenang. Namun, kecemasan juga dikendalikan oleh otak atau saraf individu. Dampak dari kecemasan adalah kesulitan mengerjakan sesuatu. Berdasarkan teori Freud, kecemasan terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu kecemasan realitas, kecemasan neurotis, dan kecemasan moral. Kecemasan Realitas Kecemasan realitas disebabkan oleh ancaman dan bahaya dari sebuah peristiwa. Kecemasan realitas berhubungan dengan kondisi yang terjadi karena faktor dari luar dalam artian dipengaruhi oleh alam. Dampak dari kecemasan realitas adalah membuat penderita tidak mampu berpikir jernih atau bingung yang berlebihan ketika mengalami bahaya. Berikut data yang menggambarkan kecemasan realitas tokoh Theo dalam naskah drama Pilu karya Enny Asrinawati. AuTheo membuka celengannya dan seketika panik. Celengannya kosong. Pucat pasi Panik dan bingung. Nanar mukanya. Kosong dan bingung. Au (Pilu, 2022: . Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa Theo merasakan kepanikan setelah melihat celengannya kosong. Theo menjadi kosong dan bingung. Hal ini merupakan salah satu dampak dari kecemasan realitas, yaitu membuat individu kehilangan konsentrasi dan menjadi Kecemasan realitas yang dialami oleh Theo disebabkan setelah melihat celengannya Oleh karena itu, dapat dibuktikan bahwa Theo memiliki kecemasan realitas. Kecemasan Neurotis Kecemasan neurotis dikendalikan oleh saraf yang mengalami gangguan. Kecemasan neurotis cenderung membuat penderita menyerang sesuatu atau bersifat agresif. Hal ini membuat kecemasan neurotis menjadi salah satu kecemasan yang berbahaya karena mampu merusak benda yang ada di sekitar dan melukai orang lain. Kecemasan neurotis yang dialami tokoh Theo dapat dilihat pada data berikut. AuTheo melihat sekilah wajah adiknya. Lalu, dilemparkannya celengan itu. Seketika beranjak pergi. Ay (Pilu, 2022: . Data tersebut menggambarkan bahwa Theo melempar celengannya. Hal ini berhubungan dengan kecemasan neurotis yang dikendalikan oleh saraf dan membuat individu bersifat agresif sehingga menyerang atau merusak sesuatu. Tindakan melempar celengan yang dilakukan oleh Theo adalah bentuk kecemasan neurotis yang berupa merusak sesuatu. Oleh karena itu, dapat dibuktikan bahwa Theo memiliki kecemasan neurotis. Kecemasan Moral Kecemasan moral diolah oleh hati nurani dan berhubungan erat dengan perasaan. Perasaan yang dikendalikan oleh kecemasan moral bukanlah perasaan yang baik, akan tetapi perasaan buruk seperti sedih kecewa. Kecemasan moral memusatkan pada emosional individu yang Dampak dari kecemasan ini adalah membuat individu tidak bisa melakukan sesuatu selain berdiam diri karena dipengaruhi perasaan cemas yang berlebihan. Berikut adalah data yang menggambarkan kecemasan moral tokoh Theo dalam naskah drama Pilu karya Enny Asrinawati. AuSesekali, dia berjalan perlahan menyusuri tepi pantai, kadang mengusap air mata yang tak sengaja jatuh di pipinya. Kaki ditendangkan seolah menyibak pasir dengan jari-jari kakinya, berharap membuang sial. Sesekali, ia berhenti, menatap laut. Dia memungut kerikil, lalu melemparkannya ke arah laut. Sekuat tenaga dilemparkannya, seolah membuang sial, meski mustahil karena angin sore itu sedang kencang. Suara ombak terus menggelegar, mengaburkan isak tangis Theo yang sedari tadi ditahan agar tak keluar. Namun kali ini, tak kuat juga ia memendam. Dihempaskannya jadi teriakan. Ay (Pilu, 2022: Data tersebut menggambarkan sosok Theo yang sedang menangis sambil menendang pasir dan melempar kerikil dengan harapan dapat membuang sial. Kecemasan moral berhubungan erat dengan emosional individu. Upaya Theo mengusap air mata menandakan bahwa dia sedang Hal ini merupakan wujud dari kecemasan moral yang membuat individu sedih atau kecewa berlebihan. Theo merasa sedih karena hidupnya yang sengsara sehingga membuatnya Oleh karena itu, diketahui bahwa Theo memiliki kecemasan moral. SIMPULAN Teori psikoanalisis Sigmund Freud menjabarkan kepribadian individu menjadi id, ego, superego, insting, dan kecemasan. Kepribadian tersebut berkembang dari dalam diri individu sejak Jika kepribadian individu dikaitkan dengan karya sastra, maka hal itu termasuk ke dalam tinjauan psikologi sastra. Seperti penelitian yang sudah dilakukan pada tokoh Theo dalam naskah drama Pilu karya Enny Asrinawati dengan menerapkan teori Freud. Penelitian mendeskripsikan bahwa secara psikologis, kepribadian tokoh Theo dipengaruhi oleh struktur id yang direalisasikan dengan tindakan Theo yang berupaya untuk mendapatkan perhatian orang Theo juga dipengaruhi prinsip realitas atau ego yang dibuktikan dengan upaya Theo menahan amarah dan mengontrol emosinya terhadap suatu persoalan. Theo memiliki superego yang tinggi karena lebih mementingkan orang lain dibanding kepuasan pribadi. Tinjauan dinamika kepribadian tokoh Theo membuktikan bahwa dia mencoba untuk bertahan dari masalah keluarga dengan bersekolah, bekerja, dan menjalin hubungan asmara. Hal ini karena Theo masih dipengaruhi oleh insting hidup. Namun, insting mati Theo lebih besar dibanding insting hidup karena dia pernah melakukan percobaan mengakhiri hidup dengan menyakiti diri sendiri di awal cerita. Perlakuan orang tua Theo berdampak pada respons Theo ketika mendapat suatu masalah, yakni diperdaya oleh kecemasan. Kecemasan membuat Theo tidak bisa berpikir jernih dalam bertindak, sesekali pikiran Theo menjadi kosong dan mencoba merusak benda yang ada di dekatnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa kepribadian Theo didasari oleh latar belakang kehidupan yang membuatnya sengsara sejak lahir. Psikologis atau kondisi jiwa Theo terganggu karena faktor dari luar, yakni perlakuan buruk dari orang tua, sehingga Theo terdiagnosis memiliki kecemasan. DAFTAR RUJUKAN Adlini. Dinda. Yulinda. Chotimah. , & Merliyana. Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan. Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 6. , 1Ae6. Ardiansyah. Sarinah. Susilawati, & Juanda. Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud. Jurnal Kependidikan, 7. , 25Ae31. http://ejournallppmunsa. id/index. php/kependidikan/article/view/912/885 Arianto. Tinjauan Psikologi Tokoh Pada Naskah Drama Bulan Bujur Sangkar Karya Iwan Simatupang. BASINDO : Jurnal Kajian Bahasa. Sastra Indonesia. Dan Pembelajarannya, 5. , 195. https://doi. org/10. 17977/um007v5i22021p195-203 Aritonang. , & Heriyati. Pertentangan Id. Ego Dan Superego Dalam Pembentukan Karakter Tokoh Edmund Pada Film the Chronicles of Narnia: the Witch, the Lion and the Wardrobe. MAHADAYA: Jurnal Bahasa. Sastra. Dan Budaya, 2. , 17Ae24. https://doi. org/10. 34010/mhd. Devi. Solihat. , & Wahid. Nilai Moral dalam Naskah Drama Sayang Ada Orang Lain Karya Utuy Tatang Sontani (Kajian Sosiologi Sastr. Jurnal Membaca (Bahasa Dan Sastra Indonesi. , 5. , 83Ae92. Fitri. Rawati. Putri. , & Jambi. Analisis Puisi AuKucari Jalan Menuju RumahkuAy Pada Antologi Aku Bawakan Cinta Buatmu Karya Chory. Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(Desembe. , 34Ae38. http://aksara. id/index. php/aksara Hall. Psikologi Freud: Sebuah Bacaan Awal (T. Setiadi . )). IRCiSoD. Jannah. , & Devi. Drama Sudah Gila Karya Chairil Anwar Teori Psikoanalisis. Frontiers in Neuroscience, 14. , 1Ae13. Lairabu. Dinamika Kepribadian Tokoh Utama Dalam Novel Jisatsu Yotei Bi Karya Akiyoshi Rikako. Janaru Saja : Jurnal Program Studi Sastra Jepang, 7. , 72Ae78. https://doi. org/10. 34010/js. Matulessy. Kepribadian Tokoh Utama Dalam Novel Dilan 1990 Karya Pidi Baiq (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freu. ARBITRER: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 2. , 341Ae350. https://doi. org/10. 30598/arbitrervol2no3hlm341-350 Mikaresti. , & D. Pengembangan Bahan Ajar Mata Kuliah Drama dengan Pendekatan Berbasis Masalah. Pena : Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 7. , 71Ae81. https://doi. org/10. 22437/pena. NisaAo. , & QurAoani. Hi. Aspek Moral Dalam Naskah Drama Lakon Jeng Menul Karya Puthut Buchori. 1(Septembe. Novitasari, & Anggraini. Dekadensi Moral dalam Naskah Drama AuOperasiAy Karya Putu Wijaya. Dinamika, 5. , 77. https://doi. org/10. 35194/jd. Nugraha. Memahami Kecemasan: Perspektif Psikologi Islam. IJIP : Indonesian Journal of Islamic Psychology, 2. , 1Ae22. https://doi. org/10. 18326/ijip. Nugroho. Rekonstruksi Dominasi Budaya Patriarki dalam Novel Geni Jora: Kajian Psikoanalisis Erich Fromm. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra. Dan Pengajarannya, 6. , 127Ae140. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Nurkamila. Suntoko, & Pratiwi. Analisis Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Gemaya Karya Risma Ridha Anissa (Tinjauan Psikologi Sastr. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Https://Jurnal. Unibrah. Ac. Id/Index. Php/JIWP, 7. , https://doi. org/10. 5281/zenodo. Putra. Augustina. Bagya. Pretiwi. Wiratama. Samudra, . Santhi. Adhiana. Asrinawati. Syarif. Muhtadi. Manock. Setyorini. Heriyanto. Robby. Saputro. Ratuloli. , & Cevin. Bayang. an: Dunia Anak daan Remaja di Panggung Teater. Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Rachman. , & Wahyuniarti. Struktur Kepribadian Tokoh Lilian dalam Novel Pink Cupcake Karya Ramya Hayasrestha Sukardi (Sastra Anak dalam Perspektif Psikoanalisis Sigmund Freu. KEMBARA Journal of Scientific Language Literature and Teaching, 7. , 490Ae507. https://doi. org/10. 22219/kembara. Setiaji. Kajian Psikologi Sastra Dalam Cerpen AuPerempuan BalianAy Karya Sandi Firli. Journal Lingue, 1. , 22Ae35. Silviandari. Noor. Diponegoro. Suroyo. , & Tembalang. Kepribadian Tokoh Meirose dalam Film Surga yang Tak Dirindukan (Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslo. Pendahuluan Karya sastra merupakan hasil pemikiran kreatif penulis yang diangkat dari realitas permasalahan individu di kehidupan nyata. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra. Dan Pengajarannya, 6. , 1Ae12. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan RND. Alfabeta. Tawaqal. Mursalim, & Hanum. Pilihan Hidup Tokoh Utama Zarah Amala dalam Novel AuSupernova Episode: PartikelAy Karya Dee Lestari: Kajian Feminisme Liberal. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra. Dan Pengajarannya, 3. , 435Ae444. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Wahdi. Riset: sebanyak 2,45 juta remaja di Indonesia tergolong sebagai Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). The Conversation. Wandira. Hudiyono. , & Rokhmansyah. Kepribadian Tokoh Aminah Dalam Novel Derita Aminah Karya Nurul Fithrati: Kajian Psikologi Sastra. Jurnal Ilmu Budaya Vol, 3. , 413Ae419. Warnita. Linarto. , & Cuesdeyeni. Analisis Kepribadian Tokoh Utama Dalam Novel Perahu Kertas Karya Dewi Lestari. ENGGANG: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Dan Budaya, 1. , 45Ae55. https://doi. org/10. 37304/enggang. Wisudawati. , & Faznur. Analisis Deiksis Dalam Naskah Drama Berjudul AuPetang Di TamanAy Karya Iwan Simatupang. BASINDO : Jurnal Kajian Bahasa. Sastra Indonesia. Dan Pembelajarannya, 6. , 76. https://doi. org/10. 17977/um007v6i12022p76-83