1 TRADISI NAIK DANGO SUKU DAYAK KANAYATN SEBAGAI MANIFESTASI CHIFFER TRANSENDENSI: SEBUAH KAJIAN METAFISIKA KARL JASPERS Fernando Ersa Widodo. Armada Riyanto Received: 14 December 2023. Accepted: 20 January 2024. Published: 30 March 2024 Ed. : 324 - 335 Abstract The Naik Dango tradition of the Dayak Kanayatn Tribe is a religious practice that is rich in meaning and profound about human life. Dayak Kanayatn people involve themselves in the Naik Dango ceremony as a form of respect for ancestral spirits and spiritual connection with God, nature and humans. This research focuses on critically examining the Naik Dango tradition by adopting the concept of Chiffer Transcendence from philosopher Karl Jaspers. This research uses a qualitative method with Karl JaspersAo metaphysical approach to analyze the transcendental experience contained in the practice of Naik Dango. JaspersAo concept of Chiffer Transcendence is used as a theoretical framework to understand the spiritual and transcendental dimensions of this tradition. Through this research, it is revealed that Naik Dango is not only a religious ritual, but also a manifestation of human efforts to achieve a higher existential understanding. The study outlines how elements in the Naik Dango tradition, such as dance, music, and ritual symbols, can be interpreted as Chiffers that represent transcendental reality. In addition, this research tries to explore how participation in this tradition can help individuals feel connected to something bigger than themselves, in line with JaspersAo concept of transcendence. The researcher found that the Naik Dango tradition is a language or interpretation of the Dayak Kanayatn tribe to be able to deal directly with Jubata. The Naik Dango tradition is also a manifestation of chiffer transcendence that brings people to a higher understanding of existence towards Jubata. Keywords: Naik Dango Tradition. Dayak Kanayatn. Chiffer Transcendence. Karl Jaspers Metaphysics. PENDAHULUAN Indonesia adalah suatu bangsa yang majemuk. Bangsa majemuk memiliki kekayaan nusantara yang khas dan unik. Kekayaan budaya Nusantara tercermin melalui keragaman etnis, budaya, bahasa daerah, dan agama yang beragam. Setiap wilayah di Indonesia menghadirkan tradisi yang unik, yang pada gilirannya membentuk identitas dan ciri khas masyarakat Tradisi-tradisi ini mencerminkan gaya hidup dan karakteristik yang membedakan satu daerah dengan daerah lainnya. Kehadiran tradisi dalam suatu masyarakat adalah elemen penting yang memfasilitasi terciptanya keselarasan dalam kehidupan bersama. Tradisi tidak hanya membentuk landasan sistem sosial dan budaya suatu masyarakat, tetapi juga memberikan arahan bagi perilaku sehari-hari. Dengan menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam sistem sosial dan budaya, masyarakat dapat menjaga keseimbangan dan harmoni dalam interaksi sosial mereka. Kebudayaan nasional adalah suatu cara pandang dan pemahaman masyarakat dalam memenuhi keberlangsungan hidup. Keberagaman budaya di Indonesia juga terdapat dalam suku Dayak Kanayatn yang mencerminkan kekayaan dan keunikan budaya dalam membangun harmonisasi antara manusia, alam, dan Tuhan. Dayak Kanayatn merupakan salah satu kelompok etnis Dayak terbesar di Kalimantan Barat, yang jumlahnya sekitar sepertiga dari total populasi suku Dayak di wilayah tersebut (Yovanka Tasya Avrina. Firmansyah, & Mirzachaerulsyah, 2. Tradisi naik dango adalah suatu upacara adat masyarakat Dayak Kanayatn yang melakukan ritual adat sebagai ungkapan terima kasih atau rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah. Penelitian sebelumnya telah dilakukan untuk menggali makna dan nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi naik dango yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak Kanayatn. Rahmawati . menyimpulkan bahwa Upacara atau praktik naik dango adalah ungkapan syukur kepada Jubata. Masyarakat Dayak mengungkapkan kesulitan dalam pertanian dan memohon agar hasil panen melimpah kepada Jubata. Hartatik . mengartikan naik dango hanyalah upacara yang bersifat simbolis, yaitu menyimpan hasil panen di sebuah lumbung . Masyarakat Dayak Kanayatn tetap mempertahankan praktik naik dango karena dianggap sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan sesuai dengan nilai-nilai yang ditinggalkan oleh para leluhur. Selain warisan leluhur, tradisi naik dango menjadi kegiatan adat yang dilakukan setiap tahun. Hal ini mengingatkan masyarakat dayak untuk terus bersyukur kepada Tuhan atau Jubata (Lumbantobing, 2. Ritual keagamaan ini menjadi wujud kesadaran masyarakat dayak akan adanya suatu realitas tertinggi, absolut dalam kehidupan. Kesadaran akan sesuatu yang bersifat transenden mengarahkan mereka untuk hidup dalam suatu harmoni yang membantu mereka untuk tidak bersikap angkuh atas alam semesta. Dari kegiatan ini ada rasa kegembiraan lebih dominan dari kegiatan-kegiatan yang bersifat Agustinus, dan kawan-kawan, . mengatakan bahwa menurut para peneliti, kepercayaan masyarakat Dayak Kanayatn tentang naik dango terutama padi yang ditaruh di lumbung, padi memiliki suatu spirit yang hidup. Nikodemus . memaknai bahwa naik dango Dayak Kanayatn memiliki nilai-nilai hidup yang mengarah pada relasionalitas untuk mencapai konsep kebahagiaan. Naik dango membawa manusia pada kesadaran akan pentingnya hubungan yang sehat, saling menguntungkan, dan menghormati dalam interaksi sosial. Dengan mempraktikkan tradisi naik dango, masyarakat Dayak memupuk semangat toleran dan bergotong royong dalam usaha merawat persaudaraan antarmasyarakat. Seperti pada awal penjelasan, tradisi naik dango sejatinya tidak hanya berhenti pada hidup dalam suatu upacara atau ritual keagamaan semata, tetapi juga dari tradisi itu memunculkan suatu interpretasi baru, suatu pemaknaan yang lebih bersifat metafisis berusaha melampaui apa yang Dengan demikian, realitas itu memunculkan kesadaran akan eksistensi masyarakat untuk mendekati, atau pergi ke arah yang transendental, suatu realitas tertinggi yakni Yang Ilahi. Yang Melingkupi. Yang Berkuasa. Yang Absolut, itu semua dalam masyarakat Dayak Kanayatn dikenal sebagai Jubata. Sedangkan, konsep metafisika Karl Jaspers tentang Chiffer Transendensi, beberapa peneliti melihat bahwa chiffer transendensi adalah suatu realitas eksistensi menuju sesuatu Yang Ilahi. Kurniawan, dan kawan-kawan . berpendapat bahwa Chiffer adalah sesuatu yang menjadi jembatan bagi eksistensi dan transendensi. Hal ini berarti untuk menuju eksistensi dan transendensi, manusia membutuhkan kesadaran akan Chiffer atau Ausituasi batasnyaAy. Ramdhani, . meyakini bahwa Manusia hanya dapat merasakan keilahian melalui pengalaman hidupnya yang terdiri dari situasi-situasi batas yang disampaikan melalui simbol-simbol . Simbol-simbol keilahian yang dipahami oleh manusia memungkinkannya untuk mengembangkan eksistensinya dengan cara merespon simbol-simbol tersebut. Fernando Ersa Widodo. Armada Riyanto. Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn sebagai Manifestasi . Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan metafisika Karl Jaspers, terlebih pada konsep Chiffer Transendensi Jasper untuk menganalisis pengalaman transendental yang dialami oleh masyarakat Dayak Kanayatn dalam tradisi Naik Dango (Rahmawati, 2. Jaspers mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengatasi keterbatasan kehidupan sehari-hari dan memiliki pengalaman transendental atau transgresif. Hal ini termasuk kehadiran, kebebasan, dan tanggung jawab pribadi. Menurut Jaspers. Transendensi menjadi fondasi eksistensi karena eksistensi tidak memiliki dasar yang melekat pada dirinya sendiri. Hanya melalui hubungannya dengan transendensi, manusia dapat mencapai eksistensi yang sesungguhnya, menjadi manusia Melalui transendensi, eksistensi manusia sadar akan keterbatasannya yang sejati. Manusia tidak sanggup memikirkan transendensi karena transendensi adalah realitas yang tidak terperikan, tidak terpikirkan, dan tidak dikenal. Maka dari itu. Manusia hanya mampu membahasakan dan menggambarkan tentang berbagai pengalaman transendensi dalam bentuk Menurut Jaspers, transendensi hanya dapat dipahami melalui simbol-simbol atau chiffer yang digunakan untuk menggambarkan hal tersebut. Dengan Pemahaman ini. Chiffer adalah simbol-simbol yang mengantarai eksistensi dan transendensi. Dengan kata lain, chiffer membawa eksistensi manusia untuk bisa berdiri di hadapan transendensi. Chiffer dianggap sebagai transendensi yang imamen. Selain itu, ada beberapa bidang yang secara khusus menyuarakan pesan dengan jelas sebagai simbol-simbol . , seperti situasi-situasi batas, kebebasan, seni, dan cinta. Jaspers yakin bahwa seni termasuk bahasa pertama dari sesuatu yang AutransendenAy. Seni membantu manusia untuk membaca chiffer-chiffer. Seni adalah juga puncak kesadaran. Dalam seni, manusia menemukan suatu pengalaman mistik dan eksistensi, keabadian, dan waktu. Dalam mistik manusia menjadi satu dengan transendensi. Maka dari itu, tugas utama metafisika Jaspers adalah membaca chiffer-chiffer. Berfilsafat dalam eksistensi yang mungkin adalah membaca tulisan atau simbol-simbol yang transenden. Namun, chiffer-chiffer secara umum tidak dapat terbaca. Ia hanya mungkin ditafsirkan secara Manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam membaca chiffer. Mereka yang telah memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang eksistensi, ia akan mampu menangkap chiffer-chiffer secara mendalam. Dalam kajian ini, peneliti berusaha untuk menemukan kebaruan tentang tradisi naik dango, terlebih dalam kaitannya dengan metafisika seorang filsuf Karl Jaspers (Salim, 2. Peneliti mencoba mendalami hasil penelitian terdahulu yang membahas tradisi naik dango. Setelah itu, peneliti akan menelaah atau mengeksplorasi kekayaan yang terkandung dalam tradisi ini kemudian menghubungkannya dengan konsep berpikir chiffer transendensi milik Karl Jaspers. Kajian tradisi naik dango sebagai manifestasi chiffer transendensi Karl Jaspers secara khusus belum dilakukan oleh peneliti terdahulu. Untuk menemukan kebaruan, peneliti akan mengaji dan menemukan bahwa tradisi naik dango memiliki kesamaan dalam konsep metafisika Jaspers, terutama dalam usaha manusia untuk mendekati realitas Ilahi yang transenden. Dalam Tradisi naik dango, itu semua ditunjukan lewat elemen-elemen seperti ritus-ritus, mantra, simbol, tarian, arsitektur bangunan, seni sebagai kesadaran manusia Dayak untuk mendekati Yang Ilahi yaitu Jubata. Dalam konsep Chiffer transendensi, manusia adalah eksisten yang berperilaku atau berbuat sesuatu untuk hidupnya, ini disebut suatu kebebasan. Manusia dengan kemampuannya dapat menginterpretasikan chiffer yang benar hanya terjadi dalam kegiatan, yang dapat dipahami. Seperti ungkapan sebelumnya, segala sesuatu adalah chiffer yang dapat dibaca oleh manusia yang cakap membacanya. Karena itu, tujuan penelitian adalah mengeksplorasi tradisi naik dango sebagai suatu manifestasi chiffer transendensi Jaspers. Di sini terdapat deskripsi sejarah naik dango, deskripsi pelaksanaan tradisi naik Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 324 - 335 dango, pemahaman konsep chiffer transendensi Jaspers, dan adanya titik temu antara naik dango dengan chiffer transendensi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan metafisika Karl Jaspers untuk menganalisis pengalaman-pengalaman transendental yang terkandung dalam praktik Naik Dango. Konsep Chiffer Transendensi Jaspers digunakan sebagai kerangka teoretis untuk memahami dimensi spiritual dan transendental dari tradisi ini. Tambahan, penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif. Dalam proses pengumpulan data, terdapat dua pendekatan yang digunakan, yaitu studi kepustakaan dan penelitian di lapangan. Studi kepustakaan melibatkan pencarian dan analisis buku, majalah, jurnal, serta segala jenis sumber tertulis yang relevan dengan pendekatan metafisika Karl Jaspers dan praktik Naik Dango yang menjadi fokus pembahasan. Selain itu, mencari literatur yang menjelaskan tradisi Naik Dango dengan pendekatan Chiffer Transendensi akan memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan analisis kritis yang diperlukan dalam penelitian ini. Penelitian juga diperoleh dari wawancara penatua desa, tokoh masyarakat, dan warga yang telah melaksanakan tradisi Naik Dango. Beberapa tokoh berpendapat bahwa tradisi naik dango adalah wujud aktualisasi kearifan lokal masyarakat dayak. Tambahan, naik dango secara agraris merujuk pada kedaulatan pangan sehingga bisa dikembalikan secara mandiri. Dalam proses penelitian, diciptakan struktur penelitian sistematis. Karena itu, diperlukan pengolahan data dalam penelitian dengan metode kualitatif yang menggunakan pendekatan metafisika Karl Jaspers. HASIL DAN PEMBAHASAN Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn Dayak Kanayatn merupakan salah satu kelompok etnis Dayak di Pulau Kalimantan, yang tersebar di Kabupaten Pontianak. Kabupaten Landak. Kabupaten Bengkayang, serta sebagian kecil di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau. Meskipun jumlah penduduknya relatif lebih besar daripada suku Dayak lainnya. Suku Dayak Kanayatn dikenal sebagai salah satu kelompok yang lebih maju secara demografis. Masyarakat Dayak Kanayatn banyak bermukim di wilayah Kabupaten Pontianak yang merupakan wilayah yang paling dekat dengan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari segi geografis, persebaran masyarakat Dayak Kanayatn sangat luas. Selain tersebar di sebagian besar Kabupaten Pontianak, juga tersebar di berbagai daerah antara lain Kabupaten Landak. Kabupaten Bengkayang. Kabupaten Sanggau. Kabupaten Sambas, dan sebagian di Kabupaten Ketapang. Namun, jika dilihat dari jumlah penduduknya, suku Dayak Kanayatn jumlahnya tidak sebanyak suku Dayak lainnya, seperti Dayak Iban. Di Kabupaten Pontianak, suku Dayak Kanayatn merupakan subsuku Dayak yang terbesar (Rahmawati, 2. Agama tradisional yang dipraktikkan oleh suku Dayak Kanayatn tidak dapat dipisahkan dari tradisi adat mereka. Bahkan, adat istiadat menjadi penegas identitas keagamaan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Dayak Kanayatn tidak melihat agama sebagai aturan baku, melainkan sebagai bagian dari Sistem kepercayaan ini tidak dapat disamakan dengan agama Hindu Kaharingan, karena dipahami oleh masyarakat secara umum. Masyarakat Kanayatn mengenal Tuhan dengan sebutan Jubata, yang diyakini telah mewariskan adat tersebut kepada nenek moyang suku Dayak Kanayatn yang tinggal di Bukit Bawakng. Untuk mengekspresikan keimanan mereka kepada Jubata, mereka memiliki tempat ibadah yang disebut Panyugu atau Padagi. Selain itu, mereka juga menunjuk seorang pendeta panyangahatn sebagai perantara antara manusia dan Jubata (Tuha. Tradisi naik dango adalah upacara yang dilakukan setiap tahun. Upacara adat ini biasa disebut adat tutup taunt . utup tahu. Upacara naik dango dilakukan setelah upacara tutup Fernando Ersa Widodo. Armada Riyanto. Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn sebagai Manifestasi . Adat ini berlangsung di tempat keramat . Tujuan upacara ini adalah untuk meminta pertolongan dan petunjuk dari alam untuk membuka lahan baru. Upacara ini pun dilakukan sekali dalam setahun. Dalam menghormati adat ini, masyarakat berpantang atau balala. Inti upacara tutup taunt adalah dengan prosesi pemotongan kurban ayam dan babi yang dilakukan di panyugu. Upacara ini adalah ungkapan terimakasih dan rasa syukur masyarakat kepada Jubata (Tuha. atas segala rezeki yang dilimpahkan oleh-Nya. Melimpahnya rezeki ini terwujud dalam hasil panen padi yang menggembirakan. Upacara ini sekaligus sebagai titik awal kegiatan naik dango (Hartatik, 2. Upacara naik dango adalah kegiatan ritual yang berkaitan dengan panen padi. Masyarakat menyimpan padi di dalam lumbung padi atau dangau. Naik dango sendiri adalah hasil pemekaran Kabupaten Landak dari Kabupaten Pontianak. Karena itu, naik dango dijadikan acara tahunan yang menjadi destinasi wisata masyarakat adat. Pesta naik dango adalah kegiatan untuk bergembira dan syukur atas keberhasilan panen padi. Penerapan Tradisi Naik Dango Naik dango adalah perayaan panen atau pesta sejahtera atas hasil panen yang melimpah tahunan dan meminta berkah untuk musim panen yang akan datang. Hubungan suku Dayak dengan hutan dan segala isinya bersifat timbal Di satu sisi, alam memberikan peluang bagi berkembangnya kebudayaan nasional Dayak Kanayatn, di sisi lain suku Dayak Kanayatn selalu prihatin terhadap kawasan hutan sesuai dengan pola budaya yang dianutnya. Budaya naik dango ini juga menjadi momen penting untuk mempererat hubungan sosial suku Dayak Kanayatn (Nikodemus, 2. Tradisi naik dango secara harfiah dimengerti sebagai upacara menaikkan padi ke dalam lumbung, dangau. Upacara naik dango adalah upacara yang bersifat simbolis. Dikatakan simbolis karena adanya proses kegiatan mas328 yarakat yang menyimpan hasil panen padi tahunan di dalam lumbung. Hal ini bertujuan untuk suatu aktivitas spiritual untuk menghormati dan mensyukuri rezeki yang diberikan Jubata kepada manusia. Untuk mengerti lebih lanjut naik dango, dalam upacara ini semua masyarakat menampilkan kegembiraan dan sukacita yang besar daripada kegiatan-kegiatan yang bersifat duniawi. Tidak terlalu berlebihan apabila upacara naik dango disebut sebagai perayaan untuk mengucapkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Kebudayaan ini juga tidak hanya sekadar sebagai tempat hiburan atau perayaan, tetapi juga memunyai makna dan fungsi yang mendalam terkait dengan berbagai aspek kehidupan suku Dayak Kanayatn. Pentingnya kebangkitan dango dalam kehidupan suku Dayak Kanayatn diceritakan secara lisan agar hubungan yang terjalin semakin mesra (Hartatik, 2. Upacara naik dango memerlukan empat kegiatan utama. Kegiatan pertama adalah berjuluk batutuk atau kegiatan menumbuk padi dalam lesung untuk mendapatkan beras kemudian dengan cara matik atau mengucapkan doa sebagai niatan kepada Jubata supaya direstui dalam pelaksanaan upacara. Dalam adat matik disediakan beberapa perangkat seperti tumpi sunguh atau cucur putih, solekng poe atau ruas bambu berisi ketan, dan sirihAedaun sirih, pinang siap santap, dan gulungan rokok dari daun nipah. Inti upacara naik dango adalah adat nyangahatn atau pelantunan mantra dan doa-doa oleh imam adat . untuk memanggil semangat padi serta mengucapkan syukur kepada Jubata (Mawar dan Di, 2. Masyarakat Dayak Kanayatn dalam proses menyukseskan upacara naik dango biasanya melakukan adat berpantang atau balala selama satu hari. Pada hari berpantang, masyarakat tinggal di dalam rumah, tidak diperbolehkan menerima tamu, tidak makan binatang yang berdarah, daun paku, rebung, dan daun cendawan. Jika ada yang melanggar balala, pelanggar pantang akan dikenai sanksi adat dengan memotong seekor babi, sebuah tempayan. Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 324 - 335 mangkok, dan ayam bergantung berat-ringannya pelanggaran. Upacara naik dango diwarnai dengan kebersamaan anggota masyarakat. Di sini setiap masyarakat mengambil peran untuk memasak lemang dan memotong ayam. Biasanya disajikan pula poe atau salitkat . emang atau pulut yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam batang bamb. , tumpi cucur . ampuran tepung terigu dan beras yang diaduk dengan gula merah dan digoren. , dan bantonkng . erbahan baku beras sungu. Hasil semua santapan ini akan dipersembahkan di panyugu, tempat keramat. Selain diserahkan di panyugu, hasil sajian diberikan untuk menjamu tamu-tamu yang hadir pada upacara itu (Mawar dan Di, 2. Jika ditinjau dari segi sosial masyarakat, naik dango mencerminkan semangat persaudaraan dan solidaritas yang begitu erat. Dengan kata lain, rasa kekeluargaan, persaudaraan, dan solider dalam naik dango melibatkan praktik dan sikap tertentu yang menghormati hubungan dan interaksi antarpribadi. Dalam budaya naik dango yang semakin berkembang, moralitas hubungan diungkapkan dalam sikap saling menghormati, dan gotong-royong. Tindakannya antara lain menghormati peran dan kontribusi setiap individu dalam persiapan dan pelaksanaan budaya naik dango yang berkembang. Naik dango juga melibatkan semangat kerjasama yang baik dengan suku Dayak Kanayatn. Penerapan persaudaraan diwujudkan dalam kemampuan bekerja secara harmonis dan saling mendukung, terutama untuk menciptakan kebahagiaan (Riyanto, 2. Sekilas Kisah Hidup Karl Jaspers Karl Theodor Jaspers lahir di Oldenburg. Jerman Utara, pada 23 Februari 1883. Ayahnya seorang yang ahli hukum dan direktur Jaspers studi di Gymnasium Oldenburg bersama Rudolf Bultmann. Di Universitas Heidelberg, ia memelajari hukum, tidak lama kemudian ia belajar kedokteran di Munchen. Ia memilih psikiatri. Studi Jaspers mengenai Psikiatri Allgemeine Psychopathologie, menjadi buku pegangan klasik yang masih dipakai (Purnama, 2. Jaspers bekerja di Universitas Heidelberg sebagai psikiater, ia juga menjadi dosen psikologi dan pada tahun 1933 ia dipecat oleh kaum Nazi karena Jaspers menyerang mereka. Heidegger yang adalah sahabatnya berakhir pada periode ini. Jasper sempat mengalami zaman keemasannya pasca Perang Dunia Kedua. Pada akhir hidupnya, ia mengarang mengenai masalah-masalah perang dan damai, isu-isu politik, dan Auiman filosofisAy yang adalah lapangan diskusi dalam usaha untuk mengatasi perbedaan-perbedaan antara agama-agama. Jaspers juga berusaha untuk mengarang suatu sejarah filsafat seluruh dunia. Hal ini dimaksudkan sebagai sumbangan untuk mempermudahkan komunikasi antarkebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Terakhir Jaspers meninggal di Basel tahun1969 (Hamersma, 1. Selain itu, pemikiran Jaspers tentang eksistensialisme metafisik dipengaruhi oleh Kierkegaard dan Nietzsche. Jaspers memilih eksistensial yang Ia memposisikan transendensi sebagai pemenuhan atas penemuan eksistensi manusia. Menurutnya, manusia menjadi mungkin bereksistensi ketika ia menemukan batas-batas pencapaian yang ada transendensi. Hubungan manusia dengan transendensi mengajarkan manusia tentang akar eksistensinya, pemahaman akan realitas dunia, serta memberikan kebebasan untuk menciptakan momenmomen bersejarah. Hubungan ini membawa manusia ke pemahaman tentang makna keberadaan, tantangan, dan tragedi yang melebihi pemahaman empiris. (Siswanto, dkk, 2. Konsep Chiffers Transendensi Jaspers terkenal karena konsep tentang AuTranscendenceAy atau AuTranszendenz,Ay yang merujuk pada dimensi eksistensial yang melampaui dunia empiris. Ia menggunakan istilah ini untuk menggambarkan pengalaman manusia yang melebihi batasan dunia fisik dan materi. Transenden dalam pemikiran Jaspers tidak hanya merujuk pada hubungan dengan Tuhan, tetapi juga mencakup dimensi-dimensi seperti kebebasan, tanggung jawab, dan otonomi individu dalam tataran kehidupan. Fernando Ersa Widodo. Armada Riyanto. Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn sebagai Manifestasi . Jaspers berpendapat bahwa transendensi hanya dapat dikenal melalui chiffer-chiffer atau tulisan-tulisan sandi (Siswanto, 1. Chiffer berasal dari bahasa Arab Sifr berarti nol atau kekosongan. Menurut terminologi Jaspers, chiffer berarti simbol-simbol atau tulisan-tulisan yang menunjuk kepada transendensi. Chiffer adalah bahasa dari transendensi, tetapi bukan transendensi itu sendiri. Chiffer lebih berperan sebagai pengantara eksistensi menuju kepada transendensi. Jaspers memilih pendekatan eksistensial yang sejalan dengan menempatkan transendensi sebagai solusi bagi pencarian makna eksistensi manusia. Namun. Jaspers menekankan konsep yang diuraikan oleh Kierkegaard dan Nietzsche, yaitu upaya untuk mengatasi keterbatasan dunia empiris. Meskipun usaha-usaha manusia mungkin mencapai batasnya, namun di luar batas-batas tersebut terdapat transendensi yang membawa potensi baru. (Siswanto, dkk, 2. Tradisi Naik Dango : Chiffer Transendensi Jaspers Tradisi naik dango adalah sebuah upacara adat yang setiap tahun dirayakan. Upacara ini melakukan beberapa praktik adat yang merujuk pada sikap hormat kepada Yang Ilahi. Dalam upacara naik dango, masyarakat adat melakukan prosesi mengantar hasil panen ke dalam lumbung yang telah disediakan. Masyarakat memaknai praktik ini sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Jubata. Mereka juga berharap bahwa Jubata dapat menjauhkan mereka dari berbagai musibah atau yang lebih ekstrem gagal panen. Masyarakat Dayak Kanayatn meyakini bahwa segala hal yang ada di alam berasal dari Jubata. Jubata adalah Pencipta. Penyelenggara segala hal yang ada di dunia fisik dan dunia virtual, serta sebagai Hakim yang adil dalam mengatur segala sesuatu. Karena itu, di kalangan masyarakat Dayak asli. Jubata dipandang dengan penuh penghormatan dan ketakutan. Selain dianggap sebagai sosok yang sangat baik. Jubata juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kemurahan hati dan keadilan, namun tegas dalam menegakkan hukum terhadap perilaku amoral. (Lumbantobing, 2. Hal ini juga ditemukan dalam konsep berpikir Jaspers tentang chiffer transendensi. Dalam kerangka berpikirnya, manusia menemukan eksistensi dirinya ketika ia sampai pada batas-batas Namun, tidak hanya berhenti di situ, eksistensi dapat diungkapkan juga lewat kebahagiaan, kebebasan, kesenian, dan perayaan syukur atas hidup yang dialami. Manusia sejatinya merindukan sesuatu yang transenden ketika ia berhadapan dengan eksistensi. Eksistensi adalah sebagai batas dari diri manusia yang hadir untuk diinterpretasikan lebih lanjut. Karena itu, transendensi, sebagai kekuatan Yang Merangkul segala sesuatu, merupakan akar dari keberadaan dan fondasi dari segala hal, sehingga menjadikan segala sesuatu memiliki jejak-jejak transendensi. Konsep ini dapat lebih terang dalam pemikiran Jaspers tentang wahyu Yang Transenden. Jaspers mengatakan bahwa transendensi ada dalam segala sesuatu sehingga segala sesuatu memunyai dimensi transendensi dan selalu menampakkan atau mengungkapkan unsur-unsur transendensi. Karena itu. Jaspers mengatakan bahwa segala sesuatu adalah simbol atau tulisan-tulisan transendensi. Transendensi ada di balik segalanya, melampaui segala bentuk agar segala sesuatu bisa menjadi jalan menuju transendensi. Demikian halnya konsep Jubata dalam masyarakat dayak. Jubata adalah realitas tertinggi dan berperan sebagai Yang Melingkupi. Yang Menyelenggarakan, dan Yang Mengadakan segala sesuatu. Masyarakat dayak percaya bahwa melalui praktik-praktik adat seperti naik dango, tutup tahun . utup taun. , berpantang . , mantra/ doa . , tempat keramat . adalah usaha-usaha manusia adat untuk mewujudkan eksistensinya berhadapan dengan realitas transenden yakni Jubata (Riyanto, 2. Di sini ditemui pula adanya kesadaran bahwa Tuhan itu ada, manusia dapat pula memilih yang baik secara tak bersyarat. Dunia bukan- Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 324 - 335 lah kenyataan terakhir, dan bahasa kasih adalah suatu bukti bahwa Tuhan ada. Ada Tuhan karena kemampuan manusia menangkap pesan bahasa simbol atau chiffer dari segala segi kehidupannya (Hamersma, 1. Elemen-Elemen dalam Naik Dango sebagai Chiffers Realitas Semua realitas karena berada dalam ruang dan waktu Yang Transenden berada, berpartisipasi dalam Yang Transenden dan selalu menikmati atau mengungkapkan juga segala sesuatu Yang Transenden. Jaspers menggambarkan Yang Transenden sebagai sesuatu yang mencakup segala sesuatu, pada jarak tidak terbatas, seolah hilang dalam ketiadaan, sulit dipahami, tidak dapat diketahui, dan tidak dapat dibayangkan (Siswanto, dkk, 2. Situasi seperti itu memang membuat manusia tidak bisa langsung berhubungan dengan Yang Transenden. Manusia hanya dapat mengenal Yang Transenden secara tidak langsung melalui simbol-simbol di dunia nyata. Chiffer adalah bahasa Transendensi. Karena itu, mencapai transendensi adalah dengan membawa chiffer-chiffer. Chiffer-chiffer yang dimaksud Jasper sebagai suatu pendekatan atau bahasa mencapai transendensi juga terhubung dalam tradisi naik dango. Naik dango memiliki kekayaan akan chiffer-chiffer Dengan adanya kekayaan chiffer yang terkandung dalam tradisi ini, masyarakat dayak diarahkan untuk mengenali, menyadari, dan merasakan kehadiran spiritual yang transenden dan penghormatan luhur terhadap Jubata, alam dan manusia. Dengan kata lain, masyarakat dayak menemukan pemahaman baru tentang eksistensial manusia yang sejati. Eksistensial manusia membawa mereka menuju pada kehadiran dan mampu berdiri di hadapan Berikut adalah elemen-elemen yang terkandung dalam tradisi naik dango sebagai chiffer-chiffer realitas yang dapat menemukan pemahaman tentang transendensi. Tari Ngantar Panompo Tarian Dayak sering mencerminkan kehidupan sehari-hari, mitos, ritual, atau cerita leluhur. Gerakan-gerakan tarian ini sering diilustrasikan dengan indah dan seimbang, mencerminkan keselarasan dengan alam, dan kehidupan masyarakat Dayak. Demikian halnya, tari Ngantar Panompo berperan sebagai salah satu upacara adat yang ada di dalam tradisi Naik Dango. Hal ini terlihat dalam tari Ngantar Panompo karena tari masuk ke dalam ciri-ciri tari yang bersifat ritual (Mawar dan Di, 2. Ngantar Panompo merupakan tarian upacara penghormatan berupa hasil pertanian dan peternakan kepada tuan rumah yang menyelenggarakan upacara tersebut. Setiap masyarakat bergiliran menari dan membawa panompo . masing-masing, sesuai urutan yang ditentukan oleh penyelenggara upacara adat Naik Dango. Isi panompo dapat berupa buah, sirih kapur sebagai simbol terima kasih kepada Jubata, ayam, nasi, ketan buah, tepung terigu, kelapa, minyak kelapa, gula pasir, kopi, daging babi, telur, sol, tangkeatn . , daun tembakau, tumpi, dan lain-lain. Simbol Burung Enggang Simbol burung enggang gading bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Jubata (Tuha. atas rezeki atau hasil panen yang Dalam serangkaian percobaannya, masyarakat Dayak meyakini bahwa Jubata tampil sebagai burung enggang dan memberikan hadiah berupa beras kepada masyarakat Dayak. Selain menggambarkan Jubata yang menyelenggarakan bahan pangan untuk pembangunan, makna, atau simbol burung enggang juga membawa keselamatan bagi masyarakat Dayak dalam segala peperangan. Inilah sebabnya, suku Dayak secara intim mengenali semangat burung enggang saat acara naik dango (Sianturi, 2. BatutuAo BatutuAo adalah suatu kegiatan yang dilakukan sebelum upacara nyangahatn dimulai. Set- Fernando Ersa Widodo. Armada Riyanto. Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn sebagai Manifestasi . iap keluarga akan berkontribusi untuk melakukan kegiatan batutuAo, dengan memasak makanan seperti beras ketan atau poeAo yang dimasak di dalam bambu-bambu besar dan tumpi . emacam roti cucu. yang nanti akan ditempatkan dalam wadah atau pahar, tidak lupa setiap keluarga juga akan menyediakan ayam dan babi yang telah disembelih. Semua bahan itu akan dipersembahkan kepada roh leluhur dan Jubata karena dari hasil panen yang telah diterima, bahan persembahan tersebut kemudian dibawa ke lumbung, dangau sebagai media penghormatan (Prasetyo. Kristianus, dan Magdalena, 2. Nyangahatn Pada saat naik dango diadakan upacara nyangahatn atau barema, doa para tetuah, mantra adat dipanjatkan kepada pencipta. Nyangahatn adalah ritual menghantarkan hasil panen ke dalam lumbung atau dangau. Pada hari pesta naik dango, upacara nyangahatn akan dilakukan sebanyak tiga kali di lokasi berbeda. Pertama, nyangahatn berlangsung di halaman utama rumah radank dengan tujuan memanggil makhluk halus atau arwah padi yang belum datang untuk melakukan perjalanan ke rumah adat. Kedua, nyangahatn adalah ritual yang dilakukan di lumbung padi dengan tujuan mengumpulkan arwah . padi yang sebelumnya dipanggil ke dalam lumbung. Ketiga, nyangahatn juga dilaksanakan di pandarengan atau tempat penyimpanan padi berukuran besar untuk memberkati hasil panen agar tahan lama dan tidak cepat kering. Proses ini penting karena beras yang disimpan di dalam dangau akan digunakan sebagai bibit untuk penanaman selanjutnya, sementara sisanya menjadi cadangan makanan untuk masa-masa sulit. Intisari atau puncak dari ritual naik dango adalah pertunjukan nyangahatn (Endang. Khomas. Firmansyah. Info, dan Kanayatn, 2. Pabayo Pabayo merupakan sebuah penanda yang dipasang di tepi jalan yang dilewati selama upacara naik dango. Pabayo digunakan sebagai simbol untuk menunjukkan bahwa ada peristiwa besar atau gawai yang terkait dengan tradisi masyarakat Dayak. Secara umum, bentuk pabayo menyerupai rumbai dari kayu yang dibuat dengan cara meraut bambu atau kayu menggunakan pisau rautan atau insaut. Pabayo dibuat setiap kali ritual dilaksanakan dan simbolisasi ini adalah penghormatan terhadap kehadiran penguasa alam, yakni Jubata. Prosedur pemasangan pabayo adalah sebagai berikut: Pabayo ditanam di tanah, di setiap lokasi di mana ritual berlangsung. Pabayo dibuat dalam beberapa tingkatan, dan setiap tingkatan memiliki makna tersendiri. Pertama, pabayo dibuat dari bambu atau potongan kayu yang diraut menjadi satu tingkat, ditandakan bahwa berlangsung pelaksanaan upacara Batalah Dama dan Upacara Batenek . usuk telinga untuk memasang anting-anting pertama bagi anak perempua. Kedua, pabayo dibuat dari bambu atau potongan kayu yang diraut menjadi tiga tingkat, hal ini ditandakan bahwa berlangsung pelaksanaan upacara ngangkat Anak dan upacara Batunangan . Ketiga, pabayo dibuat dari bambu atau potongan kayu yang diraut menjadi lima tingkat, pabayo hadir sebagai tanda dari sebuah pelaksanaan upacara Panganten . , upacara Babalak (Sunata. , dan upacara Naik Dango atau pesta panen padi. Terakhir, pabayo dibuat pada bambu atau sepotong kayu yang diraut tujuh Hal ini menandakan ada upacara besar atau Bakaupm (Andrian, n. Musik Musik menjadi spirit sebuah tarian. Apalagi saat menari pada saat upacara, musik berperan sebagai pengiring yang sangat penting, dan juga membuat para penari bersemangat dalam menari. Alat musik tradisional yang ada pada suku Dayak Kanayatn ini banyak jenisnya (Tindarika, 2. Pada umumnya, masyarakat Dayak dalam memeriahkan upacara naik dango menggunakan alat musik sebagai berikut: Ada 3 gong, 7 dau, 2 gendang, takop, dan teng-teng yang digunakan dalam upacara Di antara instrumen musik yang dise- Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 324 - 335 butkan, takop dan teng-teng berperan dalam menetapkan tempo irama musik, sementara musik Jubata digunakan sebagai pengiring musik. (Endang et al. , 2. Semua elemen ini adalah sebagai chifferchiffer yang dimaksud oleh Jaspers. Melalui elemen-elemen atau simbol-simbol di atas masyarakat dayak dihadapkan pada pemahaman eksistensial yang tinggi. Simbol-simbol ini membawa mereka pada suatu kesadaran eksistensi Yang Ilahi, masyarakat Dayak kemudian dapat menghayati kepercayaan mereka bahwa tradisi dan kesenian mendekatkan mereka pada suatu Yang Ilahi. Yang Transenden. Yang Melingkupi. Kini mereka dapat berdiri dihadapan transendensi lewat eksistensi upacara naik dango. dan mencari makna yang lebih tinggi (Harun Hadiwijono, 1. Dalam pemikiran Jaspers, eksistensi, dan transendensi saling bergantung dan manusia menghadapi tantangan untuk menerima keberadaannya sambil mencari makna yang lebih dalam dan universal. Karena itu, dalam menemukan makna hidup, dan mengungkapkan keberadaan yang sejati, manusia perlu membaca chiffer-chiffer. Interpretasi Eksistensi-Transendensi: Yang Ilahi. Yang Absolut. Yang Melingkupi Interpretasi secara etimologi berasal dari bahasa latin interpretatio yang berarti penjelasan, eksposisi, terjemahan, atau interpretasi (Mujahid, 2. Interpretasi dalam bahasa Inggris interpretation yang berarti the action of explaining the meaning of something. Dengan demikian, interpretasi dapat dimengerti sebagai usaha rasio dan refleksi mendalam tentang sesuatu. Dalam konteks pemikiran Jaspers tentang eksistensi dan transendensi, eksistensi mengacu pada realitas individu manusia, yang tidak dapat direduksi menjadi konsep atau sistem. Chiffer-chiffer yang diterjemahkan memerlukan Interpretasi menjadi penting karena terdapat perbedaan yang signifikan antara pengalaman spiritual yang luhur dengan simbol-simbol . yang digunakan, antara simbol-simbol . tersebut, dan individu yang mengalami pengalaman tersebut. Interpretasi ini dimaksudkan untuk menggali bahasa esensial dari transendensi yang tersembunyi di balik simbol-simbol tersebut serta menemukan pandangan baru dalam membangun keberadaan Tidak hanya sekadar menganalisis struktur simbol-simbol . , tetapi juga menggali pencerahan atau makna spiritual-Ilahi yang terkandung di dalamnya. Proses penemuan makna ini membutuhkan lebih dari sekadar analisis linguistik simbol-simbol. Ini melibatkan refleksi yang mendalam yang tidak hanya terbatas pada pemikiran rasional, tetapi juga melibatkan kontemplasi. Kontemplasi di sini mirip dengan suatu bentuk mistisisme intelektual yang bertujuan untuk menemukan cahaya dari keberadaan manusia yang lebih dalam. (Siswanto, dkk, 2. Manusia mempunyai kebebasan memilih dan menghadapi keberadaannya dengan cara yang Pada saat yang sama, transendensi mencakup dimensi pengalaman manusia yang jauh melampaui batas pengalaman sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan pencarian makna hidup, pertanyaan tentang tujuan keberadaan . , dan hubungan manusia dengan sesuatu yang lebih besar atau dengan apa yang ada di luar dirinya yakni Yang Ilahi. Yang Absolut dan Yang Melingkupi. Transendensi mengajak manusia untuk mengatasi diri mereka sendiri Eksistensi Naik Dango: Usaha Menggapai Transendental Jubata Tradisi naik dango mencerminkan kekayaan budaya yang unik. Melalui tradisi ini ditemukan wujud-wujud aktualisasi kearifan lokal. Tradisi naik dango mengandung elemen-elemen yang membantu masyarakat untuk semakin dekat dengan Yang Ilahi. Praktik ini menjadi salah satu jalan untuk menghayati iman mereka bahwa manusia selalu diberikan rahmat dari atas. Masyarakat Dayak yang selama ini dikelilingi oleh alam juga merasa dikelilingi Fernando Ersa Widodo. Armada Riyanto. Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn sebagai Manifestasi . oleh berbagai kekuatan. Kekuatan-kekuatan ini dikatakan memiliki satu jiwa. Keyakinan pada kekuatan ini membuat kehidupan menjadi ajaib. Menurut kepercayaan suku Dayak Kanayatn, manusia mengharapkan bimbingan dari penciptanya Jubata agar dapat memahami kondisinya dan cara harus Jika seseorang dapat mempertahankan aturan yang ditetapkan oleh maka mereka akan hidup normal. Suku Dayak Kanayatn percaya bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini berasal dari Jubata (Prasetyo et , 2. Jubata adalah Sang Pencipta. Jubata adalah pemelihara segala sesuatu yang ada di dunia nyata dan dunia maya dan Jubata juga yang memberi hukuman. Melalui tradisi naik dango, masyarakat dayak masuk dalam dimensi eksistensial mereka menyadari akan suatu kehadiran eksisten yang lebih tinggi. Masyarakat dayak melaksanakan tradisi ini dengan kegembiraan yang besar. Ini terungkap dalam persiapan-persiapan yang dilakukan untuk mewujudkan penghormatan kepada roh leluhur dan hubungan spiritual dengan sesama, alam, dan Tuhan. Elemen-elemen yang terkandung dalam tradisi naik dango tidak hanya berhenti pada pemahaman ritual atau upacara adat semata, tetapi juga sebagai bentuk aktualisasi manifestasi chiffer-chiffer transendensi yang dimiliki oleh Jaspers. Metafisika Chiffer Transendensi Jaspers mengarahkan manusia pada suatu kesadaran akan pemahaman eksistensial manusia yang berusaha eksis di hadapan transendensi. Transendensi adalah realitas yang tidak bisa dicapai oleh akal budi, tetapi transendensi hanya bisa diinterpretasi lewat simbol-simbol . Secara sederhana, chifferchiffer adalah bahasa yang membantu manusia berhadapan dengan transendensi. Kehadiran realitas transendental dari Yang Ilahi, dalam konteks masyarakat dayak adalah Jubata. Karena itu, konsep metafisika Jaspers tentang chiffer-chiffer membantu manusia dayak untuk memahami eksistensi yang lebih tinggi antara manusia dan Yang Transenden. Dengan pemahaman ini, masyarakat dayak lebih menghormati hasil bumi dan tidak bisa semena-mena mengeksploitasi bumi. Mereka juga mencapai pemahaman spiritual dengan alam, sesama dan Tuhan. Pemikiran chiffer transendensi relevan dengan tradisi naik dango suku Dayak Kanayatn. Naik dango adalah bahasa atau interpretasi dari suku Dayak Kanayatn untuk bisa berhadapan langsung dengan Jubata. Jubata adalah realitas tertinggi dalam hidup masyarakat dayak. Sebab Jubata adalah Sang Pencipta. Sang Pengada, dan Sang Pemberi hasil panen yang berlimpah. Kesadaran eksistensial humanis masyarakat dayak mengarahkan mereka untuk menghormati roh leluhur yang juga berperan dalam Karena itu, tradisi naik dango adalah sebuah manifestasi chiffer transendens yang membawa masyarakat akan pemahaman eksistensi yang lebih tinggi terhadap Jubata. KESIMPULAN Tradisi naik dango adalah upacara adat yang rutin dirayakan setiap tahun. Tradisi ini adalah bentuk aktualisasi rasa syukur dan terimakasih kepada Jubata yang memberi rahmat atas panen berlimpah dan memberi petunjuk dalam usaha berladang selanjutnya. Masyarakat dayak menyambut acara ini dengan pesta syukur yang melibatkan banyak elemen-elemen yang terkandung di dalam tradisi naik dango. Elemen-elemen yang ada yakni tarian, musik, simbol-simbol ritual, dan lain-lain. Hal itu semua adalah sarana untuk mendekatkan diri dengan Jubata. DAFTAR PUSTAKA