Inovasi Teknik Kimia. Vol. No. Januari 2026. Hal 12-17 ISSN 2527-614X, e-ISSN 2541-5891 PENGARUH PERBEDAAN METODE COLD PROCESS DAN HOT PROCESS TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU SABUN PADAT EKSTRAK BEKATUL BERAS MERAH (Oryza rufipogon Grif. Maria Mita Susanti1*. Henri Dwi Septiono1. Megumi Corry Susanti1 Program Studi D3 Farmasi Politeknik Katolik Mangunwijaya Jl. Gajah Mada 91. Semarang *Email: mariamitasusanti@gmail. Corresponding Author Abstrak Sabun padat dibuat melalui proses saponifikasi yang dapat dilakukan melalui metode cold process dan hot process. Perbedaan kedua proses tersebut adalah produksi sabun pada proses dingin terjadi pada suhu kamar atau tanpa pemanasan, sedangkan proses panas melibatkan reaksi saponifikasi termal. Perbedaan perlakuan tersebut memungkinkan mengakibatkan terjadinya perbedaan karakteristik mutu sabun yang Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode cold process dan hot process terhadap karakteristik mutu sabun padat ekstrak bekatul beras merah (Oryza rufipogon Grif. terhadap karakteristik fisik sabun padat. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan variabel bebas adalah metode pembuatan sabun padat dan variabel terikat adalah karakteristik mutu sabun padat. Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan teoritis yang dibandingkan dengan persyaratan mutu dan secara statistik data diuji menggunakan uji T Test jika data normal dan menggunakan uji Mann Whitney jika data tidak normal. Berdasarkan penelitian memberikan hasil organoleptis sama yaitu warna coklat muda, bau coklat dan bentuk padat namun memberikan tekstur yang berbeda yaitu tidak rata pada metode cold prosses dan tekstur yang lebih rata pada hot prosses. Hasil pH pada kedua metode sama yaitu pH 8, metode cold prosses menghasilkan daya busa 78%, kadar air 12,88%, alkali bebas 0,025% sedangkan hot prosses menghasilkan daya busa 61%, kadar air 17,12%, alkali bebas 0,022%. Metode cold process dan hot process berpengaruh terhadap daya busa dan kadar air . <0,. tetapi tidak berpengaruh terhadap pH dan kadar alkali bebas . >0,. Kata kunci : Cold process. Ekstrak bekatul beras merah (Oryza rufipogon Grif. Hot process. Karakteristik mutu. Sabun padat Abstract Solid soap is produced through saponification, which can be done using either the cold or hot The key distinction lies in temperature: the cold process occurs at room temperature without heating, whereas the hot process uses heat to saponify. These differences may influence the resulting soap quality characteristics. This experimental study aimed to examine the effect of cold and hot processing methods on the quality characteristics of solid soap formulated with red rice bran extract (Oryza rufipogon Grif. The independent variable was the soap-making method, and the dependent variables were the soap's physical quality characteristics. Data were analyzed theoretically against established quality standards and statistically using an independent t-test for normally distributed data and the MannAeWhitney test for nonnormal data. Both methods produced similar organoleptic properties, namely a light brown color, a chocolate-like odor, and a solid form. However, the texture differed: the cold process produced a less uniform texture, whereas the hot process produced a smoother one. Both methods yielded a pH of 8. The cold process produced 78% foam stability, 12. 88% moisture content, and 0. 025% free alkali, while the hot process resulted in 61% foam stability, 17. 12% moisture content, and 0. 022% free alkali. Statistical analysis indicated that the processing method significantly affected foam stability and moisture content . < 0. , but had no significant effect on pH or free alkali content . > 0. Keywords: Cold process. Red rice bran extract (Oryza rufipogon Grif. Hot process. Quality Solid soap. PENDAHULUAN Sabun adalah zat berbasis minyak yang dibuat dengan menggabungkan garam dan Berbentuk padatan atau cairan, buih dan memiliki aroma yang khas. Sabun dan gliserol dihasilkan melalui saponifikasi antara asam lemak dan busa (Purwanto, 2. Sabun padat adalah sabun yang dibuat melalui penyabunan lemak padat dan NaOH. Natrium hidroksida adalah alkali yang umum digunakan dalam sabun keras . abun pada. , sedangkan kalium hidroksida adalah alkali Fakultas Teknik-UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG Pengaruh Perbedaan Metode Cold ProcessA (Susanti, et a. yang sering digunakan dalam sabun lunak . abun cai. Sabun padat memiliki keuntungan lebih terjangkau dan memiliki stabilitas fisik yang unggul (Lilis, 2. Sabun padat pada umumnya dibuat dengan dua metode, yaitu metode cold process dan hot process. Perbedaan dari kedua metode tersebut ialah suhu yang digunakan saat proses pembuatan sabun. Metode cold process produksi sabun pada proses dingin terjadi pada suhu kamar atau tanpa pemanasan, sedangkan metode hot process melibatkan reaksi saponifikasi termal yang terjadi pada suhu 70A hingga 80AC. Pada pembuatan sabun dengan metode cold process memerlukan proses curing . ematangan/pemerama. sabun pada suhu ruang selama 2 minggu sebelum digunakan (Asnani A dkk, 2. Metode cold process merupakan metode pembuatan sabun dengan menggunakan suhu rendah untuk proses curing . ematangan sabu. Proses curing dalam metode cold process dilakukan agar kandungan air menguap dengan baik dan sabun yang dihasilkan memiliki pH yang normal (Pauhesti dkk. , 2. Sedangkan keuntungan dari menggunakan metode hot process adalah proses dapat mempercepat saponifikasi, mempersingkat waktu produksi, penggunaan suhu tinggi mampu membantu melarutkan bahan, dan meningkatkan homogenitas (Hidayat, dkk. ,2. Menurut penelitian (Lugiyana dkk. Penggunaan pelarut yang berbeda pada pembuatan sabun dari susu sapi dan susu kambing dengan metode cold process tidak berpengaruh nyata . >0,. pada karakteristik kimia sabun. Sabun dengan pelarut susu sapi memiliki stabilitas busa yang lebih tinggi dibandingkan dengan sabun susu kambing. Sedangkan menurut (Nurhajawasti, 2. pembuatan sabun dengan mengunakan metode hot process formula yang paling sesuai dengan standar mutu sabun mandi padat SNI 3532:2016 dengan adalah formula F2 yaitu konsentrasi rumput laut 15% dengan pH 9. kadar air 0,791%. alkali bebas 0,048%. stabilitas busa 2,6 cm. Pada pengujian organoleptik, setiap formula memperoleh tingkat penerimaan yang baik dan tidak menunjukkan adanya perbedaan signifikan. Berdasarkan latar belakang tersebut belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya tentang perbandingan metode cold prosses dan hot prosses dalam pembuatan sabun padat menggunakan ekstrak bekatul beras merah (Oryza Rufipogon Grif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani et al. , . aktivitas antioksidan pada beras merah memiliki nilai ICCICA paling tinggi sebesar 41 ppm yang termasuk dalam potensi antioksidan sangat Hal tersebut dikarenakan kandungan senyawa golongan fenolik terdapat pada beras merah yang memiliki fungsi sebagai antioksidan (Kusumawati, et al. , 2. Dengan demikian maka perlu dilakukan penelitian tentang Pengaruh Perbedaan Metode Cold Process Dan Hot Process Terhadap Karakteristik Mutu Sabun Padat Ekstrak Bekatul Beras Merah (Oryza Rufipogon Grif. METODE PENELITIAN 1 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah bekatul beras merah, virgin coconut oil, natrium hidroksida (NaOH), aquadest, asam stearat, gliserin, essence chocolate, dan etanol 96%. Alat yang digunakan adalah neraca analitik, alat-alat gelas, kertas saring, kain katun, penangas air, kompor, mesh ayakan 60, pH meter, cetakan, pipet tetes, pipet volume, buret, klem, statif, corong kaca, cawan porselin, batang pengaduk. 2 Stabilisasi bekatul beras merah Stabilisasi dilakukan dengan cara memasukkan sampel bekatul ke dalam oven pada suhu 80AC selama 1 jam. Pada proses stabilisasi ini digunakan oven untuk menginaktivasi enzim lipase dalam bekatul dan mampu menurunkan kadar air bekatul (Kim, et al. , 2. 3 Ekstraksi bekatul beras merah Bekatul yang telah dilakukan stabilisasi ditimbang sebanyak 500 g dan dimaserasi dengan menggunakan etanol 96% yang telah diasamkan dengan menggunakan HCl 37% sampai pH 1 dengan perbandingan bekatul dengan pelarut 1:6 . Maserasi dilakukan selama 30 jam pada suhu ruang. Maserat diuapkan menggunakan rotary evaporator (Suhery & Anggraini, 2016. Listiani, et al. Ekstrak bekatul beras merah yang didapat kemudian dihitung randemennya. 4 Pembuatan Sabun Padat Pembuatan sabun padat pada formula ini menggunakan metode hot process. Formula sabun padat ini merupakan modifikasi formula Inovasi Teknik Kimia. Vol. No. Januari 2026. Hal 12-17 dari penelitian Susanti & Juliantoro . yang berjudul Analisa Karakteristik Mutu Sabun Padat Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L. ) Berbahan Dasar Minyak Jelantah. Sabun padat akan dibuat masingmasing beratnya menjadi 100 g. Formulasi dari sabun padat ini dapat di lihat pada tabel 1. Tabel 1. Formula Sabun Padat Bahan Ekstrak Bekatul Beras Merah VCO NaOH Asam Stearat Etanol 96% Gliserin Essence Aquadest ad Formula (%) Fungsi Bahan aktif Emolient Alkali Surfactan Pelarut Humectan Corigen Odoris Pelarut Pembuatan menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan, ditimbang asam stearate dimasukkan dalam cawan porselin lalu dipanaskan hingga Asam stearat yang telah mencair dipindahkan dalam mortir lalu ditambahkan VCO sambil diaduk. NaOH ditimbang dan diukur aquadest pada tempat terpisah. Untuk metode cod process NaOH dimasukkan secara hati Ae hati ke dalam air diaduk hingga larut dan homogen. Suhu NaOH diukur dan didiamkan sampai suhu 40oC. NaOH yang sudah dalam suhu 30 Ae 35oC selanjutnya dimasukkan dalam campuran dalam mortir sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga terbentuk trace, sedangkan untuk metode hot process penambahan NaOH dilakukan dengan cara pemanasan diatas waterbath pada suhu 70oC dimasukan sedikit demi sedikit pada cawan hingga membentuk trace. Campuran ditambahkan etanol 96% sebanyak 25 mL dan gliserin sebanyak 10 mL sambil Ekstrak bekatul beras merah ditimbang lalu dimasukan terakhir tanpa pemanasan ke dalam campuran dan ditambahkan essence chocolate secukupnya lalu diaduk hingga homogen, campuran dituangkan ke dalam cetakan dan disimpan pada suhu ruang selama 2 x 24 jam (Mela et al. , 2018 . Muis, 2. 5 Uji Karakteristik Sabun Padat 1 Uji Organoleptis Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati secara visual hasil dari formulasi sabun yang ISSN 2527-614X, e-ISSN 2541-5891 meliputi warna, aroma, bentuk, dan buih (Aminudin et al. , 2. Uji pH Sampel Sabun dihaluskan terlebih dahulu kemudian ditimbang sebanyak 1 g dimasukan ke dalam beaker glass. Campuran tersebut ditambahkan aquadest sebanyak 10 mL dan diaduk hingga larut. Dicelupkan pH meter ke dalam larutan sabun dan diamati nilainya. Nilai pH harus sesuai dengan persyaratan yaitu 8 Ae 11 (Agustiani & Priatni, 2. Uji Daya Busa Pengujian kestabilan busa dilakukan dengan cara memasukan 1 g sabun ke dalam tabung reaksi yang berisi 10 mL aquadest, kemudian dikocok selama 20 detik. Busa yang terbentuk diukur tingginya menggunakan penggaris . inggi busa awa. Tinggi busa diukur kembali setelah 5 menit . inggi busa akhi. (Rinaldi et al. , 2. Uji Kadar Air Prinsip uji kadar air pada formulasi sabun mandi padat adalah pengukuran berat setelah pengeringan pada suhu 105AC selama 30 Pengujian kadar air pada sabun mandi padat perlu dilakukan karena kadar air akan mempengaruhi kualitas sabun (SNI, 1. Uji Alkali Bebas Pembakuan baku sekunder HCl 0,1 Larutan NacOCE dipipet 10 mL dimasukkan dalam erlenmeyer lalu ditambahkan indikator phenolptalein 3 tetes, dititrasi dengan baku sekunder HCl 0,1 N hingga terjadi perubahan warna merah muda menjadi bening. Hasil titrasi dicatat dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali (Depkes RI, 1. Penetapan kadar alkali bebas sabun padat ekstrak bekatul Sabun sebanyak 20 g dilarutkan dengan aquadest sebanyak 50 mL, kemudian ditambahkan indikator phenolptalein 2 tetes dan dititrasi dengan HCl 0,1 N hingga terjadi perubahan warna merah muda menjadi Dicatat hasil titrasi dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali (Depkes RI, 6 Analisis Data Fakultas Teknik-UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG Pengaruh Perbedaan Metode Cold ProcessA (Susanti, et a. Hasil pengujian dapat dianalisis menggunakan cara berikut: oleh banyak faktor diantaranya yaitu dari metode ekstraksi, waktu dan suhu penguapan, jenis dam konsentrasi pelarut, dan kelembapan lingkungan pada saat pengeringan. Hasil nilai rendemen yang diperoleh sebesar 11,87%, hal ini menunjukkan bahwa nilai rendemen yang dihasilkan sesuai dengan syarat yaitu Ou10% (Depkes RI, 2. Rendemen ekstrak adalah perbandingan berat ekstrak terhadap bahan awal yang dinyatakan dalam persen. Rendemen pada ekstrak juga dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor yang mempengaruhi rendemen ekstrak yaitu jenis dan konsentrasi pelarut, ukuran partikel bahan, suhu dan waktu ekstraksi, jenis tanaman dan kandungan awal, dan metode ekstraksi yang digunakan. Pendekatan teoritis Data yang diperoleh dibandingkan dengan literatur atau pustaka yang diacu, dimana standar yang diacu harus sesuai dengan syarat mutu sabun mandi padat yang tertera pada SNI 063532-2016. Pendekatan statistik Data yang diperoleh kemudian diuji homogenitas dan normalitas data kemudian dilanjutkan dengan uji T Test jika data normal dan uji Mann Withney jika data tidak normal. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Ekstrak Kental Bekatul Beras Merah Serbuk bekatul beras merah yang telah distabilisasi selanjutnya dibuat ekstrak kental menggunakan pelarut etanol 96%. Bekatul yang telah diayak dilakukan stabilisasi, bekatul beras merah dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 80A selama 1 jam tujuan dari stabilisasi pada bekatul beras merah untuk menginaktivasi enzim lipase dalam bekatul dan dapat menurunkan kadar air (Kim et al. ,2. Hasil ekstrak kental yang didapat disajikan pada gambar 1. Gambar 1. Ekstrak Kental Bekatul Beras Merah Berdasarkan hasil tabel pengujian ekstrak bekatul beras merah pada uji organoleptis dapat dilihat bahwa ekstrak bekatul beras merah memiliki warna hitam kecoklatan dan memiliki bau khas. Pengujian organoleptis ini sesuai dengan penelitian (Sari et al. , 2. dengan hasil organoleptis ekstrak berwarna hitam kecoklatan dan berbau khas. Hasil pengujian kadar air yang diperoleh sebesar 15,06%, nilai kadar air menunjukan bahwa kadar air memenuhi syarat ekstrak kental yaitu O 10% (Maneak, 2. Kadar air pada ekstrak kental berperan penting dalam stabilitas produk, daya simpan, dan sifat mikrobiologis. Menurut (Azwanda, 2. ekstrak kental dipengaruhi 2 Hasil Uji Karakteristik Sabun Bekatul Beras Merah Sediaan sabun pada dibuat dengan menggunakan dua metode yaitu cold process dan hot process. Hasil sabun kedua metode kemudian diuji karakteristik mutu sabun meliputi organoleptis, pH, daya busa, kadar air dan alkali bebas. Hasil karakteristik mutu sabun padat ekstrak bekatul disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Karakteristik Sabun Padat Ekstrak Bekatul Beras Merah Metode Pembuatan Sabun Karakteristik Cold Process Hot Process Organoleptis Warna Coklat muda Coklat muda Bau Coklat Coklat Bentuk Padat Padat Tekstur Tidak rata Halus Daya Busa 78,00A2,00a 61,00A9,64b Kadar Air 12,88A 0,42a 17,12A 1,09b Alkali Bebas 0,025A0,006a 0,022A0,003a Keterangan: Angka yang diikuti oleh superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata . <0,. Berdasarkan Tabel 1, hasil menunjukkan bahwa nilai pH sabun menggunakan metode cold process maupun hot process memiliki nilai sabun yang sama yaitu 8. Menurut (Rasyid et al. , 2. Bekatul memiliki sifat asam karena mengandung minyak alami . ekitar 15 Ae 20 %), terutama asam lemak tidak jenuh, bekatul juga memiliki enzim lipase yang aktif setelah penggilingan, hidrolisis trigliserida menghasilkan asam lemak seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam palmitat yang dapat menurunkan pH bekatul menjadi Inovasi Teknik Kimia. Vol. No. Januari 2026. Hal 12-17 ISSN 2527-614X, e-ISSN 2541-5891 bersifat asam. Selain itu penurunan pH bisa juga menetapkan bahwa kadar alkali bebas maksimum disebabkan adanya bahan-bahan penyusun lain dalam sabun padat adalah tidak lebih dari sabun seperti gliserin yang bersifat asam (Rowe 0,1%. Uji alkali bebas bertujuan untuk mengukur et al,. Menurut (Agustiani & Priatni, jumlah alkali atau basa yang tidak berikatan 2. persyaratan pH sabun padat berkisar antara dengan asam lemak, hal ini penting karena alkali 8 Ae 11. memiliki sifat yang dapat menyebabkan iritasi Dari hasil pengujian pH sabun padat pada kulit. Kadar alkali bebas merupakan dengan penambahan ekstrak bekatul beras merah parameter penting dalam evaluasi mutu sabun memenuhi standar. Hasil ini sesuai dengan karena keberadaan alkali bebas . iasanya berupa penelitian yang dilakukan (Sari et al. , 2. NaOH atau KOH) dalam jumlah berlebih dapat perbedaan konsentrasi ekstrak bekatul beras menyebabkan iritasi kulit dan menurunkan merah berpengaruh terhadap nilai pH sabun padat kualitas produk sabun. karena dedak padi bersifat asam, sehingga dengan semakin tinggi penambahan ekstrak 4. KESIMPULAN bekatul beras merah pada pembuatan sabun padat Berdasarkan hasil penelitian yang telah akan membuat pH sabun semakin kecil. dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil Berdasarkan hasil nilai daya busa sabun organoleptis kedua metode sama yaitu warna menggunakan metode cold process dan hot coklat muda, bau coklat dan bentuk padat process menunjukkan perbedaan yang bermakna namun memberikan tekstur yang berbeda . <0,. Nilai daya busa cold process lebih yaitu tidak rata pada metode cold prosses dan tinggi daripada hot process, hal ini disebabkan tekstur yang lebih rata pada hot prosses. Hasil karena karena reaksi saponifikasi yang lebih pH pada kedua metode sama yaitu pH 8, lambat dibandingkan hot process. Hasil ini metode cold prosses menghasilkan daya busa sejalan dengan penelitian (Niamillah dkk, 2. 78%, kadar air 12,88%, alkali bebas 0,025% tentang Fabrikasi Sabun Padat Berbasis Minyak sedangkan hot prosses menghasilkan daya Jelantah Melalui Proses Saponifikasi Dengan busa 61%, kadar air 17,12% dan alkali bebas Aditif Ekstrak Daun Ketepeng Cina Sebagai 0,022%. Metode cold process dan hot process Antibakteri Dan Virgin Coconut Oil Sebagai berpengaruh terhadap daya busa dan kadar air Pelembap, yang memberikan hasil nilai daya . <0,. tetapi tidak berpengaruh terhadap pH busa sabun dengan menggunakan metode cold dan kadar alkali bebas . >0,. process lebih tinggi daripada menggunakan metode hot process yaitu sebesar 15 cm. DAFTAR PUSTAKA