LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Homili Dalam Kontek Budaya: Pewartaan Firman Tuhan di Suku Mentawai Pedalaman Mayer Rubeian Siritoitet Sekolah Tinggi Teologi Cipanas siritoitetrubeian@gmail. Abstrak Dalam artikel ini membahas tentang relevansi universal pesan Alkitab di berbagai situasi dan kondisi, serta pentingnya penyampaian homili oleh gereja. Homili sangat penting karena merupakan bagian esensial dalam ibadah, alat pembinaan iman, dan sarana penginjilan. Pengajaran sebagai pesan Alkitab dilakukan dalam penyampaian Firman Tuhan pun jelas dan tepat sesuai isi Alkitab. Homili merupakan bagian utama di dalam ibadah, dan mengandung pesan Amanat Agung dan kerohanian, dalam berinteraksi dengan adat dan tradisi lokal, homili dalam konteks budaya memperkaya pengalaman kerohanian. Tokoh awal seperti Origenes mempopulerkan homili sebagai penjelasan kitab suci dalam gereja. Di Kepulauan Mentawai, homiletika mendukung komunitas suku pedalaman yang terisolasi, memberi identitas keagamaan dan nilai-nilai budaya umat. Pelayanan melalui ibadah yang dilakukan oleh gereja melalui persekutuan, pengajaran, dan pelayanan, dan berperan dalam membangun iman jemaat. Pendekatan homiletika yang kontekstual dalam suatu budaya memungkinkan gereja, khususnya di Mentawai menjadi tempat bagi pertumbuhan iman yang lebih dalam dengan Tuhan, memperkuat hubungan individu antar individu dalam memahami adat-istiadat dan budaya bagi kemulian Tuhan. Kata Kunci: Homili. Praksis Homili. Budaya. Mentawai Abstract This article discusses the universal relevance of the Bible's message in various situations and conditions, as well as the importance of the church's homily. Homilies are crucial because they are an essential part of worship, a tool for faith formation, and a means of evangelism. Teaching as the Bible's message is delivered through the delivery of God's Word, clearly and accurately, in accordance with the Bible's content. Homilies are a central part of worship and contain the message of the Great Commission and spirituality. Interacting with local customs and traditions, homilies within a cultural context enrich the spiritual experience. Early figures such as Origen popularized the homily as an explanation of scripture within the church. In the Mentawai Islands, homiletics supports isolated indigenous tribal communities, providing religious identity and cultural values. The church's service through worship, through fellowship, teaching, and service, plays a role in building the congregation's faith. A culturally contextualized homiletical approach enables the church, particularly in Mentawai, to become a place for deeper growth in faith with God, strengthening individual relationships through understanding customs and culture for the glory of God. Keywords: Homily. Homily Practice. Culture. Mentawai LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. PENDAHULUAN Alkitab sangat relevan untuk segala situasi dan kondisi, dan juga menjadi dasar yang sangat penting untuk disampaikan dalam homili. Sebagaimana penyampaian homili di dalam gereja, maka homili terhadap suatu tempat tertentu atau di dalam konteks budaya akan disesuaikan dengan konteks kebudayaannya masing-masing. Menurut Steven R Palit bahwa Firman Tuhan harus dikembalikan kepada esensinya, agar dapat disiapkan lebih dengan cara memahami terlebih dahulu Firman Tuhan, kemudian menyusunnya menjadi homili yang kena mengena dan relevan bagi kehidupan jemaat. Firman Tuhan ditulis ribuan dan ratusan tahun yang lalu oleh banyak penulis Alkitab yang hidup pada zaman yang berbeda-beda, dengan latar belakang yang beragam, dan ditulis dalam berbagai bahasa. Untuk memahami Firman Tuhan sebagaimana para penulis Alkitab mulamula menerimanya, orang percaya abad ini perlu pendekatan yang mendalam dan cermat. Salah satu cara penting untuk mencapai pemahaman ini adalah melalui homiletika. Homiletika, ilmu tentang penyampaian homili, memiliki peranan krusial dalam kehidupan Ada tiga alasan utama mengapa homiletika penting untuk dipelajari. Pertama, homili adalah bagian esensial dalam ibadah, menjadi sarana utama untuk menyampaikan pesan ilahi kepada jemaat. Kedua, homili berfungsi sebagai alat pembinaan iman, membantu umat Tuhan untuk memahami dan menghayati Firman Tuhan secara mendalam. Ketiga, homili juga merupakan sarana penginjilan, membawa kabar baik kepada mereka yang belum mengenal Tuhan. Dalam penyampaian Firman Tuhan, penyusunan homili yang sistematis sangatlah Kegagalan dalam menyampaikan Firman Tuhan dengan benar dapat merusak iman Oleh karena itu, pengajaran homiletika kepada para penghomili sangatlah vital, agar Firman Tuhan dapat disampaikan dengan jelas, tepat, dan berdaya guna, sesuai dengan maksud mula-mula dari para penulis Alkitab. Konteks Suku Mentawai Pedalaman menghadirkan tantangan sekaligus peluang khusus dalam pewartaan Firman Tuhan. Masyarakat Mentawai memiliki latar budaya lisan yang kuat, struktur sosial komunal, serta cara pandang religius yang terikat erat dengan alam dan tradisi Dalam konteks demikian, homili dipandang sebagai sarana pewartaan yang relevan karena bersifat komunikatif, naratif, dan memungkinkan penyampaian pesan iman secara dialogis serta kontekstual. Homili tidak hanya menyampaikan ajaran secara doktrinal, tetapi juga membuka ruang penghayatan iman melalui simbol, cerita, dan pengalaman hidup yang dekat dengan dunia pendengar. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa homili diajukan sebagai bentuk pewartaan Firman Tuhan yang potensial bagi Suku Mentawai Pedalaman. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menyoroti homili dari berbagai sudut pandang. Misalnya. Noning dan Samosir memperlihatkan homili sebagai sarana pembinaan iman umat karena di dalamnya terjadi perjumpaan hidup antara Sabda Allah dan pengalaman konkret Steven R Palit, "Penerapan Homiletika dalam Menyusun Khotbah yang Terarah" Jurnal Teologi Rahmat 5, no. Hal. Candra Gunawan Marisi, dkk. AuPelatihan Homiletika Bagi Para Pelayan Di Gereja Tuhan Di Indonesia (GTDI) Anugerah PancurAy Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara 4, no. Hal. http://ejournal. org/index. php/jpkm/article/view/988. Ibid 971. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. umat, yang dimediasi oleh kesaksian iman pemberi homili. 4 Sementara Adipati menegaskan bahwa homili merupakan sarana pewartaan Firman Tuhan yang berfungsi membangun iman umat melalui dialog antara teks Kitab Suci dan pengalaman hidup keseharian umat, dengan menggunakan pendekatan homiletika fenomenologis. 5 Sedangkan Bernadus dalam penelitiannya memperlihatkan bahwa homili merupakan bagian integral liturgi yang bermakna bagi kehidupan iman umat dengan pendekatan dialog budaya. Secara umum, jurnal ini akan menyajikan diskusi mengenai homili yang terarah melalui penerapan Homiletika, yang relevan dengan fenomena di gereja-gereja saat ini di mana sering kali penghomili Homili tanpa arah karena kurangnya pengetahuan atau pemahaman tentang ilmu Homili (Homiletik. Penulis mengedepankan metode berdasarkan gagasan yang sudah ada dan pengalaman pribadi selama mengikuti kelas dalam dua semester homiletika dan Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman tentang konsep penerapan Homiletika dalam menyusun homili yang terarah. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya diskursus homiletika, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi gereja dan para pewarta Firman Tuhan yang melayani di konteks masyarakat adat, khususnya di wilayah Mentawai Pedalaman. METODE PENELITIAN Tulisan ini disusun dengan pendekatan deskriptif dan studi kepustakaan, mengumpulkan gagasan-gagasan dari para ahli dalam bidang homili. Ide-ide tersebut diperoleh melalui penelitian literatur yang meliputi karya-karya ilmiah langsung dari pakar teologi, khususnya dalam bidang homiletika, serta referensi sekunder yang membahas homiletika dan Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, atau objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. 7 Pendekatan yang dilakukan adalah dengan meninjau budaya dan sejarah pertumbuhan gereja di Kepulauan Mentawai yang dikembangkan oleh gerakan misionaris Pdt. August Lett. Stanislaus Alexander Noning and Leonardus Samosir. AuKesaksian Iman : Usulan Homiletika Dan Evangelii Gaudium Untuk Homili,Ay FOCUS 6, no. : 197, https://journal. id/index. php/focus. Yustus Adipati. AuHomiletika Fenomenologis : Pewartaan Firman Tuhan Dalam Keseharian Umat,Ay Jurnal Institut Injil Indonesia: Missio Ecclesiae 12, no. : 97, https://jurnal. id/index. php/me. Jenner Bernadus Senduk. AuModel Homili Dan Maknanya Dalam Kehidupan Iman Umat: Studi Di Paroki Bunda Hati Kudud Yesus Woloan,Ay Jurnal Seri Mitra Refleksi Ilmiah-Pastoral 1, no. : 168Ae169. Moh Nazir. Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1. , 63. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. HASIL DAN PEMBAHASAN Homili Istilah homiletika berasal dari kata sifat Yunani yang dihubungkan dengan kata techne, artinya Auilmu pergaulanAy atau Auilmu bercakap-cakap. Ay Kata sifat yang terdapat pada homiletika juga terkandung kata benda homilia, yaitu pergaulan atau percakapan dengan ramah-ramah. Dan kata kerja homilien terdapat empat kali di dalam Perjanjian Baru (Luk. 24:14-15. Kis. 20:11. , serta kata benda homilia ditemukan satu kali . Kor. 9 Sementara dalam bahasa Inggris istilah homiletics baru muncul pada abad ke-17, dan sejak itu kata tersebut dipakai untuk menunjuk ilmu Homili, yang berkaitan dengan penyelidikan, pembahasan, pengembangan ilmu dan praktik Homili. 10 Menurut Luther khotbah itu adalah bagian yang termulia dan terutama dari tiap-tiap kebaktian gereja yang diberi bentuk yang terara dalam peraturan gereja yang berupa dialog atau percakapan. Dalam pengertian lain bahwa homiletika berarti pembicaraan antara orang yang bersahabat dalam lingkup kekeluargaan. 12 Dari segi makro homiletika merupakan melakukan percakapan dengan orang lain khalayak ramai untuk mencapai suatu pengertian. Namun dikalangan pimpinan gereja mereka beranggapan bahwa AuHomiliAy hanya menunjuk pada AuhomiliAy yang disampaikan pada waktu kebaktian umum. Padahal bisa juga dilakukan pada hari-hari lain atau acara-acara lain, diantaranya adalah penyediaan Alkitab yang dilakukan dalam kebaktian doa, penyampain firman Tuhan persekutuan pemuda dan remaja. Orang-orang asing yang bergaul dengan para pemimpin lokal akan mencoba mengembangkan suatu filsafat atau gambaran tentang pandangan dunia budaya. Pendekatan seperti ini punya kekuatan tertentu yang jelas dengan mencapai tujuan, artinya otensitas di budaya setempat, rasa hormat dan penghargaan di kalangan gereja Barat. Dalam lingkungan gereja istilah homilia pertama kali dipakai dan dipopulerkan oleh Origenes . , dengan pengertian sebagai penjelasan isi Kitab Suci yang dimaklumkan dalam perayaan. 15 Menurut Origenes homili bukanlah pertama-tama penjelasan atau komentar panjang lebar mengenai bacaan-bacaan Kitab Suci yang disampaikan sesuai dengan situasi konkret dari pada pendengarnya, tetapi bukan melulu uraian eksegetis yang rinci mengenai isi 16 Dalam persiapan homili juga terdiri atas klise, perilaku, moral, makanan, pakaian, potongan rambut, aksen dan intonasi bicara. Dr. Rothlisberger. Homiletika: Ilmu Homili (Jakarta: Gunung Mulia, 2. Hal. Ibid. Pdt. Hasan Susanto. Homiletik: Prinsip Dan Metode Homili (Jakarta: Gunung Mulia, 2. Hal. Ibid, 9. Mateus Mali. Homiletika: Teologi Seni Dan Panduan Praktis Homili (Yogyakarta: Kanisius, 2. Hal. Paulus Daun. Pengantar Ke Dalam Homiletika (Ilmu Homil. (Manado: Yayasan Daun Family, 2. Hal. Robert J Schreiter. Rancang Bangun Teologi Lokal (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. Hal. Hermanus. Homiletik: Panduan Homili Efektif (Yogyakarta: Kanisius, 2. Hal. Ibid. John S Mcclure. Wiking Wijaya, and Sari Nurdiana Firman Pemberitaan: 144 Istilah Penting Dalam Homiletika (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Praksis Homili Dalam Konteks Budaya Menurut Chan bahwa praksis merupakan langkah pertama di mana orang menjumpai Allah dalam pergulatan hidupnya. 18 Istilah praksis berasal dari bahasa Yunani Aupraxis,Ay yang merujuk pada sebuah kegiatan yang melibatkan kritik diri dan tidak hanya berfokus pada mempertahankan kebenaran secara teoritis. Lebih dari itu, "praxis" juga mencakup usaha untuk membuktikan kebenaran tersebut melalui tindakan nyata. Dengan kata lain, berpraksis adalah tindakan konkret yang dilakukan sebagai respons terhadap masalah-masalah aktual, berdasarkan keyakinan yang dimiliki. Ini menunjukkan bahwa AupraxisAy bukan sekedar konsep teoritis, tetapi juga melibatkan penerapan praktis dalam kehidupan sehari-hari. 19 Sementara menurut Aristoteles, istilah AupraksisAy memiliki berbagai arti yang berbeda namun tetap berkaitan erat satu sama lain. Secara umum, praksis merujuk pada semua jenis kegiatan lahiriah yang dilakukan dengan sengaja oleh individu yang bebas. Dalam pengertian yang lebih spesifik, istilah ini menggambarkan tingkah laku manusia yang ditujukan pada tujuan yang bermanfaat dan rasional. Pada makna yang paling teknis, praksis menggambarkan perilaku etis dalam konteks politik, menunjukkan bagaimana tindakan etis terwujud dalam kehidupan politik dan sosial. Praksis merupakan konsep yang merujuk pada tindakan reflektif yang memiliki tujuan bermanfaat, yang pengetahuannya muncul melalui keterlibatan dalam situasi sosial. Dalam konteks ini, praksis mencakup dua elemen yang saling terkait: tindakan dan refleksi. Tindakan dilakukan berdasarkan refleksi yang mendalam, sementara refleksi tersebut didasarkan pada pengalaman konkret yang sedang dijalani. 21 Dengan demikian, praksis mengintegrasikan pemikiran kritis dan partisipasi aktif dalam konteks sosial, memungkinkan pembelajaran yang bermakna dan perubahan positif. Dalam bahasa Latin, istilah homili diartikan sebagai predicatio dengan kata kerja predikare, artinya homili yang diberikan di sekolah-sekolah teologi pada abad-abad awal gereja mula-mulaoleh para penafsir aliran Alexandria (Mesi. dan aliran Antiokhia (Suria. Homili merupakan salah satu cara utama dalam pemberitaan Injil, berfungsi sebagai media yang penuh kuasa dan aktif dalam menyampaikan Firman Tuhan kepada jemaat atau Tujuan dari homili ini adalah agar setiap orang yang mendengarnya dapat menerima pesan tersebut dengan hati terbuka dan berkomitmen untuk mengaplikasikan serta menghidupi ajaran-ajaran Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui homili. Firman Tuhan diharapkan tidak hanya didengar, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata oleh setiap individu. 23 Homili adalah bentuk pesan yang disampaikan kepada para pendengarnya, khususnya jemaat dalam gereja. Melalui homili, jemaat diajak untuk menjalani proses Martin Chen Pr. Teologi Gustavo Gutierrez (Yogyakarta: Kanisius, 2. Hal. Jaka Maryanto. AuModel Pembelajaran Berintegritas: Praksis Model Pembelajaran Yesus Dalam Alkitab Bagi Para Pendidik KristenAy Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4, no. Hal. Thomas H. Groome. Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Hal. Ibid. Pdt. Dr. Gintings. Homilitika: Dari Teks Sampai Khotbah (Bandung: Bina Media Informasi, 2. Hal. Steven R. Palit. AuPenerapan Homiletika Dalam Menyusun Khotbah Yang Terarah,Ay Jurnal Teologi Rahmat Vol. 5 No. Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. pendewasaan iman dengan mendapatkan nutrisi rohani yang bermanfaat. Namun, di abad ke21, banyak orang Kristen cenderung hanya ingin mendengarkan homili yang menyenangkan telinga mereka, bukan yang menggali esensi kebenaran firman Tuhan. Oleh karena itu, seorang penghomili harus memiliki kesungguhan hati dan semangat yang berkobar dalam menyampaikan firman Tuhan dengan kuasa Roh Kudus. Tanpa aliran Roh Kudus, mustahil homili tersebut dapat disampaikan dengan efektif. Maka Dietrich mendefinisikan bahwa homili itu adalah Firman Tuhan yang didasarkan atas kesaksian Alkitab, yang merujuk kepada perbuatan-perbuatan Tuhan dalam Kristus. Pembicaraan yang menerangkan jalan keselamatan manusia melalui Yesus Kristus adalah suatu dialog atau homili yang disampaikan oleh mulut manusia, bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesaksian kepada sesama tentang kasih, pengampunan, dan keselamatan yang hanya dapat ditemukan dalam iman kepada Yesus Kristus. Melalui perkataan dan kesaksian ini, harapannya adalah agar orang lain juga dapat merasakan dan menerima anugerah keselamatan yang ditawarkan oleh-Nya. Bishop Phillip Brooks di Yale College pada tahun 1877 dalam observasi mengenai tujuan homili berkorelasi dengan keselamatan: Tujuan homili harus selalu menjadi kondisi pertama yang menetapkan karakter homili Penyebab terakhir adalah apa yang benar-benar membentuk kehidupan segalanya. Dan untuk apa homili itu? Jawabannya datang tanpa Homili adalah untuk keselamatan manusia. Namun ide keselamatannya apa itu yang belum seragam atau pasti jika diselamatkan adalah diselamatkan dari dosa, homili menjadi spiritual. Jika diselamatkan adalah diselamatkan dari hukuman, homili menjadi forensik dan ekonomis Jika keselamatan adalah peningkatan masyarakat, homili menjadi ceramah tentang ilmu sosial. Hal pertama bagian adalah melihat secara jelas apa yang akan anda homilikan. Anda bermaksud menyelamatkan manusia dari apa?27 Dalam perjanjian Lama homili didefinisikan basar Aumemberitakan kabar baikAy qara Aumemanggil, menyatakanAy dan qiriAoa AuHomili. Ay Sementara dalam Perjanjian Baru adalah euangelizo Aumemberitakan kabar baikAy kcryks AuperistiwaAy kcrusso Aumemberitakan bagai pewartaAy diangello AumenyebarluaskanAy dan katangello Aumemberitakan dengan hikmat. "28 Dalam bahasa inggris, homili biasa disebut Aupreaching,Ay AupreekAy dalam bahasa Belanda, atau dalam bahasa Jerman: AupredigenAy merupakan terjemahan dari kata Yunani. Aukerussein. Ay Sederhananya, homili adalah pemberitaan Firman Tuhan yang mengandung pengajaran, penggembalaan, atau kabar baik. Sifat utama homili adalah sebagai panggilan atau seruan Apin Militia Christi. AuPelatihan Berkhotbah Ekspositori Kepada Calon Pejabat Gereja Bethel Indonesia,Ay Pneumata: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 3, no. : Hal. Dietrich Ritschl. Teologi Pemberitaan Firman Tuhan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. Hal. Pouw, "Uraian Sungkat Tentang Homiletik Ilmu Berkhotbah" (Jakarta: Yayasan Kalam Hidup, 2. Hal. Jonathan wijaya Lo. Teologi Homili (Tangerang: UPH Press, 2. Hal. Lukman Tambunan. Homili Dan Retorika (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. kepada umat, dengan tujuan agar mereka dapat mengenal Tuhan dengan benar. Dalam homili, pesan disampaikan dengan jelas dan mendalam, membantu jemaat untuk memahami dan menjalani ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Homili adalah sebuah penyampaian Firman Tuhan yang telah diterima, dirasakan, dan dilaksanakan oleh penghomili dalam kehidupannya sendiri. Homili dilakukan dengan tegas dan nyata, bertujuan untuk menjadi kesaksian dan membawa jalan keselamatan bagi orang lain. Dalam homili. Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab disampaikan dengan teliti dan Pusat pemberitaan homili haruslah berfokus pada karya dan tindakan Tuhan terhadap manusia, bukan pada pengetahuan manusia tentang Tuhan. Dengan demikian, homili berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pengalaman ilahi dengan kehidupan nyata Homili adalah momen istimewa di mana jemaat bertemu dengan Tuhan. Dalam homili, seorang penghomili yang telah mempersiapkan diri dengan matang berusaha menyalurkan kasih karunia Tuhan kepada jemaat, baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Melalui penyampaian kebenaran Firman Tuhan, jemaat yang sedang mengalami kelemahan rohani dapat diperkuat kembali, sehingga iman mereka semakin kokoh di dalam Tuhan. Firman Tuhan yang disampaikan menambah kekuatan rohani dan keyakinan setiap anggota jemaat, memungkinkan mereka untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan Yesus dan tidak ragu dalam menghadapi setiap pergumulan atau kondisi kehidupan sehari-hari. 31 Secara umum, homili dibagi menjadi tiga jenis: homili topikal, homili tekstual, dan homili ekspositori. Masing-masing jenis homili ini memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Homili topikal dapat berbahaya karena sering kali dimulai dari keinginan pribadi penghomili untuk membicarakan topik tertentu, sehingga dapat mengabaikan penyampaian Alkitab secara murni. Homili tekstual memiliki kelemahan karena biasanya hanya berfokus pada satu atau dua ayat dari Alkitab, sehingga berisiko mengabaikan konteks yang lebih luas dari ayat-ayat tersebut. Sementara itu, homili ekspositori, meskipun sangat mendalam dan menyeluruh dalam mengupas teks Alkitab, dapat menimbulkan kebosanan bagi jemaat karena sifatnya yang monoton, panjang, dan memakan waktu yang lama dalam penyajiannya. Budaya Kebudayaan pada dasarnya bertujuan untuk mempermudah kehidupan dengan mengajarkan individu cara beradaptasi dengan lingkungan mereka. Bahasa merupakan elemen penting dalam kebudayaan karena memungkinkan anggota masyarakat untuk berbagi pikiran, perasaan, dan informasi. Selain itu, bahasa berperan sebagai metode utama dalam penyebaran Elto Solibut. AuKhotbah Humoris Dari Perspektif HomiletikaAy Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen 5, no. : Hal. Sunarto Sunarto, dkk. AuPembelajaran Hermeneutika Dan Pelatihan Homiletika Di Gereja Kristen Kerasulan Indonesia PurworejoAy Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat 5, no. : Hal. Waruwu, dkk. "Korelasi Homili Ekspositori dan Antusias Jemaat dalam Beribadah di GBI Mawar Sharon Cileungsi" Caraka: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika. Vol. No. 1, 2020. Hal. Yosua Sibarani. AuStudi Evaluatif Model Khotbah Topikal Bagi Pengkhotbah KristenAy Jurnal Teologi (Juteolo. 1, no. : Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. dan pelestarian kebudayaan. 33 Koentjaraningrat mengidentifikasi tiga aspek penting dalam kebudayaan, yaitu aspek ideal seperti ide, nilai, norma, dan aturan-aturan. Aspek ini memberikan arah, fungsi, dan pengawasan kepada anggota masyarakat sehingga menciptakan kebiasaan atau tindakan yang disebut Aumores adat. Ay Dalam adat yang muncul sebagai hal yang ideal ini, tidak hanya terlihat bagian luarnya saja dalam pergaulan hidup, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur. Misalnya, perilaku manusia diatur oleh sistem yang sesuai bagi semua anggota masyarakat, di mana terlihat pula kegiatan manusia dan interaksi timbal balik antara anggotanya. Kepulauan Mentawai adalah sebuah destinasi wisata yang memiliki kekhasan sebagai potensi budaya. Salah satu hal yang membuatnya unik adalah keberadaannya sebagai salah satu daerah yang masih memiliki suku pedalaman di dunia, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti nasional maupun mancanegara. Kekhasan ini tidak hanya didukung oleh keberadaan suku pedalaman, tetapi juga oleh beragam komoditas lainnya. Salah satunya adalah kesenian atau muturuk yang digunakan sebagai upaya untuk melestarikan nilai-nilai spiritual dan sosial yang terkandung dalam ritual tersebut. Ini merupakan bentuk dari tata kelola seni yang bertujuan agar kesenian yang dipertunjukkan bagi wisatawan tetap mengandung nilainilai intrinsik kebudayaan suku atau etnik Mentawai. Dengan demikian, kesenian atau muturuk menjadi bagian penting dalam memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya suku Mentawai kepada dunia. 35 (Word Wildlife Fund: 1. Kesenian muturuk biasanya digunakan oleh para sikerei, tidak hanya itu ada juga spesies primata yaitu bilou atau Kloss Gibbon (Hylobates klussi. Joja atau Mentawai Langur (Presbytis potenzian. Simakobu atau Snubnosed Langur (Simias concolo. dan bokkoi atau Mentawai Macaque (Macaca plagensi. Dalam menghadapi perubahan dan interaksi yang terus-menerus dalam masyarakat dan budaya, misi Kristen harus memainkan peran aktif dalam memberikan pencerahan. Kekristenan tidak bertentangan dengan adat, budaya, atau tradisi yang sudah ada dalam masyarakat, melainkan dapat memperkuat hubungan antar individu, saling menghargai, menghormati, dan berkembang bersama menuju kesejahteraan fisik dan spiritual. Benturan antara agama, budaya, dan tradisi dalam masyarakat perlu dianalisis untuk menemukan titik temu dan penyebab perselisihan. Dalam konteks kekristenan, keluarga dianggap sebagai instrumen anugerah yang penting dalam memberikan pencerahan kepada jemaat, sehingga mereka lebih dicintai oleh Tuhan dan diterima oleh sesamanya. Samovar. Komunikasi Lintas Budaya (Jakarta: Salemba Humanika, 2. Hal. Dr. Sitompul. Manusia Dan Budaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Hal. Novena Ulita Napitulu. AuStrategi Pemasaran Pariwisata Budaya Mentawai Melalui Produk Kesenian Muturuk,AyJurnal Desain dan Seni 2, no. : Hal. 59Ae66. Malik, dkk. AuAktualisasi Nilai Misi Dalam Dinamika Budaya Pada Keluarga Kristen Di MentawaiAy Manna Rafflesia 10, no. : Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Homili dalam Konteks Budaya Bagi Suku Mentawai Dalam penelitian atau tulisan Eben Nuban Timo dikisahkan tentang kehidupan seorang Bapak Bernama Asbanu yang adalah seorang utusan Injil, 37 dalam kesehariannya beliau banyak bergaul dengan Alkitab, namun dalam ajarannya lebih banyak mencerminkan pemahaman tentang Alkitab menurut tradisi dan sistem nilai orang Timor seperti alam, tanah, air dan binatang-binatang. Tidak jauh berbeda dari kehidupan Paulus, ia sebelumnya dikenal sebagai Saulus, mengalami pertemuan dengan Yesus, seperti tokoh-tokoh agama lainnya dalam Ini menegaskan keberadaan Tuhan yang hidup dan memperkuat iman, bukan sekadar Penampakan Tuhan membangun keyakinan dalam keberadaan-Nya yang kekal dan berdaulat. Dalam hal ini perjumpaan orang Mentawai dengan misi, atau Kristen dan gereja merupakan pertemuan dua alam kehidupan sosial kultural yang sangat berbeda, antara kehidupan alamiah dan maju, kehidupan tradisional Timur dan Kristen modern Barat. Karena itu wajar terjadi konflik. Pdt. Lett melakukan interaksi pertamanya dengan orang Mentawai di medan misi saat berkunjung ke Mentawai. 39 Sebelumnya, ia telah berkenalan dengan seorang anak muda Mentawai di Padang yang sedang berobat di rumah sakit, beberapa waktu sebelum perjalanan pertamanya ke Mentawai (Manuskrip Hans Dieter Baute 1. Pdt. Lett, mempelajari beberapa kata penting dalam bahasa Mentawai, membuka sekolah-sekolah dan melakukan pengobatan kepada masyarakat Mentawai. Komunikasi pertamanya berjalan lancar, disambut dengan ramah oleh orang Mentawai, melalui keberhasilan awal ini membangkitkan semangat Pdt. Lett, yakin bahwa ia dapat memperkuat hubungan dengan mereka dan menyampaikan berita Injil dengan lebih efektif melalui hubungan yang baik tersebut. Homiletika dapat memiliki peran yang signifikan dalam suku Mentawai pedalaman yang masih belum bisa bergaul dalam masyarakat luar. Ini karena homiletika, atau seni Homili, dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan agama dan moral kepada komunitas tersebut dalam bahasa dan konteks yang mereka pahami. Dengan memanfaatkan homiletika, para penghomili dapat membantu memperkuat identitas keagamaan dan nilai-nilai budaya suku Mentawai sambil juga memberikan pandangan tentang cara hidup yang lebih inklusif dan Dalam Perjanjian Baru kata gereja berasal dari bahasa Portugis AuigrejaAu bahasa Latin AuecclesiaAu sementara dari kata Yunani ekklesia. Artinya bahwa gereja bukanlah suatu organisasi orang-orang yang mau mendirikan suatu perkumpulan guna suatu tujuan tertentu, melainkan orang-orang tersebut telah dipanggil berkumpul oleh Allah sendiri. 41 Sedangkan dalam bahasa Inggris AuChurchAu Belanda AuKerkAu Jerman AuKircheAu dengan kata sifat yang tergolong kepada Kyrios. Artinya bahwa gereja merupakan lingkungan atau ruangan di mana Eben Nuban Timo. Pemberita Firman Pencinta Budaya: Mendengar Dan Melihat Karya Tuhan Dalam Tradis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Hal. 27Ae29. Frengky Maukar, dkk. Bergaul Ataukah Berdoa (Jakarta: Internasional Galilea Ministri, 2. Hal. Th. Van den End dan J. Weitjens. Ragi Cerita 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. Hal. DR TH. Muller Kruger D. Sejarah Gereja Di Indonesia (Djakarta: Badan Penerbit Kristen (BPK), 1. Hal. Boland. Dokmatika Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. berlangsung pemberitaan firman Allah serta pelayanan Sakramen, dengan unsur-unsur pemberitaan Injil tentang Yesus Kristus, pemberitaan dalam bentuk yang kelihatan, doa syafaat, pekerjaan sosial dan pengembalaan. 42 Gereja merupakan komunitas umat beriman yang dipanggil dan diutus oleh Allah untuk mewartakan Firman dan melaksanakan misi keselamatan melalui Yesus Kristus bagi semua bangsa di dunia demi kemulian Tuhan. Dalam pengertian lain gereja merupakan salah satu wadah penting dalam mencapai kerohanian di mana jemaat Tuhan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sehingga mereka terdaftar sebagai anggota gereja tersebut. Untuk mendukung pertumbuhan rohani jemaat, gereja perlu melakukan proses pembinaan melalui empat jalur utama: ibadah, persekutuan, pengajaran, dan pelayanan. Melalui ibadah, jemaat dapat berkomunikasi dengan Tuhan dan memperdalam iman mereka. Persekutuan memberikan kesempatan bagi jemaat untuk membangun hubungan yang kuat dan saling mendukung satu sama lain. 43 Pengajaran bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang ajaran Kristus dan prinsip-prinsip Kekristenan. Sementara itu, pelayanan memungkinkan jemaat untuk menerapkan kasih Kristus dalam tindakan nyata, melayani sesama dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, gereja menjadi tempat di mana jemaat dapat bertumbuh dalam iman dan kehidupan rohani yang lebih 44 Menurut Calvin tentang peran gereja yang diidentifikasikan sebagai suatu badan yang dibangun secara ilah di dalamnya Allah melakukan penyucian umat-Nya: Aku akan mulai dengan gereja, ke dalam pengakuanya Allah berkenan untuk menghimpunkan anak-anakNya, tidak hanya supaya mereka dapat dipelihara dengan pertolongan dan pelayanan ketika mereka masih bayi dan kanak-kanak, tetapi juga mereka supaya mereka dapat dipimpin olleh perawatan bundawinya sampai mereka dewasa dan meraih tujuan iman. Karena itu, apa yang telah dipersatukan, tidak nboleh diceraikan manusia (Mrk. 10: . Bagi orang-orang yang menganggap Allah adalah Bapa, gereja juga akan menjadi ibu mereka. Pagi, 16 Juni 1901 setelah KM Condor46 merupakan suatu kunjungan di Kepulauan Mentawai, maka kapal tersebut merapat dan berlabuh di Teluk Katurei. Pulau Siberut Selatan. Namun tidak berlangsung lama, kemudian datanglah mendekat beberapa perahu dayung kecil . orang Mentawai dari wilayah sekitar dan berteriak panguruat, yang artinya hadiah atau pemberian, maknanya menawarkan suatu barang jualan. 47 Di dalam perahunya selain barangbarang jualan yang ada dan keranjang rotan tempatnya, dayung yang dalam bahasa Mentawai Ibid. David Eko Setiawan. AuKhotbah Kreatif: Sebuah Usaha Pembinaan Warga Gereja Untuk Menarik Remaja Kristen Bergereja,Ay Davar : Jurnal Teologi 2, no. : Hal. Ibid. Alister E. McGrath. Sejarah Pemikiran Reformasi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Hal. Kapal muatan milik pemerintah kolonial Belanda gubernuran Sumatra bagian Barat (Tenga. yang ditumpangi oleh Pdt. Lett dan Pdt. Kramer berangkat, 15 Juni 1901 dari Padang melakukan perjalanan misi I di Kepulauan Mentawai (Lihat skema Perjalanan Misi I dan II Pdt. August Let. Albert C. Kruyt. Autentik Pakaian Tradisional Mentawai (Jakarta: Yayasan Idayu, 1. Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. disebiut juga luga/jujunung, biasanya ada juga parang. 48 Mereka tampil apa adanya, alamiah, dan berkomunikasi dalam bahasa Mentawai. Dari dalam kapal muncullah Pdt. August Lett ditemani Pdt. Kramer yang dikawal polisi pemerintah kolonial dan menyapa dengan ramah dalam bahasa Mentawai. AuPasuruak sita!Ay, artinya mari kita berteman. Merupakan suatu ajakan bersahabat karib dalam kehidupan sosial antar-klen Mentawai. Disitulah terjalinnya komunikasi anatara para misionaris dan orang Mentawai. Bagi Pdt. Lett, komunikasi itu merupakan interaksinya pertama dengan orang Mentawai di medan misi yang ia sedang jalani. Ia sebelumnya pernah berkenalan dengan seorang muda Mentawai di Padang. Seorang anak muda Mentawai yang sedang berobat di salah satu rumah sakit Padang, beberapa saat sebelum perkunjungan pertamanya ke Mentawai. (Manuskrip Hans Dieter Baute 1983 dan 2. Dari anak muda Mentawai inilah. Pdt. Lett belajar beberapa kata penting bahasa Mentawai. Komunikasinya pertamanya itu berjalan damai dan dianggap berhasil baik. Dan orang Mentawai itu menyambutnya dengan ramah dan bersahabat. Keberhasilan awal itu membuat Pdt. Lett sangat bersemangat dan percaya diri. Ia percaya ke depan, ia akan dapat membangun hubungan lebih baik lagi terhadap orang Mentawai, dan sangat berharap dengan hubungan baik itu akan menjadi kunci dan pintu masuk menyampaikan berita Injil kepada mereka. Di kapal yang sama dan bersama dengan sang Misionaris ada aparat pemerintah kolonial Belanda yang sedang menjalankan misi lain, dan sangat berambisi memperluas kekuasaannya di Hindia Belanda, bahkan di seluruh dunia, termasuk Kepulauan Mentawai yang pada saat itu telah ditetapkan sebagai bagian wilayah jajahan sejak 1848. Untuk tujuan itu, segala cara mereka tempuh termasuk dengan kekerasan. merampas tanah, berperang, dan bahkan membunuh jajahan yang berontak. Sehubungan dengan itu pula, pemerintahan kolonial Belanda tidak sabar menyaksikan keberhasilan Pdt. August Lett mengkristenkan orang Mentawai agar secepatnya tercipta suasana aman dan lebih damai di Kepulauan Mentawai untuk lancarnya kekuasaan dan pemerintah kolonial Belanda itu. Sementara itu, tanpa disadari sedang terjadi incaran misi dan politik kolonial, orang Mentawai asik saja dengan kehidupan tradisonal dan kesehariannya. Alam Mentawai bagi mereka bukan hanya dianggap sudah milik mereka tetapi juga bagian dari kehidupan mereka itu sendiri. Tidak ada satu pun dari orang Mentawai yang tahu kapan nenek moyang telah William Marsden. Orang-Orang Kepulauan Pagai (Nassa. Sejarah Sumatera (Jakarta: Komunitas Bambu, 2. Hal. 415 (Bagi orang Mentawai tradisional membawa parang, dalam bepergian . elain untuk tujuan bekerj. merupakan kebiasaan umum dan wajar. Bila disertai membawa panah dan tombak dapat berarti pergi berburu, atau berperang. Suruak . ialek Pagai dan Sipor. , atau siripoAo (Siberu. merupakan bagian dalam sistem tradisi hubungan sosial Auout groupAy Mentawai antara laki-laki, atau antara perempuan-perempuan, yang terjalin sebagai bentuk pertemanan karib sama bahkan melebihi hubungan saudara kandung. Band. Saguntung . SiripoAo Suatu Analisis Sosiologis terhadap Perannya Bagi Konstruksi Interaksi Sosial dalam Masyarakat Mentawai. Tesis Magister Sosiologi Agama tidak diterbitkan. Salatiga: UKSW LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. mendiami tanah Mentawai tersebut. Namun, penduduk tersebut mengetahui dengan pasti bahwa tanah sudah menjadi warisan nenek moyang turun-temurun. Tuntutan untuk hidup selamat dan berkembang di Kepulauan Mentawai mendorong orang Mentawai untuk membangun pertahanan dalam kehidupan mereka. Mereka memahami prinsip hubungan harmoni dengan lingkungan secara luas, mencakup interaksi dengan dunia atas . empat makhluk sorgaw. , dunia manusia serta dunia bawah . empat orang yang telah meningga. Hubungan ini melibatkan aspek fisik, psikologis dan spiritual. Pengaturan prinsip-prinsip hubungan tersebut diatur dalam Arat Sabulungan. 50 Pengaturan hubungan-hubungan itu agar tetap terwujud harmoni untuk keselamatan klen dan anggota-anggotanya diperlukan tata aturan tabu yang dalam bahasa Mentawai disebut keikeijet/surukat dan peran mediasi rimata tepatnya pimpinan suatu klen, untuk hubungan internal klen dan antar-klen, dan sikerei atau dukun untuk hubungan dengan lingkungan fisik, mental dan roh yang arti dalam bahasa Mentawai simagere/ketsat. Seperti etnis lain di dunia, orang Mentawai berusaha menghindari disharmoni budaya, namun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tetap sulit. Misalnya, dalam hubungan antar-klen, sering muncul kecurigaan dan konflik yang dapat berujung pada serangan mendadak, perampokan, bahkan pembunuhan, yang akhirnya menjadi bagian dari tradisi Di dalam klen itu sendiri, konflik pun tak terhindarkan, seringkali berakhir dengan perpecahan dan pembentukan klen baru di wilayah lain di pulau. 51 Begitu pula dengan hubungan harmoni orang Mentawai dengan lingkungan hidup. Mereka terpaksa menebang pohon untuk membangun rumah dan perahu, serta menyembelih babi atau ayam untuk pesta klen yang dikenal sebagai punen. Selain itu, mereka juga berburu rusa dan penyu untuk kebutuhan klen. Sebelum melakukan rimata atau sikerei, biasanya mereka membacakan mantra yang berisi penjelasan mengenai tindakan tersebut dan permohonan maaf, sebagai upaya untuk menjaga hubungan harmonis yang berkelanjutan. Pada 23 Juni 1901, dalam misi Lett I. Pdt. August Lett mengunjungi Sioban dan menceritakan kisah penciptaan dari Alkitab, khususnya Kejadian 1, kepada seorang pemuda Mentawai. Dalam penyampaian tersebut. Lett berusaha mengaitkan narasi Alkitab dengan konteks pemahaman dan budaya lokal. Dia menjelaskan bagaimana Tuhan menciptakan dunia, dengan menyoroti elemen-elemen yang akrab bagi pendengar, seperti alam dan kehidupan sehari-hari mereka. Dengan menggunakan bahasa dan simbol yang dikenal oleh masyarakat Mentawai. Lett berharap pesan tersebut dapat lebih mudah diterima dan dipahami. 52 Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mengedukasi, tetapi juga untuk membangun jembatan antara ajaran Kristen dan nilai-nilai budaya Mentawai. Lett menyadari bahwa menyampaikan ajaran agama dalam konteks yang relevan adalah kunci untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara dua dunia ini. Melalui pendekatan yang sensitif terhadap budaya, dia berharap untuk Ade Irwandi and Rifki Taufik. AuCultural Identity in the Shackles of Modernization: The Case of Mentawai Indigenous Peoples,Ay Jurnal Sosiologi Andalas 9, no. : Hal. Juniator Tulius, "Family Stories: Oral Tradition. Memories of the Past, and Contemporary Conflicts over Land in Mentawai-Indonesia" (Universitas Leiden 2. Hal. http://1drv. ms/1DJG2gs\nart_therapy/family_stories_1. Sunderman. Missionar August Lett (Wuppertal Barmen: VEM, 1. Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. menginspirasi generasi muda Mentawai untuk merenungkan makna penciptaan dan mengaitkannya dengan kehidupan mereka. Kegiatan ini mencerminkan upaya misi yang lebih luas untuk mengintegrasikan kepercayaan baru dengan kearifan lokal, menciptakan sinergi antara iman dan tradisi. Pendekatan itu, sesungguhnya sudah sejak awal telah berhasil menjembatani terbangunnya bukan hanya hubungan baik orang Mentawai dengan Pdt. Lett dan tim misinya, tetapi juga kepercayaan orang Mentawai terhadap Pdt. Lett. Orang-orang Mentawai telah bersedia menyerahkan anak-anak mereka menemui Pdt. Lett di tempat kediamannya di Nemnemleleu. Pagai Utara untuk belajar menulis, membaca, dan mendengarkan cerita Alkitab. Pdt. August Lett, yang sudah sejak awal mengerjakan misinya telah berupaya mempertemukan kedua corak kehidupan yang sangat berbeda itu secara damai, namun sangat disayangkan, di balik usaha itu ia sulit menghindari campur tangan koalisi politik pemerintah kolonial Belanda dalam kerja misi, yang justru menjadikannya korban konflik antara orang Mentawai yang mempertahankan diri dan wilayahnya, dan aparat pemerintah kolonial yang ingin menjajah Mentawai. terbunuh 20 Agustus 1909 dalam sebuah konflik antara orang-orang Talopulei. Pagai SelatanTimur dan aparat pemerintah kolonial Belanda. Peristiwa tersebut justru menjadi tantangan dan motivasi para misionaris untuk terus menyebarkan Injil di Kepulauan Mentawai. Pdt. Borger dan rekan-rekannya melanjutkan semangat Pdt. August Lett dengan mengembangkan pendekatan misi yang lebih holistik dan Mereka menekankan pentingnya pendidikan, kesehatan dan peningkatan ekonomi dalam pekerjaan misi mereka. Hasil dari upaya ini sangat menggembirakan, meskipun prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Setelah tujuh tepatnya pada 9 juli 1916, maka dilakukan pembaptisan pertama bagi 11 orang Mentawai. 54 Pada Minggu, 15 Oktober 1916. Pdt. Boerger melakukan pembaptisan massal bagi semua petobat baru dalam sebuah ibadah Minggu. Acara tersebut dimeriahkan oleh umat Kristen Mentawai yang merayakannya dengan pemotongan empat ekor babi dan sejumlah ayam untuk jamuan makan bersama. Pada saat itu, jumlah orang Kristen Mentawai telah mencapai 459 orang (Klappert 1956 : . Ibid, 5. Hans de Kleine. Vergessene Inseln: Eine Missionserzaehlung Fur Die Jugend (Wuppertal Barmen: Verlag der RMG, 1. Hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. KESIMPULAN Firman Tuhan merupakan inti dari homili karena dianggap sebagai cara Tuhan berbicara kepada jemaat. Sejak masa reformasi gereja, telah diakui bahwa melalui homili. Tuhan menyampaikan kehendak-Nya. Para penghomili berupaya memahami Firman Tuhan dan menyusunnya menjadi homili yang relevan dan bermanfaat bagi jemaat. Homili tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan ilahi, tetapi juga sebagai alat pembinaan iman dan Homiletika, ilmu tentang penyampaian homili, sangat penting dalam mempersiapkan penghomili agar dapat menyampaikan Firman Tuhan secara sistematis dan efektif. Homiletika membantu penghomili menyusun homili yang baik, sehingga otoritas Alkitab tetap dijunjung Pengajaran homiletika vital untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan benarbenar mencerminkan maksud asli dari para penulis Alkitab. Secara khusus, homiletika juga dapat berperan besar dalam komunitas-komunitas seperti suku Mentawai. Dengan memanfaatkan prinsip-prinsip homiletika, para pemimpin gereja dapat menyampaikan homili yang relevan dan mudah dipahami, yang memperkuat hubungan antara gereja dan masyarakat setempat. Homiletika membantu memastikan bahwa homili dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menyampaikan Firman Tuhan dalam konteks budaya yang berbeda, membantu membangun iman dan pemahaman yang mendalam akan Firman Tuhan demi kemuliaan-Nya. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 01 (Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. REFERENSI