Afdahla, dkk / Tropical Animal Science 7. :218-222 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :218-222 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas KAJIAN NUTRITIF PELET DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) NUTRITIONAL STUDY OF PELLETS WITH THE ADDITION OF MORINGA LEAF FLOUR Virkantyas Ayunika Afdahla. Ahimsa Kandi Sariri* Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Veteran Bangun Nusantara. Sukorharjo. Indonesia Jl. Letjend Sujono Humardani No. Gadingan. Jombor. Kec. Bendosari. Kabupaten Sukoharjo. Jawa Tengah 57521 *E-mail korespondensi: ahimsa. ks@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan bahan kering, serat kasar dan protein kasar pada pelet yang ditambahkan tepung daun kelor. Penelitian dilaksanakan selama lima bulan dan bertempat di Laboratorium Mikrobiologi. Fakultas Pertanian. Universitas Bangun Nusantara Sukoharjo serta Laboratorium Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni persiapan, pencampuran bahan dan pencetakan Tujuan dari penelitian ini adalah untik mengidentifikasi kandungan bahan kering, serat kasar, dan protein kasar pelet yang ditambahkan tepung daun kelor. Hasil dari penelitian ini berperangaruh nyata terhadap kandungan bahan kering namun tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan serat kasar dan protein kasar pada pelet yang ditambah tepung daun kelor. Kata Kunci: Pelet. Daun kelor. Nutrien ABSTRACT This study aims to determine the content of dry matter, crude fiber and crude protein content of pellets supplement with moringa leaf flour. The study was conducted over five months period at the Microbiology Laboratory. Faculty of Agriculture. Bangun Nusantara University. Sukoharjo and the Laboratory of the Faculty of Animal Husbandry. Diponegoro University. The study was conducted through three main stages, preparation, mixing and pellet molding. The purpose of this study was to identify the dry matter, crude fiber and crude protein content of pellets supplemented with moringa leaf flour. The results of this study had a significant effect on the dry matter content but did not significantly affect the crude fiber and crude protein content of pellets supplemented with moringa leaf flour. Keywords: Pellets. Moringa oleifera. Nutrients Afdahla, dkk / Tropical Animal Science 7. :218-222 PENDAHULUAN Pakan merupakan faktor kunci dalam keberhasilan usaha peternakan ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba karena berperan penting dalam pertumbuhan. Pemberian pakan berkualitas tinggi dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi biaya pakan yang sering kali Komponen utama pakan meliputi energi, serat, protein, mineral, dan vitamin yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan performa ternak (Rahayu et al,. Salah satu tantangan utama dalam industri pakan ternak adalah ketergantungan pada bahan baku yang mahal dan terbatas pencarian bahan pakan alternatif yang murah, mudah diperoleh, dan bergizi tinggi untuk mendukung keberlanjutan peternakan. Daun kelor (Moringa oleifer. kini mulai dilirik sebagai salah satu bahan pakan alternatif karena kandungan nutrisinya yang tinggi, termasuk protein, vitamin A, mineral, serta zat besi yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan ternak (Kleden et al. Selain itu, daun kelor juga mengandung antioksidan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh ternak seperti yang dipaparkan dalam penelitian (Madukwe et al. , 2. Pemanfaatan daun kelor dalam bentuk tepung sebagai bahan tambahan ransum pakan telah dilakukan untuk memaksimalkan kandungan nutrisinya. Tepung daun kelor dikarenakan mempunyai kandungan yang berguna untuk tubuh ternak (Kantja et al. Namun, pemanfaatan daun kelor masih sangat terbatas karena kendala penyimpanan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, inovasi pembuatan pakan tambahan dalam bentuk pelet dengan penambahan tepung daun kelor dapat menjadi solusi efektif. Pelet pakan adalah bahan pakan yang dicampur, dikompakkan, dan dicetak untuk meningkatkan kualitas nutrisi, daya simpan, dan kemudahan pemberian pakan (Sukma et Kualitas fisik pelet dipengaruhi oleh bahan baku, ukuran partikel, kandungan nutrisi, serta proses pembuatan seperti tekanan, suhu, dan bahan pengikat (Supriadi et , 2. Penambahan tepung daun kelor diharapkan mampu meningkatkan kandungan nutrisi dalam pelet, memberikan dampak positif pada pertumbuhan dan produksivitas ternak, serta mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial yang berbiaya tinggi dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang melimpah. Penelitian mengidentifikasi kandungan nutrisi dan mengevaluasi kandungan dalam pelet pakan ternak dengan penambahan tepung daun kelor, serta menilai dampaknya pada ternak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi peternak dalam merumuskan pakan yang berkualitas dan memiliki kandungan nutrien yang baik sekaligus memperluas pemanfaatan daun kelor sebagai pakan alternatif di industri MATERI DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan februari sampai bulan juni 2025, di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Bangun Nusantara Sukoharjo. Penelitian ini bersifat eksperimen kemudian dilanjutkan dengan uji kandungan nutrisi di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Alat yang digunakan untuk proses pembuatan pelet yaitu mesin pencetak pelet, cabinet dryer, blender, baskom, spatula pengaduk, penyaring, loyang, timbangan analitik, plastik vacuum, vacuum sealer, label, spidol, dan gelas ukur. Bahan-bahan pakan yang digunakanantara lain dedak halus, molases, tepung tapioka, jagung giling, bungkil kedelai, premix, air dan tepung daun Afdahla, dkk / Tropical Animal Science 7. :218-222 Prosedur penelitan diawali dengan merancang formulasi pakan, diikuti oleh persiapan alat dan bahan yang akan diperlukan dalam proses pembuatan pelet. Selanjutnya bahan pakan dihaluskan dan disaring terlebih dahulu sampai menjadi tekstur tepung dan ditimbang sesuai takaran. Setelah itu semua bahan pakan ternak dicampur ke dalam baskom dengan penambahan air sebanyak 95ml dan tepung daun kelor sesuai dengan perlakuan. Bahan pakan yang telah ditambahkan air dan tepung daun kelor tersebut diaduk hingga merata kemudian dimasukan ke dalam mesin pencetak pelet dan digiling hingga berbentuk Setelah menjadi bentuk pelet kemudian keringkan untuk mengurangi kadar airnya dengan di masukan ke dalam cabinet dryer selama 24 jam dengan suhu 55AC. Setelah pelet benar benar kering, pelet ditimbang dan dimasukan ke dalam plastik vaccum kemudian pelet di analisis kandungan nutrisinya. Variabel dari penelitian ini meliputi kandungan bahan kering, serat kasar dan protein kasar dalam pelet. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu arah, yang terdiri atas tiga jenis perlakuan dan masing masing diulang sebanyak empat kali sebagai berikut: P0 = pelet control 0% tepung daun kelor P1 = pelet 3% tepung daun kelor P2 = pelet 6% tepung daun kelor Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA). Apabila ditemukan perbedaan yang signifikan antar perlakua, maka akan dilanjutkan dengan uji pembanding DuncanAos Multiple Range Test (DMRT). Dengan taraf signifikansi yang umum digunakan adalah 0,05 HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan nutrisi pada pelet dengan penambahan tepung daun kelor dengan level dosis yang berbeda disajikan dalam tabel 1. Tabel 1. Kandungan nutrisi pelet yang ditambah dengan tepung daun kelor Variabel P0 . P1 . P2 . Sig Bahan kering 94,6250b 95,0750b 93,6800a 0,03 Serat kasar 14,9950a 18,9900a 18,5975 a 1,40 Protein kasar 9,1100a 9,4275b 8,9850a 5,38 a,b,c superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan yang nyata Penelitian ini menunjukan bahwa hasil analisis statistik terdapat perbedaan signifikan antara ketiga perlakuan (P<0,. Perlakuan dari P1 . %) memiliki kandungan bahan kering yang lebih tinggi dibandingkan dengan P0 . %) dan P2 . %). dengan hasil ini menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor sebanyak 3% (P. dapat meningkatkan kandungan bahan kering pada Namun, penambahan tepung daun kelor pada dosis 6% (P. dapat menurunkan kandungan bahan kering pada pellet. Peningkatan dan penurunan dapat disebabkan karena proses pengeringan dalam pembuatan pellet, sehingga kandungan kadar air dalam pelet menurun yang menyebabkan kandungan bahan kering tinggi (Nofriwan et al. , 2. Semakin rendah kandungan kadar air dalam pakan maka semakin baik pula kualitas dari pakan tersebut, hal ini sejalan dengan pendapat (Ismi et al. , 2. Kandungan air pada daun kelor sendiri dalam penelitian sebelumnya (Yunita et al. , 2. adalah 6,96%. Hal ini menunjukkan daun kelor memiliki kandungan kadar air yang sedikit sehingga Afdahla, dkk / Tropical Animal Science 7. :218-222 dapat menjadi bahan pakan yang baik untuk Rata rata kandungan serat kasar menunjukan tidak terdapat perbedaan signifikan antara ketiga perlakuan (P >0,. Meskipun P1 dan P2 memiliki rata rata kandungan serat kasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan P0, perbedaan tersebut tidak cukup besar untuk dianggap signifikan secara statistik. Hasil ini sama dengan penelitian sebelumnya (Andriani et al. , 2. yang menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor tidak selalu meningkatkan kandungan serat kasar pakan ternak secara Serat kasar berperan sebagai penstabil yang membantu sistem pencernaan bekerja secara optimal serta mendukung produksi enzim pencernaan yang konsisten. Jika kandungan serat kasar dalam pelet rendah maka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan serat ruminansia (Utama et al. Selain itu serat kasar juga berperan sebagai sumber energi penting bagi saluran pencernaan ruminansia (Surbakti et al. , 2. Dengan hasil ini menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor belum mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap kandungan serat kasar pellet. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti dosis penambahan tepung daun kelor yang tidak optimal atau interaksi dengan komponen bahan penyusun dalam pelet. Penambahan tepung daun kelor ke dalam pelet menunjukkan pengaruh tidak nyata (P> 0,. dalam kandungan protein Rata rata kandungan protein kasar perlakuan control (P. tanpa penambahan tepung daun kelor adalah sebesar 9,11%. Pada perlakuan P1, yaitu dengan penambahan tepung daun kelor pada dosis pertama 3% terjadi peningkatan kandungan protein kasar 9,42%. Peningkatan mengindikasikan bahwa penambahan tepung daun kelor dalam dosis tertentu yaitu 3% dapat memperkaya niai nutrisi khususnya protein dalam pakan. Dalam penelitiannya (Fitriani et , 2. menyampaikan salah satu penyebab tingginya kadar protein adalah dari jenis bahan pakan yang digunkan. Namun pada perlakuan P2, di mana penambahan tepung daun kelor diberikan dengan dosis yang lebih tinggi, kandungan protein kasar justru menurun menjadi 8,98%. Penurunan ini diduga terjadi akibat kandungan antinutrisi dalam daun kelor, seperti tannin dan sapoin, yang jumlah berlebihan dapat menghambat penyerapan protein temuan ini sejalan dengan penelitian (Mahbuba et al. , 2. Penurun protein juga dapat disebabkan dari proses pengringan dan pemasakan bahan pelet sehingga terjadi penurunan kandungan nutrisi pada pelet, hal ini sama dengan pendapat (Marhamah et al. KESIMPULAN Penambahan daun kelor dengan dosis 3% dan 6% mampu meningkatkan kandungan total bahan kering yang dapat berdampak pada daya simpan dan kepadatan nutrisi Namun, penambahan tepung daun kelor sebanyak 3% dan 6% tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap kadar serat kasar dan protein dalam pelet. Dengan kata lain, meskipun daun kelor diketahui mengandung protein dan serat dalam jumlah tinggi, formulasi dan dosis yang digunakan dalam penelitian ini belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan secara DAFTAR PUSTAKA