Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2418-2426 Analisis Faktor yang Memengaruhi Kebijakan Moneter Ekspor Subsektor Perikanan Analysis of Factors Affecting Monetary Policy on Fisheries Subsector Exports Fiska Ramadhani1*. Sri Astuty2. Citra Ayni Kamaruddin2. Abd Rahim2. Muhammad Syafri2 Program Studi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Makassar Jurusan Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Makassar *Email : fiskaramadhani4@gmail. (Diterima 07-03-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Ekspor subsektor perikanan Indonesia memainkan peran penting dalam perekonomian nasional, namun sektor ini menghadapi tantangan yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter, yang dapat memengaruhi daya saing produk perikanan di pasar internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebijakan moneter terhadap ekspor produk perikanan Indonesia, dengan fokus pada faktor-faktor seperti nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi. Pendekatan kuantitatif dengan metode time series digunakan, menggunakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia untuk periode 1994 hingga 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan moneter memiliki pengaruh signifikan terhadap ekspor produk perikanan Indonesia. Secara spesifik, nilai tukar riil memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap ekspor, dimana depresiasi nilai tukar mengurangi daya saing produk perikanan Indonesia. Suku bunga berpengaruh positif dan signifikan, menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga dapat meningkatkan ekspor melalui peningkatan investasi dan daya saing. Inflasi juga berpengaruh positif dan signifikan, menunjukkan bahwa inflasi yang terkendali dapat meningkatkan daya beli pasar luar negeri terhadap produk perikanan Indonesia. Secara simultan, ketiga variabel ini nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi memiliki pengaruh signifikan terhadap ekspor subsektor perikanan Indonesia. Secara keseluruhan, kebijakan moneter yang stabil, terutama dalam pengelolaan nilai tukar, suku bunga, dan inflasi, dapat meningkatkan kinerja ekspor subsektor perikanan Indonesia. Penelitian ini menyarankan agar pemerintah Indonesia lebih memperhatikan dampak kebijakan moneter terhadap ekspor untuk meningkatkan daya saing di pasar global. Kata kunci: Kebijakan Moneter. Ekspor Subsektor Perikanan ABSTRACT The export of Indonesia's fisheries subsector plays a crucial role in the national economy, but this sector faces challenges influenced by monetary policy, which can affect the competitiveness of fisheries products in international markets. This study aims to analyze the impact of monetary policy on the export of IndonesiaAos fisheries products, focusing on factors such as the real exchange rate, interest rates, and inflation. quantitative approach using time series methods is employed, utilizing secondary data from the Central Bureau of Statistics (BPS) and Bank Indonesia for the period from 1994 to 2023. The results show that monetary policy has a significant impact on the export of IndonesiaAos fisheries products. Specifically, the real exchange rate has a significant negative effect on exports, where depreciation of the exchange rate reduces the competitiveness of Indonesian fisheries products. Interest rates have a significant positive effect, indicating that higher interest rates can stimulate exports through increased investment and competitiveness. Inflation also has a positive and significant effect, showing that controlled inflation can enhance foreign market purchasing power for Indonesian fisheries products. Simultaneously, the three variables real exchange rate, interest rates, and inflation have a significant impact on the export performance of IndonesiaAos fisheries Overall, stable monetary policies, particularly in managing exchange rates, interest rates, and inflation, can improve the export performance of IndonesiaAos fisheries subsector. This study suggests that the Indonesian government should pay more attention to the impact of monetary policy on exports to enhance competitiveness in global markets. Keywords: Monetary Policy. Fishery Export Subsektor Analisis Faktor yang Memengaruhi Kebijakan Moneter Ekspor Subsektor Perikanan Fiska Ramadhani. Sri Astuty. Citra Ayni Kamaruddin. Abd Rahim. Muhammad Syafri PENDAHULUAN Kebijakan moneter merupakan instrumen penting dalam perekonomian negara yang memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor, termasuk sektor perikanan. Kebijakan ini memengaruhi berbagai faktor ekonomi, seperti nilai tukar, suku bunga, dan inflasi, yang pada gilirannya memengaruhi kinerja ekspor, khususnya produk perikanan Indonesia. Penelitian sebelumnya (Hidayat, 2. menunjukkan bahwa kebijakan moneter memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ekspor subsektor perikanan Indonesia. (Hidayat, 2. mengkaji pengaruh kebijakan moneter terhadap ekspor produk perikanan dengan fokus pada nilai tukar, suku bunga, dan inflasi, serta dampaknya terhadap daya saing produk di pasar internasional. Penelitian tersebut menemukan bahwa depresiasi nilai tukar dapat meningkatkan daya saing, meskipun fluktuasi nilai tukar yang tinggi dapat menurunkan minat beli dari negara tujuan ekspor. Selain itu, suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya produksi, mengurangi kapasitas investasi, dan berpotensi menghambat ekspor. Sebaliknya, inflasi yang terkendali dapat meningkatkan daya beli pasar internasional terhadap produk perikanan Indonesia. Penelitian (Widiya, 2. juga mengkonfirmasi bahwa nilai tukar riil memiliki pengaruh signifikan terhadap ekspor subsektor perikanan, dimana depresiasi nilai tukar dapat menambah daya saing produk perikanan Indonesia. Namun, fluktuasi nilai tukar yang tidak stabil dapat menyebabkan ketidakpastian yang mengurangi permintaan ekspor. Suku bunga yang lebih tinggi dapat memperkuat sektor perikanan dengan meningkatkan investasi, sedangkan inflasi yang terkendali berperan penting dalam menjaga daya beli pasar internasional. Di sisi lain, penelitian oleh (Murjiani & Adiyanto, 2. menunjukkan bahwa nilai tukar riil yang tidak terkendali dapat berakibat negatif pada ekspor produk perikanan, dengan meningkatkan ketidakpastian pasar. Mereka juga menemukan bahwa suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya saing ekspor karena meningkatkan biaya produksi, meskipun inflasi yang terkendali dapat berdampak positif terhadap ekspor. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, dikatakan bahwa stabilitas kebijakan moneter yang terkoordinasi sangat penting untuk mendukung daya saing produk perikanan Indonesia di pasar internasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lebih lanjut faktor-faktor yang memengaruhi kebijakan moneter terhadap ekspor subsektor perikanan Indonesia dan implikasinya terhadap perekonomian negara. Ekspor subsektor perikanan Indonesia memiliki peran strategis dalam perekonomian negara, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil produk perikanan terbesar di dunia. Dari tahun 1994 hingga 2023, ekspor subsektor perikanan Indonesia mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter, kondisi pasar internasional, serta tantangan dan peluang yang ada dalam industri perikanan global. Grafik berikut ini menggambarkan tren perkembangan ekspor subsektor perikanan Indonesia selama periode tersebut, dengan menunjukkan angka-angka spesifik dari tahun ke tahun. Gambar 1 mencerminkan dinamika ekspor subsektor perikanan Indonesia yang terkait dengan perubahan ekonomi dan kebijakan baik di tingkat domestik maupun internasional. Pada tahun 1994, ekspor subsektor perikanan Indonesia tercatat sebesar 15. 34 ton, dengan persentase 6. Angka ini relatif rendah pada periode awal, namun memberikan dasar untuk melihat perkembangan ekspor pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1995, ekspor mengalami lonjakan yang sangat signifikan, 672 ton, dengan persentase perubahan yang sangat tinggi, yaitu 7. Kenaikan tajam ini menunjukkan adanya faktor-faktor yang mendorong sektor perikanan Indonesia, seperti kebijakan yang mendukung ekspor serta peningkatan permintaan pasar internasional. Pada tahun 1996, ekspor subsektor perikanan Indonesia tercatat sebesar 53. 789 ton, dengan persentase 7. Meskipun ada penurunan dibandingkan dengan 1995, angka ekspor ini tetap menunjukkan angka yang relatif stabil dan menunjukkan dampak positif dari kebijakan dan kondisi pasar global yang baik. Namun, pada tahun 1997, ekspor turun signifikan menjadi 12. 45 ton, dengan persentase penurunan yang tajam Penurunan ini kemungkinan besar disebabkan oleh krisis ekonomi Asia yang mulai memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia dan pasar internasional. Pada tahun 1998. Indonesia mengalami penurunan terbesar dalam ekspor subsektor perikanan, dengan ekspor turun menjadi 12. 45 ton, yang mencerminkan penurunan yang drastis, yaitu 8. dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan dampak besar dari krisis ekonomi yang menghantam Indonesia. Namun, pada tahun 1999, sektor perikanan Indonesia kembali pulih dengan ekspor yang meningkat pesat hingga mencapai 95. 345 ton, yang mencerminkan kenaikan 9. Kenaikan ini mencerminkan pemulihan ekonomi Indonesia setelah krisis serta meningkatnya permintaan pasar internasional. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2418-2426 Grafik Ekspor Subsektor Perikanan di Indonesia Tahun 85,672 95,345 60,876 53,789 52,23 40,765 95,671 85,246 93,564 82,346 81,542 68,947 68,312 57,6943 56,453 56,451 53,9067 55,3167 54,123 52,053 51,789 48,111 43,67 42,897 41,569 28,322 20,892 18,432 15,34 12,45 12,34 9,91 9,53 9,43 20 6,56 8,91 8,6298,89 8,33 8,26 8,26 8,15 7,72 7,19 5,61 4,845,26,1455,28 4,53 4,47 4,11 3,99 3,79 3,68 3,49 2,87 19941996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016 2018 20202022 Ton Persen Gambar 1. Grafik Ekspor Subsektor Perikanan di Indonesia Tahun 1994-2023 Memasuki tahun 2000, ekspor subsektor perikanan Indonesia mengalami penurunan menjadi 60. ton, dengan persentase penurunan sebesar 9. 43% dibandingkan tahun 1999. Penurunan ini menunjukkan adanya fluktuasi dalam sektor perikanan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi domestik maupun internasional. Diikuti dengan penurunan lanjutan pada tahun 2001, ekspor tercatat sebesar 52. 23 ton, dengan penurunan sebesar 8. 33% dibandingkan tahun 2000. Ini menandakan bahwa sektor perikanan Indonesia masih menghadapi tantangan meskipun ada pemulihan pada 1999. Pada tahun 2002 hingga 2004, ekspor subsektor perikanan Indonesia menunjukkan stabilitas yang lebih baik dengan angka yang relatif konsisten, misalnya 40. 765 ton pada tahun 2002 dan 18. 432 ton pada tahun 2003. Pada tahun 2004, ekspor tercatat sebesar 20. ton, dengan persentase 8. 62%, menandakan adanya pemulihan dari fluktuasi sebelumnya. Tahun 2005 hingga 2015 menjadi periode yang lebih stabil, dengan ekspor mengalami kenaikan yang signifikan pada tahun 2015, mencapai 95. 671 ton dengan persentase perubahan 9%, yang menunjukkan bahwa daya saing subsektor perikanan Indonesia semakin meningkat di pasar internasional (Siagian et al. , 2. Namun, pada tahun 2020, ekspor subsektor perikanan Indonesia mengalami penurunan tajam 111 ton, dengan penurunan yang cukup besar, yaitu 3. 99% dibandingkan tahun 2019. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19 yang mengganggu rantai pasokan global dan menurunkan permintaan internasional terhadap produk perikanan Indonesia. Meskipun demikian, pada tahun 2021, sektor perikanan Indonesia mulai pulih, tercatat dengan ekspor 6943 ton, meningkat 5. 28% dibandingkan tahun 2020, menunjukkan adanya perbaikan dan pemulihan dari dampak pandemi. Di tahun 2022, ekspor subsektor perikanan Indonesia sedikit mengalami penurunan menjadi 55. 3167 ton, dengan persentase penurunan sebesar 5. dibandingkan tahun 2021. Meskipun ada penurunan kecil, angka ini tetap menunjukkan stabilitas di sektor perikanan yang mampu bertahan setelah tantangan besar seperti krisis ekonomi dan pandemi global (Saferina, 2. Secara keseluruhan, meskipun sektor perikanan Indonesia menghadapi tantangan besar seperti krisis ekonomi global dan dampak pandemi COVID-19, sektor ini menunjukkan ketahanan yang luar biasa, dengan kemampuan untuk pulih dan kembali kompetitif di pasar global. Fluktuasi dalam data ekspor subsektor perikanan ini, baik dalam satuan ton maupun persentase, mencerminkan bagaimana sektor ini beradaptasi dengan dinamika ekonomi global, perubahan permintaan pasar internasional, dan kebijakan domestik yang ada. Meskipun ada periode penurunan yang signifikan, sektor perikanan Indonesia menunjukkan potensi besar untuk terus berkembang dan mempertahankan daya saing di pasar internasional (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2. Analisis Faktor yang Memengaruhi Kebijakan Moneter Ekspor Subsektor Perikanan Fiska Ramadhani. Sri Astuty. Citra Ayni Kamaruddin. Abd Rahim. Muhammad Syafri METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksplanatori yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh variabel-variabel yang diuji terhadap ekspor subsektor perikanan Indonesia. Menurut (Hidayat, 2. , pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang berfokus pada kajian empiris untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data statistik guna menguji hubungan antar variabel. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda, yang bertujuan untuk menguji hubungan antara variabel dependen, yaitu ekspor subsektor perikanan Indonesia, dan variabel independen yang terdiri dari nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi. Penelitian ini menggunakan data runtun waktu . ime serie. selama 30 tahun terakhir, yaitu dari tahun 1994 hingga 2023, yang diambil dari sumber resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia. Data yang digunakan mencakup informasi terkait ekspor perikanan, nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi yang relevan dengan variabel yang diuji. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut: ycyeoyecyeeyei = yuya yuya ycAycyeeyeOyesyesyei yuya ycycyei yuyc ycyeayeNyei yeIyei yaycuycEyc = Ekspor Perikanan (%) yu = Intersep yu A yu = Koefisien Regresi Variabel Independen ycAycNycycnycoyco = Nilai Tukar Rill (%) ycIyaA = Suku Bunga (%) yaycuyce = Inflasi (%) yce = yceycycycuyc ycyceycyco yc = ycycnycoyce ycyceycycnyceyc Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,05 untuk menentukan apakah hubungan antar variabel tersebut signifikan atau tidak. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari BPS dan Bank Indonesia yang merupakan sumber resmi yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk analisis. Teknik pengambilan sampel menggunakan data sekunder yang relevan dan kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen terhadap ekspor subsektor perikanan Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis regresi yang menguji pengaruh variabel-variabel kebijakan moneter terhadap ekspor subsektor perikanan Indonesia. Penelitian ini menganalisis tiga faktor utama, yaitu nilai tukar, suku bunga, dan inflasi, untuk mengetahui dampaknya terhadap ekspor perikanan. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien regresi, dapat dilihat bahwa nilai tukar memiliki pengaruh negatif terhadap ekspor perikanan, sementara suku bunga dan inflasi memiliki pengaruh positif. Tabel berikut ini menyajikan hasil analisis yang menunjukkan tingkat signifikansi masing-masing variabel, serta nilai intersep dan R-Square yang menggambarkan seberapa baik model regresi ini dalam menjelaskan variasi ekspor perikanan Indonesia. Tabel 1. Analisis Faktor yang Memengaruhi Kebijakan Moneter Terhadap Ekspor Perikanan di Indonesia Variabel Independen Nilai Tukar Suku Bunga Inflasi Intersep F hit -0,068 0,356 Thit Prob 0,000 0,000 0,000 VIF 1,133 1,691 1,776 Sumber: Hasil analisis data menggunakan SPSS versi 21 Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2418-2426 Jika VIF >10 terjadi multikolinearitas, sebaliknya VIF <10 tidak terjadi multikolinearitas. Model ini menggambarkan hubungan antara variabel dependen, yaitu ekspor perikanan, dengan tiga variabel independen, yaitu nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,05 untuk menentukan apakah hubungan antar variabel tersebut signifikan atau tidak. Berikut adalah perhitungan yang digunakan untuk menggambarkan pengaruh masing-masing variabel terhadap ekspor perikanan Indonesia yakni: ycyeoyecyeeyei = ye. yayi Oe ya, yayiyn ycAycyeeyeOyesyesyei ya, ycyeyi ycycyei ya, yayayc ycyeayeNyei yeIyei Intercept sebesar 4. 164 berarti bahwa volume ekspor perikanan diperkirakan sebesar 4. 164 ketika semua variabel independen . ilai tukar riil, suku bunga, dan inflas. bernilai nol. Dengan kata lain, jika nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi semuanya tidak berpengaruh atau bernilai nol, maka volume ekspor perikanan akan tetap berada pada angka 4. Namun, secara praktis, nilai nol pada variabel-variabel tersebut mungkin tidak realistis, karena nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi tidak akan benar-benar bernilai nol dalam kondisi ekonomi nyata. Oleh karena itu, interpretasi intercept lebih sering bersifat matematis untuk memberikan gambaran dasar atau titik awal, bukan yang menggambarkan kondisi dunia nyata. Nilai koefisien sebesar -0,068 menunjukkan peningkatan 1 unit dalam nilai tukar riil . isalnya, penguatan mata uang domestik terhadap mata uang asin. akan menyebabkan penurunan sebesar 068 unit pada volume ekspor perikanan (Y), dengan asumsi variabel-variabel lainnya . uku bunga dan inflas. tetap konstan. Secara lebih sederhana, koefisien negatif ini menunjukkan bahwa nilai tukar riil berhubungan terbalik dengan volume ekspor perikanan. Artinya, jika nilai tukar riil naik . isalnya, mata uang domestik mengua. , maka ekspor perikanan cenderung menurun, yang bisa terjadi karena harga barang ekspor menjadi lebih mahal di pasar internasional. Sebaliknya, jika nilai tukar riil turun . ata uang domestik melema. , ekspor perikanan bisa meningkat karena barang menjadi lebih kompetitif di pasar luar negeri (Keuangan, 2. Koefisien sebesar 0. 356 untuk variabel X2 . uku bung. dalam analisis regresi berganda berarti bahwa, dengan asumsi variabel lain tetap konstan . ilai tukar riil X1 dan inflasi X. , setiap kenaikan satu unit dalam suku bunga akan mengakibatkan peningkatan ekspor perikanan (Y) sebesar 0. Artinya, hubungan antara suku bunga dan ekspor perikanan adalah positif. Jadi, jika suku bunga naik, ekspor perikanan akan cenderung meningkat, asalkan faktor lain tidak berubah. Misalnya, jika suku bunga naik 1 persen, ekspor perikanan (Y) akan meningkat sebesar 0. 356 unit, dengan asumsi nilai tukar dan inflasi tetap. Namun, untuk memahami pengaruh ini secara lebih mendalam, diperlukan untuk mengevaluasi signifikansi koefisien ini melalui nilai p . iasanya jika p < 0. 05, maka koefisien ini signifikan secara statisti. dan mempertimbangkan apakah hubungan tersebut memiliki implikasi ekonomi yang masuk akal dalam konteks yang analisis. Koefisien sebesar 0. 013 untuk variabel X3 . dalam uji yang telah dilakukan menunjukkan bahwa, dengan asumsi variabel lain . ilai tukar riil dan suku bung. tetap konstan, setiap kenaikan satu unit dalam inflasi akan menyebabkan peningkatan ekspor perikanan . 013 unit. Artinya, hubungan antara inflasi dan ekspor perikanan adalah positif, meskipun pengaruhnya relatif kecil karena koefisiennya hanya 0. Jadi, jika inflasi meningkat 1 persen, ekspor perikanan akan meningkat sebesar 0. 013 unit . alam satuan yang relevan dengan data ekspor perikana. Namun, penting juga untuk mengevaluasi signifikansi statistik dari koefisien ini. Jika nilai p untuk koefisien inflasi lebih kecil dari 0. 05, maka pengaruh inflasi terhadap ekspor perikanan ini dianggap signifikan secara statistik. Jika tidak, pengaruh inflasi bisa jadi tidak terlalu kuat atau tidak signifikan dalam uji yang telah dilakukan. Pengaruh kebijakan moneter terhadap ekspor perikanan di Indonesia diuji dengan tiga variabel independent yakni nilai tukar riil, suku bunga, dan inflasi. Untuk menguji adanya multikolinearitas, dihitung Variance Inflation Factor (VIF) setiap variabel. Nilai VIF yang lebih besar dari 10 menunjukkan multikolinearitas, namun dalam hal ini, nilai VIF untuk nilai tukar riil . , suku bunga . , dan inflasi . semuanya kurang dari 10, yang berarti tidak ada masalah Hal ini menunjukkan bahwa ketiga variabel independen tidak saling terkait secara berlebihan, sehingga analisis pengaruh masing-masing variabel terhadap ekspor perikanan dapat dilakukan secara terpisah tanpa gangguan multikolinearitas. Selain itu. Durbin-Watson (DW) hitung sebesar 0. 959 digunakan untuk menguji autokorelasi, yaitu adanya korelasi antara kesalahan . dalam model regresi pada periode yang berbeda. Nilai Analisis Faktor yang Memengaruhi Kebijakan Moneter Ekspor Subsektor Perikanan Fiska Ramadhani. Sri Astuty. Citra Ayni Kamaruddin. Abd Rahim. Muhammad Syafri DW yang mendekati 2 menunjukkan tidak adanya autokorelasi, sementara nilai yang lebih rendah dari 2 . 959 dalam hal in. menunjukkan kemungkinan adanya autokorelasi positif. Dalam hal ini, nilai DW 0. 959 mengindikasikan bahwa terdapat autokorelasi positif dalam model, yang berarti bahwa kesalahan pada periode tertentu mungkin berhubungan dengan kesalahan pada periode sebelumnya, yang dapat memengaruhi ketepatan estimasi model. Dengan demikian, meskipun tidak ada multikolinearitas yang signifikan, adanya autokorelasi positif ini perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi validitas hasil analisis. Pengaruh kebijakan moneter terhadap ekspor perikanan tetap bisa dianalisis, tetapi perlu dilakukan penyesuaian atau perbaikan model untuk mengatasi masalah autokorelasi yang terdeteksi. Sebagai gambaran lebih lanjut mengenai dampak kebijakan moneter terhadap ekspor subsektor perikanan Indonesia, berikut ini disajikan grafik yang menggambarkan fluktuasi ekspor perikanan dari tahun ke tahun. Grafik ini mencerminkan fenomena fluktuasi yang terjadi, mulai dari lonjakan signifikan pada beberapa tahun tertentu hingga penurunan drastis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kebijakan nilai tukar, suku bunga, dan inflasi. Fenomena ini menunjukkan bagaimana ekspor perikanan Indonesia dipengaruhi oleh faktor eksternal dan kebijakan domestik, serta menggambarkan daya tahan sektor ini dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Grafik Ekspor Perikanan dan Variabel Kebijakan Moneter 17,11 13,62 13,62 12,74 12,75 12,74 12,63 12,34 12 9,5 1211,42 11,42 11,06 9,91 9,53 9 8,268,62 9 9,75 8,91 8,89 8,66,84 8,38 8,36 6,14 6,44 8 8,69 8 9,25 7,68,26 9,438,339,09 7,57,757,5 7,39 7,197,72 6,96 6,84 6,66,59 6,56 6,448,158,75 6 5,61 5,94 5,75 5,63 5,51 5,5 6 5,24,75 5,16 5 5,28 5 3,753,5 4,533,35 4,34,474,843,35 4,25 4,214,22 3,99 3,75 3,794,11 3,61 3,49 10 3,35 3,02 2,87 2,61 2,59 1,873,91 1,79 1,683,68 0,73,02 0,630,58 0,7 0,630,583,132,72 0,33 2,78 Nilai Tukar Riill Suku Bunga Inflasi Ekspor Perikanan Gambar 2. Grafik Ekspor Subsektor Perikanan dan Variabel Kebijakan Moneter Indonesia Tahuun Fenomena yang terlihat dalam data nilai tukar riil Indonesia dari 1994 hingga 2023 menunjukkan adanya ketidakstabilan ekonomi yang signifikan, dengan fluktuasi besar yang mencerminkan perubahan-perubahan besar dalam perekonomian Indonesia. Salah satu faktor utama adalah Krisis Keuangan Asia 1997-1998, yang menyebabkan nilai tukar Indonesia terdevaluasi tajam, seperti yang tercermin dari penurunan drastis nilai tukar riil dari angka tinggi menjadi sangat rendah. Setelah krisis tersebut. Indonesia mengalami pemulihan ekonomi yang tercermin dalam kenaikan nilai tukar riil, meskipun ketidakpastian global dan domestik terus menyebabkan fluktuasi. Kebijakan moneter yang tidak stabil dan inflasi yang cukup tinggi juga berperan dalam memengaruhi nilai tukar riil, dengan fluktuasi tajam pada beberapa periode. Selain itu, pandemi COVID-19 pada tahun 2020 membawa ketidakpastian ekonomi global yang luar biasa, menyebabkan penurunan tajam dalam nilai tukar riil pada awal pandemi. Secara keseluruhan, fluktuasi besar dalam nilai tukar riil selama 30 tahun terakhir ini mencerminkan kesenjangan ekonomi, krisis keuangan, dan perubahan kebijakan yang sangat memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Fenomena yang terlihat dalam data suku bunga dari 1994 hingga 2023 menunjukkan fluktuasi yang tajam dan responsif terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Salah satu peristiwa besar yang tercermin dalam data adalah penurunan drastis suku bunga dari 20. 10% pada 1998 menjadi 3. 75% pada 1999, yang mencerminkan dampak dari krisis ekonomi Asia dan langkah-langkah kebijakan untuk Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2418-2426 mengatasi inflasi dan ketidakstabilan. Setelah itu, suku bunga mengalami kenaikan signifikan, seperti 75% ke 9. 09% pada awal 2000-an, yang menunjukkan upaya pemulihan ekonomi. Pada periode berikutnya, ada tren penurunan suku bunga secara bertahap, misalnya, dari 9. 75% pada 2002 50% pada 2019, yang mencerminkan kebijakan moneter yang lebih longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Fluktuasi ini menggambarkan respons kebijakan terhadap krisis, pemulihan, dan kebutuhan untuk menstabilkan perekonomian, mencerminkan siklus perekonomian yang dipengaruhi oleh faktor domestik dan global. Data inflasi Indonesia dari 1994 hingga 2023 menunjukkan fluktuasi yang signifikan, dengan beberapa periode mengalami lonjakan tajam yang mencerminkan ketidakstabilan ekonomi. Salah satu lonjakan terbesar adalah pada tahun 1998, di mana inflasi mencapai 77. Ini sangat dipengaruhi oleh krisis ekonomi Asia, yang menyebabkan lonjakan harga barang dan jasa secara drastis akibat devaluasi rupiah dan ketidakstabilan ekonomi yang parah. Setelah krisis tersebut, inflasi turun cukup tajam pada tahun-tahun berikutnya, dengan tingkat inflasi mencapai sekitar 80% pada 2001 dan 6. 00% pada 2002. Periode ini menunjukkan upaya pemulihan ekonomi dan stabilisasi harga setelah dampak krisis. Selama beberapa tahun berikutnya, inflasi kembali menunjukkan fluktuasi, dengan kenaikan moderat seperti pada tahun 2005 . 11%) dan 2008 . 40%), yang mencerminkan ketegangan harga global dan kenaikan harga energi serta komoditas. Pada 2010-an, inflasi cenderung lebih stabil dan rendah, dengan tingkat inflasi yang lebih terkendali di bawah 5%, seperti terlihat pada angka 2. 61% pada 2023, yang mengindikasikan stabilitas ekonomi dan keberhasilan kebijakan moneter dalam menahan inflasi. Secara keseluruhan, fluktuasi besar dalam data inflasi ini mencerminkan dampak dari krisis ekonomi, kebijakan fiskal dan moneter yang diambil untuk mengontrol inflasi, serta pengaruh eksternal seperti kenaikan harga energi global yang dapat memengaruhi tingkat inflasi domestik (Akseptori et al. , 2. Nilai tukar riil dan pengaruhnya terhadap ekspor perikanan, nilai tukar riil menunjukkan hubungan antara nilai mata uang domestik dan mata uang asing yang tercermin dalam harga barang dan jasa. Dalam konteks ekspor perikanan Indonesia, hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar riil berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor perikanan, dengan koefisien -0,068. Hal ini berarti, setiap penguatan nilai tukar domestik . akan cenderung menurunkan daya saing produk ekspor Indonesia, termasuk produk perikanan, di pasar internasional. Secara teori, hal ini dapat dijelaskan melalui teori Elasticity of Substitution, yang menyatakan bahwa penguatan mata uang domestik meningkatkan harga produk domestik di pasar internasional, sehingga menurunkan Penelitian ini sejalan dengan temuan yang dilakukan oleh (Widiya, 2. , yang menunjukkan bahwa penguatan nilai tukar dapat menurunkan volume ekspor, terutama pada sektorsektor yang memiliki elastisitas harga tinggi seperti perikanan. Temuan ini juga konsisten dengan teori Exchange Rate Pass-Through, yang menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar memiliki dampak langsung terhadap harga ekspor dan impor, yang memengaruhi daya saing barang-barang tersebut di pasar internasional. Suku bunga dan pengaruhnya terhadap ekspor perikanan, suku bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor perikanan, dengan koefisien 0,356. Artinya, setiap kenaikan suku bunga dapat meningkatkan ekspor perikanan. Hal ini dapat dijelaskan melalui teori Investment Demand, yang menyatakan bahwa suku bunga yang lebih tinggi menarik lebih banyak investasi domestik dan internasional, sehingga meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing sektor ekspor. Dalam konteks ini, suku bunga yang lebih tinggi mendorong sektor perikanan untuk berinvestasi dalam teknologi dan infrastruktur yang mendukung ekspor. Penelitian ini sejalan dengan temuan oleh (Aji, 2. yang menemukan bahwa suku bunga yang tinggi cenderung mendorong investasi dalam sektor-sektor ekspor, termasuk perikanan. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang meningkatkan suku bunga dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan ekspor, dengan memperkuat sektor-sektor yang mendukung daya saing negara di pasar internasional. Inflasi dan pengaruhnya terhadap ekspor perikanan, inflasi juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor perikanan, meskipun dengan koefisien yang lebih kecil, yaitu 0,013. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Cost Push Inflation and Wage Price Spiral, yang menunjukkan bahwa inflasi yang moderat dapat meningkatkan biaya produksi, tetapi juga menciptakan peluang bagi sektor yang lebih kompetitif untuk memperoleh keuntungan. Dalam hal ini, inflasi dapat menciptakan peluang bagi sektor perikanan Indonesia untuk meningkatkan harga jual produk ekspornya, meskipun dengan dampak terbatas pada biaya produksi. Penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya, yang mengemukakan bahwa inflasi cenderung menurunkan daya saing ekspor karena meningkatkan biaya produksi dan memengaruhi Analisis Faktor yang Memengaruhi Kebijakan Moneter Ekspor Subsektor Perikanan Fiska Ramadhani. Sri Astuty. Citra Ayni Kamaruddin. Abd Rahim. Muhammad Syafri harga barang secara negatif. Namun, temuan ini sejalan dengan penelitian oleh (Sitorus et al. , 2. , yang menemukan bahwa inflasi moderat yang terkendali dapat membantu mempertahankan daya saing sektor ekspor, termasuk perikanan, di pasar internasional. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai tukar riil berpengaruh negatif, sementara suku bunga dan inflasi berpengaruh positif terhadap ekspor perikanan Indonesia. Temuan ini sejalan dengan teori-teori ekonomi yang ada, dan mendukung pemahaman bahwa kebijakan moneter yang mengatur nilai tukar, suku bunga, dan inflasi dapat memengaruhi daya saing sektor perikanan di pasar internasional (Puspita & Hamidi, 2. KESIMPULAN Nilai tukar riil memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap volume ekspor perikanan, ini berarti bahwa peningkatan nilai tukar riil . isalnya mata uang yang mengua. cenderung mengurangi volume ekspor perikanan, namun pengaruhnya dapat diandalkan secara statistik. Sementara itu, suku bunga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume ekspor, yang berarti, peningkatan suku bunga dapat meningkatkan volume ekspor perikanan, yang menunjukkan bahwa kebijakan suku bunga dapat berpengaruh pada daya saing produk perikanan di pasar internasional. Inflasi juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume ekspor. Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor perikanan, meskipun pengaruhnya kecil. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi meningkat, ekspor perikanan cenderung sedikit meningkat, kemungkinan karena faktor-faktor lain yang mendukung daya saing produk perikanan. Secara simultan, ketiga variabel independen . ilai tukar riil, suku bunga, dan inflas. berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor perikanan. Artinya, secara keseluruhan, kombinasi dari ketiga faktor tersebut memiliki dampak yang nyata terhadap ekspor perikanan. Meskipun demikian, hasil analisis ini juga menyarankan kemungkinan adanya variabel lain yang tidak tercakup dalam model yang turut memengaruhi ekspor perikanan, seperti kebijakan pemerintah atau kondisi pasar global yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA