Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 DOI: https://doi. org /10. 51352/jim. GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL UNTUK PENYAKIT HIPERTENSI PADA MASYARAKAT KELURAHAN BUDAYA PAMPANG KECAMATAN SAMARINDA UTARA Submitted : 31 Agustus 2024 Edited : 16 Desember 2024 Accepted : 23 Desember 2024 Septiana Dewi1. Dwi Elfira Kurniati2. Lizma Febrina3 Fakultas Farmasi. Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia Email: lizma@farmasi. 1,2,3 ABSTRAK Masyarakat Budaya Pampang secara khusus masih memegang tradisi penggunaan obat Hal ini menarik untuk dikaji terutama pada penyakit hipertensi yang memiliki prevalensi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik masyarakat Kelurahan Budaya Pampang yang menggunakan obat tradisional untuk penyakit hipertensi dan pola penggunaan obat tradisional untuk penyakit hipertensi pada masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 48 responden. Data dianalisis secara statistik deskriptif menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden terbanyak adalah laki-laki . ,2%), berusia >45 tahun . ,2%), pendidikan SD . ,7%), pekerjaan IRT . ,6%), lama menderita hipertensi >1 tahun . ,1%), dan lama mengkonsumsi obat tradisional >1 tahun . ,6%). Jenis tanaman yang paling banyak digunakan adalah daun salam . ,7%), bentuk sediaan terbanyak yaitu sediaan segar . ,7%), cara pengolahan terbanyak dengan cara direbus . ,7%), frekuensi penggunaan 2x sehari . ,8%). Alasan menggunakan obat tradisional karena harganya lebih murah . ,6%), mudah didapat atau ditanam sendiri . ,3%), dan mudah disiapkan atau diracik . ,2%). Berdasarkan hasil penelitian terdapat 16 spesies tanaman obat berkhasiat sebagai antihipertensi yang dapat menjadi dasar pengembangan obat di masa depan. Kata Kunci : Kelurahan Budaya Pampang, penggunaan obat tradisional, penyakit hipertensi ABSTRACT The Budaya Pampang community still adheres to the tradition of using traditional medicine. This is interesting to study, especially in hypertension which has a high prevalence. This study aims to determine the characteristics of the Budaya Pampang Village community who use traditional medicine for hypertension and the pattern of using traditional medicine for hypertension in the This research is a descriptive study with total sampling technique. Data collection was carried out using a questionnaire given to 48 respondents. Data were analyzed by descriptive statistics using SPSS. The results showed that the characteristics of the most respondents were male . 2%), aged >45 years . 2%), elementary school education . 7%), housewife occupation . 6%), duration of hypertension >1 year . 1%), and duration of taking traditional medicine >1 year . 6%). The most widely used plant type was bay leaf . 7%), the most common dosage form was fresh preparation . 7%), the most common processing method was boiling . 7%), the frequency of use was 2x a day . 8%). The reason for using traditional medicine is because it is cheaper . 6%), easy to obtain or grow yourself . 3%), and easy to prepare or mix . 2%). Based on the results of the study, there are 16 species of medicinal plants with antihypertensive properties that can be the basis for drug development in the future. Keywords : Budaya Pampang Village, hypertension, use of traditional medicines This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. Copyright . 2024 Jurnal Ilmiah Manuntung How to Cite . SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA Dewi S. Kurniati DE. Febrina L. GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL UNTUK PENYAKIT HIPERTENSI PADA MASYARAKAT KELURAHAN BUDAYA PAMPANG KECAMATAN SAMARINDA UTARA. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan. :141-150. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 PENDAHULUAN Hipertensi merupakan keadaan saat tekanan darah sistolik Ou 140 mmHg dan tekanan darah diastolik Ou 90 mmHg. Jumlah penderita hipertensi di dunia meningkat dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2019 yaitu dari 650 juta menjadi 1,3 miliar. Hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, kerusakan ginjal dan banyak masalah kesehatan lainnya. Prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi yaitu sebesar 34,11% atau diperkirakan sekitar 63. 620 jiwa penduduk usia Ou 18 tahun menderita hipertensi dan diperkirakan angka kematian sekitar 218 jiwa. Tatalaksana hipertensi ketika telah terdiagnosis hipertensi yang paling utama adalah memodifikasi gaya hidup, setelah itu dengan pemberian obat. Tujuan utama tatalaksana hipertensi adalah menurunkan mortalitas dan morbiditas yang disebabkan hipertensi seperti kerusakan organ. Seseorang yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi dalam jangka waktu lama cenderung memiliki kebiasaan dalam mengatur tekanan darahnya dengan berbagai cara, salah satunya dengan Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian . atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Penggunaan obat tradisional sebagai bagian dari pengobatan hipertensi semakin meningkat dalam dekade terakhir. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya harga obat tradisional yang dianggap lebih murah dengan efek samping yang dianggap lebih sedikit. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Budaya Pampang Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti melakukan penelitian tentang gambaran penggunaan obat tradisional untuk penyakit hipertensi pada masyarakat Kelurahan Budaya Pampang Kecamatan Samarinda Utara. METODE PENELITIAN Metode observasional dengan jenis penelitian Dalam penelitian survei deskriptif, penelitian diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam suatu komunitas atau masyarakat. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, yaitu peneliti melakukan pengukuran atau penelitian dalam satu waktu. Responden pada penelitian ini dipilih menggunakan teknik total sampling, yaitu masyarakat Kelurahan Budaya Pampang yang terdiagnosa menderita hipertensi berjumlah 48 orang. Penelitian ini menggunakan alat instrumen berupa kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Data kuesioner dikumpulkan, lalu dianalisis untuk melihat data karakteristik responden dan pola penggunaan obat tradisional untuk penyakit hipertensi. Penelitian dimulai dari bulan Januari hingga Maret 2024, di Kelurahan Budaya Pampang. Kecamatan Samarinda Utara. Kota Samarinda. Provinsi Kalimantan Timur. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik mengetahui keragaman dari responden berdasarkan umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, lama menderita hipertensi dan lama mengkonsumsi obat tradisional. Karakteristik Umur Responden Distribusi responden berdasarkan kelompok umur dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Karakteristik umur responden. Umur Jumlah Persentase Dewasa . -45 tahu. Lansia . -65 tahu. Manula (>65 tahu. Total 18,8% 58,3% 22,9% Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa dari 48 orang responden, usia 46 tahun keatas memiliki persentase paling besar yaitu 58,3%. Risiko hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan umur. Setelah umur 45 tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot dan adanya faktor risiko terbentuknya aterosklerosis atau plak pada dinding pembuluh darah, hal ini menyebabkan pembuluh darah akan semakin menyempit dan menjadi kaku sehingga akan memberikan impuls pada jantung, akibatnya tekanan darah akan meningkat. Karakteristik Jenis Kelamin Responden Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Karakteristik jenis kelamin responden. Jenis Kelamin Jumlah Persentase Laki-laki Perempuan 54,2% 45,8% Total Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa dari 84 orang responden, lakilaki memiliki persentase yang lebih besar dari responden perempuan, yaitu sebesar 54,2% sedangkan perempuan memiliki persentase sebesar 45,8%. Laki-laki lebih rentan menderita hipertensi dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, depresi, rendahnya status pekerjaan, perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran. Sedangkan prevalensi hipertensi pada wanita mengalami peningkatan setelah memasuki usia menopause. Karakteristik Pendidikan Terakhir Responden Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Karakteristik pendidikan terakhir responden. Pendidikan Jumlah Persentase Tidak sekolah SMP SMA Perguruan tinggi 18,8% 41,7% 22,9% 14,5% 2,1% Total Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 48 responden, persentase pendidikan yang paling besar yaitu responden yang berpendidikan terakhir SD sebesar 41,7%, selanjutnya adalah tamat SMP sebesar 22,9%, tidak sekolah sebesar 18,8%, tamat SMA sebesar 14,5%, dan yang terakhir perguruan tinggi sebesar 2,1%. Seseorang yang mengalami hipertensi dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah disebabkan kesehatan maupun penyakit yang dialaminya sehingga sulit untuk mengontrol masalah kesehatannya. Karakteristik Pekerjaan Responden Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 Tabel 4. Karakteristik pekerjaan responden. Pekerjaan Jumlah Persentase Tidak bekerja IRT Wiraswasta Swasta Petani Honorer Total 4,2% 39,6% 16,7% 6,2% 31,2% 2,1% Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa dari 48 responden, pekerjaan responden yang paling banyak yaitu Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebesar 39,6%, dan yang paling sedikit yaitu responden yang bekerja sebagai pegawai honorer sebanyak 2,1%. Faktor penyebab IRT banyak menderita hipertensi adalah tingkat stres yang tinggi. Pada saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan dilepaskan dan kemudian akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri dan peningkatan denyut jantung, hal inilah yang menimbulkan penyakit hipertensi. Karakteristik Lamanya Responden Menderita Hipertensi Karakteristik responden berdasarkan lamanya menderita hipertensi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel Tabel 5. Karakteristik lamanya responden menderita hipertensi. Lama Menderita Hipertensi Jumlah Persentase < 1 tahun > 1 tahun 22,9% 77,1% Total Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden menderita hipertensi lebih dari satu tahun yaitu sebesar 77,1%. Sedangkan responden yang menderita hipertensi kurang dari satu tahun sebesar 22,9%. Alasan penggunaan obat tradisional akibat kejenuhan pasien dalam mengkonsumsi obat konvensional dan keinginan untuk sembuh. Semakin lama seseorang menderita hipertensi, maka kebanyakan penderita akan merasa bosan untuk pergi berobat, terutama jika tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan. Karakteristik Lamanya Responden Mengkonsumsi Obat Tradisional Karakteristik responden berdasarkan lamanya mengkonsumsi obat tradisional dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel Tabel 6. Karakteristik lamanya responden mengkonsumsi obat tradisional. Lama Mengonsumsi Obat Tradisional Jumlah Persentase < 1 tahun > 1 tahun 35,4% 64,6% Total Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa lamanya responden mengkonsumsi obat tradisional dibagi menjadi dua bagian yaitu kurang dari satu tahun sebanyak 35,4% dan lebih dari satu tahun sebanyak 64,6%. Hal ini disebabkan bahwa sebagian kecil responden telah menggunakan obat sintetis terlebih dahulu untuk mengobati hipertensi yang diderita. untuk mengetahui pemilihan tanaman, pemilihan bentuk sediaan, cara pengolahan obat tradisional, frekuensi penggunaan obat tradisional dan alasan penggunaan obat tradisional oleh responden. Pemilihan Tanaman Pola penggunaan obat tradisional berdasarkan pemilihan jenis tanaman yang digunakan oleh responden untuk menurunkan tekanan darah tinggi dapat dilihat pada tabel 7. Pola Penggunaan Obat Tradisional Pola penggunaan obat tradisional Tabel 7. Pemilihan tanaman untuk mengobati hipertensi. Tanaman Yang Digunakan Jumlah Persentase Daun salam Seledri Daun belimbing wuluh Daun beluntas Bunga telang Daun sirsak Bawang dayak Buah ciplukan Daun alpukat Daun sirih Buah kersen Pegagan Akar bajakah Daun tahongai Bawang putih Buah mengkudu Total 16,7% 10,4% 8,3% 8,3% 4,2% 12,5% 8,3% 2,1% 6,2% 4,2% 4,2% 2,1% 2,1% 2,1% 6,2% 2,1% Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa terdapat 16 tanaman obat yang digunakan sebagai terapi komplementer Seluruh tanaman obat tersebut memiliki dasar teori untuk efek antihipertensi. Daun salam merupakan tanaman obat yang paling banyak digunakan, diikuti oleh daun sirsak, seledri, daun belimbing wuluh, daun beluntas, bawang dayak, daun alpukat, bawang putih, bunga telang, daun sirih, buah kersen, buah ciplukan, pegagan, akar bajakah, daun tahongai, dan buah mengkudu. Daun salam mengandung senyawa flavonoid yang mampu menurunkan systemic vascular resistance (SVR) karena dapat menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah serta berpengaruh terhadap kerja angiotensin converting enzyme (ACE) pada jalur Renin-Angiotensin Sistem (RAS) yang berperan dalam menghambat terjadinya perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Daun sirsak dapat menurunkan tekanan darah karena mengandung ion Mekanisme ion kalium dalam menurunkan tekanan darah yaitu dengan meningkatkan pengeluaran natrium dari dalam tubuh, menghambat pengeluaran renin, menyebabkan vasodilatasi, dan menghambat vasokontriksi endogen. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 Pemilihan Bentuk Sediaan Daun seledri memiliki kandungan apigenin Pola penggunaan obat tradisional pembuluh darah dan kandungan Phthalides berdasarkan pemilihan bentuk sediaan yang yang dapat mengendurkan otot-otot arteri digunakan oleh responden dapat dilihat pada atau merelaksasi pembuluh darah. Tabel 8. Pemilihan bentuk sediaan. Tanaman Yang Digunakan Bentuk Sediaan Segar Kering Daun salam Seledri Daun belimbing wuluh Daun beluntas Bunga telang Daun sirsak Bawang dayak Buah ciplukan Daun alpukat Daun sirih Buah kersen Pegagan Akar bajakah Daun tahongai Bawang putih Buah mengkudu Total Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui Namun, bahwa dari 48 responden, terdapat 91,7% responden menggunakan tanaman segar yang terkandung dalam tanaman terutama untuk pengobatan dan sebanyak 8,3% senyawa antioksidan. Kandungan fenolik menggunakan tanaman kering. Tanaman dan flavonoid total dalam suatu tanaman segar banyak digunakan karena dianggap lebih mudah dan cepat sebab tidak harus kestabilannya dapat dipengaruhi oleh proses melalui proses pengeringan terlebih dahulu. Sedangkan responden yang menggunakan Cara Pengolahan Obat Tradisional tanaman kering bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam tanaman Pola penggunaan obat tradisional agar tidak mudah rusak, sehingga dapat berdasarkan cara pengolahan obat tradisional disimpan dalam waktu yang lebih lama. oleh responden dapat dilihat pada tabel 9. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 Tabel 9. Cara pengolahan obat tradisional. Bentuk Sediaan Tanaman Yang Digunakan Dikonsumsi Langsung Direbus Diseduh Dijus Diperas Daun salam Seledri Daun belimbing wuluh Daun beluntas Bunga telang Daun sirsak Bawang dayak Buah ciplukan Daun alpukat Daun sirih Buah kersen Pegagan Akar bajakah Daun tahongai Bawang putih Buah mengkudu TOTAL Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa dari 48 responden, terdapat 43,8% tradisional 2y sehari. Frekuensi penggunaan obat tradisional 2x sehari pada pagi dan sore hari lebih cenderung untuk menjaga tekanan darah tetap normal bagi penderita hipertensi. Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui bahwa dari 48 responden, terdapat 68,7% responden mengolah obat tradisional dengan cara direbus. Cara pengolahan direbus banyak dilakukan karena cara tersebut mudah untuk dilakukan dan hemat sebab dapat dikonsumsi berulang kali. yang menggunakan tanaman segar untuk pengobatan dan sebanyak 8,3% menggunakan tanaman kering. Cara pengolahan direbus membuat zat yang terkandung pada tumbuhan lebih mudah larut sehingga akan bereaksi lebih cepat apabila diminum. Alasan Menggunakan Obat Tradisional Pola penggunaan obat tradisional berdasarkan alasan menggunakan obat tradisional dapat dilihat pada tabel 11. Berdasarkan Tabel 11 yang terdiri dari delapan pertanyaan alasan menggunakan obat tradisional, rata-rata responden setuju dengan alasan tersebut. Untuk pertanyaan pertama harga obat herbal lebih murah jika dibandingkan obat sintetik, sebanyak 89,6% responden setuju karena sebagian responden meracik sendiri obat tradisional menggunakan tanaman obat yang ada di Frekuensi Penggunaan Obat Tradisional Pola penggunaan obat tradisional berdasarkan frekuensi penggunaan obat tradisional oleh responden dapat dilihat pada tabel 10. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 kebun atau pekarangan rumah sehingga tidak perlu membeli. Pernyataan kedua yaitu obat herbal mudah didapat atau ditanam sendiri, sebanyak 81,3% responden menjawab setuju karena sebagian tanaman obat banyak dijual di pasar bahkan dapat ditanam sendiri di kebun atau di pekarangan rumah. Pernyataan ketiga yaitu obat herbal mudah disiapkan atau diracik, sebanyak 79,2% responden menjawab setuju karena dalam mengolah tanaman obat dapat dilakukan dengan cara yang mudah seperti direbus, diseduh atau diperas, bahkan ada yang dapat langsung dikonsumsi tanpa diolah terlebih dahulu. Pernyataan keempat yaitu khasiat obat herbal sama dengan obat sintetik, sebanyak 52,1% responden menjawab setuju karena sebagian responden merasakan khasiat dari penggunaan obat tradisional. Pernyataan kelima yaitu obat herbal mengandung berbagai senyawa aktif yang berkhasiat, sebanyak 64,6% responden menjawab setuju. Pernyataan keenam yaitu obat herbal tidak memiliki efek samping yang merugikan, sebanyak 72,9% responden menjawab setuju karena meyakini bahwa obat tradisional lebih aman karena terbuat dari bahan yang alami dan apabila dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang tidak menimbulkan efek Pernyataan ketujuh yaitu tidak sembuh dengan obat sintetik, sebanyak 45,8% responden menjawab tidak setuju karena sebagian responden merasa obat sintetik memiliki kemanjuran yang tinggi terhadap penurunan tekanan darah sehingga masih mengkonsumsi obat sintetik. Pernyataan terakhir yaitu obat herbal aman dikonsumsi kapan saja, sebanyak 68,8% responden menjawab setuju karena menganggap obat herbal berasal dari bahan alami sehingga aman dikonsumsi kapan saja. Tabel 10. Frekuensi penggunaan obat tradisional. Bentuk Sediaan Tanaman Yang Digunakan 1y Sehari 2y Sehari 3y Sehari 4y Sehari Daun salam Seledri Daun belimbing wuluh Daun beluntas Bunga telang Daun sirsak Bawang dayak Buah ciplukan Daun alpukat Daun sirih Buah kersen Pegagan Akar bajakah Daun tahongai Bawang putih Buah mengkudu Total Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 141-150, 2024 Tabel 11. Alasan menggunakan obat tradisional. Alasan Setuju Netral Tidak Setuju Harga obat herbal lebih murah Obat herbal mudah didapat atau ditanam sendiri Obat herbal mudah disiapkan atau diracik Khasiat obat herbal sama dengan obat sintetik Obat herbal mengandung berbagai senyawa aktif yang Obat herbal tidak memiliki efek samping yang merugikan Tidak sembuh dengan obat Obat herbal aman dikonsumsi kapan saja 89,6% 4,2% 6,2% 81,3% 10,4% 8,3% 79,2% 6,2% 14,6% 52,1% 31,2% 16,7% 64,6% 33,3% 2,1% 72,9% 14,6% 12,5% 35,4% 18,8% 45,8% 68,8% 8,3% 22,9% SIMPULAN Karakteristik responden terbanyak adalah responden dengan rentang umur 46-65 tahun . ,3%), jenis kelamin laki-laki . ,2%), pendidikan terakhir SD . ,7%), pekerjaan IRT . ,6%), lama menderita hipertensi lebih dari 1 tahun . ,1%), dan lama mengkonsumsi obat tradisional lebih dari 1 tahun . ,6%). Pola penggunaan obat tradisional berdasarkan pemilihan tanaman yang terbanyak adalah daun salam . ,7%), bentuk sediaan yang banyak digunakan yaitu sediaan segar . ,7%), pengolahan tanaman yang paling banyak dilakukan dengan cara direbus . ,7%), frekuensi penggunaan 2 kali sehari . ,8%). Alasan penggunaan obat tradisional karena harga obat herbal lebih murah . ,6%), obat herbal mudah didapat atau ditanam sendiri . ,3%), obat herbal mudah disiapkan atau diracik . ,2%), khasiat obat herbal sama dengan obat sintetik . ,1%), obat herbal mengandung berbagai senyawa aktif yang berkhasiat . ,6%), obat herbal tidak memiliki efek samping yang merugikan . ,9%), tidak sembuh dengan obat sintetik . ,4%), dan obat herbal aman dikonsumsi kapan saja . ,8%). UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih kepada pihak Kelurahan Budaya Pampang yang telah berkenan memberikan izin untuk melakukan penelitian dan seluruh responden yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA