Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 8. No 2. Novenber 2024 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: 10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Bimbingan Baca Tulis Al-Quran Pada Komunitas Mualaf Di Sumalangka Minahasa Mastang Ambo Baba1*. Rinton Igisani2. Burhanuddin Albar3 Institut Agama Islam Negeri Manado. Manado. Indonesia Email: rafiudilmudinulloh@gmail. Abstrak Bimbingan baca tulis Al-QurAoan pada komunitas mualaf di Desa Sumalangka. Kabupaten Minahasa, merupakan salah satu bentuk kegiatan pengabdian masyarakat yang difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar membaca dan menulis huruf-huruf Al-QurAoan kepada para mualaf yang tergabung dalam komunitas tersebut. Komunitas ini terdiri atas 15 mualaf baru yang sebelumnya belum memiliki kemampuan baca tulis Al-QurAoan. Program bimbingan dilaksanakan selama 10 hari, dengan melibatkan 15 peserta mualaf sebagai penerima manfaat serta tiga pendamping yang berperan sebagai fasilitator. Metode pembelajaran yang diterapkan adalah metode praktis, yang memungkinkan peserta untuk mempelajari materi secara langsung dan bertahap. Hasil dari program ini menunjukkan peningkatan kemampuan membaca Al-Quran, di mana seluruh peserta berhasil mengenali, membaca, dan menulis huruf-huruf Al-QurAoan. Program ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi keagamaan serta mendukung para mualaf dalam menjalani kehidupan beragama yang lebih baik. Mereka membutuhkan pendampingan khusus dan berkelanjutan untuk sampai pada level mahir baca tulis Al-Quran. Kata kunci: Bimbingan. Baca Tulis Al-Quran. Mualaf. Minahasa Abstract The Quran literacy program for the Muslim converts . community in Sumalangka Village. Minahasa Regency, is a community service activity facilitated by the Research and Community Service Institute (LP2M) of the State Islamic Institute (IAIN) Manado. This program aims to provide basic skills in reading and writing Quranic script to the converts within the community. The community consists of 15 new converts who previously lacked the ability to read and write the Quran. The program was conducted over 10 days, involving 15 participants as beneficiaries and three facilitators who acted as mentors. The teaching method employed was a practical approach, enabling participants to learn the material directly and progressively. The results of this program showed a significant improvement in Quranic literacy skills, with all participants successfully recognizing, reading, and writing Quranic letters. This program has had a positive impact on enhancing religious literacy and supporting the converts in leading a better religious They require specialized and ongoing assistance to reach an advanced level of Quranic literacy. Keywords: Guidance. Quran Literacy. Converts. Minahasa Submit: Oktober 2024 Diterima: November 2024 Publis: November 2024 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) PENDAHULUAN Sumalangka merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Tondano Utara. Kabupaten Minahasa. Sulawesi Utara. Dalam kelurahan tersebut terdapat sebuah komunitas yang disebut dengan komunitas mualaf. Sebagaimana sudah umum diketahui bahwa mualaf adalah mereka yang telah meninggalkan agama sebelumnya untuk masuk dan memeluk agama Islam sebagai agama baru mereka (Abdillah, 2. , yang kemudian memperoleh derajat dan kedudukan yang sama dengan orang-orang Islam pada umumnya (Rahmawati dan Desiningrum. Saat ini, dalam komunitas mualaf Sumalangka, terdapat lima belas orang mualaf baru. Sebagai mualaf baru, tentunya masih banyak ajaran-ajaran serta tradisi Islam yang harus dipelajari. Terutama adalah membaca dan menulis Al-QurAoan. Baca Al-QurAoan keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang Muslim (Tohis dan Malula, 2. Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan penulis, sebagian besar mualaf tersebut belum bisa membaca dan menulis huruf hijaiyah. Satu dua orang bisa membaca tetapi sangat terbata-bata, ada yang mengaku sudah bisa membaca AlQurAoan, namun setelah dites lagi, banyak yang lupa. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi para mualaf dalam proses transisi mereka menuju kehidupan baru sebagai Muslim. Selain mempelajari aspek-aspek teologis, tradisi, dan praktik Islam, kemampuan membaca dan menulis Al-QurAoan menjadi salah satu kebutuhan Dalam komunitas kecil seperti Sumalangka, pendampingan yang terfokus dapat menjadi solusi strategis untuk mengatasi tantangan tersebut. Tanpa keterampilan ini, para mualaf cenderung mengalami kesulitan dalam menjalankan ibadah yang sesuai dengan tuntunan agama. Oleh menghadirkan program bimbingan yang terstruktur dan berkesinambungan sebagai upaya untuk meningkatkan literasi keislaman mereka. Vol. 8 No. November 2024 Beberapa penelitian dan praktik bimbingan Baca Tulis Al-QurAoan (BTQ) telah menunjukkan hasil yang positif. Contohnya adalah bimbingan BTQ yang diterapkan pada mahasiswa oleh Choiriyah, . dan Muhammad Kamil Jafar, . Meskipun kedua pengabdian ini dilakukan di kalangan mahasiswa, prinsip dan metode yang digunakan relevan untuk diterapkan kepada komunitas mualaf. Dengan pendekatan yang tepat, bimbingan BTQ dapat memberikan dampak signifikan dalam membangun keterampilan dasar membaca dan menulis Al-QurAoan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri para mualaf dalam menjalankan kehidupan beragama Berdasarkan fakta-fakta tersebut, melaksanakan program bimbingan BTQ pada komunitas mualaf di Sumalangka. Minahasa. Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-QurAoan, tetapi juga untuk memberikan dukungan spiritual dan sosial yang mereka butuhkan dalam proses adaptasi menjadi Muslim yang lebih Pendampingan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata terhadap perkembangan komunitas mualaf di Sumalangka. Dengan keterampilan baca tulis Al-QurAoan yang memadai, para mualaf tidak hanya dapat memahami ajaran agama dengan lebih baik, tetapi juga memperoleh kepercayaan diri untuk menjalankan ibadah secara mandiri. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas komunitas dan membangun semangat keberagamaan yang lebih kokoh. Program ini merupakan langkah kecil, tetapi memiliki potensi untuk memberikan dampak besar dalam mendukung perjalanan spiritual para mualaf di Sumalangka. METODE PELAKSANAAN Bimbingan baca tulis Al-QurAoan pada Sumalangka. Kabupaten Minahasa, diikuti oleh 15 orang mualaf dengan 3 orang pembimbing. Metode yang digunakan adalah metode pembelajaran yang praktis dan telah terbukti Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) efektif di masyarakat umum. Tahapan metode pengabdian ini meliputi: Pendekatan Individual dan Kelompok Pembimbing membacakan huruf maupun lafaz demi lafaz secara perlahan, kemudian peserta menirukan. Metode ini memastikan peserta mengenali dan memahami setiap huruf dan lafaz yang Vol. 8 No. November 2024 Kami membuatkan modul belajar yang digunakan untuk beberapa kali Waktu bimbingan dilaksanakan kurang lebih 3 jam. Pembimbing mengarahkan peserta bimbingan untuk membuka halaman yang sudah ditentukan. Pembimbing kemudian membacakan huruf demi huruf lalu ditirukan oleh peserta secara bersama-sama. Setelah itu peserta bimbingan diminta satu per satu, secara bergantian, membacakan kembali huruf yang sudah dibacakan bersama-sama tadi. Pembimbing mendengarkan sambil mengoreksi dan mengarahkan jika terdapat kesalahan Pada saat satu peserta membaca, peserta yang lain memperhatikan. Setelah berlangsung beberapa kali pertemuan, para peserta mulai mengerti jalannya metode Sehingganya mempersiapkan diri dengan belajar di Ketika di tes kembali, bacaan mereka sudah lancar. Pendampingan ditutup sebelum maghrib tiba agar para peserta dapat segera kembali ke rumah mengingat jarak rumah ke mesjid cukup Latihan Mandiri dengan Supervisi Peserta diminta membacakan kembali huruf atau lafaz yang telah dipelajari, sementara pembimbing mendengarkan dengan seksama. Pembimbing memberikan koreksi dan penjelasan terhadap kesalahan bacaan secara langsung untuk memastikan pembelajaran berlangsung efektif. Penjadwalan Terstruktur dan Evaluasi Berkala Program ini dilaksanakan selama 10 kali pertemuan, di mana setiap pertemuan difokuskan pada target kemampuan Selain itu, dilakukan 7 sesi evaluasi kemampuan peserta dalam membaca dan menulis Al-QurAoan. Evaluasi ini mencakup tes lisan dan tulisan yang disesuaikan dengan kemampuan individu peserta. Penampingan Berkelanjutan Setelah program utama selesai, peserta yang masih memerlukan bimbingan pendampingan lanjutan untuk memastikan mereka mencapai kompetensi yang Metode ini tidak hanya menekankan pada pembelajaran teknis membaca dan menulis Al-QurAoan, tetapi juga mendorong peserta untuk lebih percaya diri dalam menjalankan ibadah secara mandiri. Dengan pendekatan yang sistematis dan terarah, program ini diharapkan mampu memberikan dampak yang signifikan bagi komunitas mualaf di Sumalangka. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah melaksanakan pengecekan bacaan terhadap para peserta bimbingan, banyak dari mereka yang masih sangat terbata-bata dalam membaca al-Quran, bahkan ada yang belum bisa membaca sama Gambar 1. Pembukaan Kegiatan Bimbingan Baca Tulis Al-QurAoan Tidak berhenti disitu, pemdamping juga membuatkan simulasi bacaan setiap pertemuan lewat link video youtube . isalnya, https://youtu. be/eH-p-6LJnSQ), sehingga bisa dijadikan rujukan murajaAoah hari-hari Dengan adanya sarana pembelajaran dalam video tersebut, terget capaian pembimbingan dapat tercapai dengan cepat. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Hingga pertemuan kelima para peserta sudah bisa membedakan bentuk Pertemuan berikutnya mereka sudah mampu membedakan bacaan yang harus dipanjangkan. Seperti ketika ada huruf berbaris fathah ketambahan alif, huruf kasrah ketambahan ya, huruf berbaris fathah ketika ketambahan huruf waw. Selanjutnya mereka sudah mengenal huruf tanwin, juga Vol. 8 No. November 2024 kemampuan literasi keagamaan para Sebelum bimbingan dimulai, sebagian besar peserta masih sangat terbatabata dalam membaca Al-QurAoan, bahkan ada yang belum mengenali huruf-huruf Namun, pembelajaran praktis yang terstruktur, peserta menunjukkan perkembangan yang luar biasa dalam waktu relatif singkat. Pada tahap awal, penggunaan modul belajar yang disusun secara sistematis sangat membantu proses pembelajaran. Modul ini dirancang untuk mengakomodasi menitikberatkan pada pengenalan huruf Pembimbingan pembimbing membacakan huruf-huruf terlebih dahulu untuk ditirukan oleh peserta. Hal ini efektif dalam melatih pengucapan yang benar. Selain itu, peserta yang diminta membaca secara individu mendapat umpan balik langsung dari pembimbing, sehingga kesalahan dalam bacaan dapat segera Hingga pertemuan kelima, para peserta sudah mampu membedakan bentuk huruf, mengenali letak titik, dan Pada tahap ini, peserta juga mulai mengenali hukum bacaan dasar seperti bacaan panjang . dan tanda baca tambahan seperti tanwin, sukun, dan Peningkatan ini menunjukkan bahwa peserta telah memahami materi dasar dengan baik, yang menjadi fondasi penting dalam membaca Al-QurAoan. Inovasi lain yang mendukung keberhasilan program ini adalah penyediaan materi belajar dalam bentuk video yang diunggah melalui platform YouTube. Video ini memudahkan peserta untuk melakukan murajaAoah . engulangan mater. di rumah pada hari-hari di mana tidak ada sesi Hal ini membangun kebiasaan belajar mandiri di antara peserta dan mempercepat pencapaian target Pada pertemuan kedelapan dan kesembilan, sebagian besar peserta sudah mampu membaca huruf-huruf di awal surah Al-QurAoan dan mengenal tanda-tanda waqaf Gambar 2. Proses Pembimbingan Baca Tulis Al-Quran Memasuki pertemuan ke delapan dan ke sembilan para peserta telah mampu membaca huruf-huruf di awal surah, bahkan sebagian besar mereka sudah mampu tanda-tanda sebagaimana lazimnya dalam ilmu tanda waqaf dan ibtidaAonya. Setelah 10 kali pertemuan, peserta sudah diarahkan membaca di Mushaf Al-QurAoan. Di sini peserta mulai menyesuaikan bacaannya dengan beberapa huruf Al QurAoan yang kementerian agama standar. Mereka tidak diperkenankan untuk memakai mushaf selain mushaf standar kemanag sebab mushaf tersebut sudah dirancang dengan berbagai tanda baca yang sesuai dengan kemampuan kita orang indonesia, berbeda dengan mushaf dengan cetakan Madinah, dimana mushaf tersebut lebih cocok untuk mereka yang telah selesai khatam Al QurAoan atau berada pada tingkatan mahir. Program bimbingan baca tulis AlQurAoan yang dilaksanakan pada komunitas mualaf di Sumalangka Kabupaten Minahasa berhasil memberikan dampak yang Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) serta ibtidaAo. Ini menandakan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca Al-QurAoan secara mandiri. Keberhasilan pendekatan bertahap, di mana pembimbing memastikan setiap peserta memahami materi sebelum melanjutkan ke tahap Pada diarahkan membaca langsung dari mushaf Al-QurAoan standar Kementerian Agama. Penggunaan mushaf ini sangat membantu peserta untuk menyesuaikan bacaan dengan tanda baca yang telah dirancang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di Indonesia. Larangan penggunaan mushaf selain mushaf standar juga bertujuan untuk memastikan bahwa peserta tidak mengalami kebingungan dalam membaca, terutama bagi mereka yang masih berada pada tahap Madjid Latief, . mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh kaum mualaf Suku Akit di Desa Penyengat. Siak. Riau, dalam mengadopsi agama Islam, termasuk minimnya fasilitas keagamaan dan pemahaman ajaran Islam yang lemah. Melalui program pengabdian masyarakat yang terdiri dari observasi, pelatihan ibadah, dan penguatan ekonomi melalui budi daya nenas, kegiatan ini keagamaan dan semangat beribadah para Partisipasi aktif dalam pelatihan dan penyuluhan menunjukkan hasil positif, meskipun masih ada kendala terkait kondisi ekonomi dan aksesibilitas fasilitas ibadah yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut untuk keberlanjutan program ini. Penelitian lain menerapkan metode Quantum Hijaiyah untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an di kalangan komunitas muallaf di Kalimantan Barat (Hidayat, 2. Dalam waktu 19 jam efektif pelatihan, peserta yang sebelumnya tidak mengenal huruf hijaiyah berhasil menguasai teknik membaca AlQur'an dengan baik. Metode ini menggabungkan visualisasi dan asosiasi huruf dengan gambar serta warna, sehingga memudahkan peserta dalam memahami dan mengingat huruf-huruf Al-Qur'an. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan Vol. 8 No. November 2024 yang jelas dalam kemampuan membaca peserta, dibuktikan dengan tes sebelum dan sesudah pelatihan serta testimonial positif dari para peserta mengenai perubahan yang mereka alami. Program ini tidak hanya meningkatkan literasi keagamaan, tetapi juga memberikan dorongan semangat untuk lebih mendalami ajaran Islam di kalangan Di lain tempat. Fitriyani . menemukan bahwa program pendampingan dan pembinaan komunitas muallaf di Desa Wamana Baru. Maluku, melalui pembibitan perangkat syara' sangat penting untuk keagamaan mereka. Kegiatan ini mencakup pembinaan aqidah, pelatihan dasar ibadah Islam, pendidikan guru Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), serta pembentukan majelis taklim. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pemahaman agama dan kemampuan ibadah di kalangan muallaf, meskipun masih terdapat tantangan terkait minimnya fasilitas keagamaan dan dukungan dari tenaga pendakwah. Program ini diharapkan dapat berlanjut untuk memperkuat struktur keagamaan dan sosial di masyarakat muallaf tersebut, serta memberikan solusi terhadap masalahmasalah yang mereka hadapi dalam beribadah dan menjalani kehidupan seharihari. Pola Kalimantan Tengah. Kabupaten Gunung Mas. Barito Utara, dan Murung Raya, masih belum terstruktur dan sistematis (Sadiani et al. , 2. Meskipun ada upaya dari Kementerian Agama dan organisasi keagamaan untuk membina para muallaf, kegiatan tersebut sering kali bersifat sporadis dan tidak terkoordinasi. Kendala utama yang dihadapi meliputi kurangnya dana, minimnya data yang valid mengenai jumlah muallaf, serta tidak adanya lembaga khusus yang bertanggung jawab atas pembinaan ini. Akibatnya, banyak muallaf yang tidak mendapatkan pembinaan keagamaan yang memadai setelah beralih keyakinan, sehingga pemahaman mereka tentang Islam masih Penelitian perlunya pembentukan lembaga atau Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) organisasi yang dapat mengkoordinasikan dan menyusun program pembinaan keagamaan secara terintegrasi untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama di kalangan muallaf. Amri & Al Abza . melakukan pendampingan membaca Al-Qur'an bagi ibu-ibu di Majelis Taklim Annisa Persit di Kota Jayapura. Papua, yang menunjukkan bahwa banyak anggota majelis tersebut belum lancar dalam membaca Al-Qur'an. Melalui metode perencanaan, pelatihan, dan pendampingan, program ini berhasil meningkatkan kemampuan peserta dalam membaca dan melafalkan Al-Qur'an sesuai dengan kaidah tajwid. Hasil kegiatan menunjukkan partisipasi yang tinggi dari ibu-ibu, dengan sebagian besar dari 20 peserta aktif hadir di setiap sesi. Meskipun peningkatan kemampuan membaca terlihat sebelumnya tidak bisa membaca Al-Qur'an kini telah mengenali huruf-huruf hijaiyyah dan mampu melafalkan bacaan dengan lebih Namun, penelitian ini juga mencatat bahwa keberlanjutan program masih menjadi tantangan untuk memastikan peningkatan kemampuan yang lebih signifikan di masa depan. Hasil dari program ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan pembimbingan yang konsisten, komunitas mualaf dapat mencapai kemampuan membaca dan menulis Al-QurAoan secara Program ini tidak hanya membantu meningkatkan literasi keagamaan mereka, tetapi juga memberikan kepercayaan diri untuk menjalankan ibadah dengan lebih Selain itu, dampak positif lain dari program ini adalah terbentuknya solidaritas di antara para peserta, yang turut memperkuat komunitas mereka. Ke depan, memastikan bahwa kemampuan membaca Al-QurAoan yang telah diperoleh dapat terus dipelihara dan ditingkatkan. Program lanjutan seperti kelas tahsin atau kajian keagamaan berbasis komunitas dapat menjadi solusi untuk menjaga semangat belajar para mualaf dan mendukung Vol. 8 No. November 2024 KESIMPULAN Program bimbingan baca tulis AlQurAoan pada komunitas mualaf di Sumalangka Kabupaten Minahasa telah meningkatkan kemampuan literasi AlQurAoan para peserta. Sebelum mengikuti program, sebagian besar peserta belum mampu membaca huruf hijaiyah, bahkan ada yang belum mengenalnya sama sekali. Namun, melalui pendekatan praktis, sistematis, dan inovatif, mereka berhasil mencapai kemajuan yang substansial. Modul belajar yang dirancang khusus, bimbingan intensif dengan metode partisipatif, serta pemanfaatan media pembelajaran seperti video YouTube menguasai materi secara efektif. Dalam waktu sepuluh pertemuan, peserta tidak hanya mampu mengenali dan membaca huruf hijaiyah, tetapi juga memahami tandatanda waqaf, ibtidaAo, serta membaca AlQurAoan menggunakan mushaf standar Kementerian Agama. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang memadai, komunitas mempelajari keterampilan dasar membaca Al-QurAoan. Selain kemampuan ibadah, program ini juga berkontribusi pada penguatan solidaritas komunitas dan rasa percaya diri peserta dalam menjalani kehidupan sebagai Muslim. Untuk menjaga keberlanjutan hasil yang telah dicapai, diperlukan program lanjutan seperti pelatihan tahsin atau kajian keagamaan komunitas. Hal ini diharapkan dapat menjaga semangat belajar dan mendukung proses pengembangan spiritual para mualaf secara konsisten. Program ini, meskipun sederhana, memiliki dampak besar dalam memperkuat fondasi keislaman komunitas mualaf di Sumalangka. REFERENSI