Prive. Volume 2. Nomor 1. Maret 2019 http://ejurnal. id/index. php/prive REAKSI PASAR ATAS INFORMASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY Putri Mutira Universitas Pembangunan Jaya Abstract Purpose Ae The purpose of this paper is to identify the effects of Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure on market reaction with Earning Response Coefficient (ERC) as proxy. Data/Object/Metodology Ae The researcher used secondary data obtained from Indonesian Stock Exchange. The level of the information of Corporate Social Responsibility measures by environment and social indicator in Global Reporting Initiative (GRI) 2006. Data were analyzed using regression analysis Findings Ae The results showed that the CSR disclosure proven negative effect on Earnings Response Coefficient (ERC). This result indicates CSR information disclosed is not adequate for investor to consider its information for their investment decision. Keywords: CSR. ERC. Global Reporting Initiative Abstrak Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi pengaruh pengungkapan CSR terhadap reaksi pasar dengan mengunakan proksi Earning Response Coefficient (ERC). Data/objek penelitian/metode - Penelitian ini menggunakan 89 sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2015. Tingkat pengungkapan CSR dalam penelitian ini menggunakan kerangka pada Global Reporting Initiative (GRI) tahun 2006 Metode penelitian menggunakan analisis regresi Hasil - Penelitian ini menunjukkan bahwa pengungkapan CSR tidak berpengaruh negatif terhadap ERC. Ini mengindikasikan bahwa pengungkapan CSR tidak mampu menarik perhatian investor sebagai bahan pertimbangan investasinya. Kata Kunci: CSR. ERC. Global Reporting Initiative PENDAHULUAN Informasi yang dikeluarkan perusahaan menjadi perhatian para pemangku kepentingan khususnya investor. Salah satu informasi penting yang dapat digunakan oleh investor adalah informasi laba. Laba merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja operasional Informasi tentang laba mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan operasi yang ditetapkan (Parawiyati, 1996 dalam Siallagan et al. , . Ball dan Brown . melakukan penelitian yang menghubungkan informasi laba dengan reaksi pasar melalui imbal hasil saham. Dengan menggunakan window 12 bulan sebelum pengumuman laba, mereka membuktikan peningkatan laba berhungan positif dengan imbal hasil Ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Beaver tahun 1968 yang menunjukkan bahwa dalam minggu pengumuman laba, pasar bereaksi dengan ditandai adanya peningkatan volume perdagangan dan variabilitas harga. Penelitian lainnya yang juga memberikan bukti bahwa laba berhubungan dengan imbal hasil saham adalah Beaver et al. , . Kormendi dan Lipe . Lipe . Collins dan Kothari . Adhariani . Wondabio dan Sayekti . dan Asih . Pasar akan memberikan reaksi yang beragam tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Kuatnya reaksi pasar ditandai tingginya earning response coefficient (ERC). Semakin baik kualitas laba yang dihasilkan, maka nilai ERC semakin besar dan sebaliknya, lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari rendahnya ERC. Besarnya ERC dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, risiko (Collins dan Kothari, 1989. Easton dan Zmijewski, 1989. Lipe, 1990. Mayangsari, 2004. Adhariani, 2005. Asih, 2. , pertumbuhan (Collins dan Kothari, 1. persistensi laba (Kormendi dan Lipe, 1987. Collins dan Kothari, 1989. Lipe, 1990. Wondabio dan Sayekti, 2007. Asih, 2. , ukuran perusahaan (Collins dan Kothari, 1989. Eastin dan Zmijewski, 1989. Adhariani 2005. Harris, 2009. Asih, 2. , struktur modal (Dhaliwal dan Lee, 1991. Adhariani 2005. Asih 2. , kualitas laba (Leb dan Thiagarajan, 1. , kualitas audit (Teoh dan Wong, 1993. Adhariani, 2005. Asih 2010. Mayangsari, 2. dan default risk of debt (Dhaliwal dan Reynolds, 1994. Billings, 1999. Adhariani 2. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang (Siallagan dan Machfoedz, 2. Perhitungan menggunakan informasi akuntansi dianggap memiliki keterbatasan yang dapat mempengaruhi asumsi perhitungan. Ini disebabkan adanya kemungkinan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen perusahaan (Wondabio dan Sayekti, 2. Oleh karena itu, dibutuhkan informasi keuangan lainnya termasuk informasi non keuangan untuk memprediksi return saham perusahaan. Investor individual juga tertarik terhadap informasi sosial berupa keamanan dan kualitas produk, aktivitas lingkungan, etika serta hubungan karyawan dan masyarakat (Eipstein dan Freedman, 1. Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan pengungkapan CSR menunjukkan bahwa jumlah perusahan yang melakukan pengungkapan CSR dalam laporan tahunannya semakin bertambah. Demikian pula dengan jumlah dan jenis informasi CSR yang diungkapkan (Ernst & Ernst, 1978. Trotman 1979. Kelly, 1981. Pang, 1982. Guthrie, 1982. Gray, 1990. Fray et al. , 1993. Sayeti, 1994 dalam Wondabio dan Sayekti . Menurut Post . dalam Hadi . 1, p. menyatakan bahwa ada tiga tanggung jawab perusahaan terhadap para pemangku kepentingan . yaitu tanggung jawab yang berkaitan dengan bagaimana perusahaan mampu menciptakan dan meningkatkan kinerja ekonomi sehingga menjamin kesejahteraan para stakeholder . conomic responsibilit. , tanggung jawab yang berkaitan dengan kepatuhan perusahaan dengan perundang-undangan yang berlaku . egal responsibilit. , dan tanggung jawab yang berkaitan dengan dampak negatif lingkungan dan masyarakat . ocial Global Reporting Initiative (GRI) adalah satu alat pengukuran pengungkapan CSR. GRI ini merupakan kerangka pelaporan yang dapat diterima secara umum untuk mengkombinasikan laporan keuangan, lingkungan dan kinerja sosial. Terdapat 79 elemen dalam GRI yaitu sebanyak sembilan item untuk indikator ekonomi, 30 item untuk indikator lingkungan dan 40 item untuk indikator sosial, yang harus diungkapkan dalam memberikan petunjuk pembuatan laporan. Tujuan dari GRI ini adalah untuk mengkombinasikan laporan kinerja keuangan, lingkungan, dan kinerja sosial dengan format yang sama. Banyak perusahaan di dunia menjadikan GRI sebagai pedoman perusahaan dalam melaporkan aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Penelitian ini akan menguji respon pasar dengan menggunakan ERC atas pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di dalam industri manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2017. Penelitian ini akan menjawab apakah investor menggunakan informasi yang berasal dari pengungkapan CSR untuk keputusan KAJIAN LITERATUR Teori pensinyalan muncul adanya informasi asimetris antara pihak manajemen perusahaan yang memiliki informasi penuh . ell informe. dan pihak investor atau pemangku kepentingan lain yang kurang memiliki informasi . oorly informe. (Wondabio, 2. Connelly et al. , . dalam Journal of Management menjelaskan signaling theory berguna untuk menjelaskan perilaku antara dua pihak terhadap suatu informasi. Pihak yang memiliki informasi akan memilih jenis informasinya dan mengkomunikasikan kepada pihak lainnya. Sedangkan pihak yang menerima . harus memilih informasi yang relevan bagi Spencer . dalam Connelly et al. , . menyatakan bahwa signaling theory dapat mengurangi moral hazard antara dua pihak tersebut. Connelly et al. menjelaskan signaling environment dalam bentuk tabel waktu, yang membaginya dalam empat tahapan yaitu pihak yang memberikan sinyal . , sinyal dikirimkan kepada receiver, receiver mengobservasi informasi, dan receiver memberikan umpan balik berupa keputusan-keputusan. t =1 SIGNALER . erson, product, or fir. SIGNAL is sent to receiver has underlying quality t =2 t =3 RECEIVER observes and intreprets signal. Receiver chooses person, product, or firm. FEEDBACK is sent to Signalling Environment Sumber: Connelly et al. , hlm. Gambar 1 - Lingkungan Signaling Signaler. Pihak yang berada di dalam perusahaan . yang memiliki informasi seperti: produk (Spencer, 1. , investasi (Garanova. Alessadri. Brandes dan Dharwadkar, 2. atau organisasi (Ross 1. Signal. Merupakan informasi yang dapat berupa informasi positif atau negatif. Manajemen akan memutuskan informasi mana yang akan dikomunikasikan kepada outsiders. Manajemen akan terfokus pada informasi positif karena dapat meningkatkan nilai perusahaan. Receiver. Receiver adalah pihak outsiders yang menerima dan akan menilai signal yang diberikan signaler. Feedback. Merupakan umpan balik berupa keputusan yang diambil oleh outsiders atas signal yang mereka dapatnya. Misalnya keputusan berinvestasi (Certo. Daily dan Dalton, 2. , memberikan pinjaman kepada signaler (Elliot. Prevost dan Rao, 2. Informasi laba adalah salah satu sinyal utama bagi investor untuk memprediksi profitabilitas perusahaan di masa depan. Bagi konsumen, informasi atas produk yang berkualitas menjadi informasi penting dalam keputusan membeli barang dan jasa perusahaan (Connelly et al. , 2. Pada teori ini, perusahaan yang mengungkapkan informasi sukarela juga dianggap sebagai sinyal bagi pasar. Ketika perusahaan mengungkapkan informasi lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan lain, maka pasar akan menginterpretasikan hal tersebut sebagai Aubad news signalAy. Pengungkapan non keuangan bagi pemangku kepentingan menjadi tren pengungkapan dalam abad ke-21 saat ini (Gadzar, 2. Pengungkapan non keuangan berguna karena adanya keterbatasan dari pengukuran keuangan yang belum dapat menghitung dampak risiko yang mungkin terjadi bagi perusahaan seperti isu-isu yang terkait dengan kepuasan pelanggan, kualitas pengembangan sumber daya manusia, codes of conduxt, teknologi, governance, lingkungan dan pengukuran non keuangan lainnya (Wondabio, 2. Penelitian Amir dan Lev . tentang value relevance dari informasi non keuangan pada industri telekomunikasi menemukan bahwa indikator non keuangan seperti besarnya populasi dan penetrasi pasar terbukti secara signifikan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan Huges . membuktikan secara empiris bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengungkapan air pollution . ulfur dioxcide emmision. terhadap nilai saham perusahaanperusahaan dalam industri electric dan utility. Abnormal return sering digunakan sebagai proksi dalam menilai reaksi pasar. Penelitian yang menunjukkan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial berpengaruh terhadap abnormal return, antara lain dilakukan oleh Frankental . Raar . dan Baron . dalam Yuliana . yang membuktikan bahwa CSR merupakan salah satu temuan inovasi dalam pencitraan perusahaan karena dapat mempengaruhi investor dengan pembuktian adanya peningkatan abnormal Raar . menyatakan bahwa perpaduan antara nilai lingkungan dan sosial dalam kebijakan perusahaan bisa meningkatkan citra perusahaan dan menciptakan kesejahteraan baik perusahaan maupun investor. Sedangkan Baron . memperoleh bukti bahwa implementasi CSR secara strategis dapat meningkatkan abnormal return dan Rute et al. , . mengidentifikasikan bahwa salah satu motivasi penting pelaksanaan CSR adalah perolehan abnormal return. Plumlee et al. , . melakukan penelitian tentang bagaimana kualitas voluntary environment disclosure . erupakan komponen CSR) mempengaruhi firm value. Penelitian ini menunjukkan hubungan negatif antara pengungkapan CSR dengan firm value yang ditunjukkan dengan kualitas voluntary environmental disclosure perusahaan yang memiliki hubungan negatif dengan ekspektasi pasar oleh future incremental cash flow perusahaan. Barnea dan Rubin . menemukan bahwa investor dalam menanamkan investasinya lebih tertarik terhadap perusahaan yang melaporkan informasi sosial dalam laporan keuangannya daripada perusahaan yang tidak mencantumkan informasi sosial. Informasi tersebut berupa keamanan dan kualitas produk serta aktivitas lingkungan. Selain itu mereka menginginkan informasi mengenai etika, hubungan dengan karyawan dan masyarakat. METODE Menurut Berkaouli . 6, hlm. pada dasarnya pengguna laporan keuangan membutuhkan informasi sosial untuk keputusan alokasi pendapatan mereka. Bahkan pada kenyataannya mereka ingin agar perusahaan mengerahkan sumber daya yang mereka miliki untuk membersihkan pabrik mereka, menghentikan polusi lingkungan dan membuat produk-produk yang lebih aman. Franketal . membuktikan bahwa CSR merupakan salah satu temuan inovasi dalam pencitraan perusahaan karena dapat mempengaruhi investor dengan pembuktian adanya peningkatan abnormal return. Ini juga didukung oleh Raar . yang menyatakan bahwa perpaduan antara nilai lingkungan dan sosial dalam kebijakan perusahaan bisa meningkatkan citra perusahaan dan sosial dalam kebijakan perusaan dan menciptakan kesejahteraan baik perusahaan maupun investor. Pandangan lain berpendapat bahwa pengungkapan CSR akan diharapkan berpengaruh negatif terhadap ERC. Alasannya adalah dengan adanya informasi laba dan pengungkapan sukarela, maka investor cenderung lebih memperhatikan informasi laba daripada informasi pengungkapan sukarela karena investor memperkirakan prospek perusahaan di masa datang dengan mendasarkan pada informasi laba yang diperoleh dari tahun ke tahun (Collins dan Kothari, 1. Sifat komplementer dari keinformatifan laba dan pengungkapan sukarela memiliki makna bahwa investor akan menggunakan informasi CSR bersama-sama dengan informasi laba untuk menilai kinerja perusahaan dan memprediksi kinerjanya di masa yang akan datang. Makin tinggi tingkat pengungkapan CSR, makin tinggi tingkat kepercayaan investor atas laba yang dilaporkan Kemudian dalam Scott . menyatakan bahwa ukuran perusahaan sering digunakan sebagai proksi nilai informasi dari harga pasar perusahaan. Palupi . dan Easton dan Zmijewski . dalam Harris . menyatakan adanya hubungan negatif antara ERC dan ukuran perusahaan. Dengan kata lain, semakin besar suatu perusahaan maka nilai ERC akan semakin kecil. Dasar pemikiran ini adalah bahwa perusahaan besar memiliki lebih banyak informasi yang tersedia selain informasi akuntasi dalam laporan tahunannya, akibatnya respon pasar atas laba menjadi tidak terlalu besar. Ini juga diperjelas oleh Collins dan Kothari . yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak memberikan tambahan kekuatan penjelasan atas besarnya ERC. Oleh karena itu, ukuran perusahaan diduga memiliki hubungan negatif dengan ERC. Sehingga hipotesis yang dibangun adalah sebagai berikut : Hipotesis 1: Pengungkapan sukarela berpengaruh positif terhadap ERC. Hipotesis 2 : Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap ERC Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah perusahaan-perusahaan yang go public yang saham-sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel yang digunakan adalah perusahaan-perusahaan industri manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017. Penelitian ini fokus pada industri manufaktur dengan pertimbangan agar dapat menghindari perbedaan karakteristik antara perusahaan manufaktur dengan non manufaktur dan juga karena perusahaan memiliki kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan non manufaktur (Sari, 2. Hal ini juga merupakan saran yang diberikan Wondabio dan Yosefa . yang menyarankan penelitian dibedakan sesuai dengan industrinya. Tabel 1 menunjukkan kriteria pemilihan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini. Tabel 1 - Kriteria Pemilihan Sampel Kriteria Pemilihan Sampel Jumlah Perusahaan Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2017 Perusahaan yang tidak memiliki . kelengkapan data Jumlah perusahaan sampel Model Penelitian Model penelitian ini akan menguji hubungan. CSRI dengan ERC dengan memasukkan dan tidak memasukkan variabel kontrol ukuran perusahaan (SIZE). Model tanpa memasukkan variabel kontrol yayaycI = yu0 yu1 ycOya yu2 yaycIycIya yu3 ycOya_yaycIycIya c Model dengan memasukkan variabel kontrol: yayaycI = yu0 yu1 ycOya yu2 yaycIycIya yu3 ycIyaycsya yu4 ycOyayaycIycIya yu5 ycOyaycIyaycsya c Keterangan: CAR : Cummulative Abnormal Return harian perusahaan selama periode 15 bulan mulai 1 Januari 2015 : Unexpected Earnings . aba sebelum pos luar biasa tahun 2017 dikurangi dengan laba sebelum pos luar biasa tahun 2. , dan diskalakan dengan harga saham perusahaan awal periode. CSRI : Corporate Social Disclosures Index UE_SIZE : Interaksi dari variabel UE dan SIZE : Error term Pendekatan interaksi dalam model regresi bertujuan untuk menerangkan variasi return saham yang dijelaskan oleh unexpected earning dan tingkat pengungkapan serta variabel kontrol. Ini berarti hubungan antara return dan earnings dipengaruhi juga oleh tingkat keluasan pengungkapan CSR dalam laporan tahunan dan variabel kontrol. Penelitian ini fokus pada hubungan interaksi yang ada dalam model. Hubungan tingkat keluasan pengungkapan CSR dalam laporan tahunan terhadap ERC ditentukan dengan melihat arah dan signifikansi koefisien regresi CSRI untuk model sebelum dan sesudah dimasukkan variabel kontrol dan model setelah dilakukan interaksi dengan UE. Apabila koefisien regresi interaksi UE terhadap CSRI adalah positif dan signifikan maka hasil penelitian ini mendukung hipotesis bahwa luas pengungkapan CSR berpengaruh positif dan signifikan. Ini berarti pengungkapan informasi CSR tersebut akan menaikkan ERC. Hal ini mengindikasikan bahwa investor mengapresiasi informasi CSR yang diungkapkan perusahaan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan Operasional Variabel Model Penelitian Variabel Dependen Variabel Dependen yang digunakan adalah Cummulative Abnormal Return (CAR). Abnormal return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return Return normal merupakan return ekspektasi . eturn yang diharapkan oleh investo. Dengan demikian return tidak normal . bnormal retur. adalah selisih antara return yang sesungguhnya terjadi dengan return ekspektasi . arket retur. dengan persamaan sebagai berikut: ARit = Rit - Rmt ycEycnyc Oe ycEycnycOe1 ycIycnyc = ycEycnycOe1 yayaycIyayc Oe yayaycIyaycOe1 ycIycoyc = yayaycIyaycOe1 Keterangan: : Abnormal return untuk perusahaan i pada periode ke-t : Return indeks perusahaan i pada periode ke-t : Return indeks pasar pada hari ke-t : Harga saham perusahaan i pada waktu t : Harga saham perusahaan i pada waktu t-1 IHSG : Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t IHSG : Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t-1 Cummulative Abnormal Return (CAR) merupakan penjumlahan dari Abnormal Return harian perusahaan dalam rentang waktu selama 15 bulan, terhitung dari 1 Januari 2017 sampai dengan 31 Maret 2018. Periode ini diharapkan telah menangkap informasi yang berasal dari laporan tahun 2017 yang diterbitkan perusahaan pada tahun 2018 . etelah penerbitan laporan keuangan yang telah diaudi. Pengukuran abnormal return dalam penelitian ini menggunakan market-adjusted model yang mengasumsikan bahwa pengukuran expected return saham perusahaan yang terbaik adalah return indeks pasar (Pincus, 1993. Widiastuti, 2002. Junaedi, 2005 dalam Wondabio dan Sayekti. Menurut Scott . yang dimaksud dengan Earning Response Coefficient (ERC) adalah mengukur perubahan return tidak normal sebuah sekuritas sebagai respon terhadap perubahan laba yang tidak terduga dari perusahaan yang menerbitkan sekuritas tersebut yang dihitung dengan rumus sebagai berikut: CARit = UEit e Sedangkan rumus unexpected earning adalah sebagai berikut: yaycEycIyc Oe yaycEycIycOe1 ycOyayc = ycEycnycOe1 Keterangan: CARit : Cummulative abnormal return perusahaan i pada periode ke-t : Earnings Response Coefficient (ERC) UEit : Unexpected earnings EPSi,t : Earnings per share untuk perusahaan i pada periode t EPSi, t-1 : Earning per share untuk perusahaan i pada periode t-1 Variabel Independen Variabel independen yang digunakan dalam tingkat pengungkapan CSR (CSRI). CSRI menggunakan indikator lingkungan dan sosial yang ada pada GRI 2006. Penelitian ini menggunakan content list sebanyak 63 item dengan indikator lingkungan sebanyak 27 item dari 30 item yang ada dan indikator sosial sebanyak 36 item dari 40 item yang ada. Indikator lingkungan terdiri dari Aspek material. Aspek energy. Aspek air. Aspek keanekaragaman hayati. Aspek emisi dan sisa pembuangan. Aspek ketaatan. Aspek keseluruhan. Sedangkan indikator sosial, terdiri dari aspek praktik kerja, hak-hak asasi manusia, kemasyarakatan, tanggung jawab produk. Rumus perhitungan CSRI adalah Oc ycUycnyc yaycIycIyayc = ycuyc Keterangan: CSRI : Corporate Social Responsibility Disclosure Index perusahaan j ycuyc : Jumlah item untuk perusahaan j Oc ycUycnyc : dummy variable: 1 = jika item i diungkapkan. 0 = jika item i tidak diungkapkan Dengan demikian, 0 O CSRI O 1 Variabel Kontrol Variabel kontrol akan dimasukkan dalam model penelitian ini adalah ukuran perusahaan . iproksikan dengan SIZE). HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan statistik deskriptif, secara rata-rata perusahaan yang melakukan pengungkapan CSR menurut content list GRI di tahun 2017 sebesar 20,2%. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan dalam mengungkapkan informasi setiap perusahaan dalam laporan tahunannya. Berdasarkan indeks pengungkapan CSR menggunakan content list GRI, sampel perusahaan yaitu perusahaan manufaktur tahun 2017 menunjukkan bahwa pengungkapan CSR termasuk dalam kategori rendah. Dengan rendahnya tingkat pengungkapan, maka banyak informasi yang penting bagi stakeholder tidak diungkapkan oleh perusahaan. Pengungkapan CSR dibagi dalam dua kelompok, yaitu pengungkapan bidang Lingkungan (LA). Sosial (SOS). LA merupakan pengungkapan mengenai sumber energi, lingkungan sekitar perusahaan, limbah dan usaha mengurangi limbah. Sedangkan SOS mengungkapkan informasi mengenai indikator kinerja sosial, human right performance, kemasyarakat dan product Secara rata-rata indeks pengungkapan CSR keseluruhan tertinggi didapat dari kelompok Lumber and Wood Products sebesar 28%. Sedangkan indeks pengungkapan CSR bidang lingkungan tertinggi didapat dari kelompok Paper and Allied Products, dan indeks pengungkapan CSR di bidang sosial didapat dari kelompok Animal Feed and Husbandry. Uji Asumsi Klasik Peneliti melakukan uji normalitas dengan uji Komorov-Smirnov (KS). Berdasarkan perhitungan, nilai Asymp. Sig . -taile. pengujian hipotesis untuk model persamaan adalah 0,458 lebih besar dari alpha 5%. Hal ini berarti pada model regresi pengujian hipotesis untuk model persamaan ini memiliki pola distribusi data yang normal. Hasil Uji Multikolinearitas Data meperlihatkan bahwa semua variabel independen, mempunyai nilai VIF kurang dari 10 (VIF < . dan nilai tolerance semua variabel independen mendekati angka 1. Hal ini berarti tidak terdapat masalah multikolinearitas antar variabel dalam model regresi untuk pengujian hipotesis. Hasil Uji Heteroskedastisitas Peneliti melakukan uji white dalam penelitian ini. Hasil uji White model penelitian ini menghasilkan nilai F-statistic sebesar 0,724578 dan prob F-value sebesar 0,7336. Dikarenakan nilai prob F-value lebih besar dari 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas dengan kata lain data bersifat homogen atau terjadi homoskedastisitas. Koefisien Determinasi (R. Model penelitian ini memiliki nilai Adjusted R2 sebesar 0,211. Dengan kata lain semua variabel yang dimasukkan dalam model dapat menjelaskan variasi kinerja saham selama 15 bulan yang dihitung dengan menggunakan metode CAR sebesar 21,1%. Hasil Uji Simultan (Uji-F) Nilai F hitung model ini sebelum dimasukkan variabel control . kuran perusahaa. nilai F hitung sebesar 0,413 dengan probabilitas sebesar 0,245. Dengan memasukkan variabel kontrol namun tidak membuat variabel interaksi, nilai F hitung sebesar 1,832 dengan probabilitas sebesar 0,092. Tabel 2 - Hasil Uji F pada Pengujian Model Sig 0,413 0,245 Tanpa Var. Kontrol Dengan Var. Kontrol 1,832 0,092 Dengan Var. Kontrol dan Interaksi 1,188 0,305a dengan UE Dengan menggunakan alpha sebesar 10%, maka variabel-variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan pada tingkat 10% dalam menjelaskan variabel dependen (CAR). Sedangkan jika variabel interaksi dimasukkan dalam model, nilai F yang dihasilkan sebesar 1,188 dengan probabilitas 0,305. Hasil Pengujian Model Penelitian Model pengujian model penelitian ini adalah mengenai hubungan tingkat keluasan pengungakan CSR (CSRI) terhadap ERC dilakukan menggunakan model regresi dengan model Uji F dari model ini menunjukkan hasil yang tidak signifikan yaitu sebesar 1,188. Hal ini berarti bahwa variabel independen mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen yaitu CAR. Hasil pengujian regresi menunjukkan bahwa model memiliki adjusted R2 sebesar 0,211. Berarti variabel independen hanya mampu menjelaskan variasi dari pada variabel dependen sebesar 21,1% sedangkan sisany dijelaskan variabel lain yang tidak diperhitungkan di dalam model regresi Untuk menguji masing-masing hipotesis tersebut menggunakan uji One Sample t-Test dengan pengujian hipotesis satu arah . ne tai. Hasil uji t model penelitian terdapat pada tabel 3. Tabel 3 Ae Hasil Uji-t Model Penelitian Variabel (Constan. CSRI SIZE UE_SIZE UE_CSRI Tanpa Variabel Kontrol Sig. 0,341 2,266 0,026 -0,102 -0,568 0,572 -0,061 -0,222 0,825 -0,335 -1,373 0,173 Dengan Variabel Kontrol Sig. 0,413 2,160 0,034 0,721 0,239 0,812 -0,213 -1,954 0,054 -0,313 -0,469 0,577 -0,029 -0,129 0,822 -7,451 -1,206 0,135 Sehingga persamaan yang dapat ditulis adalah sebagai berikut: yayaycI = 0. 413 Oe 0. 313 ycOya 0. 721 yaycIycIya Oe 0. 213 ycIyaycsya Oe 7. 432 ycOya_yaycIycIya Oe 0. 029 ycOya_ycIyaycsya c Hasil regresi menunjukkan bahwa variabel CSRI berhubungan positif terhadap CAR. Sedangkan variabel SIZE berpengaruh negatif terhadap CAR. Namun hasil ini tidak dapat ditafsirkan secara langsung karena variabel UE masih memiliki interaksi dengan variabel lain dalam model yaitu UE_SIZE dan UE_CSRI. Untuk mendapat interpretasi yang sesuai dari variabel UE, maka perlu dihitung terlebih dahulu total effect dari variabel UE ini. Total effect dihitung dengan cara menjumlahkan koefisien estimasi variabel pertama dengan hasil perkalian antara koefisien faktor interaksi dengan nilai observas variabel kedua yang berinteraksi. Greene . dalam Wondabio . menyarankan untuk memakai nilai rata-rata dari variabel kedua yang berinteraksi. Berdasarkan pemahaman ini, maka total effect dai UE dapat dihitung sebagai berikut: Total Effect UE = = 3 ( 1CSRI * 5 UE_CSRI) . SIZE * 2 UE_SIZE) = -0,313 (-7,432*0,. (- 0,029*-0,. = -5. Berdasarkan perhitungan tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel UE adalah negatif dengan nilai total effect sebesar Ae 5. Angka minus ini dapat disimpulkan bahwa variasi CAR tidak dapat dijelaskan oleh variabel UE. Hasil regresi di atas juga menunjukkan bahwa koefisien variabel UE_CSRI juga adalah negatif dan signifikan pada alpha 15%. Hasil menunjukkan bahwa koefisien laba sebelum memasukkan variabel kontrol pada perusahan adalah 1 = -0,061 dan setelah diinteraksikan dengan pengungkapan CSR turun menjadi -0,35. Begitu pula dengan koefisien laba setelah memasukkan variabel kontrol pada perusahan adalah 1 = -0,313 dan perusahaan yang mengungkapkan CSR yang akan menurun menjadi -7,451. Hasil ini bertentangan dengan hipotesis awal yang menyatakan CSRI berpengaruh positif terhadap ERC. Kemungkinan penjelasan atas hasil penelitian ini karena investor tidak cukup yakin dengan informasi sukarela yang diungkapkan manajemen sehingga investor tidak menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk merevisi belief (Widiastuti, 2. Kemungkinan penjelasan kedua yang disebutkan Widiastuti . adalah bahwa informasi sukarela yang diungkapkan perusahaan tidak cukup memberikan informasi tentang expected future earnings sehingga investor tetap akan menggunakan informasi laba sebagaai proksi expected future earnings. Hasil ini konsisten dengan penelitian Lang et al. , . dan Wondabio dan Sayekti . yang menyatakan adanya hubungan negatif antara korelasi ERC dengan tingkat pengungkapan. Hubungan yang negatif ini mengindikasikan bahwa investor cenderung lebih memperhatikan informasi laba daripada informasi CSR karena investor memperkirakan prospek perusahaan di masa datang dengan mendasrkan pada informasi laba yang diperoleh dari tahun ke tahun (Collins dan Kothari, 1. SIMPULAN DAN SARAN Dengan menggunakan periode return selama 15 bulan dengan menggunakan data sebesanya 89 perusahaan, hasil penelitian ini sebelum diinteraksikan dengan infomasi laba adalah sebagai berikut: Pengumuman CSR berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ERC. Hal ini memberi kesimpulan bahwa informasi tanggung jawab sosial tidak mampu mengalihkan investor untuk memperhatikan informasi CSR tersebut dari infomasi laba yang diumumkan oleh Ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ERC. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Collins dan Kothari . yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak memberikan tambahan kekuatan penjelasan atas besarnya ERC. DAFTAR RUJUKAN Adhariani. Desi. Tingkat Keluasan Pengungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan dan Hubunganya dengan Current Earnings Response Coefficient (ERC). Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol. 2 (Jul. No. 1, pp. Asih. Sri. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan dan Pengaruhnya Terhadap Penilaian Value Relevance (Studi Empiris Perusahaan Non KEuangan di BEI Tahun 2007-2. Barnea. Amir, and Amir Rubin. Corporate Social Responsibility as a Conflict Between Shareholders. http://w. Berthelot. Sylvie. Morris. Tania. Morrill. Cameron. Corporate Governance rating and financial kinerjance: a Canadian study. com, 1 November 2010 Cho. Jang Youn dan Kooyul Jung. Earnings Response Coefficient: A Synthesis of Theory and Empirical Evidence. Journal of Accounting Literature. Vol. 10, 85-116. Dhaliwal. J dan Lee. Fargler. The Association Between Unexpected Earnings and Abnormal Security Return in The Presence of Financial Leverage. Contemporary Accounting Research 8 . Foo. Tan. , 1988. A comparative study of social responsibility reporting in Malaysia and Singapore. Singapore Accountant. August 12Ae15 Gelb. David S. Corporate Signalling. External Accounting, and Accounting Disclosure: An Empirical Study. Journal of Accounting. Auditing and Finance: 99120. Ghozali. Imam. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS . Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponogoro. Haniffa. RM dan Cooke. E . The impact of culture and governance on corporate social reporting. Journal of Accounting and Public Policy. Vol 24 p. 391Ae430. w,sciencedirect. Henderson. Scott. Graham Pearson dan Kate Harris. Financial Accounting Theory. Australia: Pearson Education Australia, 2004 Lang. dan R. Lundholm. Cross-Sectional Determinants of Anayst Ratings of Corporate Disclosure. Journal of Accounting Research. Vol. 27 (Supplement. , pp. Plumlee. Marlene. Darrel Brown, and R. Scott Marshall. The impact of Valuntary Environmental Disclosure Quality on Firm Value. http://w. Schroeder et al. , 2005. AuFinancial Accounting Theory and AnalysisAy 8th Edition. Wiley. Hlm. Scott. Willian R . Financial Accounting Theory. Toronto. Ontario: Pearson Widiastuti. Harjanti, 2002. AuPengaruh Luas Ungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan terhadap Earning Response Coefficient. AuMakalah Simposium Nasional Akuntansi Wondabio. Ludovicus. S dan Sayekti. Yosefa. Pengaruh CSR Disclosure Terhadap Earning Response Coefficient. Simposium Nasional Akuntansi X. Makasar. Wondabio. Ludovicus S. Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Pengungkapan Non Keuangan dan Keuangan serta Hubungannya dengan Biaya Ekuitas dan Value Relevance. Program Pasca Sarjana Ilmu Akuntansi. Disertasi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Yuliana. Purnomosidhi. Sukoharsono. G . Pengaruh Karakterisitik perusahaan terhadap pengungkapan CSR dan Dampaknya terhadap Reaksi investor. Jurnal Akuntasi dan Keuangan Indonesia.