Al-Idarah: Jurnal Manajemen Dakwah https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/al-idarah E-ISSN: x-x Vol. 1 No. : 22-34 DOI: https://doi. org/10. 61341/idarah/v1i1. GERAKAN ORGANISASI MATHALAoUL ANWAR DALAM BIDANG PENDIDIKAN PEMIKIRAN K. MAS ABDURRAHMAN Lalu Muh Reza Pratama1A. Suparto2 Manajemen Dakwah. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah *Corresponding author email: excalibur3v7@gmail. Abstrak Awal abad ke-20 merupakan titik balik . urning poin. bagi perkembangan dan transformasi Islam di Indonesia. Berbagai gerakan dan perubahan mulai terlihat dalam aspek sosial, budaya, kepercayaan, dan pemikiran masyarakat, yang berpuncak pada proses modernisasi di Menes. Banten. Artikel ini membahas perkembangan organisasi MathlaAoul Anwar yang mulai tumbuh di wilayah Menes. Banten, pada masa penjajahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka atau studi literatur, melalui pengumpulan, pembacaan, pencatatan, dan pengolahan bahan penelitian untuk menggali informasi tentang MathlaAoul Anwar. Fokus utama pembahasan adalah sejarah dan alasan terbentuknya MathlaAoul Anwar di bidang pendidikan, serta pembaruan dan perkembangannya dalam memajukan pendidikan di Banten. Selain itu, artikel ini juga mengulas pemikiran K. Mas Abdurrahman dalam mereformasi sistem pendidikan MathlaAoul Anwar, termasuk pengelolaan sistem madrasah, penerapan sistem klasikal, pembaruan kurikulum, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan bahan ajar. Penelitian ini menunjukkan bahwa K. Mas Abdurrahman berhasil menjadikan MathlaAoul Anwar sebagai lembaga pendidikan Islam yang mampu bersaing dengan sistem pendidikan kolonial Belanda, sekaligus menjadi pelopor pembaruan pendidikan Islam di Banten. Kata Kunci: MathalAoul Anwar. Pendidikan. Pembaharuan Abstract The early 20th century marked a turning point in the development and transformation of Islam in Indonesia. Various movements and changes began to emerge in social, cultural, religious, and intellectual aspects of society, culminating in the modernization process in Menes. Banten. This article discusses the development of the organization MathlaAoul Anwar, which began to grow in the Menes region during the colonial period. This study employs a qualitative method with a literature review approach, involving the collection, reading, note-taking, and analysis of research materials to gather information about MathlaAoul Anwar. The main focus is the historical background and the reasons behind the establishment of MathlaAoul Anwar in the field of education, as well as its reforms and developments in advancing education in Banten. Furthermore, this article explores the educational reform ideas of K. Mas Abdurrahman, including madrasah system management, the implementation of a classical system, curriculum reform, learning evaluation, and the development of teaching materials. The findings of this study show that K. Mas Abdurrahman succeeded in transforming MathlaAoul Anwar into an Islamic educational institution capable of competing with the Dutch colonial education system, while also becoming a pioneer in Islamic educational reform in Banten. Keywords: Mathal'ul Anwar. Education. Reform Copyright: A 2025 by the authors. This open-access article is distributed under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution CCAeBY-SA 4. 0 licerrnse 22 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 PENDAHULUAN Dalam konteks historis pendiriannya. Mathlaul Anwar merupakan organisasi sosial keagamaan dan pendidikan yang hadir sebagai respons terhadap kondisi sosial masyarakat pada masa itu. Secara khusus, masyarakat di Desa Menes. Pandeglang. Banten dan secara umum di wilayah Indonesia, masih berada dalam tekanan penjajahan yang menimbulkan berbagai keterbatasan, termasuk dalam bidang pendidikan. Mayoritas masyarakat di wilayah tersebut belum mendapatkan akses pendidikan yang memadai, sehingga menyebabkan rendahnya tingkat pengetahuan dan melanggengkan praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam yang murni, seperti syirik, bidAoah, dan khurafat. Kehadiran Mathlaul Anwar dimaksudkan sebagai upaya pencerahan dan pemberdayaan umat, dengan menekankan pentingnya pendidikan serta pembinaan keagamaan yang berdasarkan pada nilai-nilai Islam yang benar (Ilyas, 2. Pentingnya penelitian ini dilakukan karena masih terbatasnya kajian yang secara spesifik menggali peran strategis dan kontribusi pendidikan MathlaAoul Anwar dalam menghadapi sistem pendidikan kolonial serta peran pembaharuannya dalam membentuk karakter pendidikan Islam di Banten. Meskipun beberapa penelitian telah membahas sejarah MathlaAoul Anwar secara umum, namun masih terdapat kesenjangan dalam mengkaji secara mendalam bagaimana pemikiran tokoh sentral seperti K. Mas Abdurrahman berkontribusi dalam reformasi sistem pendidikan madrasah yang dimiliki organisasi ini, serta bagaimana sistem tersebut bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang mampu bertahan dan berkembang hingga kini. Berdiri jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. MathlaAoul Anwar telah memberikan kontribusi signifikan dalam perjuangan melawan imperialisme Belanda. Kiprah organisasi ini menjadikannya salah satu kekuatan sosial-keagamaan yang menonjol pada masa perjuangan kemerdekaan, hingga menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda karena sistem dan prinsip yang dianutnya bertentangan dengan kepentingan penjajahan. MathlaAoul Anwar menekankan ajaran tauhid dan pembaruan pemahaman keagamaan di tengah masyarakat yang pada saat itu masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme serta pengaruh ajaran asing yang dibawa oleh kolonial Belanda, khususnya di Pulau Jawa. Dalam konteks sejarahnya. MathlaAoul Anwar dikenal sebagai organisasi keagamaan dan sosial terbesar ketiga di Indonesia, setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah (Aini, 2. MathalAoul Anwar didirikan di tengah masyarakat Banten tepatnya di desa Menes. Serang oleh para ulama pada tanggal 09 Agustus 1916. Tokoh utama dalam pendirian dan perkembangan MathlaAoul Anwar adalah K. Yasin. Tb Soleh dan K. Mas Abdurrahman. Karena kondisi Menes yang tidak aman pada saat itu, terjadi banyak kerusakan dan kerusuhan yang terjadi di lingkungan masyarakat Menes. MathlaAoul Anwar yang memiliki arti tempat lahirnya cahaya. Ketidaksediaan lembaga formal dalam mengakomodir kepentingan masyarakat Islam di Banten, akhirnya MathlaAoul Anwar memutuskan untuk membangun lembaga pendidikan. Adanya sistem sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu. Selain itu, 23 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 tingkat rendahnya pengetahuan dalam ajaran agama Islam akhirnya menyebabkan tumbuh akidah yang menyimpang dan sifat animisme, percaya kepada benda-benda mati yang bersifat gaib. Hal tersebut menjadi alasan pendirian MathlaAoul Anwar untuk merespons situasi yang terjadi di wilayah Banten, khususnya di bidang sosial keagamaan. Salah satu program pertama yang dilakukan adalah mendirikan lembaga pendidikan Islam dalam bentuk madrasah dengan menggunakan sistem klasikal (Aini, 2. Fungsi dan peran agama dalam kehidupan masyarakat merupakan sebuah sistem dan tata aturan. Agama dapat mengatur dan membatasi atas sikap dan moral yang telah diatur dalam syariat agama Islam yang kemudian direalisasikan pada kehidupan sosial. Relasi agama dan masyarakat sangat erat sehingga menjadikan keduanya hal yang sangat penting (Munir, 2. MathalAoul Anwar sebagai salah satu gerakan modernisasi Islam dalam menumbuhkan semangat perjuangan dan mencerahkan pemikiran di kalangan umat agar dapat terwujud bangsa yang memiliki kepekaan dan keluasan wawasan sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya lain. Eksistensi MathlaAoul Anwar sebagai organisasi yang berfokus pada bidang dakwah dan pendidikan telah berhasil mencetak dan menciptakan karakter pendidikan di dalam masyarakat. Alumni dari lembaga-lembaga pendidikan MathlaAoul Anwar yang telah didirikan di Indonesia menjadi salah satu jalan untuk meneruskan estafet visi dan misi dakwah islam rahmatan lil Aoalamin. Melihat problematika umat dalam perkembangan zaman yang semakin kurangnya minat memperdalam ajaran Islam dari model klasik baik dari kalangan muda hingga tua. Lembaga pendidikan MathlaAoul Anwar dibangun dan terus dikembangkan karena kesadaran dari para kader untuk memanfaatkan sistem dakwah dan pendidikan dalam menimba ilmu (Kusman, 2. Sebagaimana organisasi keagamaan lainnya. MathlaAoul Anwar memiliki peran penting melalui trilogi gerakan: pembaruan pendidikan Islam, dakwah Islamiyah, dan perbaikan sosial-budaya masyarakat. Pembaruan pendidikan diwujudkan melalui pendirian madrasah dengan sistem klasikal dan kurikulum terpadu antara ilmu agama dan umum. Dakwah Islamiyah dijalankan melalui pengajaran nilai akidah Ahlus Sunnah wal JamaAoah secara moderat, baik lewat pendidikan formal maupun kegiatan keagamaan. Adapun perbaikan sosial-budaya dilakukan dengan memberantas praktik syirik dan takhayul, serta memberdayakan masyarakat agar keluar dari kebodohan dan ketertinggalan. Melalui trilogi ini. MathlaAoul Anwar turut serta dalam arus kebangkitan Islam abad ke-20 dan membentuk identitas keislaman yang khas di Indonesia (Jihaduddin, 2. Organisasi MathlaAoul Anwar bersifat keagamaan, independen, berakidah Islam dengan ahlu sunnah wal jamaAoah dan berasaskan Pancasila. Tujuan berdirinya MathlaAoul Anwar untuk menjadikan ajaran Islam sebagai dasar kehidupan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan dan penindasan yang dilakukan penjajah dan orang pribumi yang merusak kondisi lingkungan masyarakat. MathlaAoul Anwar menjadi organisasi masyarakat Islam yang membantu dalam gerakan modernisasi Islam dengan menumbuhkan semangat perjuangan dan pemikiran yang diluruskan di kalangan umat agar tidak terpengaruh terhadap eksploitasi kaum imperealis. 24 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 Karakteristik MathlaAoul Anwar dimulai dari mekanisme berjenjang pendidikan sebagai pusat kegiatan pendidikan di lingkungan MathlaAoul Anwar yang menjadi entitas sosial dengan arahan dan tujuan yang telah dibuat MathlaAoul Anwar. Lembaga pendidikan yang dibawahi langsung oleh pengurus organisasi Islam MathlaAoul Anwar. Karena itulah MathlaAoul Anwar pernah menjadi ormas Islam terbesar setelah Nahdlatul AoUlama dan Muhammadiyah dan tersebar di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Perbenturan keras antar penganut aliran pemikiran keagamaan tertentu tak terelakkan pasca kepemimpinan KH. Uwes Abubakar, terutama masa KH. Muslim Abdurrahman . Nafsirin Hadi. SH . KH. Entol Ahmad Burhani . dan Drs. Irsyad Djuwaeli . Pada masa kepemimpinan Nafsirin Hadi SH, pemikiran islamisme, puritanisme agama dan radikalisme mendominasi pemikiran keagamaan MathlaAoul Anwar. Kondisi tersebut mereda dengan naiknya KH. Entol Ahmad Burhani yang dikenal tokoh moderat dalam pemikiran ke pucuk pimpinan pengurus besar MathlaAoul Anwar (Kusman, 2. Dalam perkembangannya, hingga tahun 1985 MathlaAoul Anwar memiliki 4. Madrasah Ibtidaiyah, 737 Madrasah Tsanawiyah, 311 Madrasah Aliyah dan 771 pondok Jumlah siswa di seluruh lembaga pendidikan MathlaAoul Anwar tercatat sebanyak 614 orang (Kusman, 2. Menjelang tahun 2010. MathlaAoul Anwar telah memiliki 6. 000 madrasah yang terdiri dari tingkat TK. Tsanawiyah. Aliyah di seluruh Indonesia. Selain itu juga memiliki satu Perguruan Tinggi yakni Universitas MathlaAoul Anwar (UNMA) yang berdiri di atas tanah seluas 7 Ha dengan dilengkapi pondok pesantren dan asrama. Pada saat itu dilakukan peresmian oleh Wakil Presiden Tri Sutrisno tahun 1993 di Cikaliung Menes Pandegang Banten (Kusman. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka . ibrary researc. Pendekatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pemikiran K. Mas Abdurrahman serta kontribusi organisasi MathalAoul Anwar dalam bidang pendidikan secara mendalam dan kontekstual. Studi pustaka dipilih karena fokus penelitian lebih banyak ditujukan pada sumber-sumber tertulis, seperti karya-karya tokoh, dokumen organisasi, literatur ilmiah, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan. Sumber data terdiri dari data primer, yaitu tulisan dan dokumen resmi yang berasal dari K. Mas Abdurrahman dan organisasi MathalAoul Anwar. serta data sekunder berupa buku, jurnal, artikel, dan referensi ilmiah lain yang mendukung analisis (Kinanudin, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan kajian literatur, termasuk penelusuran sumber digital yang kredibel. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif-analitis, yaitu dengan mendeskripsikan data, menganalisisnya secara kritis, serta menafsirkan makna dari informasi yang ditemukan guna menjawab rumusan masalah penelitian. Tahapan analisis mengikuti langkah-langkah reduksi 25 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sebagaimana dikemukakan oleh Miles dan Huberman (Kinanudin, 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis terhadap kajian pemikiran tokoh dan dinamika organisasi pendidikan Islam di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Belakang Terbentuknya Pendidikan MathalAoul Anwar Kehadiran kolonialisme Belanda bukan hanya menghancurkan tata-niaga masyarakat pribumi, sistem ekonomi dan politik tradisional, tetapi juga menghancurkan sistem idiologi negara sebagai pemersatu bangsa, sehingga kesatuan rakyat di negara jajahan bercerai berai, yang juga mengakibatkan terjadinya konflik dan peperangan antar golongan dalam kebangkrutan politik tersebut. Demikianlah politik adu domba yang dilancarkan Belanda menyebabkan terjadinya perselisihan dan sengketa politik antar elite dan pewaris kesultanan yang tak jarang melahirkan peperangan lokal (Hendriawan, 2. Pada zaman ini muncul kembali kepercayaan-kepercayaan tradisional sebagai bentuk simbolisme harmoni hubungan manusia dengan lingkungan alamnya. Masyarakat petani yang walaupun sudah memluk agama Islam, jika memulai menuai padi, terlebih dahulu akan mengadakan upacara AumipitAy. Upacara ini adalah membuat sesajian untuk menyuguh Dewi Sri atau Sri Pohaci yang dipercaya sebagai Dewi Padi yang berwenang untuk memberkahi Suatu jangjawokan . antera dalam bahasa Sund. yang sudah menjadi aksioma adalah Aumipit amit ngala mentaAy yang memiliki arti. Aumengambil apa pun dari suatu tempatAy, berupa apa saja, harus izin terlebih dahulu kepada roh halus yang menguasai tempat tersebut. Kalau setelah melakukan sesuatu kemudian mendapat musibah, seperti sakit kepala atau demam, atau tersandung apa saja, kemudian akan dihubung-hubungkan dengan perbuatan yang dianggap sembrono . seperti tidak minta izin kepada yang membahurekso . ahasa Jaw. atau nu ngageugeuh . ahasa Sund. Untuk itu kemudian masyarakat menanyakan kepada orang yang dianggap tua dan mengerti tentang yang gaib, yang biasanya berupa seorang dukun. Sang dukun kemudian akan memberikan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan sebagai langkah penebusan atas kesalahannya (Hendriawan, 2. Dibidang pendidikan Di bawah kekuasaan Belanda rakyat Banten bukan bertambah baik, malah semakin melarat dan terbelakang. Kondisi ini hampir dialamai oleh seluruh rakyat di seluruh Indonesia. Guna mengatasi permasalahan tersebut pemerintah Belanda memberlakukan politik etis. Program politik etis yang dijalankan oleh pemerintah Belanda, di antaranya membuat irigasi buat mendudung pertanian rakyat dan menyelenggarakan sekolah bagi bumiputra. Ternyata program tersebut gagal memberikan manfaat bagi penduduk desa. Hal ini terjadi, karena yang bisa menikmati sekolah itu hanya sebagian kecil rakyat saja terutama orang-orang yang berada di kota dan siap jadi calon ambtenar YAITU pegawai Belanda (Hendriawan, 2. KH. Entol Moh Yasin sebagai pimpinan MathlaAoul Anwar pertama dengan upaya menentang politik etis yang digagas oleh Ratu Belanda pada 1901 untuk menghancurkan 26 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 pesantren-pesantren dengan menggantikan sekolah-sekolah yang membawa sekularisasi dan westernisasi, maka MathlaAoul Anwar menanggapi dengan mengimbangi lembaga pendidikan Islam. Dalam suasana yang bergelora itulah K. H Mas Abdurrahman turut hadir di panggung sejarah Indonesia dengan menyumbangkan tenaga, pemikiran serta jiwanya. Ia dilahirkan di Kampung Janaka Desa Jiput. Kecamatan Labuhan Kabupaten Pandeglang . ekarang Masuk Provinsi Bante. pada tahun 1875. Pada tahun 1916 K. Mas Abdurahman memprakarsai berdirinya sebuah lembaga pendidikan Islam yang nantinya berkembang menjadi organisasi sosial keagamaan, yang diberi nama MathlaAoul Anwar dengan dukungan Kiai Haji Sholeh Kenanga. Kiai Haji Entol Muhamad Yasin dan lain-lain (Abdurrahman, 1. Dibawah kepemimpinan K. Mas Abdurahman. MathlaAoul Anwar dengan cepat berkembang menjadi lembaga pendidikan dan kemudian berubah menjadi organisasi, baik di Karesidenan Banten sendiri maupun di daerah sekitarnya, terutama Karesidenan Lampung. Madrasah-madrasah yang berdiri dan bergabung ke dalam MathlaAoul Anwar diberi nama seragam yakni Madrasah MathlaAoul Anwar, sebagai pusatnya adalah Madrasah MathlaAoul Anwar Menes Banten, sedangkan cabang-cabangnya berada di kedua Karesidenan tersebut dengan jumlah puluhan bahkan ratusan lembaga. Gerakan Pembaharuan K. Mas Abdurahman Modernisasi dalam bidang pendidikan Islam yang dilakukan oleh MathlaAoul Anwar mencerminkan implikasi penting dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia. Gagasan ini dibangun melalui visi K. Mas Abdurrahman yang mengadaptasi sistem pendidikan Mekkah ke dalam konteks lokal. Pada akhir abad ke-19, sistem madrasah di Mekkah tengah mengalami kebangkitan, dan meskipun tidak secara langsung meniru, pendekatan pendidikan yang dikembangkan K. Mas Abdurrahman sejalan dengan tren pendidikan di Timur Tengah saat itu, termasuk di Mesir (Ali et al. , 2. Pembaruan yang dilakukan oleh K. Mas Abdurrahman memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat. Pendirian madrasah tidak hanya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat pribumi, tetapi juga menjadi sarana untuk memberantas kebodohan dan meningkatkan kualitas hidup umat Islam. Pendidikan yang dirancang beliau mampu mengangkat masyarakat dari keterbelakangan menuju kondisi yang lebih sehat, produktif, dan siap berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan (Kusnan, 2. Hal ini terbukti dari kawasan Menes dan sekitarnya yang kemudian menjadi pusat pendidikan di Kabupaten Pandeglang. Bahkan. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pernah diselenggarakan di Menes sebagai bentuk pengakuan atas peran penting wilayah tersebut dalam pendidikan Islam. Dakwah dan pembaruan pendidikan yang dilakukan K. Mas Abdurrahman diterima luas oleh masyarakat dan berhasil diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, mencerminkan keberhasilan integrasi antara nilai-nilai keislaman dan pembangunan sosial melalui jalur pendidikan. 27 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 Ini sesuai dengan nama dari MathlaAoul Anwar itu sendiri yang merupakan menjadi tempat terbitnya cahaya. Sehingga mengindikasikan bahwa sistem pendidikan yang dilakukan oleh K. Mas Abdurahman di MathlaAoul Anwar menjadi cahaya sesuai dengan ayat Al-Quran AuYukhiju hum min al dzulumati ila an nurAy untuk mencapai Islam rahmatin lilalamin (Rizqi, 2. Setidaknya ada beberapa unsur dalam perkembangan dibidang pendidikan K. Mas Abdurahman melakukan beberapa pembaharuan diantaranya: Pengelolaan Sistem Madrasah Banten mengenal dua macam sistem pendidikan Islam sebelum berdirinya madrasah MathlaAoul Anwar pada tahun 1916, yakni langgar dan pesantren (Rizqi. Seperti telah disebutkan sebelumnya, salah satu dorongan utama dibalik pendirian madrasah MathlaAoul Anwar, sesungguhnya modernisasi yang dilakukan adalah menyempurnakan dan bukan menggantikan. Langkah pertama untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan mendirikan sebuah madrasah berdasarkan sistem kelas. Sejak awal, para pendiri menyadari bahwa sistem pesantren dan langgar sudah ketinggalan zaman dan gagal menarik minat kaum muda Muslim. Oleh karenanya, mereka bermaksud menerapkan sistem pendidikan baru yang menggunakan sistem kelas dengan standar kurikulum baku dan jelas. Gagasan modernisasi pendidikan Islam telah tersebar luas di Nusantara ketika itu. Sejak tahun 1909 sejumlah sekolah Islam telah mengadopsi sistem kelas seperti Madrasah Adabiyah dan Sumatra Thawalib di Sumatra Barat (Kusman, 2. Selain itu. Kiai Abdul Halim dari Majalengka, yang terkesan dengan modernisasi sistem sekolah di Makkah dan Jeddah, mendirikan organisasi modern yang diberi nama Hayatul Qulub (Hernawan, 2. Modernisasi sistem pendidikan Islam di Mekkah konon juga memberi kesan yang mendalam pada diri Mas Abdurrahman sehingga kemudian ia merintis gerakan modernisasi madrasah di MathlaAoul Anwar pada tahun-tahun sesudahnya. Pada awalnya, pendirian sebuah madrasah dengan sistem kelas masih terhalang oleh tidak adanya tanah untuk membangun madrasah tersebut. Di samping itu, kurangnya dana semakin mempersulit masalah. Namun demikian, masalah tanah segera terpecahkan ketika Kiai Mustaghfiri, salah seorang anggota pendiri MathlaAoul Anwar Dengan memanfaatkan fasilitas seadanya tersebut. Mas Abdurrahman, selaku mudir pendidikan, membuka madrasah ini secara resmi pada tanggal 9 Agustus 1916 M yang bertepatan dengan 10 Syawwal 1334 H (Alfani, 2. Untuk memulai itu semua, ia menyusun kurikulumnya, melakukan rekruitmen guru sekaligus bertindak sebagai pengendali mutu seluruh kegiatan proses belajar mengajar. Setelah berjalan selama beberapa bulan, madrasah mendapat sambutan positif dari masyarakat baik dalam bentuk kepercayaan maupun bantuan lainnya. Para penduduk sekitar mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar. Banyaknya murid yang belajar di MathlaAoulAnwar telah berhasil meyakinkan orang kaya setempat yang 28 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 bernama Ki Demang Entol Jasudin untuk mewakafkan tanahnya untuk pendirian Dengan bantuan dan dukungan dana dari masyarakat sekitar. MathlaAoul Anwar akhirnya mampu mendirikan bangunan madrasah yang pertama yang menjadi pusat kegiatan pendidikan Islamnya hingga sekarang. Madrasah ini menggunakan perlengkapan modern untuk ukuran saat itu seperti papan tulis, bangku, dan meja, meskipun belum mewajibkan seragam tertentu bagi para siswanya yang seluruhnya masih mengenakan sarung. Menurut beberapa alumni pertama, para siswa mulanya merasa tidak nyaman karena mereka tidak pernah menggunakan alat-alat seperti itu untuk belajar di pesantren. Pada tahun 1929. MathlaAoul Anwar mendirikan madrasah khusus untuk perempuan, meskipun bangunan madrasah tersebut harus dipisahkan dari madrasah laki-laki. Pendirian mencerminkan pandangan yang lebih maju dan progresif dari MathlaAoul Anwar terhadap peran serta kedudukan perempuan dalam masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan. Langkah ini menunjukkan bahwa MathlaAoul Anwar memiliki komitmen kuat dalam memperjuangkan kesetaraan hak pendidikan bagi perempuan, berbeda dengan pandangan umum masyarakat saat itu yang cenderung membatasi peran perempuan hanya pada ranah domestik, seperti mengurus rumah tangga, melayani suami, dan membesarkan anak. Dengan adanya Madrasah Putri. MathlaAoul Anwar menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki dalam mengakses dan menguasai ilmu pengetahuan (Kusman, 2. Pada tahun 1938 MathlaAoul Anwar menerbitkan aturan tentang sistem persekolahan baru dengan urutan sebagai berikut Madrasah Awwaliyyah atau prasekolah dasar . ua tahu. Madrasah Ibtidaiyah . nam tahu. Madrasah Tsanawiyah . iga tahu. , dan Madrasah Muallimin Wustha . ua tahu. , dan Madrasah Muallimin Ulya yang setara dengan tingkat universitas . iga tahu. Para siswa yang ingin menamatkan pendidikan mereka di madrasah-madrasah ini harus menempuhnya selama enam belas tahun. Kembali ke madrasah untuk murid laki-laki, di tahun-tahun awal berjalannya madrasah ini. Mas Abdurahman mengajar di madrasah. Pada saat yang sama, juga bertugas merekrut guru-guru dari kalangan kiai muda di Menes seiring dengan bertambahnya kelas. Di antara yang direkrut adalah Kiai Hamdani. Kiai Abdul Latif dan lain-lain. Pada akhir 1920an, ada sembilan guru yang mengawasi sembilan kelas. Setelah dirasa cukup memadai. Mas Abdurrahman mengundurkan diri dari kegiatan mengajar dan memutuskan untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya sebagai mudir urusan pendidikan. Pada tahun pertama pendirian madrasah siswa-siswanya ia datangkan dari sekitar Menes. Kebanyakan dari mereka adalah santri-santri seperti santri dari pesantrennya Kiai Haji Muhamad Soleh dari Kananga, santri dari pesantren Kiai Haji Arsyad dari Tegal dan tempat-tempat lainnya. Selain itu ternyata sambutan masyarakat untuk memasukan anaknya ke madrasah yang didirikan oleh K. Mas Abdurahman sangat 29 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 menggembirakan sehingga untuk tahun kedua tidak tertampung lagi tempat Penerapan Sistem Klasikal Metode pembelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur. Metode yang digunakan di pesantren adalah metode sorogan atau bandongan. Mas Abdurahman memandang metode tersebut harus diperbaharui, maka ia memberikan masukan untuk metode yang digunakan di madrasah MathlaAoul Anwar yaitu metode klasikal. Penyelenggaraan program pendidikan yang dilaksanakan di MathlaAoul Anwar ialah dengan menggabungkan sistem madrasah dengan sistem pesantren. Penggabungan dua sistem ini dianggap penting karena tujuan utama pendidikan MathlaAoul Anwar ketika itu ialah untuk menghasilkan calon-calon daAoi profesional yang luas wawasan keilmuannya dan mulia akhlaknya. Penggabungan sistem ini dianggap cukup tepat mengingat bahwa tujuan pendidikan agama tidak hanya terletak pada segi pengetahuan semata tetapi juga meliputi aspek penghayatan, pengamalan dan pembiasaan ibadah serta kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Pada awalnya para siswa atau santri mengalami kesulitan mengikuti sistem ini, karena mereka sebelumnya terbiasa dengan kultur dan sistem pesantren yang lebih longgar dalam disisplin dan jadwal waktu belajar. Para santri biasanya mengikuti proses belajar pola sorogan atau bandongan dengan gaya santai dan bebas, adakalanya santri mengikuti pengajaran dengan duduk bersila, dengan meluruskan kaki ke depan, duduk dengan bertumpu pada satu kaki dan kaki yang lain dilipat ke Namun, biasanya kiai memakluminya karena cara ini biasanya dilakukan oleh santri yang mubtadiin. Di pesantren sistem yang digunakan adalah sistem tutorial dengan cara bandongan atau sorogan. Cara bandongan adalah sekelompok santri antara lima menerjemahkan, dan menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam berbahasa Arab. Sedangkan cara sorogan ialah seorang murid menghadap guru untuk membacakan dan menerjemahkan sebuah buku Islam dalam bahasa arab, kemudian sang guru mendengarkan sekaligus melakukan koreksi bahkan terkadang diselingi dengan ulasan yang singkat (Kusman, 2. Namun Madrasah MathlaAoul Anwar menerapkan sistem klasikal. Dari tahun 1916 hingga 1920. MathlaAoul Anwar menjalankan tiga kelas yang terdiri dari kelas A. B, dan I yang masing-masing berlangsung selama setahun pelajaran. Pada tahun 1920. MathlaAoul Anwar memperluas jumlah kelasnya menjadi tujuh kelas untuk setiap satu tahun angkatan yang terdiri dari kelas A. II, i. IV. Pada tahun 1927. Entol Junaedi, putra K. Muhamad Entol Yasin dan baru saja pulang dari belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, mengusulkan perluasan lagi jumlah kelas. Gagasan ini diterima dan dijalankan pada tahun itu juga. Hasilnya. MathlaAoul Anwar mulai membuka sembilan kelas untuk setiap satu tahun pelajaran mulai dari A. I hingga 30 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 VII. Pola sembilan kelas ini berlanjut hingga tahun 1950 ketika sistem ini dirubah untuk disesuaikan dengan sistem pendidikan nasional yang merupakan hasil reformasi yang diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia Merdeka. Pembaharuan Kurikulum Dalam bidang pendidikan, kurikulum merupakan unsur penting dalam setiap bentuk dan model pendidikan yang mana pun (Hamalik, 1. Tanpa adanya kurikulum, sulit rasanya perencana pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakannya. Pada kenyataannya, sebagian pihak memang ada yang memahami kurikulum itu hanya dalam arti kata yang sempit, yaitu kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai suatu tingkatan tertentu. Di pesantren, kurikulum yang digunakan adalah disesuaikan dengan kemampuan kiai, jika kiai mahir di bidang aqidah maka kurikulum yang diajarkan adalah kitab atau mata pelajaran yang berkaitan dengan bidang aqidah. Namun K. Mas Abdurahman melakukan pembaharuan dengan memasukan mata pelajaran umum seperti berhitung, membaca, bahasa Inggris, dan ilmu alam. Pada masa kepemimpinan K. Mas Abdurahman sebagai mudir urusan pendidikan. Mas Abdurrahman memiliki kekuasaan penuh untuk menyusun kurikulum bagi madrasah. Kurikulum yang dilaksanakan di madrasah MathlaAoul Anwar umumnya adalah pengajaran kitab-kitab agama (Kitab Kunin. dan kitabkitab lain yang bersifat penunjang. Ia menetapkan bacaan yang akan dipelajari dan diawasi secara langsung. Selain itu, ia menyusun beberapa buku untuk digunakan di madrasah, seperti Ilm al-Tajwid. Nahwu al -Jamaliyyah. Ilm al-Bayan dan kitab-kitab kecil lainnya yang telah disebutkan sebelumnya. Kurikulum yang ia susun juga memasukkan unsur keterampilan seperti pelatihan dakwah dalam bentuk muqabalah . ayanan masyaraka. dengan pengiriman murid dari kelas enam hingga delapan untuk berdakwah secara langsung kepada masyarakat di desa-desa sekitar. Pelatihan ini dilaksanakan setiap hari Kamis. Proses belajar mengajar madrasah MathlaAoul Anwar dimulai pada pukul delapan pagi sampai pukul dua belas siang dengan waktu istirahat sekali selama kurang lebih setengah jam. Waktu libur yang dijadwalkan ialah hari Kamis dan JumAat. Pada hari Kamis diadakan kursus atau pengajian untuk menambah ilmu pengetahuan bagi dewan guru yang diberikan oleh K. Mas Abdurahman yang bertempat di mesjid Soreang. Pada akhir tahun 1930an. MathlaAoul Anwar menambah beberapa mata pelajaran umum dalam kurikulumnya seperti bahasa Indonesia, sejarah dunia, geografi dan beberapa ilmu alam. Masuknya mata pelajaran umum dalam kurikulum lembaga pendidikan Islam bukanlah hal baru, karena sejumlah sekolah modern Islam telah mengadopsinya sejak dekade kedua abad kedua puluh seperti Muhammadiyah. AlJamiAoah alIslamiyah dan Sekolah Sumatra Thawalib di Sumatra Barat. Sejak itu, kebanyakan madrasah di Nusantara memasukkan mata pelajaran umum dalam 31 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 kurikulum mereka, meskipun berbeda-beda presentasenya dibandingkan dengan pelajaran agama (Yunus, 1. Evaluasi Pembelajaran Aspek penting lain dalam teknologi pengajaran adalah evaluasi atau penilaian. Evaluasi atau penilaian dalam pengajaran tidak semata-mata dilakukan terhadap hasil belajar, tetapi juga harus dilakukan terhadap proses pengajaran itu sendiri (Idrus. Dengan evaluasi tersebut dapat dilakukan revisi program pengajaran dan strategi pelakasanaan pengajaran. Dengan kata lain, ia dapat berfungsi sebagai umpan balik dan remedial pengajaran. Di pesantren, tidak ada evaluasi dalam mengukur sejauh mana santri dalam menguasai materi pembelajaran, serta santri kebanyakan lama sekali dalam mengikuti pembelajaran, oleh sebab itu K. Mas Abdurahman mengadakan evaluasi terhadap hasil pembelajaran melalui ujian yang dilakukan pada akhir setiap tahun akademik . , siswa madrasah MathlaAoul Anwar akan mengikuti ujian akhir. Mereka yang lulus ujian akan naik ke kelas berikutnya. Sementara bagi yang gagal, mereka harus mengulang kelas yang sama selama setahun lagi. Madrasah juga memiliki aturan program akselerasi dengan mengizinkan siswa unggul untuk melewati satu atau dua Misalnya. Sarnaka konon merampungkan seluruh sembilan tahun hanya dalam waktu empat tahun saja. Mas Abdurrahman beserta beberapa guru senior yang ditunjuk secara langsung menyelenggarakan ujian tersebut. Mas Abdurrahman bahkan bertindak sebagai penguji. Menurut beberapa mantan muridnya, ujian tersebut berlangsung sangat ketat. Sementara dari sisi waktu pelaksanaanya, ujian akhir tersebut biasanya diadakan pada bulan Safar dan RabiAoul Awwal (Qodir, 1. Setelah ujian selesai, ada acara tahunan (Ihtifala. untuk menandai berakhirnya tahun ajaran tersebut. Acara ini biasanya diselenggarakan pada tanggal 20 RabiAoulTsani. Dalam acara ini, mereka yang menamatkan pelajaran merayakan kelulusan dan pada saat itu pula MathlaAoul Anwar memberikan ijazah bagi mereka yang telah menamatkan sembilan tahun masa belajar. Ijazah ini dipandang sebagai lisensi bagi para alumni untuk mengajarkan pengetahuan Islam di madrasah lain atau bahkan mendirikan madrasah sendiri. Bahan Ajar Tarjamah Jamilah atas Matan Ajurumiyah Tarjamah Jamilah atas Matan Ajurumiyah telah jelas dari judulnya, buku ini merupakan terjemahan kitab tipis matan jurumiyah, yang membahas tentang ilmu nahwu dan tata bahasa Arab. Dikalangan pondok pesantren, kitab tipis ini amatlah popular dan merupakan kajian wajib yang mesti dilewati oleh setiap Mengingat posisinya yang penting. Mas Abdurahman kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa sunda, untuk menjadi bahan ajar bagi seluruh siswa dan santri di lembaga pendidikan MathlaAoul Anwar. Dapat dipastikan penerjemahan ini dilakukan untuk mengisi kekosongan bahan ajar dalam bidang studi bahasa Arab di lingkungan organisasi MathlaAoul 32 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 Anwar. Meski demikian, penggunanya sebagai bahan ajar tidak hanya di MA, melainkan juga di lembaga pendidikan lainnya (Humaedi, 2. Aljawaiz fi Ahkam al-Janaiz Kitab Aljawaiz fi Ahkam Aljanaiz adalah sebuah kitab elementer berbahasa Sunda dengan huruf pegon (Ara. , yang secara komprehensif membahas seluk beluk hukum mengurus jenazah yang benar dan sesuai dengan paham ajaran Islam Ahlussunnah waljamaAoah. Mas Abdurahman menulis Al-Jawaiz fi Ahkam al-Janaiz dalam bahasa Sunda dengan menggunakan tulisan Jawi. Dalam menyusun teks, ia juga menggunakan harakah. Penggunaan harakah itu dianggap biasa karena orangorang Banten akrab dengan tulisan Arab dan Jawi (Rizqi, 2. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembaharuan pendidikan Islam yang digagas oleh K. Mas Abdurahman melalui pendirian Madrasah MathlaAoul Anwar merupakan bentuk respon visioner terhadap kondisi sosial-keagamaan masyarakat pada masa kolonial. Upaya tersebut diwujudkan melalui penerapan sistem klasikal, penyusunan kurikulum yang terintegrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, serta penerapan sistem evaluasi pembelajaran yang terstruktur. Reformasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan Islam, tetapi juga membuka akses yang lebih inklusif, termasuk bagi perempuan, serta menjadikan MathlaAoul Anwar sebagai lembaga pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, kontribusi K. Mas Abdurahman dalam dunia pendidikan Islam dapat dipandang sebagai pijakan penting dalam sejarah modernisasi pendidikan Islam di Indonesia. DAFTAR RUJUKAN Alfani. Strategi pembelajaran daring dalam Kurikulum 2013 di Kelas V MIN 4 Brebes (Doctoral dissertation. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahi. Hernawan. Teologi KH Abdul Halim: Ikhtiar melacak akar-akar pemikiran teologi Persatuan Ummat Islam (PUI). LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Idrus. Evaluasi dalam proses pembelajaran. Adaara: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 9. , 920Ae935. https://doi. org/10. 35673/ajmpi. Ilyas. Pendekatan studi Islam. Yogyakarta: Jejak Pustaka. Jihaduddin. Prianggita. , & Rizky. Implementation of core values for quality assurance strategy at MathlaAoul Anwar University. Banten. Journal of Social and Educational Research, 3. https://doi. org/10. 58803/jsser. Kisnanudin. Pemikiran filsafat pendidikan Islam KH. Hasyim Asy'ari dalam Kitab Adab al-AoAlim wa al-Muta'allim dan relevansinya dengan Kurikulum Merdeka. BUDAI: Multidisciplinary Journal Islamic Studies, https://doi. org/10. 55747/budai. 33 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H 182Ae193. Lalu Muh Reza Pratama. Suparto Vol. No. : 22-34 Kusman. Implikasi gerakan pembaharuan KH Mas Abdurahman . 5Ae1. di Banten. Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah Kebudayaan Islam, 5. , 1Ae12. https://doi. org/10. 24252/tamaddun. Kusman. , & Saepudin. The work of KH Irsyad Djuwaeli in MathlaAoul Anwar . 5Ae2. : Kiprah KH Irsyad Djuwaeli dalam MathlaAoul Anwar . 5Ae2. Civilization Research: Journal of Islamic Studies, 3. https://doi. org/10. 58803/crjis. Mahmud Yunus. Sejarah pendidikan Islam. Jakarta: PT Hidakarya Agung. Munir. , & Muqaffi. Dakwah harmoni sebagai solusi problem agama dan modernisme perspektif Djohan Effendi. Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin. Adab dan Dakwah, 2. , 11Ae25. https://doi. org/10. 52266/ishlah. Nadirah. Pramana. , & Zari. Metodologi penelitian kualitatif, kuantitatif, mix method . engelola penelitian dengan Mendeley dan Nviv. CV Azka Pustaka. Nurlia. , & El Furqon. Peranan organisasi masyarakat dalam menghadapi komunitas ASEAN (Studi pada organisasi masyarakat MathlaAoul Anwar usia ke 100 International Organizations and the Rise of ISIL, 45Ae57. Rizqi. Kiprah KH Mas Abdurahman dalam pembaharuan pendidikan Islam di MathlaAoul Anwar Banten (Bachelor's thesis. FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakart. Syamsuddin. , & M. Pd. Pengantar sosiologi dakwah . Jakarta: Kencana. 34 | A L - I D A R A H : J U R N A L M A N A J E M E N D A K W A H