JURNAL Al-Manaj Volume 5. Nomor 2 Desember 2025 P-ISSN: 27752062 E-ISSN: 27758729 PEMAKNAAN MENTORING KEISLAMAN DALAM PRAKTIK KOMUNIKASI DAKWAH (Studi Fenomenologi Mahasiswa Aktivis Dakwah LDK Syahid UIN Jakart. Andi Fakhrullah1*. Fatimatuzahrotul Aini2. Annisa Eka Mardiyah3. Sondi Silalahi4. Atikah Rahmah5 1,2,3,4,5 Ilmu Komunikasi. Universitas Pamulang Email: dosen03094@unpam. Kata kunci Abstrak Mentoring. Halaqah Tarbiyah. Dakwah Kampus. Fenomenologi. Komunikasi Dakwah Penelitian ini menganalisis secara mendalam fenomena dakwah yang termanifestasi dalam model mentoring atau halaqah tarbiyah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dilatarbelakangi oleh urgensi pembentukan karakter . yakhshiyah islamiya. yang sering kali tidak terakomodasi oleh metode dakwah konvensional yang bersifat massal, studi ini menggunakan kacamata fenomenologi untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif . ived experienc. mahasiswa aktivis dakwah LDK Syahid UIN Jakarta. Penelitian ini mengadopsi paradigma konstruktivis dengan metode kualitatif, melibatkan aktivis dakwah kampus periode 2020-2024 sebagai partisipan kunci. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mentoring keislaman melampaui fungsinya sebagai wadah transfer ilmu agama, bertransformasi menjadi solusi bagi kegelisahan spiritual dan alienasi sosial yang dialami mahasiswa aktivis dakwah kampus. Penelitian ini menegaskan bahwa mahasiswa aktivis dakwah LDK Syahid UIN Jakarta memosisikan diri sebagai penerima aktif yang secara sadar memilih mentoring sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menjaga konsistensi keberagamaan mereka. Hal ini menjelasakan mentoring berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan transendental dan imanen dalam ekosistem kampus Penelitian ini kemudian memberikan kontribusi pengayaan literatur komunikasi dakwah dengan membuktikan bahwa mentoring keislaman pada lembaga dakwah kampus tidak berjalan sebagai indoktrinasi dogmatis pasif, melainkan sebagai proses negosiasi makna intersubjektif dalam ekosistem mikrososiologis kampus. Keywords Mentoring. Halaqah Tarbiyah. Campus Da'wah. Phenomenology. Da'wah Communication Abstract This study analyses in depth the phenomenon of da'wah manifested in the mentoring model or halaqah tarbiyah at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Motivated by the urgency of character building . yakhshiyah islamiya. , which is often not accommodated by conventional mass da'wah methods, this study uses a phenomenological lens to explore the subjective experiences of student da'wah activists from LDK Syahid UIN Jakarta. This research adopts a constructivist paradigm with qualitative methods, involving campus da'wah activists from the 2020-2024 period as key The findings show that Islamic mentoring transcends its function as a forum for the transfer of religious knowledge, transforming into a solution for the spiritual anxiety and social alienation experienced by campus da'wah activist students. This study confirms that LDK Syahid UIN Jakarta da'wah activists position themselves as active recipients who consciously choose mentoring as a defence mechanism to maintain the Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 consistency of their religious beliefs. This explains that mentoring serves to fulfill transcendental and immanent needs in the contemporary campus This research then contributes to the enrichment of da'wah communication literature by proving that Islamic mentoring in campus da'wah institutions does not function as passive dogmatic indoctrination, but rather as a process of intersubjective meaning negotiation. Pendahuluan Realitas kehidupan mahasiswa di perguruan tinggi kontemporer menghadapkan civitas akademika pada paradoks yang mencemaskan. Di satu sisi, kampus didaulat sebagai menara gading intelektualitas, namun di sisi lain, ia menjadi arena terbuka bagi degradasi moral yang mengikis nilai-nilai religiusitas. Fenomena pergeseran nilai ini tidak lagi terjadi di ruang tertutup, melainkan termanifestasi dalam perilaku keseharian mahasiswa. Mufida . , dalam observasi spesifiknya di lingkungan kampus UIN menyoroti problem moral yang akut, mulai dari perilaku khalwat . erduaan dengan lawan jeni. , ketidakmampuan membatasi pergaulan . , hingga pengabaian terhadap etika busana muslim yang syarAoi. Kondisi empiris ini menjadi indikasi awal bahwa identitas mahasiswa sebagai kaum terpelajar tidak serta-merta menjamin kekokohan karakter moral mereka di hadapan gempuran budaya hedonisme dan Krisis moral tersebut menegaskan bahwa pendidikan formal di bangku perkuliahan yang berorientasi pada transfer pengetahuan kognitif semata tidak lagi memadai untuk membentengi karakter mahasiswa. Terdapat kebutuhan mendesak untuk menyeimbangkan aspek akademik dengan pembinaan spiritual. Azizah, et al . , menegaskan bahwa kegiatan intrakurikuler harus disokong oleh kegiatan ekstrakurikuler yang menyentuh dimensi batiniah. Temuan mereka menunjukkan korelasi linear di mana pembinaan karakter religius yang intensif justru berkontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar. Artinya, mahasiswa yang memiliki disiplin spiritual cenderung memiliki ketahanan dan tanggung jawab akademik yang lebih baik. Merespons kebutuhan akan keseimbangan tersebut. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) hadir sebagai entitas strategis yang mengisi ruang kosong pembinaan mental spiritual di perguruan tinggi. LDK tidak sekadar beroperasi sebagai unit kegiatan mahasiswa biasa, melainkan berfungsi sebagai katalisator integritas. Sebagaimana dielaborasi oleh Azraf et al . LDK menjalankan peran dakwahnya melalui pendekatan persuasif dan dialogis yang humanis, berupaya menarik mahasiswa kembali pada nilai-nilai Islam di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus. Peran ini menempatkan LDK sebagai garda terdepan dalam menjaga moralitas kampus. Agar peran strategis tersebut dapat berjalan secara berkesinambungan dan tidak bersifat sporadis. LDK memerlukan tata kelola yang profesional. Penelitian Ulum et al . , menegaskan bahwa kualitas dakwah di kampus sangat bergantung pada implementasi manajemen organisasi yang rapi, meliputi perencanaan . , pengorganisasian . , penggerakan . , hingga pengendalian . Tanpa struktur yang mapan. LDK akan kesulitan menghadapi dinamika internal maupun eksternal, yang pada akhirnya akan menghambat sampainya pesan dakwah kepada objek dakwah . Namun, tantangan pengelolaan dakwah hari ini kian kompleks dengan hadirnya demografi mahasiswa dari generasi Gen-Z yang memiliki karakteristik unik dan resistensi terhadap metode konvensional. Aktivisme dakwah kampus saat ini dituntut untuk bertransformasi menjadi lebih fleksibel, adaptif, dan berbasis minat bakat. Pendekatan yang kaku dan indoktrinatif cenderung ditinggalkan oleh mahasiswa. sebaliknya, pendekatan yang Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 memanfaatkan media digital dan relevan dengan gaya hidup kekinian menjadi keniscayaan. LDK dipaksa untuk terus meredefinisikan cara komunikasinya agar tetap relevan tanpa kehilangan substansi (Fz et al. Dalam upaya meramu pendekatan yang relevan tersebut. LDK menerapkan ragam strategi dakwah yang komprehensif. Widiati dan Musaddad . , mengklasifikasikan strategi ini ke dalam dua pendekatan utama: strategi rasional . l-manhaj al-aql. yang berbasis dialektika intelektual, dan strategi sentimentil . l-manhaj al-athf. yang menyentuh aspek emosional dan kepedulian sosial. Titik temu dari kedua strategi ini terwujud dalam sebuah program pembinaan intensif dalam kelompok kecil yang dikenal dengan istilah mentoring atau Mentoring menjadi metode pilihan karena kemampuannya menyentuh akal dan hati kader secara simultan. Secara teknis operasional, mentoring dijalankan melalui tahapan yang terstruktur guna memastikan internalisasi nilai berjalan efektif. Proses penanaman nilai pendidikan Islam dalam mentoring dimulai dari tahapan pembukaan, kegiatan inti, hingga evaluasi, dengan kurikulum yang mencakup akidah, ibadah, dan akhlak. Melalui intensitas pertemuan rutin . dan kurikulum yang bertahap, mentoring didesain untuk tidak hanya mentransfer wawasan, tetapi juga membangun habituasi amalan harian yang memagar mahasiswa dari pengaruh negatif lingkungan pergaulan (Lukman et al. Dampak dari proses mentoring yang sistematis ini terbukti melampaui sekadar pemahaman teologis. Menurut Novianti et al . , melalui sarana mentoring dan pelatihan dakwah. LDK berperan signifikan dalam meningkatkan kepercayaan diri . elf-confidenc. dan kemampuan komunikasi publik mahasiswa. Mentoring menjadi kawah candradimuka di mana mahasiswa dilatih untuk berani mengartikulasikan gagasan, memimpin diskusi, dan mengaktualisasikan diri, sehingga terbentuk kader yang cakap secara sosial dan mental. Akan tetapi, jika ditelisik lebih mendalam melampaui aspek manajerial dan fungsionalnya, kekuatan inti dari mentoring sesungguhnya terletak pada pola komunikasinya yang unik. Berbeda dengan tablig akbar atau seminar yang bersifat komunikasi massa, mentoring adalah representasi murni dari Komunikasi Dakwah Fardiyah . omunikasi antarpribadi/interpersona. Dalam mentoring, terjadi interaksi tatap muka yang intim antara mentor . dan mentee . , serta antar sesama anggota. Pola komunikasi ini memungkinkan pesan dakwah meresap melalui sentuhan personal dan keteladanan langsung, bukan sekadar orasi di atas mimbar. Karakteristik komunikasi dakwah fardiyah dalam mentoring ini menjadi sangat krusial ketika diletakkan dalam konteks spesifik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai kampus pembaharu dengan heterogenitas pemikiran keislaman yang sangat tinggi, mahasiswa dihadapkan pada pertarungan wacana yang kompleks. Dalam situasi di mana terjadi fragmentasi ideologi, pendekatan dakwah yang bersifat massal seringkali kurang efektif membangun ketahanan ideologis. Mahasiswa membutuhkan ruang privat yang dialogis, tempat di mana mereka diperlakukan sebagai subjek yang unik, didengarkan keluh kesahnya, dan dibimbing secara personal. Bagi anggota LDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mentoring bukan sekadar program kerja organisasi yang bersifat teknis, melainkan sebuah pengalaman yang dihayati . ived Interaksi fardiyah di dalamnya menciptakan ikatan emosional . yang melampaui hubungan instruktur-peserta. Terdapat pertukaran makna, pembentukan konsep diri, dan negosiasi identitas yang terjadi secara intensif dalam lingkaran-lingkaran kecil tersebut. Mentoring menjadi sebuah dunia kehidupan . tersendiri bagi para anggotanya di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus. Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 Sejauh ini, mayoritas penelitian terdahulu masih cenderung memotret mentoring dari perspektif positivistik-fungsional. Studi Ulum et al. berhenti pada analisis manajemen. Widiati . pada strategi lembaga, sementara Azizah et al. dan Novianti et al. fokus pada evaluasi output terukur seperti nilai akademik dan skill. Belum banyak penelitian yang mencoba menyelami struktur kesadaran para pelakunya untuk memahami bagaimana mereka memaknai komunikasi dakwah fardiyah tersebut. Aspek subjektivitas dan pengalaman intersubjektif ini sering luput dari radar penelitian kuantitatif maupun manajemen dakwah Kekosongan perspektif inilah yang menuntut penggunaan pendekatan Fenomenologi. Fenomenologi tidak bertujuan mengukur efektivitas program atau mendeskripsikan langkahlangkah manajerial, melainkan bertujuan menggali esensi . dari pengalaman komunikasi itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan mendasar hanya bisa dijawab dengan menangguhkan asumsi-asumsi teoritis . dan membiarkan fenomena itu berbicara melalui pengalaman Oleh karena itu, penelitian ini menjadi urgen untuk dilakukan guna mengisi celah epistemologis tersebut. Diperlukan sebuah studi yang mampu membedah pengalaman anggota mentoring, bukan dari luar sebagai pengamat objektif, melainkan dari dalam sebagai upaya memahami makna intersubjektif. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini berupaya menggali pemaknaan dalam mentoring keislaman, serta bagaimana komunikasi tersebut dimaknai dan dihayati oleh para pelakunya di tengah dinamika kampus UIN Jakarta yang kompleks. Metode Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi sebagai pisau analisis utama . Pendekatan fenomenologi Husserl . , bertujuan menguraikan makna bagi individu-individu terkait pengalaman hidup mereka mengenai suatu gagasan atau peristiwa tertentu (Creswell 2007:. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada urgensi untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana individu memaknai pengalaman yang dihayati . ived experienc. terkait fenomena mentoring keislaman dalam praktik komunikasi dakwah. Fokus utama penelitian diarahkan pada pemahaman pengalaman subjektif mahasiswa aktivis dakwah LDK Syahid UIN Jakarta dalam memaknai pengalaman mentoring keislaman dalam proses komunikasi dakwah. Pemilihan partisipan penelitian dilakukan melalui teknik gabungan purposive sampling dan snowball sampling (Neuman 2. Subjek penelitian merupakan mahasiswa aktivis dakwah kampus periode 2020-2024 yang memenuhi kriteria inklusi ketat: . Merupakan anggota aktif Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid. Memiliki variasi latar belakang ormas keagamaan (NU. Muhammadiyah. Persis, dan Non-afilias. untuk menjamin keragaman dan . Telah berinteraksi intensif dalam sistem mentoring tarbiyah minimal dua Inisial Informan ZWA FFS ENI Gender Fakultas Latar Belakang Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Fakultas Sains dan Teknologi Fakultas Sains dan Teknologi Dakwah dan Ilmu Komunikasi Dakwah dan Ilmu Komunikasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Nahdlatul Ulama Non-Tarbiyah/Umum Non-Tarbiyah/Umum Nahdlatul Ulama Nahdlatul Ulama Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah YAS RHA Laki-laki Laki-laki Perempuan Laki-laki Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 Adab dan Humaniora Dirasat Islamiyah Dirasat Islamiyah Ushuluddin Persatuan Islam Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Nahdlatul Ulama Tabel 1. Daftar informan Proses analisis data mengacu pada model interaktif Miles. Huberman, dan Saldana . , yang mencakup tiga alur simultan: kondensasi data . ata condensatio. , penyajian data . ata displa. , dan verifikasi kesimpulan . rawing/verifying conclusion. Data dianalisis secara kritis untuk mengidentifikasi relevansinya. Kemudian validitas temuan diuji melalui triangulasi sumber dengan membandingkan perspektif antar-informan yang memiliki latar belakang ideologis berbeda (Moleong 2001:. Hasil dan Pembahasan Pengalaman Intersubjektif dalam Praktik Mentoring Keislaman Mentoring keislaman, yang dalam diskursus gerakan Tarbiyah lebih dikenal dengan istilah mentoring tarbiyah, merupakan manifestasi dari pertemuan rutin dalam skala mikro. Forum ini umumnya terdiri dari kelompok kecil beranggotakan 5 hingga 10 peserta . yang dibimbing oleh seorang mentor atau murabbi. Dalam konteks fenomenologi dakwah fardiyah, sang mentor berperan sebagai agen dakwah yang mentransfer nilai-nilai Islam secara Orientasi utama dari aktivitas ini adalah pembentukan syakhshiyah Islamiyah atau kepribadian Islami yang kokoh pada setiap individunya. Pendekatan dakwah dengan format kelompok kecil ini dianggap memiliki efektivitas tinggi dalam membina dan menanamkan nilai-nilai kepada madAou . bjek dakwa. karena sifatnya yang intim dan terfokus. Hal ini ditegaskan oleh informan ZWA yang menyatakan: AuPembinaan kan justru lebih terfokus itu satu-satu kelompok atau perkelompok dibanding mungkin ya bagus juga seperti pengajian tabligh akbar cuma kan tidak apa ya terbina Ay (Wawancara ZWA) Peneliti menginterpretasikan pandangan ZWA tersebut sebagai indikasi bahwa pembinaan dalam skala mikro membuka ruang interaksi personal yang mendalam antara murabbi dengan para mutarabbi-nya. Dalam kacamata dakwah fardiyah, model ini memungkinkan personalisasi materi dan metode penyampaian yang adaptif terhadap kebutuhan spesifik individu maupun dinamika kelompok. Intensitas interaksi ini secara fenomenologis berpotensi meningkatkan internalisasi nilai dan pemahaman materi yang lebih komprehensif. Mentoring keislaman dipandang sebagai solusi dalam komunikasi dakwah. Perspektif ini didukung oleh pernyataan FFS yang menekankan efektivitas mentoring tarbiyah dalam membentuk pribadi mahasiswa yang Islami melalui pendekatan langsung: Au. gerakannya yang mana dia itu lebih ke direct selling langsung ke objek dakwah gitu contoh seperti mentoring atau liqo. Itu kan cukup membantu dalam halnya peningkatan ruhiyah kita gitu, di sana kita dimonitoring bagaimana kabar dari qodhoya atau permasalahan, saling bertukar kabar di sana dan selalu dipantau ruhiyah-nya. Selain itu juga jasadiyah-nya juga dilihat bagaimana gitu. Ay (Wawancara FFS) Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 Praktik dakwah yang dijalankan oleh gerakan Tarbiyah ini mengadopsi pendekatan direct selling atau penyampaian nilai secara tatap muka dan personal sebagai strategi utama. Implementasi pendekatan ini terwujud dalam mentoring tarbiyah, yang tidak hanya berfokus pada dimensi intelektual, tetapi juga pembinaan ruhiyah . dan jasadiyah . Secara fenomenologis, mentoring tarbiyah menjadi ruang intersubjektif di mana terjadi pemantauan intensif terhadap qodhoya . spiritual dan emosional peserta. Aktivitas ini mencakup taujih . , pertukaran informasi mengenai masalah pribadi, serta diskusi keagamaan yang mendalam. Keseimbangan pemantauan antara aspek rohani dan jasmani menciptakan pengalaman pembinaan yang holistik. Hal ini sejalan dengan pengalaman subjektif CD yang merasakan fungsi monitoring tersebut dalam kesehariannya: Au. sebetulnya sarana buat monitoring amalan yaumiyah-nya gitu, yang mana itu kan menentukan bagaimana keadaan jiwa kita, psikologis kita sehingga menjalani itu pun menjadi lebih tenang. Nah bisa dibilang kalau sarana Tarbiyah itu bisa memengaruhi hidup? Ane ngerasa ya bisa dibilang memengaruhi banget karena di mentoring yang pekanan rutin ini. Ay (Wawancara CD) CD menguraikan bahwa dalam praksis dakwah Tarbiyah, mentoring berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap ibadah harian serta kondisi psikospiritual anggotanya. Dampak fenomenologis yang dirasakan adalah munculnya ketenangan batin dalam menjalani CD meyakini bahwa instrumen pembinaan ini memberikan pengaruh signifikan terhadap realitas kehidupan sehari-harinya, yang terbentuk melalui konsistensi pertemuan rutin Lebih lanjut,informan lain yakni FI. ENI, dan YAS turut membagikan pengalaman intersubjektif mereka mengenai kenyamanan dan dukungan emosional dalam lingkaran mentoring tarbiyah: AuArtinya di sini mentoring atau mentoring tarbiyah itu bisa dibilang seharusnya membuat kita nyaman juga karena di kelompok yang kecil itu kita bisa bebas menceritakan apapun bebas berpendapat apapun dan enggak ada batasan-batasan, pun kalau misalnya kalau ada masalah dari kelompok mentoring kita, yang menanggung masalah itu bukan kita sendiri tapi ada kelompok mentoring gitu atau kelompok mentoring tarbiyah kita itu. Jadi ya itu sebenarnya adalah sebuah solusi jawaban dari mahasiswa yang masih mencari temanteman kebaikan, lingkungan kebaikan nah bisa dicoba dulu di mentoring tarbiyah gitu. Dan yang dibahas di dalam mentoring tarbiyah itu bukan hanya materi-materi tentang keTarbiyah-an tapi kadang kita juga mengkaji kitab yang punya sesuai dengan empat mazhab itu yang disetujui para ulama. Ay (Wawancara FI) AuMenurut gua efektif buat membina para kadernya karena para kader jadi saling mengenal satu dengan lainnya dan juga saling menguatkan ketika ada kader yang futur gitu, jadi kita bareng-bareng untuk mencapai kemuliaan gitu, jadi kita saling menguatkan lah. Ay (Wawancara ENI) Au. adanya sistem halaqah atau mentoring tarbiyah itu gitu ya jadi saya punya satu lingkaran untuk bisa sama-sama kita punya lingkungan yang saling ngingatin dalam hal ibadah ataupun menambah ilmu agama dan juga manfaat-manfaat yang lainnya. Ay (Wawancara YAS) Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 Dari narasi tersebut, mentoring tarbiyah dapat dipahami sebagai model interaktif yang menciptakan lingkungan belajar agama yang kondusif, inklusif, dan egaliter. Mentoring tarbiyah bertransformasi menjadi ruang dialogis di mana anggota memiliki kebebasan berekspresi, berbagi narasi pribadi, dan berpartisipasi aktif dalam menginterpretasikan pesan Dalam perspektif komunikasi, fenomena ini mencerminkan model konvergensi, di mana tujuannya adalah membangun makna bersama . utual understandin. dan solidaritas kelompok dalam menghadapi fluktuasi iman . Selain itu, mentoring dinilai menjadi wahana strategis bagi mahasiswa muslim di UIN Jakarta untuk memperoleh ekosistem yang menjaga konsistensi amal ibadah, melampaui batas waktu kehidupan kampus. Dalam aspek organisatoris, urgensi mentoring sejatinya bersifat universal dan dapat diadopsi oleh berbagai entitas pergerakan Islam, tidak terbatas pada gerakan Tarbiyah semata. Pembinaan kader dipandang sebagai proses berkelanjutan untuk menjaga integritas kader di mana pun mereka beraktivitas. Hal ini ditekankan oleh RHA, seorang kader berlatar belakang Muhammadiyah (IMM): Au. dengan ane ingin menjaga ke-tarbiyah-an ane cukup dengan mentoring dan itu pun juga penting jadi tidak hanya selesai di kampus kan, ane beres kepengurusan tapi ane tetap bisa mentoring dan tetap memang ada berkelanjutan gitu dan ini yang menurut ane baik dan bagus gitu sehingga pun tidak hanya dalam menjaga pemahaman tapi juga menjaga ruhiyah kita dan tetap dalam koridor amal ibadah yang bagus, reminderreminder dalam pemahaman Islamnya segala macam. Nah ini yang mungkin harus diterapkan juga di teman-teman yang lain gitu, sehingga penjagaan kader bukan hanya untuk penjalanan proker, tapi juga untuk pembinaan kader tadi dan tetap bisa aktif di organisasi mana pun. Ay (Wawancara RHA) Sementara itu. MZ, mahasiswi dengan latar belakang NU (PMII), menilai efektivitas mentoring dalam memantau perkembangan kognitif dan afektif kader. Melalui dakwah fardiyah dalam mentoring pekanan, pemahaman anggota terhadap materi dapat dipastikan. Lebih jauh, mentoring memperkuat kohesi sosial . Mekanisme tabayyun dan pendekatan personal dari teman atau mentor menjadi instrumen penting untuk merangkul kembali anggota yang mulai berjarak, sebagaimana diungkapkannya: Au. secara umum sih bagus banget jadinya semua kader itu kepantau, di situ udah benarbenar paham atau belum sama pengajaran-pengajaran yang ada di LDK. Nah, terus juga jadi lebih kuat silaturahminya, terus kalau misalnya dia udah mulai menjauh, mulai lepas dan bisa ditarik lagi itu enggak perlu dari orang tertinggi gitu bisa dari teman-teman dan para mentornya. Nah, terus juga kalau yang ane rasain ya kalau di mentoring itu karena punya kakak mentor juga pastinya disediain sama kakak yang mumpuni, yang juga bisa mengayomi adik-adiknya. Jadi ya berasa ditemanin banget dan ya itu juga kayaknya poin plus kalau buat ane itu jadi sebuah poin plus yang tidak dimiliki sama tempat-tempat Ay (Wawancara MZ) Menurut MZ, nilai tambah dari mentoring terletak pada figur murabbi yang mampu Dalam konteks fenomenologi, "mengayomi" dimaknai sebagai pemberian bimbingan, dukungan emosional, dan proteksi kepada anggota yang umumnya adalah adik tingkat, membantu mereka menavigasi tantangan akademis dan kehidupan. Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 Terkait manfaat mentoring sebagai solusi atas permasalahan hidup. KH memberikan kesaksian personalnya: AuKarena manfaat yang saya rasakan itu ya di dalam mentoring itu, misalnya saya memang mengutarakan sebuah keluh kesah atau sebuah permasalahan itu dan di sana ada murabbi yang bisa mengarahkan ketika saya itu perlu masukan itu sih yang saya rasakan manfaatnya ya dari sebuah Tarbiyah ini. Kemudian juga menjadikan motivasi terutama dalam hal-hal spiritual ya ibadah gitu, itu cukup untuk memompa saya untuk semangat beribadahlah karena ya teguran-teguran atau reminder-reminder dari murabbi itu cukup berarti lah untuk saya yang misalkan terlalu lelah dengan hal duniawi, misalkan ya saya diingatkan itu cukup membantu, cukup menjadi solusi bagi saya. Ay (Wawancara KH) KH merefleksikan pengalamannya dalam dakwah Tarbiyah sebagai sumber dukungan praktis dan spiritual. Mentor hadir sebagai konselor yang memberikan arahan solutif atas keluh kesah yang dihadapi. Lebih dari itu, motivasi spiritual yang ditransfer melalui mentoring menjadi energi pendorong dalam menjalankan ibadah di tengah kelelahan urusan duniawi. Fenomena ini menunjukkan bahwa mentoring berfungsi ganda: sebagai penyelesai masalah praktis dan sebagai penguat ketahanan spiritual. Partisipasi dalam program mentoring juga dianggap krusial dalam memperkuat fondasi keimanan, khususnya bagi individu yang baru mendalami agama. Melalui mekanisme dakwah fardiyah ini, mahasiswa memperoleh pengetahuan baru sekaligus ruang evaluasi diri . Evaluasi rutin mingguan bertindak sebagai pengingat . yang menjaga konsistensi perilaku keberagamaan peserta. Dalam konteks wacana keagamaan di UIN Jakarta, budaya mentoring tarbiyah muncul sebagai solusi yang memfasilitasi keaktifan anggota dalam proses pembelajaran agama secara mandiri dan kolaboratif. Hal ini disimpulkan oleh ZWA: Au. dalam proses hidup sebenarnya dakwah Tarbiyah ini itu cukup berperan, nah kenapa dan apa gitu loh menjadi solusi? Ya mungkin dari latar belakang saya ya, yang mungkin kalau misalnya anak muda lah gitu ya jarang banget dapat waktu buat kajian, untuk hadir dalam majelis-majelis ilmu dan di Tarbiyah ini punya konsep unik, gimana dia menciptakan sendiri kajian-kajian itu berupa lingkaran-lingkaran atau kelompokkelompok mentoring yang di mana kita itu bisa lebih aktif buat belajar dan lebih mudah. Ay (Wawancara ZWA) ZWA menyoroti bahwa di tengah keterbatasan waktu mahasiswa untuk mengakses majelis ilmu konvensional, model dakwah fardiyah melalui kelompok mentoring menawarkan solusi adaptif. Konsep ini memungkinkan mahasiswa menciptakan ruang belajarnya sendiri, memfasilitasi pendalaman agama yang lebih partisipatif dan aksesibel. Berdasarkan temuan-temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa model dakwah Islam berskala mikro seperti mentoring atau mentoring tarbiyah berfungsi sebagai solusi komunikasi Pendekatan interpersonal ini memberikan pandangan yang signifikan dalam menumbuhkan syakhsiyah Islamiyah pada madAou, khususnya di kalangan mahasiswa anggota LDK Syahid UIN Jakarta, melalui pembinaan yang intensif, holistik, dan personal. Analisis Pemaknaan Mentoring Keislaman sebagai Praktik Komunikasi Dakwah Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 Tujuan fundamental dari aktivitas mentoring keislaman adalah pembentukan kepribadian Islam . yakhshiyah islamiya. yang integral pada setiap anggota halaqah. Dalam perspektif fenomenologi, model dakwah berskala mikro ini dinilai solutif karena memfasilitasi pengalaman yang dihayati . ived experienc. melalui pendampingan personal yang terarah. Format kelompok kecil ini menciptakan ruang intersubjektif yang kondusif bagi diskursus dialektis antarpeserta, yang secara signifikan memperdalam internalisasi ajaran Islam. Sejalan dengan hal ini, mentoring dalam gerakan Tarbiyah diposisikan sebagai pendekatan Efektivitasnya terletak pada kemampuannya mentransformasi doktrin teologis menjadi praksis kehidupan, menjadikan madAou bukan sekadar objek pasif, melainkan subjek aktif dalam pembentukan identitas keislamannya. Dalam analisis relasional. Muslim . , mengelaborasi bahwa mentoring tarbiyah adalah arena transfer pengetahuan yang berbasis pada interaksi dyadik antara mentor dan Landasan etis dari interaksi ini adalah kepercayaan . , penghargaan, dan Mentor bertindak sebagai fasilitator psikospiritual yang memberikan dukungan afirmatif, bimbingan, dan motivasi untuk membentuk karakter positif. Perspektif ini beresonansi dengan pengalaman fenomenologis informan MZ, yang merasakan kehadiran murabbi sebagai figur yang mengayomi. Konsep mengayomi di sini melampaui sekadar instruksi verbal. ia bermanifestasi sebagai perlindungan eksistensial dan petunjuk moral bagi anggota . dalam menghadapi permasalahan kehidupan kampus. Fenomena ini menegaskan bahwa dalam dakwah fardiyah, relasi mentor-mentee bukan sekadar hubungan instruksional, melainkan hubungan emosional yang mendalam. Dari perspektif peneliti, fungsi pengayoman mentor merupakan katalisator bagi terciptanya ukhuwah islamiyah. Ikatan persaudaraan ini membangun kohesi sosial yang kuat, menciptakan lingkungan suportif yang memvalidasi identitas keislaman anggota. Dalam kerangka Teori Penerimaan Aktif, proses komunikasi ini dipandang sebagai panacea . bat penawa. bagi patologi sosial dan krisis identitas yang dialami individu (Bakti 2004:. Namun, sebagai kritik, perlu dicermati bahwa kohesivitas tinggi berpotensi memunculkan eksklusivitas kelompok atau groupthink, di mana loyalitas terhadap mentoring dapat mengaburkan kritik objektif. Meski demikian, secara internal, mekanisme ini memberikan solusi terapeutik bagi permasalahan hidup anggotanya. Mengacu pada klasifikasi Azyumardi Azra mengenai aktivisme mahasiswa, terdapat segmen mahasiswa dengan religiusitas tinggi yang menemukan rumah spiritual dalam lingkaran halaqah tarbiyah (Azra 1999:. Bagi mereka, mentoring tarbiyah bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan ruang sakral yang memfasilitasi kebutuhan akan kesalehan, ketaatan, dan solidaritas (Machmudi 2. Karakteristik ini menjadi daya tarik magnetis yang memenuhi kebutuhan hierarki Maslow akan rasa aman dan kepemilikan . ense of belongin. Secara fenomenologis, keterlibatan mereka didorong oleh motif intrinsik untuk mencari keamanan ontologis dan validasi spiritual, yang membuat ikatan persaudaraan terjalin lebih alamiah dan kokoh. Secara doktrinal, mentoring beroperasi di atas prinsip Manhaj Tarbiyah yang mencakup elemen tarbiyah, halaqah, murabbi, mutarabbi, ukhuwah, taAoaruf . aling mengena. , tafahum . aling memaham. , dan takaful . aling menanggun. (Fuad 2. Hasan al-Banna, sebagai ideolog utama, memfilosofikan liqoAo atau mentoring keislaman sebagai unit keluarga Konseptualisasi ini menegaskan mentoring tarbiyah sebagai implementasi tarbiyah madal hayah . endidikan sepanjang haya. Dalam konteks ini, mentoring tarbiyah bukan sekadar metode transfer ilmu, melainkan sebuah ekosistem pembinaan karakter yang berkelanjutan, yang bertujuan mencetak individu muslim yang paripurna. Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 Informan FFS memberikan perspektif pragmatis dengan menganalogikan metode dakwah tarbiyah sebagai direct selling. Analogi ini menggambarkan pendekatan yang proaktif, personal, dan langsung menyentuh aspek kognitif, afektif, dan konatif madAou. Melalui mentoring terjadi monitoring intensif terhadap kondisi ruhiyah dan jasadiyah. Pendekatan ini memastikan bahwa madAou tidak hanya sehat secara rohani tetapi juga fisik, mencerminkan keseimbangan yang diidealkan dalam Islam. Interaksi tatap muka yang rutin memungkinkan deteksi dini terhadap fluktuasi iman . atau masalah emosional, menjadikan intervensi dakwah lebih presisi dan tepat sasaran. Temuan ini diperkuat oleh studi Fuad . , yang membedakan liqoAo atau mentoring tarbiyah dengan majelis taAolim konvensional. Jika majelis taAolim cenderung bersifat satu arah dengan audiens massal, liqoAo atau mentoring keislaman menawarkan eksklusivitas jumlah peserta yang memungkinkan komunikasi dua arah yang intensif. Keterbatasan jumlah audiens ini justru menjadi kekuatan fenomenologisnya. peserta merasa memiliki ruang aman untuk mengartikulasikan keraguan, pertanyaan, dan pemikiran tanpa takut dihakimi. Interaktivitas ini secara signifikan meningkatkan retensi materi dan internalisasi nilai, berbeda dengan pengajian massal di mana jamaah seringkali pasif (Fuad 2. Lebih jauh, mentor berperan sebagai dinamisator yang mendorong partisipasi aktif. Dalam suasana yang egaliter dan suportif, setiap peserta diberdayakan untuk berkontribusi, berbagi pengalaman empiris, dan pengetahuan. Proses dialektika ini memperkaya khazanah pemahaman keagamaan kelompok. Hal ini menciptakan collective intelligence di mana pemahaman agama tidak didikte secara otoriter dari atas ke bawah, melainkan dikonstruksi bersama melalui refleksi kolektif. Ini adalah kritik dari model indoktrinasi kaku, mentoring menawarkan model pedagogi partisipatif yang memanusiakan mentee atau mutarabbi. Mentoring keislaman kemudian bertransformasi dari sekadar sarana dakwah menjadi lingkungan sosial konstruktivis. Anggota mendefinisikan realitas keagamaan secara Fenomena ini sejalan dengan pandangan D. Lawrence Kincaid, yang memandang komunikasi sebagai proses pertukaran informasi menuju pemahaman bersama . utual understandin. (Kincaid 1. Dalam mentoring, makna tentang Islam yang benar atau kesalehan dinegosiasikan dan disepakati bersama hingga mencapai titik konvergensi, memperkuat identitas kolektif kelompok. Model pembinaan ini juga memungkinkan personalisasi dakwah yang tinggi. Intensitas pertemuan memungkinkan daAoi . memahami psikografi dan kebutuhan unik setiap madAou. Adaptabilitas ini selaras dengan prinsip komunikasi Islam taghyyr . yang menuntut dakwah untuk selalu kontekstual. Dengan memahami kondisi spesifik peserta, mentor dapat menyampaikan pesan agama yang relevan dan solutif, bukan normatif belaka. Hal ini memastikan bahwa substansi dakwah tetap membumi dan responsif terhadap dinamika sosial yang dihadapi peserta (Wahid 2019:. Dalam konteks sosiologis di UIN Jakarta, halaqah tarbiyah atau mentoring keislaman muncul sebagai respons adaptif terhadap keterbatasan waktu mahasiswa. Sebagaimana diungkapkan ZWA, kesibukan akademis seringkali menghalangi akses ke majelis ilmu Mentoring menawarkan fleksibilitas waktu dan tempat, serta metode belajar kolaboratif yang lebih sesuai dengan gaya hidup mahasiswa modern. Ia menjadi solusi di tengah kesibukan, memfasilitasi pertukaran intelektual dan spiritual yang mungkin tidak didapatkan di ruang kelas formal. Penelitian ini menegaskan bahwa model dakwah mikrokosmos seperti halaqah tarbiyah atau mentoring keislaman berfungsi sebagai solusi dalam komunikasi dakwah kontemporer. Bagi mahasiswa mutarabbi di UIN Jakarta, mentoring bukan sekadar metode belajar. Andi Fakhrullah. Fatimatuzahrotul Aini. Annisa Eka Mardiyah. Sondi Silalahi. Atikah Rahmah Pemaknaan Mentoring Keislaman dalam Praktik Komunuikasi Dakwah Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 145-156 melainkan sebuah pengalaman fenomenologis yang mentransformasi diri. Melalui mekanisme dakwah fardiyah yang intens, personal, dan dialogis, mentoring berhasil menanamkan fondasi syakhshiyah islamiyah, membuktikan bahwa pendekatan humanis dan interpersonal dalam dakwah memiliki daya ubah yang lebih fundamental dibandingkan pendekatan massal. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa mentoring keislaman di LDK Syahid UIN Jakarta telah melampaui fungsinya sebagai instrumen transfer pengetahuan semata, menjelma menjadi ruang fenomenologis penting bagi konstruksi identitas dan pemeliharaan spiritualitas Melalui model dakwah fardiyah dalam kelompok kecil, mentoring terbukti lebih signifikan dibandingkan dakwah massal karena menawarkan sentuhan personal dan monitoring intensif terhadap aspek ruhiyah dan jasadiyah. Dalam ruang intersubjektif yang aman ini, makna kesalehan dikonstruksi bersama melalui dialog hingga mencapai pemahaman mendalam . utual understandin. , di mana figur mentor bertransformasi menjadi pengayom yang memenuhi kebutuhan fundamental mahasiswa akan rasa aman dan belongingness sebagai mekanisme pertahanan diri dari alienasi sosial. Secara teoretis, studi ini memberikan kontribusi signifikan dengan menggeser paradigma Komunikasi Dakwah dari proses linier satu arah menjadi proses sirkuler dan konvergen yang berbasis negosiasi makna. Selain itu, penelitian ini memperkaya khazanah studi fenomenologi dakwah kampus dengan membuktikan bahwa aktivisme mahasiswa tidak hanya didorong oleh motif ideologis-politis, melainkan juga oleh motif psikologis-eksistensial. Hasil penelitian ini juga menegaskan bahwa fenomena dakwah kampus dapat dianalisis sebagai mekanisme pertahanan sosial . ocial defense mechanis. , memberikan perspektif baru dalam memahami perilaku komunikasi religius di lingkungan pendidikan tinggi. Implikasi praktis dari temuan ini menyarankan LDK untuk mereorientasi fokus dari kuantitas acara besar ke penguatan kualitas mentoring dan pelatihan kompetensi empatik bagi para mentor, serta mendorong institusi universitas untuk mengadopsi model pendekatan personal ini sebagai instrumen kesehatan mental dan pembangunan karakter mahasiswa. Namun, mengingat keterbatasan penelitian pada konteks UIN Jakarta yang heterogen, riset selanjutnya sangat disarankan untuk melakukan studi komparatif di kampus umum serta mengeksplorasi transformasi dakwah fardiyah ke dalam ruang digital guna menguji relevansi interaksi tatap muka di era virtual. Referensi