Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya Vol. No. Agustus 2021 PELATIHAN PEMBUATAN PATUNG DAN BINGKAI FOTO YANG BERBAHAN DASAR KAYU DENGAN ORNAMEN KACA PERCAH DI DESA NUNGNUNG BADUNG Luh Made Dwi Wedayanti 1. I Ketut Dedi Agung Susanto Putra 2. I Gusti Lanang Ambara Wiguna 3 1,2,3 Institut Teknologi dan Pendidikan Markandeya Bali *e-mail: wedawid06@gmail. com, agungdedi04@gmail. com, gst_lanang@gmail. Abstrak Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang mengandalkan seni budaya dalam menarik minat Selain keindahan alam dan ritualkeagamaannya yang unik, banyak juga kerajinan yang tumbuh menjadi UMKM. Kerajinan sebagai produk kesenian dapat ditemukan di daerah-daerah pariwisata di Bali. Hal yang dilihat dari suatu kerajinan adalah nilai seninya. Semakin tinggi nilai seni yang terkandung pada suatu kerajinan, maka makin tinggi pula nilai ekonomis dan peluang pasarnya. Sehingga untuk menambah nilai seni dari kerajinan ini, pengerajin sering menambah variasi-variasi baru yang mampu menarik minat wisatawan untuk membeli kerajinan Dalam kaitannya sebagai produk kerajinan masyarakat Bali, patung dan bingkai foto selain secara fungsional sangat diperlukan oleh masyarakat berkenaan dalam penataan interior rumah, juga mempunyai prospek yang cukup cerah di pasaran dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi, misalnya sebagai cindera mata bagi para wisatawan dan keperluan lainnya. Cukup tingginya nilai ekonomis dari produk kerajinan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan oranamen kaca percah ini tentunya akan mendatangkan penghasilan dan pendapatan yang cukup besar bagi masyarakat pada khususnya dan daerah pada umumnya. Di samping itu, proses pembuatannya yang cukup cepat dan mudah bagi orang yang telah terampil akan sangat membantu mendatangkan keuntungan yang berlipat-lipat bagi pengusahanya. Kata kunci: Kerajinan, patung, bingkai foto Abstract Bali is a tourist destination that relies on its arts and culture to attract tourists. In addition to its natural beauty and unique religious rituals, there are also many crafts that have grown into SMEs. Crafts as artistic products can be found in tourism areas in Bali. The thing that is seen from a craft is its artistic value. The higher the artistic value contained in a craft, the higher the economic value and market opportunities. So to add to the artistic value of this craft, craftsmen often add new variations that are able to attract tourists to buy the craft. relation to Balinese handicraft products, statues and photo frames are not only functionally needed by the community regarding the arrangement of home interiors, they also have bright prospects in the market and have high economic value, for example as souvenirs for tourists and other purposes. The high economic value of the sculptures and photo frames made of wood with broken glass ornaments will certainly bring considerable income and income for the community in particular and the region in general. In addition, the manufacturing process which is quite fast and easy for skilled people will greatly help bring in multiple profits for entrepreneurs. Keywords: Crafts, sculptures, photo frames PENDAHULUAN Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang mengandalkan seni budaya dalam menarik minat Selain keindahan alam dan ritualkeagamaannya yang unik, banyak juga kerajinan yang tumbuh menjadi UMKM. Kerajinan sebagai produk kesenian dapat ditemukan di daerah-daerah pariwisata di Bali. Hal yang dilihat dari suatu kerajinan adalah nilai seninya. Semakin tinggi nilai seni yang terkandung pada suatu kerajinan, maka makin tinggi pula nilai ekonomis dan peluang pasarnya. Sehingga untuk menambah nilai seni dari kerajinan ini, pengerajin sering menambah variasi-variasi baru yang mampu menarik minat wisatawan untuk membeli kerajinan Salah satu hal yang diupayakan adalah dengan membuat inovasi-inovasi baru dalam menambah ornamen pada kerajinan yang telah ada. Kerajinan yang sering ditemukan salah satunya adalah patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu. Kerajinan ini masih dapat dikreasikan lagi guna meningkatkan kadar kesenian dan nilai Salah satu upaya meningkatkan nilai seni misalnya dengan memberikan ornamen dari kaca percah dengan berbagai corak warna. Keunggulan dari pembuatan patung dan bingkai foto dengan ornamen kaca percah Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya Vol. No. Agustus 2021 ini adalah ragam corak yang unik dari kerajinan ini memberikan kontribusi nilai seni yang tinggi dibandingkan kerajinan patung dan bingkai foto yang hanya menggunakan pernis sebagai finishingnya. Perbandingan harga kerajinan misalnya kerajinan patung yang hanya dipulas dan difinising dengan pernis dijual mulai Rp 25. 000 sampai Rp 150. 000 per buah. Sementara untuk jenis patung yang telah diberikan ornamen kaca percah dijual paling murah Rp 75. 000 sampai Rp 300. 000 per buah. Peningkatan harga kerajian ini pasca penambahan ornamen kaca percah cukup signifikan. Ini membuktikan dengan menambah nilai seni dari suatu kerajian tentunya dapat meningkatkan nilai tambah dan keekonomisan dari kerajinan tersebut. Secara umum patung dan bingkai foto yang beronamen kaca percah ini sudah dikenal oleh masyarakat berkenaan dengan fungsinya sebagai penambahan nilai esotik pada tata ruang atau pada disain interior rumah. Dalam kaitannya sebagai produk kerajinan masyarakat Bali, patung dan bingkai foto selain secara fungsional sangat diperlukan oleh masyarakat berkenaan dalam penataan interior rumah, juga mempunyai prospek yang cukup cerah di pasaran dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi, misalnya sebagai cindera mata bagi para wisatawan dan keperluan lainnya. Cukup tingginya nilai ekonomis dari produk kerajinan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan oranamen kaca percah ini tentunya akan mendatangkan penghasilan dan pendapatan yang cukup besar bagi masyarakat pada khususnya dan daerah pada umumnya. Di samping itu, proses pembuatannya yang cukup cepat dan mudah bagi orang yang telah terampil akan sangat membantu mendatangkan keuntungan yang berlipat-lipat bagi pengusahanya. Saat ini di Bali, kebutuhan masyarakat terhadap patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah semakin meningkat. Hal ini dapat diketahui dari informasi secara langsung dari penjual patung dan bingkai foto di pasar kesenian seperti pasar Sukawati dan pasar Badung, serta dari pasar-pasar lain dan tempat pariwisata di setiap kabupaten di Bali. Perajin patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah di Bali biasanya mudah ditemukan di kota-kota pusat kesenian seperti yang terdapat di kabupaten Gianyar. Ini menyebabkan permintaan patung kayu hanya diorderkan kepada mereka saja. Sehingga jika ditilik lebih lanjut terlihat adanya kesenjangan distribusi lapangan pekerjaan antara kota besar dengan daerah lainnya di Bali. Melihat adanya kesenjangan distribusi dan pemenuhan lapangan pekerjaan tersebut serta mempertimbangkan semakin meningkatnya permintaan terhadap patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu, kami sebagai penulis ingin mengupayakan sebuah pemerataan lapangan pekerjaan di masyarakat sekaligus mengatasi melonjaknya permintaan akan kerajinan ini di pasaran melalui kegiatan pelatihan pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah di sebuah desa kecil yang bernama desa Nungnung. Alasan kami memilih desa Nungnung karena daerah ini merupakan salah satu desa kecil yang terdapat di kabupaten Badung. Kurangnya informasi dan sedikitnya lapangan pekerjaan, menyebabkan hampir sebagian besar anggota masyarakat yang produktif khususnya pemuda, menjadi pengangguran . una kary. Selain itu, ada beberapa Desa Wisata yang ada di sekitar Desa ini. Sehingga mudah untuk memungkinkan memasarkan produk. METODE Melihat permasalahan yang terjadi di Desa Nungnung dimana terdapat banyak tunakarya yang belum mendapatkan pekerjaan. Hal ini perlu diperhatikan karena banyak pemuda yang memilih untuk nongkrong dijalan sehingga dapat menimbulkan dampak negatif dikemudian hari. Maka dari itu solusi yang bisa ditawarkan dalam program ini adalah memberikan program pelatihan pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Nungnung. Badung. Adapun langkah-langkah pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Tahap pertama, meliputi: Penjajagan awal dan sosialisasi program. Pada tahap ini penulis akan menjajagi dan mengobservasi keadaan awal masyarakat Desa Nungnung. Sekaligus melakukan sosialisasi dengan warga desa terkait, yaitu melalui lembaga Desa Pakraman. Tujuan dari kegiatan ini ialah untuk membina kerjasama antara penulis dengan warga setempat, sehingga warga dapat mendukung pelaksanaan Mengumpulkan data yang diperlukan, meliputi jumlah tuna karya yang akan mengikuti pelatihan, kayu dan bahan baku lain yang diperlukan dan yang tersedia, peralatan yang diperlukan, dan tempat untuk melaksanakan program. Proses pengumpulan data ini dilaksanakan selama satu hari. Menghubungi pelatih dan mensosialisasikan program yang akan dilaksanakan. Pada tahap ini penulis membina kerjasama dengan pelatih yang telah ditentukan. Pelatih yang akan diajak bekerjasama berasal dari banjar Pule, yaitu sebuah banjar penghasil kerajinan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu yang cukup terkenal di kabupaten Bangli. Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya Vol. No. Agustus 2021 Pemesanan, pembelian, dan penyediaan alat-alat dan bahan yang akan diperlukan selama proses Tahap kedua, meliputi: Memulai kegiatan pelatihan secara resmi dilanjutkan dengan pemberian orientasi awal kepada peserta latihan mengenai teknik pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu secara terpisah yang dilakukan oleh pelatih yang telah diajak bekerjasama. Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan untuk melaksanakan program kegiatan di tempat pelatihan, meliputi kayu jenis albesia, mesin yang diperlukan, gergaji besar dan kecil, pisau khusus . , kapak, pahat secukupnya, lem fox, semen perekat dengan warna yang variatif, amplas, dan kaca percah. Kegiatan . diperkirakan berlangsung selama 1 sampai 2 hari. Pelatihan fase I. Pelaksanaan kegiatan pelatihan fase I ini sepenuhnya diserahkan kepada pelatih dan didampingi secara langsung oleh penulis. Waktu pelaksanaan kegiatan memakan waktu maksimum selama 3 hari, meliputi pengolahan bahan dasar dan pembentukan patung serta bingkai foto sebagai dasar penempelan motif. Pelaksanaan pelatihan fase II, yaitu pelatihan mengenai penambahan ornamen berupa variasi, motif, penghalusan dengan amplas dan finishing. Alokasi waktu untuk pelaksanaan fase ini ialah 2 hari. Pada fase ini penulis dibantu dosen pembimbing akan terus memantau perkembangan kegiatan pelatihan. Pelatihan fase II ini akan dilakukan tiga minggu setelah pelatihan fase I selesai dilakukan, dengan tujuan agar peserta lebih memantapkan materi yang diberikan pada pelatihan fase I seperti penyiapan bahan dasar kayu dan proses pembentukan patung serta bingkai foto. Selama periode tiga minggu ini, penulis akan mengontrol pelaksanaan program, sehingga dapat dijamin program tetap berjalan secara baik dan efektif. Pelaksanaan pelatihan fase i. Pada fase ini, produk pelatihan fase II akan dikumpulkan dan Peserta akan diberikan pelatihan yang ditekankan pada proses pascaproduksi yang meliputi kontrol kualitas produk . ontrol quality produc. , berupa penyortiran atau seleksi produk yang layak dan tidak layak dipasarkan. Alokasi waktu pelatihan fase i ialah selama 1 hari. Pelatihan fase i ini dilakukan dua bulan setelah pelatihan fase II. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan waktu kepada peserta latihan mengembangkan variasi-variasi, ornamen, motif, serta pola penempelan motif yang mungkin berbeda dari variasi atau ornamen yang telah dilatihkan. Tahap ketiga, meliputi: Evaluasi program. Kegiatan ini akan dilakukan selama pelaksanaan tahap pertama dan tahap kedua yang meliputi pelatihan fase I, pelatihan fase II, dan pelatihan fase i, serta dua bulan setelah tahap kedua selesai dilaksanakan. Penutupan program pelatihan dan penyerahan alat-alat hasil pembelian yang digunakan selama latihan sebagai modal usaha peserta latihan. Penyusunan laporan dan dokumentasi kegiatan. Kegiatan ini akan dilaksanakan seiring pelaksanaan tahap pertama dan tahap kedua. Pengumpulan laporan. HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi masyarakat desa Nungnung sangat mendukung untuk terciptanya sebuah industri rumah tangga, khususnya pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah ini. Pemuda-pemuda produktif di desa Nungnung yang menganggur tentunya dapat dilatih untuk menggunakan alatalat pengolahan kayu dan kaca sehingga dapat menghasilkan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah sebagai produk akhirnya. Di samping itu, sumber daya alam yang dimiliki desa Nungnung ikut mendukung terciptanya lapangan pekerjaan yang menggunakan kayu terutama kayu albesia sebagai bahan dasarnya. Kemauan dan semangat yang besar sebagai motivasi internal untuk maju dan meningkatkan kualitas kehidupan yang dimiliki oleh masyarakat desa Nungnung juga merupakan modal yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan program ini. Saat ini, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam di desa Nungnung belum termanfaatkan atau tereksplorasi secara maksimal, hal inilah yang menyebabkan desa ini dapat dikatagorikan desa terbelakang, baik kesejahteraan masyarakatnya maupun keadaan perekonomiannya. Pelatihan pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah yang ingin kami laksanakan pada intinya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Nungnung dan pemerataan pemenuhan lapangan pekerjaan bagi masyarakat terpencil. Pelatihan ini mengupayakan peningkatan skill para tuna karya di desa Nungnung dan menuntun masyarakat desa Nungnung dalam membangun sebuah industri rumah tangga. Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya Vol. No. Agustus 2021 Keterbatasan kemampuan mereka dalam hal permodalan dan manajemen, ditambah tingkat pendidikan yang rendah, mendorong diperlukannya suatu pelatihan untuk menuntun mereka dalam mewujudkan industri kecil rumah tangga pembuatan patung dan bingkai foto, sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Gambar 1. , . , . , . Pelaksanaan kegiatan pelatihan pembuatan patung dan bingkai foto Hambatan dan Solusi Dalam pelaksanaan Program Pengabdian ini terdapat beberapa hambatan, namun berkat bantuan dan masukan berbagai pihak hambatan tersebut dapat diatasi satu per satu sehingga tidak mengganggu jalannya program ini. Adapun hambatan dalam pelaksanaan program ini dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hambatan dan solusi Jenis Kendala Cara Mengatasi Kendala administrasi yang dialami dalam pelaksanaan program ini adalah cukup lamanya pelaksana dalam mengurus ijin penggunaan Balai Desa. Hal ini karena cukup padatnya jadwal penggunaan balai desa. Melakukan pendekatan secara personal kepada kepala desa mengenai pentingnya kegiatan ini agar dilakukan di Balai Desa. Selanjutnya pelaksana dan Kepala Desa mendiskusikan jadwal yang tepat untuk pelaksanaan kegiatan ini. No. Administrasi Teknis Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya Vol. No. Agustus 2021 Dari hasil koordinasi dengan kepala desa telah disepakati bahwa Balai Desa bisa dipergunakan sebagai tempat pelaksanaan program yaitu 11-13 April 2017. Namun, hal yang tidak diinginkan terjadi. Pada tanggal 11 April. Balai Desa masih tidak bisa digunakan, sehingga tidak mungkin digunakan untuk pelaksanaan program tahap II. Terlebih lagi pada tanggal 12 dan 13 April. Balai Desa ternyata digunakan sebagai tempat rapat mendadak yang penting menyangkut masalah adat dan hasil pemilu. Alternatif memindahkan tempat pelaksanaan program tahap II . ang meliputi sosialisasi, pelatihan fase I. II, dan . ke rumah salah satu petinggi desa, yaitu Bapak Dewa Anom Mawang. Antusiasme masyarakat masih rendah untuk ikut serta dalam kegiatan pelatihan. Melakukan sosialisasi lebih lanjut, menjelaskan secara lebih detail tentang keunggulan program dan keuntungan-keuntungan yang diperoleh kepada Masyarakat yang mengikuti pelatihan, sebagian besar belum memiliki pengetahuan awal tentang pembuatan patung dan bingkai foto yang digunakan sebagai bahan Perbedaan gender menjadi halangan bagi para peserta wanita untuk ikut sosialisasi pembuatan patung dan Pelatihan dilakukan secara intensif dengan metode face to face oleh pelatih dan mahasiswa. Harga kayu yang dibeli yang sudah dipotong cukup mahal . arena perhitungan pengerjaan dan proses Dengan . elaksanaan, waktu dan biay. , kami putuskan untuk membeli A kubik kayu albesia. Diperlukan keahlian khusus dalam memotong kaca sehingga terwujud kaca yang berbentuk percah. Melatih lebih intens keterampilan pembuatan kaca percah dan teknik pemotongannya yang dituntun oleh pelatih yang dianggap meiliki skill yang lebih. Melakukan pendekatan secara lebih intensif dan memberikan penerangan bahwa terdapat tahap-tahap kegiatan produksi patung dan binkai foto yang dapat mereka kerjakan, misalnya pada bagian finishing . enghalusan, pengecatan, dan pemberian pola/ornamen kac. patung dan binkai foto. KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan pada pembahasan di atas, maka pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Adanya masyarakat desa Nungnung yang terlatih dan mampu secara mandiri mengembangkan usaha pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah. Kesiapan industri rumah tangga pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca percah di desa Nungnung yang siap memasuki dunia usaha dan memasarkan . Terdapat peningkatan keadaan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa Nungnung. Badung melalui usaha pembuatan patung dan bingkai foto yang berbahan dasar kayu dengan ornamen kaca . Hambatan yang ditemui di dalam melaksanakan program ini adalah Sulitnya meminjam balai desa, karena terdapat berbagai kegiatan desa yang tidak bisa ditangguhkan, dan minat antusias warga juga relatif rendah sehingga diperlukan pemberian pemahaman yang lebih kepada masyarakat. DAFTAR PUSTAKA