Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis Supriatna1. Anis Sujana2 Institut Seni Budaya Indonesia Bandung Jl. Buahbatu no. Cijagra. Kec Lengkong. Kota Bandung, . ekosupriatna28@gmail. com, 2 anissujana619@yahoo. ABSTRACT The realization of the painting with the object of the liminal bodies of Tarawangsa dancers, the work of the researcher (Supriatn. was inspired by a traditional art cultural event. The painting aims to depict the time and space dimension of the ambiguity of Tarawangsa dancers. The dance is expressed on canvas, depicting the body movements of the dancers in a duality of spirit, where on the one hand the movements follow the rhythm of the accompaniment aesthetically, but at the same time the movements signify the unification with Nyi Pohaci, the Goddess whom they sanctify. The visual expression of this sacred dance is done through the Practice-led research method, which is the process of painting through interpretation from observation and appreciation of objects, based on a semiotic approach. This process is expected to model a method of painting creation based on cultural arts research. Keywords: Liminal body. Tarawangsa. Painting Communication. ABSTRAK Terwujudnya karya lukis dengan objek tubuh-tubuh liminal penari tarawangsa, hasil karya peneliti (Supriatn. terinspirasi dari sebuah peristiwa budaya seni tradisional. Lukisan yang dikreasi bertujuan menggambarkan kandungan dimensi ruang dan waktu dari ambiguitas para penari Tarawangsa. Tarian ini diekspresikan ke dalam kanvas, menggambarkan gerakan tubuh para penari berada dalam jiwa dualitas, yakni satu sisi gerakannya mengikuti irama pengiring secara estetik, namun dalam waktu yang sama gerakannya terisyarat tengah penyatukan diri dengan Nyi Pohaci, yakni sosok Dewi yang disucikannya. Ekspresi visual lukisan tarian sakral ini dilakukan melalui metode Practice-led research, yakni proses melukis melalui interpretasi atas pengamatan dan penghayatan terhadap objek, yang didasari pendekatan semiotika. Proses ini diharapkan dapat menjadi pemodelan metode penciptaan lukis berbasis riset seni budaya. Kata kunci: Tubuh liminal. Tarawangsa. Komunikasi Seni Lukis. PENDAHULUAN Sebuah dibaca apresian dengan berbagai tafsir, hingga menjadi wacana, yang kerap melahirkan dan pesan kreator dari apa yang menjadi tafsir ke dua, ke tiga dan terus berkembang. kegelisahan, atas fenomena yang dirasakannya. Winfried Nyyth dalam. Subahri . 0, hlm. Sebagai media ungkap gagasan maka lukisan . menyampaikan sebuah interpretan akan menjadi representamen, menjadi interpretan makna-makna. Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Supriatna. Anis Sujana kembali, menjadi representamen kembali Tarawangsa merupakan seni ormatan, dan seterusnya. Berkait dengan hal tersebut yakni salah satu kesenian yang melekat artikel ini menyampaikan interpretasi visual pada kegiatan ritual pertanian. Kesenian ini peneliti, terhadap penghayatan objek budaya merupakan warisan budaya agraris tradisional Tarawangsa. Adapun interpretasi hingga saat ini masih hidup di Kecamatan disampaikan berupa ekspresi lukisan, dengan Racakalong Kabupaten Sumedang. Diawal menggunakan medium konvensional akrilik pemunculannya sangat mungkin berhubungan di atas kanvas. Sekalipun sumber gagasan dari dengan ritual pemujaan, khususnya ungkapan seni tradisi, namun dalam hal ini lukisan yang rasa syukur atas panen yang melimpah. Hal dihasilkan kental bergaya seni rupa modern ini terindikasi dari kepercayaan masyarakat Barat. Rancakalong terhadap sosok Nyi Pohaci. Pengambilan gagasan dari objek tradisi, yang dipandang sebagai Dewi Padi, sehingga senapas dengan irama era pascamodernisme, yang berprinsif menghadirkan karya seni Tarawangsa. keunikan tersendiri, serta Berkait dengan paparan di atas Gufran, dengan kekhasan baru. Hal ini sejalan Erik Setiawan, dalam dengan Piliang . 2, hlm. , bahwa era . menyampaikan bahwa. Tarawangsa pascamodernisme memberi peluang pada pertama kali muncul sekitar Nagara Padang aneka bentuk tradisi, dengan aneka ekspresi, sebelum penyebaran agama Islam, hingga posisi, dan perlakuannya. Dalam kaitan ini saat ini Tarawangsa masih dipergunakan Piliang mempertegas bahwa era tersebut juga sesuai fungsinya sebagai bagian dari upacara telah memberi peran yang memperkuat, serta pertanian, seperti dalam upacara Ngalaksa memberi ruang yang memperkaya tafsir bagi di Rancakalong. Wuku Taun di Cikondang, seni tradisi. dan Miasih Bumi di Rawabogo. Sejalan Pengambilan Pertunjukan dengan Ruhimat . Tarawangsa sebagai Tarawangsa oleh peneliti, merupakan upaya representasi waditra seni pertunjukan dalam menafsir kedalaman dimensi penghayatan masyarakat Sunda juga ditemukan pada penari, yang diabadikan ke dalam ekspresi inskripsi atau naskah kuno Sewaka Darma Dalam hal ini peneliti mencermati yang ditulis pada abad ke-15 Masehi. Dalam kaitan lokasi penelitian, tim peneliti nada pengiring. Fikri, dan Noviana serta perlakuan pada objek telah menyimak dan menelaah langsung properti maupun objek ritual di sekitar arena pertunjukan, baik saat memulai maupun kejadian, namun lebih terfokus di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang - Jawa kesadaran estetik yang mengontrol gerakan Barat, yakni di empat desa . Desa Rancakalong. Desa Cibunar. Desa Garawangi dan Desa Asumsi serta terdapat tanda-tanda sikap transenden yang menunjukan adanya dialog imanen dengan sesuatu yang tak kasat mata. Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Tarawangsa Cijere. Berdasarkan Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis peneliti, prosesi seni Tarawangsa terdiri Rentetan ritual pertunjukan lain adalah beberapa rangkaian ritual di antaranya. pengasapan alat musik, yakni asap bakaran prosesi pembukaan berupa permohonan ijin kukusan . digarangkan ke badan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dewi Pohaci Kacapi dan tarawangsa. maupun karuhun . oh leluhu. , permohonan malam, aroma asap kemenyan juga menyebar ini dilapalkan pemuka adat, atau Seahu ke sekitar ruang pertunjukan, yang tidak . impinan Rombonga. Adegan lain adalah lama kemudian alunan musik kacapi dan gerakan sembah para penari yang ke arah tarawangsa bersahutan. Sementara itu pula benda ritual . bjek ritua. antara lain. sikap individu-individu yang hadir arena, dan parukuyan, sepasang boneka laki-laki dan maupun para penonton dalam keadaan perempuan setengah badan . , beberapa hening hikmat, helai daun Cordyline fruticosa . , mistis yang menggiring pada sugesti imajinasi seakan berkomunikasi dengan sosok Dewi kehadiran roh-roh yang diundang pada awal Pohaci, atau ada roh karuhun yang hadir di Dalam suasana membangun aura sekitar benda tersebut. Beberapa beberapa Pada tarian ritual Tarawangsa dilakukan adegan menarik tersebut, kemudian dijadikan para ronggeng, menurut Zoetmulder dalam gagasan untuk diekspresikan kembali ke Sujana . ronggeng adalah sebutan dalam lukisan. penari perempuan. Sebagai pengetahuan tambahan bagi Apa yang disaksikan peneliti pada para penari Tarawangsa, penulis, keberadaan benda ritual, menurut kekhasannya adalah mereka pada umumnya Sumardjo dalam Aini Loita . 8, hlm. berusia paruh baya. Berkait dengan hal ini merupakan konsep dualisme antagonistik Sumardjo . 4, hlm. menyampaikan, bahwa tarian jenis Ronggeng terkadang paradoksal, yakni keperempuanan dan kelaki- harus diperankan perempuan yang sudah Dalam kontek ritual Tarawangsa Kekhasan ini menandai adanya benda-benda alamiah dan benda budaya syarat khusus untuk jalannya pertunjukan. yang ditata di sebuah arena perlehatan, dapat Kekhasan dibaca sebagai pasangan Aukosmik laki-lakiAy dengan Aukosmik perempuanAy, atau simbol Seperti halnya disamapaikan peronggeng juga berperan sebagai Sujana . 2, hlm. bahwa yang berperan . , sebagai penari menjadikan dirinya sebagai medium merasuknya roh. Hal ini sejalan menjadikan kehidupan manusia harmoni dengan Caturwati dalam Lismartini . dengan alamnya. Makna tersebut merupakan salah satu tantangan yang menarik untuk Sunda pada masa lalu merupakan sosok dialihbahasakan ke dalam lukisan, bagaimana perempuan terhormat. Ia merupakan seorang kedalaman dimensi dapat diwakilkan pada syaman . dalam berbagai upacara objek-objek simbolik maupun sapuan warna. ritual, penasihat bagi masyarakat, dalam Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Supriatna. Anis Sujana merupakan dualitas khas penari Tarawangsa yang berada dalam sifat rangkap peran yang bersifat positif. dua, yakni. profan dan sakral. Sumardjo . 4, gerakan sederhana, intuitif dan cenderung . menyampaikan, bahwa. Auseniman berani sendirian ke ujung kesadarannya. Koreografi yakni didominasi gerakan mengayun-ayun selendang yang diapit jari, dengan gerakan ke memasuki wilayah incognita yang belum kiri dan ke kanan seirama pengiring. Berkait terpeta, di batas wilayah kesadaran dan dengan itu Sugiarta dan Galih . 0, hlm. ketidaksadaran yang kosong itu tiba-tiba ia . , menyampaikan bahwa gerakan-gerakan dapat memperoleh cahaya baru atau realitas sederhana . , merupakan ciri khas dari yang menjadi obsesinyaAy. tarian sakral, hal ini lebih mengutamakan pada keadaan tersebut berada pada ruang Begitu pun Stewart . Chapter liminal, yakni Kondisi Penari dengan jiwa yang berada . , menyampaikan, bahwa gerak intuitif sederhana merupakan ciri tarian komunikasi Nurislah. Putri menerangkan dengan Hyang Illahi, hanya mengandalkan . 2, hlm. Liminalitas adalah tahap ritme, tepuk tangan, pernapasan, dan gerakan fisik secara spontan, hal ini untuk mencapai AuantaraAy ketika orang tersebut akan terpisah Karena itu terdapat anggapan, dari ruang dan waktu . , bahwa para penari tersebut jiwanya telah tidak di sini dan juga tidak di sana, juga tidak dikuasai oleh sebuah enerji, yang seringkali berada di salah satu ruang. ambang trans, antara kesadaran dan Berarti dia Sementara itu David I Kertzer, dalam dianggap sebagai kekuatan di luar dirinya. Pada kondisi jiwa Arnold van Gennep . 9, hlm. penggunaan istilah rites para penari juga harus dapat mengontrol keharmonian gerak liminaries telah digunakan Arnold van Genep, tarinya sesuai Disamping kontrol pada dirinya, ritus-ritus liminal, para penari juga secara bersama sadar tahap ritus-ritus peralihan, yang dibaginya membentuk konfigurasi menjadi tiga bagian yaitu. ritus pra liminal, duduk bersingkuh pada empat sudut ritus liminal dan ritus post liminal. Sejalan arah mata angin, gerak tari memutar dengan dengan hal tersebut Turner dalam Nursilah, arah pergerakan searah jarum jam. Pada Putri . 2, hlm. menyampaikan adegan-adegan simbolik tersebut para penari bahwa terdapat tiga 3 fase yakni: Fase Pra- tampak dalam kondisi khusu menyatukan Liminal (Pemisaha. Fase pra-liminal. Fase jiwa dengan sosok dunia ruh. Adegan lain Liminalitas atau Perpindahan, pada fase ini saling bersalaman dan berpelukan dengan subjek mengalami suatu keadaan ambigu. ekspresi paradoks, yakni menangis dalam Fase Pasca Liminal atau reagregasi, yakni tahap penyatuan kembali dengan kehidupan Proses kekhusuan jiwa berada diambang Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 yang merujuk pada Dalam Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis Tarawangsa Fase-fase tersebut mengandung Rekonstruksi pola bloking para penari makna ambiguity dan paradox, yakni ia tengah Tarawangsa tersebut, khususnya dapat berada di Audunia nyataAy namun pada waktu yang sama juga berada Audi dunia nir nyataAy. diulang-ulang pada setiap pertunjukannya. Dalam kondisi tubuh liminal tertangkap idiom-idiom sehingga dengan koreografi yang diulang ulang dapat diindikasikan sebagai tatanan penari berupa ekspresi wajah, gestur maupun ritual yang wajib ada, dengan demikian dapat interaksi satu sama lain, yang dapat dibaca dipahami memiliki makna pesan khusus. sebagai rangkaian skenario ritual pertunjukan, pemaknaannya dapat telaah dalam Salah satu bentuk komunikasi visual simbolik, yang dapat dimaknai melalui sintesis adalah pada bagian ritual pembuka, yakni perspektif antropologi seni. Ahimsa dalam formasi para penari dilakukan yang duduk Rina Martiara dan Budi Astuti . 8, hlm. bersingkuh diploting dengan pola empat Berkait dengan bentuk formasi tersebut berbagai persfektif, di antaranya mengelompokannya sebagai. tekstual dan yg berciri . Merujuk pada Sumardjo . 4, hlm. pengelompokan tersebut, memandang bahwa bahwa pola empat dikenal dengan pembagian kesenian atau suatu pertunjukan tertentu, pasangan hulu yang bersifat sakral dan hilir merupakan sebuah teks yang dapat dibaca bersifat profan. Pembagian ini merujuk pada sebagai sebuah peristiwa. Teks yang dimaksud empat penjuru semesta, yang menandakan dalam pertunjukan Tarawangsa adalah tubuh- konsep mandala yang sudah diadopsi ke tubuh penari mencakup penampilan gerak- dalam kebudayaan sunda. Sementara itu gerakan berupa gestikulasi pose perorangan, pola koreografi diawali bergerak ke arah kiri belok melingkar sesuatu pola visual, yang dilakukan berulang- ke kanan, atau searah jarum jam. Dalam seni ulang dalam setiap pertunjukan, sehingga helaran di Jawa Barat dikenal dengan istilah mengisyaratkan sebagai simbol-simbol visual. Pergerakan melingkar searah jarum Guna memahami makna visual simbolik, jam dalam Vedicology India. adalah ajaran yang bergerak melingkar, yang disebut pradakshina, yakni Tarawangsa. Hindu dapat disintesiskan melalui merupakan simbolik perjalanan napak tilas pola bloking, serta bagaimana bagan alur kembali pada Sang Pencipta. pergerakan koreografi selama pertunjukan Sebagai catatan Pradakshina merupakan Kombinasi pola bloking dengan budaya pengaruh hindu pada kawasan Asia bagan alur tarian, kemudian dikonstruksi ke Tenggara, yang jejak ajaranya sampai ke ke dalam visualisasi gambar sketsa. Sehingga tanah Jawa. Mohammad Hasan . 1, hlm. dapat gambaran, bahwa korelasi gestur . menyampaikan Kerajaan pertama yang dengan alur gerakan koreografi, dapat ditafsir berkembang sejak abad ke-5 di Asia Tenggara maknanya berdasarkan tatanan budaya yang Palembang, yang juga merupakan pelabuhan Sriwijaya Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Supriatna. Anis Sujana utama, yang kerap didatangi pedagang India mengenali Tarawangsa sebagai inspirasinya, dan Tiongkok. Mereka membawa pengaruh secara mudah merasakan getaran dari lukisan ajaran Hindu-Budha, hingga ke wilayah kerajaan Jawa. Simbolisasi gerak tubuh dalam tarian Tarawangsa. METODE salah satu gagasan transformasi bentuk, ke Penelitian ini menggunakan metode dalam karya seni lukis. Hal ini tidak hanya kualitatif, dengan berpijak pada penelitian practice-led research, yakni untuk mendapatkan bentuk, tetapi ekspresi narasi juga ada suasana yang menyertai Berikut ini beberapa tanggapan memahami esensi pesan dari objek, juga kesan narasi dalam karya-karya berobjek seni memahami dalam pembacaan makna sandi Tarawangsa yang diwujudkan peneliti, di sandi objek yang dianggap penting, untuk antarnya: oleh Diyanto dalam Supriatna . 2, kemudian diinterpretasi ke dalam bentuk . , menyampaikan bahwa. Dengan kata lain, ekspresi lukisan karya-karya persepsi visual peneliti. Sejalan keterkaitan dengan realitas ambang, ruang dengan hal tersebut Mykely and Nimkulra antara . , di mana tubuh mengalami . 8, hlm. menyampaikan, bahwa esensi atau berada dalam suatu kondisi tertentu, dari pendekatan practice-led research, adalah yang terlepas dari dimensi ruang dan waktu. adanya hubungan antara peneliti sekaligus Secara harfiah kerap merujuk pada kenyataan seniman atau desainer dengan proses artistik yang terjadi dalam ritus . alam konteks dan produksi artefak sebagai sasaran refleksi. Tarawangs. Dengan kata lain, liminalitas Dalam menerapkan metode preactice- adalah ruang di mana dialog kritis seputar led research ini, kehadiran serta keterlibatan problematika gender, ingatan . , rima peneliti pada peristiwa seni Tarawangsa atau gerakan dan representasi itu sendiri sangat penting, agar dapat mengkaji perilaku terkait spontanitas sapuan kuas . rush strok. , objek dan dan imaji figuratif dapat dibangkitkan. Pada dibaca sebagai entrypoint dalam menangkap bagian lain Arthur S Nalan dalam Supriatna gagasan visual objek beserta atmosfirnya ke . 2, hlm. Sejumlah lukisan dalam ekspresi lukisan. tanda-tanda terkait, agar yang diciptakannya penuh pesona warna. Berkait dengan hal di atas peneliti meskipun bukan realisme tetapi mengambil berusaha mendekat dan masuk ke dalam Aukesan-kesan visual yang subtilAy, di mana situasi masyarakat, kegiatan objek yang diteliti, pemiuhan warna dengan kontur yang masih guna memahami aktivitas objek secara detail Bagi yang tidak mengenali upacara maupun umum, serta merasakan Tarawangsa di Rancakalong Sumedang, agak yang sesungguhnya, sulit menyelami jiwa tubuh tubuh Tarawangsa karya Supriatna Dengan demikian, proses mentransformasi Tetapi bagi yang Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 termasuk mengikuti Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis objek ke dalam visual, didasari pemahaman dan suasananya, maka peneliti perlu hadir dan penghayatan empiris. secara langsung di tengah pertunjukan untuk Data-data empirik berupa visual gerak penari, serta memperhatikan objek dan merasakan suasana data suasana yang tangible maupun intangible. Meminjam proses kreatifnya digarap satu (Supriatn. dikenalkan seorang psikolog ekologis James dari 2 orang peneliti sesuai kompetensinya. Gibson dalam Sidik. Damayanti. Mutiaz. Hendriyana . 8, hlm. & Grahita . , menyampaikan bahwa bahwa AuKreativitas konsepsual merupakan konsep affordance sebagai segala sesuatu proses kreatif yang bersifat personal, ada sebuah lingkungan bagi seseorang dalam Artinya menjadi hak dan kewenangan kreatornya mempersepsi secara visual, dan sebagai hasil proses pengembaraan dan kemudian ditetapkan sebagai pendekatan daya kreativitasnyaAy. Sekalipun karya lukis Merujuk pada konsep tersebut dalam seorang tim peneliti, lebih konteks Tarawangsa, peneliti mendapatkan bersifat ungkapan subjektif, namun dalam informasi-informasi secara visual, antara lain bagaimana bentuk arena, tata letak properti objektivitas, maka dalam menginterpretasi serta komposisi bloking penari, sehingga data dilakukan pendekatan praktis, melalui dapat mempersepsi makna kejadian dan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Teori suasana lingkungannya. yang dikreasi cara ini ini digunakan agar mendapatkan metode Sebagai gambaran umum suasana di pembacaan relasional objek, antara tanda, lapangan, yakni ritual tarian Tarawangsa acuan, interpretan, yang diimplementasikan pada elemen rupa . aris,warna, tekstur yakni dimulai sekitar pukul 20. maupun bidan. menjadi wujud lukisan, sampai kurang lebih pukul 04. 00 pagi hari. yang disajikan satu lukisan. Per satu lukisan Sementara itu arena pertunjukan sebelumnya menggambarkan segmen peristiwa. ditandai dengan peletakan properti benda- benda ritual, yang ditata di salah satu sisi Sebelum dimulai para penari selalu HASIL DAN PEMBAHASAN melakukan gestikulasi gerak sembah, mohon Memotret Suasana ijin pada sosok goib yang dihormati dengan Memotret atau merekam suasana di bloking tubuh menghadap properti benda- setiap tahapan-tahapan peristiwa merupakan benda ritual. Sementara itu di sekitar arena hal penting dalam menciptakan telah diselimuti asap kemenyan. karena akan memberi gambaran suasana Gestikulasi seperti apa yang ingin diwujudkan. Berkaitan memulai pertunjukan menjadi salah satu dengan itu guna mendapatkan mood selama bagian objek penting dalam gagasan kreasi. proses kreasi Dalam hal ini peneliti berusaha menangkap terhadap penghayatan objek Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Supriatna. Anis Sujana Penghayatan Bentuk Peneliti utama yang juga bertindak gagasan bentuknya didasari elemen dasar estetik, agar tampilan karya secara formalistik nyaman dilihat. Dharsono dalam Salim . 2, . , menyampaikan bahwa, kualitas Gambar 1. Suasana Sebelum Menari (Sumber: Supriatna, 2. pancaran energi dualitas para terutama pada ekspresi mimik muka serta reflek gerak-gerak tubuh, dan mempersepsi bahwa ritual ini dimulainya proses penyatuan penari dengan dunia ruh, memasuki fase Harmoni alunan dua alat musik kecapi dengan tarawangsa yang dimainkan secara medley, lambat laun seperti menghipnotis individu-individu yang hadir, dan terlarut Sehingga dalam kendali bawah sadar tergerak yakni gerakan spontan dengan gerak seadanya mengikuti Pengalaman pengalaman peneliti ketika bekreasi, bahwa penghayatan harmoni, gerak serta penjiwaan rohani menjadi penting. Namun demikian pengekspresian suasana pada lukisan akan berbeda-beda di setiap lukisannya, hal ini tergantung pada kedalaman kesan pada suasana yang ditangkap peneliti pada setiap Ekspresi akan berhenti, setelah ungkapan visual dirasa sudah mewakili suasana yang diinginkan . , keselarasan . , kesetangkupan . , . Elemen-elemen kualitas pokok tersebut setidaknya menjadi pertimbangan proses penggarapan objek, dalam menghadirkan simbol-simbol visual yang menunjukan objek tubuh-tubuh liminal para penari tarawangsa. Walau demikian dalam penuangan ekspresi tidak sepenuhnya memenuhi ungkapan formalistik saja, tetapi pertimbangan isi pesan menjadi penting, sebagai ungkapan perasaan dan interpretasi kreator, sesuai dengan subjek matter yang Pencermatan peneliti pada pertunjukan Tarawangsa, lebih terfokus kepada para penari, khususnya penari wanita dalam koreografinya, serta respon tubuh dalam proses penyatuan jiwa terhadap alam mistis di luar kekuatan dirinya. Pengapresiasian dan pembacaan kode tubuh-tubuh penari menjadi sangat penting untuk dialihkan ke dalam bentuk visual. Dalam hal ini tubuh menjadi media para penari, dalam menyampaikan pesan seni sebagaimana narasi pertunjukanya, yakni ketika tubuh secara visual mengilustrasikan sebuah komunikasi dengan dirinya sendiri, maupun Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 lawan komunikan lainnya, baik Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis terhadap para sesepuh rombongan, sesama RWD dengan bahasa rupanya penari, penonton dan maupun terhadap yang lebih mementingkan pesan, ceritra, sosok tak kasat mata, yang dipercaya hadir di tengah-tengah pertunjukan. Sebagai kreator dalam menjiwai tarian. Komunikasi gerakan-gerakan simbolik melakukan penghayatan berupa respon tersebut di atas, dilakukan dengan berbagai gerak estetik pada nada pengiring saat bentuk gestur koreografi, misalnya. pertunjukan berlangsung, sembah, gerakan tari saling berhadapan, gerakan transenden secara intuitif, dilanjuti membentuk formasi memutar, perlakuan dengan pembuatan sketsa yang di dalamnya pada properti, antara lain menari sambil membawa benda ritual, ayunan selendang. Begitupun saat proses kreasi visual serta interaksi sentuhan bagian tubuh, antara Kreator merekonstruksi kembali gerak tarian lain patepa-tepa yakni saling tempel telapak berdasarkan ingatan, foto maupun rekaman tangan sesaat, serta saling bersalaman. audio visual, seolah-olah hadir kembali di Mewujudkan dengan meniru Tarawangsa ke dalam lukisan, tidak diartikan Berbekal pengalaman estetik tersebut, tubuh upaya menangkap sebuah momen gerak kreator sesekali menjadi model. menjadi diam dalam bentuk gambar dwi matra. penghayatan gerak tubuh dibarengi olah Namun sesungguhnya termuat penghayatan kreator terhadap suasana perkara, dalam tangan, kaki, kepala, maupun tubuh secara ruang dan waktu yang berbeda. Variasi Ekspresi otot-otot gerakan otot tersebut berdasarkan penghayatan gerakan tari, yang melalui capaian teknik medium akrilik, enerjinya disalurkan melalui tekanan-tekanan sapuan kwas, sehingga diharapkan impresi Prosesnya kedalaman, sapuan kwas dinamis, serta penyesuaian gaya. Sehingga dinamika lukisan enerji serupa terpantul pada objek lukisan. Dengan demikian proses transformasi tidak hanya tertuju pada ungkapan objek gerakan-gerakan tari utama, namun juga pada ruang-ruang lain ke dalam wujud dua dimensi, tidak sekedar yang mengisyaratkan adanya narasi-narasi menyapukan kwas, namun juga melibatkan pendukung, yang terekam pada lapisan- dinamika penghayatan gerak tubuh dan lapisan kwas. Sejalan dengan Primadi Tabrani memori melalui komunikasi intrapersonal, dalam Ismurdiyahwati . Media yang bisa ber-cerita adalah bermatra waktu. mempraktikan dan mengungkapkan apa yang musik, drama, tari, sastra. Hal ini disebabkan menjadi gagasan. dari peristiwa hidup karena sistem RWD (Ruang-Waktu-Data. maka ia Penanda juga bisa bercerita dengan memanfaatkan Guna menjebatani pengalihan ekspresi cara wimba dan tata ungkapannya, bukan dari tarian live ke dalam bentuk lukisan. Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Supriatna. Anis Sujana sebagai rujukan-rujukan penting. Tafsir makna yang telah dirumuskan menjadi bahan pertimbangan dalam menginterpretasi visual, baik dalam memilih teknik, medium, maupun Sehingga dibalik karya yang terwujud memiliki narasi yang berkorelasi dengan Tanda-tanda yang melekat pada objek Gambar 2. Ritual Persiapan (Sumber: Supriatna, 2. penari perempuan, menjadi fokus perhatian utama, mengingat para penari ini subjek yang dominan menjalankan skenario diperlukan adaptasi bentuk, yang bisa pertunjukan ritual Tarawangsa. menghubungkan pokok pikiran dari ekspresi Peneliti menginvestigasi relasi tanda- seni antara kedua matra yang berbeda tersebut. tanda baik secara langsung pada objek. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan maupun secara tidak langsung melalui gambar terhadap tanda-tanda penting, yang bisa foto dan video, untuk meyakinkan kembali dijadikan relasi antar kedua media seni, penanda objek yang dicermati, di antaranya. khususnya ketika dalam menginterpretasi korelasi ekspresi mimik muka dengan korelasi seni pertunjukan ke dalam bentuk visual, gerakan tubuh, serta dengan nada pengiring. dengan ciri ciri yang sama. Begitu juga korelasi hand property maupun Tanda menurut Charles S. Pierce dalam benda ritual, dengan gestur interaksi sesama Sasmita . 7, hlm. adalah sesuatu yang penari, serta korelasi dengan penanda waktu bagi seseorang adalah mewakili sesuatu Pemaknaan makna tanda ini yang lain dalam beberapa kapasitas. Secara yang kemudian menjadi rujukan dalam proses sederhana tanda dapat diartikan sebagai kreasi, baik dalam menentukan pilihan objek, sesuatu yang bisa ditangkap dan dirasakan penuangan warna, maupun gaya lukisan yang dengan panca indra. Dalam kaitan menangkap Tarawangsa, tercermin pada penanda-penanda tertentu, baik yang melekat pada diri penari maupun Transformasi Visual Transformasi visual yang dimaksud sesuatu di luar dirinya. Tarawangsa ini, adalah pemindahan bentuk ekspresi tersebut kemudian ditafsir melalui relasi . dari kinesik bermatra 3 dimensi triadik semiotika. Dalam hal ini Pierce membagi . ke dalam ungkapan lukisan tanda berdasarkan relasi simbol, objek dan bermatra 2 dimensi, dengan gagasan tema. Pada proses analisis makna, di tubuh tubuh liminal para penari Tarawangsa. samping mempertimbangkan kognitif umum. Berikut ini adalah analisis 1 . dari 10 namun juga memperhatikan kearifan lokal . lukisan yang mewakili, mengenai Penanda-penanda Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis objek penari perempuan yang dipilih tidak sekedar sosok perempuan, namun perempuan yang berperan sebagai penghubung dunia alam lelembut dengan dunia manusia. Hal ini diinterpretasi kreator ke dalam bentuk visual yang impresif, yakni berupa objek perempuan dalam bentuk samar tanpa detail. Salah satu ciri karakter kuat pada Gambar 3. Lukisan I (Sumber: Supriatna, 2. subject matter dalam menjalankan tari ritual, adalah ekspresi raut wajah para penari selama pertunjukan, yakni pada umumnya menampakan teu nyari, yakni mimik muka pengamatan liminal tubuh-tubuh tanpa sari atau ekspresi dingin nyaris tanpa para penari Tarawangsa, terhadap wujud senyum, serta sesekali ekspresi mata tampak kreasi yang ditinjau berdasarkan pendekatan semiotika triadik Peirce pada objek. representamen rheme yakni tanda penafsiran Lukisan I proses kreatif berjudul AuTubuh- kebiasaan-kebiasan Tubuh Liminal TarawangsaAy karya Supriatna, dikreasi tahun 2022, berukuran 80 cm X 100 yakni kebiasaan manusia yang tengah khusu cm, medium akrilik pada kanvas. sembahyang, kerap memejamkan mata seolah Subject matter atau pokok gagasan berhadapan dengan Sang Pencipta. Ekspresi pada lukisan I di atas, adalah. tubuh-tubuh bentuk wajah tanpa detail mata mulut, hidung penari tarawangsa, yang diwakili ikon sosok wanita. Piliang ( 2018, hlm. dan sebagainya, namun ekspresi menyampaikan definisi ikon adalah suatu diwakilkan pada siluet kepala dengan gestur penghayatan harmoni pada irama. yang mewakili hubungan kesamaan dan kemiripan . eperti copian obje. tidak Pengamatan peneliti pada subject matter Ikon pada lukisan yang dibahas ini tidak luput pula pada properti utama para dihadirkan dalam bentuk figur-figur manusia penari berupa selendang. Gerakan dasar Hal tersebut dapat terlihat pada struktur bentuk maupun kewajaran gestur terlihat sangat sederhana, yakni dengan yang mengarah pada karakter feminisme cepitan jari jemarinya. Ikon-ikon ini menjadi simbol kemudian diayun-ayunkan seirama yang mewakili objek penari Tarawangsa di tangan kiri dan berulang-ulang Korelasi pemilihan objek ini dengan bentuk gerak yang sama. Perlakuan adalah berkait dengan pakem pertunjukan pada selendang memberikan tanda, bahwa selendang disamping membantu keindahan berusia paruhbaya. Dalam kaitan dengan gerak, juga merupakan wahana penyaluran Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Supriatna. Anis Sujana ekspresi kelembutan maupun gerak, saat merespon nada pengiring maupun perubahan suasana. pertunjukan Tarawangsa. Pada objek-objek yang dibahas ini, dominan disentuh dengan Ikon selendang sebagai penanda hand sapuan kwas Wet On Wet, yakni teknik property penari divisualkan pada detail gestur sapuan basah di atas cat basah. Teknik ini jemari yang membentuk gerak ukel, sambil memberi efek warna satu dengan warna lain memegang properti selendang, sebagai isyarat pada pertemuan sapuan akan bercampur, decent atau penanda umum . yang menimbukan gradasi ekpresif, bahkan muncul mudah dikenali, yakni cipratan atau lelehan. Efek sapuan tersebut penari perempuan Penanda adakalanya disengaja atau dibiarkan sebagai selendang menandai relasi ekspresi simbolik bagian dari estetik memperkuat konsep yang sebagai sayap, awan atau berkait dengan hendak disampaikan. Kreator memandang suasana berada dunia atas . , yang teknik ini dilustrasikan dengan cara diayun, dan digelar AuTubuh-Tubuh Liminal TarawangsaAy yang menjadi bagian dari koreografi. lebih mengedepankan isi dibanding bentuk. cocok diterapkan pada lukisan Arah sapuan kwas Aspek Sapuan Kwas pada lukisan tersebut diungkapkan dengan sapuan ke berbagai Sapuan kwas . rush strok. merupakan arah, sehingga dibeberapa sisi-sisi bidang hal yang penting dalam menciptakan berbagai tampak tidak beraturan, menandai dinamika gaya, sesuai dengan konsep lukisan yang pergerakan objek. Berbagai metode sapuan kwas disampaikan Samuels . di antaranya. Selain sapuan Wet On Wet. Kreator juga menerapkan penumpukan warna, teknik kuas kering, scumbling. Sapuan rata, teknik wet to dry dan dry to dry, sehingga Pointillism. Cipratan. Pencampuran gradasi, cat akrilik sebagai medium yang bersifat dan Wet on Wet. transfaran, ketika disapukan memberi efek Secara umum ekspresi pada lukisan AuTubuh-Tubuh Liminal TarawangsaAy blok-blok kedalaman dan tumpukan warna berlayer-layer . , sekaligus menutup bentuk bentuk yang dikoreksi, maupun yang tidak dipilih kwas persegi, dengan ukuran relatif besar, namun masih terlihat jejaknya. Efek sapuan sehingga tidak fokus ke detail objek, dengan kwas dengan tumpukan warna dinamis, ekpspresi objek tidak ditunjukan pada satu merupakan indeks yang berkaitan jejak pikiran tokoh, usia atau kerupawanan. kreator saat berkreasi. Hal ini Perihal indeks Vera menandai relasi simbolik bahwa ketika di . 2, hlm. menyampaikan adalah tanda arena pertunjukan, objek bukan lagi semata- yang sifatnya tergantung dari sifat keberadaan mata seseorang perempuan dalam wujud suatu denotasi. Atau dengan kata lain aslinya, tetapi menjadi sesuatu karakter yang memiliki keterikatan dengan fenomenal atau memediasi pada sosok tak kasat mata Nyi eksistensial di antara representamen . Pohaci, sebagaimana tuntutan dan tatanan Relasi idexical lapisan sapuan kwas pada Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis lukisan yang dibahas ini, merupakan teknik malam adalah waktu pelaksanaan pertunjukan dan yang menandai adanya proses dialog diri Tarawangsa. Hal ini berkorelasi dengan kreator pada objek, yakni keterikatan dengan konsep interpretan merupakan dicisign yakni peristiwa gerak tubuh objek para penari relasi tanda yang sesuai dengan kenyataan. Tarawangsa, yang terus bergerak seakan masih atau sedang berlangsung di hadapan mata. Perubahan-perubahan bentuk dan suasana malam adalah gelap dan Berkait dengan penataan komposisi, dalam ruang dan waktu yang berbeda pada sekalipun objek tampak lebih muncul, namun satu adegan. Proses perubahan ini jejaknya antara sapuan warna latar belakang dengan terekam di setiap tumpukan sapuan kwas. sapuan bentuk objek, diekspresikan dengan kesatuan visual, yakni dengan menggunakan Aspek Warna teknik sapuan cat setengah basah, antara Warna merupakan elemen visual kerap sapuan sebelumnya dengan sapuan baru, yang menjadi pertimbangan, dalam menyampaikan pada bagian tertentu dua cat basah menyatu, makna simbolik. Karen B. Schloss1,2. Laurent sehingga muncul irisan warna campuran di Lessard. Charlotte S. Walmsley and Kathleen antara keduanya saling menjebatani kedua Foley . 8, hlm. menyampaikan bahwa. nada yang berlawanan tersebut. Warna adalah salah satu dari banyak fitur sesuatu informasi yang abstrak. Teknik penyatuan warna memunculkan efek samar pada beberapa bagian objek. Hal ini dapat dilihat di antaranya. pada sebagian ukuran, tekstur, orientasi, dan bentuk. Namun, tangan objek paling kiri, sebagian kepala objek warna dapat berfungsi memberi isyarat, yang tengah, pada selendang objek paling kanan. dapat diamati dengan cepat dari kejauhan. Pembiasan sebagian warna objek yang senada dan memberikan informasi yang bermakna dengan latar belakang tersebut, merupakan yang tidak bergantung pada struktur spasial. upaya memberi kesan visual unity. Pada sisi Warna yang diekspresikan dalam lukisan lain pembiasan tersebut menandai korelasi Tubuh-Tubuh Liminal Tarawangsa, cenderung simbol ambiguitas penari, dalam kesadaran diungkapkan berupa latar belakang dengan dualisme, yakni kondisi liminalnya jiwa nada monokromatik dominan hijau gelap. penari pada alam nyat dan transenden. Kelompok warna tersebut termasuk kelompok bersuhu dingin, ekspresi pada Nada dominan warna hijau-biru gelap objek disajikan dengan warna analogus berkesan temperatur dingin. Pati Molica berdominan nada cerah, dengan komposisi menyampaikan: Temperatur warna Dengan penampakan objek lebih menonjol. Warna gelap dan dingin merupakan saat melihat warna atau kumpulan warna. Umumnya. Sinsign, yakni penanda sesuai eksistensi aktual dianggap bersuhu hangat, sedangkan hijau, peristiwa sebenarnya, yakni biru, dan ungu dianggap dingin. Dominasi Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Supriatna. Anis Sujana Tabel 1. Tranformasi Bentuk dari Seni Tarawangsa ke Bentuk Visual Transformasi Visual . Seni Tarawangsa Objek: Makna Penari perempuan Ikon: Penari perempuanGestur Penari Ekpresi Penari: mimik Sapuan warna lembut dinamis Impresif-ekpresif representamen rheme: komunikasi transenden, dengan sosok yang Penumpukan warna dominan monokromatik: Hijau gelap- biru Sapuan kwas : Impresif-ekpresif dicisign: suasana Ikon selendang Relasi ekspresi simbolik sebagai sayap, awan, atau suasana berada dunia atas . Ekspresi Bentuk Impresifekpresif Gerak intuitif Suasana: Malam sakralmistis Properti: Selendang Bentuk impresif gelap-dingin ini, memberi ruang Simbolik: mediator pada Nyi Pohaci Simbolik: Sakraltransenden, kontemplatif, misteri, terhadap eksistensi kearifan lokal. Dalam prosesnya kreator perlu memahami makna diasosiasikan dengan tautan warna hutan latar belakang objek yang digarap, setidaknya belantara atau gunung tropis, yang memiliki secara langsung hadir melihat dan mencermati misteri isi kedalaman yang tidak nampak di Pemilihan warna gelap pada latar kaitannya dengan artefak panggung maupun belakang menandai relasi simbolik pada suasana perubahan ruang dan waktu. Hal ini suasana sakral-transenden, diperlukan agar pada saat proses kreasi juga dan misteri. Warna gelap dan bersuhu dingin cenderung membawa pada suasana atmosfir saat berlangsungnya pertunjukan, hal perenungan diri, meditatif, dan menjauhi hal- ini sebagai bagian gagasan yang diekspresikan. hal yang bersifat duniawi. penghayatan, bagaimana kondisi Merujuk pada pengalaman menangkap suasana yang dialami secara langsung saat pertunjukan Tarawangsa, maka hal yang SIMPULAN perlu disiapkan adalah alat rekaman, baik Mewujukan seni lukis dengan gagasan camera foto maupun video recorder. Penyiapan objek yang bersumber dari budaya seni ini menjadi bagian penting yang perlu sebagai pengganti mata yang terbatas. Hal ini perlu Jurnal Panggung V35/N2/06/2025 Transformasi Visual AuLukisan Tubuh LiminalAy Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis berkait dengan objek yang diteliti, yang bersifat sakral kerap terjadi peristiwa- terdapat juga data penting bagi penelitian peristiwa di luar skenario, yang adegannya lain dalam perspektif yang berbeda terjadi secara spontan, dan tidak mungkin Sehingga keberadaan alat rekam dapat menjadi alat bantu untuk melihat *** kembali peristiwa yang luput dari pandangan Berkaitan lapangan selain pentingnya alat rekam, juga DAFTAR PUSTAKA