DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Representasi Kepemimpinan Tokoh Raja dalam Kajian Kualitatif dan Semiotik Visual (Film The King 2. Adinda Rizqi Faradisa, 2Diva Arlinda Dwi Ariyani, 3Erindah Dimisyqiyani, 4Amaliyah. Gagas Gayuh Aji, 6Rizky Amalia Sinulingga Manajemen Perkantoran Digital. Fakultas Vokasi. Universitas Airlangga. Surabaya. Indonesia *Corresponding author : amaliyah@vokasi. E-mail : adinda. faradisa-2023@vokasi. ABSTRAK Artikel ini membahas representasi kepemimpinan tokoh raja dalam film The King . melalui pendekatan kualitatif dan analisis semiotik visual. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana konstruksi visual, simbol, dan narasi membentuk citra Henry V sebagai pemimpin yang kompleks, menggabungkan legitimasi formal, kharisma personal, kemampuan militer, serta integritas moral. Metode penelitian menggunakan analisis kualitatif deskriptif yang mendalami makna-makna yang muncul dari tanda-tanda visual dalam film, termasuk kostum, atribut kerajaan, ekspresi wajah, dialog, dan pencahayaan. Pendekatan semiotika Roland Barthes digunakan untuk menguraikan makna denotatif, konotatif, dan mitos dari setiap tanda, sehingga terlihat hubungan antara simbol, konteks budaya, dan ideologi yang membentuk citra kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi Henry V menekankan keseimbangan antara kekuasaan formal, tanggung jawab moral, dan kharisma personal, sehingga kepemimpinan efektif dipahami bukan hanya dari kekuatan militer atau posisi resmi, tetapi juga dari kualitas etis dan humanis. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi kajian komunikasi visual, film, dan budaya dengan menunjukkan bahwa media audiovisual dapat membentuk persepsi publik tentang nilai-nilai kepemimpinan, legitimasi, dan moralitas. Kata kunci : Representasi Kepemimpinan. Semiotik Visual. Film Sejarah. Kharisma Raja. Simbol Budaya. Konstruksi Media ABSTRACT This article discusses the representation of royal leadership in the film The King . through a qualitative approach and visual semiotic analysis. This study aims to understand how visual constructions, symbols, and narratives shape the image of Henry V as a complex leader, combining formal legitimacy, personal charisma, military prowess, and moral integrity. The research method uses descriptive qualitative analysis that explores the meanings that emerge from visual signs in the film, including costumes, royal attributes, facial expressions, dialogue, and lighting. Roland Barthes' semiotic approach is used to decipher the denotative, connotative, and mythical meanings of each sign, revealing the relationship between symbols, cultural context, and ideology that shape the image of leadership. The results show that the representation of Henry V emphasizes a balance between formal power, moral responsibility, and personal charisma, so that effective leadership is understood not only in terms of military strength or official position, but also in terms of ethical and humanistic qualities. This study contributes to the study of visual communication, film, and culture by showing that audiovisual media can shape public perceptions of leadership values, legitimacy, and morality. Keywords: Leadership Representation. Visual Semiotics. Historical Film. Royal Charisma. Cultural Symbols. Media Construction Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. PENDAHULUAN Kepemimpinan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang selalu hadir dalam berbagai dimensi organisasi, hingga kehidupan sehari-hari. Pemimpin mengarahkan kebijakan, tetapi juga menjadi simbol nilai-nilai tertentu yang (Nasrullah, 2. Konsep kepemimpinan telah lama menjadi kajian penting dalam ilmu sosial karena perannya yang krusial dalam membimbing individu maupun kelompok menuju pencapaian tujuan Secara umum, kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai posisi formal dalam struktur organisasi, melainkan juga sebagai kemampuan untuk memengaruhi, memberi arah, serta membangun makna bersama (Northouse, 2. Pandangan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan fenomena sosial yang sarat nilai, simbol, dan makna, bukan sekadar praktik kekuasaan yang bersifat administratif. Nasrullah . menambahkan bahwa kepemimpinan kekuasaan, ideologi, dan budaya yang simbol-simbol kepemimpinan, seperti pakaian, atribut, bahasa tubuh, hingga narasi yang (Ramadhana & Dewi, 2. Dalam konteks global, dinamika kepemimpinan semakin penting karena perubahan sosial, politik, dan budaya yang cepat. Dunia yang semakin terhubung menuntut gaya kepemimpinan yang fleksibel, adaptif, dan berorientasi pada etika. Pemimpin tidak hanya dituntut untuk mengelola organisasi atau negara, tetapi juga untuk menjaga legitimasi, mengelola konflik, serta membangun tatanan sosial yang berkeadilan (Day et , 2. Di sinilah pentingnya melihat kepemimpinan tidak hanya dari sisi praktik empiris, tetapi juga dari representasi budaya yang membentuk imajinasi publik mengenai sosok pemimpin ideal. Media, khususnya film, memainkan peran penting dalam mengonstruksi wacana kepemimpinan. Film dapat dipahami sebagai teks budaya yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sosial, politik, dan moral yang hidup di Representasi kepemimpinan dalam film memberi gambaran kepada penonton tentang bagaimana pemimpin seharusnya bersikap, menghadapi dilema, serta mengambil keputusan (Kress & Van Leeuwen, 2. Dengan demikian, film pengalaman sosial sekaligus pembentuk Kajian kepemimpinan melalui film juga relevan dengan pendekatan penelitian kualitatif, khususnya semiotik Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali makna di balik tandatanda visual, gestur tubuh, ekspresi wajah, kostum, hingga pencahayaan yang digunakan dalam membangun citra pemimpin (Creswell, 2. Penelitian menunjukkan bahwa film bukanlah media komunikasi yang netral, melainkan sarat makna verbal dan nonverbal, sehingga dapat menjadi sumber data yang kaya untuk menggali dinamika kepemimpinan melalui metafora, simbol, serta narasi visual (Aoki & Dos Santos, 2. Fenomena ini penting karena masyarakat sering kali menginternalisasi gambaran pemahaman mereka tentang pemimpin di dunia nyata. Kepemimpinan berkaitan dengan isu moralitas dan Seorang pemimpin tidak hanya diukur dari sejauh mana ia berhasil membawa kelompok mencapai tujuan, tetapi juga dari bagaimana ia menegakkan nilai keadilan, membangun kepercayaan. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. serta menjaga stabilitas sosial. Gaya kepemimpinan partisipatif dan humanis komitmen, dan solidaritas anggota tim, keterlibatan kerja bawahan (Zhou, 2. Dalam konteks kontemporer, konsep kepemimpinan etis dan transformatif semakin relevan, terutama menghadapi konflik politik, krisis lingkungan, dan ketidaksetaraan sosial. Oleh karena itu, pembahasan kepemimpinan melalui lensa budaya populer, seperti film, penting untuk menghadirkan refleksi kritis mengidealkan sosok pemimpin. Film sebagai salah satu bentuk media populer memiliki kekuatan unik Melalui bahasa visual, narasi, dan simbol-simbol sinematik, film membentuk cara pandang masyarakat terhadap figur pemimpin. (Kezia & Ahmadi, 2. menunjukkan bahwa representasi tokoh perempuan dalam film Mulan . 8 dan 2. berbeda signifikan, mencerminkan pergeseran nilai gender. Studi ini memperlihatkan bahwa film bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana ideologis yang merefleksikan dan membentuk norma sosial (Afrina Sari et al. , 2. Representasi kepemimpinan dalam film menyoroti bagaimana simbolsimbol tertentu yaitu mahkota, pedang, kostum, pencahayaan, ekspresi wajah digunakan untuk membangun citra pemimpin ideal (Ramadhana & Dewi. Pangeran Hanry atau biasa dipanggil Hall menegaskan bahwa representasi selalu terkait relasi kuasa (Nasrullah, 2. , sehingga tokoh pemimpin dalam film adalah hasil disampaikan kepada penonton. Salah satu film yang relevan adalah The King . , karya David Michyd, yang menceritakan transformasi Henry V dari pangeran muda yang enggan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 memikul tanggung jawab menjadi raja Film ini menampilkan simbol-simbol seperti mahkota untuk legitimasi, pedang untuk kekuatan, dan pencahayaan suram untuk konflik batin (Afrina Sari et al. , 2. Selain transformasi pribadi, film ini menyoroti relasi pemimpin-pengikut, menampilkan Henry V sebagai sosok karismatik sekaligus manusiawi yang menghadapi dilema moral dan politik (Liow et al. Semiotik visual dalam film memungkinkan penonton menangkap makna ideologis di balik setiap elemen pengalaman nyata, moralitas, dan tanggung jawab, bukan semata-mata legitimasi formal (Ramadhana & Dewi. Namun, kepemimpinan dalam film umumnya masih berfokus pada transformasi karakter, gaya kepemimpinan, atau representasi otoritas politik semata. Kajian yang mengaitkan representasi Sustainable Development Goals (SDG. , masih terbatas. Padahal. SDGs 16 yang menekankan perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh memiliki kepemimpinan etis dan humanis. Menghubungkan kepemimpinan dalam film dengan SDGs dapat membuka perspektif baru yang lebih relevan dengan kebutuhan global saat ini (Ramadhana & Dewi, 2. Analisis terhadap The King dengan perspektif tersebut memberi kontribusi ganda. Pertama, memperkaya kajian komunikasi visual, semiotik, dan studi budaya. Kedua, mendukung pencapaian SDGs 16, yang menekankan pentingnya kepemimpinan adil, inklusif, masyarakat damai dan berkelanjutan P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. (Afrina Sari et al. , 2. Tokoh Henry V memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab moral, keadilan, dan Film ini menjadi sumber inspirasi untuk merumuskan konsep kepemimpinan yang lebih manusiawi dan relevan dalam mendukung agenda Praktik kepemimpinan etis, seperti transparansi legitimasi kelembagaan serta stabilitas sosial (Grobler & Grobler, 2. , menunjukkan bahwa kajian budaya populer memiliki potensi memberikan refleksi kritis sekaligus kontribusi praktis terhadap pembangunan berkelanjutan. LANDASAN TEORI Manajemen Manajemen merupakan proses sistematis yang mencakup perencanaan, pengendalian sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen dipahami sebagai kombinasi aspek teknis dan humanis, di mana keberhasilan organisasi sangat bergantung pada kemampuan pemimpin dalam mengelola manusia serta mendorong kolaborasi dan komunikasi (Bateman & Konopaske, 2. Teori manajemen berkembang dari pendekatan klasik yang menekankan struktur dan efisiensi, hingga teori kontemporer yang memperhatikan motivasi psikologis dan faktor sosial (Aljumah & Alghamdi, 2. Di era modern, organisasi dituntut untuk lebih adaptif, fleksibel, dan responsif terhadap perubahan lingkungan global dan digitalisasi (Mintzberg, 2. Fungsi Manajemen Fungsi manajemen terdiri dari pengarahan, dan pengendalian, yang membentuk siklus dinamis untuk memastikan tujuan organisasi tercapai (Schraeder. Perencanaan organisasi, memungkinkan antisipasi Pengorganisasian menetapkan struktur, dan mengalokasikan sumber daya agar kegiatan berjalan efektif (Nizma, 2. Pengarahan terkait kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi untuk mendorong semangat kerja memantau, mengevaluasi, dan melakukan koreksi terhadap pelaksanaan kegiatan (Cambalikova, 2. Kepemimpinan dan Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan memotivasi individu atau kelompok untuk mencapai tujuan (Rafiq & Khan, 2. Berbagai gaya kepemimpinan, seperti transformasional, transaksional, demokratis, otoriter, dan situasional, menunjukkan cara pemimpin berinteraksi dengan pengikut dan mempengaruhi hasil organisasi (Thanh. Kepemimpinan transformasional menekankan inspirasi dan karisma, transaksional menggunakan penghargaan menyesuaikan gaya sesuai kondisi Gaya kepemimpinan juga berfungsi sebagai representasi nilai, ideologi, dan visi kelompok misalnya, mencerminkan kontrol ketat (Antonakis & Day, 2. Semiotik Visual sebagai Alat Representasi Semiotik visual mempelajari tanda-tanda visual ikon, simbol, indeks sebagai sarana penyampaian makna yang bergantung pada konteks budaya, sosial, dan ideologi (Chandler, 2. Dalam representasi visual, komponen seperti gestur, mimik, kostum, pencahayaan, memproduksi dan mereproduksi nilai sosial tertentu (Kress & Van Leeuwen. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Semiotik visual memungkinkan pemahaman bagaimana makna dibentuk dan disebarkan, misalnya pakaian tokoh menunjukkan status atau identitas, dan warna menyampaikan emosi atau hierarki (Machin, 2. Dengan demikian, semiotik visual menjadi alat penting untuk memahami konstruksi makna dalam menggambarkan kepemimpinan, otoritas, dan kekuasaan. METODOLOGI Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan tujuan memahami secara mendalam makna, pengalaman, kepemimpinan yang direpresentasikan dalam film The King . Pilihan pendekatan ini bertujuan menangkap kompleksitas simbol, narasi, interaksi visual, dan dinamika gaya kepemimpinan yang muncul dalam teks sinematik, bukan sekadar mengukur frekuensi atau tingkat keberhasilan kepemimpinan. Kajian ini lebih menitikberatkan pada proses pemaknaan visual dan naratif. Pendekatan Penelitian Jenis Penelitian ini bersifat kualitatif interpretatif, bertujuan memahami makna, pengalaman, dan konstruksi sosial tentang kepemimpinan dalam film The King . Pendekatan ini menekankan konteks, pengalaman narator, dan konstruksi sosial (Denzin & Lincoln , 2. serta memungkinkan interpretasi mendalam terhadap simbol, gestur, dan teks dalam film (Creswell, 2. Secara spesifik, penelitian ini merupakan studi teks budaya dengan fokus pada semiotik visual dan naratif, meneliti bagaimana gaya kepemimpinan dikonstruksi melalui bahasa tubuh, framing, kostum, dialog, dan narasi (Rose, 2. Sumber Data P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 visual dan naratif seperti gestur Raja Henry V, framing kamera, pencahayaan, kostum, dialog, dan struktur adegan, mengikuti metode analisis film (Bordwell & Thompson, 2. dan semiotik visual Kress & Van Leeuwen . Data sekunder terdiri dari literatur akademik pengambilan keputusan (Bass & Riggio, 2. serta ulasan kritikus dan artikel populer yang memberikan konteks budaya dan produksi film. Teknik Pengumpulan Data Seluruh dialog dan bagian visual penting . degan pidato, pertempuran, verbatim, dilengkapi dengan catatan visual misalnya yaitu, ekspresi wajah, gestur, setting. Triangulasi data performa film dipadukan dengan data sekunder untuk memastikan validitas interpretasi, misalnya, pernyataan sutradara tentang visi film atau kritikus mengenai gaya kepemimpinan Hal sebagai konfirmasi tanda yang terbaca secara visual. Validitas dan Reliabilitas Untuk temuan, penelitian menerapkan teknik triangulasi teori dan data (Creswell, 2. , serta refleksi kritis terhadap posisi peneliti . elf-reflexivit. Selain itu, data film dan interpretasi visual secara teliti dan didokumentasikan, serta bisa dievaluasi oleh pembaca lain . ransparansi audit trai. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Film The King menggambarkan transformasi Henry V dari seorang pangeran yang enggan memikul tanggung jawab menjadi raja yang berwibawa. Tekanan lingkungan dan konflik yang ia alami mendorong perubahan tersebut, yang divisualisasikan melalui simbol mahkota sebagai Data primer berupa film The King , dianalisis dari elemen semiotik Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. legitimasi, pedang sebagai kekuatan sekaligus beban, serta pencahayaan suram yang menandai pergulatan batin. Pengalaman pribadi ini tidak hanya membentuk karakter Henry V sebagai pemimpin, tetapi juga menghadirkan dilema moral dan nilai kemanusiaan yang menjadikan kepemimpinannya lebih (Aku hanya berharap satu hal, untuk melihat kerajaan ini bersatu di bawah mahkota Inggris ini. Pada menit ke 1:37:58-1:29:40, secara denotatif. Henry terlihat dalam baju zirah dengan pedang terhunus, menandakan pemimpin perang. Konotasinya, pidato Henry memperlihatkan kharisma dan kepemimpinan karismatik ala Weber yang Secara mitos, adegan ini mereproduksi wacana kepahlawanan raja yang tidak hanya sebagai penguasa, tetapi juga pelindung rakyatnya. Gambar 1. Representasi Legitimasi Kekuasaan Henry V Dialog Henry V: AuI am not my father. I would have thought this to be clear by nowAy (Aku bukan ayahku. Uskup Agung. Aku rasa sekarang sudah jelas. Pada menit ke 44:52-45:00 terdapat level denotasi, mahkota dan legitimasi kekuasaan. Pada konotasi. Henry merepresentasikan tekad moral untuk memimpin secara damai, berbeda dari Pada tataran mitos, adegan ini menegaskan narasi kepemimpinan raja yang sah dan berdaulat karena legitimasi genealogis dan simbolik. Gambar 3. Konfrontasi dengan Sir William Dialog Sir William: AuYou have proven yourself to be a most worthy king. Ay (Kau telah membuktikan dirimu sebagai raja yang paling pantas. Pada menit ke 1:58:15-1. denotasinya memperlihatkan ekspresi marah Henry. Pada level konotasi, tatapan dan dialog tersebut memperlihatkan dilema moral seorang pemimpin yang berhadapan dengan pengkhianatan elit Mitos yang dibangun adalah tentang raja sebagai simbol keadilan dan kebenaran, yang harus mengutamakan moralitas di atas kekuasaan. Pembahasan Gambar 2. Pertempuran Agincourt Dialog Henry V: AuI have only ever hoped for one thing, to see this kingdom united under this English crown. Film The King menggambarkan transformasi Henry V dari pangeran muda yang enggan berkuasa menjadi raja yang berwibawa. Representasi ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya diwariskan, tetapi dibentuk oleh pengalaman, dilema Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. moral, dan tanggung jawab personal. Nasrullah . menjelaskan bahwa media massa seperti film tidak pernah netral, melainkan selalu membawa kepentingan ideologis. Oleh karena itu, representasi Henry V dalam The King dapat dipahami sebagai konstruksi budaya nilai-nilai kepemimpinan yang ideal (Ramadhana & Dewi, 2. membagi makna menjadi denotasi, konotasi, dan mitos. Dengan kerangka ini, peneliti dapat melihat bagaimana film membangun narasi kepemimpinan yang lebih dalam daripada sekadar teks visual. Afrina Sari et al. menegaskan bahwa analisis semiotik penting untuk mengungkap nilai moral dan ideologi yang tersembunyi di balik tanda-tanda Analisis menemukan bahwa atribut seperti mahkota, pedang, dan pencahayaan suram berfungsi sebagai simbol kepemimpinan. Kezia dan Ahmadi . menekankan bahwa simbol visual dalam film merupakan praktik representasi yang menyusun ulang realitas sesuai ideologi Dalam konteks ini, mahkota melambangkan tanggung jawab, dan pencahayaan menggambarkan konflik batin pemimpin. Analisis ini sejalan dengan (Afrina Sari et al. , 2. yang menginternalisasi nilai moral melalui representasi tokoh. Pembahasan ini juga menemukan relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , khususnya SDG 16 AuPeace. Justice and Strong InstitutionsAy. Nasrullah . menegaskan bahwa media dapat menjadi agen perubahan sosial melalui konstruksi Film The King dengan demikian tidak hanya menyajikan narasi sejarah, tetapi juga menyampaikan pesan normatif tentang pentingnya kepemimpinan yang adil, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian (Ramadhana & Dewi, 2. Dengan mengaitkan hasil analisis dengan penelitian ini memperlihatkan bahwa film berperan aktif dalam membentuk persepsi masyarakat tentang figur pemimpin yang Kepemimpinan Henry V juga ditampilkan sebagai Rokhmah dan Wardani . kepemimpinan dalam media sering kali terikat pada konteks budaya dan relasi Dalam The King. Henry V digambarkan tidak hanya sebagai pemimpin yang kuat, tetapi juga sebagai sosok yang mempertimbangkan nilai keadilan dan kesejahteraan rakyat. Perspektif ini menegaskan bahwa keberanian moral, empati, dan integritas, (Ramadhana & Dewi, 2. Pendekatan semiotika Roland Barthes membantu membaca makna laten dalam film The King. Menurut Kezia dan Ahmadi . , semiotika visual Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 KESIMPULAN Penelitian The King menggambarkan kepemimpinan Henry V sebagai proses transformasi yang kompleks, yang tidak hanya menekankan legitimasi formal, tetapi juga moralitas, tanggung jawab, dan empati. Film ini berfungsi sebagai teks budaya yang membangun citra pemimpin ideal melalui simbol, narasi, dan dilema moral, di mana elemen visual seperti mahkota, pedang, merepresentasikan legitimasi, tanggung jawab, serta konflik batin yang dialami Representasi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan atau posisi resmi, tetapi juga P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kualitas etis, kemampuan mengambil keputusan sulit, dan kemampuan memengaruhi serta menjaga kepercayaan Selain itu, film juga berperan sebagai sarana pembelajaran nilai-nilai kepemimpinan, menginternalisasi moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Cerita dan simbol yang disajikan menekankan pentingnya kepemimpinan yang adil, perdamaian, sehingga relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang menekankan perdamaian, keadilan, dan lembaga yang kuat. Melalui pendekatan memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin menghadapi dilema moral, mengambil keputusan strategis, dan menghadapi tekanan, sehingga dapat kombinasi antara kekuatan, etika, dan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun material, termasuk lembaga pendanaan, dosen pembimbing, dan rekan sejawat. Ucapan terima kasih juga ditujukan pengumpulan data dan analisis. Semoga penelitian ini bermanfaat sebagai referensi bagi studi komunikasi, film, budaya, dan kajian representasi kepemimpinan dalam DAFTAR PUSTAKA