Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan ISSN: 1411-1527 (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno CatelyaE-ISSN: Dira Octavia) 2599-0209 Homepage: http://jurnalpariwisata.iptrisakti.ac.id/index.php/JIP/index DOI: https://doi.org/10.30647/jip.v30i3.1982 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan Oktovianus*, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, Reno Catelya Dira Oktavia, Adam Rachmatullah Institut Pariwisata Trisakti *oktovianus@iptrisakti.ac.id Informasi Artikel Received: 14 Oktober 2025 Accepted: 1 November 2025 Published: 17 November 2025 Keywords: urban fores, motivation, perception, preference, urban recreation Kata Kunci: hutan kota, motivasi, persepsi, preferensi, rekreasi perkotaan Abstract This study aims to analyze visitor perceptions, motivations, and preferences at Ciganjur Urban Forest, South Jakarta, as one of the strategic green open spaces. A descriptive quantitative approach was employed involving 100 respondents through structured questionnaires. Data analysis was conducted descriptively to map respondent behavioral patterns. The findings indicate that primary push motivations include the need for relaxation, creativity restoration, and social bond strengthening, while pull motivations are dominated by peaceful atmosphere and clean air quality. Visitor perceptions of urban forest functions are generally positive, particularly regarding cleanliness, comfort, and ecological benefits. In terms of preferences, prioritized facilities include jogging tracks, park benches, prayer rooms, and fish nursery areas, while gazebos, interpretive signage, and disabilityfriendly facilities are considered less important. This research confirms that urban forest management should be directed toward user-oriented management approaches while maintaining the balance of ecological, recreational, educational, and inclusive functions. These findings align with Push and Pull Motivation theory and Utility Maximization, reinforcing global studies on the role of urban forests as psychosocial restoration spaces and means of enhancing urban community quality of life. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi, motivasi, dan preferensi pengunjung Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan, sebagai salah satu ruang terbuka hijau strategis. Pendekatan kuantitatif deskriptif digunakan dengan melibatkan 100 responden melalui kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk memetakan pola kecenderungan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi pendorong utama adalah kebutuhan untuk memperoleh relaksasi, memulihkan kreativitas, serta memperkuat ikatan sosial, sementara motivasi penarik didominasi suasana tenang dan kualitas udara yang bersih. Persepsi pengunjung terhadap fungsi hutan kota umumnya positif, terutama pada aspek kebersihan, kenyamanan, dan manfaat ekologis. Dari sisi preferensi, fasilitas yang diprioritaskan adalah jogging track, bangku taman, musholla, dan tempat pembibitan ikan, sedangkan gazebo, papan interpretasi, dan fasilitas ramah disabilitas dinilai kurang penting.Penelitian ini menegaskan bahwa pengelolaan hutan kota perlu diarahkan pada pendekatan berbasis pengguna (user-oriented management) dengan tetap menyeimbangkan fungsi ekologis, rekreatif, edukatif, dan inklusif. Temuan ini sejalan dengan teori Push and Pull Motivation dan Utility Maximization, serta memperkuat studi global mengenai peran urban forest sebagai ruang pemulihan psikososial dan sarana peningkatan kualitas hidup masyarakat urban. Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 328 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) PENDAHULUAN Pembangunan perkotaan yang pesat, khususnya di kota megapolitan seperti Jakarta, telah menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk, konversi lahan, serta penurunan kualitas lingkungan. Fenomena ini menimbulkan berbagai tekanan bagi masyarakat urban, seperti stres, polusi udara, dan keterbatasan ruang untuk berinteraksi dengan alam. Oleh sebab itu, hutan kota memiliki peran vital dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat perkotaan. Sebagai "paru-paru" kota, hutan kota menyerap polutan, menghasilkan oksigen, dan mengurangi efek urban heat island (Fadhilah, 2024). Fungsi ekologis ini meliputi penyaringan partikel debu, penyerapan gas berbahaya, dan penurunan tingkat kebisingan (Rohmah et al., 2022). Selain itu, hutan kota berfungsi sebagai ruang rekreasi dan interaksi sosial, meningkatkan kesehatan mental, dan menyediakan sarana edukasi lingkungan (Fadhilah, 2024; Imansari & Khadiyanta, 2015). Masyarakat menginginkan ruang terbuka hijau yang nyaman, dengan fasilitas memadai, dan mudah diakses (Imansari & Khadiyanta, 2015). Hutan kota juga berperan dalam perlindungan keanekaragaman hayati dan penyerapan air (Sundari, 2010; Rohmah et al., 2022). Keberadaan hutan kota sangat penting dalam perencanaan kota berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan nyaman (Fadhilah, 2024). Manfaat rekreasi di alam terbuka telah terbukti secara ilmiah mampu mereduksi stres, meningkatkan kesehatan fisik, dan memperkuat ikatan sosial. Hutan kota menyediakan lingkungan yang kondusif bagi masyarakat untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas perkotaan yang padat dan monoton. Studi menunjukkan bahwa persepsi pengunjung terhadap layanan ekosistem, fasilitas, dan suasana hutan kota sangat positif, serta berkontribusi pada keinginan untuk kembali berkunjung dan bahkan berpartisipasi dalam konservasi hutan kota (Jamean & Abas, 2023); Yao, et al., 2024; Vasiljevic et al., 2023). Namun, efektivitas fungsi rekreasi sebuah hutan kota sangat bergantung pada sejauh mana fasilitas dan pengelolaannya mampu memenuhi kebutuhan dan harapan pengunjung (Jamean & Abas, 2023); Yao, et al., 2024). Oleh karena itu, pengelolaan hutan kota yang berkelanjutan tidak cukup hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga harus memahami aspek sosial-psikologis dari para penggunanya. Untuk mencapai pengelolaan yang berbasis pengguna (user-oriented), analisis terhadap tiga elemen kunci menjadi sangat penting, yaitu persepsi, motivasi, dan preferensi. Persepsi mengacu pada bagaimana pengunjung menilai dan merasakan kondisi hutan kota, termasuk kebersihan, keamanan, keindahan, dan kelengkapan fasilitas. Persepsi positif akan meningkatkan kepuasan dan minat kunjungan ulang (Jamean & Abas, 2023); Yao, et.al., 2024; Vasiljevic et al., 2023). Motivasi adalah faktor pendorong internal dan eksternal yang mendasari keputusan seseorang untuk mengunjungi hutan kota, misalnya untuk berolahraga, bersantai, bersosialisasi, atau mencari ketenangan (Lee & Kim, 2023; Kim et.al., 2021; Byun et.al., 2021; Rahmafitria & Kaswanto, 2024; Vasiljevic et al., 2023). Sementara itu, Lee & Kim (2023); Yao, et al. (2024); dan Vasiljevic et al., (2023) menyatakan bahwa preferensi berkaitan dengan pilihan spesifik pengunjung terhadap jenis aktivitas rekreasi (misalnya jogging, bersepeda, piknik) dan fasilitas pendukung yang paling diinginkan (misalnya jalur pejalan kaki, area duduk, toilet). Dengan memahami persepsi, motivasi, dan preferensi pengunjung, pengelolaan hutan kota dapat diarahkan untuk meningkatkan kepuasan, Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 329 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) memperkuat fungsi sosial-ekologis, dan mendorong perilaku berkelanjutan di kalangan masyarakat (Rahmafitria & Kaswanto, 2024; Yao, et al., 2024; dan Vasiljevic et al., 2023). Hutan Kota Ciganjur merupakan salah satu aset RTH penting di wilayah Jakarta Selatan yang berfungsi sebagai area resapan air dan rekreasi bagi masyarakat sekitar. Meskipun memiliki potensi besar, belum banyak penelitian ilmiah yang secara spesifik dan mendalam mengkaji karakteristik dan kebutuhan pengunjung di lokasi ini. Sebagian besar penelitian mengenai hutan kota di Jakarta masih bersifat umum atau berfokus pada lokasi lain yang lebih populer. Padahal, setiap hutan kota memiliki karakteristik pengunjung dan konteks sosial yang unik, sehingga data spesifik lokasi sangat diperlukan untuk perumusan kebijakan pengembangan yang tepat sasaran. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis persepsi pengunjung terhadap kondisi fisik dan non-fisik Hutan Kota Ciganjur; (2) mengidentifikasi motivasi utama yang mendorong masyarakat untuk berekreasi di Hutan Kota Ciganjur; dan (3) menganalisis preferensi pengunjung terhadap jenis aktivitas rekreasi dan fasilitas pendukung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan ilmiah yang konstruktif bagi pengelola, dalam hal ini Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, untuk merancang program pengembangan dan pemeliharaan Hutan Kota Ciganjur yang lebih sesuai dengan aspirasi masyarakat, sehingga manfaat ekologis dan sosialnya dapat dirasakan secara optimal. TINJAUAN PUSTAKA Persepsi Persepsi merupakan mekanisme kognitif yang memungkinkan individu memberikan makna terhadap stimulus yang diterimanya melalui pancaindra. Goldstein & Brockmole (2016) menegaskan bahwa persepsi bersifat aktif karena dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, serta konteks sosial. Dalam konteks wisata, persepsi berperan penting dalam membentuk penilaian pengunjung terhadap kondisi destinasi, seperti kebersihan, keamanan, kenyamanan, maupun kelengkapan fasilitas. Persepsi positif dapat meningkatkan kepuasan sekaligus loyalitas pengunjung untuk melakukan kunjungan ulang (Jamean & Abas, 2023). Oleh karena itu, pemahaman tentang persepsi menjadi salah satu dasar penting dalam strategi pengelolaan destinasi wisata perkotaan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa persepsi pengunjung terhadap kualitas ekosistem hutan kota memiliki implikasi langsung pada minat berkunjung dan perilaku konservasi. Jamean & Abas (2023) menemukan bahwa persepsi positif terhadap jasa ekosistem hutan kota di Kuala Lumpur mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Yao et al. (2024) menegaskan bahwa kepuasan pengunjung di Tiongkok berkaitan erat dengan persepsi mereka terhadap fasilitas dan kondisi lingkungan destinasi. Sementara itu, studi Vasiljevic et al., (2023) di Eropa memperlihatkan bahwa persepsi terhadap kenyamanan dan nilai ekologis menjadi faktor penentu loyalitas berkunjung. Hal ini menegaskan bahwa kualitas persepsi publik dapat dijadikan indikator awal keberhasilan pengelolaan hutan kota. Motivasi Motivasi wisata dapat dipahami melalui teori Push and Pull Motivation (Dann, 1977), yang membagi motivasi menjadi faktor pendorong internal (push) dan faktor penarik eksternal (pull). Faktor pendorong biasanya mencakup kebutuhan untuk relaksasi, mencari pengalaman baru, Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 330 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) meningkatkan kreativitas, serta mempererat ikatan sosial. Sementara itu, faktor penarik meliputi daya tarik destinasi, suasana tenang, kualitas udara, atau ketersediaan fasilitas (Lee & Kim, 2023; Kim et al., 2021). Motivasi ini berperan penting dalam membentuk keputusan pengunjung dalam memilih suatu destinasi wisata, termasuk hutan kota. Hasil penelitian terdahulu menegaskan relevansi motivasi dengan kunjungan ke hutan kota. Byun et al. (2021) menunjukkan bahwa segmentasi pasar pengguna hutan kota di Korea dipengaruhi oleh variasi motivasi rekreasi. Rahmafitria & Kaswanto (2024) menekankan bahwa motivasi pengunjung di hutan kota Indonesia berkaitan erat dengan keinginan melakukan aksi ramah lingkungan. Vasiljevic et al. (2023) menemukan bahwa kualitas lingkungan yang sehat menjadi salah satu motivasi utama pengunjung taman peri-urban di Serbia. Temuan-temuan tersebut menegaskan bahwa motivasi, baik internal maupun eksternal, merupakan faktor kunci yang tidak dapat diabaikan dalam strategi pengembangan destinasi wisata berbasis hutan kota. Preferensi Preferensi pengunjung mengacu pada kecenderungan memilih aktivitas maupun fasilitas tertentu yang memberikan manfaat paling optimal. Teori Utility Maximization (Lancaster, 1966) menjelaskan bahwa konsumen cenderung memilih opsi yang memberikan kepuasan terbesar, sedangkan teori Push and Pull Motivation (Dann, 1977) menegaskan bahwa preferensi terbentuk dari interaksi antara kebutuhan internal dan daya tarik eksternal. Dalam konteks hutan kota, preferensi biasanya terkait dengan aktivitas fisik seperti jogging, bersepeda, atau rekreasi keluarga, serta ketersediaan fasilitas pendukung seperti toilet, area duduk, dan tempat ibadah. Penelitian sebelumnya mendukung pentingnya preferensi dalam pengelolaan destinasi. Yao et al. (2024) menemukan bahwa di Tiongkok, fasilitas dasar seperti jalur pejalan kaki dan area duduk merupakan prioritas utama bagi pengunjung. Studi Jamean & Abas (2023) di Malaysia juga menunjukkan bahwa preferensi fasilitas berkaitan erat dengan pengalaman positif pengunjung terhadap layanan ekosistem hutan kota. Sementara itu, Vasiljevic et al. (2023) menegaskan bahwa preferensi terhadap suasana lingkungan yang damai dan bersih memengaruhi loyalitas berkunjung ke taman perkotaan di Eropa. Dengan demikian, identifikasi preferensi dapat menjadi dasar dalam merancang fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan pengguna sekaligus mendukung keberlanjutan destinasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei dan observasi untuk mengeksplorasi persepsi, motivasi, dan preferensi rekreasi pengunjung Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan. Populasi penelitian mencakup seluruh pengunjung yang melakukan aktivitas rekreasi di lokasi penelitian, sedangkan sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05), sehingga diperoleh 100 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur dengan pertanyaan tertutup, disusun berdasarkan indikator variabel penelitian untuk menghasilkan data terukur yang konsisten. Pengambilan sampel dilakukan dengan kombinasi simple random sampling dan accidental sampling, yang memungkinkan keterwakilan responden sesuai kriteria inklusi, yaitu berusia minimal 17 tahun dan bersedia berpartisipasi (Sugiyono, 2019; Sekaran & Bougie, 2016). Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 331 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka, laporan resmi pengelola kawasan, dan dokumentasi kegiatan. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif menggunakan perangkat lunak IBM SPSS versi 25. Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan karakteristik responden serta pola jawaban dalam bentuk frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil analisis selanjutnya divisualisasikan melalui tabel dan grafik untuk memperjelas interpretasi serta mempermudah pemahaman pola data (Creswell & Creswell, 2018; Hair et al., 2019). Dengan desain ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif, sistematis, dan reliabel mengenai persepsi, motivasi, serta preferensi pengunjung Hutan Kota Ciganjur. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pengunjung Hutan Kota Ciganjur Analisis terhadap karakteristik pengunjung mencakup aspek sosiodemografis meliputi jenis kelamin, status perkawinan, kelompok usia, asal geografis, tingkat pendidikan, sektor pekerjaan, dan pendapatan bulanan. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap pola perilaku pengunjung yang terkait dengan tipe kunjungan dan durasi penggunaan fasilitas rekreasi. Pemahaman mendalam terhadap profil pengunjung ini memiliki implikasi penting bagi perencanaan dan pengelolaan ruang hijau publik yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam konteks pembangunan berkelanjutan perkotaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Hasil analisis karakteristik pengunjung Hutan Kota Ciganjur sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Pengunjung Hutan Kota Ciganjur No Karakteristik Pengunjung Rata-Rata 1 Jenis Kelamin Perempuan 2 Status Menikah 3 Umur 26-35 Tahun 4 Asal Pengunjung Jakarta Selatan 5 Tingkat Pendidikan SMA/SMK 6 Pekerjaan Sektor Swasta 7 Pendapatan Rp 2.000.000 – Rp 5.000.000 8 Pola Kunjungan Keluarga 9 Lama Kunjungan 1 Jam Sumber: Peneliti (2024) Berdasarkan hasil analisis karakteristik pengunjung, profil rata-rata pengunjung Hutan Kota Ciganjur adalah perempuan, berusia 26–35 tahun, berstatus menikah, dan berasal dari Jakarta Selatan. Mayoritas pengunjung memiliki latar belakang pendidikan tingkat menengah (SMA/SMK) dengan pekerjaan di sektor swasta dan pendapatan bulanan berkisar antara Rp 2.000.000–Rp 5.000.000. Pola kunjungan menunjukkan bahwa pengunjung cenderung datang bersama keluarga dengan durasi kunjungan ratarata 1 jam. Temuan ini mengindikasikan bahwa Hutan Kota Ciganjur berfungsi sebagai destinasi rekreasi keluarga yang menarik bagi kelompok masyarakat menengah perkotaan. Lokasi yang berada di Jakarta Selatan memudahkan akses bagi penduduk lokal, sementara Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 332 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) karakteristik sosiodemografis pengunjung mencerminkan pola pemanfaatan ruang hijau yang kental dengan nilai-nilai kebersamaan keluarga. Durasi kunjungan yang relatif singkat (1 jam) menunjukkan bahwa fasilitas ini digunakan untuk rekreasi santai dan casual dalam aktivitas sehari-hari, bukan untuk kegiatan wisata jarak panjang. Motivasi Menurut teori Push-Pull yang dikemukakan oleh Dann (1977), motivasi perjalanan wisata terdiri atas dua dimensi utama, yaitu motivasi pendorong (push motivation) dan motivasi penarik (pull motivation). Motivasi pendorong bersifat internal, lahir dari dorongan psikologis individu, seperti keinginan untuk melepaskan diri dari rutinitas, memperoleh relaksasi, atau mencari pengalaman baru. Sebaliknya, motivasi penarik bersifat eksternal, berkaitan dengan daya tarik destinasi, seperti keindahan alam, atraksi budaya, maupun ketersediaan fasilitas. Kedua faktor ini secara simultan membentuk dasar pengambilan keputusan wisatawan dalam memilih destinasi Hasil penelitian mengenai motivasi pendorong pengunjung Hutan Kota Ciganjur (Gambar 1) menunjukkan temuan empiris yang mendukung proposisi teoretis terkait hierarki motivasi rekreasi. Faktor pendorong dengan skor tertinggi (≥4,0) adalah kebutuhan untuk memulihkan kreativitas dan memperoleh relaksasi dari rutinitas sehari-hari, serta memperkuat ikatan sosial dengan teman/kelompok/grup. Selain itu, motivasi internal lain yang teridentifikasi meliputi keinginan memperoleh pengalaman baru untuk menambah pengetahuan, meningkatkan kualitas hubungan keluarga, mencari ruang rekreasi yang estetik atau instagramable untuk aktivitas berfoto, keinginan berolahraga, serta keinginan untuk menyalurkan hobi. Gambar 1. Motivasi Pendorong/Push Motivation Pengunjung dan Masyarakat Sekitar Sumber: Data diolah (2024) Adapun motivasi penarik pengunjung Hutan Kota Ciganjur (Gambar 3) didominasi oleh suasana lingkungan yang tenang, udara yang sejuk, serta kualitas udara yang bersih, dengan skor motivasi tinggi (≥4,0). Hal ini menunjukkan bahwa elemen alam dan kenyamanan lingkungan sangat berperan dalam menarik minat pengunjung untuk datang dan menghabiskan waktu di area ini. Selain itu, aspek kebersihan dan keberlanjutan alam yang terjaga menjadi faktor pendukung yang meningkatkan pengalaman pengunjung, mendorong mereka untuk kembali mengunjungi. Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 333 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) Gambar 2. Motivasi Penarik/Pull Motivation Pengunjung dan Masyarakat Sekitar Sumber: Data diolah (2024) Faktor lain yang cukup memotivasi (skor sekitar 3,0) mencakup keberagaman aktivitas rekreasi, keterjangkauan biaya, popularitas kawasan, aksesibilitas yang mudah, kebersihan dan kenyamanan, serta dukungan informasi dan promosi. Sebaliknya, ketersediaan sarana dan prasarana rekreasi menempati posisi terendah sebagai faktor penarik dalam mendorong kunjungan ke kawasan ini. Persepsi Goldstein dan Brockmole (2016) mendefinisikan persepsi sebagai “mekanisme dinamis yang memungkinkan seseorang untuk mengolah dan memberikan arti terhadap input sensoris yang diterimanya.” Definisi ini menekankan bahwa persepsi bukan hanya sekadar proses pasif menerima informasi, tetapi juga merupakan proses aktif yang melibatkan pengalaman, pengetahuan, dan konteks individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hutan Kota Ciganjur memiliki peran penting tidak hanya sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai destinasi rekreasi dan edukasi. Gambar 3. Motivasi Penarik/Pull Motivation Pengunjung dan Masyarakat Sekitar Sumber: Data diolah (2024) Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 334 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) Persepsi masyarakat terhadap fungsi kawasan ini cenderung positif, terutama pada aspek rekreasi, kenyamanan, serta kontribusinya dalam mengurangi polusi, kebisingan, dan menjaga iklim mikro. Hal ini sejalan dengan pandangan sebelumnya bahwa keberadaan hutan kota berfungsi ganda, yaitu sebagai penyedia manfaat ekologis sekaligus sebagai ruang interaksi sosial bagi masyarakat perkotaan. Selain fungsi ekologis, masyarakat juga menilai keberadaan fasilitas rekreasi di Hutan Kota Ciganjur sebagai faktor pendukung pengalaman wisata. Fasilitas seperti jogging track, playground, mushola, dan area parkir dipersepsikan cukup memadai, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan kualitas dan kelengkapannya. Penilaian ini menegaskan pentingnya integrasi antara fungsi ekologis dan penyediaan fasilitas rekreatif agar hutan kota dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat urban. Gambar 4. Motivasi Penarik/Pull Motivation Pengunjung dan Masyarakat Sekitar Sumber: Data diolah (2024) Secara keseluruhan, temuan ini memperlihatkan bahwa persepsi masyarakat terhadap Hutan Kota Ciganjur mencerminkan kebutuhan akan ruang hijau yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mendukung aktivitas rekreatif. Oleh karena itu, strategi pengelolaan ke depan perlu diarahkan pada peningkatan fasilitas rekreasi berbasis keberlanjutan, sekaligus memperkuat peran edukatif hutan kota sebagai sarana literasi ekologi masyarakat perkotaan Preferensi Pengunjung Preferensi wisatawan sering dijelaskan melalui kerangka teori perilaku konsumen yang menekankan pada hubungan antara motivasi, persepsi, dan kepuasan. Teori Utility Maximization menegaskan bahwa individu cenderung memilih opsi yang memberikan manfaat terbesar (Lancaster, 1966). Sementara itu, dalam konteks pariwisata, teori Push and Pull Motivation (Dann, 1977) menjelaskan bahwa preferensi wisatawan terbentuk dari dorongan internal (push factors) seperti kebutuhan relaksasi, dan faktor eksternal (pull factors) seperti daya tarik serta ketersediaan fasilitas destinasi. Dengan demikian, penyediaan sarana prasarana wisata yang sesuai dengan ekspektasi pengunjung merupakan kunci untuk meningkatkan daya tarik destinasi Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 335 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) sekaligus wisata. memperkuat pengalaman Gambar 5. Preferensi Pengunjung terhadap Kebutuhan Sarana Prasarana Wisata untuk Mengoptimalisasi Kepuasan Pengunjung Sumber: Data diolah (2024) Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa sarana dan prasarana wisata memperoleh skor rata-rata ≥4,0 sehingga dikategorikan Tinggi. Indikator tersebut adalah jogging track (4,38), bangku dan meja taman (4,03), tempat ibadah/musholla (4,00), serta tempat pembibitan ikan (4,00). Hal ini menegaskan bahwa responden sangat memprioritaskan keberadaan fasilitas yang mendukung aktivitas fisik, kenyamanan beristirahat, pemenuhan kebutuhan spiritual, dan nilai edukasi lingkungan. Keempat fasilitas ini dapat dipandang sebagai elemen inti yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas pengalaman berkunjung. Kategori Agak Tinggi (3,0–3,9) mencakup sebagian besar fasilitas, antara lain lampu taman (3,70), landmark dan spot foto (3,94), wastafel (3,86), tempat sampah (3,97), papan penunjuk arah (3,86), tempat makan/food court (3,61), playground (3,90), tempat parkir (3,87), toilet (3,71), pos keamanan (3,97), dek observasi (3,88), fasilitas monkey bars (3,74), serta tempat pengolahan sampah organik (3,99). Kelompok ini menunjukkan bahwa meskipun dianggap penting, tingkat urgensinya masih berada pada skala menengah. Fasilitas-fasilitas tersebut lebih berfungsi sebagai pendukung kenyamanan, estetika, serta keamanan destinasi. Adapun kategori Rendah (<3,0) meliputi gazebo (2,62), papan interpretasi/informasi (2,52), dan fasilitas ramah disabilitas (2,40). Temuan ini mengindikasikan bahwa Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 336 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) pengunjung relatif tidak menempatkan aspek tersebut sebagai prioritas utama. Namun, secara konseptual, fasilitas seperti akses disabilitas tetap krusial dari perspektif inklusivitas dan keberlanjutan destinasi, meski apresiasi responden masih terbatas. Peran Ganda Hutan Kota dalam Konteks Urban Hutan Kota Ciganjur berfungsi sebagai ruang ekologis sekaligus destinasi rekreasi yang vital di kawasan perkotaan Jakarta Selatan, hal ini sesuai dengan penelitain yang dilakukan oleh Vasiljevic et al., (2023) dan Byun et al., (2021). Ruang hijau perkotaan tidak hanya menjadi penyangga lingkungan melalui penyerapan polutan dan mitigasi efek urban heat island (Kim et al., 2021; Lee & Kim, 2023), tetapi juga memfasilitasi aktivitas sosial, pendidikan lingkungan, dan kesehatan mental masyarakat urban (Jamean & Abas, 2023; Junker-Köhler et al., 2025). Temuan global mendukung bahwa urban forest mampu meningkatkan kualitas hidup, memperkuat kohesi sosial, dan menyediakan ruang pemulihan psikososial (Djahangard et al., 2024; Felappi et al, 2024). Interaksi Motivasi, Persepsi, dan Preferensi Pengunjung Motivasi pengunjung Hutan Kota Ciganjur didominasi oleh faktor pendorong internal berupa kebutuhan relaksasi, pemulihan kreativitas, dan penguatan hubungan sosial, serta motivasi penarik eksternal berupa suasana tenang dan kualitas udara bersih (Kim et al., 2021; Byun et al., 2021; Yao et al., 2024; Lee & Kim, 2023). Sebagaimana didukung oleh teori Push and Pull Motivation (Djahangard et al., 2024) dan Utility Maximization (Vasiljevic et al., 2023), urban forest menjadi ruang pemulihan psikologis bagi masyarakat urban. Fasilitas seperti jogging track, musholla, dan bangku taman teridentifikasi sebagai elemen inti penentu kepuasan dan loyalitas kunjungan (Junker-Köhler et al., 2025; Jamean & Abas, 2023). Persepsi pengunjung terhadap kualitas layanan ekosistem Hutan Kota Ciganjur juga umumnya positif (Jamean & Abas, 2023; Djahangard et al., 2024). Indikator kebersihan, kenyamanan, dan manfaat ekologis menjadi pemicu utama keinginan berkunjung kembali dan berpartisipasi dalam konservasi (Kim et al., 2021; Lee & Kim, 2023). Preferensi terhadap fasilitas fisik dan spiritual lebih dominan dibanding aspek edukasi dan inklusivitas, walaupun secara konseptual fasilitas ramah disabilitas dan papan interpretasi tetap dianggap penting untuk tujuan keberlanjutan destinasi (Yao et al., 2024; Vasiljevi et al., 2023). Implikasi Pengelolaan Berbasis Pengguna Penelitian ini menegaskan urgensi pendekatan user oriented management dalam pengelolaan ruang hijau perkotaan (Djahangard et al., 2024). Pengunjung lebih menghargai fasilitas yang relevan dengan kebutuhan harian dan aktivitas keluarga, sedangkan aspek edukasi dan inklusivitas harus ditingkatkan melalui strategi edukasi dan komunikasi yang adaptif (Felappi et al., 2024; JunkerKöhler et al., 2025). Studi Felappi et al. (2024) juga menyoroti pentingnya respons manajemen hutan kota terhadap perubahan perilaku dan persepsi masyarakat pasca-pandemi. Strategi pengelolaan efektif perlu mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan edukasi melalui inovasi digital untuk meningkatkan literasi ekologi serta partisipasi komunitas (Kim et al., 2021; Lee & Kim, 2023; Junker-Köhler et al., 2025). Promosi digital dapat meningkatkan pemahaman manfaat urban forest secara luas di masyarakat perkotaan. Aspek inklusi, edukasi, dan keberlanjutan harus menjadi prioritas Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 337 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) dalam pengembangan kebijakan hutan kota Jakarta (Vasiljevi et al., 2023). Perbandingan Global dan Relevansi Lokal Motif kunjungan dan preferensi pengunjung Hutan Kota Ciganjur sejalan dengan tren global pengelolaan urban forest, terutama kebutuhan relaksasi, kesehatan, interaksi sosial, dan fasilitas rekreasi (Kim et al., 2021; Byun et al., 2021). Namun, konteks lokal Jakarta memperlihatkan perlunya penguatan aspek edukasi, inklusi, dan digitalisasi pengalaman pengunjung (Junker-Köhler et al., 2025; Felappi et.al., 2024). KESIMPULAN DAN SARAN Analisis persepsi, motivasi, dan preferensi pengunjung Hutan Kota Ciganjur menunjukkan bahwa ruang hijau perkotaan memegang peran krusial sebagai sarana rekreasi, pemulihan psikososial, dan penyangga ekologis bagi masyarakat Jakarta Selatan. Motivasi pengunjung didominasi oleh kebutuhan relaksasi, kreativitas, dan penguatan ikatan sosial, sementara persepsi positif terhadap fungsi hutan kota sangat dipengaruhi oleh aspek kebersihan, kenyamanan, serta kualitas udara dan fasilitas pendukung yang relevan. Pengelolaan hutan kota berbasis pengguna perlu menyeimbangkan fungsi ekologis, rekreatif, edukatif, dan inklusif agar manfaat ruang hijau dapat dirasakan optimal oleh seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan fasilitas prioritas, strategi edukasi, dan promosi digital menjadi kunci keberhasilan pengembangan Hutan Kota Ciganjur sebagai destinasi perkotaan yang berkelanjutan, sekaligus sejalan dengan temuan global mengenai urban forest sebagai ruang pemulihan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat urban. DAFTAR PUSTAKA Byun, H. J., Lee, B. C., Kim, D., & Park, K. H. (2021). Market Segmentation by Motivations of Urban Forest Users and Differences in Perceived Effects. International journal of environmental research and public health, 19(1), 114. https://doi.org/10.3390/ijerph1901 0114 Creswell J.W., Creswell, J.D. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. New York: Sage Publication Dann, G. M. S. (1977). Anomie, egoenhancement and tourism. Annals of Tourism Research, 4(4), 184– 194. https://doi.org/10.1016/01607383(77)90037-8 Djahangard, M., Buckwitz, S., Hioki, C., He, J., Zhou, Z., Zhang, H., Yousefpour, R. (2024). A global comparative analysis of local recreation behaviors and values in peri-urban forests. Environmental and Sustainability Indicators. 24. 100525. 10.1016/j.indic.2024.100525. Fadhilah, R. (2024). Urban forests as ecological infrastructure: Enhancing sustainability in megacities. Journal of Environmental Planning and Management, 67(2), 210–228. https://doi.org/10.1080/09640568. 2023.2172219 Felappi, J. F., Sommer, J. H., Falkenberg, T., Terlau, W., & Kötter, T. (2024). Urban park qualities driving visitors mental well-being and wildlife conservation in a Neotropical megacity. Scientific reports, 14(1), 4856. https://doi.org/10.1038/s41598024-55357-2 Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 338 Analisis Persepsi, Motivasi, dan Preferensi Berekreasi di Hutan Kota Ciganjur, Jakarta Selatan (Oktovianus, Tri Hanna Tania Anggraini, Devita Gantina, dan Reno Catelya Dira Octavia) Goldstein, E. B., & Brockmole, J. R. (2016). Sensation and perception (10th ed.). Cengage Learning. Hair, J., Black, W., Babin, B., & Anderson, R. (2019). Multivariate data analysis (8th ed.). Cengage. Imansari, N. R., & Khadiyanta, P. (2015). Penyediaan Hutan Kota dan Taman Kota sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik Menurut Preferensi Masyarakat di Kawasan Pusat Kota Tangerang. Ruang, 1(3), 101-110. https://doi.org/10.14710/alj.v%vi% i.1-8 Jamean, E. S., & Abas, A. (2023). Valuation of Visitor Perception of Urban Forest Ecosystem Services in Kuala Lumpur. Land, 12(3), 572. https://doi.org/10.3390/land120305 72 Junker-Köhler, B., Gundersen, V., Bærum, K.M., Barton, D.N. (2025). Recreation ‘home range’: Motivations and use of green spaces along an urban—peri-urban continuum. Journal of Outdoor Recreation and Tourism, 49,100838. https://doi.org/10.1016/j.jort.2024. 100838. Kim, D.S., Lee, B.C., Park, K.H. (2021). Determination of Motivating Factors of Urban Forest Visitors through Latent Dirichlet Allocation Topic Modeling. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(18), 9649. https://doi.org/10.3390/ijerph1818 9649 Lancaster, K. J. (1966). A new approach to consumer theory. Journal of Political Economy, 74(2), 132– 157. https://doi.org/10.1086/259131 Lee, J., & Kim, D.H. (2023). Urban Forest Visit Motivation Scale: Development and Validation. Sustainability, 15(1), 408. https://doi.org/10.3390/su1501040 8 Rahmafitria, F., & Kaswanto, R.L. (2024). The role of eco-attraction in the intention to conduct lowcarbon actions: A study of visitor behavior in urban forests. International Journal of Tourism Cities, 10(2), 345–362. https://doi.org/10.1108/IJTC-072023-0138 Rohma, A., Wiranegara, H.W., Supriatna, Y. (2022). Jasa Lingkungan Hutan Kota Srengseng. Journal Penelitian dan Karya Ilmiah Lembaga Penelitian Universitas Trisakti. 7(2). DOI: https://doi.org/10.25105/pdk.v7i2. 12459 Sekaran, U., Bougie, R. (2016). Research Methods fo Business (7th ed.). John Wiley & Sons. Sugiyono. (2019). Metode Penelitian & Pengembangan: Research And Development. Alfabeta Press. Bandung Sundari, E. S. (2010). Studi Untuk Menentukan Fungsi Hutan Kota Dalam Masalah Lingkungan Perkotaan. Jurnal PWK Unisba, 68-83. Vasiljevic, D., Vujicic, M., Stankov, U., Dragović, N. (2023). Visitor motivation and perceived value of periurban parks - Case study of Kamenica park, Serbia. Journal of Outdoor Recreation and Tourism, 42, 100625. DOI: 10.1016/j.jort.2023.100625. Yao, X., Sun, Y., Sun, B., & Huang, Y. (2024). The impact of the urban forest park recreation environment and perceived satisfaction on posttour behavioral intention Using Tongzhou Grand Canal Forest Park as an example. Forests, 15(2). https://doi.org/10.3390/f15020330 Jurnal Ilmiah Pariwisata, Volume 30 No.3, November 2025, pp 328-339 339