Volume (1) Issue (2) September / 2024 JURNAL PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS https://journal.ypsm.or.id/index.php/jpeb Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Learning Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VIII di SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo Sudirman 1*, Ervina Pombaile 2 . 1-2 Universitas Negeri Gorontalo Sudirman@ung.ac.id Abstract The purpose of the study was to determine the influence of reciprocal learning model on student’s learning motivation in integrated social science subject in class VIII of SMP Widyakrama State Junior High School of Gorontalo Regency. This is a quantitative research that used ex post facto method, involving th entire students of class VIII as the population as weel as the sample using total sampling technique. While the data analysis used hyotesis testing technique of simple linear regression analysis. The findings showed that the hypothesis had positive and significant effect on students’ lerning motivation. The positive coefficient indicated thaht the better the model the higher the motivation would be, obtaining 0,638 value of determinant (63,80%). While the rest (37,20%) was influenced by other factors not examined such as teachers’ exemplariness and teaching skill, student’ ability, students’ willingness in learning and students talents Keyboards; Reciprocal Learning Model and Student’s Learning Motivation Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran reciprocal learning terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII di SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan adalah metode ex post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu seluruh populasi dijadikan sampel. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Sedangkan Teknik analisis data yang digunakan dalam menguji hipotesis adalah teknik analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa Model Pembelajaran Reciprocal Learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Hasil koefisien positif menunjukan bahwa semakin baik model pembelajaran Reciprocal Learning akan semakin tinggi pula motivasi belajar siswa dengan nilai determinan sebesar 0,638 atau 63,80%, dan sisanya 37,20% dipengaruhi oleh factor lain yang tidak diteliti seperti keteladanan, keterampilan mengajar guru, kemampuan siswa, kemauan siswa dalam belajar serta bakat siswa. Kata Kunci : Model Pembelajaran Reciproca Learning dan Motivasi Belajar Siswa. 1 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 Pendahuluan Motivasi belajar merupakan sesuatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang individu dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan. Dengan adanya motivasi belajar, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan memiliki konsentrasi penuh dalam proses pembelajaran. Motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk belajar secara sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar siswa yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan- kegiatannya. Menurut Kompri (2016:232) motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis pada diri siswa untuk melakukan kegiatan atau aktivitas belajar, dengan rasa ingin tahu dan semangat belajar dalam mencapai prestasi belajar. Motivasi belajar dapat memberikan kekuatan pada seseorang untuk melaksanakan kegiatan belajar. Adanya motivasi belajar, maka seseorang akan dapat melaksanakan berbagai macam aktivitas terutama kegiatan belajar sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Menurut Hamzah (2016), motivasi belajar dapat timbul karena faktor instrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta arah belajar untuk mencapai tujuan yang dikehendaki siswa. Menurut Slavin (2011:14), Reciprocal learning adalah model pengajaran kelompok kecil yang didasarkan pada prinsip perumusan pertanyaan melalui pengajaran dan pemberian contoh, guru menumbuhkan kemampuan meta kognisi terutama untuk meningkatkan kinerja baca siswa yang mempunyai pemahaman buruk. Reciprocal learning adalah suatu prosedur pengajaran yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa tentang strategi pemahaman mandiri yang berbentuk diskusi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa yang memberikan kesempatan berfikir dan saling betukar pengalaman belajar melalui pengajaran langsung dan permodelan oleh guru untuk memperbaiki kinerja membaca siswa dan memahami bacaan. Reciprocal learning merupakan strategi belajar melalui kegiatan mengajarkan teman. Pada strategi ini siswa berperan sebagai “guru” menggantikan peran guru untuk mengajarkan teman-temannya. Sementara itu guru lebih berperan sebagai model yang menjadi contoh, fasilitator yang memberi kemudahan dan pembimbing yang melakukan scaffolding. Scaffolding adalah bimbingan yang diberikan oleh orang yang lebih tahu kepada orang yang kurang atau belum tahu, misalnya guru kepada siswa atau siswa yang pandai dengan siswa lain yang kurang pandai. Model pembelajaran kooperatif model Reciprocal learning merupakan salah 2 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 satu alternatif yang dapat digunakan dalam strategi yang memberikan kesempatan siswa untuk melakukan analisis terhadap konsep yang dibacanya, melakukan langkah-langkah berupa pemecahan masalah, menyusun pertanyaan atau menjelaskan konsep yang dipelajarinya dan memprediksikannya. Model Reciprocal learning ini diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS terpadu. Selanjutnya model pembelajaran Reciprocal learning mengutamakan peran aktif siswa dalam meningkatkan mutu belajar dan hasil belajar. Hal senada dikatakan Esti Wulandari (2014), bahwa model pembelajaran Reciprocal learning dapat meningkatkan kemandirian dan motivasi belajar pada pelajaran IPS terpadu. Hal yang sama juga dikatakan Ayana A Panjaitan (2015), bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan model pembelajaran Reciprocal learning terhadap hasil belajar siswa. Menurut Ria Sardiyanti (2010), mengatakakan bahwa penerapan model pembelajaran Reciprocal learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal yang sama juga diungkapkan Mariana Taran (2018), bahwa model pembelajaran Reciprocal learning dapat meningkatkan nilai afektif, kognitif dan psikomotor siswa. Pada penelitian ini, penulis memilih SMP Negeri Widyakrama sebagai lokasi penelitian, karena lokasi penelitian tersebut berkaitan dengan lokasi PPL-II. Dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran IPS bahwa upaya peningkatan pembelajaran belum mencapai maksimal (masih rendah), hal ini terlihat dari hasil belajar khususnya kelas VIII. Nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditelah ditetapkan sekolah adalah 73. Dari data yang diperoleh, jumlah siswa kelas VIII sebanyak 30 orang, yang memperoleh nilai di atas standar ketuntasan sekitar 10 orang (33%), sedangkan yang memperoleh nilai di bawah standar ketuntasan 20 orang (67%). Berdasarkan observasi di SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo, dengan melihat kondisi sekolah saat berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar, peneliti mengetahui bahwa guru mata Pelajaran IPS terpadu di kelas VIII sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran IPS terpadu dengan menggunakan model mengajar yang cukup bervariasi seperti diskusi kelompok, tanya jawab dan latihan soal. Namun dalam pelaksanaan pembelajaran sering terdapat kendala, sebagian besar siswa hanya diam pada saat guru bertanya tentang pertanyaan dari materi yang telah dipelajari, hanya sebagian kecil siswa yang aktif dan mengerjakan tugas kelompok, siswa seringkali kurang merespon terhadap pelajaran IPS terpadu, dan tidak disiplinnya siswa terhadap pelajaran. Siswa tidak fokus mengikuti pembelajaran, beberapa siswa berbincang dengan siswa lainnya ketika guru menyampaikan materi, kurangnya rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari sehingga kemampuan bertanya mereka rendah, tugas-tugas atau PR yang tidak dikerjakan, rendahnya perhatian siswa terhadap pelajaran. Siswa kurang diberikan kesempatan untuk terlibat dalam belajar atau dengan kata lain peran guru dalam pembelajaran terlihat lebih dominan. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan belum optimal. Kondisi ini sangat terkait dengan motivasi, karena dapat mempengaruhi dan memberikan motivasi belajar kepada siswa. Meningkatkan motivasi belajar siswa dalam masa pandemi covid-19 saat ini bukanlah suatu hal yang mudah. Ini merupakan tantangan baru bagi guru agar proses pembelajaran tetap berjalan dengan memanfaatkan teknologi. Sistem 3 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 pembelajaran online merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan agar proses pembelajaran tetap terlaksana. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar adalah guru yang terlalu memfokuskan diri pada penyampaian materi dan kurang melibatkan siswa pada pembelajaran sehingga membuat siswa kesulitan mengembangkan ide dan pengetahuannya. Hal tersebut membuat pembelajaran kurang menarik dan membosankan. Salah satu model pembelajaran yang kini banyak mendapat respon adalah model Reciprocal learning. Reciprocal learning ini merupakan model yang dirasa dapat membantu meningkatkan motivasi belajar siswa, karena siswa diutamakan dapat menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu: menyimpulkan bahan ajar, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan apa selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa. Manfaatnya adalah dapat meningkatkan antusias siswa dalam pembelajaran karena siswa dituntut untuk aktif berdiskusi dan menjelaskan hasil pekerjaannya dengan baik. Oleh karena itu, pengaruh model Reciprocal learning dirasa dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Pada penelitian penggunaan model pembelajaran reciprocal learning ini akan diteliti apakah langkah-langkah model pembelajaran reciprocal learning yang terdiri dari : 1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa, 2) menyajikan informasi, 3) mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar, 4) membimbing kelompok bekerja dan belajar dengan alur empat komponen model pembelajaran reciprocal learning, 5) evaluasi, dan 6) memberikan penghargaan, dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Pengertian Motivasi Belajar Khodijah (2014) menjelaskan definisi motivasi belajar sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedang motivasi belajar adalah kondisi psikologi yang mendorong seseorang untuk belajar. Menurut Endah Widiarti (2018), motivasi belajar dapat diartikan sebagai energi dan arahan terhadap perilaku yang meliputi kebutuhan, minat, sikap, nilai, aspirasi dan perangsang. Kebutuhan dan dorongan untuk memuaskan kebutuhan dapat menjadi sumber utama motivasi belajar. Kebutuhan akan ilmu, pemahaman materi dan dorongan dalam diri untuk mencapai tujuan berprestasi merupakan bekal utama siswa untuk memiliki motivasi belajar yang kuat. Pengertian motivasi belajar yang tidak jauh berbeda disampaikan oleh Uno (2013:23) bahwa motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Dorongan internal dan eksternal pada siswa timbul karena faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik dapat berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita, sedangkan faktor ekstrinsik adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar kondusif dan 4 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 kegiatan belajar yang menarik. Berdasarkan beberapa pengertian motivasi belajar, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan suatu dorongan di dalam dan luar diri siswa yang dapat menjamin keberlangsungan aktivitas belajar sehingga terjadi perubahan dalam dirinya baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, dan tingkah lakunya, serta tercapainya tujuan yang dikehendaki yang dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Indikator Motivasi Belajar Menurut Hamzah Uno (2014: 23) indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil. Adanya keinginan berhasil menjadikan siswa menandakan bahwa siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar memiliki dorongan atau motif tersendiri untuk mencapai apa yang dicita-citakan. 2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar Dorongan dan kebutuhan dalam belajar timbul dari adanya Motivasi Belajar. 3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan Dorongan dan kebutuhan dalam belajar timbul dari adanya Motivasi Belajar, seseorang merasa butuh akan sesuatu sehingga melakukan upaya untuk memenuhinya. 4. Adanya penghargaan dalam belajar Penghargaan dalam belajar dapat berupa rasa puas akan hasil atau nilai dan ilmu yang diperoleh. 5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar Kegiatan belajar akan terasa menarik jika pembelajar memiliki motivasi karena Motivasi Belajar akan memberikan semangat dan menjadikan belajar menjadi proses yang menyenangkan. 6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif. Siswa yang memiliki motivasi belajar akan berusaha mencari atau menciptakan sendiri lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan dirinya dapat belajar dengan baik. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Motivasi belajar yang ada pada diri siswa dapat muncul apabila ada faktor- faktor yang mempengaruhi. Menurut Rifa’I (2015:101) faktor-faktor motivasi belajar tersebut dibagi menjadi enam, antara lain sebagai berikut: a. Sikap Faktor sikap memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku belajar siswa karena sikap dapat membantu siswa dalam merasakan dunianya. Sikap dapat didapatkan melalui proses seperti pengalaman, pembelajaran, identifikasi, perilaku pendidik-murid, orang tua-anak, dan sebagainya. b. Kebutuhan Kebutuhan merupakan kekuatan internal atau kekuatan yang berasal dari dalam diri individu yang bertindak dalam mengarahkan ke suatu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini siswa akan sangat termotivasi terhadap hal-hal yang siswa butuhkan atau inginkan. Sehingga guru dapat memanfaatkan kebutuhan tersebut untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. c. Rangsangan 5 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 Pengalaman siswa dengan lingkungan merupakan rangsangan yang dapat membuat seseorang siswa bersifat aktif. Apalagi jika rangsangan tersebut unik akan sangat menarik perhatian siswa dalam hal ini untuk belajar. Selain itu rangsanagan secara langsung dapat membantu memenuhi kebutuhan siswa dalam belajar. d. Afeksi Afeksi dapat menjadi motivasi intrinsik seseorang berkaitan dengan pengalaman emosional-kecemasan, kepedulian, dan pemilikan dan individu atau kelompok pada saat belajar. Apabila seorang siswa memiliki emosi yang positif pada saat kegiatan belajar maka akan mendorong siswa untuk belajar lebih maksimal. didik untuk belajar keras. e. Kompetensi Kompetensi dalam hal ini maksudnya adalah siswa akan secara alami atau secara intrinsik untuk berinteraksi secara efektif dengan cara akan berusaha memenuhi tugas-tugas yang diberikan secara berhasil agar menjadi puas. f. Penguatan Penguatan merupakan suatu hal atau peristiwa yang dapat meningkatkan kemungkinan respon seseorang. Penguatan dapat berupa antara lain seperti penghargaan terhadap hasil karya siswa, pujian, penghargaan sosial, hadiah dan perhatian. Sehingga penguatan terhadap perilaku belajar siswa sangat dibutuhkan karena dapat membuat siswa berusaha belajar secara lebih besar dan membuat belajar lebih efektif. Motivasi belajar siswa dapat muncul karena dipengaruhi oleh faktorfaktor yang berasal dari dalam maupun faktor dari luar. Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi enam yaitu sikap, kebutuhan, rangsangan, afeksi, kompetensi, dan penguatan. Dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan adanya motivasi, siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatifnya, serta dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Mengingat begitu pentingnya motivasi belajar dalam diri siswa, maka dalam penelitian ini untuk mengetahui motivasi belajar pada siswa, ditetapkan indikator motivasi belajar sebagai berikut: (a) tekun menghadapi tugas; (b) menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah; (c) lebih senang bekerja mandiri; (d) senang mencari dan memecahkan soal-soal. Dengan adanya motivasi belajar pada diri siswa dalam proses belajar mengajar akan menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Pembelajaran akan lebih bermakna dan pencapaian prestasi siswa akan lebih optimal dengan adanya motivasi belajar. Oleh karenanya, penting bagi guru untuk dapat memunculkan motivasi belajar pada setiap diri siswanya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memaksimalkan keterampilan guru dalam menggunakan model pembelajaran yang menarik untuk lebih memotivasi siswa dalam belajar. Fungsi Motivasi Dalam Belajar Sardiman (2014:85), mengemukakan beberapa fungsi motivasi dalam belajar diantaranya yaitu : 1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang 6 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 melepaskan energy. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. 2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. 3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut Model Pembelajaran Reciprocal Learning Pengertian Model Pembelajaran Reciprocal Learning Arends (dalam Fathurrohman 2015: 30) model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang disiapkan untuk membantu siswa mempelajari secara lebih spesifik berbagai ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa model-model pembelajaran adalah suatu rencana yang disiapkan guru untuk melakukan sebuah pembelajaran agar tercapainya suatu pembelajaran. dan dengan adanya model pembelajaran ini diharapkan agar bisa mengurangi rasa kejenuhan siswa didalam kegiatan belajar mengajar. Contoh model-model pembelajaran sangat beragam sekali diantaranya seperti (1) model pembelajaran kontekstual; (2) model pembelajaran kooperatif; (3) model pembelajaran kuantum; (4) model pembelajaran terpadu; (5) model pembelajaran berbasis masalah. Model-model pembelajaran tersebut tentunya mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing untuk itu guru harus memilih model pembelajaran yang tepat sesuai agar tercapainya suatu pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus memiliki pertimbangan-pertimbangan. Misalnya materi pembelajaran, tingkat pengembangan kognitif siswa, sarana atau fasilitas yang tersedia sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dari model-model pembelajaran yang telah disebutkan di atas, peneliti menerapkan model pembelajaran Reciprocal learning. Reciprocal learning yang pertama dikembangkan oleh Anne Marrie Polinscar dan Anne Brown merupakan suatu model pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman terhadap suatu topik. Dwi Rachmayani (2014), mengatakan bahwa model Reciprocal learning adalah model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, dan tidak ada asosiasi antara kemampuan komunikasi siswa dengan kemandirian belajar siswa pada kelas yang menggunakan model Reciprocal learning. Menurut Shoimin (dalam Avisha Heraspin; 2018), Reciprocal learning adalah suatu model dimana siswanya bisa mengajarkan materi yang dipelajarinya kepada temannya sendiri. Dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Reciprocal learning menginginkan siswanya menjadi guru untuk temannya sendiri. Di lain sisi, guru hanya menjadi fasilitator dan scaffolding (arahan oleh orang yang lebih tahu kepada orang yang kurang tahu). Reciprocal learning mengandung empat strategi, yaitu (1) Question Generating (siswa diberikan kesempatan untuk membuat pertanyaan terkait materi yang sedang dibahas), (2) Clarifying (siswa dapat bertanya kepada guru tentang konsep yang dirasa masih sulit atau belum bisa dipecahkan bersama kelompoknya), (3) 7 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 Predicting (siswa melakukan hipotesis atau perkiraan mengenai konsep apa yang akan didiskusikan selanjutnya oleh penyaji), dan (4) Summarizing (siswa mengidentifikasikan dan mengintegrasikan informasi-informasi yang terkandung dalam materi). Avisha Heraspin (2018), juga mengatakan bahwa model pembelajaran Reciprocal learning adalah model yang sangat efektif digunakan dalam proses pembelajaran karena dalam pembelajarannya akan membuat peserta didik untuk mengemukakan ide-ide dan gagasannya dalam memecahkan permasalahan. Efendi (2013), juga mengatakan Reciprocal learning merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki empat strategi yaitu merangkum, menyusun pertanyaan, mengklarifikasi dan memprediksi. Dalam strategi merangkum, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi dan menguraikan dengan kata-kata sendiri. Demikian juga teori yang dikemukakan oleh Hacker dan Tenent (dalam Sriyani Ketong, Burhanuddin, dan Wahyu Kurniati Asri: 2018) bahwa” The Student maintain their discussion of the longer and more seriously, were more active in their reading, and were provided with good models for summarizing, clarifying, predicting and questioning”. Maknanya dengan menggunakan Reciprocal Learning siswa dapat berdiskusi lebih lama, lebih sering, siswa lebih aktif dalam membaca dan mendapatkan empat model yang bagus yaitu memprediksi, mengklarifikasi, membuat pertanyaan dan membuat ringkasan. Menurut Youcheng Chen & Deyi Kong (2016), model pembelajaran Reciprocal learning menekankan pada konstruksi umum dan belajar melalui interaksi antara guru dan siswa serta diantara siswa dan siswa. Siswa bekerja sama dalam kelompok, siswa yang berkemampuan tinggi memimpin siswa yang berkemampuan rendah, sementara yang berkemampuan rendah dapat secara otomatis belajar dan meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan menerapkan strategi pada praktik umum yang nyata melalui bimbingan pemimpin dalam proses pembelajaran. Berdasarkan definisi diatas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran Reciprocal learning siswa diajarkan empat strategi pemahaman dan pengaturan diri spesifik, yaitu merangkum bacaan, mengajukan pertanyaan, memprediksi materi lanjutan, dan mengklarifikasi istilah-istilah yang sulit dipahami. Model pembelajaran Reciprocal learning yaitu model pembelajaran yang menekankan pada pemahaman mandiri siswa, siswa diminta oleh guru untuk mambaca teks bacaan materi, kemudian siswa segera ditetapkan seolah-olah menjadi guru untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa yang lain sehingga dapat meningkatkan penguasaan materi pembelajaran. Sedangkan guru mula-mula menjadi model dalam penerapan model pembelajaran reciprocal learing selanjutnya guru menjadi scaffolding. Langkah-langkah Model Pembelajaran Reciprocal Learning Demi mencapai pembelajaran yang efektif dan menyenangkan siswa, seorang pendidik perlu untuk menentukan model/metode dan langkah-langkah pembelajaran yang tepat sebagai penunjang dalam proses pembelajaran. Langkah- langkah model pembelajaran reciprocal learning adalah sebagai berikut (Muslimin, 2017) : 1) Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada 8 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. 2) Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan mendemostrasikan informasi kepada siswa. 3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. (guru membagi kelompok dengan memperhatikan kemampuan akademik, jenis kelamin, ras dan latar belakang siswa). 4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar dengan alur empat komponen model pembelajaran reciprocal learning : merangkum, menanya, mengklarifikasi, dan memprediksi. Guru menentukan seorang siswa sebagai pemimpin diskusi dalam kelompok masing-masing dan membagikan modul untuk didiskusikan. Selama proses diskusi guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain untuk memantau dan membimbing diskusi dari tiap kelompok. Guru juga sesekali dapat memberikan pertanyaan kepada siswa untuk memperkaya diskusi. 5) Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari dan didiskusikan dengan jalan masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. 6) Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atas hasil belajar individu maupun kelompok. Adapun langkah-langkah pelaksanaan model Reciprocal learning menurut Miftahul Huda (2018) sebagai berikut: a. Langkah 1 – Peragaan Awal Bimbinglah siswa untuk belajar dengan memperagakan, mengikuti, dan menerapkan strategi-strategi pembaca efektif di atas selama proses membaca. Bacalah salah satu bagian teks dengan keras dan peragakan empat langkah tersebut-meringkas, mengklarifikasi, mempertanyakan, dan memprediksi. (prediksi bisa menjadi optional bergantung pada materi optional bergantung pada materi yang dipelajari). b. Langkah 2 – Pembagian Peran Dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari empat siswa, bebankan satu peran pada masing-masing anggota sebagai summariser (perangkum), questioner (penanya), clarifer (pengklarifikasi), dan predictor (penduga). c. Langkah 3 – Pembacaan dan Pencatatan Mintalah siswa untuk membaca beberapa paragraf dari teks terpilih. Mintalah mereka untuk menggunakan strategi-strategi mencatat, seperti menggarisbawahi, mengcoding, dan sebagainya. d. Langkah 4 – Pelaksanaan Diskusi Siswa yang berperan sebagai predictor bertugas membantu kelompoknya menghubungkan bagian-bagian teks dengan menyajikan prediksi-prediksi dari bagian sebelumnya dan juga membantu kelompoknya untuk memprediksi apa yang akan mereka baca selanjutnya dengan menggunakan isyarat-isyarat atau kesimpulan sementara dalam teks. Questioner bertugas membantu 9 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 kelompok untuk bertanya dan menjawab pertanyaan tentang teks tersebut dan mengingatkan kelompok untuk menggunakan seluruh jenis pertanyaan (level tinggi dan level rendah). Summariser bertugas menegaskan kembali gagasan utama dalam teks tersebut dengan bahasa mereka sendiri. Clarifier membantu kelompok menemukan bagian-bagian teks yang tidak jelas dan menemukan cara-cara untuk memperjelas kesulitan-kesulitan ini. e. Langkah 5 – Pertukaran Peran Peran-peran dalam kelompok harus saling ditukar satu sama lain. Teks yang berbeda juga perlu disajikan. Siswa mengulang proses ini dengan peran yang baru. Teruslah mengulang proses ini hingga topik/teks yang dipilih selesai di pelajari. Dapat disimpulkan langkah pembelajaran Reciprocal learning ini siswa dikembangkan untuk membantu guru menggunakan dialog- dialog kerjasama untuk mengajarkan pemahaman bacaan secara mandiri dan dapat saling membantu siswa lain dalam kelompok untuk menemukan bagian teks yang tidak jelas dan menemukan cara-cara memperjelas kesulitan-kesulitan ini. Dalam tahap kelanjutan langkah-langkah pelaksanaan pengajaran terbalik melalui prosedur harian yang dikemukakan oleh Trianto (dalam Sriyani Ketong, Burhanuddin, dan Wahyu Kurniati Asri: 2018) yaitu sebagai berikut: a) Guru memberikan materi b) Guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. c) Disediakan teks bacaan materi yang dapat diselesaikan kira–kira dalam satu pertemuan. d) Dijelaskan pada segmen pertama guru bertindak sebagai gurunya ( model) e) Siswa diminta untuk membaca dalam hati bagian teks yang ditetapkan. Untuk memudahkan siswa mula–mula bekerja paragraf demi paragraf. f) Jika siswa telah selesai membaca, dilakukan pemodelan seperti memprediksi informasi, mengidentifikasi dan mengklarifikasi, membuat atau mengajukan pertanyaan, dan membuat rangkuman g) Siswa diminta untuk memberikan komentar tentang pengajaran yang baru berlangsung dan mengenai bacaan. h) Segmen berikutnya dilanjutkan dengan bagian bacaan atau paragraf berikutnya, dan dipilih satu siswa yang akan menjadi “guru siswa”. i) Siswa dilatih atau diarahkan berperan sebagai “guru siswa” sepanjang kegiatan itu. Mendorong siswa lain untuk berperan serta dalam dialog, namun selalu memberi “guru siswa” itu kesempatan untuk memimpin dialog. Memberikan banyak umpan balik dan pujian kepada “ guru siswa” untuk peran sertanya. j) Pada hari–hari berikutnya, semakin lama guru mengurangi peran dalam dialog, sehingga “guru siswa” dan siswa lain itu berinisiatif sendiri menangani kegiatan itu. Peran guru selanjutnya sebagai moderator, menjaga agar siswa tetap berada dalam jalur dan membantu mengatasi kesulitan. Kelebihan dan Kelemahan Reciprocal Learning Setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Meskipun demikian, setiap model pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar agar lebih baik. Kekurangan dalam metode pembelajaran bukanlah hal yang harus dipermasalahkan, tetapi kita harus belajar memahami dari kekurangan tersebut sehingga kita mampu untuk 10 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 mengatasiya. Menurut Effendi (2013:87) Model pembelajaran Reciprocal learning mempunyai kelebihan dan kekurangan. a. Kelebihan dari Reciprocal learning yaitu : (1) siswa belajar dengan mengerti; (2) siswa tidak mudah lupa; (3) siswa belajar dengan mandiri; (4) siswa termotivasi untuk belajar. b. Adapun kekurangan-kekurangan dari Reciprocal learning yaitu: (1) butuh waktu yang lama; (2) sangat sulit diterapkan jika pengetahuan siswa tentang materi prasyarat kurang; (3) adakalanya siswa tidak mampu, akan semakin tidak suka dengan pembelajaran tersebut. Sejalan dengan pernyataan di atas, Sumantri (dalam Dhea Putri Munggaran: 2016), mengatakan bahwa kelebihan model pembelajaran Reciprocal learning, sebagai berikut. 1) Mengedepankan bagaimana belajar yang efektif tanpa adanya faktor pendorong dari guru, karena guru hanya berperan sebagai fasilitator. 2) Menekankan pada siswa bagaimana cara mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. 3) Dapat mengembangkan keterampilan untuk berkolaborasi. Berdasarkan kelebihan model pembelajaran di atas, dapat penulis simpulkan bahwa model tersbut lebih menekankan pada kepercayaan pada seorang rekan, mengajak siswa untuk belajar aktif tanpa adanya faktor pendorong dari guru dan tugas guru hanya menjadi pendamping, sebagai pendengar aktif, dan memberikan umpan balik positif. Model ini akan menguntungkan siswa di dalam kehidupan mereka saat mereka mengembangkan keterampilan untuk berkolaborasi. Selain memiliki kelebihan, terdapat pula kekurangan dalam model pembelajaran yang digunakan, sebagai berikut. 1) Komunikasi kurang terjalin secara efektif. 2) Pembelajaran terlalu berpusat pada siswa. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Reciprocal learning memiliki kelebihan dan kekurangan sama seperti model pembelajaran lainnya. Akan tetapi, hal tersebut dapat ditanggulangi dengan kemampuan guru untuk mengarahkan dan memfasilitasi siswa dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Guru dituntut agar tidak membiarkan siswa ke luar dari konteks pembelajaran dan berkonsentrasi untuk selalu mengarahkan para siswanya dengan baik. Karakteristik Model Pembelajaran Reciprocal Learning Setiap model pembelajaran mempunyai karateristik tertentu, begitu pula dengan model Reciprocal learning yang memiliki karakteristik berbeda dengan model pembelajaran lainnya. Penerapan model Reciprocal learning dalam pembelajaran akan mengakibatkan siswa dapat memahami materi, sehingga memiliki motivasi untuk belajar. Hal tersebut dikarenakan model Reciprocal learning lebih mengedepankan siswa untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan baik dalam suatu kelompok yang telah dibentuk (Awaliah & Idris, 2015). Selain itu Susanti (2018) menjelaskan bahwa ide atau gagasan dapat diutarakan 11 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 siswa tanpa merasa takut salah jika diskusi dengan anggota kelompoknya. Adapun Slavin (2011) mengemukakan karakteristik model Reciprocal learning, yaitu: 4) Memikirkan pertanyaan-pertanyaan penting yang dapat ditanyakan dari apa yang telah dibaca dan untuk meyakinkan bahwa siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 5) Merangkum informasi-informasi penting dari bacaan yang siswa baca. 6) Memprediksi apa yang mungkin akan dibahas pada bacaan selanjutnya. 7) Mengidentifikasi hal-hal yang kurang jelas dan memberikan klarifikasi (penjelasan). Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik Reciprocal learning yaitu dialog antara siswa dan guru, dimana masing-masing mempunyai kesempatan yang sama untuk memimpin diskusi. Dialog yang terstruktur dengan menggunakan empat strategi yaitu merangkum, membuat pertanyaan, mengklarifikasi dan memprediksi. Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana dan terstruktur dengan jelas sejak awal hinga pembuatan desain penelitiannya. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif, Menurut Sugiyono (2013:29) pengertian deskriptif adalah penelitian yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau member gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ex post facto. Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variabel bebas yang secara keseluruhan sudah terjadi. Hasil Penelitian dan Pembahasan Uji Validitas variabel ini menggunakan rumus Pearson Product Moment. Untuk mengetahui validnya X (Model Pembelajaran Reciprocal Learning), dibandingkan rhitiung dan rtabel. Jika rhitiung ≥ rtabel, maka data valid. Dan berdasarkan perhitungan bahwa rhitiung ≥ rtabel yang berarti variabel X (Model Pembelajaran Reciprocal Learning) datanya valid, rtabel dengan n = 60 dan tingkat signifikan 5% maka diperoleh r tabel = 0,254 Sementara itu untuk pengujian reliabilitas ditemukan bahwa nilai cronbach alpha sebesar 0.844. Nilai ini lebih besar dari ketentuan angka acuan sebesar 0.6. Sehingga dapat dikatakan bahwa keseluruhan pernyataan dari variabel X (Model Pembelajaran Reciprocal Learning) yang valid telah memenuhi reliabilitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa instrumen Model Pembelajaran Reciprocal Learning adalah Reliabel. Uji Validitas variabel ini menggunakan rumus Pearson Product Moment. Untuk mengetahui validnya Y (Motivasi Belajar Siswa), dibandingkan r hitiung dan rtabel. Jika rhitiung ≥ rtabel, maka data valid. Dan berdasarkan perhitungan bahwa rhitiung ≥ rtabel yang berarti variabel Y (Motivasi Belajar Siswa) datanya valid, rtabel dengan n = 60 dan tingkat signifikan 5% maka diperoleh r tabel = 0,254. Sementara itu 12 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 untuk pengujian reliabilitas ditemukan bahwa nilai cronbach alpha sebesar 0.876. Nilai ini lebih besar dari ketentuan angka acuan sebesar 0.6. Sehingga dapat dikatakan bahwa keseluruhan pernyataan dari variabel Y (Motivasi Belajar Siswa) yang valid telah memenuhi reliabilitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa instrumen Motivasi Belajar Siswa adalah Reliabel. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Ŷ = a + bX pengaruh model pembelajaran reciprocal Untuk mengetahui bagaimana learning terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Analisis regresi sederhana digunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat serta memprediksi nilai variabel terikat dengan menggunakan variabel bebas. Setelah dilakukan uji asumsi normalitas dan ternyata dipenuhi, tahap selanjutnya dilakukan pemodelan data dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Dalam perhitungan persamaan regresi, digunakan suatu persamaan umum yaitu: (Sugiyono, 2014:270) Hasil analisis regresi dengan menggunakan bantuan SPSS adalah sebagai berikut : Dalam perhitungan persamaan regresi linear sederhana, digunakan rumus persamaan umum yaitu : Ŷ = 18.155 + 0.690 + ε Dari hasil diatas dapat di interpretasikan beberapa hal berikut : 1) Tanpa dipengaruhi oleh variabel apapun, maka nilai dari Motivasi Belajar Siswa akan bernilai 18.155 2) Variabel Model Pembelajaran Reciprocal Learning memberikan pengaruh positif terhadap Motivasi Belajar Siswa. Semakin tinggi dan baik model pembelajaran reciprocal learning akan berdampak pada peningkatan Motivasi Belajar siswa dengan koefisien regresi sebesar 0.690. Hasil Uji Hipotesis Uji Silmutan (Uji f) Pengujian model regresi ini dilakukan dengan menggunakan uji F dengan tahapan sebagai berikut : 1. Penentuan Hipotesis Ho : seluruh koefisien regresi tidak signifikan (model regresi tidak signfikan) H1 : koefisien regresi signifikan (model regresi signfikan) 2. Penentuan Statistik Uji Dalam melakukan uji kebaikan model digunakan uji F. 3. Penentuan Kriteria uji Penentuan kriteria uji didasarkan pada perbandingan antara nilai F-hitung yang diperoleh dengan F-tabel. Jika nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel maka Ho ditolak, dan jika nilai F-hitung lebih kecil dari nilai F-tabel maka Ho diterima. Dari hasil diatas didapat nilai F-hitung sebesar 39.818. Adapun nilai Ftabel pada tingkat signifikansi 5% dan derajat bebas pembilang (df1) sebesar k =1 dan derajat bebas penyebut (df2) sebesar N-k-1 = 60-1-1 = 58 adalah sebesar 4,01. Jika kedua nilai F ini dibandingkan, maka nilai F-hitung yang diperoleh jauh lebih besar F-tabel sehingga Ho ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi yang dihasilkan sudah sesuai dengan data. 13 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 1. 2. 3. Uji Parsial (Uji t) Setelah pengujian model dilakukan selanjutnya akan dilaksanakan pengujian signfikansi pengaruh dari Model Pembelajaran Reciprocal Learning terhadap Motivasi Belajar Siswa. Adapun pengujian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : Penentuan Hipotesis Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel Model Pembelajaran Reciprocal Learning terhadap Motivasi Belajar H1 : terdapat pengaruh signifikan dari variabel Model Pembelajaran Reciprocal Learning terhadap Motivasi Belajar Penentuan Statistik Uji Dalam melakukan uji signfikansi pengaruh dalam model regresi akan digunakan uji t. Penentuan Kriteria uji Penentuan kriteria uji didasarkan pada perbandingan antara nilai t-hitung yang diperoleh dengan t-tabel. Jika nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel maka Ho ditolak, dan jika nilai t-hitung lebih kecil dari nilai t-tabel maka Ho diterima. Dari hasil analisis diatas diketahui nilai t-stat untuk variabel model pembelajaran reciprocal learning adalah sebesar 6.310 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000. Adapun nilai t-tabel pada tingkat signfikansi 5% dan derajat bebas n-k-1 atau 60-1-1= 58 adalah sebesar 1.67155. Jika kedua nilai t ini dibandingkan maka nilai t-hitung yang diperoleh lebih besar dari nilai t-tabel sehingga Ho ditolak. Dengan kata lain pada tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari Model Pembelajaran Reciprocal Learning terhadap Motivasi Belajar Siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo. Koefisien Determinasi (Ajusted R-Squared) Untuk mengetahui besar pengaruhnya dari model pembelajaran reciprocal learning terhadap motivasi belajar siswa digunakan analisis koefisien determinasi. Nilai koefisien determinasi mencerminkan besarnya pengaruh perubahan variabel bebas dalam menjalankan perubahan pada variabel tidak bebas secara bersama- sama, dengan tujuan untuk mengukur kebenaran dan kebaikan hubungan antar variabel dalam model yang digunakan. Nilai koefien determinasi (R Square) digunakan untuk mengetahui besarnya variasi variabel bebas dalam menerangkan variabel terikat. Nilai koefisien determinasi terletak diantara angka nol dan satu. Nilai R 2 yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menerangkan variabel terikat sangatlah terbatas. Nilai yang mendekati satu, maka variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi merupakan suatu nilai yang besarnya berkisar antara 0% - 100%. Besarnya koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel berikut: Analisis Koefisien Determinasi Model Summaryb 14 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 Model 1 R R Square Adjusted R Square .799a 0,638 Std. Error of the Estimate 0,627 6.5032 7 a. Predictors: (Constant), Model Pembelajaran Recipprocal Learning b. Dependent Variable: Motivasi Belajar Sumber data olahan 2020 Berdasarkan hasil analisis koefisien determinasi pada tabel diatas menunjukan besarnya koefisien korelasi yakni sebesar 0,799. Atau dengan kata lain, hubungan variabel bebas dengan variabel terikat yakni sebesar 79,9%. Sehingga dapat dikatakan bahwa variabel model pembelajaran reciprocal learning memiliki hubungan yang erat dangan variabel motivasi belajar siswa di SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo. Kemudian untuk menguji besar pengaruhnya (Kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat) menggunakan R Square, hasil nilai R Square adalah sebesar 0,638. Nilai ini menunjukan bahwa sebesar 63,80% variabel model pembelajaran reciprocal learning di SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo dapat dipengaruhi oleh motivasi belajar siswa, sedangkan sisanya sebesar 37,20% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak di desain dalam penelitian ini. Adapun variabel lain yang tidak diteliti yakni keteladanan, keterampilan mengajar guru, kemampuan siswa, kemauan siswa dalam belajar serta bakat siswa. Pembahasan Berdasarkan masalah penelitian yang diangkat dari tujuan penelitian yang ada yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model pembelajaran reciprocal learning terhadap motivasi belajar siswa. Dalam penelitian ini terdapat enam indikator yang menyangkut tentang variabel X yaitu (Model Pembelajaran Reciprocal Learning) menurut teori Muslimin (2017) yaitu indikator menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa, menyajikan informasi, mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar, membimbing kelompok bekerja dan belajar dengan alur empat komponen model pembelajaran reciprocal learning : merangkum, menanya, mengklarifikasi, dan memprediksi, evaluasi, serta memberikan penghargaan. Variabel Y (Motivasi Belajar Siswa) menurut teori Uno (2015) dengan enam indikator yaitu adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar serta adanya lingkungan belajar yang kondusif. Dari hasil penelitian variabel X (Model Pembelajaran Reciprocal Learning) yaitu menunjukan bahwa lebih banyak responden yang mengemukakan jawaban yang positif dari 15 option. Siswa menyatakan bahwa indikator evaluasi, indikator menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik, serta indikator memberikan penghargaan lebih banyak memberikan skor tertinggi dengan kategori Selalu (SL) atau Sering (SR). Variabel X (Model Pembelajaran Reciprocal Learning) berada pada kategori yang cukup baik dengan 15 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 skor sebesar 83,35%. Dari enam indikator yang diamati, indikator yang mempunyai skor capaian tertinggi adalah indikator evaluasi dengan capaian skor sebesar 88,00%, indikator menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa dengan capaian skor sebesar 87,33%, dan indikator memberikan penghargaan dengan capaian skor sebesar 87,33%. Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran reciprocal learning mempunyai pengaruh yang baik terhadap terciptanya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo. Selanjutnya hasil penelitian dari variabel Y (Motivasi Belajar Siswa) yaitu menunjukan bahwa lebih banyak responden yang mengemukakan jawaban yang positif dari 15 option. Siswa menyatakan bahwa indikator adanya harapan dan cita-cita masa depan, indikator adanya penghargaan dalam belajar, indikator adanya lingkungan belajar yang kondusif, dan adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar lebih banyak memberikan skor tertinggi dengan kategori Selalu (SL) atau Sering (SR). Variabel Y (Motivasi Belajar Siswa) berada pada kategori yang cukup baik dengan skor sebesar 81,75%. Dari enam indikator yang diamati, indikator yang mempunyai skor capaian tertinggi adalah indikator adanya harapan dan cita-cita masa depan dengan capaian skor sebesar 86,66%, indikator adanya penghargaan dalam belajar dengan capaian skor sebesar 86,00%, indikator adanya lingkungan belajar yang kondusif dengan capaian skor sebesar 84,66%, dan indikator adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar dengan capain skor sebesar 84,33%. Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran reciprocal learning mempunyai pengaruh yang baik terhadap terciptanya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo. Dalam penelitian ini digunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk uji normalitas data hasil sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran reciprocal learning dengan motivasi belajar siswa benar-benar berdistribusi normal. Dengan demikian populasi atau kedua variabel penelitian adalah berdistribusi normal, maka uji yang akan dilakukan selanjutnya adalah uji regresi dan korelasi. Pengujian ini yang dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar pengaruh model pembelajaran reciprocal learning terhadap motivasi belajar siswa sehubungan dengan hipotesis masalah yang diteliti. Kemudian pengujian hipotesis dengan menggunakan pengujian regresi linear sederhana, dari hasil pengujian regresi menunjukan bahwa model pembelajaran reciprocal learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII di SMP Negeri Widyakrama Kabupaten Gorontalo. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien determinasi (r2) sebesar 0,638 nilai ini berarti bahwa sebesar 63,80% variabel model pembelajaran reciprocal learning dipengaruhi oleh motivasi belajar siswa. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 37,20% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak di desain dalam penelitian ini seperti keteladanan, keterampilan mengajar guru, kemampuan siswa, kemauan siswa dalam belajar serta bakat siswa. Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara model pembelajaran reciprocal learning terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII SMP Negeri 16 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 Widyakrama Kabupaten Gorontalo, dapat diuji kebenarannya atau dapat diterima dalam penelitian ini. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan penelitian sebagai berikut Model Pembelajaran Reciprocal Leraning berpengaruh positif dan signifikan terhadap Motivasi Belajar siswa. Semakin baik model pembelajaran reciprocal learning di sekolah maka akan mampu meningkatkan tingkat motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa. Besar koefisien determinasi model pembelajaran reciprocal learning terhadap motivasi belajar siswa mencapai 63,80% sedangkan sisanya sebesar 37,20% motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak didesain dalam penelitian ini seperti keteladanan, keterampilan mengajar guru, kemampuan siswa, kemauan siswa dalam belajar serta bakat siswa. Saran Berdasarkan kesimpulan penelitian yang telah dikemukakan, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut : 1. Pendidik dapat menerapkan model pembelajaran reciprocal learning agar peserta didik lebih antusias dalam pembelajaran. 2. Sekolah diharapkan dapat memberikan dukungan dan memfasilitasi penerapan model pembelajaran yang bervariasi, salah satunya model reciprocal learning. Dengan demikian pembelajaran yang bermakna dapat diperoleh peserta didik. Daftar Pustaka Arikunto. 2015. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Awaliah, Reski, Ridwan Idris. 2015. Jurnal Pengaruh Penggunaan Model Reciprocal Teaching Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII MTSN Balang-balang Kecamatan Bontomarunnu Kabupaten Gowa. Vol.3 No.1 Chen, Youcheng, Deyi Kong. 2016. Jurnal An Investigation On Factors In The Integration Of Reciprocal Teaching Into Multimedia Teaching Effendi, N. 2013. Jurnal Pendekatan Pengajaran Reciprocal Teaching Berpotensi Meningkatkan Ketuntasan Hasil Belajar Biologi Siswa SMA. Vol.2 No.1 Fathurrohman, M. 2015. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jogjakarta: ArRuzz Media. Fitriani, Ulan. 2017. Jurnal Penerapan Model Reciprocal Teaching Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Sejarah Siswa Kelas Xi IPS 3 SMA AL-AZHAR 3 BANDAR LAMPUNG Hamzah B Uno. 2013. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara Hamzah B. Uno. 2016. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara Heraspin, Avisha. 2018. Jurnal Penerapan Pembelajaran Reciprocal Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dan Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas IV Huda, Miftahul. (2018). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran (Isu-isu Metodis dan Paradigmatis). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jum’ati, Yaumal. 2016. Pengaruh Pelaksanaan Pembelajaran Metode Reciprocal 17 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 Learning Terhadap Hasil Belajar Matematika Di Tinjau Dari Motivasi Belajar Siswa Di SMP Trunojoyo Cakru Kencong Jember Ketong, Sriyani, Burhanuddin, dan Wahyu Kurniati Asri. 2018. Jurnal Keefektifan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Dalam Kemampuan Membaca Memahami Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 11 Makassar. Vol : 2 No: 1 Khodijah, N. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press Kompri. 2016. Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru dan Siswa. Bandung: PT Rosda Karya Lisnawati, S. 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Sramble Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKN Di Kelas III SDIT Al-Madinah Cibinong Bogor Masliza. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Berbantuan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pelajaran Matematika Di Kelas IV₁ Min Tungkob Aceh Besar Munggaran, Dhea Putri. 2016. Pembelajaran Mengidentifikasi Kesalahan Morfologis PadabTeks Pidato Dengan Menggunakan Model Reciprocal Learning Pada Siswa Kelas X SMA Pasundan 2 Cimahi Tahun Pelajaran 2015/2016 Muslimin. 2017. Jurnal Pembelajaran Matematika Dengan Model Reciprocal Teaching Untuk Melatih Kecakapan Akademik Siswa Kelas VIII SMP. Vol.11 No.1 Noviyanti. 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih Nuraini, Fitriani dan Raudhatul Fadhilah. 2018. Jurnal Hubungan Antara Aktivitas Belajar Siswa Dan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Kimia Kelas X SMA Negeri 5 Pontianak. Vol.6 No.1 Panjaitan, Ayanana A. 2015. Jurnal Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI IPS Di SMA Negeri 1 Lumban Julu Tahun Pembelajaran 2014/2015 Rachmayani, Dwi. 2014. Jurnal Penerapan Pembelajaran Reciprocal Teaching Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Dan Kemandirian Belajar Matematika Siswa. Vol: 2 No: 1 Rifa’i. 2015. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES Press Sardiman. 2014. Interaksi &Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada Sakban, Nurmal dan Ridwan. 2019. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia. Vol.2, No.1 Sardiyati, Ria. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Slavin, Robert E. 2011. Psikologi Pendidikan (Teori dan Praktik). Jakarta: Indeks. Sugiyono . 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta 18 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 1 - 19 Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta Surono. 2017. Jurnal Penerapan Model Reciprocal Teaching Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Susanti. 2018. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Kingdom Plantae Kelas X SMA Negeri 3 Tanjung Raja Taran, Mariana. 2018. Jurnal Penerapan Model Reciprocal Learning Untuk Meningkatkan Nilai Siswa Dalam Mempelajari Fungsi Pajak Di SMPN 1 Simpang Tiga. Vol : 10 No: 2 Widiarti, Endah. 2018. Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kesiapan Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X Ilmu-Ilmu Sosial Di SMA Negeri 2 Banguntapan, Bantul Wulandari, Esti. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Pada Materi Kegiatan Pokok Ekonomi Untuk Meningkatkan Kemandirian Dan Motivasi Belajar IPS Siswa Kelas VIII F Di SMP Negeri 2 Ngemplak Sleman 19