J-HICS Journal of Health Innovation and Community Service Vol. 4 No. 1 April 2025, hal. Penyuluhan Dan Pelatihan Senam Osteoporosis Sebagai Upaya Pencegahan Osteoporosis Pada Wanita Menopause Di Posyandu Bunda Lestari Desa Karangrau Sokaraja Uun Octaviania. Siti Haniyahb. Ikit Netra Wirakhmic a,b,c Universitas Harapan Bangsa. Purwokerto. Jawa Tengah Universitas Harapan Bangsa. Purwokerto. Indonesia Email: uunoctaviani13@gmail. Nomer HP: 08882400295 Abtrak: Article Hystory Received:11-03-2025 Latar Belakang: Menopause merupakan peralihan dari fase reproduksi ke fase non-reproduksi yang ditandai dengan berhentinya menstruasi. Revised: 14-03-2025 Biasanya wanita yang mengalami menopause ada dalam rentang usia Accepted:03-05-2025 45-55 tahun. Wanita yang telah mengalami menopause berisiko tinggi 5,6 kali mengalami osteoporosis. Dimana pada wanita yang mengalami Kata kunci: menopause ini akan mengalami penyusutan massa tulang sekitar 40senam osteoporosis, 50%, hal ini di karenakan adanya penurunan produksi hormon estrogen. senam yang dilakukan secara teratur dapat mempengaruhi massa ulang osteoporosis, wanita sehingga resiko terjadinya osteoporosis dapat dicegah. Tujuan: Memberikan penyuluhan dan pelatihan senam sebagai upaya pencegahan osteoporosis pada wanita menopause. Metode: Kegiatan Keywords: pengabdian masyarakat ini menggunakan metode ceramah dan osteoporosis exercise, demonstrasi yang didukung oleh media seperti PowerPoint, video, dan prevention of buku saku tentang pencegahan osteoporosis. Kegiatan meliputi pemeriksaan IMT (Indeks Massa Tubu. , pengerjaan pre-test dan monopausal woman pemberian materi tentang osteoporosis, pengerjaan post test dan dilanjutkan dengan pelatihan senam osteoporosis. Hasil: Hasil dari kegiatan ini menunjukan peningkatan pengetahuan dari hasil pre test dan post-test dari skor rata-rata 72,25 menjadi 86,25. keterampilan lansia dalam melakukan senam osteoporosis 92,55, yang menunjukkan bahwa mereka dapat melakukan senam osteoporosis dengan baik. Kesimpulan: Senam Osteoporosis terbukti cukup efektif sebagai upaya pencegahan osteoporosis. Selain itu, keterampilan lansia dalam melakukan senam osteoporosis diklasifikasikan sebagai baik, dengan sebagian besar peserta mencapai skor tinggi pada lembar pemantauan. Abstract: Background: Menopause is a transition from the reproductive phase to the non-reproductive phase which is marked by the cessation of Usually women who experience menopause are in the age range of 45-55 years. Women who have experienced menopause have a 5. 6 times higher risk of developing osteoporosis. Where women who experience menopause will experience a reduction in bone mass of around 40-50%, this is due to the inCuence of the productivity of the https://jurnal. id/index. JHIC/index E-ISSN: J-HICS Journal of Health Innovation and Community Service Vol. 4 No. 1 April 2025, hal. hormone estrogen. Regular exercise can affect bone mass so that the risk of osteoporosis can be prevented. Objective: To provide education and training on osteoporosis exercises as an effort to prevent osteoporosis in menopausal women. Method: This community service activity uses lecture and demonstration methods supported by media such as PowerPoint, videos and pocket books about osteoporosis Activities include checking BMI (Body Mass Inde. , taking a pre-test, providing material about osteoporosis, doing a post-test and continuing with osteoporosis exercise training. Results: The results of this activity show an increase in knowledge from the pre-test and post-test results from an average score of 72. 25 to 86. The skill of the elderly in doing osteoporosis exercises is 92. 55, which shows that they can do osteoporosis exercises well. Conclusion: Osteoporosis exercise has proven to be quite effective as an effort to prevent osteoporosis. addition, the elderly's skills in performing osteoporosis exercises were classified as good, with most participants achieving high scores on the monitoring sheet. night sweat . erkeringat di malam har. , dryness vaginal . ekeringan vagin. , insomnia, inkontinensia urin, peningkatan berat badan, dan osteoporosis. Selain itu, menopause dapat menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan sebagai akibat dari penurunan kekuatan otot dan proprioseptif (Azizah et al. , 2. Wanita yang telah mengalami menopause berisiko tinggi 5,6 kali mengalami Dimana pada wanita yang mengalami menopause ini akan mengalami penyusutan massa tulang sekitar 40-50%, hal ini di karenakan adanya pengaruhi Osteoporosis yang dialami oleh sejumlah wanita menopause disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya seperti riwayat penyakit tertentu, kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan berkelanjutan, wanita yang melahirkan lebih dari 3 kali dan kekurangan status gizi (Wildawati et al. , 2. Menurut WHO definisi osteoporosis adalah gangguan tulang dengan ciri penipisan tulang dan gangguan arsitektur tulang yang berdampak tulang menjadi rapuh dan mudah retak. Perapuhan tulang PENDAHULUAN Menopause merupakan peralihan dari fase reproduksi ke fase non-reproduksi Biasanya mengalami menopause ada dalam rentang World Health Organization (WHO), memperkirakan pada tahun 2030, akan ada sekitar 1,2 miliar wanita berusia di atas 50 tahun. Mayoritas, sekitar 80%, tinggal dinegara-negara menopause meningkat sebesar tiga persen setiap tahunnya. Di Indonesia. Dinas Kesehatan Republik Indonesia diperkirakan terdapat 60 juta perempuan yang telah mengalami menopause (Putri ,al. , 2. Berbagai perubahan baik perubahan fisik maupun psikologis terjadi pada wanita Gejala psikologis yang dialami diantaranya yaitu daya ingat yang menurun, depresi, mudah lelah, emosi yang tidak stabil, dan gelisah. Sedangkan gejala fisiknya diantaranya yaitu hot flushes . emburan panas dari dada hingga waja. , https://jurnal. id/index. JHIC/index E-ISSN: J-HICS Journal of Health Innovation and Community Service Vol. 4 No. 1 April 2025, hal. tidak memberi gejala yang khas sehingga banyak orang tidak menyadari adanya kemunduran ini (Minarsih et al. , 2. Prevalensi Osteoporosis di Indonesia sebesar 23% pada wanita berusia 50-80 tahun, dan 53% pada wanita berusia 80 tahun ke atas. Penyakit osteoporosis ini dapat menimbulkan gejala yang ringan hingga fatal. Gejala yang ringan diantaranya seperti nyeri saat berjalan atau saat tulang digerakkan, dan gejala fatal seperti kerapuhan atau pengeroposan tulang (Dinas Kesehatan Jakarta, 2. Penyebab osteoporosis dipengaruhi oleh berbagai faktor dan pada individu bersifat multifaktoral seperti gaya hidup tidak sehat, pengetahuan mencegah osteoporosis yang minim serta akibat kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari mulai anak-anak sampai dewasa, dan kurangnya asupan Kepadatan tulang menjadi rendah, ini lah yang menyebabkan terjadinya Konsumsi kalsium yang rendah dan kurangnya magnesium juga menjadi salah satu penyebab osteoporosis. Magnesium terlibat dalam 300 lebih fungsi tubuh, selain untuk membantu metabolisme kalsium dan vitamin D, magnesium juga berperan dalam mencegah pengeroposan tulang (Aklima, 2. Upaya pencegahan osteoporosis dengan melakukan olahraga dapat melatih tulang menjadi lebih kuat, padat dan keras. Hasil penelitian Umamah. , . menunjukkan ada hubungan antara senam osteoporosis dengan kejadian osteoporosis pada peserta senam di Rumah Sakit Islam Surabaya. Hal ini dikarenakan senam yang dilakukan secara teratur dapat mempengaruhi massa osteoporosis dapat dicegah. Sirkulasi darah menjadi lancar pada orang yang melakukan senam secara teratur sehingga nutrisi akan terus terdistribusikan dengan baik ke tulang kepadatan tulang, mengurangi rasa nyeri dan terjaga kesehatannya (Maydianasari et , 2. Senam kombinasi beberapa jenis latihan yang bersifat aerobic dengan benturan ringan, latihan kekuatan dengan menggunakan Latihan keseimbangan dan latihan pernafasan. Ditegaskan bahwa melakukan senam osteoporpsis juga dapat menjaga postur tubuh, menjaga kelenturan dan pergerakan otot, meningkatkan kerja jantung dan paruparu, menjaga keseimbangan tubuh, melatih koordinasi anggota gerak. Aktivitas fisik merupakan gerakan fisik apapun yang dihasilkan oleh otot dan rangka yang pengeluaran energi di atas kebutuhan energi saat istirahat, yang diukur dalam jumlah kilo kalori (Purba & Rokhima, 2. METODE Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat memberikan Pendidikan Kesehatan. Proses persiapan sebelum dilakukan Pendidikan Pelaksana mempersiapkan dan mengkoordinasikan dengan melakukan prasurvei dan mengurus perizinan untuk pengambilan data serta mengumpulkan informasi terkait permasalahan yang dihadapi mitra. Pelaksana juga menjalin kerjasama dengan kader posyandu. setelah itu, pelaksana mempersiapkan peralatan serta Pengabdian Kepada Masyarakat. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Desa Karangrau. Sokaraja dilakukan secara tatap muka atau berinteraksi secara langsung dengan lansia di Posyandu Bunda Lestari Desa Karangrau. Kegiatan ini dilaksanakan melalui dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 12 Oktober 2024 dan 26 Oktober https://jurnal. id/index. JHIC/index E-ISSN: J-HICS Journal of Health Innovation and Community Service Vol. 4 No. 1 April 2025, hal. Pada pertemuan pertama, sebelum dilakukan pengecekan Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengetahui kategori berat badan dari hasil perbandingan dengan tinggi badan. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pre-test dengan jumlah soal sebanyak 20 soal pilihan ganda. Setelah itu menggunakan metode ceramah dan domonstrasi yang didukung dengan media berupa PowerPoint, video dan buku saku. Pada sesi terakhir pertemuan ini dibagikan buku saku dan lembar monitoring agar lansia mampu melakukan senam dengan langkah-langkah sesuai prosedur senam osteoporosis di rumah. Pada pertemuan kedua, dilakukan pengecekan IMT dan evaluasi keterampilan osteoporosis dengan menggunakan lembar monitoring yang terdiri dari 50 tahapan. Tabel 1 Nilai Keterampilan lansia Berdasarkan Tabel 1 hasil dari 20 lansia osteoporosis nilai rata-rata keterampilan lansia dalam melakukan senam yaitu 92,55 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai SASARAN Kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan dan pelatihan senam osteoporosis sebagai upaya pencegahan osteoporosis ini ditunjukan untuk wanita menopause di Desa Karangrau Sokaraja sebanyak 20 orang. PEMBAHASAN Pada pelaksanaan pre-test dan posttest ini dilakukan pada hari yang sama yaitu sebelum pemberian materi dan setelah pemberian materi. Hal tersebut dilakukan agar peneliti dapat mengetahui sejauh mana pemahaman lansia mengenai materi yang diberikan. Pada penelitian (Irsyad et al. , 2. menyatakan bahwa senam osteoporosis yang dilakukan selama 20 menit, dan dilakukan secara rutin 2 sampai 3 kali dalam seminggu selama 2 minggu. Namun pada penelitian ini peneliti memodifikasi durasi pelaksanaannya yaitu selama 15 menit dan dilakukan rutin setiap 1 minggu sekali dalam 2 minggu. Hasil penilaian keterampilan lansia dalam melakukan senam osteoporosis pada pertemuan pertama menunjukkan bahwa sebanyak 20 lansia memperoleh rata-rata sebesar 90,5 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70. Dapat disimpulkan bahwa pada pertemuan pertama keterampilan lansia dalam melakukan senam osteoporosis HASIL Tingkat Pengetahuan Gambarl 1 Hasil Pre Test dan Post Test Berdasarkan tabel 1 hasil dari 20 lansia yang mengikuti pre test dan post test didapatkan nilai rata-rata pre-test sebesar 72,25 dengan nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 60 setelah penyuluhan nilai ratarata post-test meningkat menjadi 86,25 dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah Tingkat Keterampilan https://jurnal. id/index. JHIC/index E-ISSN: J-HICS Journal of Health Innovation and Community Service Vol. 4 No. 1 April 2025, hal. cukup baik. Pada pertemuan kedua menunjukkan bahwa sebanyak 20 lansia memperoleh nilai rata-rata 92,55 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 66. Dapat peningkatan keterampilan dari pertemuan pertama dan saat evaluasi yang dilakukan pada pertemuan kedua. Setelah pelaksanaan evaluasi pada pertemuan kedua terdapat penurunan keterampilan dalam melakukan senam osteoporosis pada dua lansia yaitu responden nomor 16 mengalami penurunan dari skor 72 menjadi 67, sedangkan responden nomor 20 dari skor 70 menjadi Berdasarkan didapatkan peneliti hal tersebut dikarenakan kedua responden tersebut sempat sakit sehingga masih belum bisa melakukan senam dengan baik. UCAPAN TERIMAKASIH