Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 124-129 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. EKSISTENSI KEARIFAN LOKAL DALAM FASE DIGITALISASI DALAM PANDANGAN MAHASISWA Nanda Divabuena Purba1. Angelina Patricia Halim2. Heaven McLaren3 & Yuwono Prianto4 Fakultas Hukum. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: nanda. 205220316@stu. Fakultas Hukum. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: angelina. 205220209@stu. Fakultas Hukum. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: heaven. 205220213@stu. Fakultas Hukum. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: yuwonop@fh. ABSTRACT Indonesia as a developing country is not left behind by technological advances in the era of the industrial revolution Through the digitalization that is happening today, it has resulted in many conveniences and interesting things around people's lives, especially young people, namely students. With the advancement of technology, it is easier for students to acquire knowledge. However, there is a gap in this regard, namely the erosion of the foundation from which the students themselves came. Because if analyzed, many students have now abandoned the characteristics of their nation to follow the existing trends. This is the reason for this research which has the aim of analyzing the existence of local wisdom in standardizing youth interests in implementing it in the digital age. In this study using a qualitative approach based on primary and secondary data sources. Where through primary data a survey was held using a Google form with 5 . questions which were then extracted into a research result. Furthermore, in secondary data sources using studies on journals and previous research. Then the data collection technique uses a survey with 5 . Through this research the results and discussion were obtained that young people or students in Indonesia know about local wisdom, but tend to leave it because they feel more comfortable and safe when adapting existing trends. Keywords: Local wisdom, digitalization, technology, industrial revolution 4. 0, students ABSTRAK Indonesia sebagai Negara yang berkembang tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi dalam era revolusi Melalui adanya digitalisasi yang terjadi pada dewasa sekarang ini, mengakibatkan banyaknya kemudahan serta hal-hal yang menarik dalam sekeliling kehidupan masyarakat terutama anak muda yaitu Dengan adanya kemajuan teknologi mahasiswa semakin mudah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Namun ada kesenjangan dalam hal ini, yaitu terkikisnya landasan dari asal mahasiswa itu sendiri. Karena jika dianalisis banyak mahasiswa yang sekarang telah meninggalkan karakteristik bangsanya untuk mengikuti tren yang Hal tersebutlah yang menjadi alasan adanya penelitian ini yang memiliki tujuan menganalisis eksistensi kearifan lokal dalam standarisasi minat pemuda dalam mengimplementasikannya di zaman digitalisasi. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan sumber data primer dan sekunder. Dimana melalui data primer diadakan survey menggunakan google form dengan 5 . pertanyaan yang kemudian diekstrak menjadi suatu hasil penelitian. Selanjutnya dalam sumber data sekunder menggunakan kajian pada jurnal serta penelitian terdahulu. Kemudian pada teknik pengambilan data menggunakan survey dengan 5 . Melalui penelitian ini didapatkan hasil dan pembahasan bahwasanya anak muda atau mahasiswa di Indonesia mengetahui tentang kearifan lokal, namun cenderung meninggalkannya karena merasa sudah lebih nyaman dan aman ketika mengadaptasikan tren yang ada. Kata Kunci: Kearifan lokal, digitalisasi, teknologi, revolusi industri 4. 0, mahasiswa PENDAHULUAN Melalui kemajuan revolusi industri 4. 0 yang juga berdampak pada kemajuan dari teknologi maka dalam setiap ruang lingkup pendidikan harus dapat menyesuaikan sebagaimana teknologi terus memiliki kemajuan secara massif. Perkembangan dalam pembelajaran harusnya dapat seirama terhadap perubahan serta pergeseran dalam paradigma di bidang pendidikan dengan ditandai https://doi. org/10. 24912/jssh. Eksistensi Kearifan Lokal dalam Fase Digitalisasi Dalam Pandangan Mahasiswa Purba et al. melalui pengimplementasiana alat peraga melalui audio, serta visual juga perlengkapan yang ada pada sekolah kemudian disesuaikan pada perkembangan zaman. Kemudian dalam hal tersebut juga pembelajaran disesuaikan terhadap tuntutan kurikulum yang sesuai pada materi bahkan metode serta tingkat kemampuan kuantitas belajar pada mahasiswa. Dalam hal ini adapun tujuan yang didapatkan dalam pembelajaran tercapai secara efektif serta efisien. Aspek-aspek sebagai bentuk penilaian dalam standarisasi kognitif pada mahasiswa saja. Maka dengan ini diharapkan media pembelajaran dapat menjadi penekanan dalam penghayatan pada mahasiswa dalam materi pembelajaran baik dalam bahasa yang merupakan salah satu kearifan lokal juga diharapkan mampu untuk mengkaji afektif serta konatif. Di Dalam era digital sekarang ini kita mengetahui secara jelas dampaknya terhadap kearifan lokal yang dimana dalam hal ini contoh sederhananya ialah bahasa Indonesia sebagai basis dari prasarana komunikasi antar sesama telah dimiringkan dengan adanya penambahan bahasa gaul di tengah masyarakat terutama anak muda. Bahasa gaul itu sendiri tercipta melalui kemajuan zaman yang dimana mempengaruhi secara erat perkembangan bahasa terutama bagi kalangan anak muda di Indonesia. Dengan mengangkat kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa dengan literasi digital, yaitu penyerapan bahan ajar dengan perangkat digital, diharapkan mahasiswa mampu mengenal budayanya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembinaan karakter yang diajarkan di akademisi juga dapat terlaksana jika siswa mengenal, memahami, dan menghayati kekayaan lokal berupa kearifan lokal yang mengandung filosofi dan nilai-nilai luhur. Kualitas pendidikan dengan sendirinya akan tercermin dari kualitas sumber daya manusianya, dimana sumber daya manusia kita umumnya masih rendah, artinya kualitas pendidikan saat ini mayoritas masih Pemahaman tentang tingkah laku mahasiswa dalam proses pembelajaran sangatlah penting, khususnya bagi akademisi (Esti Ismawati, 2. Ada suatu kecenderungan untuk dapat menoreh kembali terhadap gagasan tentang anak-anak muda yang merasa mereka lebih baik dan diterima saat mengikuti zaman dan meninggalkan segala bentuk kearifan lokal. Dalam pandangan yang paling sederhana dapat dianalisis melalui penggunaan bahasa dan cara berpakaian anak millennial sekarang yang mengikuti zaman dan meninggalkan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran adat istiadat dalam bangsanya. Untuk sekarang ini yang paling kontras terlihat ialah peralihan bahasa Indonesia yang sudah diliputi dengan imbuhan bahasa baru baik dalam campuran bahasa Indonesia serta inggris juga bahasa yang dibuat-buat dalam kulturisasi dari lingkungan sepermainan para millennial. Dalam hal itu sebagai mahasiswa yang memang dibekali ilmu dan pengetahuan diharapkan dapat tetap menjunjung tinggi kearifan lokal yang ada sebagai suatu bentuk warisan yang tidak dihilangkan atau diasingkan karena ada peradaban baru melalui bangsa lain. Seperti yang sedang berkembang sekarang ini pada budaya korea yang dimana tidak hanya dengan kuliner yang semakin merajalela dalam pasar Indonesia namun juga cara berpakaian serta produk perawatan yang dimana menjadi landasan masyarakat secara majemuk mengikuti mereka. Memang pada dasarnya tidak salah untuk mengikuti tren dalam aspek apapun namun yang perlu digaris bawahi ialah tidak dengan meninggalkan segala sesuatu yang menjadi karakteristik yang diwariskan oleh leluhur yang dimana dikenal dengan kearifan lokal. Pembelajaran bahasa berbasis kearifan lokal sangat tepat karena mudah dipahami oleh siswa sebagai gagasan lokal yang bijak, penuh kearifan dan nilai kebaikan yang akan dipahami mahasiswa dan mahasiswi dengan membuat kegiatan yang mengandung unsur rasa nasionalisme dan patriotisme. sehingga penerapan bahasa Indonesia dapat dipahami dan diterapkan. Selain https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 124-129 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. bahasa yang menjadi kearifan lokal di Indonesia juga ada beberapa hal seperti adat istiadat yang tidak bisa dilepaskan dari bangsa Indonesia. Studi tentang budaya yang tersebar luas di Indonesia selalu menarik untuk dipelajari, apalagi jika studi yang menyoroti pola setiap budaya yang dimiliki masing-masing daerah. Indonesia tercatat sebagai negara ke-2 yang paling multikultural di dunia, hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya pulau di Indonesia yang tentunya berimplikasi pada perbedaan budaya di setiap Perbedaan budaya pada setiap daerah disebabkan oleh beberapa faktor, yang pertama lingkungan geografis, faktor tersebut menggambarkan bahwa interaksi manusia dengan lingkungan akan sangat berperan dalam memberikan kemungkinan bagi masyarakat untuk memilih budayanya (Agustianty, 2. Yang kedua merupakan hakikat bangsa sebagai pembentuk budaya yang ikut berperan dalam penyebaran budaya ke berbagai daerah, serta kontak antar masyarakat yang berbeda budaya merupakan faktor ketiga yang berperan besar dalam perubahan dan penyebaran budaya di Indonesia. Keberadaan komunitas atau komunitas adat di tengah modernitas telah memberikan tantangan besar bagi keberadaan budaya tersebut,namun modernitas yang garang seakan menafikan segala bentuk kearifan lokal yang terkandung dalam setiap kearifan lokal (Achmad. Melalui latar belakang dalam pendahuluan di atas dapat disampaikan rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, bagaimana eksistensi kearifan lokal dalam standarisasi minat pemuda dalam mengimplementasikannya di zaman digitalisasi?. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan sumber data primer dan Dimana melalui data primer diadakan survey menggunakan google form dengan 5 . pertanyaan yang kemudian diekstrak menjadi suatu hasil penelitian (Sugiyono, 2. Selanjutnya dalam sumber data sekunder menggunakan kajian pada jurnal serta penelitian Kemudian pada teknik pengambilan data menggunakan survey dengan 5 . HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut disajikan hasil dan pembahasan yang didapatkan dari responden sebagai bukti dari penelitian yang telah dilakukan. Gambar 1 Umur responden https://doi. org/10. 24912/jssh. Eksistensi Kearifan Lokal dalam Fase Digitalisasi Dalam Pandangan Mahasiswa Purba et al. Dalam penelitian ini umur responden didominasi antara 21-23 tahun dengan persentase 60%, yang kemudian diikuti dengan persentase usia yang sama yaitu 20% pada usia 17-20 dan 21-23 Gambar 2 Pengetahuan tentang kearifan lokal Dalam penelitian yang dilakukan semua responden mengetahui mengenai kearifan lokal dengan total nilai 100%, hal ini menunjukkan sedikit dari banyaknya yang tertutup dengan kearifan lokal namun untuk subjektivitasnya masih banyak diketahui masyarakat terutama dikalangan anak Gambar 3 Keberadaan kearifan lokal Dalam penelitian didapatkan persentase untuk nilai 60% terhadap responden yang mengatakan bahwa seiring perkembangan teknologi, posisi kearifan lokal sudah hilang. Kemudian ada penilaian yang sama di angka 20% yang mengatakan bahwasanya kearifan lokal masih diimplementasikan dan intensitasnya berkurang. Gambar 4 Penyebab memudarnya kearifan lokal https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 124-129 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. Melalui hasil responden diatas dapat dilihat untuk tingkat pengukuran hasil yang didapatkan ada angka yang berbeda, pada jawaban yang paling banyak ada pada ketidaktahuan responden terhadap kearifan lokal serta lebih mengikuti perkembangan zaman dengan persentase angka 40% pada masing-masing jawaban. Kemudian pada jawaban dengan nilai terendah ada pada alasan karena tidak tren dengan nilai 20%. Gambar 5 Ketertarikan terhadap kearifan lokal Dapat dilihat untuk intensitas responden yang mayoritas anak muda dalam survey tersebut jawaban tertinggi dengan persentase 80% ialah terhadap digitalisasi teknologi yang kemudian diikuti oleh perpaduan digitalisasi dalam kearifan lokal pada teknologi sebanyak 20% dan untuk memilih kearifan lokal tidak ada data ditemukan artinya hanya 0%. Maraknya kajian budaya di Indonesia selalu menarik untuk dipelajari, terlebih lagi jika kajian tersebut berfokus pada perbedaan yang dimiliki setiap daerah. Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang memiliki keragaman budaya terbanyak di dunia, hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah pulau di Indonesia yang tentunya berimplikasi pada perbedaan budaya di setiap daerah. Perbedaan budaya pada setiap daerah disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pertama adalah lingkungan geografis, faktor ini menggambarkan bahwa interaksi manusia dengan lingkungan akan berperan dalam memberikan kemungkinan masyarakat untuk memilih Dan kontak antar bangsa dengan berbagai budaya merupakan faktor ketiga yang memiliki kontribusi besar dalam perubahan dan penyebaran budaya di Indonesia . Penyebaran budaya di negeri ini membawa corak tersendiri dan dipandang sebagai pembeda dengan bangsa lain. berdampak positif bagi identitas negara. Kebhinekaan yang seharusnya menjadi ciri yang dibanggakan, terkadang dipandang sebagai salah satu penghambat kemajuan bangsa menuju Oleh karena itu diperlukan perubahan paradigma dalam memandang budaya yang dimiliki sebagai modal dalam memajukan bangsa berdasarkan kearifan lokal, dan menjadikan keragaman tersebut sebagai nilai jual bagi negara dan masyarakat dalam berinteraksi dengan dunia yang lebih luas. Poin penting untuk mendorong keragaman budaya sebagai nilai jual negara adalah tentang mengembangkan potensi budaya lokal melalui pariwisata dan teknologi, namun langkah penting dalam mengembangkan itu semua adalah pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan bagian terpenting, mengingat dunia saat ini seolah tanpa batas. Manusia di seluruh dunia dapat dengan cepat mengetahui segala informasi yang mereka butuhkan dan dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang yang berbeda dimanapun di dunia (Jati, 2. https://doi. org/10. 24912/jssh. Eksistensi Kearifan Lokal dalam Fase Digitalisasi Dalam Pandangan Mahasiswa Purba et al. Kehadiran Smartphone dan internet menjadi faktor pendukung utama kemajuan manusia yang sekaligus memudahkan kehidupan manusia. Pendidikan sebagai pilar utama dalam membentuk individu lebih siap. Siap dalam arti dapat menerima berbagai kemajuan yang pada dasarnya merupakan perubahan yang tidak dapat dicegah. Rasa ingin tahu dan rasa ingin terus berkembang dalam diri manusia yang mendorong untuk terus melompat dan berubah dalam Di sinilah peran penting pendidikan untuk mengembangkan potensi budaya lokal ke arah yang lebih baik dan terencana melalui konsep memadukan kearifan lokal yang telah ada sejak dulu dengan teknologi yang dirancang khusus untuk pengembangan pendidikan. KESIMPULAN DAN SARAN Peran teknologi informasi di zaman seperti ini sudah sangat lekat sekali dalam kehidupan Karena teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu manusia untuk bekerja dengan informasi dan melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan pemrosesan Dalam lingkup dan kepedulian yang jauh lebih luas, kita sebagai mahasiswa yang memahami kewajiban untuk membantu dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk kepentingan pendidikan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rasa cinta sekaligus kepedulian terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang tersebar luas di Indonesia, karena di tengah kehidupan global ini nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal mulai ditinggalkan karena berbagai faktor, salah satunya yang merupakan kemajuan teknologi yang cepat Lemahnya landasan pendidikan kearifan lokal berbasis teknologi informasi menjadikan posisi nilai kearifan lokal khususnya pada mahasiswa. Perlu adanya kesadaran untuk mengubah pola pikir masyarakat secara permanen khususnya dalam menghargai nilai-nilai kearifan lokal sebagai falsafah hidup yang bertujuan untuk menjawab tantangan global yang sengit secara positif. Nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi nilai jual bagi Negara dan masyarakat dalam berinteraksi dengan dunia luar, oleh karena itu dalam menjawab tantangan persaingan global diperlukan kerjasama negara-negara potensial yang berfokus pada kearifan lokal. Ucapan Terima Kasih (Acknowledgemen. Penulis dengan berakhirnya penulisan penelitian dalam jurnal ini mengucapkan terimakasih untuk partisipasi dari pihak-pihak yang terlibat yaitu dosen mata kuliah, dan peneliti yang hasil penelitiannya digunakan sebagai sumber sekunder dalam penelitian ini. Tidak lupa juga terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa serta orang tua yang tidak berhenti memberikan dukungan. REFERENSI