Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. KINERJA SIMPANG EMPAT TAK BERSINYAL BERDASARKAN DERAJAT KEJENUHAN PADA JALAN RAYA MABES HANKAM Ae JALAN RAYA SETU. JAKARTA TIMUR Harwidyo Eko Prasetyo1. Andika Setiawan2, dan Agus Pradana3 1Prodi Teknik Sipil. Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jl. Cempaka Putih Tengah 27. Jakarta, 10510 Email korespondensi: harwidyo. eko@umj. 2Prodi Teknik Sipil. Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jl. Cempaka Putih Tengah 27. Jakarta, 10510 Email: andika. setiawan@umj. 3Prodi Teknik Sipil. Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jl. Cempaka Putih Tengah 27. Jakarta, 10510 Email: pradanaaja214@gmail. ABSTRAK Meningkatnya pembangunan pada wilayah desa maupun perkotaan berdasarkan jumlah populasi penduduk pada wilayah tersebut. Hal ini mengakibatkan kebutuhan akan moda transportasi di wilayah desa maupun perkotaan semakin meningkat. Salah satu hal yang penting dalam mendesain jalan raya adalah merencanakan persimpangan, permasalahan lalu lintas seperti kecelakaan dan kemacetan umumnya terjadi di simpang. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pada simpang dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Penelitian ini dilakukan pada simpang empat tak bersinyal Mabes Hankam dengan pengumpulan data lalu lintas yang dilakukan pada pagi . , siang . dan sore . Pengambilan data lalu lintas dilakukan dengan mencatat jumlah kendaraan yang melewati simpang tiap 15 menit. Dari hasil pengumpulan data diperoleh data primer berupa kondisi geometrik, data lalu lintas, kondisi lingkungan dan data sekunder berupa data jumlah penduduk. Analisis dilakukan berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) Dari hasil analisis disimpang tak bersinyal diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi eksisting sebesar 1,36. Setelah dilakukan rekayasa lalu lintas berupa penerapan ganjil genap menunjukkan nilai derajat kejenuhan mengalami penurunan yaitu sebesar 1,06. Berdasarkan hal tersebut, maka penerapan dari ganjil genap dapat mereduksi nilai derajat kejenuhan. Kata kunci: Simpang. MKJI 1997. Derajat Kejenuhan. Ganjil Genap ABSTRACT Increased development in rural and urban areas based on the total population in the area. This has resulted in the need for transportation modes in both rural and urban areas to increase. One of the important things in designing highways is planning intersections, traffic problems such as accidents and congestion generally occur at intersections. Therefore, it is necessary to conduct research at the intersection with the aim of overcoming the problems that occur. This research was conducted at an unsignalized intersection at the Defense and Security Headquarters with traffic data collection conducted in the morning . , afternoon . and afternoon . Traffic data collection is done by recording the number of vehicles that pass the intersection every 15 minutes. From the results of data collection obtained primary data in the form of geometric conditions, traffic data, environmental conditions and secondary data in the form of population data. The analysis was carried out based on the 1997 Indonesian Road Capacity Manual (MKJI). From the analysis of the unsignalized deviation, the degree of saturation (DS) in the existing condition was 1. After carrying out traffic engineering in the form of applying ganjil genap shows the value of the degree of saturation has decreased by 1. Based on this, the application of ganjil genap can reduce the value of the degree of saturation. Keywords: Intersection. MKJI 1997. Degree of Saturation, odd/even carAos number 135 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. PENDAHULUAN Meningkatnya pembangunan pada wilayah desa maupun perkotaan berdasarkan jumlah populasi penduduk pada wilayah Kota Jakarta berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 088 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk per tahun naik sebesar 0,92 persen. Hal ini mengakibatkan kebutuhan akan moda transportasi di wilayah desa maupun perkotaan semakin Salah satu hal yang penting dalam mendesain jalan raya adalah persimpangan sangat berpengaruh pada tingkat pelayanan dan keselamatan bagi para pengguna jalan. Kemacetan lalu lintas itu sendiri adalah kondisi dimana volume lalu lintas lebih besar daripada kapasitas . Persimpangan empat tak bersinyal yang berada di Markas Besar TNI adalah pertemuan ruas jalan diantaranya Jalan Terusan Mabes. Jalan Raya Setu. Jalan Setu Cipayung dan Jalan Raya Mabes Hankam. Permasalahan pada simpang empat tak bersinyal Jalan Raya Mabes Hankam tersebut berupa antrian yang panjang dan Antrian bisa mencapai 1,5 km disetiap lengan dari persimpangan ini, karena banyak pengendara bermotor yang melintasi persimpangan ini mulai dari masyarakat umum maupun anggota instansi dari markas besar TNI. Pada penelitian ini menitik beratkan kinerja simpang tersebut pada derajat kejenuhan. Derajat kejenuhan merupakan indikator dari tingginya volume lalu lintas pada suatu simpang tersebut dan menentukan dalam Solusi yang dianalisa pada penelitian ini sebagai perbandingan antara kondisi eksisting dengan alternatif untuk memperbaiki nilai derajat kejenuhan pada simpang tersebut. PERSIMPANGAN Persimpangan adalah pertemuan dua jalan atau lebih yang bersilangan. Umumnya simpang terdiri dari simpang bersinyal dan simpang tak bersinyal. Persimpangan secara prinsip merupakan sebuah daerah yang memiliki beberapa lengan jalan yang bertemu pada satu titik di dalam jaringan jalan di mana persimpangan jalan dan jalur kendaraan berpotongan. Lalu lintas pada setiap segmen simpang menggunakan ruang jalan simpang bersama dengan lalu lintas lainnya. Peraturan terkait Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Manajemen dan Rekayasa. Analisis Dampak, serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas Menimbang: mengoptimalkan penggunaan jaringan jalan dan gerakan lalu lintas dalam rangka ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan pasal 32 ayat . AuSpesifikasi jalan bebas hambatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat . meliputi pengendalian jalan masuk secara penuh, tidak ada persimpangan sebidang, dilengkapi pagar ruang milik jalan, dilengkapi dengan median, paling sedikit mempunyai 2 . lajur setiap arah, dan lebar lajur paling sedikit 3,5 . iga koma lim. Geometrik simpang Simpang pada umumnya terdiri dari dua jenis yaitu simpang jalan tanpa sinyal dan simpang dengan sinyal. Adapun tipe simpang berdasarkan jumlah lengan terdiri dari simpang 3 lengan, 4 lengan dan banyak Pada geometrik simpang terdapat perbedaan lebar jalan tergantung pada tingginya volume kendaraan yang akan melewati simpang tersebut. Penerapan simpang bersinyal menyesuaikan dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang terjadi pada simpang tersebut. 136 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. 2022 Jenis simpang Pada Jenis simpang berdasarkan cara menjadi 2 . jenis, yaitu . Simpang (Signalised Intersectio. adalah persimpangan jalan yang pergerakan atau arus lalu lintas dari setiap pendekatnya diatur lampu sinyal untuk melewati persimpangan secara Simpang tak bersinyal (Unsignalised Intersectio. adalah pertemuan jalan yang tidak menggunakan sinyal pada Pada pemakai jalan harus memutuskan apakah mereka cukup aman untuk melewati simpang atau harus berhenti dahulu sebelum melewati simpang tersebut. Kinerja persimpangan Pada peningkatan volume kendaraan pada semua persimpangan dari segi keselamatan dan pelaksanaan dalam pengendalian pada Kinerja suatu persimpangan dapat dilihat Untuk mengukur kinerja pada persimpangan dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu derajat kejenuhan, tundaan dan panjang antrian. Pada penelitian ini, kinerja dijadikan dasar dalam menentukan suatu kinerja simpang yang terjadi di jalan raya hankam dan jalan raya Kondisi arus lalu lintas Untuk perhitungan arus lalu lintas dengan menggunakan MKJI dapat dilakukan dengan per satuan jam untuk satu atau lebih Berikut tabel untuk nilai emp pada jenis kendaraan. Tabel 1. Nilai Emp untuk Jenis Kendaraan Jenis Kendaraan Kendaraan Ringan (LV) Nilai EMP Jenis Kendaraan Nilai EMP Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC) (Sumber : MKJI 1. Kapasitas simpang (C) Kapasitas simpang adalah kemampuan simpang untuk menampung arus lalu lintas maksimum persatuan waktu dinyatakan dalam smp/jam. ya = yaycu. Fcs. FRSU. FLT. FRT. FMI Dengan Co = Kapasitas . mp/ja. Fw = Faktor koreksi median jalan utama. FM = Faktor koreksi median jalan utama. Fcs = Faktor penyesuaian ukuran kota. FRSU = Faktor penyesuaian tipe lingkungan jalan, hambatan samping dan kendaraan tak bermotor. FLT = Faktor penyesuaian belok kiri. FRT = Faktor penyesuaian belok kanan. FMI = Faktor penyesuaian rasio jalan minor. Lebar pendekat dan tipe simpang . Lebar rata-rata pendekat minor dan utama WAC dan WBD dan lebar rata-rata pendekat W1 Gambar 1. Lebar Rata-Rata Pendekat (Sumber : MKJI 1. (WAC dan WBD), dihitung dengan rumus: ycOyaya = ycOyaAya = . cOya ycOya ) . cOyaA ycOya ) . Lebar rata-rata pendekat (W. , dihitung: 137 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. cOya ycOya ycOyaA ycOya ) . Jika pada lengan B ada median, maka W1 ycO1 = yaycycoycoycaEa ycoyceycuyciycaycu ycycnycoycyycaycuyci Jika A hanya untuk ke luar, maka a=0 ycO1 = ycO1 = . ca ycaAE2 yccAE. caAE2 b ycaAE2 . Jumlah Lajur (Sumber : MKJI 1. Kapasitas dasar (C. Jumlah maksimum kendaraan yang dapat melintasi suatu bagian dari suatu lajur atau jalan dalam satu jam pada kondisi ideal dan kondisi lalu lintas yang hampir dapat Tabel 5. Kapasitas Dasar Menurut Tipe Simpang Gambar 2. Jumlah Lajur dan Lebar RataRata Pendekat Minor dan Utama (Sumber : MKJI 1. Tabel 3. Jumlah Lajur dan Lebar Rata-Rata Pendekat Minor dan Utama Lebar rata-rata pendekat minor dan utama WAC. WBD . ycOyaAya = . ca yccAE. Jumlah lajur . otal untuk kedua ara. < 5,5 > 5,5 ycOyaAya = . caAE2 ycaAE. < 5,5 > 5,5 (Sumber : MKJI 1. Tipe Simpang Simpang di Indonesia terdiri dari beberapa spesifikasi dan kebutuhannya. Untuk kode simpang ditampilkan pada tabel berikut. Tipe Simpang IT Kapasitas Dasar . mp/ja. 324 atau 344 424 atau 444 (Sumber : MKJI 1. Faktor lebar pendekat (FW) Faktor penyesuaian lebar pendekat (FW) dihitung berdasarkan tipe simpang dengan menggunakan rumus : yaycO = 0,73 0,0760 ycO1 yaycO = 0,62 0,0646 ycO1 yaycO = 0,67 0,0698 ycO1 yaycO = 0,70 0,0698 ycO1 yaycO = 0,61 0,0740 ycO1 Bila nilai W1 dimasukkan nilainya di antara 3 sampai 7, maka akan diperoleh data didalam grafik. Tabel 4. Kode Tipe Simpang Kode Jumlah Jumlah Jumlah 138 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. 2022 Tabel 7. Faktor Penyesuaian Fcs untuk Pengaruh Ukuran Kota pada Kapasitas Jalan Perkotaan Gambar 3. Faktor Penyesuaian Lebar Pendekat (FW) (Sumber : MKJI 1. Faktor penyesuaian median jalan utama (FM) Untuk faktor penyesuaian median jalan utama didapat dari MKJI dan ditampilkan pada tabel berikut. Tabel 6. Faktor Penyesuaian Median Jalan Utama (FM) Uraian Tidak Tipe M Faktor median (FM) Tidak ada 1,00 Ada lebar < 3 m Sempit 1,05 Ada lebar > 3 m Lebar 1,20 Ukuran Kota Penduduk Juta Faktor Penyesuaian untuk Ukuran kota (Fc. Sangat kecil <0,1 0,86 Kecil 0,1 Ae 0,5 0,90 Sedang 0,5 Ae 1,0 0,94 Besar 1,0 Ae 3,0 1,00 Sangat Besar >3,0 1,04 (Sumber : MKJI 1. Faktor penyesuaian hambatan samping (FRSU) Hambatan samping adalah interaksi antara lalu lintas kegiatan yang terjadi disamping pengurangan terhadap arus jenuh didalam Untuk itu dapat melihat pada MKJI Faktor penyesuaian belok kanan (FRT) Tiga Lengan` FRT = 1,9 Ae 0,922 PRT Empat Lengan FRT = 1,0 (Sumber : MKJI 1. Faktor penyesuaian ukuran kota (Fc. Berdasarkan MKJI 1997, faktor penyesuaian ukuran kota ditentukan berdasarkan jumlah penduduk kota . yang ditampilan pada tabel berikut. Gambar 4. Faktor Penyesuaian Belok Kanan (Sumber : MKJI 1. Faktor penyesuaian belok kiri (FLT) FLT = 0,84 1,61 PLT 139 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. 2022 Gambar 5. Faktor penyesuaian belok kiri (Sumber : MKJI 1. WIB, dikarenakan jam tersebut mewakili hari kerja dan hari libur pada jam sibuk. Teknik analisa yang akan dilakukan adalah dengan cara mengumpulkan data sekunder yaitu data yang dibutuhkan untuk mendukung analisa perhitungan dan juga mengumpulkan data primer. Data primer berupa kondisi geometrik, data lalu lintas, kondisi lingkungan dan data sekunder berupa data jumlah penduduk. Faktor penyesuaian rasio arus jalan minor (FMI) Faktor penyesuaian rasio arus jalan minor ditentukan dari gambar Gambar 6. Faktor Penyesuaian Rasio Arus Jalan Minor (Sumber : MKJI 1. Derajat kejenuhan (DS) yc ycyc = ycyeiyeayei . Dengan DS = Derajat kejenuhan. Qtot = Arus lalu lintas . mp/ja. C = Kapasitas . mp/ja. METODOLOGI PENELITIAN Pada penelitian ini dilakukan survei volume lalu lintas untuk dapat menghitung kapasitas yang terjadi pada simpang Gambar 8. Peta Titik Survey dan Lokasi Surveyor Simpang ini memiliki 4 buah lengan dan setiap lengan memiliki 2 lajur. Lebar jalan utama adalah 7,5 m sedangkan jalan minor adalah 6,5 m dan 5,5 m. Berdasarkan pengamatan pada simpang Mabes Hankam untuk tipe lingkungan jalan berada pada kawasan perdagangan. Hal ini dapat dilihat dari bangunan yang berdiri sebagian besar iyalah toko Ae toko permanen seperti toko agen sembako, toko mebel, toko hp, warung eceran, dan laundry. Dengan median jalan utama Mabes Hankam tanpa Pengumpulan data Lokasi penelitian ini dilakukan di simpang tak bersinyal Jalan Raya Mabes Hankam Ae Jalan Raya Setu Cipayung. Jakarta Timur. Penelitian dilakukan pada hari Senin. Jumat dan Sabtu pada pagi hari pukul 06. 00 s/d 00 WIB, siang hari pukul 11. 00 s/d 14. WIB, dan sore hari pukul 16. 00 s/d 20. 140 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. 2022 Tabel 10. Data Geometrik Kondisi Lingkungan Simpang Mabes Hankam Jl. Ray Set Jl. Setu Cipayu Jl. Tembu Mabes Jl. Raya Mabes Hanka (A) (C) (B) (D) Tipe Lingkun COM COM COM Median Lebar Pendeka t . Tipe Pendeka Pengolahan data Survei dilakukan pada persimpangan empat tak bersinyal dari 4 . lengan dan 12 . ua bela. arah jalan. Survei dilaksanakan pada hari Senin tanggal 05 Juli 2021 dengan mengambil 3 . segmen pada jam sibuk yaitu mulai dari pukul 06. 00 - 09. 00, pukul 00 Ae 14. 00 dan pukul 16. 00 Ae 20. Gambar 9. Grafik Kumulatif Survei Kendaraan dari Jl Raya Setu ke Jl. Setu Cipayung Gambar 10. Grafik Kumulatif Survei Kendaraan dari Jl. Tembusan Mabes ke Jl. Raya Mabes Hankam Gambar 11. Grafik Kumulatif Survei Kendaraan dari Jl. Setu Cipayung ke Jl. Raya Setu Gambar 12. Grafik Kumulatif Survei Kendaraan dari Jl. Raya Mabes Hankam ke Jl. Tembusan Mabes PEMBAHASAN Deskripsi data Penelitian dilaksanakan pada Simpang empat Mabes Hankam yaitu pertemuan dari Jl. Raya Mabes Hankam Ae Jl. Tembusan Mabes dan Jl. Raya Setu Ae Jl. Setu Cipayung. Analisa penelitian dilakukan dengan cara mengambil beberapa data antara lain kendaraan bermotor Motorcycle (MC), kendaraan ringan Light vehicle (LV), serta kendaraan berat Heavy vehicle (HV). 141 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. 2022 Pengambilan data tersebut dilakukan secara bersamaan pada tiap-tiap ruas jalan di masing Ae masing lokasi simpang selama jam puncak pagi jam 06. 00 WIB dimana banyak warga sekitar dan pengguna jalan banyak melakukan aktivitas transportasi, 00 WIB, dan serta pada jam puncak arus lalu lintas sore 16. WIB. Data yang dipakai dari perhitungan survei di lapangan digunakan volume kendaraan paling puncak yaitu data volume kendaraan pada tanggal 05 Juli 2021 hari senin jam puncak sore yang berada pada 00 Ae 20. 00 WIB dimana banyak transportasi kendaraan bermotor yang Dari hasil penelitian dilapangan kendaaran yang melintas sebagaian besar terdiri dari kendaaran roda dua yaitu sepeda motor . Analisis kondisi eksisting Berdasarkan analisis kondisi eksisting pada simpang empat tak bersinyal Mabes Hankam mendapatkan volume kendaraan yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan dibagi menjadi 2 yaitu volume arus total (Qto. dan volume arus jalan mayor (QMA) serta jalan minor (QMI). Dari hasil tinjauan arus lalu lintas LV (Kendaraan Ringa. adalah 2666 smp/jam. MC (Tipe kendaraan Sepeda Moto. adalah 2222,5 smp/jam. HV (Kendaraan Bera. adalah 62,4 smp/jam,pada jalan mayor (QMA) adalah 2667,4 smp/jam serta pada jalan minor (QMI) adalah 2283,5 smp/jam. Tabel 11. USIG-I Hasil Perhitungan Arus Lalu Lintas Rasio Berbelok Simpang Tak Bersinyal Data berikutnya yang diperlukan adalah data sekunder yang berupa jumlah penduduk didapatkan dari instansi terkait yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta tahun 2020 jumlah penduduk 088 jiwa. Lebar pendekat dan tipe simpang Lebar pendekat minor adalah rata-rata lebar jalan Raya Setu Ae Setu Cipayung WAC = (WA WC) / 2 WAC = . ,5 5,. =6m WAC adalah lebar geometrik minor yaitu A Lebar pendekat utama adalah rata-rata lebar jalan Tembusan Mabes Ae Raya Mabes Hankam WBD = (WB WD) / 2 WBD = . ,5 7,. = 7,5 m WBD adalah lebar geometrik minor yaitu B Lebar pendekat rata-rata dari lebar pendekat jalan minor dan jalan utama. WI= (WA WB WC WD) / jumlah lengan WI= . ,5 5,5 7,5 7,. WI= 6,75 m 142 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Harwidyo-Andika-Agus_Jul. 2022 WI adalah lebar rata-rata geometrik minor dan utama. Kapasitas dasar (C. Berdasarkan kondisi eksisting dari simpang Mabes Hankam adalah jalan minor memliki jumlah jalur 2 dan jalan utama memiliki jalur 2, dengan tabel ketentuan MKJI 1997 didapat tipe simpang dengan 422. Tabel MKJI 1997 mengenai kapasitas dasar menurut tipe simpang, yaitu 422 = 2900 smp/jam. Faktor penyesuaian lebar pendekat (FW) = 0,70 0,0698 x WI = 0,70 0,0698 x 6,75 = 1,17 m Faktor belok kiri (FLT) FLT = 0,84 1,61 x PLT = 0,84 1,61 x 0,199 = 1,16 Kapasitas (C) C = CO x FW x FM x FCS x FRSU x FLT x FRT x FMI = 2900 x 1,17 x 1 x 1,05 x 0,93 x 1,16 x 1 x 0,94 = 3619 smp/jam Derajat kejenuhan (DS) = QTOT / C = 4950,9/3619 = 1,36 Pemberlakuan ganjil genap Berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 77 tahun 2018 tentang Pembatasan Lalu Lintas Ganjil Genap, efektif menurunkan kemacetan sebesar 15%. Berdasarkan hal tersebut, maka volume eksisting yang ada dikurangi 15% untuk Untuk perhitungan arus lalu lintas ycEycycuycycayco = ycEycycuycycayco Oe . cEycycuycycayco ycu 15%) . = 4950,9 Ae . 0,9 x 0,. = 4208,3 smp/jam Derajat kejenuhan (DS) = QTOT / C = 4208,3/3948 = 1,06 KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada simpang empat tak bersinyal Jl. Raya Mabes Hankam Ae Jl. Raya Setu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Pada kondisi eksisting didapatkan nilai derajat kejenuhan (DS) sebesar 1,36. Pada pemberlakuan ganjil genap didapatkan nilai derajat kejenuhan (DS) sebesar 1,06. Berdasarkan penerapan ganjil genap dapat mereduksi nilai DS. DAFTAR PUSTAKA