Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OPINI AUDIT GOING CONCERN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA Amrullah S Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi. Universitas Muhammadiyah (UM) Palopo amrullah@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi opini audit going concern. Faktorfaktor yang digunakan adalah ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya dan reputasi KAP. Data penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu laporan audit perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2010 sampai dengan 2013. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan model analisis regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap opini audit going concern, sedangkan opini audit tahun sebelumnya dan reputasi KAP tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern. Kata Kunci: Going concern, ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan. ABSTRACT This study aims to analyze the factors that affect going-concern audit opinion. The factors used are firm size, company growth, previous year audit opinion and reputation of KAP. The data of this research use secondary data that is audit report of manufacturing company which listed on Indonesia Stock Exchange year 2010 until This research use quantitative method with logistic regression analysis model. The results of this study indicate that firm size and corporate growth have an effect on going concern audit opinion, whereas previous year audit opinion and reputation of KAP have no effect on going concern audit opinion. Keywords: Going concern, company size and company growth PENDAHULUAN Kelangsungan hidup perusahaan merupakan hal yang penting bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan terutama investor. Keberadaan entitas bisnis dalam jangka panjang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup . oing concer. Kondisi dan peristiwa yang dialami oleh suatu perusahaan dapat memberikan indikasi kelangsungan usaha . oing concer. perusahaan, seperti kerugian operasi yang signifikan dan berlangsung secara terus menerus sehingga menimbulkan keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan. Penerbitan keputusan going concern disebabkan adanya faktor internal dan eksternal, dimana faktor internal financial distress, yaitu suatu situasi dimana arus kas operasi perusahaan tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban lancarnya dan perusahaan dipaksa untuk mengambil suatu langkah perbaikan. Faktor internal lain seperti trend negative dimana perusahaan mengalami kerugian operasi, kekurangan modal kerja, dan arus kas negatif dari kegiatan usaha perusahaan. Masalah internal yang lain itu berhubungan dengan tenaga kerja seperti pemogokan kerja karyawan serta komitmen jangka panjang karyawan yang kurang. Faktor eksternal lebih kepada hal-hal dari luar perusahaan yang berhubungan dengan kelangsungan usaha perusahaan. Menurut Praptitorini et al. masalah going concern merupakan hal Amrullah S 1 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 yang kompleks dan terus ada sehingga diperlukan faktor-faktor untuk menentukan status going concern perusahaan dan konsistensi faktor-faktor tersebut harus terus diuji agar dalam keadaan ekonomi yang fluktuaktif, status going concern tetap dapat di prediksi. Banyak penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor tersebut yang berpengaruh terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur, tetapi ada juga hasil yang berbeda yang menyatakan tidak terdapat pengaruh terhadap opini audit going concern. Oleh karena itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai opini audit going concern. Hal yang menjadi pertimbangan auditor dalam mengeluarkan opini audit going concern dapat dilihat dari beberapa faktor, seperti ukuran perusahaan, opini audit tahun sebelumnya, pertumbuhan perusahaan, kualitas audit, keragaman gender pada direksi, keragaman gender pada dewan komisaris, dan keragaman gender pada komite audit. Dalam kaitannya mengenai fee audit yang signifikan tersebut, sehingga auditor mungkin ragu untuk mengeluarkan opini audit going concern pada perusahaan besar. McKeown et al. dalam Santosa dan Wedari . menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki sedikit kemungkinan untuk gagal dalam melangsungkan usahanya. Ketika auditor akan menerbitkan opininya terhadap laporan keuangan tahun berjalan suatu perusahaan, maka auditor akan mempertimbangkan opini audit going concern yang diterima perusahaan tersebut pada tahun sebelumnya (Setyarno et al, 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa opini audit going concern tahun sebelumnya mempunyai pengaruh yang kuat dalam penentuan opini audit tahun berjalan. Petronela . dalam Santosa dan Wedari . menyatakan bahwa perusahaan yang memperoleh laba tidak akan mengalami kebangkrutan, dimana kebangkrutan merupakan indikasi perusahaan akan menerima opini audit going concern, karena perusahaan yang memperoleh laba menunjukkan bahwa perusahaan itu mengalamai pertumbuhan yang positif. Craswell et al . dalam Fanny dan Saputra . menyatakan bahwa klien biasanya mempersepsikan bahwa auditor yang berasal dari KAP besar dan yang memiliki afiliasi dengan KAP internasional yang memiliki kualitas hasil audit yang tinggi karena auditor tersebut memiliki karakteristik yang dapat dikaitkan dengan kualitas. Semakin besar KAP dan memiliki reputasi yang baik maka kualitas auditor dan hasil audit juga akan baik. Penelitian yang akan dilakukan peneliti akan mengacu pada penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Santosa dan Wedari . , yang menggunakan reputasi KAP, opini audit tahun sebelumnya, pertumbuhan perusahaan, dan ukuran perusahaan sebagai variabel independen yang berpengaruh terhadap opini audit dengan paragraf going concern. Perbedaan penelitian peneliti dengan penelitian Santosa dan Wedari . adalah adanya penambahan empat variabel indepanden yaitu rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio aktivitas, dan rasio Amrullah S 2 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 leverage sebagai tambahan variabel independen, yang berasal dari penelitian Januarti dan Fitrianasari . , karena peneliti berpendapat rasio keuangan yang diukur dari perusahaan tersebut mempunyai pengaruh, dan juga memiliki keterkaitan terhadap kecenderungan penerimaan opini audit dengan paragraf going concern. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris pengaruh reputasi KAP, kondisi keuangan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan, rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio aktivitas, dan rasio leverageterhadap auditor dalam memberikan opini audit going concern. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS Opini Audit Laporan audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam berkomunikasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Dalam laporan tersebut, auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan. Pendapat auditor tersebut disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan audit baku. Laporan audit baku terdiri dari tiga paragraf, yaitu paragraf pengantar, paragraf lingkup, dan paragraf pendapat (Mulyadi, 2. Opini Audit Going Concern Opini Audit Going Concern adalah opini audit modifikasi yang dalam pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian signifikan atas kelangsungan hidup perusahaan dalam menjalankan operasinya. Opini audit yang dikeluarkan oleh auditor untuk mengevaluasi apakah ada kesangsian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya disebut opini audit going concern (SPAP, 2. Opini audit going concern diberi kode 1, sedangkan opini non going concern diberi kode 0. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI selama tahun 2010-2015. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan menentukan apakah perusahaan dapat melangsungkan kehidupan usahanya dalam jangka waktu yang lama atau tidak. Biasanya, perusahaan besar akan bisa mempertahankan kelangsungan hidup usahanya dibandingkan perusahaan kecil yang bisa dibilang baru, dan kurang bisa mempertahankan kelangsungan hidup usaha mereka. Berdasarkan penelitian Santosa dan Wedari . , mereka berpendapat bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap opini audit dengan paragraf going concern. Hasil ini sesuai dengan penelitian McKeown et al. dalam Santosa dan Wedari . yang telah Amrullah S 3 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 dijelaskan oleh peneliti sebelumnya, yang menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki sedikit kemungkinan untuk gagal dalam melangsungkan usahanya. Pertumbuhan Perusahaan Pertumbuhan perusahaan merupakan indikasi suatu perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perusahaan yang mengalami pertumbuhan secara terus-menerus menandakan bahwa manajemen perusahaan mampu menjalankan kegiatan operasional perusahaan dengan baik sehingga kelangsungan hidup perusahaan dapat terjaga (Widyantari. Pertumbuhan perusahaan dapat diproksikan dengan rasio pertumbuhan penjualan (Setyarno et al, 2. Menurut Weston dan Copeland . dalam Setyarno et al . , rasio pertumbuhan penjualan mengukur seberapa baik perusahaan mempertahankan posisi ekonominya, baik dalam industrinya maupun dalam kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Reputasi KAP Kualitas audit merupakan segala kemungkinan dimana auditor pada saat mengaudit laporan keuangan klien dapat menemukan pelanggaran yang terjadi dalam sistem akuntansi klien dan melaporkannya dalam laporan keuangan auditan, dimana dalam melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada standar auditing dan kode etik akuntan publik yang relevan. Proksi yang sering digunakan oleh peneliti terdahulu untuk menilai reputasi Kantor Akuntan Publik adalah dengan menggunakan skala Kantor Akuntan Publik. McKinley et al. dalam Fanny dan Saputra . menyatakan, ketika sebuah Kantor Akuntan Publik mengklaim dirinya sebagai KAP besar seperti yang dilakukan oleh big four firms, maka mereka akan berusaha keras untuk menjaga nama besar tersebut. Mereka akan menghindari tindakan-tindakan yang dapat mengganggu nama besar mereka. Opini Audit Sebelumnya Opini audit sebelumnya didefinisikan sebagai opini audit yang diterima oleh auditee pada tahun sebelumnya. Opini audit going concern tahun sebelumya ini akan menjadi faktor pertimbangan penting auditor untuk mengeluarkan kembali opini audit going concern pada tahun berikutnya. Menurut Kartika . apabila auditor menerbitkan opini audit going concern tahun sebelumnya maka akan semakin besar kemungkinan perusahaan akan menerima kembali opini audit going concern pada tahun berjalan. Santoso dan Wedari . Dewayanto . menyatakan bahwa opini audit sebelumnya berpengaruh terhadap opini audit going concern. Amrullah S 4 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 Penelitian Terdahulu Ramadhany . , ia menguji peran komisaris independen pada komite audit dalam melindungi independensi auditor eksternal, terutama dalam pengeluaran opini going concern. Sampel yang digunakan adalah laporan keuangan dari 86 perusahaan industri manufaktur yang mengalami kesulitan keuangan yang terdaftar di BEJ . ekarang BEI) tahun 2002. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa default hutang, kondisi keuangan perusahaan dan opini audit tahun sebelumnya mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap kemungkinan penerimaan opini audit going concern pada perusahaan. Walaupun demikian, penelitian ini tidak berhasil menjelaskan keberadaan komisaris independen pada komite audit dalam membantu auditor mengeluarkan keputusan opini audit going concern. Setyarno et al . melakukan penelitian untuk melihat apakah kualitas audit meningkatkan kemungkinan sebuah perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan . inancial distres. menerima pendapat wajar dengan pengecualian . ualified opinio. untuk kelangsungan usahanya . oing concer. Setyarno et al menggunakan kualitas audit, kondisi keuangan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya serta pertumbuhan perusahaan sebagai variabel independennya, sedangkan variabel dependennya adalah opini audit going concern. Penelitian tersebut mengambil sampel sebanyak 295 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ . ekarang BEI) dari tahun 2000 sampai tahun 2004 dengan beberapa ketentuan. Hasil dari penelitian tersebut memberikan bukti empiris bahwa variabel kondisi keuangan perusahaan dan opini audit tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Untuk variabel kualitas audit dan pertumbuhan perusahaan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, dapat dikembangakan suatu hipotesis guna untuk membatasi apa yang ingin dibuktikan pada penelitian ini. Diantara faktor-faktor seperti :ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, nilai-nilai reputasi KAP, dan opini tahun Faktor manakah yang mempengaruhi opini audit going concern. Dari penjelasan tersebut maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H1 : Diduga bahwa faktor ukuran perusahaan (X. berpengaruh negatif pada opini going concern (Y). H2 :Diduga bahwa faktor pertumbuhan perusahaan (X. berpengaruh positif terhadap opini audit going concern (Y). Amrullah S 5 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 H3 : Diduga bahwa faktor opini audit tahun sebelumnya (X. berpegaruh positif terhadap opini going concern (Y). H4 : Diduga bahwa faktor reputasi KAP (X. berpegaruh positif terhadap opini going concern (Y). METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini bertempat di Bursa Efek Indonesia. Jl. Jendral Sudirman Ka 52-53 Senayan Kebayoran Baru. Jakarta Selatan. Penelitian ini dilaksakan setelah seminar proposal dan yaitu antara bulan Maret-April 2017 kurang lebih 2 bulan setelah seminar proposal. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan untuk dianalisa dalam penelitian ini adalah data sekunder dari data perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2011 Tetapi peneliti mengambil data perusahaan dari tahun 2010 untuk pengukuran variabel yang memerlukan laporan keuangan tahun 2010, yaitu opini audit tahun sebelumnya dan total aset awal tahun. Pengambilan sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan metode purposive sampling. Populasi dan Sampel Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI selama tahun Sampel perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: Perusahaan manufaktur yang listing di BEI dan mempublikasikan laporan keuangan dari tahun 2010-2013. Perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen selama periode tahun 2010-2013. Mengalami rugi setelah pajak sekurangnya dua periode laporan keuangan selama periode pengamatan antara tahun 2010-2013. Kriteria ini digunakan untuk menunjukkan trend kondisi keuangan yang bermasalah. Menggunakan periode laporan keuangan mulai 1 Januari sampai 31 Desember. Menggunakan rupiah (R. sebagai mata uang pelaporan. Data yang dibutuhkan tersedia dengan lengkap. Amrullah S 6 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, yaitu dengan cara mencari dan mengumpulkan data, mencatat, dan mengkaji data sekunder yang berupa laporan keuangan yang sudah diaudit yang diterbitkan oleh perusahaan manufaktur yang listing di BEI dan sesuai dengan kriteria pemilihan sampel (Sari, 2. Uji Validasi dan Realiabilitasi Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis multivariate dengan menggunakan regresi logistik . ogistic regressio. , yang variabel bebasnya merupakan kombinasi antara metrik dan non metrik . Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model regresi logistik. OGC = a 1UP 2PP 3Op. Audit RKAP A A 1 Oe OGC Keterangan: OGC : Opini Audit Going Concern . = opini going concern dan 0 = opini non going concern. :Konstanta 1- 5 : Koefisien Regresi : Ukuran Perusahaan : Pertumbuhan Perusahaan Rep KAP : 1 bila KAP big four dan 0 bila non big four Op. Audit : Opini Audit Sebelumnya : Error term atau kesalahan residual Devenisi operasional Variabel Independen Ukuran perusahaan adalah suatu skala, yaitu dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Secara umum biasanya ukuran perusahaan diproksi dengan total aset. Karena nilai total aset Amrullah S 7 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 biasanya sangat besar dibandingkan variabel keuangan lainnya, variabel aset diperhalus menjadi Ln . Ukuran Perusahaan = Ln dari Total Aset Mutchler . menyatakan bahwa auditor lebih sering mengeluarkan opini going concern pada perusahaan dengan aset yang lebih kecil. Maka semakin besar aset perusahaan akan semakin kecil kemungkinan perusahaan menerima opini going concern. Pertumbuhan perusahaan adalah sebuah skala untuk mengukur seberapa baik perusahaan mempertahankan posisi ekonominya, baik dalam industrinya maupun dalam kegiatan ekonomi secara Pertumbuhan perusahaan merupakan perkembangan perusahaan yang dapat diukur dengan tingkat pertumbuhan total aktiva maupun dengan tingkat pertumbuhan Pertumbuhan perusahaan diukur dengan rumus sebagai berikut: ycyyceycycycycoycaycEaycaycu ycyyceycycycycaEaycaycaycu = ycyyceycuycycycaycoycaycu ycayceycycycnEa yc Oe ycyyceycuycycycaycoycaycu ycayceycycycnEa yc Oe 1 ycyyceycuycycycaycoycaycu ycayceycycycnEa yc Oe 1 Keterangan: Penjualan Bersih t = Penjualan bersih tahun sekarang PenjualanBersih t-1 = Penjualan bersih tahun lalu Semakin tinggi rasio pertumbuhan penjualan auditee, akan semakin kecil kemungkinan auditor untuk menerbitkan opini audit going concern. Reputasi KAP Reputasi auditor adalah auditor yang mempunyai nama baik serta dapat menunjukkan prestasi dan kepercayaan publik yang disandang oleh seorang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor tersebut . Reputasi auditor diproksikan dengan menggunakan ukuran KAP. Ukuran KAP ini dibedakan menjadi dua, yaitu KAP big four diberi Kode 1 dan KAP nonbig four diberi Adapun KAP big four di Indonesia adalah sebagai berikut . Price Water House Coopers dengan partnernya di Indonesia Haryanto Sahari dan Rekan. Deloitte Touche Tohmatsu dengan partnernya di Indonesia Osman Bing Satrio dan Rekan. Amrullah S 8 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 KPMG International dengan partnernya di Indonesia Siddharta dan Widjaja. Ernst and Young dengan partnernya di Indonesia Purwantono. Sarwoko, dan Sandjaja. Auditor yang memiliki reputasi dan nama besar dapat menyediakan kualitas audit yang lebih baik, termasuk dalam mengungkapkan masalah going concern. Opini Audit Tahun Sebelumnya Pengukuran dari variabel ini menggunakan variabel dummy dimana kode 1 = jika perusahaan menerima opini going concern (GCAO) pada tahun sebelumnya oleh auditor, dan kode 0 = jika perusahaan menerima opini non going concern (NGCAO) tahun sebelumnya oleh auditor (Junaidi dan Jogiyanto, 2. Variabel Dependen Opini Audit Going Concern Opini audit yang dikeluarkan oleh auditor untuk mengevaluasi apakah ada kesangsian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya disebut opini audit going concern (SPAP, 2. Opini audit going concern diberi kode 1, sedangkan opini non going concern diberi kode 0. HASIL DAN PEMBAHASAN STATISTIK DESKRIPTIF Penelitian menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai data penelitian. Berdasarkan kriteria sampel dan prosedur penyampelan yang telah dilakukan diperoleh 62 perusahaan dengan 248 sampel dalam tahun pengamatan. Proses pemilihan sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan tampak dalam Tabel 4. Tabel 4. 1 Proses Pemilihan Sampel Kriteria Jumlah Perusahaan Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebelum 1 Januari 2010 dan tidak keluar selama tahun 2010- Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan . Amrullah S 9 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 keuangan dalam mata uang rupiah Perusahaan yang laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen selama . periode 2010-2013 tidak tersedia Perusahaan yang tidak mengalami laba bersih yang negatif minimal satu periode . laporan keuangan selama tahun penelitian . Jumlah data akhir Tahun penelitian Jumlah sampel selama penlitian Sumber: BEI, data diolah Berdasarkan data olahan SPSS 22 yang meliputi ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, opini audit tahun sebelunya dan RKAP Maka akan dapat diketahui nilai minimum, maksimum, rata-rata . dan standar deviasi dari setiap variabel yang digunakan dalam penelitian tersebut. Tabel 4. 2 Statistik Deskriptif Variabel-variabel Penelitian Descriptive Statistics Std. OGC Minimum Maximum Mean Deviation OTS RKAP Amrullah S 10 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari Valid N . ISSN 2339-1502 Sumber: output SPSS 22 Nilai rata-rata total aset yang digunakan untuk menentukan ukuran perusahaan (SIZE) menunjukkan nilai sebesar 2750794. 3105 dengan nilai minimum 2205134. 75 dan Nilai rata-rata sebesar 2750794. 3105 lebih cenderung pada nilai minimum 2205134. 75, hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak perusahaan sampel yang ukurannya berskala kecil. Nilai rata-rata pertumbuhan perusahaan yang di proksikan dengan pertumbuhan laba (PP) menunjukkan nilai yang positif yaitu 25478. Nilai rata-rata yang positif menggambarkan bahwa rata-rata sampel mengalami pertumbuhan yang positif yang ditandai dengan peningkatan laba bersihnya. Namun ada pula sampel yang mengalami pertumbuhan yang negatif, hal ini ditandai dengan nilai minimum sebesar -309683. Variabel opini audit tahun sebelumnya (OTS) memiliki nilai rata-rata sebesar 0. yang lebih kecil dari 0. 50 menunjukkan bahwa opini audit tahun sebelumnya dengan kode 1, yakni menerima opini audit going concern lebih sedikit muncul dari 62 sampel. Dari 62 sampel, 7 sampel menerima opini audit going concern pada tahun sebelumnya dan 55 sampel menerima opini audit non going concern pada tahun sebelumnya. Variabel reputasi kantor akuntan publik (RKAP) memiliki nilai rata-rata sebesar 0. yang lebih kecil dari 0. 50 menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan sampel kualitas auditor big four yaitu dengan kode 1, yakni menerima opini audit going concern lebih sedikit muncul dari 62 sampel. Dari 62 sampel, 12 sampel perusahaan kualitas auditor big four dan 50 sampel perusahaan kualitas non big four. Nilai rata-rata opini audit going concern (OA) sebesar 0. 0806 yang lebih kecil dari 0. menunjukkan bahwa opini audit dengan kode 1, yakni opini audit going concern lebih sedikit muncul dari 62 sampel yang diteliti. Dari 62 sampel, 5 sampel menerima opini audit going concern dan 57 sampel menerima opini audit non going concern. Uji Kelayakan Model Regresi Langkah awal untuk mengetahui bahwa suatu model regresi logistik merupakan sebuah model yang tepat, terlebih dahulu akan dilihat bentuk kecocokan atau kelayakan model secara Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer and LemeshowAos Amrullah S 11 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 Goodness of Fit Test. Berdasarkan tabel pengujian Hosmer and LemeshowAos Goodness of Fit Test dapat dilihat signifikansi sebesar 0,973 yang nilainya jauh diatas nilai alpha (=0,. Hal ini berarti model regresi layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya, karena tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang diamati . odel mampu memprediksi nilai observasiny. Hasil Hosmer and LemeshowAos Goodness of Fit Test dapat dilihat pada Tabel 4. Table 4. 3 Hosmer and Leweshow Test Hosmer and Lemeshow Test Step Chi-square Sig. Sumber: output SPSS 22 Uji Keseluruhan Model (Overall Model Fi. Penilaian keseluruhan model dilakukan dengan membandingkan nilai antara -2 Log Likelihood pada awal (Block Number = . , dimana hanya memasukkan konstanta dengan nilai -2 Log Likelihood pada akhir (Block Number = . , dimana model memasukkan konstanta dan variabel bebas. Nilai -2 Log Likelihood awal adalah sebesar 34. 762 dan setelah dimasukkan keempat variabel independen, maka nilai -2 Log Likelihood akhir mengalami penurunan menjadi sebesar 20. Penurunan nilai -2 Log Likelihood ini menunjukkan model regresi yang baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data. Hasil penilaian keseluruhan model dapat dilihat pada Tabel 4. 4 dan Tabel 4. Table 4. 4 Iteration History Iteration Historya,b,c Coefficients -2 Log Iteration Constant Step 0 1 Amrullah S 12 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 Sumber: output SPSS 22 Tabel 4. 5 Iteration Historya, b, c, d Iteration Historya,b,c,d Coefficients -2 Log Iteration likelihood Constant Step 1 1 Sumber: output SPSS 22 Koefisien Determinasi Koefiosien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabilitas variabel dependen dengan melihat nilai Nagelkerke R Square. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, nilai Nagelkerke R Square adalah sebesar 0,559 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 55,9 Amrullah S 13 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 persen, sisanya 44,1 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lainnya di luar model Hasil Nagelkerke R Square dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. 6 Model Summary Model Summary Step -2 Log Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square Sumber: output SPSS 22 Uji Multikolinearitas Model regresi yang baik adalah dengan tidak adanya gejala kolerasi yang kuat diantara variable bebasnya. Pengujian ultikolinearitas dalam regresi logistik menggunakan matriks korelasi antar variabel bebas untuk melihat besarnya korelasi antar variabel bebas. Hasil pengujian ditampilkan dalam Tabel 4. Tabel 4. 7 Correlation Matrix Correlation Matrix Constant 1 OTS S Constant OTS RKAP RKAP Sumber: output SPSS 22 Hasil pengujian menunjukkan tidak ada nilai koefisien korelasi antar variabel yang lebih besar dari 0,8. Matriks korelasi diatas menunjukkan tidak adanya gejala multikolinearitas yang serius antar variabel bebas tersebut. Amrullah S 14 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 Keakuratan klasifikasi Selama periode waktu penelitian yaitu menunjukan bahwa terjadi kenaikan dan penurunan jumlah perusahaan yang tepat dalam menyampaikan laporan keuangan. Pada 8 berdasarkan metode klasifikasi dengan cut value is 50%, pada tabel dapat diketahui bahwa pengklasifikasian penerimaan opini audit going concern pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah akurat pada tingkat 91,9% yang menunjukkan tingkat akurasi tergolong tinggi. Tabel 4. 8 Keakuratan Klasifikasi Penerimaan Opini Audit Going Concern Classification Tablea Predicted OGC Observed St OGC Percentage Correct Overall Percentage The cut value is . Berdasarkan tabel diketahui bahwa kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan opini going concern adalah sebesar 20%, artinya dengan model regresi yang digunakan terdapat sebanyak 1 observasi yang diprediksi akan memperoleh opini audit going concern dari total 5 observasi perusahaan yang memperoleh opini audit going concern. Kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan perusahaan memperoleh opini non going concern adalah 98,2%. Hal ini berarti bahwa dengan model regresi yang digunakan sebanyak 56 observasi . ,2%) yang diprediksi memperoleh opini non going concern dari total 57 observasi opini non going concern. Amrullah S 15 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 Analisis Regresi logistik Model regresi logistik dapat dibentuk dengan melihat pada nilai estimasi parameter dalam Variables in The Equation. Model regresi yang terbentuk berdasarkan nilai estimasi parameter dalam Variables in The Equation adalah sebagai berikut: OGC = a 1UP 2PP 3Op. Audit RKAP A A 1 Oe OGC OGC = 14. 22 Oe 7. 862 A A 1 Oe OGC Estimasi parameter dari model dan tingkat signifikasinya dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. 9 Variabel in The Equation Variables in the Equation Wald Step 1a UP OTS RKAP Constant Sig. Exp(B) Sumber: output SPSS 22 Uji Hipotsis Pengujian Parsial (Uji Wal. Statistik uji yang digunakan adalah uji wald. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara tingkat signifikansi . dengan tingkat kesalahan () = 5% . Berdasarkan Tabel 4. 8 diatas dapat diinterprestasikan hasil sebagai berikut: Pengujian hipotesis pertama (H. Hipotesis pertama menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap opini audit going concern. Hasil pengujian menunjukkan variabel ukuran Amrullah S 16 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 perusahaan yang diproksikan dengan total aset memiliki nilai signifikansi sebesar 0,128 yang lebih besar dari 0. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern dengan kata lain H1 Pengujian hipotesis kedua (H. Hipotesis kedua menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif secara signifikan terhadap opini audit going concern. Hasil pengujian menunjukkan variabel pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan rasio total laba bersih memiliki nilai signifikansi sebesar 0,054 yang lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh pada opini audit going concern atau dengan kata lain H2 ditolak. Pengujian hipotesis ketiga (H. Hipotesis ketiga menyatakan bahwa opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif secara signifikan terhadap opini audit going concern. Hasil pengujian menunjukkan variabel opini audit tahun sebelumnya memiliki nilai signifikansi 0,023 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif secara signifikan terhadap opini audit going concern atau dengan kata lain H3 diterima. Pengujian hipotesis keempat (H. Hipotesis keempat menyatakan bahwa reputasi KAP berpengaruh positif secara signifikan terhadap opini audit going concern. Hasil pengujian menunjukkan varibel reputasi KAP memiliki nilai signifikansi 0,024 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hal tersebut dapat disipulkan bahwa variable reputasi KAP berpengaruh positif terhadap opini audit going concern atau dengan kata lain H4 diterima Pengujian Simultan (Uji G) Statistik uji yang digunakan adalah uji G. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara tingkat signifikansi . dengan tingkat kesalahan () = 5% . Berdasarkan Tabel 4. 10 dapat diinterprestasikan hasil sebagai berikut: Hipotesis keempat menyatakan bahwa ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, dan opini audit tahun sebelumnya berpengaruh secara bersama-sama terhadap opini audit going concern. Hasil pengujian pada tabel 4. 10 didapat besarnya nilai Sig. Model sebesar 0,000. Karena nilai ini lebih kecil dari . %) maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen secara bersamaAmrullah S 17 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 sama berpengaruh terhadap variabel dependen atau minimal ada satu variabel independen yang berpengaruh. Dengan kata lain secara bersama-sama variable ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya dan reputasi KAP berpengaruh terhadap opini audit going concern. Hipotesis keempat (H. Tabel 4. 10 Omnibus Tests of Model Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square Step 1 Sig. Step Block Model Sumber: output SPSS 22 Pembahasan Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Opini audit Going Concern Hasil pengujian dengan koefisien regresi logistik variabel ukuran perusahaan menunjukkan bahwa koefisien regresi positif sebesar 0,022 dengan tingkat signifikansi 128 yang lebih besar dari = 0,05 . Berdasarkan nilai signifikansi variabel ukuran perusahaan sebesar 0. 128> 0,05 ini berarti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap opini audit going concern. Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Opini Audit Going Concern Hasil pengujian dengan koefisien regresi logistik variabel pertumbuhan perusahaan menunjukkan bahwa koefisien regresi negatif sebesar 7,339 dengan tingkat signifikansi 54 yang lebih besar dari = 0,05 . Probabilitas variabel pertumbuhan perusahaan cenderung berpengaruh negatif pada opini audit going concern. Hasil penelitian variabel ini tidak sesuai dengan rumusan H2. Pengaruh Opini Audit Tahun Sebelumnya Terhadap Opini Audit Going Concern Hasil pengujian dengan koefisien regresi logistik variabel opini audit sebelumnya menunjukkan bahwa koefisien regresi positif sebesar 4. 093 dengan tingkat signifikansi 0,023 yang lebih kecil dari = 0,05 . Probabilitas variabel opini audit tahun Amrullah S 18 | 21 Vol. 04 No. 01 Februari ISSN 2339-1502 sebelumnya berpengaruh positif pada opini audit going concern. Hasil penelitian variabel ini sesuai dengan rumusan H3, dimana opini audit sebelumnya berpengaruh positif pada opini audit going concern, sedangkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel opini audit sebelumnya tidak berpengaruh pada opini audit going concern. Pengaruh Reputasi Kantor Akuntan Publik (RKAP) Terhadap Opini Audit Going Concern. Hasil pengujian dengan koefisien regresi logistik variabel reputasi KAP menunjukkan bahwa koefisien regresi positif sebesar 4,630 dengan tingkat signifikansi 0,024 yang lebih kecil dari = 0,05 . Probabilitas variabel reputasi KAP cenderung berpengaruh positif pada opini audit going concern PENUTUP Opini audit tahun sebelumnya dengan koefisien regresi positif sebesar 4. 093 dengan tingkat signifikansi 0,023 yang lebih kecil dari = 0,05 . Kantor akuntan publik dengan koefisien regresi positif sebesar 4,630 dengan tingkat signifikansi 0,024 yang lebih kecil dari = 0,05 . , berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern concern pada perusahaan manufaktur dan perusahaan jasa, perdagangan, dan investasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2010 sampai dengan 2013. Ukuran perusahaan dengan regresi positif sebesar 0,022 dengan tingkat signifikansi sebesar 0. 128 yang lebih besar dari = 0,05 . Pertumbuhan perusahaan dengan koefisien regresi negatif sebesar 7,339 dengan tingkat signifikansi 0. 54 yang lebih besar dari = 0,05 . , tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini aud3it going concern pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2010 sampai dengan 2013. DAFTAR PUSTAKA