Jurnal Ilmiah Sosio Agribis (JISA) Volume 25. Nomor 2 : 392-399 ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . RISIKO USAHATANI PADI PADA LAHAN PASANG SURUT TIPE LUAPAN B DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENERIMAAN PETANI PESISIR DI DESA PADANG BARU KECAMATAN KAUR TENGAH KABUPATEN KAUR Risk of Rice Farming on Type B Tidal Land and its Impact on Coastal Farmers' Income in Padang Baru Village Kaur Tengah District Kaur Regency Syahrial Edi1. Herri Fariadi2*. Evi Andriani3 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Dehasen Kota Bengkulu *Correspondence Author: Herri Fariadi Email: herrifariadi@unived. 1,2*,3 ABSTRACT The agricultural sector faces many threats, including climate change, natural disasters, price and productivity fluctuations, and lack of infrastructure and market access. All of these threaten farmers' incomes and hinder the strategic role of agriculture in reducing rural The purpose of this study was to identify the risks of tidal flood type B rice farming and to analyze the impact of these risks on rice farming income in Padang Baru Village. Kaur Tengah District. Kaur Regency. This study was conducted using a descriptive quantitative method with score and income analysis. The results showed that tidal flood type B rice farmers in Padang Baru Village. Kaur Tengah District. Kaur Regency face production risks with a high risk category, with an average score of 4. The risk of rice plant damage causing death is 4. 45 with a high risk category, the number of pests and diseases is 4. 36 with a high risk category, and low production is 3. 86 with a high risk category. In Padang Baru Village. Kaur Tengah District. Kaur Regency, lowland rice farmers received an average of IDR 13,538,636. 36 per hectare due to the impact of tidal flood risk type B. Keywords: Lowland Rice Farming. Farming Income. Business Risk. ABSTRAK Sektor pertanian menghadapi banyak ancaman, termasuk perubahan iklim, bencana alam, fluktuasi harga dan produktivitas, serta kekurangan infrastruktur dan akses pasar. Semua hal ini mengancam pendapatan petani dan menghambat peran strategis pertanian dalam mengurangi kemiskinan pedesaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi risiko usahatani padi sawah pasang surut tipe luapan B dan untuk menganalisis dampak risiko pada penerimaan usahatani padi sawah di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan skor dan analisis Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur menghadapi risiko produksi dengan kategori risiko tinggi, dengan skor rata-rata 4,23. Risiko kerusakan tanaman padi yang menyebabkan kematian adalah 4,45 dengan kategori risiko tinggi, banyaknya hama dan penyakit adalah 4,36 dengan kategori risiko tinggi, dan rendahnya produksi adalah 3,86 dengan kategori risiko tinggi. Di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur, usaha tani padi sawah menerima rata-rata Rp 13. 636,36 per ha sebagai dampak risiko lahan pasang surut tipe luapan B. Kata kunci: Padi Sawah Padang Surut. Peneriman Usahatani. Risiko Usaha. PENDAHULUAN Sebagian besar orang Indonesia hidup dari bercocok tanam karena Indonesia adalah negara Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang terus meningkat, sektor pertanian diharapkan terus berkembang (Rahim & Hastuti, 2. Berbagai faktor menimbulkan risiko pertanian, seperti keragaman dan perubahan iklim, seringnya bencana alam, ketidakpastian harga dan produktivitas, kelemahan infrastruktur pedesaan, kelemahan pasar, dan kurangnya pelayanan Syahrial Edi, dkk Ae Risiko Usahatani Padi pada Lahan Pasang Surut Tipe Luapan B dan . Model pengendalian risiko, seperti kredit dan asuransi, masih kurang digunakan di sektor pertanian. Selain membahayakan kehidupan dan penerimaan para petani, faktor-faktor ini juga melemahkan kekuatan dan potensi sektor pertanian sebagai bagian dari solusi untuk memerangi kemiskinan buruh pertanian dan petani. Oleh karena itu, karena usaha pertanian memiliki tingkat risiko yang tinggi, sudah selayaknya memberikan perhatian khusus untuk mengurangi risiko tersebut. Selain itu, kajian saat ini diperlukan untuk menemukan risiko-risiko usaha pertanian di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan tanaman padi, agar dapat mengetahui cara yang tepat untuk menanganinya (Saleh & Suherman, 2. Bagi petani, kegiatan usahatani tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga meningkatkan penerimaan dengan memanfaatkan faktor produksi. Ini karena penambahan faktor produksi seringkali tidak memberikan penerimaan yang diharapkan petani. Sejak tahun 1970-an, peningkatan produktivitas padi telah diupayakan di Indonesia untuk meningkatkan penerimaan dan kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan ketahanan pangan negara (Dewi, 2. Kabupaten Kaur berada di bagian selatan Provinsi Bengkulu dan memiliki 17 kecamatan. Kecamatan Kaur Tengah adalah salah satu kecamatan di mana orang-orang bekerja sebagai petani padi sawah. Itu terletak di sebelah barat pegunungan Bukit Barisan, 10 km dari ibu kota Kabupaten Kaur dan 225 km dari Provinsi Bengkulu. Salah satu usahatani padi di Kabupaten Kaur mengetahui bahwa pertanian memainkan peran penting dalam perekonomian Kabupaten Kaur karena merupakan sektor utama yang memberikan peranan terbesar dalam pembentukan PDRB. Di Kecamatan Kaur Tengah. Desa Padang Baru memiliki lahan sawah yang luas untuk penanaman padi pasang surut air laut. Usahatani padi ini memainkan peran penting dalam perekonomian Kabupaten Kaur. Lahan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut disebut sebagai lahan pasang surut air laut. Dalam budidaya padi di lahan pasang surut, luapan air, atau genangan, adalah masalah utama yang harus diperhatikan. Ada empat jenis luapan padi sawah pasung surut, menurut Irwandi . Tipe luapan A adalah lahan yang selalu terluapi air pasang, baik pada saat pasang maksimum maupun minimum. Tipe luapan B adalah lahan yang terluapi air pasang pada saat pasang tinggi. Tipe luapan C adalah lahan yang tidak pernah terluapi air pasang, tetapi air pasang mempengaruhi air tanah. dan Tipe luapan D adalah lahan yang tidak pernah terluapi air pasang. Proses penanaman padi di lahan sawah pasang surut tipe luapan B terletak 20 meter dari garis Hasil produksi dan penerimaan dipengaruhi oleh lokasi penanaman. Tabel 1 menunjukkan perkembangan produksi dan luas panen padi di Kabupaten Kaur. Data ini dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, dengan merujuk pada satu Kabupaten yang menjadi subjek penelitian. Perkembangan Produksi dan Luas Panen Padi Kabupaten Kaur tahun 2022Ae2023 ditunjukkan di sini (Sari, 2018. Statistika, 2. Tabel 1. Data Perkembangan Produksi dan Luas Panen Padi Padi Satuan Produksi Ton Luas Panen Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, 2024. Tahun Penurunan dalam produksi padi di Kabupaten Kaur ditunjukkan dalam Tabel 1. Adanya risiko dalam budidaya tanaman padi diduga menjadi penyebab penurunan produksi. Petani menghadapi masalah risiko karena mereka tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang. Petani harus menghadapi masalah iklim dan kondisi alam yang tidak dapat diprediksi, mudah berubah, dan tidak dapat dikendalikan. Risiko tersebut akan mempengaruhi produksi tanaman yang dihasilkan, sehingga akan berpengaruh terhadap penerimaan yang akan diterima oleh petani. Untuk itu perlu dilakukan penelitian pada wilayah pasang surut air laut guna untuk pengembangan wilayah menjadi lebih baik lagi. Berdasarkan uraian permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk meneliti Identifikasi Risiko Usahatani Padi pada Lahan Pasang Surut Air Laut Tipe Luapan B dan Dampaknya terhadap Penerimaan Petani Pesisir di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 392-399 METODE PENELITIAN Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (Purvosiv. di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur. Ini dipilih karena sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai petani padi sawah di lahan pasang surut air laut tipe luapan B, yang merupakan lahan yang terluapi saat pasang besar. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2025. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu observasi (Pengamata. , wawancara dan dokumentasi. Jumlah dan karakteristik populasi yang akan diteliti dihitung sebagai sampel. Penelitian ini mempelajari petani padi lahan pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur. Secara keseluruhan, 27 petani, masing-masing dengan status pemilik, termasuk dalam populasi penelitian ini. Dibandingkan dengan petani penggarap, petani pemilik memiliki keputusan yang berbeda tentang lahan yang mereka usahakan. menanam padinya di tempat yang berbeda, sehingga mereka tidak dapat menjalankan bisnis mereka secara konsisten. Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 27 petani padi, karena metode pengambilan sampel sensus, metode yang biasa digunakan dalam penelitian dengan populasi kecil (Sunaryono et al. , 2. Analisis deskriptif digunakan untuk menemukan sumber risiko. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data secara akurat, menyusunnya, dan menganalisisnya untuk memberikan gambaran tentang masalah yang sedang dibahas. Secara matematis, perkalian antara jumlah produksi yang diperoleh dengan harga jual beras tersebut disebut total penerimaan (Sugiyono, 2. ycyc = yc . yc Keterangan : = Total Revenue atau Total Penerimaan (Rp/MT/H. = Price atau Harga (Rp/K. = Quantity atau Produksi (K. HASIL DAN PEMBAHASAN Risiko Usahatani Padi Sawah Pasang Surut Air Laut Tipe Luapan B Risiko Produksi Di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur, usahatani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B memiliki kategori risiko tinggi, dengan skor rata-rata 4,23. Dari tiga kejadian yang dianggap berisiko, usahatani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur memiliki kemungkinan paling besar untuk terjadi, dengan skor rata-rata lebih dari 4,23. Duong et al. , . Ozaki & Sakurai, . menyatakan bahwa salah satu sumber risiko utama yang dihadapi petani adalah risiko produksi, yang dapat disebut sebagai risiko produksi atau risiko hasil. Faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti cuaca, curah hujan, suhu, serangan hama, dan penyakit tanaman adalah penyebab risiko ini. Tabel 2 menunjukkan sumber risiko produksi untuk petani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur. Tabel 2. Identifikasi Sumber Risiko Produksi No Pernyataan Kerusakan tanaman padi yang menyebabkan kematian Banyaknya hama dan penyakit Rendahnya produksi Skor rata-rata Sumber : Data Primer Diolah . Skor Rata-rata 4,43 4,36 3,86 4,23 Kategori Risiko Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Usahatani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur memiliki risiko produksi tinggi dengan skor 4,45 kategori risiko tinggi untuk kerusakan tanaman padi yang menyebabkan kematian, skor 4,36 kategori risiko tinggi untuk banyaknya hama dan penyakit, dan skor 3,86 kategori risiko tinggi untuk rendahnya JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Syahrial Edi, dkk Ae Risiko Usahatani Padi pada Lahan Pasang Surut Tipe Luapan B dan . Hasil wawancara menunjukkan bahwa karena padi sawah pasang surut, petani menanam dua kali musim tanam. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sumber air petani berasal dari mata air yang terus mengairi sawah, yang kemudian dialirkan langsung ke setiap petakan sawah untuk mengairi setiap petakan sawah lainnya, sehingga petani tidak mengalami kekurangan air. Salah satu bahaya yang dihadapi petani pasang surut adalah hama tikus dan wereng, yang dapat dibunuh dengan membasmi hama. Karena tanah di sekitar lahan pasang surut sangat dekat dengan laut, ada kemungkinan bahwa ada risiko terluapi air laut saat pasang besar. Petani padi sawah yang mengalami pasang surut harus mengetahui kapan waktunya bercocok tanam kembali. Penelitian ini sejalan dengan Zakirin et al. , yang menyatakan bahwa pengaliran air padi di lahan pasang surut membutuhkan banyak air. jika hujan menyebabkan tanaman kekurangan air, pembuangan dapat dilakukan. Karena air ada dalam proses ini, pencucian zat besi yang dapat meracuni tanaman dapat dikurangi. Menurut Subagio . , pengelolaan tata air sangat penting dalam budidaya padi sawah di lahan pasang surut. Tujuan pengelolaan tata air adalah untuk mengontrol kedalaman air pada petakan sawah dan sekaligus mempercepat pencucian bahan beracun. Risiko Harga atau Pasar Risiko harga atau pasar adalah risiko yang disebabkan oleh ketidakpastian harga jual produk yang ditentukan oleh kekuatan dan permintaan pasar. Harga usaha tani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur bergantung pada kualitas gabah yang dihasilkan. Harga jual hasil produksi gabah padi di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur bervariasi karena kualitas gabah yang dihasilkan (Suratiyah, 2. Tabel 3. menunjukkan sumber risiko harga atau pasar pada usahatani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B, yang termasuk dalam kategori risiko sedang dengan skor rata-rata 2,3. Tabel 3. Identifikasi Risiko Pasar atau Harga Pernyataan Kualitas rendah sehingga berdampak pada harga yang murah Rendahnya daya beli masyarakat Ketergantungan pada tengkulak Skor rata-rata Sumber : Data Primer Diolah . Skor Ratarata 3,50 2,00 1,32 2,27 Kategori Risiko Tinggi Sedang Rendah Sedang Di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur, usaha tani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B memiliki risiko pasar atau harga sedang. Kualitas rendah menyebabkan harga murah skor 3,50 dalam kategori risiko tinggi, rendahnya daya beli masyarakat skor 2,00 dalam kategori risiko sedang, dan ketergantungan pada tengkulak skor 1,32 dalam kategori risiko rendah. Dengan skor rata-rata 2,27, hasil wawancara dengan petani dan pelaku usaha di lahan pasang surut air laut tipe luapan B menunjukkan bahwa risiko harga atau pasar berada pada kategori sedang. Nilai ini menunjukkan bahwa meskipun ada kendala dalam pemasaran produk produksi, sebagian besar orang yang menjawab menganggap kondisi tersebut dapat diantisipasi dan ditangani. Hasil penelitian Irwandi . , yang berjudul Strategi Peningkatan Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut untuk Mendukung Peningkatan Produksi Beras di Kalimantan Tengah, peneliti menemukan bahwa teknologi lokal yang tidak tersedia merupakan kendala utama dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut. Untuk meningkatkan produksi beras, mereka menyarankan peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, dan perbaikan aspek sosial ekonomi petani. Risiko Pemerintahan atau Lembaga Risiko yang ditanggung oleh pemerintah atau lembaga terkait dengan hukum atau peraturan yang berlaku. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, kebijakan pemerintah diperlukan untuk menjaga distribusi, proses produksi, dan harga input-output stabil (MutaAoali, 2. Tabel 4. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 392-399 menunjukkan risiko yang ditimbulkan oleh pemerintah atau lembaga terhadap usahatani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan Bdi Kecamata Kelam Tengah: Tabel 4. Identifikasi Risiko Pemerintah atau Lembaga Pernyataan Tidak adanya dukungan dari pemerintah Lahan dan akses jalan jauh dan rusak Pemberdayaan dan pembinaan dari pemerintah tidak ada Skor rata-rata Sumber : Data Primer Diolah . Skor Rata-rata 1,45 1,41 1,55 Kategori Risiko Rendah Rendah Rendah 1,47 Rendah Di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur, risiko pemerintahan atau lembaga pada instansi padi sawah pasang surut tipe luapan B termasuk risiko rendah dengan skor rata-rata 1,47. Pengrajin percaya bahwa keberlanjutan bisnis mereka tidak akan terpengaruh secara signifikan jika tidak ada aturan pemerintah yang ketat. Menurut penelitian Zakirin et al. , sumber risiko terendah adalah risiko kelembagaan . ,37%) dari sumber risiko produksi, pemasaran, sumber daya manusia, dan finansial. Hasil wawancara yang dilakukan dengan petani dan pelaku usaha tani di wilayah lahan pasang surut air laut tipe luapan B, risiko yang bersumber dari pemerintah umumnya berada dalam kategori rendah, dengan skor rata-rata 1,47. Hasil ini menunjukkan bahwa, meskipun ada beberapa masalah yang terkait dengan kebijakan, infrastruktur, dan pendampingan pemerintah, para responden belum menganggapnya sebagai ancaman utama yang secara langsung mengganggu kegiatan usaha tani merupakan masalah Penelitian Barkah & Masdari . , mendukung penelitian ini. Para peneliti menemukan peluang untuk mengembangkan tanaman padi di lahan pasang surut dalam penelitian yang disebut Potensi Pengembangan Tanaman Padi di Lahan Pasang Surut di Kabupaten Bulungan. Penelitian ini menunjukkan bahwa petani di lahan pasang surut memiliki tingkat adaptasi dan kemandirian yang tinggi dalam menghadapi risiko produksi, meskipun ada tantangan dalam pengelolaan lahan. Penelitian ini juga menekankan betapa pentingnya dukungan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan pasang surut (Akanbi et al. , 2024. Rautaray et al. , 2. Risiko Sumber Daya Manusia Sumber daya Manusia adalah salah satu komponen yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari bisnis. Sumber daya manusia sebagai penggerak, pemikiran, dan perencana untuk mencapai tujuan bisnis. Tabel 5 menunjukkan risiko sumber daya manusia untuk usaha tani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur. Tabel 5. Identifikasi Risiko Sumber Daya Manusia Pernyataan Adanya bahaya berusahatani padi karena pasang surut air laut Manajemen usahatani masih kurang Keamanan dalam proses produksi Skor rata-rata Sumber : Data Primer Diolah . Skor Rata-rata 1,55 Kategori Risiko Rendah 1,41 Rendah 1,32 1,42 Rendah Rendah Di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur, sumber risiko sumber daya manusia untuk usahatani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B adalah kategori rendah, dengan rata-rata 1,42. Ada bahaya bagi usahatani padi karena pasang surut air laut, yang merupakan kategori risiko rendah, skor 1,55, dan manajemen usahatani, yang merupakan kategori risiko rendah, skor 1,41, dan keamanan proses produksi, yang merupakan kategori risiko rendah, skor 1,42. Wawancara yang dilakukan dengan petani di wilayah lahan pasang surut tipe luapan B menunjukkan bahwa pemahaman tentang manajemen usahatani, keamanan proses produksi. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Syahrial Edi, dkk Ae Risiko Usahatani Padi pada Lahan Pasang Surut Tipe Luapan B dan . dan risiko-risiko eksternal dan teknis produksi, khususnya yang berkaitan dengan kondisi lingkungan pasang surut, masih tergolong rendah. Penelitian Zakirin et al. , mendukung penelitian ini. Dalam penelitian berjudul Analisis Risiko Usahatani Padi pada Lahan Pasang Surut di Kabupaten Pontianak, para peneliti menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi di lahan pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti lahan, benih, urea, herbisida, tenaga kerja, dan umur petani mempengaruhi produksi padi. Meskipun ada masalah dalam pengelolaan lahan, petani di lahan pasang surut tetap dapat menghasilkan panen. Risiko Finansial Tabel 6. berikut menunjukkan risiko finansial untuk usaha tani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur. Risiko finansial juga dikenal sebagai risiko keuangan. Tabel 6. Identifikasi Finansial Pernyataan Biaya operasional tinggi Berkurangnya penerimaan Sumber modal sangat terbatas Skor rata-rata Sumber : Data Primer Diolah . Skor Rata-rata 1,23 4,14 1,41 2,26 Kategori Risiko Rendah Tinggi Rendah Sedang Di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur, ada risiko finansial kategori sedang, dengan rata-rata 2,26. Biaya operasional yang tinggi diberikan skor 1,23 untuk kategori risiko rendah. penurunan penerimaan diberikan skor 4,41 untuk kategori risiko tinggi. dan sumber modal yang sangat terbatas diberikan skor 1,41 untuk kategori risiko rendah. Menurut wawancara yang dilakukan dengan petani di lahan pasang surut tipe luapan B, risiko finansial kegiatan usahatani padi tergolong sedang, dengan skor rata-rata 2,26. Meskipun tidak sepenuhnya menghentikan kelangsungan usaha, risiko ini menunjukkan adanya tekanan finansial selama proses produksi. Dengan mengubah dan mengatur pengeluaran, petani masih dapat mengelola risiko ini, tetapi terdapat kebutuhan akan solusi jangka panjang, terutama yang berkaitan dengan penerimaan dan akses modal. Penelitian yang didukung oleh Zakirin et al. , mengidentifikasi risiko finansial bagi petani padi sawah di lahan pasang surut. Meskipun faktor biaya operasional dianggap lebih rendah risiko, kedua penelitian menunjukkan bahwa risiko pendapatan merupakan masalah utama bagi Penerimaan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak Risiko Pasang Surut Tipe Luapan B Penghasilan kotor dari usahatani disebut sebagai pendapatan kotor yang berasal dari nilai hasil penjualan tanpa mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh usahatani, seperti biaya untuk input seperti benih, pupuk, pestisida, dan obat-obatan, upah tenaga kerja asing, pajak (Suratiyah. Tabel 7. Total Penerimaan Uraian Satuan Produksi Kg/ut/mt Harga Rp/kg Penerimaan Rp/mt Sumber : Hasil Olahan Data Primer Tahun 2025 Jumlah Petani padi sawah pasang surut tipe luapan B Desa Padang Baru memperoleh total produksi usahatani sebesar Rp 1. 934,1 kg/mt/ha, sehingga mengalikan produksi dengan tingkat harga, dan hasilnya adalah penerimaan rata-rata Rp 13. 636,36/mt/ha. Produksi padi sawah pada lahan pasang surut tipe luapan B cukup stabil, dengan rata-rata 1. 934,1 kg/MT/ha, yang merupakan hasil panen per hektar dalam satu musim tanam, menurut hasil wawancara dengan para petani di Desa Padang Baru. Sebagian besar orang yang menjawab mengatakan bahwa penerimaan ini tergolong baik karena kondisi lahan pasang surut yang memerlukan penyesuaian teknis dalam JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 392-399 budidaya, terutama dalam hal pengelolaan air, jenis varietas padi, dan waktu tanam. Mereka berpendapat bahwa hasil panen dapat ditingkatkan dengan dukungan pemerintah tambahan, seperti bantuan benih unggul, pupuk bersubsidi, dan pendampingan teknis. Hasil produksi . 934,1 kilogram per hekta. dikalikan dengan harga jual gabah di tingkat petani saat panen menghasilkan total penerimaan petani sebesar Rp 13. 636,36 per MT per hektar, menurut hasil wawancara dan perhitungan. Nilai ini menunjukkan total pendapatan kotor atau penerimaan petani sebelum biaya produksi. Sebagian petani mengatakan bahwa harga jual sering berubah meskipun produksi relatif stabil. Ini terutama terjadi selama musim panen raya atau ketika kualitas gabah tidak sesuai dengan standar pasar. Ini berarti bahwa usaha tidak selalu sebanding dengan penerimaan. Petani, bagaimanapun, dapat mempertahankan usahanya berkat pengalaman dan pengelolaan biaya yang efektif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa petani padi sawah di lahan pasang surut tipe luapan B Desa Padang Baru menghasilkan hasil panen rata-rata 1,934,1 kilogram per ha dan penerimaan per musim tanam sebesar 13,538. 636,36 rupiah. Nilai-nilai ini menunjukkan potensi yang masih dapat ditingkatkan, terutama dengan bantuan intervensi kebijakan dan pelatihan teknis. Mereka menunjukkan kemampuan untuk bertahan di tengah risiko harga, dan mereka berharap untuk terus meningkatkan hasil jika kondisi produksi dan pemasaran secara bertahap diperbaiki. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suandi et al . , menunjukkan bahwa padi sawah pasang surut tipe luapan B sangat layak secara ekonomi untuk dikembangkan. Menurut Ibrahim et al. , analisis biaya dan penerimaan usahatani padi lokal pada pasang surut tahun 2008 Desa Puntik Dalam Kecamatan Mandastana menunjukkan bahwa usahatani padi sawah memberikan keuntungan, yaitu padi lokal sebesar Rp 2. 000/ha dengan nilai R/C Ratio 3,40 dan padi unggul sebesar Rp 3. 000/ha dengan nilai R/C Ratio 1,84. Keuntungan usahatani padi lokal sebesar Rp 4. 810/ha dari produksi padi lokal pada musim tanam tahun 2008. KESIMPULAN Risiko pada usahatani padi sawah pasang surut air laut tipe luapan B di Desa Padang Baru Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur terdapat pada risiko produksi dengan kategori risiko tinggi, dengan skor rata-rata 4,23. Risiko kerusakan tanaman padi yang menyebabkan kematian adalah 4,45 dalam kategori risiko tinggi, banyaknya hama dan penyakit adalah 4,36 dalam kategori risiko tinggi, dan rendahnya produksi adalah 3,86 dalam kategori risiko tinggi. Di Desa Padang Baru. Kecamatan Kaur Tengah. Kabupaten Kaur, usaha tani padi sawah menerima ratarata Rp 13. 636,36 per ha sebagai dampak risiko lahan pasang surut tipe luapan B. DAFTAR PUSTAKA