ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HEMOROID PADA PASIEN DI POLI BEDAH RSUD RAJA AHMAD TABIB TAHUN 2019-2022 Muhammad Rifki1. Rusdani2. Nadia Eryaningrum3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, muhammadrifki@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, rusdani@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, nadiaeryaningrum@gmail. ABSTRACT Background: Hemorrhoids, also known as piles, are a common medical condition worldwide. Hemorrhoids occur when blood vessels in the anal or rectal area swell and become inflamed. Factors contributing to the occurrence of hemorrhoids include age, occupation, obesity, gender, constipation, and prolonged sitting during bowel movements. This research aims to provide valuable information for the Indonesian community, doctors, and researchers regarding the risk factors associated with hemorrhoid occurrence. Methods: The research design used in this study is an Observational Case Control with a Retrospective approach. The population in this study consisted of patients who visited the surgical department of RSUD Raja Ahmad Tabib from 2019 to 2022, totaling 6,549 patients. Sample selection was done using Simple Random Sampling, with a total sample size of 82 individuals. The research results were analyzed using the Chi-Square test. Results: In this study, the Chi-Square test analysis revealed factors related to the occurrence of hemorrhoids: Based on Age . =0. Based on Gender . =0. Based on Obesity . =0. and Based on Occupation . =0. Conclusion: Based on the research findings, it can be concluded that there is a significant association between Gender. Obesity, and Occupation with the occurrence of hemorrhoids among patients in the surgical outpatient department of Raja Ahmad Tabib Regional General Hospital from 2019 to 2022. Keywords: Hemorrhoids. Obesity. Age. Gender. Occupation ABSTRAK Latar Belakang: Hemoroid, juga dikenal sebagai wasir, adalah kondisi medis yang umum terjadi di seluruh dunia. Hemoroid terjadi ketika pembuluh darah di daerah anus atau rektum membengkak dan menjadi meradang, adapun Faktor kejadian hemoroid antara lain, usia, pekerjaan, obesitas . erat badan berlebi. , jenis kelamin, konstipasi, dan durasi duduk yang lama saat buang air besar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat, dokter, dan peneliti di Indonesia tentang faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hemoroid. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah Observational Case Control dengan pendekatan Retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang datang ke poli bedah RSUD Raja Ahmad Tabib dari tahun 2019 ke tahun 2022 yang berjumlah 6. 549 pasien. Penentuan sampel menggunakan Simple Random Sampling Dengan total sampel sebanyak 82 orang. Hasil penelitian menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Pada penelitian ini, diapatkan hasil analisis menggunakan uji Chi-square faktor yang berhubungan dengan kejadian Hemoroid: Berdasarkan Usia . = 0,. Berdasarkan Jenis Kelamin . =0,. Berdasarkn Obesitas . =0,. , dan Berdasarkan Pekerjaan . =0,. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara Jenis Kelamin. Obesitas, dan Pekerjaan terhadap Kejadian Hemoroid pada pasien poli bedah di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib tahun 2019-2022. Kata kunci: Hemoroid. Obesitas. Usia. Jenis Kelamin. Pekerjaan Universitas Batam Page 26 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 PENDAHULUAN Penyakit tidak menular yaitu penyakit yang dianggap tidak dapat disebabkan dari seseorang terhadap orang lain sehingga bukan merupakan sebuah ancaman terhadap orang Penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman tetapi disebabkan karena adanya problem fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia. Penyakit tidak menular merupakan beban kesehatan utama di negara-negara yang sedang berkembang yang sedang mengalami transisi demografi dan perubahan pola hidup dalam masyarakat. Sebagai salah satu contoh yaitu masalah Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang asalnya dari plexus hemorrhoidalis kemudian di bawah atau luar linea dentatae pelebaran vena yang berada di bawah kulit . di sebut hemoroid eksterna lalu di atas atau di dalam linea dentatae, pelebaran vena yang berada di bawah mukosa . disebut hemoroid interna dan biasanya seseorang yang mengalami hal ini anal canalnya masih normal (Kibret et al, 2. Menurut data dari badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) hemoroid diderita oleh 5% seluruh penduduk dunia dan angka kejadian hemoroid terjadi di seluruh negara, dengan presentasi 54% mengalami gangguan hemoroid. Berdasarkan data National Center for Health Statistics (NCHS) terdapat 10 juta orang di Amerika Serikat mengalami hemoroid. Prevalensi hemoroid yang dilaporkan di Amerika Serikat adalah 4,4% dengan puncak kejadian pada usia antara 45-65 tahun. Sedangkan pada usia dibawah 20 tahun penyakit hemoroid ini jarang terjadi. Prevelensi meningkat pada ras kaukasoid dan individu dengan status ekonomi tinggi, dan menujukan bahwa sebanyak 43% orang dewasa tidak gemar beroalaraga dan kurang mengonsumsi makanan serat, konstipasi, kebiasaan duduk dan posisi buang air besar yang salah (Sandler, 2. Berdasarkan Universitas Batam Batam Batam kesehatan . yang diperoleh dari rumah sakit di 33 provinsi terdapat rata-rata 355 kasus hemoroid, baik hemoroid eksternal Penderita hemoroid akan terus bertambah, prevalensi hemoroid di Indonesia berkisar 5,7% dari total 10 juta penduduk, namun hanya 1,5% saja yang terdiagnosa. Sedangkan, data Riskesdas tahun 2020 menyebutkan terdapat 12,5 juta Indonesia hemoroid, yang berarti secara epidemiologi akan diperkirakan pada tahun 2030 prevalensi angka kejadian hemoroid di Indoesia akan mencapai 21,3 juta orang. Berdasarkan data kejadian hemoroid yang terjadi pada RSUD Raja Ahmad Tabib Tanjung Pinang, pada tahun 2018 terdapat 3 kasus, tahun 2019 terdapat 57kasus, tahun 2020 terdapat 35 kasus, tahun 2021 terdapat 48 kasus, tahun 2022 terdapat 41 kasus. Data ini menandakan bahwa angka kejadian hemoroid mengalami peningkatan di RSUD Raja Ahmad Tabib. Faktor kejadian hemoroid antara lain, usia, pekerjaan, obesitas . erat badan berlebi. , jenis kelamin, konstipasi, dan durasi duduk yang lama saat buang air besar. Hemoroid lebih umum terjadi pada orang yang lebih tua. Hal ini disebabkan oleh penurunan elastisitas pembuluh darah dan jaringan di sekitar anus seiring bertambahnya usia. Jenis pekerjaan yang melibatkan aktivitas yang membutuhkan banyak duduk atau berdiri dalam waktu yang lama, seperti pekerjaan kantor atau pekerjaan berat fisik, dapat meningkatkan risiko hemoroid. Obesitas, yang terkait dengan indeks massa tubuh (IMT) yang tinggi, juga dapat mempengaruhi kejadian Kegemukan meningkatkan tekanan intraabdominal dan tekanan pada vena di daerah panggul. Tekanan tersebut dapat menyebabkan pembengkakan pembuluh darah dan menyebabkan hemoroid. Perebedaan fisiologis jenis kelamin laki-laki maupun perempuan dapat mempengaruhi risiko kejadian hemoroid, perbedaan tekanan intra abdominal dan faktor hormonal tertensu ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 hemoroid (Lohsiriwat. V, 2. Terjadinya hemoroid juga dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti kehamilan, mengedan terlalu lama, kurangnya mobilisasi, konstipasi kronik, diet rendah serat, usia lanjut, aktifitas fisik berat, penyakit yang meningkatkan tekanan intra abdomen seperti tumor usus, tumor abdomen dan berbagai macam penyakit atau sindrom lainnya yang berdampak pada peningkatan tekanan vena pelvis, serta duduk terlalu lama. (Safyudin. Hemoroid / wasir memiliki tingkatan stadium yaitu I. II, i dan IV, pada stadium IV hemoroid mengalami penonjolan/proplaps pada bagian anus yang tidak dapat masuk kembali secara spontan maupun dengan bantuan tangan secara manual, terasa nyeri dan 4 dibutuhkan penanganan tindakan operasi untuk mengatasi masalah tersebut. Masalah hemoroid tentunya dapat dicegah sedini mungkin dengan mengetahui apa saja faktorfaktor resiko terjadinya hemoroid. Dengan faktor-faktor rekomendasi upaya pencegah. Menurut penelitian yang dilakukan di Hemoroid Institute of South Texax oleh (Acheson AG, 2. Penatalaksaan hemoroid terbagi atas 2 bagian, penatalaksanaan konservatif maupun pembedahan. Untuk tindak pembedahan pada pasien hemoroid sendiri memiliki indikasi penatalaksanaan seperti. Hemoroid internal derajat II berulang. Hemoroid derajat i dan IV dengan gejala. Mukosa rektum menonjol keluar anus. Hemoroid derajat I dan II dengan penyakit Kegagalan penatalaksanaan konservatif , maupun permintan pasien. Hasil yang dilakukan oleh Sekar Lina . dengan judul AuPasien Penderita Hemoroid di Rumah Ssakit Islam Siti Rahmah Padang Sumatra Barat tahun 2019Ay didapatkan hasil pasien hemoroid tertinggi terjadi pada Universitas Batam Batam Batam usia dewasa muda. Penelitian lain yang dilakukan oleh Reni . dengan judul Au Karakteristik Hemoroid di Bagian Digestif Siti Rahmah Padang Periode Januari-DesemberAy didapatkan bahwa terdapat jenis kelamin terbanyak yaitu laki-laki dengan 27 orang atau 54,0%. Berdasarkan usia, kelompok usia lansia awal pasien hemoroid lebih tinggi yaitu 44,0%. Pasien hemoroid dengan jenis internal sebanyak 68,0%, derajat hemoroid tertinggi pada derajat i 52,9%. Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di RSUD Raja Ahmad Tabib pada tanggal 8-10 februari 2023. Didapatkan dari 20 pasien hemoroid berdasarkan rekam medis dari tahun 20192022 ditemukan lebih dari satu faktor risiko penyebab terjadinya masalah kesehatan Oleh karena itu berdasarkan latar belakang yang disebutkan diatas maka peneliti ingin mengetahui apa saja faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian hemoroid pada pasien di RSUD Raja Ahmad Tabib tahun METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian observational case control. Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang datang ke poli bedah RSUD Raja Ahmad Tabib dari tahun 2019 ke tahun 2022. Teknik pengambilan sampel dengan Simple Random Sampling. Alat pengumpulan data pada penelitian ini berupa data sekunder yaitu rekam medis. Penelitian ini menggunakan uji statistik Chi-Square HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan usia. Frekuensi Persentase Usia (%) O45 >45 Total Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 82 pasien. Didapatkan pasien pada kategori ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 berumur O45 tahun sebanyak 47 orang . ,3%), dan didapatkan pasien pada kategori berumur >45 tahun sebanyak 35 orang . ,7%). Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar pasien hemoroid berusia pada kategori umur O45 . ,3%). Hal ini terjadi disebabkan karena usia dibawah 45 tahun seseorang cenderung memiliki aktivitas yang padat yang dapat mempengaruhi terjadinya hemoroid. Pada usia produktif beberapa pekerjaan atau kegiatan fisik yang melibatkan angkat beban atau peningkatan tekanan di daerah panggul dapat berkontribusi pada kejadian hemoroid (Fitrianto Dwi Utomo, 2. Usia lebih dari 45 tahun akan mulai terjadi proses degeneratif yang menyebabkan penurunan peristaltik usus karena kerusakan protein kontraktil usus seperti aktin dan miosin akibat paparan radikal bebas. 3 Penurunan peristaltik usus juga disebabkan akibat peningkatan kelokan pembuluh darah. Pembuluh darah ini berfungsi menyalurkan oksigen ke usus untuk menghasilkan energi Keadaan menyebabkan feses tertahan lebih lama di usus dan akan terus diabsorbsi sehingga feses akan memiliki konsistensi yang lebih keras dan menyebabkan gesekan pada bantalan anal sehingga menyebabkan hemoroid (Darmojo. Rb. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Mubarak . yang dilakukan pada pasien hemoroid, dimana usia terbanyak yang menderita hemoroid adalah usia <45 tahun yaitu sebanyak 47 orang . ,6%) dan usia >45 tahun yaitu sebanyak 36 orang . ,4%). Dan hasil peneltian yang dilakukan oleh Sekarlina. S . yang dilakukan di Rumah Sakit Silam Siti Rahmah Padang Sumatera Barat. Pada peneltiiannya menemukan bahwa kelompok usia tertinggi pada kasus hemoroid adalah kelompok usia 15-44 tahun dengan persentase . %). Universitas Batam Batam Batam Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan Jenis Kelamin Frekuensi Persentase Jenis Kelamin . (%) Laki-laki Perempuan Total Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 82 pasien. Didapatkan pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 54 orang . ,9%), dan didapatkan pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 28 orang . ,1%). Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar pasien berjenis kelamin laki laki, namun laki-laki dan perempuan memiliki faktor resiko yang sama terkena hemoroid pada berbagai usia. Hemoroid pada laki-laki dapat disebabkan karena memiliki aktivitas fisik yang lebih berat dibandingkan perempuan. Aktivitas fisik yang berat seperti mengangkat beban berat akan meningkatkan risiko terjadinya hemoroid. Bekerja sambil duduk dan mengangkat beban berat yang terlalu lama menyebabkan peregangan otot sfingter ani berulang sehingga ketika penderita mengejan akan terjadi peregangan yang bertambah buruk Pembesaran prostat adalah salah satu faktor risiko pada laki-laki yang akan meningkatkan poses mengejan sehingga yang terjadi adalah peningkatan tekanan intraabdominal sehingga akan menghambat aliran darah dari arteri hemoroidalis (Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3, 2. Hemoroid progesteron yang akan menghambat kontraksi pada saluran pencernaan, sehingga absorbsi air pada feses meningkat dan menyebabkan Pelebaran hemoroidalis juga dapat disebabkan akibat penekanan fetus pada proses melahirkan pervaginam dan juga peningkatan jumlah pembuluh darah daerah pelvis selama kehamilan (Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3, 2. ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Obesitas Tabel 3. Distribusi frekuensi berdasarkan Obesitas Frekuensi Persentase Obesitas . (%) Tidak Total Tabel 3 menunjukkan dari 82 pasien. Didapatkan pasien yang memiliki berat badan obesitas sebanyak 12 orang . ,6%), dan didapatkan pasien yang memiliki berat badan tidak obesitas sebanyak 70 orang . ,4%). Pada penelitian ini sebagian besar pasien tidak mengalami kelebihan berat badan atau Namun obesitas dapat menjadi faktor risiko terjadinya hemoroid karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan di dalam perut, pelebaran pembuluh darah balik atau vena, dan peradangan kronis. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Risma Desy . , yang dilakukan di Ruangan Poli Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Tenriwaru Kabupaten Bone, pada hasil penelitiannya menemukan pasien obesitas sebanyak 4 . 3%), dan sebagian besar pasien tidak obesitas 26 . 7%). Distribusi Pekerjaan Frekuensi Berdasarkan Tabel 4. Distribusi frekuensi berdasarkan Pekerjaan Frekuensi Persentase Pekerjaan . (%) Berat Ringan Total Tabel 4 menunjukkan dari 82 pasien. Didapatkan pasien dengan pekerjaan kategori pekerjaan berat sebanyak 44 orang . ,7%), dan Didapatkan pasien dengan pekerjaan kategori pekerjaan berat sebanyak 38 orang . ,3%). Pada penelitian ini sebagian besar pasien memiliki pekerjaan dengan aktifitas fisik yang berat yaitu sebanyak . 3%). Pekerjaan dapat menjadi faktor risiko terjadinya hemoroid. Jenis pekerjaan, seperti kurangnya aktivitas Universitas Batam Batam Batam fisik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hemoroid. Kurangnya aktivitas fisik, seperti duduk terlalu lama dapat meningkatkan risiko pembekuan terhadap pembuluh vena dalam hingga dua kali lipat. Biasanya pembekuan darah terjadi pada bagian betis bahkan bisa terjadi dibagian saluran pencernaan bawah. Jika pembekuan ini tidak dicairkan dengan obat pengencer darah, maka mengganggu aliran darah. Jika hal ini terjadi pada anus, maka terjadilah hemoroid (Wibowo. et al, 2. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Risma Desy . , yang dilakukan di Ruangan Poli Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Tenriwaru Kabupaten Bone. Pada penelitian nya mendapatkan pasien dengan kategori pekerjaan berat sebanyak 18 . %) dan pekerjaan ringan sebanyak 12 . %). Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Hemoroid Tabel 5. Distribusi frekuensi berdasarkan Pekerjaan Frekuensi Persentase Pekerjaan . (%) Tidak Total Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 82 pasien. Didapatkan pasien yang mengalami hemoroid sebanyak 47 orang . 3%), dan Didapatkan pasien dengan tidak mengalami hemoroid sebanyak 35 orang . 7%). Penyebab hemoroid belum diketahui secara Namun, hemoroid timbul karena dilatasi, pembekakan atau inflamasi vena hemoroidalis yang disebabkan oleh faktor-faktor resiko atau pencetus, seperti: peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor, kehamilan, usia, konstipasi, diare akut yang berlebihan dan diare kronik, hubungan seks peranal, kurang makan makanan berserat . ayur dan bua. , kurang olahraga atau imobilisasi (Wibowo er al, 2. ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 Analisis Bivariat Hubungan Usia dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien di Poli Bedah RSUD Raja Ahmad Tabib periode 2019-2022 Tabel 6. Hubungan Usia dengan Dengan Kejadian Hemoroid Usia O 45 Tahun > 45 Tahun Total Hemorroid Tidak Berdasarkan Tabel 6 dapat dijelaskan bahwa terdapat sebanyak 26 pasien usia O 45 tahun yang mengalami hemoroid dengan persentase . 3%), sebanyak 21 pasien usia O 45 tahun yang tidak mengalami hemoroid dengan persentase . 7%). Dan didapatkan sebanyak 21 pasien usia >45 tahun yang mengalami hemoroid dengan persentase . 0%), dan sebanyak 14 pasien usia >45 tahun yang tidak mengalami hemoroid dengan persentase . Hasil analisis uji Chi-Square memperoleh angka p-value dengan nilai signifikansi 0,672 . <0. dan didapatkan nilai Odds Ratio 95% CI sebesar 0,825, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat Hubungan yang bermakna Antara Usia dengan Kejadian Hemoroid di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib Periode 2019-2022. Usia di bawah 45 tahun dan kejadian hemoroid dapat berkaitan dengan beberapa faktor, seperti gaya hidup, pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan buang air besar, dan faktor lainnya. Beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap hemoroid pada usia muda atau di bawah 45 tahun adalah seperti gaya hidup dan pola makan karena pola makan rendah serat dan kurangnya konsumsi air bersih dapat menyebabkan sembelit, yang bisa meningkatkan risiko hemoroid. Selain itu, gaya hidup yang kurang aktif fisik juga dapat mempengaruhi sirkulasi dan tekanan pada pembuluh darah di daerah panggul. Pada usia muda seseorang juga cenderung melakukan aktifitas fisik yang ekstream, seperti angkat Universitas Batam Batam Batam P-value Total 0,672 beban berat yang dapat meningkatkan tekanan pada daerah panggul dan memicu kejadian hemoroid (Everheart. JE. Adapun pada usia lanjut, peningkatan usia akan memperparah kejadian hemoroid Sel secara terus-menerus akan dirusak oleh radikal bebas. Kerusakan sel oleh radikal bebas ini tidak diimbangi oleh kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri melalui proses regeneratif karena kemampuannya yang telah Selanjutnya, sel yang telah rusak akan menumpuk hingga bertahun-tahun sampai titik dimana sudah tidak bisa dikembalikan (Fatmah, 2. Pada Penelitian ini menemukan bahwa kejadian hemoroid pada pasien usia >45 tahun . %) lebih banyak daripada yang tidak Hasil penelitian ini sesuai dengan teori dimana seseorang dengan usia lanjut memiliki risiko tinggi terjadinya hemoroid karena terjadi penurunan fungsi struktur organ dan pembuluh darah mengalami elastisitas disebabkan karena Efek degenerasi akibat memperlemah jaringan bersamaan dengan usaha pengeluaran feses mengakibatkan prolapsus. Bantalan yang mengalami prolapsus akan terganggu aliran balik vena (Dwi, 2. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Nariswari . di RSUD Sleman dimana tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia terhadap kejadian hemoroid dengan p value . Dan ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 penelitian ini tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh Fitrianto Dwi Utomo . yang meneliti hubungan antara usia terhadap derajat hemoroid internal pada pasien hemoroid internal di RSUD dr. Soedarso Pontianak yang diuji menggunakan uji ChiSquare mendapatkan nilai p=0,000 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara usia terhadap derajat hemoroid. Hubungan Faktor Risiko Jenis Kelamin dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien Poli bedah Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib periode 2019-2022 Tabel 7. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Hemoroid Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Hemorroid Tidak Berdasarkan Tabel 7 di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat sebanyak 37 pasien berjenis kelamin laki-laki yang mengalami dengan persentase . 5%), kemudian sebanyak 17 pasien berjenis kelamin laki-laki yang tidak mengalami hemoroid dengan persentase . 5%). Dan didapatkan sebanyak 10 pasien berjenis kelamin perempuan yang mengalami hemoroid dengan persentase . ,7%), kemudian sebanyak 18 pasien berjenis kelamin perempuan yang tidak mengalami hemoroid . 3%). dengan persentase Hasil analisis uji Chi-Square memperoleh angka p-value dengan nilai signifikansi 0,004 . <0. dan didapatkan nilai Odds Ratio 95% CI sebesar 3. 918, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat Hubungan yang bermakna Antara Jenis kelamin dengan Kejadian Hemoroid di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib Periode 2019-2022. Dalam konteks kasus hemoroid, jenis kelamin ternyata memiliki peran penting sebagai faktor risiko yang mempengaruhi perkembangan kondisi ini. Meskipun ada beberapa faktor risiko yang berlaku untuk kedua jenis kelamin, namun ada perbedaan yang signifikan dalam hal bagaimana faktorfaktor tersebut memengaruhi pria dan wanita. Pada wanita, terdapat beberapa faktor Universitas Batam Batam Batam P-value Total 0,004 risiko tambahan yang dapat berkontribusi pada perkembangan hemoroid. Ketika mengalami kehamilan, tekanan intraabdominal cenderung peregangan pada pleksus hemoroid dan akhirnya mengakibatkan pembengkakan pada pembuluh darah di sekitar area anus. Hormon progesteron yang meningkat selama kehamilan juga dapat memperlambat gerakan peristaltik dalam saluran pencernaan, menyebabkan sembelit yang pada gilirannya memberikan tekanan tidak normal pada otor sfingter ani Selama proses persalinan, penekanan yang berlebihan pada pleksus hemoroidalis juga bisa menjadi penyebab timbulnya hemoroid pada wanita. Sementara itu, pada pria, faktor risiko yang berbeda dapat memainkan peran dalam mengembangkan hemoroid. Beberapa studi, seperti yang dilakukan oleh Lohsiriwat pada tahun 2019, menunjukkan bahwa jenis pekerjaan dan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi dapat memiliki dampak yang lebih besar pada perkembangan hemoroid pada pria. Dengan kata lain, peran jenis kelamin dalam faktor risiko hemoroid sebenarnya bisa memiliki implikasi yang berbeda antara pria dan wanita. Hasil studi ini memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana faktor ini dapat mempengaruhi timbulnya hemoroid pada masing-masing jenis kelamin (Lohsiriwat V, 2. ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 Pada penelitian ini didapatkan 68,5% Pasien hemoroid dengan jenis kelamin lakilaki, hal ini dapat disebabkan karena aktivitas fisik yang terlalu berat atau akibat hormon Hormon testosteron merupakan hormon steroid yang dikeluarkan oleh sel leydig pada tesis laki-laki yang dapat memicu sintesis filamen aktin dan miosin. Penuaan pada laki-laki menyebabkan penurunan kadar hormon testosteron, sedangkan hormon estrogen relatif tetap. Hormon estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitivitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen dan menurunkan apoptosis sehingga yang terjadi adalah pembesaran prostat. Dihidrotestosteron merupakan androgen utama dari testosteron (Purnomo. Buku Dasar Dasar Urologi, 2. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Fitrianto Dwi Utomo . yang meneliti hubungan antara jenis kelamin terhadap derajat hemoroid internal pada pasien hemoroid internal di RSUD dr. Soedarso Pontianak yang diuji menggunakan uji ChiSquare mendapatkan nilai p=0,000 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin terhadap kejadian Hubungan Obesitas dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien di Poli Bedah RSUD Raja Ahmad Tabib periode 2019-2022 Tabel 8. Hubungan Obesitas dengan Kejadian Hemoroid Obesitas Tidak Total Hemorroid Tidak Berdasarkan Tabel 8 di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat sebanyak 10 pasien dengan obesitas yang mengalami hemoroid dengan persentase . ,3%), kemudian sebanyak 2 pasien dengan obesitas yang tidak mengalami hemoroid dengan persentase . 7%). Dan didapatkan sebanyak 37 pasien tidak obesitas yang mengalami hemoroid dengan persentase . ,9%), kemudian didapatkan sebanyak 33 pasien tidak obesitas yang tidak mengalami hemoroid persentase . 1%). Hasil analisis uji Chi-Square memperoleh angka p-value dengan nilai signifikansi 0,049 . <0. dan didapatkan nilai Odds Ratio 95% CI sebesar 4. 459, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat Hubungan yang bermakna Antara Obesitas dengan Kejadian Hemoroid di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib Periode 2019-2022. Universitas Batam Batam Batam P-value Total 0,049 Pada peneltian ini didapatkan 83,3% atau sebagian besar pasien dengan obesitas yang mengalami hemoroid, hal ini dapat terjadi karena obesitas seringkali dikaitkan dengan peningkatan tekanan intraabdominal, terutama pada daerah panggul. Tekanan ini dapat mempengaruhi pembuluh darah di sekitar anus dan rektum, menyebabkan pembesaran dan pembengkakan pembuluh darah, yang merupakan karakteristik hemoroid. Orang yang obesitas cenderung memiliki kebiasaan makan yang rendah serat, dan ini dapat Konstipasi meningkatkan risiko hemoroid karena orang dengan konstipasi cenderung mengejan saat buang air besar, yang bisa merusak pembuluh darah di area anus. Obesitas dapat menyebabkan peradangan sistemik dan mempengaruhi sirkulasi darah. Kondisi peradangan dan penurunan aliran darah dapat memengaruhi pembuluh darah di daerah anus, memicu perkembangan hemoroid. Obesitas ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 dapat mempengaruhi hormon dan metabolisme mempengaruhi kesehatan pembuluh darah dan vaskularisasi area anus (Price. AS. Wilson ML. , 2006 Buku Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyaki. Peningkatan tekanan intra abdomen pada orang obesitas dengan lemak tubuh tinggi dan berkontribusi pada pengembangan hemoroid. Mekanisme lain yang bisa menjadi peradangan kronis pada obesitas. Obesitas menginduksi peningkatan pelepasan sitokin inflamasi dan protein fase akut misalnya Protein C-reaktif, yang secara aktif mengaktifkan sistem imun bawaan dan memengaruhi homeostasis metabolik (Lee. Kim. Kang. Shin, & Song. Penelitian ini sejalan dengan peneltian yang dilakukan oleh Risma Desy . dalam peneltiian nya yang berjudul Faktor Risiko Kejadian Hemoroid Pada Pasien Di Ruangan Poli Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Tenriawaru Kabupaten Bone. Pada penelitiannya mendapatkan hasil obesitas sebagai faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hemoroid . Hubungan Pekerjaan dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien di Poli Bedah RSUD Raja Ahmad Tabib periode 2019-2022 Tabel 9. Hubungan Pekerjaan dengan Kejadian Hemoroid Pekerjaan Berat Ringan Total Hemorroid Tidak Berdasarkan Tabel 9 di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat sebanyak 33 pasien dengan pekerjaan kategori berat yang mengalami hemoroid dengan persentase . 0%), kemudian sebanyak 11pasien dengan pekerjaan kategori berat yang tidak mengalami hemoroid dengan persentase . 0%). Dan didapatkan sebanyak 14 pasien dengan pekerjaan kategori ringan yang mengalami dengan persentase . 8%), kemudian didapatkan sebanyak 24 pasien dengan pekerjaan kategori ringan yang mengalami hemoroid dengan persentase . Hasil analisis uji Chi-Square memperoleh angka p-value dengan nilai signifikansi 0,000 . <0. dan didapatkan nilai Odds Ratio 95% CI sebesar 5. 143, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat Hubungan yang bermakna Antara Pekerjaan dengan Kejadian Hemoroid di RSUD Raja Ahmad Tabib. Universitas Batam P-value Total 0,000 Pekerjaan dengan intensitas yang berat dapat berkaitan dengan kejadian hemoroid. Pada pria terdapat hubungan yang berarti mengangkat beban berat dan lamanya duduk dengan kejadian hemoroid. Hal tersebut dikarenakan, pria lebih sering melakukan aktivitas yang berat dan duduk lama dibandingkan wanita. Pekerjaan para sampel pria pada penelitian ini meliputi yaitu Pekerja Pabrik (Swast. Nelayan. Karyawan Perusahaan. Polisi. TNI dan Buruh. Yang dimana pekerjaan ini adalah jenis pekerjaan yang berat sehingga dapat menjadikan pekerjaan sebagai faktor risiko terjadinya Hemoroid. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Luna Azhria . , dengan judul penelitian Hubungan Jenis Pekerjaan Dengan Kejadian Hemoroud Pada Dewasa Muda. Pada penelitiannya mendapatkan bahwa Page 34 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 1 JANUARI 2024 pekerjaan berat berkaitan dengan kejadian hemoroid dengan p-value 0,000. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : Berdasarkan faktor risiko usia, didapatkan lebih dari setengah pasien berusia O45 tahun . 3%) dibandingkan dengan pasien yang berusia > 45 tahun . 9%). Berdasarkan faktor risiko jenis kelamin, didapatkan lebih dari setengah pasien laki-laki . dibandingkan dengan pasien berjenis kelamin perempuan . 1%). Berdasarkan faktor risiko obesitas, didapatkan mayoritas pasien tidak obesitas . 4%) dibandingkan dengan pasien yang obesitas dimana hanya sedikit . 6%). Berdasarkan faktor risiko pekerjaan, didapatkan lebih dari setengah pasien dengan menjalani pekerjaan kategori berat . 7%) dibandingkan dengan pasien yang menjalani pekerjaan kategori ringan . 3%). Hubungan faktor risiko usia engan kejadian hemoroid, didapatkan Usia tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian hemoroid dengan nilai p . dan nilai Odds Ratio sebesar 0,825 Hubungan faktor risiko jenis kelamin dengan kejadian hemoroid, didapatkan Jenis kelamin memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian hemoroid dengan nilai p . dan nilai Odds Ratio Hubungan faktor risiko obesitas engan kejadian hemoroid, didapatkan obesitas memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian hemoroid dengan nilai p . dan nilai Odds Ratio sebesar 4. Hubungan faktor risiko pekerjaan dengan kejadian hemoroid, didapatkan pekerjaan memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian hemoroid dengan nilai p . dan nilai Odds Ratio sebesar 5. Universitas Batam SARAN Berdasarkan hasil penelitian ditemukan adanya hubungan antara Jenis Kelamin. Obesitas. Pekerjaan. Diharapkan masyarakat secara luas dapat memahami faktor risiko apa saja yang dapat mempengaruhi kejadian hemoroid. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Direktur RSUD Raja Ahmad Tabib. DAFTAR PUSTAKA