Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) Volume 10. Nomor 2 . : 681 - 688 ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . OPTIMALISASI USAHATANI SAYURAN DI KECAMATAN KUMPEH ULU KABUPATEN MUARO JAMBI OPTIMIZATION OF VEGETABLE FARMING IN KUMPEH ULU DISTRICT. MUARO JAMBI REGENCY Tri Sepbriani1*. Yusma Damayanti2. Dewi Sri Nurchaini3 . Riri Oktari Ulma4 (Alumni Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Jamb. (Email : trisepbriani@gmail. (Staf Pengajar Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jamb. (Email : yusmadamayanti@unja. (Staf Pengajar Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jamb. (Email : dewi_sri@unja. (Staf Pengajar Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jamb. (Email : riri_oktari@unja. *Penulis korespondensi : trisepbriani@gmail. ABSTRACT This study aims to: . Identify the cropping patterns of vegetable farming. Analyze the optimal land allocation for each vegetable farming pattern. Analyze the maximum income attainable by vegetable farmers by applying the optimal cropping pattern. The data used in this study consist of primary data obtained through interviews using questionnaires with 26 vegetable farmers in Kumpeh Ulu District, supported by secondary data from relevant institutions and literature. The analytical methods employed include qualitative analysis to describe the cropping patterns in the study area and quantitative analysis using linear The results of the study indicate that: . Vegetable farming in the study area follows three cropping patterns, namely Pattern I. Pattern II, and Pattern i, involving cucumber, red chili, and yard-long bean. These patterns are distinguished based on the types of crops cultivated: Pattern I . ed chiliAecucumberAeyard-long bea. with an average land size of 0. 25 ha. Pattern II . ucumberAeyard-long bea. with an average land size of 0. 11 ha, and Pattern i . ed chiliAe yard-long bea. with an average land size of 0. 09 ha. The optimal land use for each cropping pattern in the study area is: Pattern IAired chili 0. 15 ha and cucumber 0. 06 ha. Pattern IIAi 11 ha. and Pattern iAired chili 0. 09 ha. The maximum income that vegetable farmers can earn by applying the optimal cropping pattern is: Pattern IAiIDR 11,347,490/MT. Pattern IIAiIDR 7,799,728/MT, and Pattern iAiIDR 4,296,197/MT. Among the three cropping patterns. Pattern I yields the highest optimal income compared to the other two. Keywords: Vegetable Farming. Optimization. Linear Programming ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk . Mengidentifikasi pola tanam usahatani sayuran . Menganalisis penggunaan luas lahan optimal untuk masing-masing pola tanam usahatani sayuran, . Menganalisis pendapatan maksimum yang diperoleh petani sayuran dengan menerapkan pola tanam optimal. Data yang digunakan dalam penelitian yaitu data primer yang https://doi. org/10. 21776/ub. Tri Sepbriani - Optimalisasi Usahatani Sayuran . diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuisioner pada petani sayuran di Kecamatan Kumpeh Ulu sebanyak 26 orang, selain itu didukung dengan data sekunder dari beberapa instansi terkait dan literatur. Metode analisis yang digunakan adalah metode kualitatif untuk menjelaskan gambaran pola tanam di daerah penelitian dan kuantitatif untuk melihat pola tanam optimal dengan linear programming. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan . Usahatani sayuran di daerah penelitian terdapat 3 jenis pola tanam yaitu pola tanam I. II dan i dengan jenis sayuran yaitu tanaman mentimun, cabai merah dan kacang panjang. Adapun tiga jenis pola tanam tersebut dibagi berdasarkan jenis usahatani yang dilakukan yaitu pola tanam I . abai merah-mentimun-kacang panjan. dengan rata-rata luas lahan sebesar 0,25 Ha, pola tanam II . entimun-kacang panjan. dengan rata-rata luas lahan yaitu 0,11 Ha dan pola tanam i . abai merah-kacang panjan. dengan rata-rata luas lahan sebesar 0,09 Ha, . Penggunaan luas lahan optimal untuk masing-masing pola tanam usahatani sayuran di daerah penelitian yaitu pola tanam I dengan luas tanaman cabai merah seluas 0,15 Ha dan mentimun seluas 0,06 Ha. Pola tanam II dengan luas lahan mentimun seluas 0,11 Ha dan pada pola tanam i dengan usahatani cabai merah seluas 0,09 Ha, . Pendapatan maksimum yang dapat diperoleh petani sayur dengan menerapkan pola tanam optimal yaitu pada pola tanam I sebesar Rp. 490/MT, pola tanam II Rp. 728/MT dan pola tanam i sebesar Rp. 197/MT. Dari ketiga jenis pola tanam yang ada, pola tanam I merupakan pola tanam dengan hasil pendapatan optimal tertinggi diantara dua jenis pola tanam lainnya. Kata Kunci : Usahatani Sayuran. Optimalisasi. Program Linear PENDAHULUAN Secara geografis, iklim dan kualitas sumber daya alam di Indonesia baik dalam perkembangan bidang pertanian. Pertanian menjadi sektor unggulan sebab menjadi salah satu sektor yang berperan besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pertanian memiliki kontribusi besar dalam mendukung pembangunan perekonomian nasional (Lenggogeni, 2. Di lain sisi, sektor pertanian berperan dalam memenuhi ketersediaan kebutuhan pangan masyarakat serta menciptakan lapangan pekerjaan sehingga banyak menyerap tenaga kerja dari keberagaman sektor pertanian. Keberagaman sektor pertanian diantaranya seperti tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan Salah satu jenis usahatani hortikultura yang paling banyakdiusahakan petani yaitu usahatani sayuran dikarenakan memiliki masa panen yang lebih singkat, mudah dikelola, dan berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Provinsi Jambi menjadi salah satu daerah yang berpotensi dalam memproduksi sayuran yang ditandai dengan adanya berbagai jenis hasil produksi sayuran yang berkelanjutan di setiap Berdasarkan data produksi sayuran di Provinsi Jambi Tahun 2022 terdapat tiga daerah yang memiliki tingkat produksi sayuran tertinggi yaitu Kabupaten Kerinci sebesar 2. kuintal, kemudian Kabupaten Merangin sebesar 127. 513 kuintal dan diikuti daerah Kabupaten Muaro Jambi dengan hasil produksi sebesar 39. 383 kuintal. Salah satu daerah sentra produksi sayuran di Kabupaten Muaro Jambi berada di Kecamatan Kumpeh Ulu dengan komoditas sayuran utama yang dihasilkan berupa sayuran mentimun, kacang panjang dan cabai merah. Tabel 1. Luas Panen dan Produksi Tanaman Sayuran di Kecamatan Kumpeh Ulu Tahun 20202022 Luas Panen (H. Produksi . Komoditas JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 674 - 680 Mentimun Kacang Panjang Cabai Merah Sumber: Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi, 2023 Berdasarkan data luas panen selama tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2020-2022, komoditas sayuran di Kecamatan Kumpeh Ulu mengalami penurunan luas panen sehingga hal tersebut mempengaruhi tingkat produksi sayuran. Penurunan luas lahan yang dialami oleh petani sayuran di Kecamatan Kumpeh Ulu menjadi suatu tantangan dalam mengelola usahatani Salah satu upaya yang dilakukan petani sayuran untuk mengoptimalkan lahan usahatani yaitu mengusahakan sejumlah komoditas sayuran secara polikultur dengan sistem tumpang gilir. Tujuan penerapan usahatani secara tumpang gilir agar memudahkan petani dalam melakukan pengelolaan usahatani, mencegah serangan hama-penyakit serta meningkatkan pendapatan sebab petani tidak bergantung pada hasil satu jenis komoditas sayuran. Adapun jenis sayuran yang sering diusahakan petani dalam sistem tumpang gilir ini yaitu tanaman mentimun, kacang panjang, dan cabai merah. Petani yang mengusahakan berbagai jenis sayuran menghadapi kendala dalam alokasi pemakaian aspek produksi. Masing-masing usahatani sayuran yang diusahakan membutuhkan biaya produksi yang berbeda-beda seperti biaya benih, pupuk, pestisida, dan biaya upah tenaga Dalam pengelolaannya, tenaga kerja yang dibutuhkan akan berbeda sesuai dari jenis usahatani sayurannya. Tiap-tiap jenis usahatani sayuran yang diusahakan membutuhkan aspek produksi dengan ukuran dan biaya yang berbedaAebeda, keterbatasan aspek produksi itu diantaranya yaitu keterbatasan luas lahan, modal, dan tenaga kerja (Buana dan Anik S. , 2. Maka dari itu, untuk memperoleh pendapatan maksimum diperlukan strategi yang tepat dalam memaksimalkan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki petani sayuran dengan analis optimalisasi usahatani sayuran. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kumpeh Ulu tepatnya di Desa Kasang Lopak Alai. Desa Solok dan Desa Kasang Kota Karang. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja . urposive samplin. dengan pertimbangan bahwa daerah Kecamatan Kumpeh Ulu merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Kabupaten Muaro Jambi. Objek penelitian ini adalah petani yang melakukan usahatani sayuran secara polikultur dengan kombinasi jenis sayuran yaitu mentimun, kacang panjang dan cabai merah. Data yang diambil saat penelitian adalah data periode satu kali musim panen. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari kegiatan wawancara dan observasi langsung di daerah penelitian. Sedangkan, data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti data dari situs resmi pemerintah, instansi yang terkait, kepustakaan dan jurnal yang berkaitan dengan topik Penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah petani yang melakukan usahatani sayuran secara polikultur sebanyak 26 sampel. Dikarenakan jumlah subjek dibawah 30 orang maka semua anggota populasi dijadikan sampel, hal ini disebut sebagai sampling jenuh. Situasi dimana populasi penelitian relatif kecil, sampling jenuh adalah teknik yang memakai semua anggota populasi sebagai sampel (Sugiyono, 2. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan Data yang dikumpulkan kemudian diolah secara tabulasi kemudian dilanjutkan dengan analisis optimalisasi dengan program linear. Hasil analisis yang diperoleh akan menghasilkan pola tanam optimal dan pendapatan maksimum yang dapat diperoleh petani. Pada penelitian ini yang menjadi faktor pembatas adalah luas lahan setiap jenis usahatani, modal yang JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Tri Sepbriani - Optimalisasi Usahatani Sayuran . digunakan setiap komoditas yang diusahakan dan penggunaan tenaga kerja. Penggunaan tenaga kerja untuk setiap jenis kegiatan usahatani dihitung berdasarkan tiap bulannya. Untuk memperoleh solusi optimal dari keterbatasan sumber daya yang dimiliki petani maka dirumuskan dalam model matematik sebagai berikut. Fungsi tujuan : Maksimumkan Z = C1X1 C2X2 C3X3 Fungsi kendala : Luas Lahan : X1 X2 X3 O b1 Modal : a12X1 a22X2 a32X3 O b2 Tenaga kerja Januari : a13X1 a23X2 a33X3 O b3 Februari : a14X1 a24X2 a34X3O b4 Maret : a15X1 a25X2 a35X3 O b5 April : a16X1 a26X2 a36X3 O b6 Mei : a17X1 a27X2 a37X3 O b7 Juni : a18X1 a28X2 a38X3 O b8 Dimana : X1 ,X2. X3 Ou 0 Keterangan: Z = Nilai fungsi tujuan yang memaksimumkan pendapatan (R. Cn = Kontribusi masing-masing jenis usahatani sayuran terhadap fungsi tujuan yaitu Xn = Luas lahan usahatani per komoditas sayuran (H. amn = Koefisien penggunaan faktor produksi per Ha bm = Ketersediaan sumber daya yang dimiliki petani HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Pola Tanam Usahatani Sayuran Berdasarkan kegiatan wawancara yang telah dilakukan terhadap 26 sampel diperoleh tiga jenis pola tanam dengan kombinasi tanaman cabai merah, mentimun dan kacang panjang. Ketiga jenis pola tanam tersebut menjadi alternatif keputusan dalam melihat strategi terbaik untuk mencapai pendapatan optimal dengan kendala keterbatasan lahan, modal dan tenaga kerja yang dimiliki. Adapun tiga jenis pola tanam tersebut dibagi berdasarkan jenis usahatani yang dilakukan yaitu pola tanam I . abai merah-mentimun-kacang panjan. dengan jumlah sampel sebanyak 13 orang petani yang memiliki rata-rata luas lahan sebesar 0,25 Ha, pola tanam II . entimun-kacang panjan. dengan jumlah sampel sebanyak 8 orang petani yang memiliki ratarata luas lahan yaitu 0,11 Ha dan pola tanam i . abai merah-kacang panjan. dengan jumlah sampel sebanyak 5 orang petani yang memiliki rata-rata luas lahan sebesar 0,09 Ha. Optimalisasi Usahatani Sayuran Optimalisasi merupakan usaha untuk meraih hasil terbaik yang bisa dicapai dari sebuah kendala keputusan pembatasan sumberdaya (Anwar & Nasendi, 1. Pada penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai adalah pendapatan maksimum dengan faktor kendala lahan, modal dan tenaga kerja. Luas lahan dan Pendapatan Optimal Berdasarkan dari perhitungan optimasi yang telah dilakukan, diperoleh solusi optimal pada setiap jenis pola tanam untuk mencapai pendapatan maksimum yang dapat dilihat sebagai JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 674 - 680 Tabel 2. Perbandingan Antara Luas Lahan dan Pendapatan Pada Saat Kondisi Aktual Dengan Optimal Usahatani Sayuran Kecamatan Kumpeh Ulu Tahun 2024 Luas Lahan (H. Pendapatan (R. Jenis Aktual Optimal Aktual Optimal Cabai Merah 0,07 0,15 Mentimun 0,09 0,06 Kacang Panjang 0,09 Pola Tanam I 0,25 0,21 Mentimun 0,06 0,11 Kacang Panjang 0,05 Pola Tanam II 0,11 0,11 Cabai Merah 0,06 0,09 Kacang Panjang 0,03 Pola Tanam i 0,09 0,09 Sumber: Data primer diolah, 2024 Dari tabel diatas menunjukkan bahwa kondisi sebelum dilakukan analisis optimasi . ondisi aktua. luas lahan yang diusahakan petani sayur pada pola tanam I yaitu 0,25 Ha dengan alokasi untuk tanaman cabai merah sebesar 0,07 Ha, mentimun 0,09 Ha, dan kacang panjang 0,09 Ha. Sedangkan pada kondisi optimal terjadi penurunan penggunaan luas lahan sebanyak 0,04 Ha dari luas lahan sebesar 0,25 Ha menjadi 0,21 Ha. Adapun pendapatan yang diperoleh dari usahatani sayuran pada kondisi aktual yaitu sebesar Rp. 291, dengan kontribusi masing-masing jenis tanaman yaitu cabai merah sebesar Rp. 725, mentimun Rp. 956 dan kacang panjang Rp. Sedangkan pada kondisi optimal, pendapatan maksimum yang dapat diperoleh petani sebesar Rp. Reduced cost merupakan nilai pengurangan fungsi tujuan setiap adanya kenaikan satu satuan variabel. Pada kondisi optimal pola tanam I menunjukkan luas lahan komoditas kacang panjang bernilai 0, hal ini ditunjukkan pada hasil analisis optimasi nilai reduced cost untuk variabel luas lahan komoditas kacang panjang adalah 16. 038 artinya setiap peningkatan 1 Ha luas lahan komoditas kacang panjang akan mengurangi pendapatan sebesar Rp. per Ha. Dengan demikian, apabila petani tetap mengusahakan lahan kacang panjang seluas 0,01 Ha . , maka akan mengurangi pendapatan sebesar Rp. Berdasarkan hasil optimasi tersebut menunjukkan bahwa usahatani kacang panjang tidak optimal untuk diusahakan serta jika dilihat dari kondisi aktual sebelum dilakukan optimasi pendapatan yang diperoleh petani pada komoditas kacang panjang sangat rendah jika dibandingkan dengan dua komoditas lainnya yaitu sebesar Rp. Modal Optimal Modal optimal merupakan modal yang digunakan setelah dilakukan analisis optimasi atau penggunaan modal saat menerapkan solusi optimal untuk mecapai pendapatan maksimum. Berdasarkan hasil analisis optimasi menunjukkan bahwa diantara jenis pola tanam I. II dan i, pola tanam dengan penggunaan modal optimal terbesar berada pada usahatani pola tanam I yaitu JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Tri Sepbriani - Optimalisasi Usahatani Sayuran . sebesar Rp. 715 dan menyisihkan modal sebesar Rp. 531 dari ketersediaan modal yang dimiliki. Diikuti dengan penggunaan modal optimal pola i sebesar Rp. 803 dengan modal yang tersisa sebesar Rp. 847 dari modal aktual. Sedangkan pada pola II sebagai penggunaan modal optimal terendah dibandingkan dua jenis pola tanam lainnya dengan menggunakan modal aktual secara keseluruhan yaitu sebesar Rp. Setelah melakukan perhitungan optimasi, dari penggunaan modal setiap jenis pola tanam masih meninggalkan sisa modal dari ketersediaan modal yang dimiliki petani sayuran. Hasil optimasi menunjukkan nilai shadow prices kendala modal pada pola tanam I dan i bernilai 0, yang artinya modal bukan menjadi faktor pembatas dalam usahatani sayuran. Sedangkan pada pola tanam II, modal digunakan seluruhnya dan dari hasil optimasi menunjukkan nilai shadow price 7,32 yang artinya apabila modal ditambah sebesar Rp. 1 maka akan meningkatkan pendapatan sebesar Rp. 7,32. Dengan demikian, setiap penambahan modal sebesar Rp. maka akan meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp. Tenaga Kerja Optimal Berdasarkan hasil analisis optimasi, penggunaan tenaga kerja pola tanam I di bulan Januari dan April digunakan seluruhnya atau tidak tersisa . dari ketersediaan tenaga kerja yang Artinya penggunaan tenaga kerja pada bulan Januari dan April menjadi faktor pembatas, dimana nilai shadow prices bulan Januari sebesar 165. 339 dan bulan April yaitu Artinya setiap penambahan satu orang tenaga kerja pada bulan Januari dan April akan meningkatkan pendapatan optimal masing-masing sebesar Rp. 338 dan Rp. Pada penggunaan tenaga kerja optimal pola tanam II di bulan Mei dan Juni menunjukkan nilai nol . karena pada kedua bulan tersebut tidak ada aktivitas usahatani yang dilakukan karena pada pola tanam II yang optimal, hanya satu jenis usahatani yang dilakukan petani yaitu usahatani komoditas mentimun. Waktu yang diperlukan dalam budidaya mentimun dari masa tanam hingga panen memakan waktu selama empat bulan. Maka dari itu, pada pola tanam II penggunaan tenaga kerja optimal pada bulan Mei dan Juni bernilai 0. Pada usahatani pola tanam i, menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja terbesar terjadi di bulan April. Hal ini dikarenakan pada bulan tersebut menjadi awal masa panen cabai merah sehingga petani turun ke lahan untuk melakukan kegiatan pemanenan cabai merah. Penggunaan tenaga kerja optimal dari bulan Januari-Juni masih meninggalkan nilai sisa yang artinya dari tenaga kerja yang tersedia tidak digunakan seluruhnya dalam kegiatan usahatani pola tanam i. Berdasarkan hasil analisis optimasi, nilai shadow prices untuk variabel tenaga kerja di setiap bulannya menunjukkan angka 0. Hal ini berarti bahwa penggunaan tenaga kerja bukan faktor pembatas dalam solusi optimal. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas adalah untuk mengetahui bagaimana perubahan variabel input dalam mempengaruhi variabel output yaitu pendapatan usahatani pada beberapa jenis pola tanam, sehingga dapat dilihat sejauh mana perubahan dapat dilakukan tanpa merubah hasil optimasi dan dapat digunakan sebagai alat perencanaan usahatani sayuran dengan kombinasi sayuran cabai merah, mentimun dan kacang panjang. Sensitivitas terhadap perubahan tingkat pendapatan per Ha Sensitivitas pendapatan cabai merah pola tanam I memiliki perubahan batas atas senilai Rp. 872 per Ha dan perubahan batas bawah sebesar Rp. 979 per Ha pada kondisi Artinya, apabila pendapatan komoditas cabai merah mengalami perubahan yang berada di luar batas atas dan batas bawah maka solusi optimal akan berubah. Untuk sensitivitas pendapatan komoditas mentimun memiliki perubahan batas atas yaitu Rp. 850 per Ha JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 674 - 680 dan batas bawah yaitu Rp. 428 per Ha, artinya apabila pendapatan komoditas mentimun mengalami perubahan yang berada di luar batas atas dan batas bawah maka solusi optimal akan Hal yang sama dapat diartikan dari komoditas lainnya pada pola tanam II dan i dimana sepanjang perubahan pendapatan berada dalam rentang batas atas dan batas bawah maka solusi optimal tidak berubah. Dapat disimpulkan bahwa selama terjadi perubahan yang dinaikkan atau diturunkan tidak melewati batas atas dan batas bawah maka tidak mempengaruhi solusi optimal. Adanya hasil optimasi yang menggunakan linear programming dapat menjadi bahan pertimbangan atau perencanaan petani untuk mengembangkan usahani cabai merah, mentimun dan kacang panjang di daerah penelitian. Sensitivitas terhadap perubahan tingkat faktor kendala Pada penggunaan luas lahan pola tanam I perubahan batas atas menunjukkan nilai AuTidak Terbatas/InfinityAy karena lahan optimal yang digunakan masih meninggalkan lahan yang tersisa sebanyak 0,04 Ha. Berdasarkan hasil optimasi menunjukkan variabel luas lahan pola tanam I nilai shadow prices-nya yaitu 0 artinya luas lahan tidak menjadi faktor pembatas untuk mencapai pendapatan optimal. Untuk mempertahankan shadow price tetap nol maka penurunan kendala ini harus sampai batas bawah nilai positifnya yaitu 0,04 Ha jika penurunan luas lahan diluar batas ambang bawah maka nilai shadow price akan berubah dan mempengaruhi solusi optimal sehingga diperlukan reoptimasi model. Analisis sensitivitas pada nilai RHS kendala modal pola I memiliki perubahan batas atas yaitu AuTidak TerbatasAy dan perubahan batas bawah yaitu Rp. Arti nilai AuTidak TerbatasAy pada perubahan atas kendala modal pola tanam I yaitu solusi optimal tidak akan berubah apabila terjadi penambahan modal sebab berdasarkan hasil optimasi, modal yang optimal digunakan masih menyisakan modal yang tersedia. Kemudian, penurunan modal yang boleh dilakukan hanya sampai pada Rp. 531, apabila penggunaan modal kurang dari nilai tersebut maka solusi optimal akan berubah. Artinya petani tidak dapat menerapkan solusi optimal yang telah diperoleh dan perlu perhitungan kembali dengan melakukan re-optimasi Untuk sensitivitas penggunaan tenaga kerja pola I pada bulan Januari memiliki perubahan batas atas yang diizinkan yaitu 1,86 dan batas bawah 10,21 yang artinya pada bulan Januari penambahan tenaga kerja hanya boleh ditambah tidak lebih dari 2 HOK, apabila penambahan tenaga kerja lebih dari nilai tersebut maka akan mempengaruhi solusi optimal. Sedangkan untuk pengurangan penggunaan tenaga kerja yang boleh dilakukan yaitu sampai batas 10 HOK, apabila pengurangan tenaga kerja dilakukan dibawah 10 HOK yang artinya diluar batas yang diizinkan maka akan mempengaruhi solusi optimal. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Usahatani sayuran di daerah penelitian terdapat 3 jenis pola tanam yaitu pola tanam I. II dan i dengan jenis sayuran yaitu tanaman mentimun, cabai merah dan kacang panjang. Adapun tiga jenis pola tanam tersebut dibagi berdasarkan jenis usahatani yang dilakukan yaitu pola tanam I . abai merah-mentimun-kacang panjan. dengan rata-rata luas lahan sebesar 0,25 Ha, pola tanam II . entimun-kacang panjan. dengan rata-rata luas lahan yaitu 0,11 Ha dan pola tanam i . abai merah-kacang panjan. dengan rata-rata luas lahan sebesar 0,09 Ha. Penggunaan luas lahan optimal untuk masing-masing pola tanam usahatani sayuran di daerah penelitian yaitu pola tanam I dengan luas tanaman cabai merah seluas 0,15 Ha dan mentimun seluas 0,06 Ha. Pola tanam II dengan luas lahan mentimun seluas 0,11 Ha. Kemudian, pada pola JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Tri Sepbriani - Optimalisasi Usahatani Sayuran . tanam i dengan usahatani cabai merah secara monokultur seluas 0,09 Ha. Komoditas kacang panjang tidak optimal untuk diusahakan karena akan mengurangi pendapatan maksimum serta dari kondisi aktual komoditas kacang panjang memberikan pendapatan dan hasil produksi yang rendah dengan penggunaan tenaga kerja yang besar diantara dua jenis sayuran lainnya. Pendapatan maksimum yang dapat diperoleh petani sayur dengan menerapkan pola optimal yaitu pada pola tanam I sebesar Rp. 490/MT, pola tanam II Rp. 728/MT dan pola tanam i sebesar Rp. 197/MT. Saran Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan, untuk mencapai pendapatan maksimum maka petani sayuran di daerah Kumpeh Ulu dapat menerapkan pola tanam I . abai merah-mentimu. dengan penggunaan lahan optimal masingmasing sebesar 0,15 Ha dan 0,06 Ha dibandingkan dengan dua jenis pola tanam yang ada. Selain memperoleh pendapatan maksimal, penerapan pola tanam ini dapat membantu mengefisiensikan ketersediaan sumber daya yang dimiliki petani sayuran DAFTAR PUSTAKA