e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 5. No 1. April 2024 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah Agama Kehilangan Tuhan: Sebuah Telaah Kritis AuKematian TuhanAy Dari Friedrich Nietzsche dan Pembacaannya di Indonesia A Risno Tampilang A Institut Agama Kristen Negeri Manado A Correspondence: risnotampilang99@gmail. Abstract: This research explores the challenges faced by Indonesia, a country known for its religious, cultural, ethnic, and racial diversity, in facing various social, political, economic, conflicts and SARA. The main focus of the study is the crisis in the religious system involving human rights violations and violations of freedom of belief. This research uses qualitative methods with a descriptive approach to analyze. The results showed that the Indonesian state is facing a significant crisis related to religion, caused by political factors and stereotypes between religious groups. However, the study also notes that law enforcement and government efforts to maintain the principle of a unitary state have reduced the potential for conflict. The majority-minority concept is still a source of conflict, and the principle of Bhineka Tunggal Ika needs to be better distributed. The study also notes the relationship between the situation in Indonesia and Nietzsche's thoughts on the "Death of God," which raises questions about the existence and role of religion in Keywords: Nietzsche. Religion. Lord. Nihilism. Abstraksi: Penelitian ini mengeksplorasi tantangan yang dihadapi oleh Indonesia, sebuah negara yang dikenal dengan keragaman agama, budaya, suku, dan ras, dalam menghadapi berbagai masalah sosial, politik, ekonomi, dan konflik SARA. Fokus utama penelitian adalah krisis dalam sistem keagamaan yang melibatkan pelanggaran HAM dan pelanggaran kebebasan berkeyakinan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menganalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara Indonesia menghadapi krisis yang signifikan terkait dengan agama, yang disebabkan oleh faktor politik dan stereotipe antar kelompok beragama. Namun, penelitian ini juga mencatat bahwa upaya penegak hukum dan pemerintah untuk mempertahankan prinsip negara kesatuan telah mengurangi potensi konflik. Konsep mayoritas-minoritas masih menjadi sumber konflik, dan prinsip Bhineka Tunggal Ika perlu didistribusikan dengan lebih baik. Penelitian ini juga mencatat hubungan antara situasi di Indonesia dan pemikiran Nietzsche tentang "Kematian Tuhan," yang memunculkan pertanyaan tentang eksistensi dan peran agama dalam masyarakat. Kata Kunci: Nietzsche. Agama. Tuhan. Nihilisme PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang plural yang memiliki keragaman yang estetik. mana terdapat banyak agama, ras, suku, budaya dll. Ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Oleh karena kemajemukan ini, maka segala permasalahan yang muncul tidak bisa dihindari. Permasalahan-permasalahan sosial, politik, ekonomi dan SARA masih terusik di dalam negeri ini. Melalui pembacaan situasi saat ini, negara Indonesia sedang mengalami krisis terhadap sistim keagamaan. Banyak masalah ketidakadilan bagi pemeluk kepercayaan tertentu yang justru mengalami invasi di negerinya sendiri, ini tentunya menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga negara. Menurut Petrus Riski di mana angka pelanggaran HAM yang berhubungan dengan CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 50 kepercayaan . masih tinggi, dalam sepuluh tahun terakhir bahkan berada di atas 100 kasus. Selaras dengan itu juga yang diungkapkan oleh Joeni A. Kurniawan, ia mengatakan bahwa ada 180 peristiwa dan 424 pelanggaran kebebasan berkeyakinan di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2022. Masalah atau konflik agama yang terjadi di Indonesia terjadi karena faktor politik. Penulis melihat situasi yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia adalah krisis yang sangat esensial. Firdaus M. Yunus mengunkap bahwa adanya stereotype kelompok tertentu kepada kelompok lain yang berbeda keyakinan biasanya justru menjadi pemicu timbulnya konflik antarumat beragama, sehingga muncullah saling menyerang, membunuh, membakar rumah-rumah ibadah dan pelarangan mendirikan tempat ibadah agama tertentu. Negara harus mencari solusi dan langkah tegas atas permasalahan tersebut, sebab pembacaan negara atas persoalan yang muncul justru cenderung minim dan kadang juga justru menimbulkan masalah baru. Konflik wilayah yang terjadi di Indonesia adalah hasil dari penumpukan ketidakstabilan dalam persatuan dan kesatuan masyarakat yang beragam budaya di berbagai wilayah, disertai dengan campur tangan kelompok-kelompok tertentu di dalam negeri dan asing yang memiliki agenda konspiratif. Agenda tersebut didorong oleh motif politik, ekonomi, dan agama. Namun, usaha tersebut tidak mencapai tingkat tertinggi karena mayoritas elit, penegak hukum, dan birokrasi tetap setia pada prinsip negara kesatuan, yang secara signifikan mengurangi potensi konflik dan dampak negatif yang mungkin timbul. 2 Bahkan konsep mayoritas-minoritas di negara Indonesia masih saja digunakan sebagai bentuk pemisahan yang besar dan yang kecil, ini juga menurut penulis adalah akar permasalahan. Seperti yang diungkapkan oleh Mychael Dimas Antameng bahwa bangsa Indonesia memiliki semua keindahan dalam hukum dan peraturan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi tampaknya belum berhasil mewujudkannya Salah satu contohnya adalah ketegangan antara agama mayoritas dan agama minoritas yang muncul akibat penyalahgunaan label agama. Prinsip Ke-Bhineka-an Indonesia masih belum terdistribusi dengan baik, permasalah internal bernuansa agama masih sangat kental. Merosotnya kehidupan moderasi adalah karena bangsa Indonesia kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang memiliki semboyan AuBhineka Tunggal Ika,Ay kesatuan bangsa Indonesia mengalami Penulis tertarik dengan topik mengenai agama, karena ini masih sangat relevan dengan keadaan Indonesia saat ini, melalui pembacaan penulis, fenomena ini erat hubungannya dengan pembacaan Nietzsche di Eropa, di mana ia mengeluarkan pernyataan terkenal mengenai AuKematian Tuhan. Ay Pernyataan kontroversial ini menimbulkan tanggapan pro dan kontra di kehidupan umat beragama. Ungkapan popular pada zaman Nietzsche adalah AuKematian Tuhan Ae gott ist totAy yang ia konstruksi sendiri menurut konteks yang ia hadapi pada saat itu. Ia menjadi sosok yang kontroversial, di mana juga pembacaan terhadap Nietzsche di era sekarang ini sangat tajam dan menimbulkan gaya berpikir pemberontakan, baik terhadap Tuhan sampai pada realitas serta nilai-nilai yang mungkin dianggap sebagai nilai-nilai yang universal-absolut. Pada dasarnya pikiran Nietzsche memang seperti itu, ia menentang nilai-nilai yang dianggap universal-absolut. Nietzsche tidak hanya berhenti di situ, ia juga meruntuhkan keyakinan pada Tuhan-Tuhan lain karena kematian satu Tuhan tidak mengakibatkan manusia meninggalkan Tuhan lainnya. Tuhan-Tuhan yang dimaksud adalah keyakinan pada eksistensi nilai-nilai pengetahuan yang bersifat universal seperti dalam agama. Dalam Firdaus M. Yunus, "Konflik Agama di Indonesia Problem dan Solusi Pencegahannya," Jurnal Substantia 16, no. : 217-228. 2 Suheri Harahap. AuKonflik etnis dan agama di Indonesia,Ay Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) 1, no. 2, . : 1-19. 3 Mychael D. Antameng. AuDeradikalisasi Konflik Agama Mayoritas (Isla. -Minoritas (Kriste. Di Indonesia,Ay Psalmoz: A Journal of Creative and Study of Church Music 2, no. 1, . : 7988. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 51 pandangan Nietzsche, keyakinan pada nilai-nilai apapun yang memberikan kepastian mutlak dianggap sebagai Tuhan, yang akhirnya mengakibatkan kematian manusia. Sesuai dengan apa yang telah disinggung di atas dan di uraikan, maka sebagai penulis tentunya perlu untuk menetapkan suatu metode penelitian. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan jenis fenomenologi. Fenomenologi, seperti yang disiratkan oleh namanya, merupakan studi mengenai apa yang dapat kita amati . Oleh karena itu, setiap penelitian atau karya yang berfokus pada cara sesuatu tampak menjadi subjek fenomenologi. Dalam konteks ini, fenomenologi mewakili suatu pendekatan filosofis yang menekankan analisis tentang gejala-gejala yang memenuhi kesadaran manusia. Fenomenologi adalah pemeriksaan pengetahuan yang timbul dari kesadaran, atau metode pemahaman suatu objek atau peristiwa melalui pengalaman sadar. Namun. Brouwer berpendapat bahwa fenomenologi bukanlah suatu ilmu, melainkan metode berpikir. Dalam fenomenologi, tidak terdapat teori, hipotesis, atau kerangka kerja semua yang ada adalah deskripsi. Kiranya dengan tulisan ini, para pembaca mendapat pamahaman baru mengenai eksistensi diri di dalam kehidupan, sebagai manusia yang sadar akan keberadaannya sebagai makhluk yang religious. Pembacaan penulis mengenai fenomena yang terjadi dengan perspektif Nietzsche adalah bahwa agama sedang kehilangan Tuhan. Tuhan sedang dimusnahkan oleh manusia dan manusia membuat Tuhan yang ia ciptakan sendiri. Tentunya perlu nalar yang kritis untuk menelaah apa yang dimaksud dengan AuKematian TuhanAy oleh Nietzsche dan AuAgama Kehilangan TuhanAy oleh penulis, sehingga konsep ini dapat di mengerti dalam pembacaan konteks Indonesia saat ini. METODE PENELITIAN Kajian ini menggunakan pendekatan dasar yang bersifat kualitatif dengan melihat berbagai fenomena dan teori-teori yang ada untuk merumuskan suatu model dari permasalahan yang diangkat. 6 Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan teknik studi literatur. Literatur-literatur yang berkaitan dengan tema dan rumusan masalah dikumpulkan untuk kemudian dirumuskan suatu model yang tepat dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul. Dalam analisis data penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif, yaitu bentuk penjelasan-penjelasan yang sistematis dalam membahas setiap masalah. Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengumpulan data untuk memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan status subyek penelitian pada saat ini. PEMBAHASAN Nietzsche: Konsep Tuhan dan Ubermencsh Plato menggunakan metafora AuGoaAy dalam menggambarkan penjara jiwa, karena orang yang ada di dalamnya menganggap AogilaAo orang yang membawa kabar sesungguhnya mengenai kemnyataan sebab ia bisa keluar dari sebuah jebakan Goa, dalam pandangan Nietzsche justru berkebalikan, ia menganggap manusia terkungkung dalam berbagai nilai yang universal-absolut dalam agama. Sekarang, semua nilai sedang mengalami krisis. Semakin cepat krisis terjadi ketika Nietzsche melakukan pertentangan terhadap nilai-nilai universal-absolut, di sisi itu ia memberikan pencerahan kepada Nurul Anam. AuDekonstruksi God-Consciousness Tuhan New Nietzsche Di Abad PostTuhan (Abad Kematian Massal Tuha. ,Ay Al-AoAdylah 14, no. 1, . : 47-60. 5 Arief Nuryana. Puwita & Prahastiwi Utari. AuPengantar Metode Penelitian Kepada Suatu Pengertian yang Mendalam Mengenai Konsep Fenomenologi,Ay ENSAINS 2, no. : 20 Stevri Indra Lumintang dan Danik Astuti Lumintang. Theologia Penelitian Dan Penelitian Theologis Science-Ascience Serta Metodologinya (Jakarta: Geneva Insani Indonesia, 2. Sumanto. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan (Yogyakarta: ANDI OFFSET, 1. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 52 manusia. 8 Akhirnya, krisis ini sampai pada nihilism, di mana semua nilai yang diyakini sebagai universal-absolut mengalami keruntuhan. Era dewasa ini, manusia yang biasa berpengang pada agama mulai kehilangan pedoman sebab semua nilai universal-absolut agama yang memberikan landasan dan kepastian hidup berada dalam ruang keruntuhan. Keruntuhan tersebut oleh Nietzsche adalah AuKematian TuhanAy. 9 Terhadap pandangan Niezsche ini kemudian dianggap bahwa Tuhan dan manusia tidak dapat bertumbuh atau hidup seatap. Menimbulkan sistim paradoks, ketika Tuhan hidup manusia mati, dan ketika manusia hidup, maka Tuhan harus mati. Nietzsche mengakui bahwa pergeseran ini dapat menyebabkan penderitaan dan kebingungan, karena manusia tidak lagi memiliki kerangka nilai yang kuat dari agama. Namun, dalam penderitaan dan kekecewaan ini. Nietzsche melihat potensi untuk pertumbuhan dan pengembangan pribadi. Ide ini mencerminkan konsep yubermensch (Superman atau Overma. , yang merupakan salah satu konsep utama Nietzsche. yubermensch adalah individu yang mampu menciptakan makna dalam dunia tanpa bergantung pada nilai-nilai agama tradisional. Menurut Nietzsche, agama adalah hasil kreasi manusia yang timbul dari kekaguman terhadap keindahan dan kemuliaan dunia, serta mengangkat cinta sebagai kekuatan yang mendasarinya. Tanda-tanda kekaguman ini diekspresikan melalui tindakan penyembahan terhadap entitas tertentu, yang pada gilirannya membuat penyembahnya merasa kurang dan tidak berharga. Dalam konteks ini. Nietzsche mengungkapkan bahwa agama melibatkan perubahan dalam perasaan, mulai dari ketakutan pada diri sendiri hingga pengalaman kebahagiaan dan kedekatan yang luar Ini adalah gejala perasaan yang berubah-ubah antara kesakitan dan kesehatan, dan menjadi sumber inspirasi yang kuat untuk percaya kepada Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Meskipun ini dapat menimbulkan penderitaan, merasa kecewa dalam menemukan makna hidup, dan memberikan alas an untuk tidak bertindak sesuai dengan kehendak bebas, dalam keadaan berulang-ulang, dunia tidak hanya harus diterima dengan sungguhsungguh, melainkan memiliki potensi untuk memberikan nilai yang signifikan kepada individu, mungkin menjadikan mereka lebih unggul dari yang lain (Ubermensc. Ketika Nietzsche mengungkapkan mengenai AuKematian Tuhan,Ay secara implisit bukan Tuhan dalam pengertian entitas antropomorfik, namun itu adalah tendensi manusia untuk menemukan segala entitas layaknya seperti mereka. 11 Nietzsche mengindikasikan bahwa ketika dia berbicara tentang "Tuhan," dia tidak melihatnya sebagai entitas antropomorfik, yaitu Tuhan dalam bentuk manusia atau dengan atribut manusiawi. Sebaliknya, dia mungkin melihatnya sebagai representasi dari cara manusia mendekati pemahaman tentang realitas atau entitas transcendent dalam agama. Nietzsche: Kematian Tuhan Gerakan yang dimulai oleh Nietzsche membawa pemikiran yang baru dalam dunia filsafat modern kepada filsafat post-modern. Perbincangan mengenai pikirannya menjadi kontroversi dan hangat serta relevan dengan pembacaan situasi dewasa ini. Salah satu sudut pandang Nietzsche yang mengubah cara pandang pemikir filsafat adalah mengenai konsep Tuhan telah mati. Konsep ini adalah gagasan baru yang mendobrak konsep lama, yang didominasi oleh cara berpikir agamawan. Kebanyakan ahli menyebut Nietzsche sebagai pemikir nihilisme. Perbaikan dapat dilakukan ketika kehancuran total harus diperlukan, menurut pandangan Nietzsche. Nietzsche berpandangan bahwa Marcel Neusch dan Vincen P. Miceli, 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, (Yogyakarta: Pantha Rhei Books, 2. : 134. 9 Frans Magnis-Suseno, 13 Tokoh Filsafat: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad Ke-19, (Yogyakarta: Kanisius, 1. : 198. 10 Mohammad Muslih. AuKonsep Tuhan Nietzsche dan Pengaruhnya terhadap Pemikiran Liberal,Ay Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam 16, no. 2, . : 135-158 11 Mike Dacey. AuAnthropomorphism as Cognitive Bias,Ay Philosophy of Science 84. No. 5, . CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 53 kebenaran yang bersifat jamak, hanya dapat disampaikan melalui sastra, ini mengartikan bahwa penafsiran akan suatu kebenaran akan selalu jamak tidak pernah tunggal. Pemikiran Nietzsche tentang konsep AuKematian TuhanAy terdapat dalam karyanya yang terkenal, yaitu buku yang berjudul The Gay Science . Ae The Madma. , dalam kisahnya, seorang gila datang ke tengah kerumunan dan berteriak-teriak mengenai kematian Tuhan: AuHave you ever heard of the madman who on a bright morning lighted a lantern and ran to the market-place calling out unceasingly: "I seek God! I seek God!" As there were many people standing about who did not believe in God, he caused a great deal of amusement. Why? is he lost? said one. Has he strayed away like a child? said another. Or does he keep himself hidden? Is he afraid of us? Has he taken a sea voyage? Has he emigrated? - the people cried out laughingly, all in a The insane man jumped into their midst and transfixed them with his "Where is God gone?" he called out. "I mean to tell you! We have killed him, you and I! We are all his murderers! But how have we done it? How were we able to drink up the sea? Who gave us the sponge to wipe away the whole horizon? What did we do when we loosened this earth from its sun? Whither does it now move? Whither do we move? Away from all suns? Do we not dash on unceasingly? Backwards, sideways, forwards, in all directions? Is there still an above and below? Do we not stray, as through infinite nothingness? Does not empty space breathe upon us? Has it not become colder? Does not night come on continually, darker and darker? Shall we not have to light lanterns in the morning? Do we not hear the noise of the grave-diggers who are burying God? Do we not smell the divine putrefaction? - for even Gods putrefy! God is dead! God remains dead! And we have killed him!13. Ay AuPernahkah Anda mendengar tentang orang gila yang pada suatu pagi yang cerah menyalakan lentera dan berlari ke pasar sambil berseru tanpa henti: "Saya mencari Tuhan! Saya mencari Tuhan!" Karena ada banyak orang berdiri di sana yang tidak percaya kepada Tuhan, dia menimbulkan banyak hiburan. Mengapa? apakah dia tersesat? kata seorang. Apakah dia tersesat seperti anak kecil? kata yang lain. Atau apakah dia menyembunyikan dirinya? Apakah dia takut pada kita? Apakah dia melakukan perjalanan laut? Apakah dia sudah beremigrasi? orangorang berteriak sambil tertawa, semuanya dalam keriuhan. Pria gila itu melompat ke tengah-tengah mereka dan membuat mereka terpaku dengan AuKemana perginya Tuhan?Ay dia memanggil. "Aku ingin memberitahumu! Kami telah membunuhnya, kamu dan aku! Kita semua adalah pembunuhnya! Tapi bagaimana kita melakukannya? Bagaimana kita bisa meminum air laut? Siapa yang memberi kita spons untuk menghapus seluruh cakrawala?" ? Apa yang kita lakukan ketika kita melepaskan bumi ini dari mataharinya? Ke mana ia sekarang bergerak? Ke mana kita pindah? Menjauh dari semua matahari? Bukankah kita terus berlari tanpa henti? Mundur, ke samping, ke depan, ke segala arah? Apakah masih ada yang di atas dan di bawah? Bukankah kita tersesat, seperti melalui ketiadaan yang tak terhingga? Bukankah ruang kosong menghembus kita? Bukankah cuacanya menjadi lebih dingin? Bukankah malam datang terus menerus, semakin gelap? Bukankah kita harus menyalakan lentera di pagi hari? Tidakkah kita mendengar suara para penggali kubur yang sedang menguburkan Tuhan? Tidakkah kita mencium pembusukan ilahi? Ae bahkan dewa membusuk! Tuhan sudah mati! Tuhan tetap mati! Dan kami telah membunuhnya!. Ay Nietzsche ingin menyoroti bahwa kematian Tuhan membawa potensi munculnya nihilisme, yaitu pemikiran bahwa kehidupan kehilangan makna dan nilai. Dengan menggambarkan kebingungan dan ketidakpastian "The Madman," Nietzsche ingin mengingatkan bahwa manusia harus berjuang untuk menemukan nilai dan makna baru "TUHAN SUDAH MATI: Sebuah Telaah Pemikiran Nietzsche Mengenai Eksistensi Tuhan" Nietzsche. The Gay Science, (Friedrich Nietzsche, 1. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 54 setelah kehilangan fondasi agama tradisional. Kenyataan akan keberadaan Tuhan ditinggalkan dan dibuang dari kehidupan Nietzsche, tidak mau menerima akan keberadaan yang memunculkan suatu problem ketidakadilan dalam kehidupan manusia. Secara hakiki, pasti keberadaan Tuhan ada kaitannya dengan eksistensi penderitaan dan kebahagiaan setelah kematian, yaitu Surga dan Neraka. Will Durant mengatakan surga dan neraka adalah tempat baginya bukan di dunia lain melainkan keadaan psikologis pikiran manusia di dunia ini yang membedakan baik dan buruk. Dia sangat dipengaruhi oleh agama Kristen di masa dewasanya. Ia mengatakan jika ia mendapatkan kehidupan baru dengan pikiran dan kecerdasan yang sama, ia tidak akan menulis filsafat atau sejarah namun akan mencoba membangun masyarakat yang bebas dari pengaruh teologis. Ia berpendapat bahwa deklarasi 'Tuhan Telah Mati' oleh Nietzsche pada tahun 1883 merupakan peristiwa besar yang terjadi dalam sejarah. beranggapan bahwa akan ada saatnya orang akan mempelajari sejarah sebagai 'sejarah sebelum Nietzsche dan sejarah setelah Nietzsche'. Durant juga skeptis terhadap 'kejahatan' yang disebabkan oleh kemiskinan dan perpindahan tenaga kerja ke mesin, namun ia yakin bahwa kejahatan meningkat karena 'hilangnya neraka dan kematian Tuhan'. Artinya, dia yakin dengan fakta bahwa agama melarang orang melakukan kejahatan. 14 Durant menganggap pernyataan Friedrich Nietzsche bahwa "Tuhan Telah Mati" sebagai peristiwa penting dalam sejarah. Ini menunjukkan pandangannya bahwa agama telah kehilangan pengaruhnya atas pemikiran manusia, dan itu memiliki implikasi besar dalam perkembangan budaya dan pemikiran manusia. Keagamaan dan pengetahuan telah menjadi pegangan dan jaminan bagi manusia dalam menghadapi realitas hidup yang penuh dengan ketidakpastian secara eksistensial. Dalam konteks ini. Nietzsche mengkritik struktur kebenaran yang telah dianggap mutlak. Melalui kritik ini, manusia terdorong untuk kembali menyadari dan menerima ketidakpastian sebagai bagian fundamental dari eksistensinya. Tidak ada lagi jaminan yang pasti untuk manusia dalam menghadapi perjalanan hidupnya. Situasi penuh ketidakpastian inilah yang Nietzsche prediksi sebagai bahaya terbesar, yaitu nihilisme. Kritik terhadap struktur nilai baru ini mendorong Nietzsche untuk mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa "Tuhan sudah mati. Tuhan terus mati! Kita telah membunuhnya!" 15 Dengan kematian Tuhan, manusia seolah-olah hidup dalam ketidakpastian dan tanpa arah. Hal ini mengindikasikan bahwa peran Tuhan sangat penting dalam sejarah manusia sebelum Nietzsche. Manusia merasakan hidup dan makna kehidupan mereka ditentukan oleh Tuhan sebagai sumber jaminan yang mutlak. Ketika Nietzsche menyatakan bahwa Tuhan telah mati, manusia mencoba dengan gigih menciptakan alternatif agar Tuhan tetap ada. Namun, segala upaya ini sia-sia dan proses kematian Tuhan tak terhindarkan. Apakah Fenomena Konflik Antaragama karena Agama Kehilangan Tuhan? Agama yang kehilangan Tuhan terkait dengan sekularisasi, di mana masyarakat modern cenderung menjadi lebih sekuler dan kurang bergantung pada agama sebagai panduan utama dalam kehidupan mereka. Agama tidak lagi memainkan peran sentral dalam banyak aspek kehidupan sosial, budaya, dan politik. Secara objektif, agama-agama tidak hanya memiliki potensi untuk mengakibatkan masalah . , tetapi juga dapat berfungsi sebagai perekat . dalam masyarakat. Ini bisa diibaratkan sebagai agama yang memiliki sifat ganda, seperti "dewa Janus" dalam mitologi Yunani, yang memiliki dua wajah: yang baik dan yang buruk. Dengan kata lain, selain menjaga persatuan sosial, agama juga dapat memicu perpecahan di antara umat manusia. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika individu yang beragama sering cenderung mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari kelompok . n-grou. tertentu dan merasa Will Durant. The story of philosophy: the lives and opinions of the great philosophers of the Western world, (Simon & Schuster Paperbacks, 1. ST. Sunardi. Nietzsche, (Yogyakarta: LkiS, 2. : 22 CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 55 berbeda dengan yang lain . ut-grou. dalam konteks interaksi sosial. 16 Secara umum, penting untuk diingat bahwa agama, termasuk agama lokal atau pribumi, selalu memiliki peran yang sangat kuat dalam mempersatukan individu. Kekuatan agama dapat memotivasi penganutnya untuk melakukan tindakan yang tidak rasional atau bahkan menyakiti diri mereka sendiri, atau berkontribusi pada aspek fungsional lain yang menguntungkan mereka. Contoh yang sering terjadi adalah penggunaan agama sebagai komoditas politik oleh organisasi atau partai yang berbasis agama, terutama dalam beberapa negara seperti Indonesia. Ini adalah bukti bahwa peran agama dalam politik masih sangat signifikan, bahkan dalam upaya untuk mengesampingkan agama lain, simbol-simbol keagamaan sering digunakan untuk tujuan politik. Melalui pembacaan situasi saat ini dan juga merupakan representasi dari sejarah manusia sebagai makhluk beragama . uman being atau homo religiou. , ketika agama dihadirkan dan masuk ke dalam komunitas manusia, yang dulunya agama hadir untuk menghancurkan berhala namun situasi sekarang justru agama menjadi berhala yang tak mengenal Tuhannya, yang terpenting agamanya. Dulunya agama menjadi sebab manusia harus berhenti dan berdamai agar tidak membunuh, terbaca bahwa sejak era modern sampai post-modern justru orang saling membunuh karena agama. Setiap agama bahkan mengajarkan cinta kasih sebagai perwujudan humanisme namun keadaan berubah ketika justru setiap orang saling membenci karena agama. Penulis berkeyakinan bahwa sejak dulu ajaran dalam agama tidak berubah dan bahkan Tuhan yang disembah tidak berubah . , yang berubah adalah manusianya. Contoh dalam sejarah yang paling kongkrit adalah peperangan yang terjadi selama berabad-abad yang berlatar belakang karena agama, yaitu perang salib. Sejarah kehidupan manusia selalu dipenuhi oleh konflik, dari konflik antarsuku hingga konflik berbasis agama. Beberapa di antaranya berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, seperti konflik antara Islam dan Kristen yang dikenal sebagai Perang Salib. Perang Salib merupakan konflik paling besar dalam sejarah umat Islam dan Kristen. Rasa benci antara pengikut kedua agama ini sering kali berakar pada peristiwa sejarah masa lalu. Meskipun ada perbedaan potensial dari sisi lain sebelumnya, pengaruh Perang Salib yang dimulai oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095, dengan pengiriman pasukan besar-besaran untuk mendirikan Kerajaan Latin di Tanah Suci dan upaya penghancuran terhadap kaum Muslim sebagai kekuatan politik dan militer, telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ketegangan antara umat Islam dan Kristen yang berlanjut hingga saat ini. Di Indonesia juga beberapa kali pernah terjadi saling menindas antarumat beragama karena isu-isu agama itu sendiri. Agama kehilangan poros, agama tidak lagi sentral, agama dijadikan modus dalam mencapai politik tertentu, agama dijadikan sebagai daya untuk memperdaya yang lemah, agama dijadikan monumen utama ekonomi agar memperoleh kekuasaan. Situasi tersebut tentunya menimbulkan skeptis dalam benak manusia terhadap agama. Benarlah bahwa, manusia dewasa ini dalam beragama justru kehilangan Tuhannya. Tuhan dalam agama itu tidak lagi ada, justru menjadi Tuhan adalah agama itu sendiri. Eksistensi agama sebagai yang menengahi atau memoderasi konflik telah menjadi usang dan rapuh. Pembacaan di Indonesia AuKematian TuhanAy dalam pikiran Nietzsche Telah diuraikan sebelumnya mengenai metafora Kematian Tuhan atau Tuhan Telah Mati, yang mengarah pada pemikiran yang nihil. Pembacaan tersebut di Indonesia tidaklah mendapat tempat yang sentral, di Indonesia pembacaan atas pikiran Nietzsche Wibisono. Keberagaman Masyarakat Pesisir: Studi Perilaku Keberagaman Masyarakat Pesisir Patimbun Kecamatan Pusakanegara Kabupaten Subang Jawa Barat, (UIN Sunan Gunung Djati, 2. 17 M. Yusuf Wibisono. AuDefinisi Agama Di Indonesia: Sebuah Dilema Agama Pribumi,Ay dalam Yusuf Wibisono. Dody S. Truna & Mochamad Ziaulhaq. Modul Sosialisasi Toleransi Agama, (UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2. : 70 18 Martha E. Driscoll. AuMenyambut dan Meneruskan Kedatangan Allah di DuniaAy, dalam Basis No. Tahun ke-51. Mei-Juni . : 26-27. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 56 adalah mengenai AoKuasaAo di mana ini dihubungkan dengan sistem pemerintahan di Indonesia. Secara umum, dapat dinyatakan bahwa kehidupan beragama dalam masyarakat modern pada beberapa dekade terakhir memiliki karakteristik yang unik. Melihat intensitas dan vitalitas kehidupan beragama saat ini, nampaknya pernyataan-pernyataan yang dulu diungkapkan oleh para cendekiawan Barat seperti Auguste Comte. Sigmund Freud, dan Friedrich Nietzsche, yang meramalkan penurunan peran agama dalam kehidupan masyarakat, belum terbukti benar. Bahkan. Naisbitt dan Aburdene mengantisipasi masa depan yang menandai kebangkitan spiritualisme atau revolusi spiritual. Kebangkitan spiritualisme ini dapat mengambil berbagai bentuk, salah satunya adalah kemunculan kembali peran agama dalam masyarakat. Politik dan pemerintahan di negara ini, selama bertahun-tahun, pembicaraan telah berpusat pada kepemimpinan yang otoriter dan tidak berpihak pada rakyat kecil. Baik pemimpin di tingkat tertinggi maupun tingkat terendah cenderung menerapkan pola berpikir dan perilaku seperti itu. Dominasi kekuasaan ini terlihat dalam berbagai aspek pemikiran dan tindakan manusia. Tidak mengherankan bahwa banyak orang hidup dalam kondisi yang penuh dengan ketakutan dan ketidaknyamanan. Pola pikir dan perilaku semacam ini kemudian merembes ke dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ranah sosial-politik, ekonomi, pendidikan, agama, budaya, dan sejenisnya. Tindakan penyelewengan uang negara melalui korupsi dan pencurian menjadi masalah yang meluas hampir di semua sektor kehidupan dan dianggap sebagai epidemi yang sulit untuk diatasi. Penipuan dan kebohongan menjadi semakin umum ketika moral dan etika bangsa ini mengalami penurunan yang signifikan. Pengabdian dan pelayanan kepada publik menjadi terhambat dan hanya terdengar sebagai kata-kata kosong yang diucapkan oleh pejabat dalam pidato atau melalui media massa. Infrastruktur umum menjadi rusak karena kurangnya dana yang telah disalahgunakan oleh para pemimpin, yang seharusnya menjadi Kreativitas berkurang, hati nurani menjadi tumpul, dan semangat untuk berbakti Masih ada banyak masalah yang disebabkan oleh penyalahgunaan kekuasaan dan penindasan yang sistematis. Situasi di Indonesia yang adalah negara pluralitas, di mana situasi perang politik agama sering menjadi topik, krisis kehidupan sering terjadi sebagai akibat egoisme Seperti yang diungkapkan oleh Yunus terjadinya konflik disebabkan oleh masalah agama, sosio-ekonomi dan politik kelompok tertentu di dalam agama. Kelihatannya agama diperalat dan Tuhan dihinakan oleh kesombongan kolektif manusia. Sikap yang militan muncul sebagai dampak dari pandangan materialisme dan sekularisme yang mengklaim bahwa Tuhan tidak ada, tidak hadir, dan tidak diperlukan. Pandangan rasionalisme menjauhkan agama dari pusat kehidupan dengan menganggapnya sebagai tindakan yang naif, tak berdasar, dan khayalan belaka. Dalam pandangan ini, apa yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran manusia dianggap tidak ada. Sebagai upaya untuk mempromosikan kebebasan beragama, toleransi, dan pluralisme, agama dibatasi untuk tetap bersifat pribadi dan dilarang masuk ke ranah publik. Dalam pertarungan antara materialisme kapitalis dan materialisme komunis, materialisme kapitalis berhasil unggul karena lebih cermat dalam memperlakukan agama dan hak pribadi. PENUTUP Penulis menggunakan metafora "Kematian Tuhan" Nietzsche untuk menunjukkan pengecilan nilai individu dalam kehidupan manusia yang terikat oleh nilai-nilai universalagama. Kematian Tuhan mengungkapkan bahwa kehidupan beragama telah kehilangan Dody S. Truna. AuIslam dan Pluralitas Agama di Indonesia,Ay dalam M. Yusuf Wibisono. Dody S. Truna & Mochamad Ziaulhaq. Modul Sosialisasi Toleransi Agama, (UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2. : 50 20 Konrad Kebung. AuMembaca AoKuasaAo Michel Foucault dalam Konteks Kekuasaan Di Indonesia,Ay 33. No. 1, . : 34-51 21 Bahtiar Effendy. Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan, (Yogyakarta: Galang Press, 2. : 24. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 57 maknanya, karena agama sendiri menghancurkannya. Metafora ini juga membuka jalan bagi gagasan "Kelahiran Tuhan Baru" yang mengusulkan adanya Tuhan universal untuk keadilan dan humanisme. Penulis menggunakan "Kematian Tuhan" untuk mendorong pengakuan nilai individu dalam konteks keberagaman di Indonesia, memungkinkan pluralitas nilai dan moderasi beragama. REFERENSI