Volume 10. Nomor 2. April- September 24 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 PENERAPAN TERAPI BERMAIN MEWARNAI UNTUK MENGONTROL ANSIETAS ANAK USIA PRA SEKOLAH DENGAN DEMAM TIFOID YANG MENDAPATKAN PERAWATAN DI RUMAH SAKIT Sri Melfa Damanik1. Anna Angelica Siregar2 1 Dosen Prodi Keperawatan Fakultas Vokasi. Universitas Kristen Indonesia. Jakarta 2 Mahasiswa Prodi Keperawatan. Fakultas Vokasi. Universitas Kristen Indonesia. Jakarta *Koresponden: Sri Melfa Damanik. Alamat: Jl Penganten Ali VII No 83 Ciracas. Jakarta Timur. Email: srimelfa. damanik@uki. Received: 03 agustus | Revised: 29 agustsu | Accepted: 09 september Abstrak Latar Belakang: Demam Tifoid merupakan penyakit pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Sallmonella Typhi. Penyakit ini banyak terjadi pada anak usia tahap pra sekolah . -6 tahu. Terapi bermain mewarnai merupakan salah tindakan non farmakologi untuk mengatasi masalah ansietas akibat dampak hospitalisasi pada anak demam tifoid Tujuan: Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menggambarkan penerapan terapi bermain mewarnai untuk mengontrol tingkat ansietas anak pra sekolah dengan Demam Tifoid yang mendapat perawatan di Rumah sakit. Metodologi Penelitian: Menggunakan laporan studi kasus dari 2 anak yang dirawat di Rumah Sakit yang mengalami masalah ansietas dengan penerapan terapi bermain mewarnai dan penilaian Skala FIS (Face Image Scal. sebelum dan sesudah intervensi Hasil: Studi Kasus ini menujukkan hasil bahwa masalah keperawatan ansietas pada pasien pertama dan kedua dapat teratasi pada hari keempat perawatan. Terapi bermain mewarnai dapat mengontrol ansietas pada anak usia pra sekolah dengan demam tifoid yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit dari tingkat ansietas sedang dengan skor FIS 4 menjadi skala FIS 1 (Sangat tidak ansieta. pada pasien 1 dan skala FIS 2 (Tidak ansieta. pada pasien kedua setelah 4 hari masa perawatan di Rumah Sakit. Kesimpulan: Penerapan terapi bermain mewarnai pada anak usia prasekolah dengan demam tifoid yang dirawat di Rumah Saakit dapat mengontrol ansietas anak dan memberi kenyamanan pada anak sehingga dampak hospitalisasi dapat diminimalisir. Kata Kunci: Demam Tifoid pada Anak. Terapi Bermain Mewarnai. Ansietas, pada anak. Face Image Scale (FIS) Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit pada saluran tepat agar tidak membawa dampak yang serius (WHO, pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Sallmonella Typhi. Menurut data World Health Organization (WHO) Penyakit ini ditularkan melalui makanan dan minuman yang menyatakan Studi yang dilakukan di daerah urban di sudah terkontaminasi (Ringo et al. , 2. Demam tifoid pada beberapa negara Asia pada anak usia 5-15 tahun anak merupakan masalah yang harus segera ditanganidengan menunjukkan bahwa insidensi dengan biakan darah positif Volume 10. Nomor 2. April- September 24 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 mencapai 180-194 per 100. 000 anak, di Asia Selatan pada Penelitian (Apriany et al. , 2. yang memberikan intervensi usia 5-15 tahun sebesar 400-500 per 100. 000 penduduk, di terapi mewarnai yang dilakukan selama 3 hari dalam waktu Asia Tenggara 100-200 per 100. 000 penduduk, dan di Asia 30 menit setiap harinya dimana anak diberi kebebasan untuk Timur Laut kurang dari 100 kasus per 100. 000 penduduk memilih gambar sesuai keinginanya dapat menurunkan (WHO, 2. ansietas pada anak (Fernanda et al. , 2. Angka rerata kesakitan demam tifoid anak di Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk Indonesia mencapai 500 sampai 100. 000 penduduk dengan mengetahui gambaran studi kasus tentang penerapan terapi bermain mewarnai untuk mengontrol ansietas anak terjadinya demam tifoid adalah pada usia 5-14 tahun . ,9%), prasekolah dengan demam tifoid yang menjalani proses usia 1-4 tahun . ,6%), usia 15- 24 tahun . ,5%) dan usia dan perawatan di rumah sakit. kematian antara 0,6-5%. Pravelensi usia <1 tahun . ,8%). DKI Jakarta salah satu provinsi dengan pasien demam tifoid terbanyak di Indonesia dengan angka Tujuan Penelitian prevalensi kejadian demam tifoid sebesar 1,44% (Riskesdas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan penerapan terapi bermain mewarnai untuk mengontrol Masalah keperawatan yang sering muncul pada kasus demam tifoid adalah Hipertermia. Selain masalah ansietas anak pra sekolah yang dirawat dengan Demam Tifoid. hipertermia, anak dengan demam tifoid juga mengalami dampak psikologis seperti kecemasan akibat dampak Metode Penelitian Anak yang terkena demam tifoid harus Desain Penelitian Penelitian ini merupakan rancangan studi kasus morbiditas dan mortalitas pada anak. Perasaan ansietas pada dengan pendekatan proses keperawatan . engkajian sampai anak timbul karena perubahan lingkungan yang diwujudkan evaluasi keperawata. Kedua pasien dilakukan intervensi dalam reaksi seperti protes, putus asa, dan kemunduran. terapi bermain mewarnai sesuai dengan gambar yang dipilih Regresi bisa berbentuk menangis, menolak makan, menolak oleh pasien dan dilakukan evaluasi tingkat kecemasan pengobatan dan seringkali dianggap sebagai hukuman dengan skala FIS (Face Image Scal. selama 4 hari (Cahyani & Suyami, 2. Bermain dapat dijadikan sebagai terapi untuk mengurangi kecemasan anak (Daniel, 2. Terapi mewarnai gambar dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat menurunkan ansietas dan mengalihkan rasa cemas pada anak. Peran perawat diperlukan dalam menfasilitasi aktivitas bermain yang tepat dengan kondisi anak serta sesuai dengan prinsip-prinsip bermain di rumah sakit. Prinsip terapi bermain di rumah sakit diantaranya tidak membutuhkan banyak energi, waktunya singkat, mudah dilakukan, aman, dan tidak bertentangan dengan terapi pengobatan (Aulia et al. , 2. Terapi bermain mewarnai digunakan sebagai intervensi untuk mengurangi kecemasan pada anak usia pra sekolah yang mengalami hospitalisasi (Dihum, 2. Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah anak usia prasekolah yang dirawat dengan demam tifoid di salah satu RSUD di DKI Jakarta. Peneliti mengambil responden sebanyak 2 orang anak yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi dalam studi kasus ini adalah: kesadaran anak composmentis, anak yang kooperatif, anak yang baru pertama kali menjalani perawatan di ruang rawat inap, anak pra sekolah dengan usia 3-6 tahun dengan diagnosa medis Demam Tifoid, anak yang memiliki kecemasan sedang dengan skala Face Image Scale 4 serta orang tua yang bersedia sebagai responden mengetahui tujuan, prosedur, dan bersedia menandatangani formulir persetujuan (Informed consen. Volume 10. Nomor 2. April- September 24 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Masalah Keperawatan yang difokuskan: Ansietas. Untuk Instrumen Pengumpulan Data implementasi keperawatan: Mengobservasi tanda-Tanda Peneliti menggunakan form pengkajian yang dibuat Vital, melakukan terapi bermain mewarnai pada anak selama oleh peneliti dan menggunakan skala FIS (Face Image Scal. 30 menit dalam 3 hari perawatan . ari pertama pengkajian untuk mengevaluasi tingkat kecemasan anak sebelum dan awa. menggunakan gambar yang sesuai dengan permintaan setelah intervensi diberikan Melakukan evaluasi skala FIS (Face Image Scal. sebelum dan setelah diberikan terapi bermain. Setelah Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret- empat hari pasien didiagnosis demam tifoid, pasien diperbolehkan pulang. April 2024. Pasien 2 merupakan anak laki-laki, umur 5 tahun, berat Analisa Data badan 18 kg dan Tinggi badan 100 cm Saat pertama kali Analisis data yang akan digunakan dimulai dengan masuk rumah sakit Ibu pasien mengatakan anak demam penyajian data univariat dan menganalisis secara deskriptif. tinggi sejak 3 hari sebelum dibawa kerumah sakit, demam meningkat pada sore dan malam hari, ibu pasien juga Pertimbangan Etik mengatakan anak sering mengalami keringat dingin dan ibu Peneliti mempertimbangkan keterlibatan responden dalam pasien mengatakan perut terasa sakit dan mual ketika penelitian apakah repsonden bebas dari kerugian dan makan, ketika dirumah anak tidak nafsu makan dan hanya Peneliti telah memberikan keyakinan pada menghabiskan 8 sendok makan. Saat dilakukan pemeriksaan resposden bahwa penelitian ini tidak akan merugikan nadi 124 x/menit, 24x/menit, 38,50c, saturasi oksigen 99%. Selain itu juga peneliti menjaga privasi responden pasien tampak lemas, mukosa bibir tampak kering dan dengan tidak mencantumkan identitas responden. pecah- pecah, pasien tampak pucat. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan Salmonella Typhi 1/160. Hb Hasil Penelitian 11,9 g/dl . Hematokrit 33% . Leukosit 3,8 Pasien 1 merupakan anak perempuan, umur 5 tahun, berat 103u/L . Trombosit 177 103u/L . Hasil badan 22 kg dan Tinggi badan 110 cm. Saat pertama kali Pengkajian Skala FIS (Face Image Scal. 4 (Kecemasan masuk rumah sakit, ibu pasien mengatakan anak demam Dampak dari hospitalisasi pada pasien kedua yaitu sejak 5 hari sebelum dibawa kerumah sakit, ibu pasien anak menjadi cenderung murung, pendiam, dan merasa mengatakan demam naik turun, demam meningkat pada sore asing akan lingkungan yang baru terlebih anak harus Saat dilakukan pemeriksaan nadi 110 x/menit, menjalani serangkaian tindakan invasif seperti pemasangan 22x/menit, suhu 38,00c, saturasi oksigen 98%. Hasil infus, pemberian injeksi obat dan pengambilan darah serta pemeriksaan laboratorium menunjukkan nilai salmonella Typhi 1/320. Hb 11,7 g/dl . Hematokrit 34% . Keperawatan Leukosit 4,5 103u/L . Trombosit 208 103u/L . - implementasi keperawatan: Mengobservasi tanda-Tanda Hasil Pengkajian Skala FIS (Face Image Scal. 4 Vital, melakukan terapi bermain mewarnai pada anak selama (Kecemasan sedan. Dampak hospitalisasi pada pasien 30 menit dalam 3 hari perawatan . ari pertama pengkajian pertama yaitu anak menjadi pendiam, merasa asing akan awa. menggunakan gambar yang sesuai dengan permintaan lingkungan yang baru, rewel saat berhadapan dengan Melakukan evaluasi skala FIS (Face Image Scal. individu yang belum dikenal, anak tidak bisa bermain dengan sebelum dan setelah diberikan terapi bermain. Setelah teman sebayanya, serta harus menerima tindakan medis. empat hari pasien didiagnosis demam tifoid, pasien Masalah Ansietas. Untuk Volume 10. Nomor 2. April- September 24 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 diperbolehkan pulang. Tabel 1 Deskripsi Skala Tingkat Kecemasan (Ansieta. Pada Pasien 1 sebelum dan setelah terapi bermain Nama Pasien Skala FIS Skala FIS Sebelum Sesudah Intervensi Intervensi Pasien 1 Hari Ke-1 (Pengkajian awa. Hari -2 4 (Ansietas 3 (Ansietas Sedan. Ringa. Hari-3 3 (Ansietas 2 (Tidak Ringa. Ansieta. Hari-4 2 (Tidak 1 (Sangat Tidak Ansieta. Ansieta. Pasien 2 Hari Ke-1 (Pengkajian awa. 4 (Ansietas 4 (Ansietas Sedan. Sedan. Hari-3 4 (Ansietas 3 (Ansietas Sedan. Ringa. Hari-4 3 (Ansietas 2 (Tidak Ringa. Ansieta. Hari -2 Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa terdapat penurunan tingkat kecemasan pada kedua pasien setelah diberikan intervensi terapi bermain mewarnai. Pembahasan Pada saat dilakukan pengkajian keperawatan, diketahui bahwa pasien pertama jenis kelamin perempuan dan pasien kedua berjenis kelamin laki- laki. Hal ini didukung oleh pernyataan Mustofa . menyatakan bahwa demam tifoid dapat terjadi pada semua jenis kelamin baik pada perempuan maupun laki-laki. Jika dilihat dari penyakit ini penderita demam tifoid banyak terjadi pada anak laki-laki karena anak laki-laki sering melakukan aktivitas di luar rumah dibandingkan anak perempuan Berdasarkan usia pasien pertama dan kedua merupakan usia anak pra sekolah. Hal ini didukung pada penelitian yang dilakukan oleh (Elyta et al. , 2. demam tifoid seringkali dialami oleh anak usia pra sekolah, hal ini pentingnya kebersihan makanan dan lingkungan. Para ahli menggolongkan usia pada usia prasekolah . -6 tahu. sebagai tahapan perkembangan anak yang cukup rentan terhadap berbagai serangan penyakit dan penyakit yang seringkali di jumpai adalah penyakit infeksi, termasuk demam tifoid (Widyawati et al. ,2. Berdasarkan hasil studi kasus tahap pengkajian Tabel 2 Deskripsi Evaluasi akhir Skala Tingkat Kecemasan (Ansieta. Pada Pasien 1 &2 pada dampak hospitalisasi di dapatkan pada kedua pasien Kategor i Pasien Face Image Scale (Skala FIS) Hari -1 Hari-2 Hari-3 Hari-4 (Pengkajia n awa. 4 (Ansietas Sedan. (Ansieta (Tidak (Sangat Ansietas Tidak Ringa. Ansietas (Ansietas (Ansieta (Ansieta (Tidak Sedan. Ansietas Sedan. Ringa. berkonsentrasi saat di ajak berinteraksi, pendiam dan Berdasarkan Tabel 2 Gambaran tingkat ansietas pada kedua berarti, cedera tubuh dan nyeri. Hal ini didukung oleh pasien pada hari pertama menunjukkan Ansietas sedang. pernyataan lain yang menyatakan bahwa anak yang dirawat Setelah diberikan intervensi terapi bermain mewarnai di rumah sakit cenderung mengalami kecemasan tetapi terjadi penurunan ansietas pada hari ke-4 pada pasien 1 respon kecemasan turun setelah dilakukan terapi bermain dengan skala FIS 1 (Sangat tidak ansieta. dan pasien 2 mewarnai (Haryani et al. , 2. Pasien Pasien dengan skala FIS 2 (Tidak ansieta. anak menjadi tidak aktif, cenderung murung, sulit merasa asing akan lingkungan yang baru. Selanjutnya dilakukan pengukuran tingkat kecemasan pasien 1 dan 2 menggunakan kuesioner FIS (Face Image Scal. didapatkan hasil dengan skor 4 dengan interpretasi kecemasan sedang. Hal ini berkaitan dengan pernyataan Yuli . yang menyatakan terdapat beberapa faktor yang menimbulkan lingkungan rumah sakit, berpisah dengan orang-orang yang Terapi bermain mewarnai mempunyai banyak manfaat untuk mengurangi kecemasan akibat dampak Volume 10. Nomor 2. April- September 24 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Hal ini didukung oleh penelitian Yunita . , sedang menjalani hospitalisasi. Hal ini didukung oleh mengatakan bahwa terapi bermain mewarnai merupakan pernyataan Sukoati & Astarani . Peran orangtua dalam salah satu cara untuk mengurangi tingkat cemas anak selama dirumah sakit dan menimbulkan perasaan rileks karena mewarnai dapat mengurangi kecemasan anak melalui adanya aktivitas yang menghasilkan karya seni serta anak dukungan, motivasi, pemberian kasih sayang, perhatian dan dapat mengenali gambar dan memilih warna yang cocok kehangatan selama menjalani hospitalisasi untuk diberikan pada gambar tersebut. Selain mengurangi Dalam melakukan terapi bermain mewarnai kecemasan pada anak terapi bermain mewarnai juga penulis menyediakan gambar diantaranya gambar hewan, membantu dalam membina hubungan saling percaya antara angka, buah-buahan, serta kartun. Intervensi dilakukan perawat dan pasien untuk meningkatkan kualitas asuhan ditempat tidur pasien, yang diberikan 1 kali diwaktu pagi keperawatan anak dirumah sakit (Widyastuti, 2. hari selama 3 hari berturut-turut dalam waktu A 30 menit. Dalam studi kasus ini, untuk menangani masalah Kemudian penulis menjelaskan cara mewarnai pada anak ansietas pada pasien, penulis berfokus pada tindakan terapi dengan memberikan pensil warna/krayon dan gambar, anak bermain mewarnai. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dipersilahkan untuk mewarnai. Hal ini didukung oleh dilakukan oleh Praptiwi . menyatakan bahwa terapi penelitian Apriany et al. , . pasien diberi kebebasan bermain mewarnai digunakan sebagai intervensi untuk Hasil studi kasus ini menunjukan bahwa ada mengurangi tingkat kecemasan pada anak-anak dengan pengaruh penurunan kecemasan pada anak setelah demam tifoid. Bermain mewarnai gambar dipilih karena diberikan terapi bermain . Hal ini sejalan aktivitas ini dapat membantu anak mengungkapkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haryani et al. , tahun perasaan dan pikiran pada anak, mengalihkan perasaan . menyatakan bahwa anak yang dirawat di rumah sakit cenderung mengalami kecemasan tetapi respon kecemasan perawatan di rumah sakit. Berdasarkan penelitian yang turun setelah dilakukan terapi bermain mewarnai. dilakukan oleh Aryani . menjelaskan bahwa terapi bermain mewarnai digunakan sebagai intervensi untuk mengurangi tingkat kecemasan pada anak-anak dengan demam tifoid. Terapi bermain dipilih karena bermain merupakan aktivitas yang penting bagi perkembangan anak, termasuk dalam mengatasi kecemasan. Berdasarkan kasus ini, penulis melakukan terapi bermain mewarnai 3 hari berturut-turut selama masa perawatan, sebelum melakukan terapi bermain mewarnai penulis melakukan pre test berupa observasi tingkat kecemasan pasien menggunakan skala Face Image Scale Kesimpulan Penerapan terapi bermain mewarnai pada anak usia prasekolah dengan demam tifoid yang dirawat di Rumah Saakit dapat mengontrol ansietas anak dan memberi kenyamanan pada anak sehingga dampak hospitalisasi dapat diminimalisir. Referensi