Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Kultur Masyarakat Melayu: Studi Etnografi Islam Melayu Nusantara Abad 18 Dedi Kuswandi1. RisAoan Rusli2. Amilda Sani3 1Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang. Indonesia 2Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang. Indonesia 3Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang. Indonesia elhubb@gmail. ABSTRACT Today. Malay is not an ethnic community as understood by many people. Malays are like a nation or group of allied ethnic groups that adhere to the same religion and the same language. Customs and traditions are relatively the same because they are based on the same religious and cultural principles. Therefore, the purpose of this research is to examine how the development of Malay Islam in the archipelago in the 18th century. This study uses a qualitative approach with ethnographic methods where researchers will describe and describe the culture of the development of Islam in the archipelago through the history that has been communicated. Tracing the history of the development of Islam in the Malay Archipelago, it emerged due to many factors, starting with trade in the 8th and 9th centuries until finally the 17th century, trade took place accompanied by the development of Islam which was also rife. However, in the 18th century. Islam developed rapidly and began to emphasize sharia. So, it greatly impacts the development of tariqat and experiences a renewal of Sufi tariqat, which grows into a religious Not only that, in the 18th century the role of the clergy was significant in the spread of Islam after the return of the clergy learned from the lands of Mecca and Medina. Establishing Islamic educational institutions throughout the archipelago and providing new religious ideas in carrying out worship. Therefore, in this century. Islam began to form intellectual networks or scholars throughout the archipelago. Islam and the Malay language then emerged as an integrative force for the different ethnic groups in the archipelago. Keywords: Malay Archipelago. Malay Muslims. Sufism culture ABSTRAK Saat ini. Melayu bukanlah sebuah komunitas etnis seperti yang dipahami banyak Suku Melayu ibarat suatu bangsa atau kumpulan suku bangsa yang serumpun yang menganut agama yang sama dan bahasa yang sama. Adat dan tradisi relatif sama karena didasarkan pada prinsip agama dan budaya yang sama. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana perkembangan Islam Melayu di nusantara pada abad ke18. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dimana peneliti akan mendeskripsikan dan mendeskripsikan budaya perkembangan Islam di nusantara melalui sejarah yang telah dikomunikasikan. Menelusuri sejarah perkembangan Islam di Kepulauan Melayu muncul karena banyak faktor, dimulai dari perdagangan pada abad ke 8 dan 9 hingga akhirnya pada abad ke 17 perdagangan terjadi diiringi dengan 1470 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. perkembangan Islam yang juga marak. Namun pada abad ke-18. Islam berkembang pesat dan mulai mengedepankan syariah. Sehingga sangat berdampak pada perkembangan tarekat dan mengalami pembaharuan tarekat sufi yang tumbuh menjadi organisasi keagamaan. Tidak hanya itu, pada abad ke-18 peran ulama cukup signifikan dalam penyebaran agama Islam setelah kembalinya para ulama belajar dari negeri Mekkah dan Madinah. Mendirikan lembaga pendidikan Islam di seluruh nusantara dan memberikan gagasan keagamaan baru dalam melaksanakan ibadah. Oleh karena itu, pada abad ini Islam mulai membentuk jaringan intelektual atau ulama di seluruh nusantara. Islam dan bahasa Melayu kemudian muncul sebagai kekuatan integratif bagi berbagai suku bangsa di nusantara. Kata kunci: Melayu Nusantara. Muslim Melayu. Budaya Tasawuf PENDAHULUAN Entitas pemikiran Islam dan entitas peradaban Islam, antara keduanya saling berhubungan satu dengan lainnya, terjadi kontak dan saling berkaitan. Pemikiran melahirkan peradaban dan peradaban melahirkan pemikiran. Peradaban Islam berawal dari proses pembudayaan pemikiran Islam, selanjutnya jika terjadi gesekan dalam proses peradaban Islam dapat memicu timbulnya pemikiran Islam baru (Mugiyono, 2. Proses seperti ini terjadi terus menerus dan berkesinambungan menuju pada kesempurnaan yang pada gilirannya dapat melahirkan pemikiran dan peradaban Islam yang semakin lama semakin maju dan berkembang. Laju perkembangan pemikiran Islam seiring dengan pergantian masa dan meluasnya wilayah-wilayah yang memeluk agama Islam yang notabene telah memiliki corak dan karakter peradaban tersendiri. Interaksi pemikiran Islam dengan peradaban lokal setempat melahirkan dinamika pemikiran Islam yang kemudian dapat mempengaruhi dinamika peradaban Islam itu sendiri (SyuAoaib & Hanafi, 2. Luasnya wilayah Islam yang pada masing-masing wilayah memiliki karakteristik peradaban sendiri membuat hazanah pemikiran dan peradaban Islam semakin kaya dan variatif. Termasuk wilayah Islam yang memiliki corak pemikiran dan karakteristik peradaban adalah wilayah Melayu di kepulauan Nusantara. Sejarah telah membuktikan bahwa perkembangan pemikiran yang terjadi di dunia Islam berpengaruh signifikan terhadap perkembangan peradaban Melayu Islam. Integrasi pemikiran Islam dan Dunia Melayu melahirkan semangat dan fanatisme keislaman bagi masyarakat Melayu, kenyataan tersebut masih diperdebatkan di antara mereka. Ditinjau dari akar historisnya, perkembangan pemikiran dalam Islam sudah dimulai sejak zaman klasik awal, pada masa Nabi Muhammad Saw. Bahkan kedudukan pemikiran dijadikan sebagai sumber ajaran Islam ketiga setelah Al-Qur'an dan al-Sunnah. Hal ini telah diindikasikan dalam sebuah dialog antara Nabi Jabal yang saat itu diangkat sebagai gubernur Yaman. Kemudian pemikiran Islam lebih berkembang lagi setelah dunia Islam berinteraksi dengan dunia luar, seperti Persia dan Romawi, terutama Yunani, sehingga menghasilkan perkembangan ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada perkembangan peradaban Islam zaman klasik, pertengahan dan modern, kemudian 1471 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. meluas ke seluruh penjuru Dunia Islam termasuk wilayah Melayu Nusantara. (Amin & Ananda, 2. Jika Dunia Melayu dilihat secara komprehensif dalam rentang masa, dapat diketahui bahwa sebelum datangnya Islam bangsa Melayu sudah ada, bahkan sejak zaman pra Hindu-Buddha di Nusantara, kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, terutama di Malaysia. Sumatera. Kalimantan dan sekitarnya. Dalam perspektif kesamaan sejarah dan budaya, secara umum identitas bangsa Melayu hingga saat ini terdiri dari empat fase pilar sejarah, yaitu: fase pra Hindu-Buddha, fase HinduBuddha, fase Islam dan fase kolonialisme. (Darajat, 2. Namun hingga saat ini, pengaruh Islam pada suku bangsa Melayu sangat kuat dan dominan dari pada yang Setelah masuk dan berkembangnya pemikiran Islam di Nusantara, terjadi perubahan kebudayaan dan peradaban Melayu, baik dari segi gagasan . , aktivitas . , dan benda . Sebagian sejarawan berpendapat, bahwa Islam masuk ke Nusantara sejak sekitar abad permulaan kelahiran Islam . bad ke-. , pendapat lain abad ke-11, dan berkembang semakin cepat pada abad ke-13 karena sudah dapat menguasai sebagian Melayu Nusantara dengan berdirinya kerajaan Islam. (Soraya, 2. Secara umum. Islam dapat diterima dengan mudah oleh bangsa Melayu karena karakternya yang igaliter dan populis. Islam tidak mengenal sistem kasta dan kependetaan, sehingga memungkinkan keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam seluruh aspek kehidupan. Faktor lain adalah karena penyebaran agama Islam didukung oleh tiga kekuatan, yaitu istana, pesantren dan pasar. Melalui dukungan tiga kekuatan tersebut, pengaruh Islam dalam masyarakat Melayu sangat optimal. Secara kultur. Islam disebarkan melalui pesantren dan pasar . endidikan dan perdaganga. , sedangkan secara politik dilegitimasi oleh istana. Ilmu pengetahuan Islam, seperti akidah, ilmu hisab, perkapalan, estetika, astronomi, logika, ekonomi, perdagangan dan lainnya berkembang begitu pesat. Perkembangan keilmuan dan keimanan secara bersamaan menempatkan Islam sebagai poros bagi kehidupan masyarakat Melayu yang mempengaruhi semua dimensi kehidupan Adanya ungkapan populer yang secara eksplisit menunjukkan kuatnya pengaruh Islam, seperti pengaruh Islam ini terdapat dalam mayoritas masyarakat Melayu pesisir, tidak di daerah pedalaman. (Fadhly, 2. Setidak-tidaknya ada delapan faktor yang menyebabkan orang Melayu mengidentifikasikan diri dan kebudayaannya dengan Islam. Pertama, faktor Kedua, perkawinan, yaitu antara pendatang Muslim dengan wanita pribumi pada tahap awal kedatangan Islam. Ketiga, faktor politik seperti mundurnya kerajaan Hindu dan Buddha seperti Majapahit dan Sriwijaya. Keempat, faktor kekosongan budaya pasca runtuhnya kerajaan Buddhis Sriwijaya di kepulauan Melayu. Kelima, hadirnya ulama sufi atau faqir bersama tariqat-tariqat yang mereka Keenam, pengislaman raja-raja pribumi oleh para ulama sufi atau ahli ketujuh, dijadikannya bahasa Melayu sebagai bahasa penyebaran Islam dan 1472 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan Islam. delapan, mekarnya tradisi intelektual baru di lingkungan kerajaan-kerajaan Melayu sebagai dampak dari maraknya perkembangan Islam. (Dahlan, 2. Namun, pada perkembangan Islam tahap IV pada abad ke-18 dan 19, terjadi proses ortodoksi atau penekanan terhadap syariah. Ini memberi dampak besar bagi perkembangan tariqat. Beberapa tariqat sufi mengalami pembaruan dan tumbuh menjadi organisasi keagamaan yang kian memberikan perhatian pada aktivisme Pada abad ke-18 dan 19 M proses ortodoksi ini mendorong lahirnya gerakan anti-kolonial yang merata di seluruh kepulauan Nusantara (Pramasto. Pengaruh gerakan pemurnian agama yang muncul di Arab Saudi pada akhir abad ke-18. Wahabisme, semakin memperkuat kecenderungan pada syariat dan fiqih. Tidak berarti tasawuf falsafah terhambat perkembangannya. Pada tahapan ini Islam muncul sebagai kekuatan efektif menentang kolonialisme. Sementara itu proses islamisasi juga terus berlangsung, bahkan kian deras dan Islam semakin mengukuhkan diri sebagai faktor integratif atau pemersatu bangsa Indonesia (Huda. Berangkat dari pernyataan di atas, perlu diadakan penelitian lebih mendalam untuk mengungkap history kultur masyarakat Islam melayu nusantara abad ke-18, agar dapat ditemukan kenyataannya, setelah penetrasi Islam ke dalam Dunia Melayu menjadikan peradaban Melayu tidak dapat dipisahkan dengan tradisi Islam. Oleh sebab itu, penelitian ini akan membahas tentang suatu kajian penting dalam sejarah peradaban Islam nusantara dalam wilayah etnis Melayu. Melalui tulisan ini penulis berharap menjadi sebuah tambahan khazanah literatur budaya yang harus dijaga dalam melestarikan kultur masyarakat Islam Melayu di nusantara. METODE PENELITIAN penelitian ini merupakan penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif dimana peneliti me-review menguraikan dan menafsirkan pola bersama dan belajar nilai-nilai, perilaku, keyakinan, dan bahasa dari berbagai kelompok melalui metode historis (Spradley, 1. Adapun kelompok yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu budaya islam melayu nusantara pada abad 18 (Marvin Harris and Orna Johnson. Secara harfiah penelitian etnografi berarti gambaran sebuah masyarakat. Yang berarti etnografi adalah gambaran umum suatu budaya atau kebiasaan, keyakinan, dan perilaku yang berdasarkan atas informasi yang telah dikumpulkan melalui penelitian lapangan dengan me-review sejarah dari kebudayaan Islam nusantara di abad ke 18. Data penelitian etnografi dilakukan melalui empat jenis analisis dalam penelitian yaitu: pertama, penelitian melakukan analisis domain yaitu untuk memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau situasi Melalui pertanyaan umum dan pertanyaan rinci peneliti menemukan berbagai kategori atau domain tertentu sebagai pijakan penelitian selanjutnya. Hasilnya 1473 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. berupa gambaran umum tentang objek yang diteliti, yang sebelumnya belum pernah Dalam analisis ini informasi yang diperoleh belum mendalam, masih di permukaan, namun sudah menemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial yang diteliti. Kedua, analisis taksonomi Menjabarkan domain-domain yang dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya. Analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan. Dengan demikian domain yang telah ditetapkan menjadi cover term oleh peneliti dapat diurai secara lebih rinci dan mendalam melalui analisis taksonomi ini. Hasil analisis taksonomi dapat disajikan dalam bentuk diagram kotak . ox diagra. , diagram garis dan simpul . ines and node diagra. dan outline. Ketiga, analisis komponensial mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengontraskan antar elemen. Pada analisis komponensial, yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi justru yang memiliki perbedaan atau yang kontras. Dan keempat, analisis budaya yaitu Mencari hubungan di antara domain dan hubungan dengan keseluruhan, yang selanjutnya dinyatakan ke dalam tema-tema sesuai dengan fokus dan sub fokus penelitian. oleh karena itu, analisis ini akan dilakukan secara keseluruhan dan akan difokuskan untuk memperoleh data tentang perkembangan budaya Islam melayu di abad 18. HASIL DAN PEMBAHASAN Istilah Melayu berasal dari kata mala . ang berarti mul. dan yu . ang berarti neger. dikenal sekitar tahun 644 masehi, melalui tulisan Cina yang menyebutnya dengan kata Mo-lo-you. Sedangkan istilah Melayu menurut Polinesia atau Austronesia merujuk kepada penduduk yang pernah menjadi anak negeri Kerajaan Melayu Jambi . ekitar abad ke 4-. diikuti oleh Kerajaan Sriwijaya . bad ke 7-. , sebagai kerajaan yang jaya dari zaman Hindu-Budha (Boenga, 2. Kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Melayu Melaka . bad ke 14-. yang dipandang sebagai lambang kejayaan Melayu dan pusat penyebaran agama Islam di kawasan Nusantara. Setelah itu diikuti oleh sejumlah kerajaan-kerajaan Melayu lainnya seperti: Kerajaan Deli. Langkat. Riau-Lingga. Johor-Pahang. Siak Sri Indrapura. Indragiri. Brunai Darussalam, dan lain-lain. Kawasannya meliputi Pulau Sumatera dan sebagian besar belahan timur, semenanjung Melaka. Kalimantan belahan utara dan barat, kemudian daerah kepulauan Selat Melaka dan Kepulauan Riau (Darajat, 2. Menurut sejarahnya, nenek moyang orang Melayu berasal dari berbagai suku. Ada yang menyebutkan dari Suku Dravida di India, dan Mongolia atau campuran Dravida dengan Arya yang kemudian kawin dengan ras Mongolia. Kedatangan mereka ke Nusantara terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan antara 3000 sampai 2500 tahun sebelum masehi, gelombang ini disebut Proto Melayu atau Melayu Tua. Orang yang tergolong Melayu Tua khususnya di Riau antara lain. Suku Talang Mamak. Suku Sakai. Suku Laut. Suku Petalangan. Suku Hutan, 1474 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dan lain-lain. Gelombang kedua terjadi sekitar 300 sampai 250 tahun sebelum masehi, yang disebut Deutro Melayu atau Melayu Muda. Gelombang yang terakhir inilah tampaknya yang paling besar, paling dominan dan yang berkembang dalam masyarakat Melayu (Suwardi, 2. Orang Melayu yang merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia dengan jumlah penduduknya yang cukup besar, wilayah pernyebarannya juga cukup luas dan mereka hidup dalam kelompok-kelompok hampir di seluruh Kepulauan Nusantara dan bahkan meluas sampai di kawasan Asia Tenggara, seyogyanya mempertahankan identitas untuk mempertahankan harga dirinya. Perkembangan Islam di Bumi Nusantara Abad 18 Masuk dan berkembang pesatnya agama Islam di Indonesia pada abad ke-13 Ae 17 M dan mulai berkembang pesat di abag ke-18 sampai 20 serta memunculkan banyak pendapat yang berbeda-beda bahkan saling bertentangan. Khususnya tentang darimana agama ini datang dan siapa yang membawanya masuk. Begitu pula mengenai saluran-saluran komunikasi yang digunakan sehingga memungkinkan agama ini diterima secara luas oleh penduduk Nusantara dalam waktu yang relatif Semula diduga bahwa yang membawa dan memperkenalkan agama ini di kawasan ini ialah pedagang-pedagang dari Gujarat. India. Sejak itu perdagangan dipandang sebagai saluran utama bagi pesatnya perkembangan Islam di kepulauan Nusantara. Tetapi penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa faktornya sangat Sebelum berkembang pesat. Islam harus menempuh jalan yang berlikuliku dan rumit serta panjang, dan faktornya bukan hanya perdagangan semata-mata (Amin, 2. Menurut al-Attas datangnya Islam menyebabkan kebangkitan rasional dan intelektual yang bercorak religius di Nusantara yang tidak pernah dialami Kecuali itu Islam juga mendorong terjadinya perubahan besar dalam jiwa bangsa Melayu dan kebudayaannya (Nurtawab, 2. Islam menyuburkan kegiatan ilmu dan intelektual serta membebaskan mereka dari belenggu mitologi yang menguasai jiwa mereka sebelumnya. Hadirnya Islam membuka lembaran baru dan menyebabkan terjadinya proses perubahan sosial, ekonomi dan politik yang sangat mendasar. Lebih jauh lagi, oleh karena pesatnya perkembangan ini dihantar oleh maraknya kegiatan pelayaran dan perdagangan, sedangkan Islam memiliki kecenderungan terhadap aktivisme keduniaan dan sosial, maka ethos dan budaya dagang pun bangkit di kalangan etnik yang memeluk agama ini, terutama yang tinggal di pesisir (Al-Zastrouw, 2. Agama Islam berkembang tahap demi tahap di kepulauan Nusantara, melalui jalan yang berliku-liku dan berbeda di daerah yang satu dengan yang lain. Masa-masa penyebarannya itu juga tidak berjalan serentak di wilayah yang berbeda-beda. Ketika di suatu kawasan baru berada dalam tahap pengenalan dasar-dasar dan pokok ajaran agama, di daerah lain telah memasuki fase pengenalan implikasi-implikasi rasional 1475 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dan intelektual dari ajaran Islam tentang Tauhid. Perkembangan tersebut terjadi dari abad ke-13 sampai abad ke 20 (Nasrudin, 2. Sejak awal abad ke-13 M hingga pertengahan abad ke 15 M, dapat disebut tahapan pemelukan secara formal. Yang ditekankan ialah pengenalan dasar-dasar kosmopolitanis Islam, ketentuan dasar pelaksanaan syariat agama dan fiqih. abad ke-15 hingga akhir abad ke-16 M (Tungkagi, 2. Periode ini proses islamisasi kepulauan Melayu berjalan dengan pesat diikuti kian tersebarnya Islam ke berbagai pelosok Nusantara. Berkat meningkatnya tingkat pemahaman dan pendidikan yang diperoleh kaum Muslimin, ajaran Islam kian dipahami lebih mendalam. Memeluk agama Islam tidak sekadar formalitas (Hanifa et al. , 2. Pada abad ke-17 M, adalah tahapan penyempurnaan pemahaman ajaran Islam dan tradisi intelektualnya. Pada masa ini kita menyaksikan suburnya penulisan sastra dan kitab keagamaan dalam bahasa Melayu. Pokok-pokok yang dibahas dalam kitabkitab Melayu meliputi bidang-bidang seperti fiqih ibadah dan muamalah, fiqih duali . , syariah, usuluddin, kalam, tasawuf falsafah dan tasawuf akhlaq, tafsir al-QurAoan, ilmu hadis, eskatologi, historiografi, tatabahasa . , retorika, ilmu ma`ani . , estetika . , astromomi, ilmu hisab, perkapalan, ekonomi dan perdagangan, sastra dan seni, ketabiban, farmasi, dan lain-lain. Kemajuan yang dicapai di bidang intelektual ini mempermantap kedudukan dan perkembangan bahasa Melayu. Pada abad ke-18 Ae 19, terjadi proses ortodoksi atau penekanan terhadap Ini memberi dampak besar bagi perkembangan tariqat. Beberapa tariqat sufi mengalami pembaruan dan tumbuh menjadi organisasi keagamaan yang kian memberikan perhatian pada aktivisme keduniaan. Pada abad ke-18 dan 19 M proses ortodoksi ini mendorong lahirnya gerakan anti-kolonial yang merata di seluruh kepulauan Nusantara (Ahmad, 2. Pengaruh gerakan pemurnian agama yang muncul di Arab Saudi pada akhir abad ke-18. Wahabisme, semakin memperkuat kecenderungan pada syariat dan fiqih. Tidak berarti tasawuf falsafah terhambat Pada tahapan ini Islam muncul sebagai kekuatan efektif menentang kolonialisme. Sementara itu proses islamisasi juga terus berlangsung, bahkan kian deras dan Islam semakin mengukuhkan diri sebagai faktor inetgratif atau pemersatu bangsa Indonesia (Nurtawab, 2. Demikianlah segera setelah agama Islam berkembang pesat, segera pula agama ini memperlihatkan watak dan wajah kebudayaannya yang berbeda dari dua agama sebelumnya. Hindu dan Buddha yang lebih dahulu hadir di Asia Tenggara. Perbedaannya yang menyolok ialah: Pertama, dalam Islam hanya ada teks suci tunggal yang utuh dan mantap, karena itu tidak membingungkan penganut-nya. Dalam agama Hindu dan Buddha terdapat banyak teks suci yang sukar dipelajari penganutnya yang awam. Kedua, ajaran ketuhahan dan sistem peribadatan Islam lebih sederhana dan jelas, serta mudah dipahami. Ia mengharuskan hubu-ngan mesra antara penganutnya dengan Sang Khaliq tanpa perantaraan pendeta. Ketiga. Islam 1476 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. adalah agama yang egaliter sebagaimana telah dijelaskan. Tiadanya sistem kasta mendorong penduduk kepulauan Nusantara cepat tertarik pada agama ini. Dengan masuk Islam mereka berpeluang besar menjadi pemimpin keagamaan dan masyarakat asal saja memenuhi syarat seperti memperoleh pendidikan yag juga terbuka kepada semua lapisan dan golongan masyarakat. Faktor lainnya yang memicu bagi pesatnya perkembangsan Islam ialah mundurnya perkembangan agama Hindu dan Buddha, mengikuti surutnya kerajaan Hindu dan Buddha yang diikuti oleh mundurnya peranan politiknya. Abad ke-13 M ketika agama Islam mulai berkembang pesat di kepulauan Melayu, sebagai contoh, ditandai dengan mundurnya kerajaan Sriwijaya atau Swarnabhumi. Pusat imperium Buddhis di Nusantara ini mulai mengalami kemunduran disebabkan ronngrongan dua kerajaan Hindu Jawa Ae Kediri dan Singasari Ae disusul dengan krisis ekonomi yang membelitnya. Seabad berikutnya negeri ini dua kali diserbu Majapahit, sebuah imperium Hindu yang mulai bangkit di Jawa Timur. Serbuan terakhir pada penghujung abad ke-14 M menyebabkan negeri itu hancur dan tamat riwayatnya (Ahmad Khoirul Mustamir, 2. Faktor penting lain yang menyebabkan Islam berkembang pesat ialah penempatan pusat-pusat lingkaran peradaban di tiga titik yang tepat, yaitu Istana. Pesantren dan Pasar. Istana sebagai pusat kekuasaan berperan di bidang politik dan penataan kehidupan sosial. Di sini dengan dukungan ulama yang terlibat langsung dalam birokrasi pemerintahan, hukum Islam dirumuskan dan diterapkan. Di sini pula kitab sejarah ditulis sebagai landasan legitimasi bagi penguasa Muslim. Pesantren berperan di bidang pendidikan, dan merupakan pusat kebudayaan kedua setelah Di sini jaringan-jaringan pengajian agama di lingkungan masyarakat luas dibangun, di kota atau pun di pedesaan, begitu pula tema-tema pengajian. Di sini pula kitab-kitab keagamaan ditulis dan disalin untuk disebarkan (Muslihun, 2. Peran pesantren di Aceh, surau di Minangkabau, semakin menonjol pada abad ke-18 M di seluruh pelosok Nusantara. Ia sekaligus berperan sebagai pusat kegiatan tariqat sufi. Lembaga yang semula bersifat kedaerahan ini berkembang menjadi lembaga supra-daerah yang kepemimpinan dan peserta didiknya tidak lagi berdasarkan kesukuan (Haningsih, 2. Ia tumbuh menjadi lembaga universal yang menerima guru dan murid tanpa memandang latar belakang suku dan daerah asal. Pada masa itulah pesantren atau dayah mampu membentuk jaringan kepemimpinan intelektual dan penyebaran agama dalam berbagai tingkatan dan antar-daerah (FM et al. , 2. Peran Ulama Dalam Penyebaran Islam Nusantara Abad Ke-18 Sumber dinamika penyebaran pembaruan Islam ke Wilayah Indonesia pada abad ke-17 dan ke-18. Para ulama Melayu Indonesia yang (Jaw. terlibat dalam jaringan ulama kosmopolitan yang menuntut ilmu di Timur Tengah. Khususnya berpusat di Makkah dan Madinah, sebagian besar mereka kembali ke Nusantara (Yahaya, 2. Selain mengintegrasikan Islam di Negeri bawah angin ke dalam arus 1477 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. perkembangan Islam di timur-tengah, pengalaman ulamaAo Jawi saat belajar di Haramain telah meningkatkan otoritas mereka di tengah-tengah umat Islam Nusantara. Pengalaman Haramain memiliki makna penting yang didukung oleh sikap orang Jawa yang percaya bahwa mempelajari Islam di pusatnya mempunyai arti tersendiri yang memungkinkan seseorang memperoleh pengalaman spiritual . Oleh karena itu, ulamaAo Jawi yang kembali ke Nusantara, kemudian membentuk sebuah kelompok sosial yang berorientasi pada peningkatan pemahaman Islam dan pencapaian kekuatan spiritual. Atas dasar ini pula, para ulamaAo membangun otoritas mereka di tengah komunitas Muslim. Di sinilah mereka menjadi transmitter memainkan peranan menentukan dalam menyiarkan gagasan-gagasan pembaruan baik melalui pengajaran maupun karya tulis. Pembaruan Islam di Wilayah Melayu-Indonesia pada abad ke-17 bukan semata-mata Islam yang berorientasi pada tasawuf, melainkan juga Islam yang berotientasi pada syariat (Huku. Ini merupakan perubahan besar dalam sejarah Islam di Nusantara. Sebab pada abad-abad sebelumnya. Islam mistislah yang Setelah belajar di pusat jaringan di timur tengah, para ulama melayuIndonesia sejak paruh ke dua abad ke-17 dan seterusnya melakukan usahausaha yang di jalankan dengan sadar, bahkan secara serentak, untuk menyebarkan neo-Sufisme di Nusantara. Pada giliranya mendorong munculnya upaya-upaya serius ke arah rekontruksi sosio- moral masyarakat-masyarakat Muslim (Ahmad, 2. Neo-Sufisme berbeda dari jenis tasawuf sebelumnya yang sebagian besarnya merupakan semacam penafsiran mistiko-filosofis terhadap Islam. Sementara mempertahankan doktrin-doktrin mistisme filosofis tertentu, yang sangat penting bagi setiap jenis tasawuf, neo-Sufisme memberikan tekanan lebih besar pada kesetiaan dan kepatuhan total dari para penganutnya kepada syariat. Lebih jauh lagi, berbeda dengan jenis tasawuf sebelumnya yang cenderung mendorong para sufi bersifat pasif, neo-Sufisme menganjurkan aktivisme. Keterlibatan dalam permasalahan duniawi dianggap sebagai salah satu langkah penting menuju pemenuhan cita-cita mistis (Fikri, 2. Bangkitnya neo-Sufisme, tak diragukan lagi, terutama merupakan hasil usaha jaringan ulama, semakin berjaya sejak menjelang akhir abad ke-17. Jaringan ulama yang terpusat terutama di Haramayn timbul sebagai akibat interaksi berbagai tradisi pengetahuan dan keilmuan Islam dari Afrika Utara (Wilayah Maghri. Mesir. Syiria. Irak. Yaman. India, dan Haramayn sendiri. Jaringan ulama itu sendiri mencakup hubungan-hubungan yang rumit di antara para ulama dari berbagai dunia Muslim (Ibda, 2. Karena kedudukannya yang utama dalam Islam. Makkah dan Madinah semakin banyak menarik minat para ulama sejak abad kelima belas. Tempat utama wacana pengetahuan dan keilmuan Islam itu adalah dua Mesjid Suci Makkah dan Madinah. Pada saat yang sama, madrasah-madrasah dan ribath-ribath juga tumbuh dalam jumlah besar di kedua kota itu, yang sebagian besar di antaranya berdiri 1478 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dengan wakaf yang berasal dari para penguasa atau kaum Muslim kaya di bagianbagian lain dari Dunia Islam (Fikri, 2. Madrasah-madrasah dan ribath-ribath ini sangat besar sumbangannya bagi kebangkitan pengetahuan dan keilmuan Islam di Haramaiyn. Banyak tokoh yang memainkan peranan penting dalam jaringan ulama mula-mula datang ke Haramayn untuk menjalankan ibadah Haji atau mengajar, atau dua-duanya (Khalid, 2. Sebagian di antara mereka kemudian menetap di sana dan mencurahkan tenaga mereka mengajar dan menulis. Bersama dengan para murid mereka, yang juga berasal dari banyak tempat yang jauh di Dunia Islam, mereka membentuk suatu bentuk komunitas kosmopolitan di Haramayn. Kontak-kontak yang secara teratur mereka jalin dengan berbagai tradisi pengetahuan dan keilmuan Islam sumbangan yang sangat besar pada pembentukan sifat istimewa dan wacana ilmiah dalam jaringan ulama. Dua ciri paling penting dari wacana ilmiah dalam jaringan ulama adalah telaah hadis dan tarekat. Melalui telaah-telaah hadis, para guru dan murid-murid dalam jaringan ulama menjadi terikat satu sama lainnya. Tidak kalah penting, para ulama ini mengambil dari telaah-telaah hadis inspirasi dan wawasan mengenai cara memimpin masyarakat muslim menuju rekontruksi sosio-moral. Ini, pada gilirannya, mendorong para tokoh dalam jaringan ulama untuk mendapatkan apresiasi yang lebih baik menyangkut hubungan yang seimbang antara syariat dan tasawuf (Yegar, 1. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan terciptanya beberapa perubahan doktrinal dalam tarekat atau tasawuf pada umumnya. lebih banyak tekanan kini diberikan pada penyucian pikiran dan prilaku moral melalui kepatuhan penuh kepada syariat, dan bukan hanya pada penjelajahan mistiko-filosofis dan spekulasi. Organisasi tarekat, melalui silsilah yang berkesinambungan, juga menjadi sarana untuk menghubungkan ulama satu sama lainnya. Ajaran-ajaran tarekat yang menekankan kesetiaan dan kepatuhan para murid kepada guru-guru mereka memberikan kekuatan tambahan kepada jaringan ulama. gagasan-gagasan pembaruan yang disebarkan para ulama sebelumnya menemukan ekpresi yang radikal dalam Gerakan Padri. Penyebaran pembaruan Islam di Nusantara sepanjang abad ke-17 dan ke18 tidak lantas berarti bahwa Atradisi kecilAy Islam di bagian Dunia Islam ini menjadi sepenuhnya sesuai dengan Autradisi besarAy. Berbagai bentuk keyakinan dan praktik-praktik yang tidak Islami terus mencengkram segmen tertentu kaum Muslim. Dan ini merupakan alasan penting bagi kelanjutan usaha untuk memperbaharui kembali keyakinan dan praktik kaum Muslim pada periode selanjutnya (Nasution, 2. Peranan ulama dan martabatnya lantas lebih naik lagi di mata masyarakat. Mereka juga semakin terlibat jauh dalam birokrasi pemerintahan dan ikut menentukan kebijakan politik. Tidaklah mengejutkan apabila pusat-pusat kekuasaan Islam yang telah terrsebar luas di Nusantara pada abad ke-18 M berlomba-lomba melahirkan ulama-ulama terkemuka di bidang fiqih dan syariah. Contoh terbaik ialah Abdul Samad al-Falimbangi. Arsyad al-Banjari. Daud al-Fatani. Nawawi al-Bantani, 1479 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dan lain-lain. Mereka adalah ahli tasawuf, tetapi cenderung menekankan signifikansi syariah dan fiqih (Fikri, 2. AoAbd al Shamad al-Palimbani memantapkan kariernya di Haramayn dan tidak kembali ke Nusantara. Di Haramayn al-Palimbani satu komunitas dengan ulama Jawa Sehingga beliau tetap tanggap dengan perkembangan sosio-religius dan politik di Nusantara (Arsyad, 2. Di antara guru al-Palimbani yang menjadi tokoh utama jaringan ulama abad 18 adalah Ibrahim al-RaAois. Guru lainnya adalah Muhammad Murad. Muhammad al-Jawhari dan AthaAoAllah al-Azhari. Adapun tarekat al-Palimbani adalah tarekat Sammaniyah. Al Palimbani ulama penting dalam jaringan di abad 18. Dalam karya-karyanya al Palimbani tidak hanya mnyebarkan ajaran neosufisme tetapi juga menghimbau kaum muslimin untuk jihad melawan orangorang eropa (Rijal, 2. Sebagai seorang ulama sufi, ajaran tasawuf al-Palimbani merupakan gabungan ajaran wahdatul wujud . lam tidak berwujud dan yang berwujud hanya Tuha. dari Ibnu Arabi dan ajaran tasawuf al-Gazali. Dalam pandangannya, manusia sempurna . nsan kami. adalah manusia yang memandang hakikat Tuhan dalam fenomena alam. Sehingga, mampu memandang Allah SWT sebagai wujud yang mutlak (Pramasto, 2020. Muhammad Asryad al-Banjari. Pada abad ke-18 ulama penting dalam jaringan sekaligus pendiri pertama lembaga-lembaga Islam dan memperkenalkan gagasangagasan keagamaan baru di Kalimantan (Imawan, 2. Muhammad Arsyad belajar bersama al Palimbani. Di antara guru beliau yang terkenal adalah al-Sammani, alDamanhuri. Sulayman al-Kurdi. Sehingga al-Banjari menjadi ulama yang bertanggung jawab atas berkembangnya tarekat Samaniyyah di Kalimantan selatan. Sekembalinya dari Haramayn, al-Banjari mendirikan lembaga pendidikan Islam, memperbaharui admisistrasi keadilan di Kesultanan Banjar dan membangun pengadilan islam terpisah untuk mengurusi berbagai masalah hukum sipil murni. Memperkenalkan jabatan mufti yang bertanggung jawab dalam mengeluarkan fatwa-fatwa atas masalah agama. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari banyak melakukan reformasi di perkotaan, khususnya di Banjarmasin dan Martapura. Sebagai mufti, ia melakukan banyak pembenahan dari segi materi, seperti penentuan arah kiblat beberapa masjid di Batavia (Sani, 2. Tidak seperti rekannya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, ia memusatkan usaha pekerjaanya atau dakwanya di daerah terpencil seperti Kalua. Dia melakukan banyak reformasi dalam ideologi, pendidikan, sastra dan sebagainya (Mochammad Harun Rosyid, 2. Ulama lainnya di Kalimantan yang membawa peranan penting adalah Muhammad Nafis. Seorang ahli dalam bidang tasawuf, dikenal sebagai ulama sufi dengan karyanya al-Durr al-Nafis fi Bayan Wahdat al-AfAoal al-AsmaAo wa al-Shifat wa alDzat al-Taqdis, al-Durr al-Nafis fi Bayan Wahdat al-AfAoal al-AsmaAo wa al-Shifat wa alDzat al-Taqdis, yang beredar luas di Nusantara. Ia Lahir 1148/1735 di Martapura dari keluarga bangsawan yang kemudian belajar di Haramayn. Di antara gurunya adalah al Sammani. Muhammad al-Jawhari dan beliau merupakan kawan dekat alPalimbani. Muhammad Nafis terkategori sebagai ulama penganut madzab syafiAoi 1480 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dengan teologi AsyAoaryah. Sekembalinya dari Haramayn Muhammad Nafis konsen pada penyebaran Islam di pedalaman Kalimantan Selatan (Zarkasyi, 2. Ulama Patani yang terlibat dalam jaringan ulama Nusantara salah satunya adalah Dawud bin AoAbd Allah bin Idris al Fatani (Sharifuddin et al. , 2. Dia mempunyai koneksi dalam jaringan ulama pada abad ke-18 melalui guru-gurunya dan di Haramayn dia bergabung dengan kalangan murid Jawi yang sudah ada disana, seperti Muhammad Shalih bin Abd al-Rahman al-Fatani. Ali bin Ishaq al-Fatani, alPalimbani. Muhammad Arsyad. Abd al-Wahhab al-Bugisi. Abd al-Batawi, dan Muhammad al-Nafis Al-Fatani juga murid lulusan Haramayn. Al-Fatani adalah ulama yang produktif, ada sekitar 57 buku karya beliau yang membahas semua disiplin Islam. Dari ulama-ulama yang telah disebutkan nampak bahwa jaringan ulama Timur Tengah dan Melayu Nusantara terus menggapai momentum. Peredaran tulisan mereka medorong meluasnya pembaharuan Islam di Melayu Nusantara (Sharifuddin et al. , 2. Komponen penting lain dalam pembentukan otoritas ulamaAo adalah sufisme, yang menjadi unsur penting pendidikan pesantren pada abad ke-18. Sufisme menghasilkan praktik dan gagasan keagamaan yang mengakui ulamaAo sebagai seorang yang mempunyai kedudukan sangat terhormat. Ketaatan total pada guru . merupakan salah satu karakteristik ajaran sufi, yang menjadikan ulamaAo sebagai -selain guru agama- pembimbing spiritual bagi para muridnya . ara santr. untuk menapaki dan menyingkap pengalamanpengalaman spritual. Dengan demikian, situasi sosial dan kultural yang telah dibangun oleh para ulamaAo yaitu dalam bentuk pesantren, membuat mereka mempunyai peran penting selain guru agama yang memperkuat religiusitas umat Muslim, melainkan juga sebagai bagian dari elit pedesaan yang ikut serta dalam perkara sosial-politik masyarakat (Fazlurrahman. Karena peran yang dimainkannya itu pula, menjadikan mereka terlibat dalam kemunculan sentimen anti-kolonial di beberapa daerah Nusantara. Islam berorientasi shariat, merupakan kecenderungan intelektual pada abad ke- 17 dan 18, akan semakin menguat nantinya pada abad-abad berikutnya (Husda, 2. Dengan perkembangan tersebut, salah satu aspek utama Islam berorientasi syariat ialah aktivisme yang tumbuh mewarnai kajia keilmuan di kala itu, hal ini ditandai dengan memperlihatkan meningkatnya perhatian terhadap perlunya pembaharuan sosio-moral umat Muslim. Dengan aktivisme ini. Islam berorientasi shariat mengambil bentuk gerakan protes melawan stabilitas politik yang sedang ditegakkan pemerintah kolonial di Nusantara, sedang Haramain (Makka. dianggap oleh Belanda sebagai sumber inspirasi bagi aktivisme anti-kolonial. Alasan di balik kesimpulan Belanda tentang Makkah tersebut bukan tanpa landasan. Pada akhir abad ke- 18. Makkah merupakan pusat gerakan puritan Wahabi. Gerakan Wahabi menjadi wadah intelektual dan politik Islam di Makkah, dan lebih penting lagi, mengilhami munculnya apa yang disebut sebagai gerakan reformis Islam pra-modern. Salah satu ciri yang paling terlihat pada gerakan ini adalah penerapan shariat yang tegas, bahkan cenderung radikal. Hal ini sebagian terpengaruh oleh ide-ide keagamaan ibn 1481 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Taimiyah . , dan bersekutu dengan Dinasti Saud di Najd, yaitu pemimpin dari gerakan tersebut ialah Muhammad ibn Abd al-Wahhab . - pemimpin gerakan Wahhabi- dengan melancarkan pembaharuan yang menyerukan kembali pada Islam yang benar, didasarkan pada dua sumber asli ajaran Islam . l-QurAoan dan Hadi. , melalui keduanya rekronstruksi masyarakat Muslim diperkirakan (Ritonga. Walaupun dengan artikulasi yang berbeda. Wahhabi mengilhami gerakan serupa di beberapa wilayah Muslim di Nusantara. Perang Padri di Sumatera Barat . , merupakan contoh paling terkenal. Gerakan ini muncul saat tiga ulamaAo Minangkabau kembali dari Makkah pada tahun 1803, diantara mereka yaitu Haji Miskin. Haji Sumantik dan Haji Piobang. Sesudah ketiga ulamaAo ini bersentuhan dengan Wahhabi di Makkah mereka kembali dengan menyerukan semangat AupembaharuanAy di daerah Minangkabau yang nampaknya sudah di dahului atau diprakarsai oleh ulamaAo sufi dari tarekat Shattariyah terhadap golongan adat (Luthfi. Sehingga hal ini mendapatkan respon dari Tuanku Nan Tuo . , ialah pemimpin semua ulamaAo Minangkabau pada kala itu, dan telah memberikan dasar akan upaya penerapan shariat dalam kehidupan sosio-religius kaum Muslim. Selain itu, adanya usaha untuk menghidupkan kembali ajaran-ajaran neosufism ulamaAo Aceh abad ke- 17. Abd al-RaAouf al-Sinkili yang menjadi muara genealogi intelektualnya. Dengan demikian perubahan yang dilakukan oleh Tuanku Nan Tuo mengalami percepatan, lebih jauh lagi tiga ulamaAo tersebut mengubahnya menjadi perang sipil dalam masyarakat Muslim Minangkabau. Lalu, berkembang menjadi perang melawan Belanda. Sebab Belanda kemudian memberikan bantuan atau suaka kepada para kaum adat . yang menjadi fokus perubahan Islam oleh kaum Padri (HERDI. Selain itu, untuk mengetahui lagi lebih dalam seberapa besar pengaruh pemikiran ulama-ulama dan cendekiawan sufi terhadap kebudayaan di abad ke-18, sangat banyak contoh bisa diberikan. Dalam wilayah politik dan ketatanegaraan, konsep seperti raja adil raja disembah, raja sebagai ulil albab dan lain-lain dapat dicari sumbernya dalam kitab Taj al-Salatin. Bustan alSalatin, dan lain-lain. Begitu pula konsep seperti Dar al-Salam yang digunakan oleh raja-raja Nusantara untuk menyebut nama negerinya seperti Samudra Dar alSalam. Aceh Dar al-Salam. Brunei Dar al-Salam, dan lain-lain, bersumber dari kitab-kitab sejenis. Begitu juga sebutan raja-raja Melayu seperti Syah dan Sultan, dan gelarnya seperti Khalifah Allah di muka Gelar serupa digunakan pula oleh raja-raja Jawa seperti Sultan Agung. Amangkurat IV. Hamengkubawana, bahkan juga Pangeran Diponegoro, dengan berbagai tambahan (Meerangani, 2. Salah satu konsep penting dalam tasawuf yang demikian mempengaruhi pandangan hidup dan gambaran dunia (Weltanschaun. orang Melayu dan masyarakat Muslim Nusantara lain ialah konsep faqir atau dagang. Konsep ini djelaskan secara rinci mula-mula oleh Hamzah Fansuri dan penulis kitab Taj salatin (Fauziah, 2. Dijelaskan bahwa walaupun dunia ini merupakan tempat 1482 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1470-1486 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. persinggahan sementara bagi manusia, namun tidak berarti bahwa kehidupan atau dunia ini tidak penting. Dunia menjadi penting karena di sini seseorang harus mengumpulkan bekal sebanyakbanyaknya agar bisa pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Bekal yang dimaksud ialah amal saleh dan amal ibadah (Aziz, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Proses masuk dan menyebarnya peradaban Islam ke Dunia Melayu, yaitu melalui proses perdagangan, perkawinan, politik dan lain-lain. Kedatangan Islam ke alam melayu dan Peranan peradaban Islam memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan dunia Melayu. Pesatnya perkembangan Islam di tanah nusantara pada abad ke-18 dipengaruhi oleh ulamaulama yang belajar dari tanah haramian dan pulang membangun Islam dengan pemikiran-pemikiran serta karya yang membawa masyarakat mengenal Islam lebih peran ulama Nusantara dalam kegiatan dakwah menyebarkan agama Islam juga dilakukan secara individu-individu mengikuti asal wilayah ulama, usaha-usaha dakwah yang telah dilakukan dengan meng-Islam-kan para raja dan Sultan serta mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat dan ada pula yang berdakwah dengan mendidik para kader calon ulama serta menulis buku yang menjadi rujukan bagi umat Islam di dunia maupun di Nusantara. Pembaruan Islam di Nusantara pada abad ke-18 membawa ciri penyebaran neo sufime. Adapun karakteristik penting lainnya dari wacana ilmiah dalam jaringan ulama adalah telaah hadis dan tarekat. Ajaran-ajaran tarekat yang menekankan kesetiaan dan kepatuhan kepada guru memberikan kekuatan tambahan kepada jaringan ulama. Pembaruan yang dilakukan ulama Melayu Nusantara adalah penyebaran neo-sufisme di Nusantara. Disebut neo-sufisme karena ajaran-ajaran yang diberikan oleh para ulama itu adalah mengajak umat Islam untuk menaati Allah SWT secara totalitas, dengan praktek-praktek ibadah yang taat tetapi tidak meninggalkan urusan dunia. DAFTAR PUSTAKA