Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 127-136 Relasi Motif Kain Lurik Jawa dan Makna Spiritualitasnya: Kajian Filosofis. Sosiologis, dan Fenomenologis Lestari Purwaningsih Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. IKIP Siliwangi Email: lestaripurwaning120375@gmail. Abstract Batik is a global cultural heritage of the Indonesian nation. Various kinds of Indonesian batik motifs, one of which is the Javanese Lurik Motif. In Philosophical-SociologicalPhenomenological Studies. Lurik Motives are very close to the human life cycle. Using a critical discourse analysis approach. Philosophical-Sociological-Phenomenological studies, this paper describes the relationship between the Javanese Lurik Motifs and their spiritual meanings. Javanese lurik motifs have different meanings and uses in every traditional ceremony in society. It is hoped that this writing will be able to awaken the nationalism and love of the younger generation for Javanese Lurik Batik Motifs, their preservation in the future and increase our piety to the Creator. God Almighty. Keywords: Java. Lurik. Motif. Spiritual Abstrak Batik merupakan warisan budaya Bangsa Indonesia yang mendunia. Berbagai ragam motif batik nusantara, salah satunya adalah Motif Lurik Jawa. Dalam Kajian FilosofisSosiologis-Fenomenologis Motif Lurik sangat dekat dengan daur hidup manusia. Dengan pendekatan analisis wacana kritis, kajian Filosofis-SosiologisFenomenologis, tulisan ini menjelaskan tentang relasi Motif Kain Lurik Jawa serta makna spiritualitasnya. Motif Lurik Jawa mempunyai arti dan pemakaian yang berbeda-beda dalam setiap Upacara Adat di masyarakat. Diharapkan melalui tulisan ini mampu membangkitkan nasionalisme dan kecintaan generasi muda terhadap Batik Motif Lurik Jawa, pelestariannya di masa yang akan datang serta menambah ketakwaan kita kepada Sang Pencipta. Tuhan Yang Maha Esa. Kata kunci: Jawa. Lurik. Motif. Spiritual Received Oktober 28, 2022. Revised November 17, 2022. Desember 07, 2022 * Lestari Purwaningsih, lestaripurwaning120375@gmail. Relasi Motif Kain Lurik Jawa dan Makna Spiritualitasnya: Kajian Filosofis. Sosiologis, dan Fenomenologis PENDAHULUAN Keberadaan Batik Motif Lurik Jawa semakin terancam akibat industri tekstil yang lebih mudah, murah dan gaya mode masa kini. Lurik bukan hanya selembar kain tenun, namun memiliki makna-makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Bagi masyarakat Jawa, lurik mengiringi perjalanan kehidupan. Sayangnya keberadaan Lurik di beberapa daerah mengalami kemunduran dalam berproduksi, regenerasi penenun yang hampir punah, kesulitan pemasaran dan minimnya desain sehingga kurang menarik dan kurang diminati dan/atau dipakai generasi muda. Keberagaman motif lurik Jawa yang mempunyai makna filosofis-sosiologisfenomenologis perlu diperkenalkan secara masif pada generasi muda. Bila dunia internasional mengakui betapa adiluhungnya Batif Motif Lurik Jawa sebagai karya cipta unggulan, tidak ada alasan bagi kita bangsa Indonesia untuk tidak mengenali, memahami bahkan memakai Batik Motif Lurik Jawa dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan berTuhan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian yang dilakukan adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran atau deskriptif tentang keadaan secara obyektif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah yang digunakan adalah teknik dokumen dengan proses pengumpulan tinjauan literatur, yaitu pengkajian secara kritis terhadap suatu wacana dan kajian Batik Motif Lurik Jawa. Pada bagian pertama akan dibahas Latar Belakang penelitian, bagian kedua metode penelitian. Bagian ketiga hasil yakni, bahasan makna spiritualitas, makna yang tersirat pada Motif Lurik Jawa. Kajian Filosofis-Sosiologis- Fenomenologis serta bagian keempat yakni, relasi Motif Lurik Jawa dengan Kajian Filosofis-SosiologisFenomenologis. CONCEPT - VOLUME 1. NO. DESEMBER 2022 Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 127-136 HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Motif Lurik Jawa Lurik merupakan kain tenun dengan motif garis. Motif ini dituangkan pada kain yang diproduksi antara lain di wilayah Jawa, yakni: Yogyakarta. Klaten. Jepara, dan Tuban. Kata AuLurikAy berasal dari Jawa kuno, yaitu AulorekAy yang berarti lajur, garis atau Lurik dapat pula berarti corak. Kata Lurik berasal dari akar kata rik, yang artinya garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia . Lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalur, sedangkan Kamus Lengkap Bahasa Jawa disebutkan bahwa lurik adalah corak lirik-lirik atau lorek-lorek, yang berarti garis-garis dalam Bahasa Indonesia. Lurik bernilai filosofis tinggi. Menurut Wahyono, kain lurik ialah kain tenunan yang hiasannya berupa garis membujur, melintang atau kombinasi antara keduanya. Kain Lurik tradisional di Jawa . aerah Solo dan Yogyakart. , antara lain berbentuk Jarik atau kain panjang. Kain Sarung. Kain ciut . berupa selendang dan kemben serta bakal klambi . ahan baj. Beberapa Motif/Corak Lurik Jawa, arti dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya, sebagai berikut: Corak Kluwung Corak Kluwung artinya pelangi, beranggapan pelangi merupakan keajaiban alam dan ciptaan serta tanda kebesaran Tuhan. Corak ini dianggap sakral dan mempunyai tuah untuk tolak bala seperti Upacara Mitoni, menyelimuti anak, di bawah bantal kerobong pengantin. Upacara Labuhan dan Upacara Ruwatan. Motif Lurik luwung Relasi Motif Kain Lurik Jawa dan Makna Spiritualitasnya: Kajian Filosofis. Sosiologis, dan Fenomenologis Corak Kijing Miring Corak Kijing Miring ini bermakna bahwa hidup ini suatu saat akan berakhir. Motif Kijing Miring Corak Konang Sekebon Corak Konang Sekebon melambangkan keindahan. Orang Jawa sering menyebut kunang-kunang yang beterbangan di malam hari dan bersinar mengeluarkan cahayanya sebagai bunganya orang mati. Corak Dengklung Corak Dengklung diartikan orang yang teramat tua, tidak berdaya dan tidak bertenaga tetapi sarat ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Corak Sulur Ringin Corak Sulur Ringin berarti akar pohon Beringin yang juga melambangkan bahwa Pohon Beringin lambang pengayoman, manunggaling kawula lan Gusti. Corak Kacang Gleyor Corak Kacang Gleyor yakni motif kacang panjang utuh yang melambangkan manusia selalu berpikir panjang sebelum bertindak. CONCEPT - VOLUME 1. NO. DESEMBER 2022 Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 127-136 Corak Kacang Gleyor Corak Kantil Corak Kantil mempunyai makna selalu ingat di manapun berada atau tetap mempunyai hubungan yang erat walaupun alamnya sudah berbeda. Corak Kantil Corak Rangkung Corak Rangkung menggambarkan orang yang berjiwa besar artinya orang yang mampu mengontrol dirinya untuk selalu berbuat yang terbaik dalam Corak Rangkung Relasi Motif Kain Lurik Jawa dan Makna Spiritualitasnya: Kajian Filosofis. Sosiologis, dan Fenomenologis Makna Spiritualitas Spiritualitas sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Spiritualitas secara terminologis, berasal dari kata AuspiritAy. Dalam literatur agama dan spiritualitas, istilah spirit memiliki dua makna substansial, yaitu: Karakter dan inti dari jiwa-jiwa manusia, yang masing-masing saling berkaitan, serta pengalaman dari keterkaitan jiwa-jiwa tersebut yang merupakan dasar utama dari keyakinan spiritual. AuSpiritAy merupakan bagian terdalam dari jiwa, dan sebagai alat komunikasi atau sarana yang memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan. AuSpiritAy mengacu pada konsep bahwa semua AuspiritAy yang saling berkaitan merupakan bagian dari sebuah kesatuan. onsciousness and intellec. yang lebih besar . ttp://w. Menurut kamus Webster . kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin AuSpiritusAy yang berarti nafas . dan kata kerja AuSpirareAy yang berarti Melihat asal katanya , untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Spiritualitas merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang . alam Tamami, 2011:. Dalam pemakaian sehari-hari, kata makna digunakan dalam berbagai bidang maupun konteks pembicaraan. Apakah pengertian khusus kata makna tersebut serta perbedaannya dengan ide, misalnya, tidak begitu diperhatikan. Sebab itu, sudah sewajarnya bila makna juga dijajarkan pengertiannya dengan arti. Berbagai pengertian itu begitu saja disejajarkan dengan kata makna karena keberadaannya memang tidak pernah dikenali secara cermat dan dipilahkan secara tepat. Kata makna sebagian istilah mengacu pada pengertian yang sangat luas. Sebab itu, tidak mengherankan bila Ogden dan Richard dalam bukunya. The Meaning of Meaning . 2:186-. , mendaftar enam belas rumusan pengertian makna yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang CONCEPT - VOLUME 1. NO. DESEMBER 2022 Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 127-136 Adapun batasannya adalah makna sebagai hubungan antara bahasa dengan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling dimengerti . Grice, 1957 dalam Fiske, 2004 : . Dari gagasan batasan pengertian tersebut itu dapat diketahui adanya tiga unsur produk yang tercangkup didalamnya, yakni, makna adalah hubungan antara bahasa dengan dunia luar, penentuan hubungan terjadi karena kesepakatan para pemakai, perwujudan makna itu dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga dapat saling dimengerti. Bagaimana hubungan antara makna dan dunia luar? Dalam hal ini terdapat tiga pandangan filosofis yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Ketiga pandangan itu adalah . Realisme . Nominalisme . Konseptualisme. Realisme beranggapan bahwa terdapat wujud dunia luar, manusia selalu memiliki jalan pikiran tertentu. Terhadap dunia luar, manusia selalu memberikan gagasan tertentu. Sebab itu, pemaknaan antara Aumakna kataAy dengan Auwujud yang dimaknaiAy selalu memiliki hubungan yang hakiki (Fiske, 2004 : . onsciousness and intellec. yang lebih besar http://w. Dari sekian banyak jenis kain yang terdapat di Indonesia, salah satu yang sangat menarik adalah kain tenun Lurik. Dibalik kesederhanaan tampilan maupun dalam cara pembuatan, ternyata memiliki nilai luhur dan sarat makna. Berbagai kain tenun Lurik di Indonesia tidak hanya sebagai pakaian penutup saja. Namun lebih dari itu, kain tenun Lurik ini sering dikaitkan dengan berbagai makna simbolik kepercayaan serta ikut mengiringi berbagai upacara keagamaan, ritual dan adat. Tenun Lurik dengan beragam coraknya dianggap memiliki nilai sakral dan dapat memberi tuah, ada pula yang mensiratkan nasehat, petunjuk, dan harapan. Filosofi dan makna sehelai Lurik biasanya tercermin dalam corak/motif dan warna kain tenun Lurik tersebut. Ada corak-corak yang dianggap sakral yang memberi nilai tuah, ada yang memiliki nilai nasehat, petunjuk dan juga harapan. Seperti daur kehidupan manusia mulai dari lahir hingga saat meninggal, diibaratkan dengan putaran empat penjuru mata angin yang bergerak dari timur ke selatan dengan melalui barat menuju ke utara. Keempat penjuru mata angin ini dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah AomancapatAo. Lurik juga tidak terlepas dari berbagai mitos yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun dalam Relasi Motif Kain Lurik Jawa dan Makna Spiritualitasnya: Kajian Filosofis. Sosiologis, dan Fenomenologis kelompok masyarakat. Berbagai unsur seperti warna, motif, dan kepercayaan yang menyertainya membuat nilai sebuah Lurik kian menjadi tinggi. Penggunaan kain tenun Lurik terutama di daerah Solo dan Yogya, umumnya dipakai dalam penyelenggaraan upacara tertentu, dan juga memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung dari maksud dan tujuan upacara yang diselenggarakan. (Suprayitno. Inda Ariesta, 2. Kajian Filosofis-Sosiologis-Fenomenologi Kajian Filosofis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kajian dengan menggunakan akal budi seperti filusuf, mengenai hakikat tentang segala yang ada, sebab, asal dan hukum itu sendiri. Kajian Sosiologis adalah kajian tentang masyarakat, sehingga dari masyarakat muncul berbagai macam fenomena dan gejala yang dikaji dalam sosiologi. Kajian Fenomenologi adalah kajian tentang pengalaman hidup seseorang atau metode untuk mempelajari bagaimana individu secara subjektif merasakan pengalaman dan memberikan makna dari fenomena tersebut. Relasi Motif Lurik Jawa dengan Kajian Filosofis-Sosiologis-Fenomenologis Berdasarkan bahasan berbagai motif Lurik Jawa, 8 . corak motif yakni: Corak (Kluwung. Kijing Miring. Konang Sekebon. Dengklung. Sulur Ringin. Kacang Gleyor. Kantil dan Rangkun. yang masing-masing corak mempunyai makna dan/ atau arti yang dapat dipikirkan melalui akal budi serta wujud motifnya. Masyarakat Jawa khususnya masih menjaga makna dari Motif Lurik dan pemakaiannya sangatlah dekat dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat dan upacara adat yang menyertainya. Selain itu, dari sisi fenomenologi masyarakat Jawa mempunyai pandangan tentang Motif Lurik, makna serta waktu yang tepat dalam pemakaian Motif Lurik Jawa dalam berbagai momentum dan/upacara adat. CONCEPT - VOLUME 1. NO. DESEMBER 2022 Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 127-136 SIMPULAN Batik merupakan warisan budaya Bangsa Indonesia, bahkan Batik kita ditambahkan ke daftar Warisan Budaya Tak benda Kemanusiaan UNESCO pada tahun 2009, dan telah diakui secara internasional sebagai jalinan sejarah peradaban manusia. Batik di Indonesia mempunyai motif beragam di seluruh wilayah Nusantara. Salah satunya adalah Motif Lurik Jawa. Beberapa kriteria warisan budaya tak benda Indonesia dalam daftar UNESCO adalah memiliki kekhasan dari suatu suku bangsa, memiliki tujuan untuk melestarikan alam, lingkungan, memiliki manfaat untuk manusia dan makhluk hidup lainnya, berkontribusi dalam sosial dan budaya, menjadi sarana pembangunan yang berkelanjutan, tersebar di beberapa daerah dan mewakili suatu provinsi, dikelola oleh beberapa komunitas tertentu, dan sudah diwariskan lebih dari satu generasi (Ramadhani. Asri Kamila dkk, 2. Motif Lurik Jawa dari bahasan di atas, mengandung makna spiritualitas antara manusia dengan Tuhannya. Bahkan Motif Lurik ini sangat dekat dengan daur hidup kehidupan masyarakat kita, dimulai dari berbagai aspek yang ada, yakni: Upacara Adat Siraman. Mitoni. Selamatan maupun pakaian Prajurit. Dalam Kajian FilosofisFenomenologis. Motif Kain Lurik ini dapat dijadikan pencerahan perwujudan hasil karya bangsa Indonesia yang sarat makna serta kedekatan hubungan antara manusia, alam dan Sang Pencipta. Jika pepatah mengatakan Tak Kenal Maka Tak Sayang, maka sudah sepantasnya generasi muda Indonesia mencintai dan melestarikan budaya bangsa dengan cara memahami makna spiritualitas dan makna-makna agung lainnya yang tersirat pada Motif Lurik Jawa, sehingga tidak hanya bangga dapat memakai Motif Lurik saja namun semakin menambah kecintaan hamba kepada Sang Pencipta. Tuhan Yang Maha Esa. Relasi Motif Kain Lurik Jawa dan Makna Spiritualitasnya: Kajian Filosofis. Sosiologis, dan Fenomenologis DAFTAR PUSTAKA