Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 GAMBARAN MORFOLOGI ERITROSIT PENDERITA MALARIA DI PUSKESMAS HAMADI KOTA JAYAPURA PAPUA TAHUN 2023 Fajar Bakti Kurniawan1. Meidy J. Imbiri1. Asrori1. Yulianus Wima Krisna Alfreda1. Rudolfo Tubalawony1. Asrianto1 Jurusan Teknologi Laboratorium Medis. Poltekkes Jayapura. Indonesia Info Artikel: Disubmit: 18-10-2023 Direvisi: 27-05-2024 Diterima: 26-06-2024 Dipublikasi: 30-06-2024 ABSTRAK Malaria adalah penyakit akut atau kronis yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyebabkan demam, anemia, dan splenomegali. Hiperlisis sel darah merah yang terjadi pada pasien malaria menyebabkan anemia. Tujuan penelitian ini Penulis Korespondensi: adalah mengamati ukuran, warna, dan bentuk eritrosit penderita Email: Penelitian ini merupakan studi deskriptif crossfajar_kurniawan10@yahoo. id sectional. Penelitian dilakukan di Puskesmas Hamadi dan Laboratorium Mikrobiologi Politeknik Kesehatan Kementerian Kata kunci: Kesehatan di Jayapura. Sebanyak 100 sampel dipilih secara Anemia. Malaria. Morfologi accidental sampling untuk pemeriksaan malaria. Sampel darah Eritrosit. Plasmodium diambil melalui pembuluh darah kapiler dan dibuat sediaan darah tebal dan tipis dengan pewarnaan Giemsa 3%. Hasil DOI: 10. 47539/gk. penelitian menunjukkan 48 pasien positif malaria dengan jenis parasit antara lain Plasmodium vivax . %). Plasmodium falcifarum . %) dan Plasmodium malariae . %). Pemeriksaan morfologi eritrosit dari 48 sampel positif malaria memperlihatkan 46 sampel . %) memiliki ukuran normositer, 40 sampel . %) berwarna hipokrom, dan sebagian besar berbentuk akantosit . %) dan sel target . %). Hasil penelitian menyiratkan bahwa penderita malaria di Puskesmas Hamadi sebagian besar mengalami perubahan morfologi eritrosit pada warna . dan bentuk . kantosit dan sel targe. , namun tidak pada ukurannya. Perubahan bentuk eritrosit . kantosit dan sel targe. mungkin terkait dengan kondisi kesehatan lain atau komplikasi yang mungkin terjadi. ABSTRACT Malaria is an acute or chronic disease caused by the Plasmodium parasite, which leads to fever, anemia, and splenomegaly. The hydrolysis of red blood cells in malaria patients results in anemia. This study aims to observe malaria patients' erythrocyte size, color, and shape. It is a cross-sectional descriptive study conducted at the Hamadi Community Health Center and the Microbiology Laboratory of the Health Polytechnic Ministry of Health in Jayapura. A total of 100 samples were selected through accidental sampling for malaria examination. Blood samples were taken from capillary blood vessels and prepared as thick and thin blood smears stained with 3% Giemsa. The results showed that 48 patients tested positive for malaria with the following parasite distribution: Plasmodium vivax . %). Plasmodium falciparum . %), and Plasmodium malariae . %). The examination of erythrocyte morphology in 48 positive malaria samples revealed that 46 samples . %) had normocytic size, 40 samples . %) were hypochromic, and most were acanthocytes . %) and target cells . %). The findings suggest that malaria patients at the Hamadi Community Health Center predominantly experience changes in erythrocyte morphology in terms of color . but not size. The observed changes in erythrocyte shape . canthocytes and target cell. may be associated with other health conditions or potential complications. Keywords: Anemia. Erythrocyte Morphology. Malaria. Plasmodium Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 PENDAHULUAN Malaria merupakan penyakit menular akut atau kronis yang disebabkan oleh infeksi Plasmodium yang menyerang eritrosit . el darah mera. dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam Penderita malaria akan mengalami gejala demam, menggigil, anemia, dan pembesaran limpa beberapa hari setelah terinfeksi parasit (Roach et al. , 2012. Zaman et al. , 2. Terdapat empat jenis Plasmodium yang menyerang sel darah merah, yaitu P. malariae, dan P. (Nugroho, 2. Berdasarkan data World Health Organization (WHO, 2. angka kematian akibat malaria di wilayah Asia Tenggara mengalami penurunan dari tahun 2000Ae2022 sebesar 77%. Namun, angka kejadian malaria di Indonesia terbilang masih sangat tinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan 2022 terdapat 443. 530 kasus positif malaria yang terkonsentrasi di Provinsi Papua sebanyak 89%. Secara lebih terperinci, data Dinas Kesehatan Papua pada tahun 2023 mengungkapkan kasus malaria tertinggi di Kabupaten Mimika sebesar 184. 856 kasus, disusul Kota Jayapura 67. 874 kasus dan Kabupaten Jayapura 53. 951 kasus, sedangkan yang terendah terjadi di Kabupaten Sarmi sebanyak 454 kasus (Madayanti et al. , 2. Tingginya kejadian kasus malaria di Kabupaten Jayapura dikarenakan topografinya yang bervariasi, mulai dari rawa, dataran, hingga perbukitan/ pegunungan. Keadaan lingkungan yang banyak pepohonan, semak, kolam, dan parit, memungkinkan terjadinya pertumbuhan populasi vektor Anopheles sehingga mengakibatkan penularan penyakit malaria menjadi cepat. Selain itu, kondisi rumah dengan desain rumah panggung/ semi permanen berlantai dan berdinding papan memungkinkan terjadinya kontak antara nyamuk malaria dengan penghuninya (Madayanti et al. , 2. Diagnosis malaria dapat ditegakkan dengan berbagai macam tes seperti pemeriksaan imunoserologi, identifikasi antigen spesifik, deteksi antibodi, dan pemeriksaan DNA. Namun untuk dapat mengidentifikasi parasit Plasmodium dalam darah digunakan pemeriksaan mikroskopis sebagai standar emas (Wempi, 2. Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tipis dapat jelas terlihat morfologi Plasmodium dibandingkan sediaan darah tebal (Ritung et al. , 2. Sel darah merah yang terinfeksi parasit Plasmodium dapat mengakibatkan terjadinya penurunan hemoglobin yang berdampak pada terjadinya anemia. Malaria dapat terjadi dengan atau tanpa konsekuensi dalam beberapa keadaan. Komplikasi yang dapat ditimbulkan akibat anemia berat dikarenakan lisisnya sel darah merah yang terinfeksi secara langsung, penghancuran berlebihan eritrosit pembawa parasit, atau tingginya kepadatan parasit yang menginfeksi (Kahar et al. , 2. Penelitian ini bertujuan mengamati morfologi eritrosit . kuran, warna dan bentu. penderita malaria dengan menggunakan metode pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tipis di Puskesmas Hamadi Kota Jayapura tahun 2023. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2023. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 orang penderita malaria di Puskesmas Hamadi Kota Jayapura yang dipilih menggunakan teknik accidental Prosedur pemeriksaan yaitu dengan melakukan pengambilan darah melalui pembuluh darah kapiler, lalu dibuat dalam sediaan darah tebal dan tipis. Sediaan darah tipis difiksasi menggunakan metanol untuk mencegah lisisnya sel darah merah pada apusan. Sediaan tersebut diwarnai menggunakan pewarna Giemsa 3% yang dibuat dengan mencampurkan Giemsa stok 0,3 ml dan 9,7 ml larutan Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Poltekkes Jayapura untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya parasit Plasmodium penyebab penyakit malaria. Morfologi eritrosit . kuran, warna, dan bentu. diamati menggunakan mikroskop dengan pembesaran objektif 100x. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik sebagaimana termaktub dalam Surat Keterangan Layak Etik dengan No. 100/KEPK-J/VI 2024. HASIL Hasil pemeriksaan malaria pada 100 sampel darah penderita menunjukkan 48 sampel . %) positif malaria yang ditandai oleh kehadiran parasit Plasmodium (Gambar . Jenis dan persentase sebaran Plasmodium yang ditemukan pada 48 sampel positif malaria tersebut ditunjukkan pada Gambar falcifarum merupakan jenis parasit yang ditemukan paling dominan menginfetasi penderita malaria di Puskesmas Hamadi yakni sebanyak 20 sampel . %), diikuti oleh P. vivax dan P. malariae, masingmasing 17 sampel . %) dan 9 sampel . %). Selain itu, juga ditemukan dua jenis parasit pada sampel yang sama, yaitu P. falcifarum P. vivax sebanyak 2 sampel . %). Positif malaria Negatif malaria Gambar 1. Hasil pemeriksaan malaria Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Jenis Plasmodium falcifarum P. Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Persentase sebaran Gambar 2. Jenis dan sebaran parasit Plasmodium pada sampel apus darah penderita malaria Parasit P. falcifarum dan P. vivax yang teramati pada sediaan darah ditampilkan pada Gambar 3. falcifarum memiliki titik maurer, eritrosit yang terinfeksi berukuran normal. Pada stadium tropozoit, falcifarum memiliki ciri-ciri berukuran kecil sampai sedang, seringkali berjumlah banyak, sering ditemukan berbentuk cincin dan koma, kadang-kadang memiliki dua nukleus, serta sitoplasma teratur dan halus hingga tebal. Stadium lanjut. kadang-kadang ditemukan pada malaria berat, sitoplasma kompak yang terlihat sebagai granula kasar (Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2. Sementara itu. Plasmodium vivax berbentuk cincin dengan satu kromatin dan berkembang menjadi bentuk yang tidak beraturan. Sel darah merah yang terinfeksi akan terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi. Stadium skizon memiliki banyak kromatin yang disertai dengan Pada stadium gametosit, parasit akan berkembang dan berubah padat dengan bentuk menjadi bulat atau lonjong (Febriani et al. , 2. Gambar 3. Jenis parasit Plasmodium pada apus darah penderita malaria: P. falcifarum (A) dan Vivax (B) Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Hasil pemeriksaan morfologi eritrosit . erdasarkan ukura. pasien positif malaria di Puskesmas Hamadi disajikan pada Tabel 1. Ukuran eritrosit yang diamati terdiri dari mikrositer, normositer, dan Secara umum, sebagian besar . memiliki eritrosit normositer atau berukuran normal (Gambar . Hal ini menunjukkan bahwa infeksi dari semua jenis Plasmodium tidak menyebabkan terjadinya abnormalitas ukuran eritrosit yang berarti, meskipun ditemukan juga adanya eritrosit yang berukuran mikrositer dan makrositer, masing-masing 1 sampel pada sediaan darah yang terinfeksi P. Tabel 1 Gambaran morfologi eritrosit berdasarkan ukuran pada penderita malaria Morfologi eritrosit berdasarkan ukuran Jenis Plasmodium Mikrositer Normositer Makrositer falcifarum . = . = . falcifarum P. Gambar 4. Morfologi eritrosit normositer Tabel 2 Gambaran morfologi eritrosit berdasarkan warna pada penderita malaria Morfologi eritrosit berdasarkan warna Jenis Plasmodium Hipokrom Normokrom Hiperkrom falcifarum . = . = . falcifarum P. Hasil pengamatan morfologi eritrosit . erdasarkan warn. penderita malaria di Puskesmas Hamadi dipresentasikan dalam Tabel 2. Warna eritrosit dikategorikan menjadi hipokrom, normokrom, dan hiperkrom. Jumlah besar dari data . menunjukkan bahwa penderita malaria mengalami perubahan warna eritrosit menjadi hipokrom, yaitu keadaan di mana central polar . aerah pucat di tenga. lebih dari 1/3 ukuran eritrosit. Hanya sebagian kecil eritrosit yang berwarna normokrom dan hiperkrom, masing-masing 7 sampel dan 1 sampel secara berturut-turut. Perubahan warna eritrosit Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 menjadi hipokrom mengindikasikan bahwa penderita malaria mengalami penurunan jumlah hemoglobin dalam sel darah merah sehingga tampak pucat atau tidak intens ketika diperiksa di bawah mikroskop. Gambar 5 memperlihatkan perbandingan morfologi eritrosit normokrom dengan eritrosit yang mengalami hipokrom. Gambar 5. Perbandingan morfologi eritrosit berdasarkan warna: Normokrom (A) dan Hipokrom (B) Hasil pemeriksaan morfologi eritrosit . erdasarkan bentu. penderita malaria di Puskesmas Hamadi ditemukan 3 macam bentuk, yaitu akantosit, ovalosit, dan target sel. Bentuk akantosit mendominasi gambaran morfologi eritrosit dengan 28 sampel . %), kemudian disusul oleh sel target 15 sampel . %) dan ovalosit 5 sampel . %). Penemuan bentuk-bentuk tersebut menunjukkan terjadinya perubahan morfologi eritrosit akibat malaria. Temuan ini dijelaskan lebih lanjut pada Gambar 6 dan 7 berikut ini. Jumlah Akantosit Ovalosit Sel target Jumlah Persentase Gambar 6. Hasil pemeriksaan morfologi eritosit berdasarkan bentuk pada penderita malaria Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Gambar 7. Morfologi eritrosit berdasarkan bentuk: sel target (A) dan akantosit (B) BAHASAN Malaria adalah penyakit menular yang ditularkan melalui vektor yang disebabkan oleh parasit protozoa dari genus Plasmodium, terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang Di Papua, malaria masih menjadi masalah kesehatan utama. Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel apusan darah di Puskesmas Hamadi, diketahui 48 dari 100 pasien positif malaria. Tingginya kasus malaria diduga disebabkan oleh kondisi lingkungan yang cocok bagi pertumbuhan Anopheles. Genangan air di sekitar rumah memberi peluang bagi Anopheles untuk meletakkan jentiknya dan berkembang biak dengan baik. Selain itu, keberadaan rawa dan semak-semak juga menjadi tempat hinggap Anopheles yang bersifat eksofilik . inggal di luar ruma. dan eksofagik . enggigit di luar Rawa dan semak-semak juga meningkatkan kelembaban lingkungan yang mana kondisi ini sangat disukai nyamuk untuk beristrahat sekaligus sebagai tempat perindukan nyamuk bila terdapat genangan air yang ternaung semak. Debora et al. menjelaskan bahwa peningkatan kasus malaria disebabkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria, seperti lingkungan fisik, biologi, kimia dan perilaku serta pengetahuan masyarakat. Lingkungan fisik yang memengaruhi antara lain adalah suhu, kelembaban, kerapatan dinding rumah, pengunaan kawat kassa pada ventilasi rumah, adanya parit atau kolam di sekitar rumah dan juga curah hujan. Sementara itu, lingkungan biologi mencakup keberadaan semaksemak dan rawa-rawa. Nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit Plasmodium akan berperan sebagai vektor malaria. Setidaknya ada lima spesies Plasmodium yang diketahui menginfeksi manusia, yaitu P. malariae, dan P. Knowlesi. Analisis spesimen darah yang dikoleksi dari pasien malaria di Puskesmas Hamadi menunjukkan bahwa ada tiga jenis parasit Plasmodium, yaitu P. vivax, dan P. Prevalensi tertinggi ditemukan pada P. falciparum sebesar 20 sampel . %). Kehadiran P. falciparum yang begitu dominan tidak terlepas dari kaitannya dengan gejala klinis yang lebih berat pada pasien malaria. Wahib et al. menyatakan bahwa P. falciparum adalah parasit protozoa yang bertanggung jawab atas bentuk malaria paling parah pada manusia, menimbulkan ancaman kesehatan masyarakat yang signifikan karena tingkat kematiannya yang tinggi dan peningkatan resistensi obat. Secara klinis. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 infeksi P. falciparum merupakan kontributor signifikan terhadap anemia, terutama di daerah di mana malaria endemik (Kaur and Runeja, 2. Di daerah di mana P. falciparum dan P. vivax keduanya hadir dan bahkan secara bersama menginfestasi manusia, sebagaimana yang ditemukan pada dua sampel spesimen darah penderita malaria di Puskesmas Hamadi. falciparum dikaitkan dengan penurunan kadar hemoglobin yang lebih nyata dan insiden anemia berat yang lebih tinggi, terutama pada bayi dan anak kecil (Kenangalem et al. , 2. Sementara itu, meskipun prevalensinya relatif lebih rendah. malariae juga turut berperan dalam menyebabkan anemia, menimbulkan risiko morbiditas dan mortalitas yang serupa dengan infestasi P. falciparum dan P. Vivax (Langford et al. , 2. Siklus hidup malaria pada manusia bermula ketika nyamuk Anopheles betina menggigit manusia, sporozoit dilepaskan ke dalam tubuh dan berkembang menjadi merozoit di jaringan tubuh. Bentuk merozoit masuk ke aliran darah dan menyerang eritrosit normal. Infeksi malaria ini memicu perubahan penting dalam morfologi eritrosit. Hasil pemeriksaan mikroskopis sediaan apus darah penderita malaria di Puskesmas Hamadi menunjukkan terjadinya perubahan pada morfologi eritrosit, terutama warna dan Adapun ukuran eritrosit sebagian besar terlihat masih berbentuk normal . Hal ini diduga pasien malaria terinfeksi Plasmodium dalam waktu yang belum begitu lama sehingga belum menunjukkan adanya perubahan pada ukuran eritrosit. Menurut Vallintine dan van Ooij . , eritrosit mengalami perubahan bentuk menjadi miring dan bengkak terlihat sejak hari ke-10 setelah infeksi Plasmodium. Data penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar . penderita malaria di Puskesmas Hamadi mengalami eritrosit hipokrom, yaitu keadaan yang menggambarkan >1/3 dari besar eritrosit berwarna pucat. Hal ini mungkin berkaitan dengan berkurangnya kadar hemoglobin dalam Sebagaimana yang dinyatakan oleh Miyasaka et al. bahwa eritrosit hipokromik, yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin, berfungsi sebagai fitur menonjol dari eritropoiesis defisiensi besi dan sering terdeteksi dalam kasus anemia yang terkait dengan malaria. Meskipun eritrosit hipokromik terjadi karena malaria, tetapi kondisi ini tidak berkaitan langsung dengan infeksi Plasmodium. Hasil penelitian Miyasaka et al. , . menunjukkan bahwa mencit dba. b6-MHA yang terinfeksi Plasmodium tidak menyebabkan eritrosit hipokromik. Kondisi yang sangat relevan dengan eritrosit hipokromik adalah hemolisis. Dalam kasus malaria, penghancuran langsung sel darah merah terjadi ketika parasit Plasmodium memecah eritrosit yang terinfeksi untuk melepaskan merozoit, menyebabkan hemolisis dan hilangnya sel darah merah yang signifikan (Rupani et al. , 2023. Raja et al. , 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan apusan darah pasien malaria ditemukan bahwa umumnya mereka mengalami kelainan bentuk eritrosit, yaitu akantosit dan sel target. Akantosit eritrosit berbentuk seperti duri tidak beraturan . onjolan panjang seperti pak. yang mengelilingi membran sel dalam kelompok 220, sedangkan sel target eritrosit mempunyai bentuk yang cukup pipih dengan bagian tengah berwarna merah tua, menyerupai target dengan titik fokus pigmen hemoglobin yang dikelilingi daerah pucat (Aliviameita dan Puspitasari, 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Menurut Royo et al. , akantosit dan sel target adalah jenis eritrosit yang berbeda yang dapat diamati dalam berbagai kondisi patologis, termasuk malaria. Walaupun bentuk akantosit ditemukan pada penderita malaria, namun bentuk eritrosit ini tidak memiliki hubungan dengan infeksi Plasmodium. Akantosit hipobetalipoproteinemia yang menunjukkan perubahan metabolisme lipid dan kelainan struktural pada sel darah merah (Sondo et al. , 2. Sebaliknya, bentuk sel target dilaporkan memiliki hubungan tidak langsung dengan malaria, khususnya infeksi Plasmodium. Menurut BirczyEska-Zych et al. , infeksi Plasmodium secara signifikan mengubah sifat struktural dan fungsional membran eritrosit, mempengaruhi bentuk, deformabilitas, dan komposisi Parasit ini menginduksi perubahan pada komposisi lipid dan struktur protein membran eritrosit, yang berpotensi menyebabkan pembentukan sel target. Hubungan tidak langsung lainnya antara produksi sel target dengan infestasi Plasmodium terjadi melalui mekanisme hemolisis yang menyebabkan anemia. Aswal et al. memaparkan bahwa malaria menyebabkan anemia hemolitik, suatu kondisi yang ditandai dengan penghancuran eritrosit oleh parasit dan sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan peningkatan laju pergantian eritrosit dan peningkatan produksi sel baru melalui hematopoiesis di sumsum tulang. Dalam keadaan terganggu seperti itu, eritrosit dengan morfologi abnormal, seperti sel target, dapat dihasilkan. SIMPULAN DAN SARAN Kasus malaria di Puskesmas Hamadi. Jayapura, didominasi oleh P. Umumnya, penderita malaria di Puskesmas tersebut mengalami perubahan pada morfologi eritrosit, utamanya pada parameter warna dan bentuk eritrosit, sedangkan ukuran eritrosit tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Peneliti menyarankan perlunya penelitian lanjutan berkaitan dengan pemeriksaan retikulosit dan hemostasis pada penderita malaria. UCAPAN TERIMA KASIH